Exposition of Matthew (10) Cries To Repent

9 December 2016
Exposition of Matthew (10) Cries To Repent
· Exposition of Matthew (10) Cries To Repent Matthew 3: 1-10

Exposition of Matthew (10) Cries To Repent

Matthew 3: 1-10

John the Baptist was a prophet who has a task like the prophets of the Old Testament but was taken by God to live in the New Testament. He is preparing the way for the coming of the Lord Jesus. It was he who ran over the whole valley and hill be made flat to the presence of the Son of God who became the Son of Man in God’s time (the day of the Lord). For 400 years, God’s silence to Israel because of all the prophets killed, the Word of God expressed underestimated. If God speaks to us, we must not forget and underestimate. We are so worthless, and He died to make us worthy. Many preachers distort this case that human beings have worth then Christ died for us. No! He died and made us valuable. All must be God-centered and not self-centered. He is God. We think God is so patient, generous, He can not be angry. A.W. Pink says, “God is punishing, angry God, God’s wrath”, the sentence is far more than the phrase “God is love is”. Let us be truly does not make God angry with us. Let us be truly understand and learn the history that God is able to wrath, and when He is angry, his anger is not unbearable. There are people who continue to think that the Israelites were the chosen people. At the time Israel entered into the land of Canaan, God is pleased with them, God defend them to kill all enemies. Really! But this is not the reason God loves Israel.

Actually, the Lord will uphold the holiness in the promised land, it is a land that is devoted to God. God would uphold that He is a holy God. At that time the whole world, especially the area near the ancient East are the ones who are so unclean. Their sex, do gamble, do tidah wrong even sex with animals. What God is He brings a small community, led by Himself to go in and eradicate all evil because of His holiness must be upheld. But when He straightened His purity, several hundred years later, Israelis themselves are not sacred, trespassed, have a life and worship that made no difference to the world. What happened? That Israel should be eliminated. We always remember Israel kill nations but we do not remember Israel wiped out even today. It would declare the holiness of God must be upheld. When God tricked by his own people, he would be much more upset than mocked by the other nations.

Let us see Amos 9: 1-6. This verse is stated by the Lord through the mouth of Amos to the people of his own choice that the people of Israel. If God has been angry with his chosen people, He is so angry outstanding, surpassing his anger on the nations that do not know God. People who do not know God, they sinned and aroused the anger of God. But people who know God and confess “Jesus God”, “I had the choice,” he rebel against God, his mistake two or three times because he had sinned and already know who the real God but mock God. What God has revealed to the nation of Israel, never He told Nebuchadnezzar, he never talked like this to Assyria, to talk like this to the people who redeemed him. You are now like this, you escape to ataspun, I will pull you down. You get in the water in the oceans most, I’ll pull you out, I will kill you there. Even if you are captured by the enemy, I can not accept. I will still pursue you because I want your blood gushing. Why would God like this?

Then the most terrible is in verses 5 and 6, namely the last sentence “God is his name”, what does it mean? This is the Doxology, this is a song of victory, this is a song of praise to the Triune God. At the end of the service, we got up and sang the Doxology is the glory of the Triune God, hymns of the Doxology, a glorification means that all this service began with the Triune God, is terminated by the Triune God, preaching the Word of God the Trinity and everything for the glory of the Triune God. The meaning of these verses is, “I’m mad, I kill you, your blood gushing and I am glorified”. God is able to silence, God can hurt, jealousy and grief, we do not play against him! He is the living God, not the projection of religious talk about God but it’s not true. Let us may know the true God, let us understand the true Christ’s true that’s who.

So John the Baptist shouted in the wilderness instead of in the church. He shouted from one place to


Yohanes 14:15-27 Orang Kristen yang sejati adalah orang Kristen yang mendengarkan suara dari Gembala kita. Yesus Kristus mengatakan: Domba-domba-Ku mendengarkan suara-Ku. Dan di dalam ayat ini dikatakan bahwa barangsiapa mengasihi Aku, dia akan mentaati Firman-Ku. Ini adalah sesuatu yang jelas terlihat, hitam di atas putih berkenaan dengan definisi orang Kristen. Ketika kita mengatakan: Aku mengasihi Kristus, Aku mencintai Dia, Aku merindukan Dia. Semua kalimat itu adalah kosong belaka, kecuali jikakalau di belakang kalimat itu ada satu obedience, ada satu hati yang rela taat di hadapan Allah. Seluruh gereja, pemimpinnya adalah Kristus. Kristus adalah kepala gereja. Dan Kristus mengajarkan satu kalimat yang merupakan inti semua gereja yang sejati adalah Thy will be done, kehendak-Mu jadi. Ini adalah kalimat yang sama, yang diucapkan oleh semua murid, oleh semua bapa gereja dan jikalau kita adalah orang-orang Kristen yang sejati di dalam Kristus. Kecuali kita adalah orang-orang palsu, yang mengaku diri pergi ke gereja, melayani, mendengarkan ibadah hari