GRII Sydney - Ringkasan Khotbah
20
Apr

Depresi dan Penghiburan

Pdt. Effendi Susanto STh.
Download Print a- A+ r
 
 
Date: April 20, 2008
Nats: 2 Kor.1:1-11

(1) Dari Paulus, yang oleh kehendak Allah menjadi rasul Kristus Yesus, dan dari Timotius saudara kita, kepada jemaat Allah di Korintus dengan semua orang kudus di seluruh Akhaya. (2) Kasih karunia dan damai sejahtera dari Allah, Bapa kita, dan dari Tuhan Yesus Kristus menyertai kamu. (3) Terpujilah Allah, Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, Bapa yang penuh belas kasihan dan Allah sumber segala penghiburan, (4) yang menghibur kami dalam segala penderitaan kami, sehingga kami sanggup menghibur mereka, yang berada dalam bermacam-macam penderitaan dengan penghiburan yang kami terima sendiri dari Allah. (5) Sebab sama seperti kami mendapat bagian berlimpah-limpah dalam kesengsaraan Kristus, demikian pula oleh Kristus kami menerima penghiburan berlimpah-limpah. (6) Jika kami menderita, hal itu menjadi penghiburan dan keselamatan kamu; jika kami dihibur, maka hal itu adalah untuk penghiburan kamu, sehingga kamu beroleh kekuatan untuk dengan sabar menderita kesengsaraan yang sama seperti yang kami derita juga. (7) Dan pengharapan kami akan kamu adalah teguh, karena kami tahu, bahwa sama seperti kamu turut mengambil bagian dalam kesengsaraan kami, kamu juga turut mengambil bagian dalam penghiburan kami. (8) Sebab kami mau, saudara-saudara, supaya kamu tahu akan penderitaan yang kami alami di Asia Kecil. Beban yang ditanggungkan atas kami adalah begitu besar dan begitu berat, sehingga kami telah putus asa juga akan hidup kami. (9) Bahkan kami merasa, seolah-olah kami telah dijatuhi hukuman mati. Tetapi hal itu terjadi, supaya kami jangan menaruh kepercayaan pada diri kami sendiri, tetapi hanya kepada Allah yang membangkitkan orang-orang mati. (10) Dari kematian yang begitu ngeri Ia telah dan akan menyelamatkan kami: kepada-Nya kami menaruh pengharapan kami, bahwa Ia akan menyelamatkan kami lagi, (11) karena kamu juga turut membantu mendoakan kami, supaya banyak orang mengucap syukur atas karunia yang kami peroleh berkat banyaknya doa mereka untuk kami.

Ada seorang hamba Tuhan yang besar, pengkhotbah yang diterima dan dikenal secara luas, seorang yang luar biasa kehidupan rohaninya. Dia berdoa kepada Tuhan dan berulang kali doanya dijawab oleh Tuhan dengan luar biasa, penuh dengan mujizat. Karakternya agung, berani berjuang sendiri, rela menderita bagi Tuhan. Seorang hamba Tuhan yang luar biasa besar. Namun sayang sekali hamba Tuhan ini suatu kali mengalami kekecewaan yang besar. He spoiled and depressed dan melakukan satu tindakan yang sangat naïf sekali. Dia langsung pergi meninggalkan pelayanannya tanpa memberitahukan orang lain. Dia lari. Energi pelayanannya menjadi turun, dia kecewa dan ingin mati. Hamba Tuhan yang besar itu adalah nabi Elia.

Seorang hamba Tuhan besar yang lain, yang tidak kita ragukan pelayanannya, mengatakan kalimat ini, “Aku sudah tidak sanggup menghadapi semua ini. I am in despair of life. Telah putus asa aku terhadap hidup ini.” Hamba Tuhan yang besar ini adalah rasul Paulus.

