Respon terhadap Providensia Allah dalam Penderitaan (7)

21 February 2021
Respon terhadap Providensia Allah dalam Penderitaan (7)
Pdt. Agus Marjanto, M.Th · 1 Petrus 5:6; Yakobus 4:10

1 Petrus 5:6; Yakobus 4:10

Kita terus akan memikirkan apa yang menjadi tugas kita di saat penderitaan datang. Sekali lagi orang Kristen bisa masuk ke dalam penderitaan, karena dua sebab utama ini.Yang pertama adalah penderitaan yang disebabkan karena kebodohan kita. Penderitaan yang disebabkan karena kita berdosa. Penderitaan yang disebabkan karena hukuman akibat dosa.Dan yang kedua adalah penderitaan yang dihadirkan Allah melalui orang-orang yang lain. Penderitaan yang disebabkan karena kita memegang kebenaran. Penderitaan yang disebabkan karena kita memegang kesucian. Penderitaan yang disebabkan oleh dunia yang membenci kita, demikian kata Yesus Kristus. Di dalam dua kasus ini, apa yang menjadi direction Firman Tuhan untuk kita taati? Apa yang menjadi tugas kita di saat kita menderita? Alkitab mengatakan, kita diminta untuk merendahkan diri di bawah tangan Allah yang kuat. Inilah Firman Tuhan. Inilah kehendak Tuhan. Inilah isi hati Tuhan. Bukankah banyak dari kita yang ingin tahu kehendak Tuhan? Kita bertanya, Pak, apa kehendak Tuhan di dalam hidupku? Biasanya kita meminta untuk mengerti siapa teman hidup kita, atau ketika kita berada di dalam kesulitan atau mencari pekerjaan atau membeli rumah. Perhatikan baik-baik ketika kita ingin mengerti kehendak Tuhan di dalam hidup kita, ada prinsip pertama yaitu Saudara dan saya perlu untuk menaati kehendak Allah yang jelas tertulis di dalam Alkitab terlebih dahulu. Banyak orang tidak mau membaca Alkitab, tidak mau memperhatikan Alkitab, tidak perduli apapun saja dengan isi hati Tuhan. Tetapi begitu ada keadaan sulit, begitu dia ingin untuk memutuskan sesuatu, dia takut rugi, dia takut salah. Baru kemudian dia minta kepada Tuhan, Tuhan, apa yang menjadi kehendak-Mu. Perhatikan ketika engkau memperlakukan Tuhan seperti itu, bukankah engkau tidak mendapatkan Firman-Nya? Bukankah engkau tetap berada di dalam keraguan yang besar? Ini adalah prinsip dari Alkitab untuk kita lakukan Firman -Nya yang jelas terlebih dahulu. Di dalam Alkitab, dikatakan ketika engkau dan saya menderita, apa yang menjadi tugas kita? Maka rendahkan diri kita di bawah tangan Allah yang kuat. Biarlah seluruh jiwa memperhatikan pengajaran-pengajaran ini. Jangan biarkan pelajaran hidup dari Tuhan yang berharga itu lewat begitu saja. Jika hal-hal ini terjadi di dalam hidup kita, biarlah kita tidak discourage, tetapi ini adalah konteks hidup di mana kita dapat mengerang meminta berjumpa dengan Tuhan sehingga waktu-waktu kesesakan itu menjadi waktu kairos di mana kita berjalan bersama Tuhan. Banyak orang Kristen tidak peka akan hari-harinya. Apapun saja yang terjadi tidak dapat langsung mengkaitkannya dengan pribadi Allah yang dealing dengan dia. Banyak orang Kristen jiwanya enteng. Tidak memiliki kepekaan akan Tuhan, tidak mengerti bahwa segala sesuatu yang terjadi di dalam hidupnya adalah providensia Allah. Maka mintalah kepekaan, mintalah kasih sayang-Nya sehingga hati kita lembut, sehingga kita peka. Sehingga kita tidak membuang pelajaran-pelajaran berharga di dalam konteks kehidupan yang diijinkan Allah terjadi kepada kita. Dan kita dapat mengerti apa yang Dia inginkan untuk kita berespon pada saat itu.

