Ringkasan Khotbah

5 February 2023
Bentukan Allah Kepada Pelayan-Nya (3)
Pdt. Agus Marjanto, M.Th · Nehemia 1:1-5

Nehemia 1:1-5

Kita terus memikirkan prinsip bentukan Roh Kudus bagi seseorang untuk menjadi pelayan Tuhan. Allah di dalam Kristus sudah membeli kita dengan darah yang mahal, darah yang berharga, darah Anak-Nya sendiri. Kita ditebus untuk dibentuk menjadi pelayan-pelayan Tuhan di muka bumi ini. Itulah sebabnya kenapa kita belum mati. Itulah sebabnya kenapa hidup kita belum berakhir, karena ada tugas yang Tuhan berikan kepada kita untuk kita lakukan, untuk kita genapi. Dan tugas itu secara prinsip utama adalah menghadirkan Kerajaan Allah di muka bumi ini di dalam diri kita dan melalui diri kita. Di dalam diri kita apa artinya? Itu artinya pemerintahan Allah, artinya kehendak Allah, penguasaan Allah makin nyata di dalam seluruh aspek hidup kita. Kristus semakin memerintah atas hidup kita dalam seluruh area, kita dimiliki oleh Kristus dan diperintah oleh Kristus. Tidak ada satu bagian pun di dalam area hidup kita yang private yang di mana Kristus tidak boleh berintervensi, tetapi sebaliknya seluruh area di dalam hidup kita. Kita dapat berseru Bapa bukan kehendakku tetapi kehendak-Mulah yang jadi. Yang diinginkan oleh Bapa adalah kita menjalani keseluruhan kerajaan-Nya datang dalam diri kita dengan sukacita. Dengan bahasa yang lebih sederhana; ketaatan dengan sukacita dan itu adalah buah kasih kepada Allah.

Selain di dalam diri kita maka Kerajaan Allah juga dihadirkan melalui diri kita, melalui hidup kita, talenta kita, uang kita, perhatian kita, waktu kita, segala sumber daya kita sepanjang napas masih diberikan oleh Allah kepada kita. Hidup dipakai Allah untuk menyebarkan Kerajaan-Nya, dengan kata lain hidup dipakai Allah untuk menjadi berkat bagi dunia ini. Biarlah kita mengingat Mazmur 6 yang menyatakan, “Sebab di dalam maut tidaklah orang ingat kepada-Mu; siapakah yang akan bersyukur kepada-Mu di dalam dunia orang mati?” Ayat-ayat ini menyatakan, hidup dipakai Allah untuk menjadi berkat bagi dunia ini. Hidup dipakai Allah untuk memperluas kerajaan-Nya. Itu hanya bisa dilakukan jikalau kita masih diberikan umur. Ayat ini menyatakan, setelah umur berhenti maka kita berhenti melayani Allah di muka bumi ini. Allah tidak lagi memakai kita untuk perluasan kerajaan-Nya di muka bumi ini. Dia akan memakai generasi yang lain, Dia memakai orang yang lain untuk meneruskan pekerjaan Allah di tengah-tengah dunia ini tetapi waktu kita sudah berakhir. Jikalau kita adalah milik Kristus, kekekalan sudah diberikan oleh Allah di dalam Kristus kepada kita tetapi hidup ini, saat ini, ketika kita masih bernafas bukan di dalam kekekalan tetapi saat ini, hidup kita dipakai oleh siapa, dimiliki oleh siapa?