Kalau sdr ketemu dengan pendeta yang ngomong kalimat-kalimat seperti ini, pasti sdr dan saya akan berkata, “…wah, pendeta itu kurang doa.” Tidak ada pendeta besar yang berani mengeluarkan kalimat seperti itu kepada jemaatnya. Kalau ada yang seperti itu, jemaatnya setelah pulang kebaktian akan bertanya-tanya, “…kalau dia sendiri seperti itu, bagaimana dia bisa menolong kami dengan khotbahnya sedangkan dia sendiri tidak merasa tertolong?”

Jujur pada waktu kita depresi dan concern seperti itu, sikap kita yang pertama adalah kita menekan perasaan kita. Kita tidak berani dan tidak mau mengungkapkan hal itu kepada orang lain, karena kita tidak mau dianggap lemah dan dianggap ada something wrong dengan spiritual kita. Kita tidak mau dianggap tidak bersandar kepada Tuhan. Itu nasehat yang sering kita dengar, bukan? Tetapi puji Tuhan, kita justru menemukan melalui pergumulan rasul Paulus itu Tuhan mengajar kita untuk melewati satu pergumulan hidup yang tidak seorangpun bisa lepas dari persoalan ini. Depression and despair of life.

Ada dua ciri orang depressi: tidak bisa makan atau makannya tambah banyak. Ada yang depressi jadi kurus, ada yang justru tambah gemuk. Ada yang depressi tidak bisa tidur, ada yang sebaliknya tidak bisa bangun. Depression mood kalau terjadi berulang-ulang dalam durasi yang panjang itu berarti kita memang sudah terjangkiti. Ditandai dengan ciri-ciri tidak memiliki energi dan vitalitas untuk mau hidup, tidak memiliki motivasi lagi untuk mengerjakan sesuatu dalam hidup ini. Kita hanya mau diam, gloomy dan blaiming orang lain sampai kita ingin mengambil hidup kita dan tidak ingin hidup lagi. Suicidal thought muncul dalam satu fase orang masuk ke dalam depressi seperti ini.

Para ahli psikologi dan psikiater mengatakan tidak ada orang di dalam dunia ini yang tidak pernah tertimpa persoalan depresi seperti ini. Apalagi di musim winter seperti ini orang ditimpa SAD (Seasonal Affective Dissorder) tsb. Ciri-cirinya orang itu akan mengalami carbohydrate hunger, makan terasa tak kenyang-kenyang sehingga makan melulu. Merasa mengantuk di pagi hari. Penyebab disorder ini karena masa winter tidak terlalu banyak sinar matahari. Obatnya hanya satu: bangun pagi hari. Maka jangan takut bangun pagi hari di musim dingin, tidak dingin, udara cuma adem-adem saja, tidak terasa dingin waktu kita lari pagi. Kebiasaan baik ini akan mempengaruhi hidup kita, karena tidak ada cara lain untuk mengobati SAD ini.

Paulus bilang penderitaan yang dia alami di Asia Kecil membuatnya putus asa. Kalau saya cabut ayat 8, sebenarnya bagus dan encouraging sekali. Puji Tuhan, melalui penderitaan ini saya mendapat penghiburan, saya menderita supaya itu menjadi berkat bagi kamu. Lalu lebih baik langsung dibaca ke ayat 11, saya bersandar kepada Tuhan dan doakanlah saya supaya saya mendapat kekuatan. Satu surat yang bagus sekali. Tetapi kenapa dia mengeluarkan isi hatinya di tengah-tengah bagian ini?