Terlalu banyak dari kehidupan yang Tuhan ajarkan di dalam hidup kita yang berlalu begitu saja. Sya akan memberikan contoh dari beberapa waktu yang lalu saya sudah ungkapkan, suatu peristiwa yang sungguh-sungguh terjadi. Pada waktu saya kuliah Teologia, suatu hari dosen saya diundang untuk mempimpin kebaktian duka seorang suami yang meninggal karena cancer. Dia bercerita kepada kami di kelas, sebelum dia memimpin, maka dia menghampiri istrinya dan mengucapkan salam dalam duka. Lalu istri orang yang meninggal itu dengan air mata dan kekecewaan dia mengatakan demikian. Jika tahu akhirnya mati seperti ini kenapa saya mesti susah-susah seperti itu bertahun-tahun, pergi ke sana-sini berobat, dalam dan luar negeri, lakukan ini dan itu, dan akhirnya mati. Semuanya sia-sia. Dosen saya kemudian diam. Keesokan harinya ketika di kelas, dosen kami mengatakan apa yang ada di dalam hatinya. Suatu kalimat yang luar biasa tajam, dia mengatakan kepada kami semua, yang membuat sia-sia itu adalah sikapnya. Konteks kehidupan orang itu yang seharusnya membuat dia bergumul apa yang Tuhan mau, menjadi sia-sia karena sikapnya. Di dalam penderitaan seharusnya dia bisa berjalan bersama dengan Allah dan itu akan menjadi kairos di dalam hidupnya, perjumpaan dia dengan Allah yang hidup akan membuat imannya bertumbuh tetapi semuanya tertutup karena di dalam penderitaan itu matanya cuma sembuh atau tidak. Lihatlah begitu banyak orang yang sakit cancer atau yang lebih parah bahkan dan ketika itu terjadi, dia mencari Allah, sungguh-sungguh mencari Allah, mau mengerti apa yang harus menjadi respon duty dia di dalam penderitaan ini, bagaimana seharusnya perasaannya. bagaimana dia harusnya berpikir, apa yang seharusnya dia lakukan, dan itu menjadi moment-moment obedience. Dalam kesakitannya, imannya akan bertumbuh. Dia bahkan akan menjadi berkat bagi orang lain. Urusan sembuh atau tidak itu urusannya Tuhan. Tetapi duty kita adalah mencari Tuhan dan wajah-Nya dan kehendak-Nya dan kita belajar untuk taat di dalam konteks hidup yang Tuhan berikan kepada kita.

Sekali lagi, jangan membuang pelajaran di dalam konteks-konteks kehidupan yang Tuhan hadirkan kepada kita. Alkitab mengatakan, ketika kita menderita, apapun penyebabnya, apa yang seharusnya menjadi tugas kita, orang Kristen? Tugas anak-anak Allah? Kehendak Allah. Calvin mengatakan selain daripada Allah tidak ada yang lebih tinggi daripada kehendak Allah. Ini adalah kehendak Allah, bagi engkau dan bagi saya, camkan itu di dalam hati di saat penderitaan ada, di saat perendahan itu ada, di saat penghinaan itu ada, di saat kegelapan itu ada, apa yang menjadi kehendak Allah? Rendahkan diri kita di hadapan tangan Allah yang kuat. Dan engkau akan ditinggikan pada waktu-Nya. Ketika saya melihat ini adalah sesuatu kebaikan Tuhan, Allah yang baik bukan saja memberikan Firman untuk kita berjalan di dalam terang. Tetapi Firman juga menemani kita berada di dalam kegelapan. Firman juga akan memberikan kepada kita jalan keluar ketika kita berada di dalam lubang. Daud menyatakan gada-Mu dan tongkat-Mu itulah yang menghibur aku ketika aku berada di dalam lembah bayang-bayang maut. Firman Tuhan ini menjadi penuntun bagi kita, karena Kristus memiliki sifat dan Kristus yang memiliki sifat itu, kita tidak bisa mengubah-Nya. Bukan Dia yang mengikut kita, tapi kitalah yang mengikut Dia. Prinsipnya di dalam Alkitab, kita sudah diberitahu sifat Kristus, ketika Dia dealing dengan seseorang dan bahkan pada seluruh bangsa dan khususnya kepada gereja Tuhan, anak-anak Tuhan yang sejati, ketika Dia dealing dengan kita, inilah menjadi satu prinsip-Nya ketika Dia melihat kita sombong, Dia akan rendahkan. Ketika Dia melihat kita rendah hati, Dia akan tinggikan. Inilah pekerjaan Kristus, Dia akan merendahkan yang tinggi dan menaikkan yang rendah. Saudara lihat di dalam Alkitab begitu banyak prinsip ini, Maria di dalam nyanyiannya menyatakan hal ini, Simeon di dalam kalimatnya juga mengatakan demikian. Yesus sendiri menyatakan demikian di dalam doa-Nya, Alkitab mengatakan Dia bersukacita di dalam Roh Kudus. Kalimat ini jarang sekali, Yesus bersukacita di dalam Roh Kudus, dan ketika Dia bersukacita di dalam Roh Kudus, apa yang dikatakan-Nya Dia menengadah ke langit dan berkata Aku bersyukur kepada Bapa di surga, karena Engkau tutup kepada orang-orang yang bijak yang tinggi tetapi Engkau nyatakan kepada orang yang rendah. Ini bukan bicara mengenai tinggi atau rendah IQ tetapi ini bicara mengenai kesombongan atau kerendahan hati di hadapan Allah. Ini adalah pekerjaan Kristus, Dia akan menaikkan yang rendah, Dia akan menurunkan yang tinggi. Di saat ketika kita menderita, apa yang ada di dalam pikiran kita? Apa yang menjadi perenungan hati kita? Kita tetap tidak mau bertobat? Kita tetap tinggi hati? Kita tetap merasa bahwa diri kita benar? Kita tetap merasa bahwa diri kita lebih baik daripada orang itu? Kita merasa lebih unggul dari orang itu?

