GRII Sydney - Ringkasan Khotbah
14
Jun

Roh Membedakan 'roh' (1)

Pdt. Effendi Susanto STh.
Download Print a- A+ r
 
 
Date: June 14, 2009
Nats: Ibrani 5:14

“Tetapi makanan keras adalah untuk orang-orang dewasa yang karena mempunyai panca indera yang terlatih untuk membedakan yang baik daripada yang jahat” (Ibr.5:14)

Baru-baru ini ada satu film yang dibuat di Jerman berjudul “The Counterfeiter” yang dibuat sebagai hasil dari satu program dokumentari CBS tahun 1999 yang menguak rahasia terbesar yang disimpan oleh Nazi. Film ini diangkat dari satu diary dari seorang Yahudi yang bernama Adolf Burger dimana dia terlibat di dalam satu operasi penting yang bernama “Operation Bernard.” Dia bersama satu orang Yahudi lain adalah orang yang ahli memalsukan uang dan mencetak uang palsu. Sebenarnya dua orang ini hendak dibunuh di camp contentration di Auschwitz tetapi tidak jadi sebab mereka memberitahu keahlian khusus mereka. Maka Nazi menempatkan mereka ke dalam satu perusahaan rahasia untuk mencetak uang palsu. Tahun 1999 CBS mengadakan satu eksplorasi di danau Toplitz sebab telah beredar satu isu bahwa di dasar danau itu tersimpan harta karun milik Hitler. Danau itu tidak besar, 1600m panjangnya tetapi kedalamannya mencapai 100m lebih, tempat yang paling sempurna untuk menyimpan rahasia. Kemudian CBS menyewa jasa perusahaan eksplorasi laut Oceaneering. Mereka menyelusuri dasar danau itu berbulan-bulan tetapi tidak menemukan apapun. Akhirnya mereka menggunakan sistem teknologi dengan robot penyelam dan kapal selam bermuatan satu orang dan akhirnya menemukan banyak tumpukan kertas di dasar danau. Ketika kertas-kertas itu diangkat, langsung hancur lebur menjadi bubur. Singkat cerita, mereka berhasil mengangkat satu tumpuk kertas ke permukaan. Setelah dibersihkan dengan teliti, di atas kertas itu muncul tulisan “Bank of England.” Ternyata kotak-kotak yang tersimpan di dasar danau itu adalah 180 juta mata uang palsu poundsterling. Di dalam film “The Counterfeiter” sdr akan melihat bahwa sebelum tentara sekutu datang, tempat percetakan uang palsu itu dibersihkan total, itu sebab kenapa rahasia ini tersimpan sampai 50 tahun lebih tanpa ketahuan. Sebenarnya uang poundsterling palsu itu sudah dibuktikan begitu mirip dengan yang asli sebab menurut cerita Adolf Burger agen rahasia Jerman telah pergi ke Bank of England menyetor uang itu dan petugas bank tidak menemukan bahwa uang itu adalah uang palsu. Operation Bernard adalah satu operasi yang berencana untuk membawa uang palsu itu ke Inggris dan melemparkannya dari udara. Tujuannya cuma satu, kalau mata uang palsu itu berhasil bercampur dengan uang asli, maka tidak akan ada transaksi bisnis dan ekonomi akan lumpuh sehingga seluruh perekonomian Inggris akan collapse. Hitler tahu untuk mengalahkan Inggris bukan dengan senjata tetapi dengan kehancuran ekonomi. Di dalam film itu dikatakan sebenarnya mereka sudah selesai mencetak uang poundsterling dan hendak mulai mencetak dollar Amerika tetapi keburu dikalahkan dengan sekutu. Puji Tuhan, operation Bernard tidak berhasil dijalankan, namun sdr bisa bayangkan kalau itu berhasil, saya percaya sejarah dunia akan berbeda. Adolf Burger melakukan sabotase sehingga men-delayed operasi itu dan saya percaya juga ada tangan Tuhan yang tidak mengijinkan peristiwa itu terjadi. Kalau operasi itu berhasil, dunia akan mengalami perubahan total. Ini yang saya sebut sebagai kebahayaan di dalam counterfeit. Dia bisa menciptakan sesuatu yang begitu mirip dengan aslinya tetapi sebenarnya palsu adanya. Kalau hal seperti itu terjadi di dalam kehidupan kita beriman, apa jadinya Kekristenan dan apa jadinya iman kita? Itu sebab tidak heran salah satu panggilan hidup orang Kristen yang penting adalah panggilan untuk menjadi orang Kristen yang bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Dan kemampuan untuk membedakan mana yang benar dan mana yang salah adalah salah satu ciri dari orang Kristen yang dewasa rohaninya.