Saya masih ingat akan satu kalimat seperti ini, banyak orang Kristen yang jiwanya di dalam kekekalan dimiliki oleh Allah tetapi hidupnya di dalam kesementaraan ini dipakai oleh setan. Cara pandang Alkitab tidak sama dengan cara pandang dunia. Cara pandang dunia adalah melihat hidup dari kacamata saat ini menuju ke masa depan. Apakah aku bahagia atau aku tidak berbahagia nanti di dalam kekekalan, maka untuk itu aku berbuat baik, aku baik-baik melayani supaya aku bisa bahagia nanti ke Surga dan ada upah, dan saat ini kalau aku rasa sudah cukup baik ya sudahlah, sisanya aku pakai untuk diriku sendiri. Tidak seperti itu. Cara pikir Alkitab bukan dari saat ini menuju masa depan, menuju Eskatologi/akhir zaman, tetapi cara pikir Alkitab adalah kita melihat hidup sekarang ini dari kacamata eskatologi. Akhir zaman ditarik untuk memberi makna di dalam hidup ini. Itulah sebabnya, Musa dan Daud bahkan berteriak, “Nyatakan Tuhan, berikan aku pengertian kapan aku mati.” Musa mengatakan, “Supaya aku memiliki hati yang berbijaksana.” Cara pikir Alkitab bagi anak-anak Tuhan, kita sudah diselamatkan, kebahagiaan kekal sudah dijamin di dalam Kristus Yesus dan jika kita sudah mendapatkan semua hal tersebut di depan, maka hidup sekarang ini adalah milik Kristus. Hidup sekarang ini menjadi pelayan atau budak dari Kristus Yesus. Hidup sekarang tidak perlu lagi diberatkan dengan hal-hal yang tidak pasti di depan ini. Kita sudah dijamin dan jika Allah sudah memberikan Anak-Nya, apalagi yang Dia tidak berikan kepada kita. Dan siapakah yang dapat memisahkan kita dari kasih-Nya yang kekal? Dengan seluruh keadaan eskatologi ini bahkan dari eskatologi akhir zaman sudah dijamin sampai saat ini, biarlah kita semua memikirkan satu hal saja, yaitu bagaimana Kerajaan-Nya diperluas melalui hidup kita, sehingga tepatlah apa yang dikatakan oleh Alkitab; Jangan kamu kuatir tetapi cari dulu Kerajaan Allah dan kebenarannya.

Ketika bicara mengenai kekuatiran selalu akan bicara mengenai masa depan, tetapi Alkitab malah menyatakan masa depan bahkan sampai ke dalam kekekalan itu sudah dijamin. Setiap dari kita, saya dan saudara dipanggil untuk menjadi pelayan-pelayan Allah di muka bumi ini untuk menghadirkan kerajaan-Nya di dalam dan melalui hidup kita. Mari semua jemaat bangkit untuk melayani Allah dengan segenap hatimu, dengan segenap kekuatanmu, dengan segenap akal budimu. Mari kita belajar mengasihi Allah dengan mengasihi pekerjaan-Nya, kerajaan-Nya dan umat-Nya. Saya sangat mengharapkan apa yang Alkitab katakan, yaitu kebangunan rohani kaum awam. Kebangunan kaum awam untuk melayani Allah. Nabi Yoel menubuatkan pada hari-hari terakhir Roh Tuhan dicurahkan kepada semua umat Tuhan. Laki-laki dan wanita akan bergerak melayani Tuhan. Seluruh jemaat, demikian kata Alkitab, bukan hanya hamba Tuhan. Dalam Perjanjian Lama adalah bagi hamba-hamba Tuhan yang dipilih dan sekelompok orang yang dipakai tetapi, dalam Perjanjian Baru adalah kepada seluruh umat Allah. Ini terjadi pada Pentakosta. Pada waktu itu seluruh jemaat gereja bergerak melayani Tuhan, mereka menjadi gereja yang militan, gereja yang tidak egois, gereja yang tidak memikirkan bagaimana membangun gedung gereja; tidak ada salahnya dengan hal itu, tetapi umat yang memikirkan paling utama bagaimana nama Tuhan dikenal dan kerajaan-Nya meluas di seluruh muka bumi. Allah melalui Roh Kudus-Nya di dalam diri jemaat mula-mula dan melalui providensia-Nya yaitu penganiayaan yang hadir kepada jemaat itu membuat kaki anggota jemaat melangkah keluar ke manapun agar nama Tuhan dan kerajaan Allah tersebar dari Yerusalem, Yudea, Samaria sampai ke seluruh muka bumi.