Di dalam beberapa hari-hari ini, kita tahu semua gereja banyak yang berduka. Kita sebagai orang Kristen, juga merasa sakit. Case dari Ravi Zacharias itu sangat-sangat mendukakan. Tetapi pada pagi hari ini biarlah engkau boleh mendengar apa yang ada di dalam prinsip ini. Kita harus hati-hati, kita harus menjagai hati, jangan cepat berkomentar dan memikirkan sesuatu yang dapat merupakan dosa di hadapan Tuhan. Seberapapun saja kejatuhan seseorang yang kita kenal, anak Tuhan, selalu jangan pernah merasa, kalau kita lebih baik. Seberapapun kejatuhan anak Tuhan, yang kita tidak terlalu kenal, jauh, atau yang kita kenal dekat. Apakah itu jemaat, apakah itu hamba Tuhan, di gereja ini atau di luar gereja ini, jangan saudara bersukacita dan juga jangan merasa kita lebih baik. Ya, memang kita bisa pikir kenapa orang itu sedemikian hebat bisa jatuh di dalam dosa. Tetapi ingatlah mungkin jika kita di posisi dia kita akan melakukan dosa lebih dahsyat dan lebih banyak. Bukti sudah begitu jelas, kalau kita tidak berdosa, tidak membuktikan bahwa kita tidak ingin di dalam dosa itu, bukti sudah begitu jelas, kalau kita tidak melakukan dosa itu, adalah belum ada kesempatan.

Ada orang muda yang tanya kepada saya dengan sedikit menyindir. Pendeta Agus, saya mau tanya, kenapa kita disebut sebagai orang yang jatuh di dalam dosa? Dosa pertama kan Adam, kenapa saya diperhitungkan sebagai orang berdosa? Tidak fair, Adam yang melakukan dosa, seluruh umat manusia berdosa. Saya menjelaskan karena Allah mengangkat Adam sebagai representatif. Dia satu-satunya representatif seluruh umat manusia. Dia jatuh, seluruh umat manusia jatuh. Nanti Allah akan mengirimkan manusia Yesus Kristus, menjadi Adam yang kedua dan Adam yang kedua menggenapi seluruh kehendak Allah sehingga semua orang di dalam Yesus Kristus diperhitungkan sebagai orang benar di dalam kebenaran Yesus Kristus. Sekali lagi jawabannya adalah Allah memilih Adam sebagai wakil-Nya, wakil kita, ketika dia jatuh ke dalam dosa, seluruh umat manusia jatuh ke dalam dosa, termasuk Saudara dan saya. Lalu anak muda itu dengan serius berkata, “Tidak adil, kenapa yang dipilih Adam dan bukan saya?” Saya berkata kepada dia, “Kalau engkau yang dipilih, engkau sudah jatuh duluan sebelum Adam.” Ada seorang pengkotbah mengatakan demikian, dan saya setuju, Adam sangat mungkin adalah orang yang paling rohani di antara kita semua. Jangan buru-buru untuk menghakimi orang lain menurut standar diri kita. Jangan sombong, tentu kita tidak berani untuk sombong bicara sama Tuhan, tetapi sekali lagi, apa yang menjadi pandangan kita kepada orang lain, dan bagaimana kita mengukur orang lain bukan berdasarkan Firman namun berdasarkan diri kita itu adalah kesombongan di hadapan Allah. Sedikit saya akan memberikan satu hal ini, yang saya terpikir. Di dalam case Ravi, Saudara tahu bahwa di dalam Alkitab, bahwa dunia ini menuju kepada akhir zaman. Semakin menuju kepada akhir zaman. Kita tidak tahu kapan akhirnya, tetapi yang jelas kita tahu ini menuju ke sana. Maka serangan setan akan makin kuat dan dahsyat. Seperti badai yang berputar, akan menerjang gereja-gereja Tuhan. Maka sangat mungkin satu persatu orang akan tumbang. Bisa dari sex, bisa dari apapun saja, juga dari pengajaran apapun saja. Alkitab mengatakan jikalau waktunya tidak dipersingkat bahkan orang-orang pilihan tidak ada yang bisa bertahan. Saudara-saudara akan mungkin melihat, di sini tumbang, di sana tumbang, di sana dekat tumbang, di jauh tumbang, kita akan terkejut-kejut. Sama seperti angin puting beliung yang mendekati kita dan satu persatu orang seakan-akan bisa dihancurkannya. Tunggu gilirannya Saudara dan saya. Mengerti ini, biarlah kita boleh berlindung di balik salib-Nya yang kokoh. Memegang kaki-Nya, dan minta pertolongan Dia untuk memegang kita.