‘Saya ingin engkau semua tahu bahwa walaupun saya mendapat penghiburan dari Tuhan, jujur saya sudah putus asa, I am despair with my life.” What happened to him? Waktu membaca bagian ini, saya dibukakan oleh Tuhan dengan luar biasa. Tidak gampang bagi seorang hamba Tuhan yang menjadi berkat, menjadi penolong, penghibur orang lain, yang mengarahkan orang lain kemudian dengan jujur dan terbuka mengeluarkan isi hati yang sedalam-dalamnya seperti ini. Tetapi pada waktu saya membacanya dengan teliti, justru inilah bagian firman Tuhan yang menjadi cara Tuhan memberikan jawaban. Apakah ada di dalam hidup kita satu masa dimana kita tidak gloomy dan depresi? Anak bayi depresi, itu karena tidak ada orang tuanya di sampingnya. Anak yang lebih besar umur 6-8 tahun akan depresi kalau teman-temannya meninggalkan dia dan tidak mau berteman dengan dia. Anak remaja depresi setiap kali melihat wajahnya di cermin yang selalu tidak sesuai dengan keinginannya. Pemuda akan depresi kok tidak ada yang mau sama dia. Yang sudah menikah depresi lagi dengan kesulitan keluarga. Semua seperti itu.

Paulus mengeluarkan kalimat ini, “I do not want you to be ignorance about my feeling and my situation.” Langkah pertama yang menjadi obat yang penting pada waktu sdr mengalami hal seperti itu, yaitu you have to talk about it. Mengeluarkan kalimat seperti ini bukan berarti Paulus seorang yang lemah, tetapi dengan cara seperti itu mengajarkan kepada kita satu-satunya cara menolong orang keluar dari depresinya yaitu jangan pernah silent. Ada lagu “Silent is golden.” Silent kadang-kadang bisa golden, tapi kadang- kadang bisa menjadi racun. It is ok to talk about your feeling, it is ok to say it straightforwardly when you need help. Justru yang sangat berbahaya adalah kalau you silent. Maka silent bisa menjadi golden, namun bisa juga useless.

Kenapa Paulus perlu mengeluarkan keluhannya? Itu membuatnya sangat vulnerable sekali. Ini menjadi pemikiran saya. Saya rasa banyak persoalan hidup antara suami isteri menjadi dalam karena kita membiarkan silent menjadi part dari hidup kita. Mungkin maksud kita baik, supaya tidak menjadi beban bagi orang lain. Anak kadang-kadang tidak ngomong kepada papa mamanya, takut merepotkan orang tua. Isteri atau suami tidak ngomong kepada pasangannya. Maka silent menjadi cara kita berpikir mungkin kita bisa mengerjakan dan menyelesaikan sendiri. Paulus berbicara terbuka kepada jemaatnya yang paling dekat dengan dia, yang dia bangun dari awal. “Hai jemaat Korintus, aku ingin engkau tahu penderitaan yang aku alami. I want you to know my feeling about the sufferings I despair. Please pray for me. Please help hand in hand with me.” It is ok kalau sdr rasa sudah tidak sanggup, please talk kepada hamba Tuhan. Beri tahu apa yang menjadi feeling sdr. Feeling itu menjadi penting sekali. Feeling memberitahukan kepada kita bahwa kita adalah manusia biasa, kita bukan mesin yang tidak memiliki perasaan. Yesus sendiri mengatakan Dia berdukacita waktu Dia akan pergi meninggalkan murid- muridNya. It is human to feel sad, menangis. Rasa sedih, menangis itu tidak berarti kita orang lemah. Jadi hal yang pertama, jangan suppress perasaanmu. Jangan silent. Silent itu adalah komunikasi tetapi di dalamnya mengandung begitu banyak interpretasi kemungkinan kepada silent. Dan akibat interpretasi yang begitu banyak terhadap silent akhirnya ribut tidak ada habis-habisnya.

Memang kalau pria menghadapi masalah, kebanyakan pria mengambil sikap silent. Isteri sebaliknya ada persoalan lebih banyak menceritakannya kepada suami, akhirnya sering tidak ketemu, bukan? Suami pulang kerja diam saja, isteri mencoba korek. Suami sudah masuk kamar masih saja dikejar. Kata seorang ahli komunikasi, suami kalau sedang diam itu seperti naga yang sedang masuk ke dalam guanya. Jangan coba korek-korek sebab kamu akan hangus disemprot oleh api naga itu. Biarkan naga itu meditasi, nanti dia keluar jadi domba.