Sekali lagi, kita semua dipanggil untuk memperluas Kerajaan Allah, di dalam diriku dan melalui diriku bagi dunia. Untuk itu Roh Kudus membentuk kita. Itulah kenapa dari beberapa minggu lalu sampai saat ini dan kalau Tuhan Pimpin ke depan, saya akan membawa terus saudara-saudara untuk melihat Nehemia. Nehemia adalah seorang awam yang dipakai oleh Tuhan. Seorang awam yang dipakai untuk menjadi pemimpin rohani. Seorang pemimpin rohani adalah seorang pelayan. Nehemia tidak berkhotbah. Nehemia juga tidak mendapatkan penglihatan dari surga atau suara dari Tuhan atau malaikat yang datang, tetapi jelas Alkitab mencatat apa yang dikerjakan oleh Nehemia dan saudara mendapatkan satu kesimpulan bahwa Nehemia digerakkan oleh Roh Kudus yang sama, yang menggerakkan para nabi-nabi. Roh Kudus yang sama menggerakkan Musa, Daud dan juga Elia. Alkitab mengatakan bahwa pada akhir zaman Roh Kudus akan menggerakkan kaum awam. Lihatlah bentukan Roh Kudus kepada Nehemia.

Beberapa minggu yang lalu kita sudah membahas, membicarakan tentang dua hal yang Roh Kudus bentuk kepada Nehemia untuk menjadi seorang pelayan, menjadi seorang pemimpin rohani. Yang pertama adalah bagaimana Nehemia dibentuk untuk memiliki hati yang lekat dengan umat Allah. Seorang pelayan tidak mungkin memiliki gap yang besar dengan umat Allah. Seorang pelayan adalah seorang yang melayani Allah di tengah-tengah umat dan melayani umat di hadapan Allah. Seorang pelayan yang mengasihi Allah, kerajaan-Nya dan umat Allah. Kalau saudara tidak belajar untuk mengasihi gereja, mengasihi sesama, maka kita tidak belajar bagaimana kita mengasihi Allah. Kalau saudara dan saya merasa saudara lebih baik daripada gereja Tuhan yang ada, maka itu bukan bentukan Roh Kudus. Gereja adalah isi hati Allah. Gereja adalah mempelai perempuan Kristus. Kalau kita berusaha menjauhkan diri kita dari gereja dengan alasan apapun sesungguhnya kita tidak siap untuk melayani Allah kita. Nehemia dikenal sebagai seorang nabi tetapi dia bukan saja bicara, bukan saja mengarahkan tetapi dari seorang nabi yang kuat, dia ketika sendiri memiliki hati seorang imam yang membawa umat dan dirinya bertobat di hadapan Allah dengan air mata, dengan doa.

Hal yang ke-2 adalah minggu yang lalu kita sudah bicara, bagaimana Nehemia dibentuk memiliki prioritas utama di dalam hidup, first thing first adalah doa. Ada orang yang menjadi sombong ketika bicara menjadi pendoa karena terlihat seperti seorang yang rohani. Kita tidak bicara mengenai hal-hal seperti itu. Tetapi seorang yang berdoa di dalam Alkitab, jikalau dia sejati adalah seorang yang selalu memiliki hati yang remuk, hati yang bangkrut, hati yang memiliki kesadaran bahwa dirinya tidak bisa dan perlu bala bantuan surga. Suatu sikap hati yang selalu meminta pertolongan bukan dari manusia bukan mengharapkan manusia tetapi dari Tuhan, suatu sikap hati yang selalu meminta belas kasihan Tuhan. Begitu Nehemia mendengarkan berita itu, maka hatinya yang sudah dibentuk oleh Tuhan beberapa lama sebelumnya, dia siap, langsung dia berdoa. First thing first.