Saudara bisa menganalisa dosanya Daud, dosa orang-orang yang jatuh, apapun saja. Tetapi semuanya bisa terjadi kepada kita. Petrus adalah orang yang jujur, Petrus adalah orang yang tulus, ia mengatakan aku tidak mungkin menyangkal Engkau. Aku pasti bisa mengatakan dan melawan semua orang-orang itu, aku akan mati bagi-Mu, Yesus. Apakah mulut dia terlalu besar? Tidak. Apakah dia tidak jujur? Ada kemunafikan di dalamnya? Tidak, tetapi dia kemudian menyangkal. Padahal ini adalah orang jujur. Kenapa dia bisa menyangkal? Karena satu prinsip, adalah kekuatan kegelapan lebih besar daripada apapun saja yang kita bisa duga. Kalau engkau dan saya tidak jatuh di dalam satu titik di sini, mungkin kita jatuh di sana. Kesulitan ini tidak ada habis-habisnya. Biarlah kita tidak sombong, biarlah kita tidak menilai orang lain menurut standar kita. Kalau ada seorang hamba Tuhan yang menyatakan Firman-Nya, menghakimi, biarlah kita seluruhnya menyadari bahwa hamba Tuhan itupun dihakimi oleh Firman tersebut. Tidak ada yang terlepas dari penghakiman Allah, baik itu hamba Tuhan yang diurapi sekalipun, maupun jemaat. Maka biarlah jangan menghakimi, biarlah firman-Nya yang menghakimi, bukannya kita yang menghakimi satu sama lain.

Kembali kepada Firman, Alkitab menyatakan, rendahkan dirimu di bawah tangan Allah yang kuat. Apa artinya? Apa arti firman ini? Thomas Boston menyatakan beberapa hal ini, ada beberapa elemen dari eksposisi ketika bicara mengenai merendahkan dirimu di bawah tangan Allah yang kuat.

Yang pertama, merendahkan diri di bawah tangan Allah yang kuat, adalah memperhatikan tangan Allah yang kuat itu, bekerja seperti apa. Perhatikan situasi-situasi, atau orang-orang yang digunakan Allah, untuk mewujudkan segala sesuatu untuk merendahkan kita. Taklukkanlah jiwa kita pada hal-hal ini. Lihatlah hal-hal yang Tuhan buka atau tutup, di mana Dia mengijinkan atau Dia tidak memperbolehkan kita. Taklukkanlah jiwa kita. Jangan marah, tetapi kendalikan jiwa kita untuk menerima segala sesuatu. Biarlah kita boleh mengerti bahwa kita berada di bawah kedaulatan Allah. Di dalam providensia-Nya. Allahlah yang menempatkan setiap orang yang akan berelasi dengan kita. Tanpa kehendak-Nya, kita tidak akan menemui pertentangan-pertentangan seperti ini, atau penolakan-penolakan, atau penutupan jalan, atau penghinaan yang seperti ini terjadi di dalam hidup kita. Itulah tangan Allah yang kuat. Sekali lagi, poin yang pertama, Thomas Boston menyatakan, kalau engkau mau merendahkan dirimu di bawah tangan Allah yang kuat, definisikan terlebih dahulu tangan Allah yang kuat itu apa. Perhatikan terlebih dahulu tangan Allah yang kuat itu bekerja seperti apa. Saya pernah mengatakan beberapa minggu yang lalu, tentu tidak ada seseorang pun yang akan melihat tangan Allah yang kuat itu di sekitar kita. Tetapi tangan Allah yang kuat mengatur seluruhnya di dalam providensia-Nya. Membuat situasi-situasi, Thomas Boston menyatakan perhatikan situasi itu, Allah menggunakan orang-orang dan perhatikan orang-orang tersebut, untuk mewujudkan segala sesuatu untuk merendahkan kita. Perhatikan orang-orang tersebut, perhatikan situasi itu, taklukkan jiwamu kepada seluruhnya itu. Lihatlah, ketika Allah melalui semuanya, melalui mereka, membuka atau menutup jalan-jalan atau memberikan perijinan atau menolaknya, taklukkan jiwamu, jangan marah, kendalikan jiwamu untuk menerima semuanya. Karena prinsip Alkitab adalah bahkan hati raja seperti batang air di dalam tangan TUHAN, dialirkan-Nya kemana Ia ingini, Amsal 21:1. Kalau hati raja saja dipegang oleh Tuhan dan Tuhan alirkan seturut apa yang Ia inginkan, itu artinya seluruh hati orang-orang di sekitar kita ada di dalam tangan Tuhan seluruhnya. Kalau bukan kehendak Allah tidak akan ada pertentangan-pertentangan seperti itu, tidak akan ada penolakan-penolakan, tidak ada penutupan jalan, tidak ada penghinaan itu. Biarlah kita boleh menaklukkan diri kita dengan seluruh orang yang dihadirkan di hadapan kita dengan rendah hati.