Kenapa sikap pria seperti itu? Karena itu cara pria tidak ingin kelihatan lemah dan berpikir ‘I can handle it by myself.’ Sebaliknya wanita kalau sudah diam di dalam komunikasi, itu berarti dia minta suaminya menjadi fortune teller untuk membaca pikirannya. Kita dipanggil seperti dewa yang harus mengerti pikirannya. Yang ada di dalam pikiran wanita itu awut-awutan seperti spaghetti. Dosa kita sepuluh tahun yang lalu masih segar dalam ingatannya seperti baru kemarin. Kalau dia ngambek karena kesalahan kita 15 tahun yang lalu, kita susah meraba-raba. Kehidupan sukacita pernikahan tidak datang secara otomatis. Silent adalah pembunuh komunikasi di dalam hubungan sdr. Kadang menyatakan ekspresi ketidaksukaan, ketidaksetujuan, kekecewaan karena relasi, it is ok. Waktu mengalami tekanan kesulitan, nyatakan itu.

Yang kedua, proses cognitive kita berpikir. Saya ajak sdr melihat hal ini: ada feeling, kemudian ada proses kita berpikir kenapa sampai begitu, kemudian karena ada feeling dan karena ada proses berpikir itu kita mengambil prilaku atau decision apa yang cocok. Hari ini sdr mendengar khotbah seperti ini, kemudian besok sdr masuk kantor masih dengan sukacita, menyapa rekan kerja dan boss dengan gembira. Tetapi boss menyambut tanpa ekspresi. Sdr melihat sikapnya ini dengan confuse, akhirnya menjadi stress, dan akhirnya senyum itu hilang dari wajah sdr. Kenapa? Karena ada proses sdr berpikir di situ kemungkinan muncul: boss tidak menerima sapaan saya dengan hangat pasti karena belakangan ini performance saya tidak bagus. Kedua, sdr berpikir boss lagi tidak suka kepada saya. Ketiga, sdr berpikir boss tidak menjawab sapaan saya dan langsung masuk ke ruangannya untuk me-review file saya. Saya akan dipecat oleh dia. Sdr tidak memasukkan alternatif ini: dalam perjalanan ke kantor, boss kena macet sehingga senewen. Tadi pagi boss baru dimarahi sama nyonya, sdr harus memasukkan alternatif ini. Atau sebetulnya tidak ada apa-apa sama sekali. Proses kita berpikir seperti itu membuat kita mengambil beberapa prilaku yang seperti apa.

Saya mengajak sdr melihat beberapa hal.

Pertama, ketika sdr mengalami depresi ini sdr pasti akan diminta oleh konselor untuk tidak membiarkan negative thinking itu muncul menguasai positive thinking. Ini menarik. Sdr bukan diminta berpikir positif, tetapi sdr diminta tidak membiarkan negative thinking merusak positive thinking yang sudah ada. Jangan biarkan negative thinking meracuni pikiran kita. Kita seringkali menambahkan sesuatu yang negatif terus menggantungi pikiran kita yang positif. Kedua, yang menyebabkan sdr menjadi depresi adalah sdr sering ‘jump to the conclusion’ yang keliru. Padahal mungkin persoalan itu simple sekali tetapi menjadi rumit karena hal ini. Kenapa sdr akhirnya melakukan destructive behaviour, oleh sebab ada proses berpikir yang salah di situ, yaitu hidup kita tidak seharusnya menderita dan harus menghindar dari penderitaan. Kita hidup bukan sekedar lancar dan menolak yang tidak baik. Kita jangan memiliki pikiran seperti itu. Sebagai orang Kristen kita seringkali memiliki proses berpikir bahwa seseorang yang memiliki kualitas spiritual yang bagus pasti hidupnya akan sukses dan lancer, sehingga kita tidak berani mengakui ada kesulitan karena berarti ada problem di dalam hidup rohani kita. Itu adalah wrong cognitive process. Tetapi mengerti akan hal ini belum sampai kepada tahap kita berpikir bagaimana kita menghadapi suffering, kesulitan, tekanan yang berat secara Kristen dan berhasil mengatasinya.