Hal yang ke-3, apa yang Roh Kudus bentuk pada kita untuk menjadikan kita pelayanan-Nya? Yaitu kehidupan yang mengenal Allah. Poin ini sudah berkali-kali saya bicarakan tetapi mari kita sekarang melihat pengenalan Allah yang seperti apa yang ada pada Nehemia dan ini terlihat pada isi konten doanya. Mari kita cek isi doa kita secara spontan pada waktu kita sendiri. Jangan kita menilai doa kita pada waktu kita di publik ataupun pada waktu kita di gereja. Kalau di gereja atau di muka umum, pasti kita berdoa untuk pekerjaan Tuhan untuk pertumbuhan rohani jemaat atau untuk misi, untuk hal-hal yang lain, KKR, tetapi ketika kita sendiri, ketika saya sendiri, ketika saudara sendiri di kamar kita; apa yang biasa kita doakan? Mari kita introspeksi. Mari kita cek apa yang kita doakan. Ada orang yang mendoakan terus-menerus tentang anaknya, masa depannya, usahanya, mencari pacar, putus dengan pacar, atau tentang hidup ini. Saya tidak katakan itu adalah tidak perlu untuk didoakan, tetapi kalau itu terus-menerus yang muncul secara spontan di dalam diri kita berarti itu isi hati kita. Tetapi Nehemia tidak begitu spontannya, dia bahkan ketika dia berdoa sendiri di dalam private prayer-nya dia berdoa bagaimana pekerjaan Allah harus terlaksana dan dia meminta kasih sayang Tuhan untuk dia dan seluruh orang Israel.

Isi doa Nehemia bisa dibagi menjadi 4 pokok doa dan 4 pokok doa ini biasa diajarkan oleh Alkitab. Kita biasa memakai atau orang-orang biasa memakai singkatan, dengan singkatan ACTS. Pertama, adoration; ke-2, confession of sins; ke-3, thanksgiving; dan yang ke-4, supplication. Mari kita melihat bagian yang pertama, adoration. Adoration/memuji Allah, mengagungkan Allah. Perhatikan apa yang Nehemia puji dari Allah. Itu artinya sifat Allah yang seperti apa yang dia kenal dan menawan hatinya, yang membuat dia mengagungkan Allah karena pengenalan akan Allah dengan sifat-Nya ini. Nehemia 1:5 mengatakan: “Ya, TUHAN, Allah semesta langit, Allah yang besar dan dahsyat, yang berpegang pada perjanjian dan kasih setia-Nya terhadap seorang yang kasih kepada-Nya dan tetap mengikuti perintah-perintah-Nya.” Di dalam ESV dikatakan “And I said, O LORD God of heaven, the great and awesome God who keeps covenant and steadfast love with those who love him and keeps his commandments.” Allah semesta langit, Allah yang maha besar dan dahsyat. Sesungguhnya Allah seperti apa yang Nehemia kenal dengan berdoa seperti ini? Nehemia mengenal Allah yang berdaulat, Allah yang tidak pernah kalah, Allah yang tetap di atas tahta yang memerintah dengan seluruh semarak keagungan dan cinta kepada umat-Nya meski di bumi ini, kota Allah, umat Allah sedang dikalahkan, pekerjaan-Nya sedang terbengkalai dan nama-Nya diinjak-injak oleh seluruh musuh-Nya. Nehemia pasti bukan memiliki pengertian yang enteng tentang Allah seperti kita. Kita bisa mengatakan Allah yang berdaulat. Siapa yang berdaulat? Allah bukan setan. Tetapi hidup kita gemetar, hidup kita takut dan kuatir. Alkitab dengan jelas menyatakan Allah yang dikenal umat-Nya, umat yang mengenal Allah akan tetap kuat dan bertindak. Kita bisa mengatakan Allah yang berdaulat sepintas lalu, tetapi sebenarnya kita tidak mempercayai kedaulatan-Nya. Pada waktu itu Nehemia melihat semua kenyataan yang pahit, dia melihat the problem of evil terjadi pada umat Allah, dia melihat kejahatan ada di mana-mana. Bahkan hidupnya sendiri, hidup Nehemia tidak pasti di depan, tetapi Nehemia dalam kaca mata imannya, hatinya, melihat Tuhan tetap yang mengontrol semuanya. Allah, Engkau tetap di atas tahta. Allah yang tetap di atas tahta dengan His loving covenant, perjanjian kasih-Nya yang tetap untuk selama-lamanya. Allah tetap berdaulat dengan seluruh keagungan cinta-Nya tanpa sedikitpun berkurang. Di dalam Alkitab sangat umum digambarkan ketika keadaan seseorang atau umat Allah menjadi buruk atau tidak terkendali, maka akan memberikan keraguan pada sifat kedaulatan Allah. Tetapi pada keadaan seperti itu, Alkitab juga memberikan kita ajaran bahwa umat Allah yang sejati di tengah keadaan yang menjadi buruk dan tidak terkendali itu tetap bisa memiliki kesadaran bahwa Allah tetap berdaulat dalam doa-doanya dan ini adalah langkah iman, ini adalah bentukan Roh Kudus.