Saya menemukan satu aspek Kekristenan yang saya rasa sangat penting sekali, khususnya bicara mengenai personal prophecy. Maka saya ingin berbicara mengenai hal ini sekali lagi karena ini adalah hal yang sangat penting sekali. Karunia untuk bisa membedakan artinya satu panggilan untuk bisa melihat manakah kertas yang berwarna putih dan mana yang berwarna gading. Perbedaan itu sangat tipis sekali dan hanya bisa dikerjakan oleh orang yang memiliki panca indera yang terlatih. Maka di dalam wilayah kerohanian, bagaimana sdr bisa membedakan?

Ada satu website dari bishop bernama T.D. Jakes yang menyatakan satu pengakuan iman dia mengenai Allah Tritunggal adalah Allah yang satu dengan tiga manifestasi, Bapa, Anak dan Roh Kudus. Orang yang tidak mengerti dengan sungguh-sungguh akan berpikir dia terima doktrin Allah Tritunggal tetapi bagi saya dia memakai kata “tiga manifestasi dari Allah” itu adalah satu ajaran bidat dari Sabelianisme. Sdr mungkin pernah dengar ilustrasi dari ajaran ini yaitu seorang bapak di kantor jadi boss, lalu sampai di rumah jadi papa, lalu ganti baju untuk cuci mobil, maka dia jadi tukang cuci mobil. Orangnya satu tetapi berubah menjadi tiga manifestasi. Maka Sabelianisme mengatakan Allah itu satu dengan tiga manifestasi, waktu di PL Dia adalah Allah Bapa, kemudian di awal PB menjadi Yesus Kristus, lalu setelah Yesus naik ke surga Dia menjadi Allah Roh Kudus. Ini adalah konsep yang salah, sebab misalnya waktu Yesus di atas kayu salib berdoa, “Bapa, ke dalam tanganMu kuserahkan nyawaKu…” kalau Allah cuma satu, maka di surga kosong, bukan? Banyak orang Kristen tidak berpikir sampai di situ, yang ada karena khotbahnya hebat banyak yang dengar dan ikut dia. Kalau tidak sanggup membedakan, itu adalah ciri you tidak dewasa.

Penulis Ibrani sedang menegur pembacanya sebab dia mengatakan ditinjau dari sudut panjangnya ikut Tuhan seharusnya mereka sudah makan makanan keras tetapi mereka tidak mau. Maka di sini saya mengatakan ada perbedaan yang sangat tegas sekali antara ketidakdewasaan rohani dan orang Kristen baru. Orang Kristen baru Alkitab lukiskan sebagai bayi-bayi rohani yang memerlukan susu yang menyehatkan. Mereka tidak mengerti ajaran-ajaran yang complicated sebab memang mereka masih baru dan hanya mengenal ajaran dasar mengenai iman, mengenai keselamatan, dsb. Tetapi ketidakdewasaan rohani adalah orang yang secara umur ikut Tuhan seharusnya sudah dewasa tetapi menolak menjadi dewasa. Itu yang saya sebut sebagai “Peter Pan syndrome” yaitu orang dewasa yang menolak menjadi dewasa. Dalam dunia sekarang itu adalah contoh dari penyanyi Michael Jackson. Ini adalah hal yang sangat unik bisa terjadi di dalam hidup kita. Sdr dan saya tidak mungkin bisa menolak tubuh jasmani kita mengalami pertumbuhan. Tetapi ironi sekali secara kedewasaan karakter dan emosi, orang bisa menolak menjadi dewasa sehingga kita bisa menemukan orang yang sudah berumur 40 tahun tetapi karakter dan sifatnya masih seperti anak kecil. Kita mungkin bisa bertemu dengan orang yang sudah berumur separuh baya tetapi tidak pernah menjadi dewasa di dalam kehidupan mereka. Sedih sekali kalau kita menemukan orang seperti itu, bukan? Dan sangat sedih juga kalau kita bertemu dengan orang Kristen yang seperti itu di dalam kehidupan rohani mereka. Maka penulis Ibrani mengatakan ditinjau dari lamanya menjadi Kristen engkau seharusnya makan makanan keras. Mengapa engkau menolak menjadi dewasa?