minggu tetapi tidak pernah taat di dalam hidup kita. Kristus itu kepala gereja dan kepada Dialah kita taat, melalui Dia, kita taat kepada Allah Bapa di Surga. Dan Roh Kudus, Allah oknum ketiga dikirimkan oleh Allah untuk mendampingi orang Kristen, Untuk apa? Ada orang mengatakan: Roh Kudus ada, untuk aku berkarunia Roh. Roh Kudus ada, untuk aku berbahasa roh. Yohanes pasal 14, 15, dan 16. Tiga pasal adalah bicara berkenaan dengan doktrin Roh Kudus. Ini adalah bicara mengenai person of Holy Spirit. Tiga pasal ini dengan jelas mengatakan: Aku akan memberikan kepadamu Penghibur, Aku akan memberikan kepadamu Penolong, Aku memberikan kepadamu Roh yang lain yang akan mendampingi kamu dan itu adalah Roh Kudus. Jadi untuk apa Roh Kudus itu? Jawabannya adalah supaya mengingatkan engkau akan Firman-Ku dan supaya engkau mentaati Firman-Ku. Roh Kudus itu ada, untuk membawa kita mengingat siapa Raja kita, mengingat apa yang dikatakan oleh Dia, dan membawa kita memiliki kuasa untuk boleh taat kepada Firman Tuhan. Hari ini saya akan berbicara mengenai sikap yang genuine, sikap yang sejati di dalam ketaatan. Bagaimana saya harus taat? Dengan sikap seperti apa saya harus taat? Engkau Allah, aku tahu kehendak-Mu adalah aku taat. Maka sekarang aku mau taat. Tetapi Alkitab menyatakan; ada ketaatan yang pura-pura, ada ketaatan yang setengah hati, ada ketaatan yang tidak disukai oleh Tuhan. Ketaatan seperti apa yang Tuhan itu inginkan? Tuhan menginginkan kita taat tanpa menunda. Lihat Lukas 9:59-60. Kalimat Yesus dalam ayat ini begitu tajam dan seringkali mencengangkan. Yesus mengatakan “Biarkan orang mati menguburkan orang mati tetapi engkau ikutlah Aku”. Ini bukan perumpamaan, ini adalah sesuatu kenyataan. Mengapa seakan-akan Tuhan begitu kejam dan tidak berperasaan? Kalau orang mau menikah, tanggal pernikahannya masih dapat dirubah tetapi orang meninggal tidak dapat memilih atau mengubah tanggalnya. Dan orang yang meninggal itu bukan tetangganya, tetapi papanya. Alkitab bahkan mengatakan: “Hormatilah Papamu, Ibumu”. Orang ini mendengarkan suara Kristus dan mengikut Kristus, tetapi dia mau menguburkan papanya yang meninggal terlebih dahulu. Jawab Yesus, “Biarkan orang mati menguburkan orang mati”. Kalimat ini seakan-akan tidak masuk akal. Tetapi perhatikan baik-baik. Yesus itu menginginkan ketika kita mengerti apa yang sudah Dia lakukan di atas kayu salib, ketika mengerti siapa Raja yang memerintah dan siapa Allah yang sejati maka Dia adalah yang paling prioritas dari seluruh hidup kita, bukan papamu, bukan kematian, bahkan bukan istri dan anakmu. Ketika Allah memerintah biarlah kita mengerti bahwa ini adalah perintah dari oknum pertama dari seluruh dunia ini yang harus dihormati. Ini tidak berarti bahwa kalau ada kesulitan atau apapun saja, mungkin ada kematian lalu kemudian saudara-saudara harus bereskan di gereja dulu. Yesus itu mau hati. Suatu hari Elia bertemu dengan Elisa. Elia mengatakan kepada Elisa untuk ikut dia melayani Tuhan, tetapi Elisa bilang bahwa dia ingin pamit kepada orangtuanya dahulu. Setelah pamit, baru kemudian Elisa mengikuti Elia. Tidak salah untuk berpamitan tetapi mengapa di dalam Lukas 9:59-60 tidak diperbolehkan? Yesus itu menginginkan melihat hati. Ada orang yang mempunyai macam-macam alasan, rasionalisasi yang seakan-akan baik, berteologis tetapi sebenarnya hatinya memang tidak pernah mau taat. Biarlah kita boleh jujur dan sungguh-sungguh menjawab kepada Tuhan bukan dengan alasan ingin menunda ketaatanmu. Richard Baxter seorang puritan menyatakan: Penundaan itu adalah sesuatu temporary dari penolakan dan itu adalah bentuk dari penyangkalan. Ketika bicara mengenai ketaatan, poin yang pertama adalah Tuhan menginginkan kita taat tanpa menunda. Obedience itu bersifat here and now, di sini sekarang. Jikalau saudara mengerti Firman dan kemudian tidak mentaati-Nya dengan segera, maka ada masalah rohani. Makin saudara menunda ketaatan, makin hati kita sulit untuk taat. Sebenarnya ketaatan yang pertama itu adalah yang paling mudah. Maka ketika Firman itu datang, ketika tugas dari Tuhan itu datang, ketika Tuhan itu dengan jelas menyatakan sesuatu kepadamu, maka langsung hati itu harus siap mengatakan ya Tuhan aku mau, ya Tuhan beri aku kekuatan. Ya Tuhan, hatiku tidak terlalu suka tetapi aku mau taat. Jangan pernah menunda ketaatan. Tuhan menginginkan kita taat dengan tekun dan bersemangat. Taat dengan terus menerus semangat sampai akhir, bukan ketaatan hari ini lalu kemudian besok kita kehilangan api. Bukan kemudian ketaatan sampai besok lalu kemudian kita kelelahan sampai selanjutnya. Lihat Lukas 17:7-10. Yesus mengatakan ini menjadi prinsip dalam hidup kita melayani Dia dan berespon kepada Dia. Yesus mengatakan ada seorang pekerja menggembalakan ternak tuannya, membajak ladangnya dari pagi sampai sore, kecapean sekali dan begitu sampai di rumah kemudian ingin mandi, makan, dan berkumpul dengan istri dan anaknya. Tetapi ketika dia pulang, tuannya ingin makan bersama dengan istri dan anak-anaknya, sehingga dia harus menyiapkan makanan tuannya. Alkitab mengatakan “ikat pinggangmu dan layani aku.” Setelah menyaksikan tuan dan keluarganya makan, dia harus membereskan dan merapikannya, kemudian barulah dia boleh makan. Dan tidak ada satu kata terima kasih sekalipun! Perhatikan baik-baik apa yang Yesus Kristus itu katakan kepada kita. Dia adalah Allah yang menginginkan untuk kita mentaati dan melayani Dia dengan tekun dan bersemangat sampai akhir. Dan Alkitab mengatakan, “Setelah semuanya selesai maka katakanlah kepada