Allahlah yang mengirimkan kesengsaraan untuk menghukum dosa kita. Dia berhak untuk itu. Dia juga berhak menghukum dosa kita dengan orang-orang yang jauh lebih berdosa dari kita. Sekali lagi, Dia berhak menghukum dosa kita dengan penderitaan yang dibuat oleh orang-orang yang jauh lebih berdosa daripada kita. Case ini ada pada Habakuk, Habakuk melihat semua orang-orang Yehuda, Yerusalem itu adalah orang berdosa, dosa merajalela di masyarakat dan banyak janda-janda dibengkalaikan. Anak yatim diperkosa haknya, dan kebenaran ditunggangbalikkan. Habakuk berdoa kepada Tuhan, berapa lama lagi ya Tuhan, mengapa aku melihat kejahatan di depan mataku. Habakuk menginginkan Tuhan melakukan pembalasan, menegakkan kekudusan-Nya. Habakuk tidak menyangka jawaban Tuhan yang tidak terduga. Tuhan mengatakan, Aku akan menghukum. Dengan apa Engkau menghukum Tuhan? Aku akan mengirimkan tentara Kasdim, Nebukadnezar akan menghancurkan kota ini. Habakuk kaget, mana bisa begitu, mengapa Engkau menghukum dosa orang benar dengan orang yang jauh lebih berdosa daripada umat-Mu ini? Siapa yang bisa menerima? Tetapi inilah Firman. Thomas Boston mengatakan apapun saja, apapun yang Tuhan pakai, engkau dan saya harus terima. Kalau kita bersalah, orang benar akan memberikan teguran kepada kita, gereja akan memberikan teguran kepada kita. Sampai di situ saja, mungkin 50% dari kita sudah tidak kepingin untuk pergi ke gereja. Dengar itu saja, oh you terlalu keras, Tuhan Yesus lembut. Saya beri tahu, lihat lagi Alkitab-mu, Dia lembut, Dia tidak pernah akan mengalah. Itulah sebabnya Dia harus dipaku di atas kayu salib. Gereja terlalu keras, gereja terlalu menghakimi, jalan Tuhan bukan seperti itu, lembut-lembut. Sekarang saya tanya, kenapa Tuhan pakai Nebukadnezar? Lembut? Dia punya hak untuk menghakimi kita dengan orang yang bahkan kita tidak suka dan jauh lebih berdosa dari kita. Thomas Boston menyatakan “Allah yang mengirimkan kesengsaraan untuk menghukum dosa dan Allah juga menghukum dosa yang satu dengan dosa yang lain.” Dia menghukum satu dosa dengan perbuatan orang lain yang berdosa. Dan ini adalah cara kerja Allah. Tidak mudah, bukan? Saya makin merenungkannya, saya makin gemetar. Sungguh-sungguh ini tidak mudah. Kalau ini terjadi di dalam hidup kita bagaimana? Tuhan mengatakan kepada orang Israel melalui Yesaya. Buat hati bangsa ini keras, buat telinganya berat mendengar, buat matanya melekat tertutup supaya jangan mereka melihat dengan matanya, mendengar dengan telinganya, dan mengerti dengan hatinya lalu berbalik dan menjadi sembuh. Jadi ketika kita berdosa, Dia berhak membuat kita masuk, tidak bisa ke mana-mana, habisi seluruhnya sampai kemudian murka-Nya datang. Ketika penderitaan itu, murka itu datang, maka Tuhan mengatakan “Rendahkan dirimu”. Ini seluruhnya Kupakai, karena ini seluruh tangan-Ku untuk merendahkan dirimu.

Saya akan memberikan beberapa contoh dari Thomas Boston. Lihatlah response yang ditulis di dalam Alkitab. Lihatlah orang-orang yang merendahkan dirinya di bawah tangan Allah yang kuat. Yang pertama adalah Imam Eli. Kita tahu semua bahwa Imam Eli karena tidak menegur dosa anak-anaknya, maka Tuhan marah sekali dengan Imam Eli dan membangkitkan Samuel untuk menggantikan dia. Imam Eli bukannya tidak menegur, dia tidak menegur dengan keras. Sebagai orang tua biarlah kita boleh hati-hati. Ini tidak berarti bahwa Saudara kemudian menjadi kejam kepada anak-anak, menjadi keras kepada anak-anak. Tidak. Tentu kita harus mengasihi mereka, tetapi kasih di dalamnya termasuk teguran yang keras ketika anak-anak kita tidak takut kepada Tuhan. Alkitab mengatakan anak-anak Imam Eli menghina Tuhan. Persembahan-persembahan yang seharusnya untuk Tuhan, dimakan oleh mereka. Imam Eli hanya mengatakan “Jangan begitu anakku”. Tuhan mengatakan tidak, engkau tidak menegur anak-anak-mu. Kemudian Allah marah kepada Imam Eli, membangkitkan Samuel. Dan malam hari itu Tuhan bicara kepada Samuel, menceritakan seluruh rencana Tuhan untuk menghancurkan keluarga Eli. Kemudian Eli ketika mendengar itu dia mengatakan demikian “Dia TUHAN (God of covenant), biarlah diperbuat-Nya apa yang dipandang-Nya baik”.