Mari kita melihat beberapa bagian ini. Pertama, mari kita melihat Kisah Para Rasul 4. Kisah Para Rasul 4:23 dan seterusnya adalah bicara mengenai doa jemaat yang pada waktu itu dianiaya. Pemimpin mereka Petrus dan Yohanes baru saja masuk ke pengadilan dan dihadapkan kepada Mahkamah Agama. Ketika mereka dilepaskan, mereka diancam. ini adalah suatu keadaan yang sangat menakutkan, mereka adalah gereja yang kecil, dan Mahkamah Agama adalah satu penguasa pada waktu itu. Di tengah-tengah seperti itu, apa yang mereka katakan? Perhatikan ayat 23. “Sesudah dilepaskan pergilah Petrus dan Yohanes kepada teman-teman mereka, lalu mereka menceritakan segala sesuatu yang dikatakan imam-imam kepala dan tua-tua kepada mereka.” Menceritakan hal, sesuatu hal yang sangat buruk, menceritakan suatu ancaman, sesuatu hal yang sangat menyakitkan, tetapi, perhatikan ayat 24: “Ketika teman-teman mereka mendengar hal itu, berserulah mereka bersama-sama kepada Allah.” Saudara perhatikan first thing first, hal pertama yang diajarkan oleh Roh Kudus kepada jemaat Allah yang mau melayani adalah mencari wajah Allah, hal pertama yang diajarkan Roh Kudus selalu membawa hati langsung berlutut mencari pertolongan dari surga. Perhatikan saudara-saudara, berserulah mereka kepada Allah, “katanya: Ya Tuhan, Engkaulah yang menjadikan langit dan bumi, laut, dan segala isinya.” Apa yang langsung mereka katakan di tengah-tengah keadaan yang tidak terkendali itu? Yaitu sifat kedaulatan Allah. Allah yang menciptakan langit, bumi, laut, dan segala isinya. Ini bukan suatu pembukaan doa untuk bicara mengenai sejarah. Allah yang menciptakan segala sesuatunya, tetapi ini adalah bicara berkenaan dengan isi doa yang di dalamnya memiliki teologia kedaulatan Allah. Mereka tahu bahwa Allah tetap di atas tahta-Nya, mengontrol semuanya, meskipun merajalela seluruh musuh-Nya. Mahkamah Agama mengancam mereka, dan secara normal, secara alamiah mereka pasti ketakutan, mereka pasti kuatir. Apa kira-kira yang mungkin ada dalam pikiran mereka? Sangat mungkin mereka akan berpikir Petrus, Yohanes pulang saja, ngapain di sini, ngapain melayani Tuhan susah-susah begini. Petrus, Yohanes, perhatikan ya, aku cuma ingin jadi orang Kristen baik-baik, yang tidak ada urusan dengan politik, yang tidak ada urusan dengan agama-agama yang lain, aku tidak mau offensive menyerang orang lain, aku ingin jadi orang Kristen yang damai-damai saja, aku ingin jadi orang Kristen karena aku ingin anakku jadi baik, bermoral baik, keluargaku bahagia sejahtera. Ngapain kita ini seperti ini. Petrus jadilah nelayan, dapat uang berikan perpuluhan, layani jadi guru sekolah minggu, internal saja untuk kalangan sendiri saja. Petrus, kalau kejadiannya seperti ini, ini bukan kekristenan yang aku harapkan dan yang aku pikirkan. Mari kembali jadi nelayan, mari kita tangkap ikan, dapat ikan apalagi ikan di daerah kita adalah salah satu ikan yang terbaik? Kita cukup hanya terima Kristus, hidup baik-baik, kembali berusaha, tidak usah pikirkan apapun saja untuk keselamatan orang lain, untuk Kerajaan Allah, selesai. Nehemia, kamu mau apa? Keluar dari kerajaan? Cari susah sendiri, hidup ini sudah susah kamu mau tambah susah? Tidak perlu seperti itu, kamu terlalu radikal, kamu terlalu ekstrim. Ayo pakai akal sehatmu, lihat lagi, Nehemia. Seluruh umat Allah sudah kalah, apalagi yang kau harapkan? Apakah engkau pikir satu orang bisa mengubah seluruhnya, Nehemia? Sudahlah, jadi saksi di internal saja untuk kalangan sendiri saja. Apakah mereka berpikir demikian? Mungkin, tetapi lihat apa yang Roh Kudus bentuk di dalam diri mereka, lihat apa yang muncul dari doa-doa mereka, bukan doa yang kosong tetapi doa yang dicatat oleh Alkitab, itu artinya Roh Kudus mau saudara dan saya melihat, memperhatikan, mendengarkan doa mereka yang tadinya tersembunyi. Lihat apa yang mereka doakan, lihat apa yang Roh Kudus kerjakan dalam iman mereka, dan itu adalah pengenalan akan Allah yang mereka punya. Di dalam Kisah Para Rasul 4 mereka mendoakan “Ya Tuhan Engkaulah yang menjadikan langit, bumi dan segala isinya.” Sekali lagi siapa yang tidak tahu kalau Tuhan yang buat langit dan bumi, bukan orang lain, bukan tetangga kita yang membangun, membuat langit dan bumi bukan? Kenapa? Apakah ini cuma basa-basi? Tidak. Doa ini artinya adalah: Allah, Engkau yang berdaulat. Allah, Engkau yang memegang segalanya, segala sesuatu ada dalam kedaulatan-Mu karena segala sesuatu adalah ciptaan-Mu, Engkau tetap dalam pemerintahan-Mu segala sesuatu tetap dalam kendali-Mu meski semua terlihat buruk dan pekerjaan-Mu masih terbengkalai, tetapi tetap Engkau tidak terkalahkan dan masa depanku akan membuktikan bahwa Engkau tidak terkalahkan. Mereka adalah orang-orang yang sudah mempercayakan hidupnya pada Tuhan yang berjanji kepada mereka, dan saat ini ketika mereka mengalami kejadian-kejadian buruk, iman mereka tetap memandang bahwa Tuhan yang dipercaya di dalam hatinya, mereka mempercayakan diri kepada Dia, Tuhan tetap di tahta-Nya, perjanjian kasih-Nya akan tetap menang dan pada akhirnya kemuliaan-Nya, kemuliaan-Nya saja yang akan terlihat di seluruh muka bumi. Ini adalah kumpulan orang yang mempercayai kedaulatan Allah.