tuan itu, kami hamba-hamba yang tidak berguna dan kalau kami melakukan semua itu adalah karena itu memang tugas yang harus diberikan kepada kami dan kami harus jalankan.” Jikalau saudara membaca bagian Alkitab ini maka saudara akan menemukan bahwa seakan-akan Allah yang kita layani itu persis seperti raja-raja kuno yang besar yang harus dihormati. Allah lebih daripada mereka, Yesus Kristus lebih daripada mereka. Jangan kita pernah berpikir kasihan hamba itu dan kejamnya tuan itu. Jikalau saudara mengerti siapa Dia, dan jikalau kita mengerti siapa yang kita layani, kita akan menemukan tidak ada hal yang lebih indah daripada melayani Tuhan yang seperti ini. Mengapa hamba ini mau? Karena tuannya mengasihi dia. Mengapa hamba ini rela? Karena melihat kebesaran tuan itu, kasihnya, dan bagaimana dia memperlakukan hamba-hambanya. Satu hari di tengah-tengah peperangan dengan Filistin, Daud sedang bersembunyi supaya tidak diketahui oleh orang Filistin dan sewaktu-waktu nyawa mereka terancam. Kemudian Daud mengatakan satu kalimat dengan tidak sengaja, dia mengatakan: “Oh alangkah senangnya jikalau aku bisa minum air dari perigi Betlehem”. Satu orang jendralnya mendengar apa yang menjadi isi hati Daud lalu kemudian dengan diam-diam, dia jalan pergi untuk mengambil air satu teguk untuk dipersembahkan kepada Daud. Seperti apa pengabdian orang ini? Jawabanya karena dia menghormati Daud yang besar, karena dia mengasihi Daud. Itupun kemudian Daud tahu tidak boleh minum ini kemudian dituangkan semuanya, dicurahkan tidak diminum satu tetespun. Daud mencintai orang-orang di bawahnya. Tuhan itu mencintai saudara dan saya. Kalau kita tidak mendalami, tidak mengenal Tuhan yang mencintai kita, maka setiap kali pelayanan kita akan sungut-sungut. Setiap kali kita diminta untuk taat, kita akan rasa berat sekali. Tetapi kalau kita makin mengenal Tuhan, makin melihat kebesaran Tuhan dan kebaikan-Nya dan keagungan-Nya dan kemuliaan-Nya maka akan ada sesuatu kerinduan yang taat dengan tekun dan bersemangat sampai akhir. Taat dengan ucapan syukur, obedience with thanksgiving. Melayani dan taat kepada Tuhan tanpa bersungut-sungut. Sungut-sungut itu adalah tanda ketaatan setengah hati, tidak sepenuhnya, dan setengah hati di hadapan Allah sama sekali tidak diperhitungkan. Perhatikan di dalam Alkitab ada orang-orang yang ketaatannya dengan setengah hati dan bersungut-sungut. Kain membawa persembahannya dengan bersungut-sungut dan dengan tidak rela. Israel yang keluar dari tanah Mesir, seakan-akan mereka mengikuti Allah karena Allah itu menjumpai mereka dan memimpin dengan tiang awan dan tiang api. Tetapi di dalamnya mereka terus menerus bersungut-sungut, tidak puas untuk hidup. Ketika Lot memimpin isteri dan anak-anaknya keluar, isteri Lot tidak bersungut-sungut, Alkitab tidak mengatakan complain-nya, tetapi gerakan tubuhnya sudah langsung tahu hatinya hanya setengah jalan mengikut Tuhan. Ketaatannya setengah hati dan terpaksa. Alkitab mengatakan, isteri Lot langsung jadi tiang garam. Allah tidak menghendaki sesuatu ketaatan yang sambil bersungut-sungut. Allah tidak menghendaki satu ketaatan yang setengah hati. Berikan semuanya atau tidak sama sekali. Relakan hati kita untuk diajar dalam hal ini. Ananias dan Safira memberikan persembahan setengahnya tetapi mereka katakan memberikan semuanya. Langsung Petrus yang ada Roh Kudus mengatakan, "hatimu tidak beres, Engkau menyembunyikan sesuatu." Kemudian, mereka mati di saat itu. Allah dengan jelas menyatakan, Dia tidak menghendaki ketaatan yang setengah hati, biarlah kita boleh belajar dan minta Roh Kudus mengajarkan kepada kita ketaatan dengan thanksgiving. Mungkin saudara pernah menyuruh anak saudara mengerjakan sesuatu dan kemudian ketika sebelum dia mengerjakan, napasnya diambil dulu. Apa perasaan saudara? Jengkelnya luar biasa. Engkau mengerjakan bukan dengan ketaatan atau cinta. Engkau mengerjakan bukan dengan understanding tetapi terpaksa. Siapa suami yang tahan isterinya memberikan kepada dia pelayanan, makanan dengan terus bersungut-sungut? Ketika saya mengatakan seperti ini, karena saudara harus tahu, kita adalah mempelai wanita Kristus. Kristus adalah mempelai pria dari gereja-Nya. Banyak orang ke gereja itu terus bersungut-sungut atau sekedar tuntutan hati nurani supaya enak, supaya minggu ini tidak rasa bersalah. Ada thanksgiving? Sama sekali tidak. Di dalam hal-hal seperti ini, saudara harus mengerti itu mendukakan hati Tuhan dan sangat-sangat tidak berkenan di hadapan Tuhan dan semua ini adalah sesuatu kebuntuan rohani. Sekarang saya akan memberitahukan jalan keluarnya terhadap hal ini. Mintalah kepada Tuhan, berdoa kepada Tuhan untuk saudara boleh bertumbuh secara rohani, bertumbuh melihat kemuliaan Kristus dan gereja. Gereja itu mulia sekali dan saya berharap saudara-saudara bisa melihat apa yang saya lihat. Ada orang yang menikah lalu kemudian terus menerus sungut-sungut, melayani keluarganya dengan terus mengeluh. Mengapa? Karena cinta tanpa kedewasaan itu tidak cukup untuk menjalankan pernikahan. Hanya orang-orang yang dewasa/mature, yang bisa menjalani pernikahan itu sampai akhir. Dan apa artinya orang yang mature? Orang yang mature itu adalah orang yang mengerti tanggung jawabnya karena melihat pentingnya tugasnya, melihat pentingnya hal yang dikerjakannya. Itulah sebabnya Alkitab mengatakan kalau suami meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, keduanya menjadi satu daging. Kalimat meninggalkan ayahnya dan ibunya itu bicara berkenaan dengan independent. Meninggalkan