Ketidakdewasaan rohani ditandai dengan sikap tidak mau membedakan mana yang benar, mana yang salah. Ada orang Kristen bilang ”...tidak perlu belajar banyak-banyak doktrin, yang penting kita cinta Tuhan. Doktrin dan ajaran-ajaran yang tinggi itu hanya buat orang yang punya pendidikan tinggi sajalah,” buat saya adalah kalimat yang keliru luar biasa. Ada orang bilang, kalau mau ikut kebaktian di gereja Reformed paling sedikit gelarmu S1, karena kalau tidak kamu tidak mengerti khotbahnya. Siapa bilang?! Saya bersyukur sekali di gereja saya di sini ada oma Sri yang sudah berumur 90 tahun, ada opa Rudy yang sudah 85 tahun, ada oma Mariana yang sudah 80 tahun. Siapa bilang mereka tidak mengerti khotbah saya? Anak muda yang bilang khotbah saya ketinggian, bagi saya itu adalah sikap ignorance. Soal mengerti ajaran doktrin Kekristenan, itu bukan soal berapa tinggi intelektual kita. Mengerti kebenaran firman Tuhan, itu bukan soal berapa pintar otak seseorang. Mengerti kebenaran firman Tuhan adalah soal apakah orang itu masa bodoh atau tidak. Alkitab kita ditulis begitu sederhana sekaligus begitu dalam adanya. Orang yang tidak memiliki pendidikan sekolah yang tinggi tetap bisa mengerti Alkitab. Sebaliknya orang yang sangat pandai sekalipun baca dari awal sampai akhir tetap tidak bisa mengerti. Maka mengerti tidak mengerti Alkitab itu bukan bicara soal intelektual tetapi soal attitude kita yang ignorance. Pencerahan untuk mengerti kebenaran itu bukan berkaitan dengan berapa tingginya intelektual seseorang. Itu sebab Yesus bisa berkata kepada Nikodemus, “Bukankah engkau seorang ahli Taurat? Seharusnya engkau mengerti akan hal-hal ini…” (Yoh.3:10). Dewasa rohani berarti engkau melatih panca indera kepekaan rohanimu, memiliki panggilan bisa dan sanggup membedakan. Itu berarti saya tidak boleh menjadi orang Kristen yang masa bodoh karena salah satu point yang penting adalah kalimat Paulus kepada Timotius di dalam 1 Tim.6:20 “Guard the deposit of God…” ini harta yang paling penting yang diserahkan oleh Paulus kepadanya untuk dijaga. Bahasa yang dipakai oleh Paulus adalah bahasa militer. Saya sederhanakan, sdr dan saya dipanggil Tuhan menjadi “satpam” menjaga rumah Tuhan. Kalau sampai rumah Tuhan kecolongan, siapa yang patut dipersalahkan? Paulus bilang, Injil adalah harta rohani yang paling indah yang dipercayakan oleh Paulus karena sebentar lagi dia akan meninggal. Maka dia minta Timotius untuk menjaganya baik-baik. Kalau sampai kecolongan berarti engkau tidak menjaganya baik-baik. Gereja adalah tempat dimana orang-orang suci berkumpul untuk menjadi berkat di dalam dunia ini. Jangan sampai harta yang indah itu kecolongan. Engkau dipanggil Tuhan untuk menjaga dan memeliharanya. Maka saya menggugah hati sdr untuk menjadi orang Kristen yang dewasa. Dewasa berarti tidak bisa tidak panca indera rohani sdr latih untuk bisa membedakan mana yang benar, mana yang salah, mana ajaran yang sungguh-sungguh sesuai dengan kebenaran firman Tuhan, mana yang tidak. Ini tidak gampang dan tidak mudah, dan tidak ada orang yang mau akan hal itu sebab jelas sekali Paulus bilang lebih banyak orang mau menjadi orang baik ketimbang menjadi orang benar. Untuk orang baik mungkin ada orang yang rela mati baginya, tetapi tidak ada yang mau mati buat orang benar. Maka panggilan untuk menjadi seorang Kristen yang memelihara harta rohani ini adalah satu panggilan untuk menjadi orang benar. Tidak heran mengapa semangat Kekristenan sekarang adalah semangat yang ditawarkan oleh Edward Young dalam novelnya “The Shack.” Saya sudah sebutkan ada satu kalimat yang sangat menarik sekali di dalam novel itu yang mengatakan “Jesus is the best way to God.” Dimana salahnya? Kalau sdr mengatakan “Jesus is the ONLY way to God,” sdr akan dianggap sebagai orang yang kaku dan fanatik. Memakai istilah “Jesus is the BEST way,” berarti Edward Young tetap mengaku Yesus adalah jalan keselamatan, dan dia tetap mengaku Yesus adalah juruselamatnya, dan dia mengaku ‘this is the BEST way.’ Tetapi secara implicit berarti dia tidak ingin menghakimi jalan-jalan yang lain, mungkin saja jalan-jalan itu bisa sampai kepada Allah juga. Jadi pada satu pihak menyatakan pengakuan imannya, tetapi di pihak lain dia tidak mau mengadili yang lain. Berbeda dengan kalimat “Jesus is the ONLY way,” karena di dalam kalimat ini kita mengaku Yesus adalah juruselamatku dan sekaligus di situ kita mengatakan the other ways are not the true way. Maka bisa terjadi peperangan di situ. Mana yang orang mau pakai?