Orang yang kedua yang Alkitab katakan dengan jelas mengenai merendahkan diri di bawah tangan Allah yang kuat adalah Daud yang minggu yang lalu kita sudah lihat. Sekali lagi, lihatlah sikap Daud ketika dia dikutuki oleh Simei. Kemudian jenderalnya ingin membunuh Simei. Daud menyatakan dalam 2 Samuel 16:10 (Tetapi kata raja: “Apakah urusanku dengan kamu, hai anak-anak Zeruya? Biarlah ia mengutuk! Sebab apabila TUHAN berfirman kepadanya: Kutukilah Daud, siapakah yang akan bertanya: mengapa engkau berbuat demikian?”) 16:11 “Pula kata Daud kepada Abisai dan kepada semua pegawainya: “Sedangkan anak kandungku ingin mencabut nyawaku, terlebih lagi sekarang orang Benyamin ini! Biarkanlah dia dan biarlah ia mengutuk, sebab TUHAN yang telah berfirman kepadanya demikian.””) Saudara-saudara, perhatikan, saya akan mengelaborasi sedikit. Ketika itu Daud berada di dalam kesalahan, dan ada musuhnya mencaci dia, mengutuki dia. Perhatikan bagaimana hatinya Daud, apakah dia merendahkan diri di bawah tangan Allah yang kuat? Saudara lihat bahwa kutukan Simei itu adalah perwakilan Allah untuk mengutuk dia. Padahal Simei bukan orang yang takut akan Tuhan. Jelas Simei punya satu maksud jahat terhadap Daud, tetapi perhatikan baik-baik, Daud mengerti Tuhan memakai Simei untuk menaklukkan dia, merendahkan dia. Dan kemudian jenderalnya Daud mengatakan “Aku akan bunuh dia”, dan Daud mengatakan “Apa urusanmu dengan aku”. Saudara perhatikan baik-baik, ketika Saudara dan saya ditegur oleh orang lain, apakah Saudara kemudian senang dengan beberapa orang yang pro Saudara, kemudian bersekongkol? Saudara tahu sekarang betapa hati kita tidak memiliki pertobatan seperti hatinya Daud? Kita melakukan kesalahan dan dosa yang lebih besar daripada dia, tetapi kita tidak memiliki kedalaman pertobatan seperti dia. Daud menolak jenderalnya. Dia mau cuma tunduk pada tangan Allah yang kuat. Di mana tangan Allah? Tidak ada malaikat, tidak ada Firman, tidak ada nabi, Simei, tangan Allah yang kuat itu. Simei dipakai oleh Allah, itu providensia. Tidak mungkin ada pertentangan. Sekali lagi saya mengingatkan kalimat Boston, tidak mungkin akan ada penolakan, tidak akan ada penghinaan kalau bukan Tuhan yang menghadirkannya. Perhatikan cara Tuhan merendahkan kita. Dia boleh menggunakan malaikat tentu, Dia boleh menggunakan nabi tentu, Dia boleh menggunakan orang benar tentu, tetapi Dia juga boleh menggunakan orang berdosa yang lebih berdosa dari kita. Dia boleh menggunakan musuh kita, Dia boleh menggunakan dari orang-orang yang bahkan tidak takut kepada Tuhan. Perhatikan siapa yang Tuhan bangkitkan pada waktu itu.

Sekarang, orang ketiga. Yang saya mau munculkan adalah lihatlah perampok yang bertobat di sisi salib Yesus. Tadinya dia bersumpah serapah. Ada dua orang perampok di kanan kiri Yesus dan dua-duanya bersumpah serapah dan mengutuki Yesus Kristus. Tetapi kemudian salah satu dari perampok itu bertobat, Roh Kudus bekerja dalam dirinya, lihat kalimat yang muncul dari mulutnya. Mari kita melihat Lukas 23 karena Firman ini penting sekali. Lukas 23:38-43. Perhatikan ayat 41 dan lihatlah jiwa yang indah yang dibentuk oleh Roh Kudus bahkan di dalam masa penghinaan seperti ini. Ayat 41 (Kita memang selayaknya dihukum, sebab kita menerima balasan yang setimpal dengan perbuatan kita, tetapi orang ini tidak berbuat sesuatu yang salah.) Inilah jiwa yang rendah hati, jiwa yang dibentuk oleh Roh Kudus yang memiliki kemampuan karena kuasa daripada Roh Kudus bekerja untuk merendahkan dirinya di bawah tangan Allah yang kuat. Perampok itu sebelumnya mengkata-katai Yesus dan tidak menerima kenyataan daripada hidup, tetapi ketika Roh kudus bekerja di dalam dirinya, membentuk sesuatu yang baru, membentuk sesuatu hati yang takluk kepada kehendak, kedaulatan, providensia Allah. Mendengar temannya mencaci Yesus, maka orang ini dengan tangan tergantung, dengan kaki yang ditusuk dengan paku, dan sebentar lagi mati di dalam seluruh malu yang besar, dia mengatakan kepada temannya, “Tidakkah kamu takut, kita layak diperlakukan seperti ini, tetapi Dia tidak.” Kita layak diperlakukan seperti ini. Jiwa yang rendah hati, sadar dirinya layak untuk tidak mendapatkan hal-hal yang baik di dalam hidup ini. Jiwa yang rendah hati menyadari bahwa dirinya itu layak untuk tidak mendapat hal-hal yang baik di dalam hidup ini. Apakah saudara bisa melihat bahwa jiwa seperti inilah yang dibentuk oleh Roh Kudus juga di dalam diri Daud. Daud mengatakan “Pulanglah engkau hai imam ke Yerusalem, tabut perjanjian, ambil, kembalikan, kalau Tuhan kehendaki aku akan melihatnya lagi, tapi kalau tidak, aku rela biar kehendak-Nya yang jadi.” Dan ketika Simei itu mengutuk, dia mengatakan biarkan dia mengutuk karena itu dari Tuhan. Dia persis seperti penjahat itu, dia mengatakan aku ini layak di neraka.