ayahnya dan ibunya itu bicara berkenaan dengan satu kedewasaan. Orang dewasalah yang orang itu mengerti. Anak kecil tidak ngerti. Cinta itu tidak cukup, harus ada kedewasaan. Jika kita tidak melihat kemuliaan Kristus, pasti hidup kita mengikut Tuhan sambil bersungut-sungut. Saudara akan complain apapun saja. Alkitab menyatakan Allah begitu marah terhadap hal ini. Kita pikir Dia itu siapa? Dia begitu mulia, Dia menyatakan rahasia-Nya, menyatakan kehendak-Nya, Dia menyatakan penebusan-Nya kepadamu dan saya. Dia memberikan sepenuh hatinya. Dia dari surga turun ke dunia. Dan kita memberikan hidup kita, jangankan hidup, uang kita yang dari Dia pun kita berikan sambil kita sungut-sungut. Saudara mengatakan bahwa Allah itu mengerti? Alkitab menyatakan, tidak sama sekali. Ketaatan kita harus dengan thanksgiving. Saya mau mengingatkan saudara-saudara berkenaan dengan sepuluh perintah Allah, dan semua Israel harus mentaati sepuluh perintah Allah itu. Tuhan tidak langsung mengatakan, "Perintah pertama, kedua, ketiga, keempat." Tidak. Tuhan mengatakan, "Akulah Allah yang menuntun engkau keluar dari tanah Mesir, yang memberikan pembebasan kepadamu." Akulah Allah itu yang menegaskan kepada kita apa yang sudah dibuat-Nya sebelum kita taat kepada Dia. Siapa engkau Allah? Apa hak-Mu Engkau memberikan perintah-perintah ini supaya aku taat dan Engkau menginginkan aku taat sepenuhnya? Aku adalah Allah yang membebaskan engkau. Aku adalah Allah yang menyelamatkan engkau. Aku adalah Allah yang mengasihi engkau dengan sepenuh hati. Jangan sungut-sungut di hadapan Allah. Jangan engkau memberikannya dengan setengah hati. Jikalau hari ini, engkau memiliki sikap seperti itu, bertobatlah dan minta Roh Kudus untuk mengubah hatimu, membawa kita untuk melihat cinta kasih Kristus, dan itu akan menghilangkan sungut-sungut kita. Saudara-saudara, sungut-sungut itu adalah ketidak-relaan. Tidak rela karena tidak melihat sesuatu hal yang penting dan mulia. Ada orang yang tua yang lalu kemudian batuk-batuk terus minta dibelikan obat oleh anak laki-lakinya tetapi dia tidak mau melakukannya dengan alasan sudah jam 9 malam, apotek sudah pada tutup. Tetapi ketika jam 2 pagi, tiba-tiba anaknya ditelepon pacarnya yang juga minta dibelikan obat batuk dan segera dia belikan pacarnya obat dan mengantar obat tersebut. Apa yang membedakan? Yang membedakan adalah satu rela dan satu tidak rela. Apa yang membedakan rela dan tidak rela? Adalah melihat kemuliaan orang yang dilayani, melihat hatinya ada di situ atau tidak. Saya berharap Roh Kudus menumbuhkan rohani kita untuk melihat dan menghargai kemuliaan Kristus yang sudah mati bagi kita. Tuhan menghendaki ketaatan yang genuine. Taatlah dengan satu maksud yaitu The Glory of God. Thomas Watson menyatakan, "Let's we obey the God's will, with the pure eye to His Glory." Biarlah kita boleh mentaati Dia dan kehendak-Nya dengan mata yang murni untuk kemuliaan Dia saja. Alkitab menyatakan begitu banyak perintah Tuhan dan setiap kali perintah terdapat janji. Alkitab menyatakan dan adalah benar bahwa ketika kita taat maka kita akan banyak berkat yang mengikuti kita. Penyediaan Allah, kesetiaan Allah akan dinyatakan kepada kita. Keselamatan yang dari Tuhan akan diberikan kepada orang-orang yang taat kepada Dia. Alkitab dengan jelas menyatakan misalnya seperti,"Carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenaran-Nya, maka semuanya akan ditambahkan kepadamu." Kalimat itu berlaku dan sudah dibuktikan oleh semua orang yang taat kepada dia. Orang-orang yang menjalankan kehendak-Nya, mencari pimpinan-Nya, mau untuk mentaati rencana-Nya. Tidak pernah Allah itu berhutang. Tuhan akan menyediakan kepada kita apa yang kita memang perlukan. Kalau saudara melihat orang-orang yang dipakai Tuhan seperti Adoniram Judson, Charles Wesley, D.L. Moody, saudara akan melihat bagaimana pimpinan, penyertaan dan berkat-berkat Allah diberikan kepada orang-orang yang taat kepada Dia. D.L. Moody di tengah-tengah lautan yang luar biasa bergelombang, dia begitu takut, tetapi karena dia adalah orang yang memberitakan Injil, dan dia mau taat kepada Tuhan, maka kemudian Tuhan meredakan lautan itu. Charles Wesley, John Wesley, orang yang terus berkotbah dengan kuda itu, suatu hari, ada orang yang mau menembak dia. Tetapi pada saat yang sama Tuhan hentikan orang itu. Alkitab itu hidup. Kalau melihat autobiografi dan biografi orang-orang yang dipakai Tuhan, saudara akan melihat setiap janji Allah itu digenapi kepada orang-orang yang taat kepada Dia. Saya akan memberikan satu cerita yang sangat terkenal, perbandingan antara dua orang. Yang pertama adalah ateis Max Jukes dan satu lagi adalah orang yang Tuhan pakai dalam ke-Kristenan, Jonathan Edward. Perhatikan apa yang ada di tengah-tengah dua orang ini dengan keturunannya. Max Jukes tinggal di negara bagian New York, dia adalah seorang ateis. Dia menikah dengan seorang yang ateis juga. Dari pernikahan ini lahir 1029 keturunan. 300 orang mati muda. Dari mereka yang hidup, 100 orang pernah dikirim ke penjara selama rata-rata 13 tahun, 190 orang menjadi pelacur, 100 orang menjadi alkoholik. Keluarga itu merugikan negara bagian sebesar 1.2 juta US dolar. Mereka tidak memberikan kontribusi apapun kepada masyarakat kecuali hal yang jahat. Tetapi perhatikan kehidupan Jonathan Edward. Dia tinggal di negara bagian yang sama, state yang sama, dan pada waktu yang hampir-hampir sama. Ia adalah seorang yang percaya Tuhan, menyerahkan hidupnya bagi Tuhan, menikah dengan orang yang takut akan Tuhan, dari persatuan ini, dilacak 729 keturunan. 