Joel Osteen dikritik habis-habisan pada waktu dia diwawancara oleh Larry King di CNN karena dia tidak mau menyatakan dengan berani dan tegas bahwa Yesus adalah satu-satunya jalan kepada Allah untuk keselamatan manusia. Dia mengatakan, “Saya dipanggil Tuhan bukan untuk menghakimi orang…” Menyebut Yesus sebagai ‘the only way’ mengandung resiko bukan saja mengaku Yesus adalah satu-satunya juruselamat, tetapi juga mengandung resiko kita berdiri sendiri menyatakan jalan yang lain bukanlah jalan yang benar adanya. Sikap seperti ini tidak gampang dan tidak suka diambil oleh orang Post Modern sekarang ini. Maka panggilan untuk membedakan yang benar dan yang salah adalah satu panggilan yang sangat tidak populer, panggilan yang menciptakan orang Kristen menjadi tersendiri, panggilan yang mungkin membuat sdr mengambil front menjadi musuh bagi orang yang lain. Tetapi panggilan ini patut dan harus dijalankan. Mengapa? Sebab ada satu kuasa yang secara aktif memang menciptakan counterfeit di dalam Kekristenan. Dalam 2 Kor.11:14 Paulus mengingatkan, ”...hal itu tidak usah mengherankan sebab Iblispun menyamar sebagai malaikat terang.” Kenapa panggilan untuk membedakan yang benar dan salah itu harus menjadi panggilan bagi setiap kita? Karena itu adalah harta rohani yang harus kita jaga karena ada si Jahat yang memang aktif melakukan pekerjaan counterfeit di dalam iman Kristen. Suka atau tidak suka, mau atau tidak mau, itu merupakan sifat dan natur dia. Paulus berkata, Iblispun menyamar sebagai malaikat terang. Menyamar sebagai kuntilanak gampang ketahuan. Menyamar sebagai setan yang menakut-nakuti orang di kuburan, itu gampang. Itu pekerjaan setan yang kurang pengalaman. Yang sangat pengalaman akan datang sebagai malaikat, itu sulit dibedakan. Inilah pemalsuan yang tercanggih yang dilakukan oleh dunia kegelapan. Namun, bagaimana kita bisa membedakan itu malaikat Tuhan ataukah itu samaran dari malaikat kegelapan? Itu sulit luar biasa. Itu membutuhkan kepekaan dan ketelitian yang luar biasa. Itu menuntut disiplin rohani yang tinggi bagi anak-anak Tuhan sebab Setan sungguh berkomitmen meciptakan kekacauan iman dalam Gereja. Alkitab hanya memberikan beberapa hint untuk belajar membedakan. Di dalam Why.13 itu merupakan hint yang penting juga yang memberitahukan kepada kita penipuan dan pemalsuan ajaran bisa dipakai untuk merusak Gereja dari dalam. Why.13 memperlihatkan ada dua jenis binatang yang dipakai dan diperalat oleh Setan untuk bisa mendatangkan kekacauan, kerusakan dan penipuan di dalam Gereja. Binatang yang pertama digambarkan sebagai binatang yang begitu menakutkan, yang mendatangkan aniaya dan segala penderitaan kepada orang Kristen (ayat 1). Tetapi ada satu jenis binatang lain yang memberikan satu perubahan lukisan yang berbeda sama sekali. Binatang itu adalah seperti anak domba yang sama sekali tidak menakutkan dan bahkan ‘cute’ (ayat 11). Siapa yang dilukiskan oleh Alkitab sebagai Anak Domba Allah? Yesus Kristus. Sekarang counterfeit itu menyerupai Kristus. Bagaimana bisa membedakannya? Hanya diberi satu hint: suaranya berbeda. Rupa seperti anak domba tetapi suaranya adalah suara naga. Suara mewakili apa? Suara mewakili ajaran. Maka ajaran menjadi dasar yang penting. Fenomena penampilan bisa sama. Sama-sama bisa jadi anak Tuhan, sama-sama bisa jadi hamba Tuhan, sama-sama bisa jadi gereja, sama-sama bisa di dalam level pelayanan, dsb. Itu sebab Tuhan Yesus bisa dengan tegas berkata, “Orang yang menyebut Aku ‘Tuhan, Tuhan,’ someday Aku bilang Aku tidak kenal dia.” Dari situ kita bisa melihat satu inti bahwa someday kita akan bertemu dengan satu kondisi dan keadaan dimana orang bisa menyebut nama Tuhan, boleh menggunakan platform yang sama seperti gereja, dsb tetapi kita harus memiliki spiritual discernment untuk membedakannya.