Wahyu 6:10 ditulis ketika gereja Tuhan mengalami penganiayaan yang besar. Di dalam ayat 9-10: “Dan ketika Anak Domba itu membuka meterai yang kelima, aku melihat di bawah mezbah jiwa-jiwa mereka yang telah dibunuh oleh karena firman Allah dan oleh karena kesaksian yang mereka miliki. (10) Dan mereka berseru dengan suara nyaring, …” Saudara perhatikan apa yang mereka katakan, sifat Allah seperti apa yang muncul di dalam mulut mereka, di dalam doa mereka, “Dan mereka berseru dengan suara nyaring, katanya: “Berapa lama lagi ya Penguasa yang kudus dan benar Engkau tidak menghakimi dan tidak membalas darah kami kepada mereka yang diam di bumi?” Di dalam bahasa Inggrisnya, doa yang diserukan jiwa anak-anak Tuhan yang dibunuh, para martir, mereka berseru dengan suara keras, they cried out with a loud voice, “How long sovereign Master, holy and true. Tuan Penguasa yang berdaulat yang kudus dan yang benar. Berapa lama lagi ya Penguasa yang kudus dan benar Engkau tidak menghakimi dan membalas darah kami kepada mereka yang diam di bumi? Kedaulatan Allah, sifat ini muncul di dalam pikiran mereka pertama kali ketika seluruh kehidupan menjadi tidak menentu. Allah tetap bertahta di atas tahta-Nya di tengah semua kemalangan, mereka tetap melihat Allah yang baik pada umat-Nya, berdaulat di tengah semua kekalahan. Mereka semua tetap melihat Allah yang berkuasa itu menang di tengah semua kehancuran Yerusalem, di tengah semua umat Allah yang terserak dan terhina dan pekerjaan Allah yang terbengkalai dan nama Allah yang dicemooh, di tengah-tengah seperti itu, juga diri Nehemia tidak menentu masa depannya, tetapi di tengah seluruh pergumulan seperti itu Nehemia tetap bisa melihat Allah yang mengasihi dia dan mengasihi umat-Nya dan akan menang dalam seluruh pergumulan itu. Ini adalah pengenalan akan Allah yang berdaulat.