300 nya menjadi pengkotbah, 65 profesor perguruan tinggi, 13 presiden universitas, 60 pengarang, 30 dipilih menjadi anggota kongres, dan seorang menjadi wakil presiden Amerika Serikat. Saudara bisa perhatikan baik-baik orang yang takut akan Tuhan dan orang yang tidak takut akan Tuhan. Akan ada perbedaan yang besar, karena kita tidak bisa melihatnya pada waktu dia hidup, tetapi saudara akan melihatnya bagaimana berkat Tuhan itu menyertai karena memang Alkitab menyatakan berkat, penyertaan, dan pimpinan Tuhan kepada orang-orang yang takut dan taat kepada Dia. Tetapi, terlepas dari semua itu, Alkitab menyatakan, Alkitab mendorong kita untuk tidak hanya sekedar mengambil keuntungan yang diberikan kepada kita ketika kita itu mau taat, tetapi, biarlah kita boleh didorong di dalam ketaatan karena untuk satu hal ini, The Glory of The Father. Kemuliaan Allah di surga. Ini yang Alkitab nyatakan dan Tuhan dorong kepada semua nabi dan rasul-Nya. Musa diminta oleh Tuhan untuk masuk ke tanah perjanjian dan Tuhan sendiri menyatakan, Aku akan mengirimkan malaikat-Ku kepadanya dan engkau akan mendapatkan seluruh profit yaitu tanah yang berlimpah susu dan madu. Tetapi seluruh berkat Tuhan itu diberikan kepada dia di dalam ketaatan. Maka Musa itu menginginkan satu hal yaitu Engkau sendiri. Show me Thy Glory. Orang yang taat tidak akan ditinggalkan oleh Tuhan. Orang yang taat akan diberikan janji-janji oleh Tuhan dan janji-janji ini akan hidup. Tetapi poin keempat ini saudara lakukan bukan untuk mendapatkan profit, lakukanlah ini dengan sukacita karena Dia adalah Allah yang menebus kita, yang mati bagi kita, Allah yang kepadanya jiwa kita itu berasal dan jiwa kita itu menuju. Maka belajarlah di dalam ketaatan untuk nama Tuhan dipermuliakan dan tidak ada contoh yang lain selain Yesus Kristus pada waktu di Getsemani, di saat sebenarnya dia tidak memiliki sesuatu kewajiban untuk menebus manusia, Yesus Kristus itu diperhadapkan dengan cawan murka Allah. Dia tidak takut untuk mati, dia tidak takut untuk menderita, tetapi yang Dia takutkan adalah Allah itu murka kepada Dia. Maka, di saat seperti itu, ada keinginan dari hati-Nya yang terdalam, "Aku mau supaya cawan ini lalu dari pada-Ku." Tetapi Alkitab menyatakan, Yesus berdoa, "Tetapi biarlah Kehendak-Mu saja yang jadi." Ketaatan Yesus bukan karena profit atau karena ada berkat yang akan diberikan kepada Dia. Ketaatan Dia adalah supaya Kehendak Tuhan, Nama Tuhan dipermuliakan. Itu adalah satu-satunya keinginan hidup-Nya. Biarlah kita boleh sekali lagi menginginkan apa yang Alkitab itu ajarkan kepada kita. Pertama taatlah dengan segera. Kedua, taatlah dengan tekun dan semangat sampai akhir. Ketiga, taatlah dengan thanksgiving dan jangan bersungut-sungut. Keempat, taatlah dengan satu tujuan dan satu maksud saja, The Glory of God. Kiranya Tuhan boleh memimpin hidup kita dan membawa hati kita untuk makin hari makin taat kepada Dia.
 
 

Matius 26: 36-42, Matius 27:45-47 Mari kita melihat bagian Firman di dalam Matius 26: 36-42 dan Matius 27:45-47. Ini adalah peristiwa terpenting sejak bumi diciptakan. Kematian dan kebangkitan Kristus Yesus melampaui seluruh peristiwa yang paling hebat di dunia ini. Kematian dan kebangkitan Kristus lebih penting daripada kejatuhan Roma, lebih penting daripada peristiwa Jengis Khan menguasai seluruh Asia, lebih penting dari penemuan listrik fotografi dan seluruh alat teknologi, dan bahkan lebih penting dari deklarasi hak asasi manusia yang sampai saat ini berusaha untuk terus menerus dipegang. Peristiwa yang terjadi selama tiga hari pada 2000 tahun yang lalu lebih penting daripada seluruh pengajaran agama dan kebudayaan manusia manapun saja. Seluruh penemuan dan kemajuan manusia selalu diikuti oleh satu kata yang kecil ini tetapi mematikan yaitu dosa. Dosa tidak bisa diselesaikan dengan teknologi, pendidikan dan bahkan oleh agama. Pendidikan mengajarkan kita bagaimana menjadi lebih pandai. Teknologi memampukan kita untuk hidup lebih baik dan agama membuat kita bermoral lebih tinggi tetapi dari seluruh lingkup hidup manusia, tidak ada yang memberikan penebusan. Dosa hanya bisa diselesaikan dengan penebusan bukan dengan agama. Hari ini kita akan mengingatkan satu kalimat penting dari Kristus. Dan kalau Tuhan pimpin maka di dalam beberapa hari ini kita akan melihat kalimat-kalimat dan peristiwa penting dari Kristus yang menyatakan kemuliaan-Nya di tempat-tempat yang tak terduga. Kristus itu begitu mulia. Bersyukur kalau kita boleh melihat kemuliaan-Nya. Tetapi selama 33,5 tahun kemuliaan-Nya itu seakan-akan tertutup tetapi jika Roh Kudus bekerja di dalam hati kita, maka kita akan melihat kemuliaan-Nya yang tidak tertandingi. Hari ini kita akan memikirkan satu kalimat Kristus di atas kayu salib yaitu "Allahku, Allahku mengapa Engkau meninggalkan Aku". Ini adalah inti kekristenan. Tanpa itu seluruh kita akan binasa. Ini adalah kalimat yang membuat kita boleh ditebus. Pikirkan bahwa Dia sudah bergantung di atas kayu salib berjam-jam lamanya. Kalimat itu diucapkan di tengah seluruh darah yang mengalir dan keringat yang membanjiri. Seluruh kalimat Kristus adalah kalimat-kalimat yang lirih. Tetapi dari seluruh kalimat-Nya itu ada satu kalimat yang keras, "Allah-Ku, Allah-Ku mengapa Engkau meninggalkan Aku". Ketika Dia berteriak dan teriakan itu dicatat oleh penulis Injil maka itu adalah teriakan yang harus diperhatikan dan diingat, karena ini adalah jeritan hati-Nya dan tangisan-Nya yang terdalam. Apakah arti teriakan ini? Ketika saudara mengerti