Di dalam Kis.17:11 kita bertemu dengan satu jemaat di Berea yang “menerima firman dengan segala kerelaan hati dan setiap hari menyelidiki kitab suci untuk mengetahui apakah yang diajarkan Paulus itu benar dan sesuai dengan kitab suci…” Jemaat Berea mempunyai dua karakter yang penting di dalam meresponi firman Tuhan. Karakter pertama, setiap kali firman Tuhan disampaikan mereka menerimanya dengan rendah hati, menerima itu sebagai firman Tuhan yang harus takluk kepadanya. Setiap kali firman Tuhan yang sejati dikabarkan, kita harus bersikap seperti ini. Dengan rela hati terima, karena ini firman Tuhan. Mendengar khotbah Paulus, jemaat Berea menerima firman itu dengan rendah hati tetapi sekaligus dengan mata yang tajam melihat apakah yang diajarkan itu benar atau tidak. Ini adalah dua sikap yang harus kita combine dengan baik, ini adalah spirit of discernment yang benar. Ada orang yang mendengar khotbah dengan congkak, mencari-cari kesalahan dari pengkhotbahnya. Jadi akhirnya kita menjadi seperti “witchhunter” terus cari-cari mana yang palsu. Kita jadi bo kamguan kalau khotbahnya tidak ada salah, terus cari-cari kelemahannya. Atau sebaliknya sikap yang satu lagi, tidak berani dan tidak mau mengkritik karena menganggap hamba Tuhan itu datangnya dari Tuhan, sudah diurapi oleh Tuhan, maka pasti tidak pernah salah. Dua-dua adalah sikap yang salah. Jemaat Berea berbeda. Mereka datang dan dengar firman Tuhan dengan hati yang humble namun juga datang dengan mata yang alert. Kalau yang diajarkan itu benar, kita tidak punya alasan untuk tidak menerimanya. Kalau yang diajarkan itu salah dan tidak sesuai dengan kitab suci, kita harus berani mengatakannya. Kalau Paulus berkhotbah tidak sesuai dengan kitab suci, jemaat Berea berani mengatakannya. Mereka mendengar dengan teliti, mengerti apakah itu sesuai dengan kitab suci atau tidak. Saya harap melalui gugahan saya hari ini kita belajar lebih dalam dan lebih sungguh. Penulis Ibrani memakai kata “terlatih,” berarti itu tidak bisa datang dengan seketika. Saya rasa kebahayaan besar dari personal prophecy yang muncul dewasa ini adalah orang Kristen di satu pihak mengaku Alkitab itu firman Tuhan tetapi sekaligus akhirnya tidak menghargai Alkitab itu firman Tuhan. Sehingga banyak orang Kristen sudah tidak lagi menjadikan Alkitab sebagai kitab yang sufficient dimana mereka baca dan dengar tetapi akhirnya terus tunggu kapankah fresh revelation untuk mereka datang melalui spontaneous and direct prophecy yang diucapkan oleh hamba Tuhan dsb. Lama-lama akhirnya yang dicari adalah SMS prophetic, ketik prophecy mengenai persoalan hidup, mengenai jodoh, dsb. Jadi sekarang prophecy di dalam Kekristenan persis mirip seperti horoskop. Saya harap khotbah hari ini bisa memberi gugahan, satu pengertian kesadaran bagaimana kita mengerti dengan benar. (kz)