Bagi pelayan, bentukan Roh Kudus akan kedaulatan Allah ini sangat-sangat penting. Melayani Allah itu suatu peperangan, suatu perjuangan, bukan kuliner. Itu adalah sesuatu yang berkesinambungan, terus-menerus, bukan sekali, bukan one off, bukan kuliner. Saudara bisa cuma susah tujuh hari lalu pulang dengan dengan hati yang senang karena pernah susah cuma tujuh hari. Pelayanan adalah terus-menerus perjuangan, terus menerus peperangan. Tanpa kita mengenal kedaulatan Allah kita akan mudah putus asa, tanpa kita mengenal kedaulatan Allah, kalau kita tidak mengenal, melihat kedaulatan Allah, kita melihat diri kita dan akhirnya kita mengasihani diri atau melihat sesama kita dan kita saling menyalahkan, mundur dan tidak mampu bangkit lagi. Kalau saudara ikut pertandingan basket dan waktu tinggal sedikit dan tim saudara itu kehilangan atau tertinggal nilai yang banyak, apa yang ada dalam pikiran kita? Kita akan putus asa, mundur tidak ada harapan, mungkin kita akan menyalahkan orang satu tim karena dia tidak perform dengan baik dan juga menyalahkan diri kita kenapa kita ini bodoh dan gagal. Tetapi, kalau kita bisa mengetahui bahwa sesungguhnya kita akan memenangkan pertandingan itu, maka kita akan terus berusaha untuk berjuang. Perhatikan, Alkitab sudah menyatakan bahwa bumi ini akan dipenuhi dengan kemuliaan Allah kita. Ini adalah janji-Nya dan Allah kita pasti menggenapinya. Nehemia mengetahui hal ini. Pada waktu itu, itu adalah waktu kekalahan, waktu air mata, tetapi dia tidak melihat dirinya. Dia tidak menyalahkan siapapun saja atau keadaan, tetapi dia first thing first, berdoa, dan apa isi doanya? Kedaulatan Allah. Aku berdoa kepadamu ya Allah semesta alam, Tuhan Allah semesta langit, Allah yang maha besar dan dahsyat, yang berpegang kepada perjanjian-Nya, yang sesungguhnya Allah tidak terkalahkan dan tetap di atas tahta-Nya. 

Hai seluruh Jemaat, marilah kita peka dan belajar akan bentukan Roh Kudus di dalam hidup kita yang mengajarkan kedaulatan Allah kepada kita. Alkitab mengajar kepada kita pada pagi hari ini di tengah situasi apapun saja, dan pelayanan tidaklah mudah, dia adalah Allah yang berdaulat yang memegang perjanjian kasih-Nya bagi orang-orang yang berpegang kepada ketetapan-Nya, orang-orang yang berharap kepada kasih setia-Nya. Kiranya kasihan Tuhan, Roh-Nya dikirimkan-Nya kepada kita mengajarkan pokok ini, kedaulatan Allah. Kiranya nama-Nya ditakuti dan kita makin mengenal Dia.

GRII Sydney

GRII didirikan di atas dasar Pengakuan Iman Reformed Injili dengan tujuan menegakkan satu gereja yang berbasiskan teologi Reformed, dengan mimbar yang menyampaikan khotbah ekspositoris, read more