teologia, ketika saudara mempelajari satu kalimat demi satu kalimat, maka ini adalah salah satu kalimat yang melampaui pikiran kita, sehingga kita membutuhkan anugerah-Nya untuk dapat mengerti dan mengenal-Nya. Tidak ada teriakan seperti ini dari pendiri agama atau dari semua orang yang menyatakan dirinya suci. Ini adalah teriakan dari Anak Allah yang diutus. Apakah arti teriakan ini? Ini adalah teriakan penderitaan terbesar karena Kristus ditinggalkan oleh Bapa.Saat itu adalah saat ketika Bapa memalingkan muka-Nya dari Kristus, menarik diri-Nya dari Anak. Ini adalah kalimat yang diucapkan karena hati-Nya sangat menderita. Mari kita melihat seluruh penderitaan Kristus dan apa yang terjadi di dalam hidup-Nya. Dia adalah Allah Anak yang mengambil tubuh yang berpetakan teladan budak, yang bisa mati, bisa sakit, satu tubuh yang terbatas. Bukankah itu penderitaan? Jikalau saudara tadinya bebas, kemudian saudara terkena sakit stroke dan kemudian saudara harus terbaring, bukankah saudara akan menangis dan berteriak, "mengapa hidup seperti ini?" Apalagi kalau saudara adalah seorang pemuda, remaja atau eksekutif muda. Ketika saudara terbaring, bukankah saudara juga akan mengeluh dan berteriak kepada Tuhan? Bahkan ketika saudara bertambah tua dan terbatas, bukankah saudara sering sekali menangis ketika mengingat masa muda yang begitu lincah? Dari tidak terbatas menjadi begitu terbatas. Bukankah itu sesuatu penderitaan yang begitu mendalam? Tetapi Kristus tidak berteriak ketika Dia yang tidak terbatas menjadi terbatas. Dia menjalaninya dengan sukacita. Perhatikan penderitaan-Nya yang lain. Dia adalah satu pribadi yang suci hidup di tengah-tengah manusia yang berdosa. Jikalau saudara adalah seorang yang sangat menjaga kebersihan dan kemudian saudara harus tinggal dengan seseorang yang luar biasa kotor, apakah yang saudara rasakan? Saudara tidak akan menyukai keadaan saudara. Kristus adalah pribadi yang suci dan tidak berdosa yang hidup di tengah-tengah manusia yang berdosa, namun Dia tiak mengeluh. Di tempat yang lain Dia disalahmengerti, ditentang dan ditolak. Suatu hari dengan cinta kasih-Nya Dia membawa beberapa murid-Nya pergi ke satu tempat untuk bertemu dengan satu orang gila yang dirasuk oleh legion, setan. Setelah itu maka Alkitab mengatakan Dia tidak melayani yang lain, Dia kembali lagi ke tempat-Nya. Itu adalah cinta kasih dari hati Kristus. Mencari walaupun hanya satu orang gila yang dirasuk oleh setan. Dan kemudian setelah Dia menaklukan dan mengusir setan itu, apakah yang terjadi di kampung itu? Apakah mereka berbahagia memuliakan Tuhan? Tidak. Mereka malah mengusir Kristus. Kristus mengusir setan dan semua orang itu mengusir Kristus. Sejak dahulu manusia akan mengusir Kristus demi uang. Kristus selalu ditentang, diusir dan disalah mengerti. Apakah Dia mengeluh dan berteriak? Tidak. Lihatlah penderitaan-Nya yang lain. Dia menderita kesakitan di seluruh tubuh-Nya. Tamparan dan cambukan dari para tentara, mahkota duri yang dipaksakan di atas kepala-Nya. Pernahkah saudara melihat Dia mengeluh? Tidak. Dia menderita di seluruh relasi-Nya. Orang-orang terdekat-Nya membuat hati-Nya remuk. Yudas mengkhianati-Nya hanya demi 30 keping perak yang nilainya sama dengan harga seorang budak. Setiap orang yang tidak dilahirbarukan akan menghina Kristus dengan hinaan yang paling rendah. Petrus menyangkal Dia dan bahkan murid-murid-Nya meninggalkan Dia ketika Dia ditangkap dan dipaku di atas kayu salib. Apakah Tuhan kita mengeluh dan berteriak? Tidak pernah. Hati-Nya hancur melihat ibu-Nya menangis. Seorang manusia yang normal tidak akan tahan melihat orang yang mereka kasihi mengalami penderitaan. Kristus melihat hati ibu-Nya hancur karena menyaksikan penderitaan-Nya di atas kayu salib, direndahkan, dipertontonkan dan dipermalukan di hadapan orang banyak. Tetapi Kristus tidak pernah mengeluh. Dia tidak pernah mengucapkan satu keluhan kepada Bapa-Nya. Dia menderita dari seluruh jabatan-Nya. Dia adalah Raja, namun sebuah ejekan diletakkan di atas salib-Nya yang tertulis: "Inilah raja orang Yahudi." Dia diberi jubah dan mahkota duri, dan sebuah buluh pengganti tongkat kerajaan. Mata-Nya ditutup dan kemudian ditampar, lalu kemudian seluruh prajurit mengatakan: "Hai Engkau, sekarang coba terka siapakah yang menampar Engkau? Bukankah Engkau itu nabi? Engkau bisa bernubuat, Engkau dapat mengetahui masa depan, bukankah Engkau tahu siapa yang menampar-Mu?" Dan sebagai Imam, Dia dipenjara dan digantung di atas kayu salib oleh seluruh imam. Dia menderita dalam seluruh jabatan-Nya, Raja, Imam, Nabi. Tetapi tidak pernah Dia mengatakan, "AllahKu, AllahKu mengapa Engkau meninggalkan Aku?" Seluruh penderitaan tersebut dianggap-Nya sebagai penderitaan yang kecil. Berbeda dengan kita. Begitu kita merasa sedikit sakit, kita langsung mengeluh kepada Allah. Ketika kita dihina maka kita langsung berteriak kepada Tuhan, begitu kita mengalami ketidakadilan, kita langsung menuntut keadilan. Begitu kita disalahmengerti kita ingin segera membereskannya. Begitu orang yang kita kasihi sakit, maka kita langsung cemas. Kita akan terus menuntut Tuhan. Bagi Kristus, tidak! Alkitab menyatakan, Dia tidak mengatakan apapun juga. Dia biasa menderita kesakitan, Dia memberikan tubuh-Nya untuk dipukul. Tetapi tiba-tiba di atas kayu salib Kristus berteriak, "AllahKu, AllahKu mengapa Engkau meninggalkan Aku?" Perhatikan penyebab teriakan ini. Bukan karena penderitaan, bukan karena kematian, tetapi karena Allah Bapa memalingkan muka-Nya dari Allah Anak. Ini adalah penderitaan