Saya mau tanya kepada Saudara-saudara, engkau layak di mana? Kita selalu mengatakan aku tidak layak diperlakukan begini. Orang menghinaku, you tidak tahu siapa saya. Daud mengatakan aku tidak layak untuk menerima bahkan hal-hal yang baik dalam hidup ini, semua karena anugerah. Kiranya Roh Kudus membentuk hal ini dalam hidup kita. Sama seperti perampok itu, kemudian kita berseru, Tuhan aku layak diperlakukan seperti ini. Aku layak untuk tidak mendapatkan hal-hal yang baik dalam hidup ini. Destiny-ku itu adalah neraka, tetapi kasihanilah aku ya Anak Daud, kasihanilah aku, kasihanilah aku orang yang berdosa. Inilah jiwa yang rendah hati. Minta kepada Tuhan hai jemaat. Karena kita tidak bisa membuatnya sendiri. Hanya Roh-Nya saja yang kudus yang bisa mengajari dan menanamkan jiwa seperti ini. Karena Dialah yang akan menciptakan hati yang seperti ini di dalam hati kita. Dan bahkan kalau Saudara-saudara adalah orang yang lahir baru, pekerjaan daripada Roh Kudus bukan one-off, tetapi sesuatu progressive sanctification. Di masa lalu engkau dan saya diajarkan bagian ini, bagian ini, dan hari ini kita diajar oleh Roh Kudus berkenaan dengan rendah hati. Sama seperti pelajaran-pelajaran yang lalu, kita mengerti semua bahwa Firman itu tidak mungkin kita bisa ikuti kecuali Roh-Nya membuat kita mengerti dan menciptakan sesuatu yang baru dalam diri kita. Biarlah Dia yang bekerja di masa lalu, bekerja juga di saat ini.

Hal yang kedua, dan saya akan akhiri dalam poin ini. Merendahkan diri di bawah tangan Allah yang kuat, adalah menyadari ketidaklayakan kita dan kita bukan siapa-siapa. Kita perlu menyadari bahwa kita ini bukan siapa-siapa, kita ini bukan orang penting, kita ini nothing. Thomas Boston menyatakan “Jika kita masih mempertahankan bahwa ada sesuatu yang berharga, bernilai baik di dalam diri kita yang layak diperjuangkan untuk mempertahankan case kita di hadapan Allah ketika kita menderita, itu adalah pikiran yang sombong.” Dan pikiran itu sendiri akan memprovokasi Allah untuk selanjutnya menentang kita. Buanglah seluruh pikiran keunggulan diri dan jasa-jasa di masa lampau. Biarlah kita menyadari bahwa kita tidak layak dan bukan siapa-siapa. Perhatikan sekali lagi apa yang terjadi dalam kasus Daud. Tidak pernah sekalipun di dalam kalimat Daud mengatakan kepada Simei engkau tidak tahu saya siapa Simei? Saya adalah orang yang berkenan di hati Allah, saya adalah orang yang diurapi oleh Allah. Apakah engkau tidak tahu Simei, aku menciptakan lagu-lagu dan menuliskannya dan banyak orang mendapatkan berkat? Apakah engkau tidak tahu hai Simei? Aku memberikan pengajaran-pengajaran yang benar, bahkan Kristus mengatakan “Aku pemegang kunci Daud”. Apakah engkau tidak tahu bahwa masa laluku, aku adalah orang yang rendah hati, aku adalah orang yang menggembalakan kambing domba, aku tidak menginginkan tahta itu? Apakah engkau tidak tahu bahwa Tuhan mengangkat aku dan membuat seluruh kerajaan Israel ini megah? Daud sama sekali tidak melihat bahwa dirinya berjasa, padahal begitu banyak yang Tuhan sudah kerjakan melalui hidupnya. Di dalam Alkitab ada satu prinsip, hamba Tuhan yang baik adalah setelah melakukan seluruhnya, sebisanya, terbaik, dengan korban seluruhnya, dia mengatakan kepada Tuhan, kami hamba yang tidak berguna. Ini adalah satu prinsip yang tidak bisa dipelajari kecuali kita mengenal dan melihat Allah itu mulia. Perhatikan baik-baik satu kalimat penting ini. Hati yang bisa melihat diri itu bukan siapa-siapa, itu tergantung dari apakah kita pernah melihat kemuliaan Allah atau tidak. Yang melihat kemuliaan Allah, yang melihat Allah akan menyadari bahwa dirinya itu nothing. Maka sampai di sini kita sungguh-sungguh minta belas kasihan dari Tuhan. Makin menyadari ini, makin mempelajari ini, kita menyadari bahwa kerendahan hati itu benar-benar kasih karunia Tuhan.