Saya suka sekali dengan kalimat dari Larry Crabb yang mengatakan seringkali pada waktu kita depresi karena menghadapi persoalan, maka kita datang mencari Tuhan lalu membawa persoalan itu kepada Tuhan dan minta Tuhan yang membereskannya. Itu salah. Yang benar ialah sdr akan keluar dari penderitaan dan kesulitan yang membuat kita depresi, dan justru melalui kesulitan sdr ketemu Tuhan di situ.

Bagaimana Paulus menghadapi depresinya? Pertama, dia menyatakan kesulitannya, isi hatinya, feelingnya dan simpati dari orang Kristen yang lain menjadi kekuatan bagi dia. Doa dari orang percaya itu menolong dia.

Kedua, dia menyelesaikannya secara Kristiani yaitu di dalam penderitaannya dia ketemu dengan Tuhan. Dengan cara seperti apa? Mari saya ajak sdr perhatikan baik-baik bagaimana Paulus menggunakan satu kata yang bagus sekali, dari ayat 3 sampai 11 dia memakai kata ini sebanyak 9x yaitu kata “parakaleo” yang dalam bahasa Indonesia diterjemahkan sebagai penghiburan. Kata “para” berarti yang berada di samping yang memberikan penghiburan. Roh Kudus disebut sebagai “Parakletos” karena Dia adalah Roh Penghibur. Dia berada di samping kita untuk memberikan kita penghiburan. Kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Latin “Comfortis.” Kata “fortis” bisa diterjemahkan menghibur, dan bisa diterjemahkan “brave.” Maka di dalam bahasa Latin kata “Comfortis” berarti ada seseorang di samping yang bukan menghibur untuk membuat kita makin mengasihani diri, melainkan to give you strength, sehingga engkau memiliki ‘a brave heart’ menghadapi persoalanmu.

Puji Tuhan, kata Paulus, secara perasaanku aku tidak sanggup menghadapi tekanan ini, namun Tuhan memberiku “comfortis” Tuhan memberi saya penghiburan dan kekuatan itu kepada aku, sehingga melalui itu saya melihat penderitaanku menjadi penghiburan bagi orang lain. Pada waktu engkau dengan tenang, dengan sabar, dengan penuh pengharapan melewati kesulitan itu, orang lain terhibur. Itu kata Paulus. Melalui kesulitan dan penderitaan itu Tuhan memberi saya kekuatan. Dan bukan saja saya terhibur, itu juga menjadikan penghiburan bagi orang lain.

Yang ketiga, kalau sdr menggunakan prinsip ini menghadapi hidup sdr, ini cara Tuhan menyelesaikannya, yaitu kalau hidup kita makin mirip dengan Kristus, nothing wrong with our life. Waktu kita menderita, puji Tuhan, berarti kita juga bisa berbagian dengan penderitaan Kristus, demikian kata Paulus. Jadi bukan saja kita menyelesaikan pikiran kita dengan positif, kita sudah melihat Kristus, tetapi hidup kita akan semakin mirip dengan Dia, itu yang membuat dia hidup penuh dengan sukacita. How you bahve constructively pada waktu menghadapi tekanan hidup yang begitu berat seperti ini. Hidup kita tidak selesai sampai di situ.

Di ayat 11 Paulus mengatakan blessing itu, the gracious favor granted us, menghitung itu semua sebagai anugerah Tuhan. Kedua, please pray for me. Yang terakhir, mari kita saling comforting satu sama lain. To pray each other, to count everything in your life as a blessing and to comfort each other.(kz)