yang Dia takuti ketika di Getsemani, Dia tidak takut mati, Dia tidak takut sakit, Dia tidak takut hati-Nya dihancurkan tetapi Dia takut Bapa itu meninggalkan Dia. Dia adalah Anak Tunggal Bapa yang ada di dalam pangkuan Bapa, yang begitu dekat dengan Allah Bapa. Tetapi ada satu waktu di dalam sejarah di mana kedekatan ini hancur. Bapa yang tadinya terus memandang Anak dan Anak yang terus memandang Bapa, sekarang di dalam satu waktu Allah Bapa memalingkan muka-Nya. Mengapa Allah Bapa memalingkan muka-Nya? Karena dosa. Perhatikan baik-baik, dosa kita di tanggung oleh Kristus dan pada saat itulah, Bapa di surga memalingkan muka-Nya. Ditinggalkan oleh Allah adalah penderitaan yang terbesar. Kristus mengajarkan kepada kita satu prinsip yang penting, apapun saja penderitaan manusia, jikalau seluruh penderitaan itu digabung, apapun itu baik fisik, mental, emosional, bahkan ketika ditinggalkan oleh orang-orang yang kita kasihi, semuanya itu digabungkan dan dibandingkan dengan Allah meninggalkan kita, itu persis seperti perbandingan satu tetes air dengan seluruh samudra yang ada. Inilah yang ditakutkan oleh Kristus. Orang itu seakan-akan berkata menjauhlah Allah karena aku tidak peduli jalan-jalan-Mu. Perhatikan ketika Yesus Kristus didatangi oleh orang-orang yang berkata, "Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu? Bukankah kami mengusir setan demi nama-Mu, bukankah kami melayani Engkau?" Yesus Kristus berkata, "menjauhlah dari pada-Ku hai sekalian pembuat kejahatan, Aku tidak mengenal engkau." Allah yang suci tidak mungkin didekati oleh kita yang berdosa. Penderitaan manusia yang sesungguhnya adalah ketika Tuhan memalingkan muka-Nya dari kita. Pada titik itulah, yaitu ketika Allah meninggalkan seseorang, Dia membiarkan seseorang, Dia tidak menyertai orang itu lagi, maka Alkitab mengatakan, di saat itulah orang itu akan menerima dan mendapatkan seluruh keinginan hatinya. Di titik itu orang itu akan memuaskan seluruh nafsunya tanpa ada yang bisa mengendalikannya. Di dalam Alkitab saya sangat terkesima dengan apa yang Paulus katakan di dalam 2 bagian di surat Roma. Bagian pertama di dalam Roma 2, Paulus menyatakan Allah membiarkan orang itu, Allah menyerahkan mereka kepada keinginan hati mereka. Di dalam Roma 2 dikatakan, "aku tidak lagi mau bersetubuh dengan istriku, aku tidak lagi mau bersetubuh dengan suamiku, aku mau bersetubuh dengan sesama jenisku." Satu kalimat Allah yang begitu sangat menakutkan adalah Allah menyerahkan mereka pada keinginan hati mereka. Bagian yang kedua di dalam Roma 8 adalah sesuatu yang terbalik. Orang ini berada dalam penderitaan, penganiayaan dan pedang. Dia berada dalam pergumulan yang sangat berat tetapi Alkitab mengatakan siapakah yang bisa memisahkan kita dari Kristus? Apakah pedang? Apakah penganiayaan? Apakah itu satu kesakitan? Tidak! Tidak ada yang bisa memisahkan kita dari kasih Kristus. Perhatikan baik-baik, bukankah mereka adalah orang yang berada dalam satu keterbatasan? Kalau saudara dan saya masih memiliki pergumulan, bersyukurlah dan jangan marah kepada Allah di dalam pergumulanmu karena Allah sedang melindungi kita. Karena Dia menyertai kita di dalam pergumulan kita. Sebaliknya, ketika semuanya begitu lancar dan di saat manusia berpikir Allah tidak ada atau mungkin orang Kristen berpikir bahwa ini adalah berkat Tuhan, pada saat yang sama Alkitab mengatakan Allah membiarkan mereka. Pertanyaan kepada hatimu yang terdalam seluruh jemaat, apakah engkau benar-benar melihat Allah itu adalah yang paling mulia di dalam hidupmu? Apakah sumber kebahagiaan kita itu adalah benar-benar Tuhan? Yesus Kristus menyatakan, "AllahKu, AllahKu mengapa Engkau meninggalkan Aku?" Teriakan itu muncul karena Dia menderita di dalam dosa manusia, seluruh dosa manusia ditimpakan kepada Dia. Jikalau engkau terus menerus di dalam dosa, Alkitab mengatakan kita akan sulit memandang wajah Allah. Dan kalau engkau sangat menyukai hal itu, maka Alkitab menyatakan orang-orang seperti ini sangat mungkin adalah penunggu dari neraka. Engkau adalah milik neraka, jikalau engkau tidak menghargai Allah. Ini adalah jeritan ketakutan terdalam karena dimurkai Allah. Salib adalah lambang kutukan dan di atas salib, Kristus menerima seluruh murka Allah. Dia meminum cawan murka itu sampai tidak ada yang tersisa. Pada saat Allah meninggalkan Dia, pada saat itulah Allah murka kepada Dia, karena dosa manusia. Perhatikan baik-baik, dosa itu lebih jahat dari penderitaan. Orang Kristen biasanya takut berdosa karena kita takut akan penderitaan yang mengikuti dosa, tetapi kita tidak takut berbuat dosa. Kita harus ingat bahwa dosa lebih jahat dari penderitaan itu sendiri. Satu prinsip kejahatan dari dosa adalah dosa memisahkan Allah dari manusia, tetapi bukan saja memisahkan Allah dan manusia, tetapi membuat manusia menjadi musuh Allah. Di dalam Perjanjian Lama maka kata dosa itu adalah Hamartia yang berarti missed the target. Tetapi di dalam Perjanjian Lama ketika bicara mengenai dosa, ada satu arti lagi yang lain, yaitu tangan yang terancung ke atas, dan itu artinya adalah perlawanan. Ketika saudara berdosa, saudara bukan saja menyakiti dan menyedihkan hati Allah, tetapi ketika kita berdosa, kita mengancungkan tangan kita di hadapan Allah. Dosa adalah perlawanan terbuka kepada pribadi Allah. Dosa adalah tangan yang terancung kepada wajah Allah. Ada cerita yang menyatakan bahwa Stalin, orang komunis yang melakukan begitu banyak pembunuhan, ketika berada dalam sakit yang berat, sebelum dia mati, tidak dapat menerima penyakit