Tadi bagian yang pertama Saudara-saudara melihat hati yang mau menerima seluruh tangan Allah yang kuat, itu adalah hati yang dibentuk oleh Roh Kudus. Dan sekarang melihat yang kedua Thomas Boston mengatakan bahwa engkau memiliki jiwa yang menyadari bahwa kita itu nothing, kita itu tidak layak, itu cuma bisa ketika kita melihat kemuliaan Allah, Allah yang mulia. Musa itu jenderal Mesir. Mesir jauh lebih besar daripada Inggris, Mesir jauh lebih besar daripada Amerika Serikat. Musa, jenderal perang. Pada waktu itu Mesir adalah negara adikuasa satu-satunya. Seluruh kemampuan medical ada di Mesir. Seluruh kemampuan literatur dan musik ada di Mesir. Seluruh strategi militer yang terhebat dari Mesir. Musa menguasai bahkan tulisan-tulisan hieroglyph yang sampai saat ini di seluruh dunia tidak lebih dari 10 orang yang menguasainya. Tetapi kemudian ada satu waktu di mana Tuhan mengijinkan untuk dia gagal. Dia menjadi pelarian. Dari seorang jenderal kemudian menjadi gembala kawanan kambing domba. Untuk apa? Untuk Tuhan menurunkan, merendahkannya. Untuk Tuhan membentuk di dalam hatinya, hati yang rendah dan bergantung kepada Dia. Di tengah-tengah seluruh kawanan kambing domba, dia ada di sana 40 tahun. Di dalam 40 tahun dia belajar I am nothing. Dia tadinya jenderal yang berkuasa, dia bicara kepada prajuritnya, prajurit maju! Maka seluruh prajurit maju. Sekarang dia mesti bicara kepada kawanan kambing domba. Selama 40 tahun. Kalau bukan nothing apa? Hidup buat apa? Stress. Tidak berguna. Tetapi apakah itu cukup dalam hidupnya? Apakah bisa mengosongkan keseluruhannya? Itulah manusia. Kalau tanpa pertolongan Tuhan kita tetap kepingin untuk bisa rendah hati tetapi tidak bisa rendah hati. Kita melihat Firman tetapi seluruhnya adalah bagaimana Tuhan secara experiential itu dealing dengan kita. Betapa kita memerlukan belas kasihan-Nya untuk mengunjungi kita. Musa apakah bisa dengan itu kemudian selesai? Jawabannya adalah tidak. Sampai suatu hari dia berjalan untuk menggembalakan kambing domba, dia lihat ada semak duri yang kelihatannya terbakar. Dia mendekat semak duri itu. Tiba-tiba suara Tuhan datang, “Berhenti Musa, tanggalkan kasutmu, sebab tempat ini, tanah ini adalah tanah yang kudus.” Itu adalah kata pertama ‘kudus’ muncul di dalam Alkitab. Kalau kita tidak pernah melihat kesucian Tuhan, kita tidak mungkin bisa rendah hati. Kita bisa memikirkannya, kita bisa mengotbahkannya, tetapi apakah kita mendapatkan belas kasihan seperti Dia memberikannya kepada Abraham, Ishak, Yakub, Musa, dan semua nabi-nabi-Nya?

Thomas Boston menyatakan “Pandanglah kemuliaan Allah yang tidak terbatas dengan tangan-Nya yang kuat dealing dengan kita.” Ketika itu ada, engkau akan dapat berkata seperti Abraham, “Sesungguhnya aku telah memberanikan diri berkata kepada Tuhan walaupun aku debu dan abu.” Dan mengaminkan apa yang dikatakan Yesaya, “Rumput menjadi kering, bunga menjadi layu apabila Tuhan menghembuskan dengan napas-Nya, sesungguhnya bangsa ini seperti rumput, rumput menjadi kering, bunga menjadi layu, tetapi Firman Allah kita tetap untuk selama-lamanya.” Yang melihat kemuliaan Allah-lah yang bisa mengatakan I am nothing. Yang bisa melihat kemuliaan Allahlah yang menyatakan bahwa diri ini sungguh-sungguh tidak layak dan tidak berguna. Jemaat, kita memerlukan, kita sungguh-sungguh bergantung kepada Roh Kudus dan kepada kebaikan-Nya untuk membentuk hati yang rendah hati. Di luar belas kasihan-Nya kita tidak bisa apa-apa. Ketika engkau mendengar dan saya mendengarkan Firman yang seperti ini, apa yang menjadi response kita? Mulailah dari diri kita, menyadari bahwa kerendahan hati itu bukan milik kita. Dan berserulah kepada Tuhan, kasihanilah aku. Ciptakan hati seperti itu di dalam hatiku. Ampunilah semua dosa-dosaku. Kiranya Tuhan berbelas kasihan kepada kita semua.

 
GRII Sydney

GRII didirikan di atas dasar Pengakuan Iman Reformed Injili dengan tujuan menegakkan satu gereja yang berbasiskan teologi Reformed, dengan mimbar yang menyampaikan khotbah ekspositoris, read more