yang mengerogoti tubuhnya itu. Di akhir hidupnya, dia berusaha untuk mengangkat tangannya ke atas dan kemudian mengepalkannya kepada langit, ada kemarahan yang dia tunjukkan, kemarahan kepada langit. Kemarahan kepada Tuhan yang dia tidak percayai. Apa pengertian dosa bagi kita? Ketika kita melihat kisah penyaliban Kristus kita menangis, kita kasihan kepada Kristus yang menderita. Tetapi Alkitab menyatakan Yesus berkata kepada wanita-wanita yang juga menangis, "Jangan engkau menangis karena Aku, tetapi tangisilah dirimu sendiri dan anak-anakmu karena akan tiba masanya orang berkata berbahagialah perempuan yang mandul dan tidak pernah menyusui karena ada tiba masa penghukuman akan dosa." Ketika kita melihat Kristus dipaku di atas kayu salib kiranya Roh Kudus memutar arah dari air mata kita, bukan karena Dia perlu dikasihani, tetapi karena murka Allah akan ditimpakan kepada kita. Apakah kita pernah bertemu dengan Allah? Alkitab mengatakan bahwa Musa orang yang tersuci sekalipun gemetar, bahkan Elia kemudian menutupi mukanya itu dengan gemetar, Yohanes yang tadinya bersandar di dekat bahu Kristus menjadi tersungkur dan mereka adalah orang-orang yang dikasihi oleh Allah. Bahkan orang yang paling suci dan dikasihi oleh Allah pun gemetar ketika bertemu dengan Allah. Kenapa manusia berani berdosa? Saudara-saudara akan bertemu dengan Allah yang murka pada waktunya. Bertobatlah engkau dari dosa, saya menangisi hatimu, karena engkau akan luar biasa binasa dan ketakutan pada hari itu, betapa sering engkau mendengarkan kotbah yang terus menerus menyatakan Allah mencintai, Allah mencintai, lihatlah salib! Tanpa Kristus maka kita binasa, tanpa Kristus maka kita akan hancur. Jonathan Edward ketika bicara berkenaan dengan Kristus yang marah, maka seluruh jemaatnya menjadi sangat takut. Siapa yang tahan melihat Dia, dan siapa yang tahan melihat Dia yang marah, tanpa ada yang melindungi? Perhatikan baik-baik bagi engkau yang belum pernah mendengarkan Kristus, atau engkau yang sudah bergereja dan engkau yang bermain-main dengan dosa. Apa yang sebenarnya terjadi di atas kayu salib? "Allahku, Allahku mengapa Engkau meninggalkan Aku?" Allah murka kepada Kristus. Dari kalimat itu muncullah istilah teologis ekspiasi, apakah maknanya? Ekspiasi berarti seseorang yang berusaha untuk melindungi orang lain dari pembunuhan. Saya pernah melihat kejadian sesungguhnya, seorang ayah bersama dengan anaknya yang terjebak di tengah-tengah pertempuran di mana peluru dimuntahkan dari kedua belah pihak. Apakah yang dia lakukan sebagai ayah? Anaknya yang masih kecil itu tidak mungkin bisa lari, tidak ada lagi jalan keluar lagi. Maka ayah tersebut memeluk anaknya dan tubuhnya membungkus anaknya sehingga seluruh peluru menembus tubuhnya dan akhirnya ayah itu mati tetapi anak itu selamat. Itulah salib. Dia membungkus saudara dan saya dari murka Allah yang seharusnya ditimpakan kepada kita, karena dosa yang sudah kita lakukan untuk melawan Allah. Siapa yang bisa melepaskan kita dari murka Allah kecuali Kristus? Dan kalau saudara mengerti hal ini dan kalau Roh Kudus menerangi hati kecilmu, tidakkah engkau begitu menghargai Kristus? Bukankah engkau seharusnya mengasihi Dia yang mengasihi kita? Cinta Kristus keluar dari murka yang ditimpakan kepada kita. Ini seruan ketaatan yang sempurna pada jalan yang ditetapkan Allah. Yesus Kristus adalah Anak Allah yang diutus ke dunia menjalankan kehendak Allah. Dan untuk menjalankan kehendak Allah maka Dia tidak mengambil hak ke-Allahan-Nya. Dia mengambil bentuk manusia yang bisa kita salah mengerti. Tetapi bukan itu saja, Dia kemudian dipaku di atas kayu salib. Yesaya 53 mengatakan ketika itu terjadi supaya kehendak Allah itu dinyatakan. Apakah itu kehendak Allah? Kehendak Allah yang paling ujung adalah termasuk Kristus itu dimurkai dan ditinggalkan oleh Allah. Tanpa salib maka tidak ada pengampunan. Tanpa salib maka tidak ada rekonsiliasi dengan Allah. Tanpa salib maka tidak ada penebusan. Tanpa salib Kristus, agama sebaik apapun saja tidak pernah menghapus dan melindungi engkau dari murka Allah. Tanpa salib tidak ada perdamaian dengan Bapa di surga dan di dalam Yesaya 53 mengatakan tanpa salib maka umur kita tidak berlanjut. Dan ketika Dia melakukan itu maka kehendak Allah terlaksana oleh-Nya. Dan Dia akan melihat keturunannya akan berlanjut umurnya. Seluruh agama mengajarkan bagaimana pengikutnya harus mati untuk pendirinya. Hanya satu agama yang menyatakan pendirinya mati bagi pengikutnya. "AllahKu, AllahKu mengapa Engkau meninggalkan Aku?" Pada saat itu Allah tidak menjawab. Pada saat itu semua orang yang di sana tertegun. Pada saat itu Roh Kudus bekerja diam-diam, memberitakan kalimat ini, dari generasi ke generasi, dan orang yang mengerti akan menjawab, "karena aku Tuhan Yesus, karena aku berdosa". Kiranya cinta kasih-Nya hadir dalam hidupmu, kiranya murka-Nya diteguhkan dari hidup kita, kiranya belas kasihan-Nya nyata di dalam hidup kita yang hanya satu kali. Jangan mencintai dosa lagi, jangan mempermainkan kekristenan sebagai sebuah agama saja. Bawalah dirimu kepada salib, minta pengampunan dari Kristus dan biarlah kebenaran ini menyinari hati kita dan setiap hari kita boleh hidup makin menghargai Kristus karena salib-Nya adalah alasan kita tetap hidup sekarang dan selama lamanya. Kiranya Tuhan mengasihani kita.
GRII Sydney

GRII didirikan di atas dasar Pengakuan Iman Reformed Injili dengan tujuan menegakkan satu gereja yang berbasiskan teologi Reformed, dengan mimbar yang menyampaikan khotbah ekspositoris, read more