Ringkasan Khotbah

24 September 2023
Pertanyaan-pertanyaan Allah Kepada Manusia (11)
Pdt. Agus Marjanto, M.Th · Mar 4:3, 10-11, 13-20

Mar 4:3, 10-11, 13-20

Masalah berbuah atau tidak adalah masalah yang serius di hadapan Allah. Saya ulangi kalimat ini sudah beberapa kali minggu lalu. Masalah orang Kristen, saudara dan saya, berbuah atau tidak, itu masalah serius di hadapan Allah. Allah sendiri mengutus ketiga nabi-Nya; Yesaya, Yeremia, Yehezkiel dan bertanya kepada orang Israel, ‘Mengapa kamu tidak berbuah?”. Dan di dalam perikop ini sekarang saudara bisa melihat kelebihan lagi daripada pentingnya.  Saudara-saudara, di dalam perikop ini maka berbuah atau tidak dikaitkan dengan kerajaan Allah. Dan bahkan Yesus mengatakan, perumpamaan ini adalah perumpamaan yang menjadi master key bagi mengerti seluruh perumpamaan yang lain. Apakah saudara bisa mengerti ini adalah sesuatu yang luar, luar biasa serius. Saudara-saudara, berbuah. Orang Kristen harus berbuah. Saudara-saudara, di dalam ayat-ayat ini maka Yesus mengkaitkan berbuah atau tidak berbuah dengan kerajaan Allah. Kerjaan Allah adalah isi hati-Nya dari Yesus Kristus. Kerjaan Allah adalah isi hati-Nya dari Bapa di surga. Kerjaan Allah adalah isi hati-Nya daripada Roh Kudus. Kalau saudara dan saya mau bertanya, apa itu kehendah Allah? Saudara-saudara, kehendak Allah yang begitu jelas terpampang di depan mata kita tidak pedulikan. Kita selalu care terhadap hal-hal berkenaan dengan kehendak Allah yang ada urusannya dengan diri sendiri. Oh, aku punya istri nanti kira-kira siapa? Aku musti tanya sama Tuhan apa kehendak-Mu. Oh, nanti anakku nikah sama siapa? Oh, aku musti tanya sama Tuhan apa kehendak-Mu. Oh, aku musti tahu kehendak Tuhan, aku musti bekerja di mana? Kalau ada dua tawaran pekerjaan, aku pilih yang ini atau yang itu? Aku mau tau kehendak-Mu. Segala sesuatu adalah urusan diri. Aklitab mengatakan, Yesus mengajarkan, cari dulu kerajaan Allah maka seluruhnya itu Aku berikan kepadamu. Kerajaan Allah adalah interest-nya Allah Tritunggal. Dia mau menghadirkan kerajaan-Nya di bumi seperti di surga. Dan teologia kerajaan Allah adalah yang menjadi benang merah dari Kejadian sampai Wahyu, dan di dalam perikop ini, maka saudara-saudara bisa melihat bahwa kerajaan Allah hadir melalui Firman. Maka saudara-saudara, kita mengerti di sini bagaimana pentingnya dan signifikansinya gereja yang sejati. Gereja tidak sama dengan seluruh lembaga atau institusi. Kecuali kalau gereja itu bukan sejati. Gereja yang palsu itu tidak perlu ada di dunia. Tetapi gereja yang sejati yang memiliki Firman yang murni dan kuasa Roh Kudus maka diperlukan di tengah-tengah dunia ini karena gereja tersebut menjadi sarana satu-satunya kerajaan Allah itu hadir. Melalui Firman-Nya, Firman yang sejati, ada di mulut hamba Tuhan yang sejati. Firman yang sejati ada di dalam gereja yang sejati. Itulah sebabnya gereja memiliki peran yang penting sekali di tengah-tengah membangun kerajaan Allah di seluruh dunia. Oh Yesus sendiri mengatakan, “Jikalau engkau mau berdoa, berdoalah demikian; Bapa kami yang di surga dikuduskan nama-Mu, datanglah kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di surga.” Apakah parlemen pernah menyatakan hal ini? Apakah sekolah-sekolah liberal pernah menyatakan dan mengajarkan hal ini? Apakah setiap dari tempat-tempat yang anda pernah kunjungi, restoran atau gedung apa pun saja pertemuan pernah mengajarkan hal ini? Tidak pernah. Satu-satunya yang pernah mengajarkan kerajaan Allah harus hadir adalah gereja yang sejati, termasuk gereja yang tidak sejati tidak pernah juga mengajarkan hal ini. Saudara-saudara, kita harus mengerti masalah berbuah adalah masalah kerajaan Allah itu berekspansi atau tidak. Masalah berbuah bukan masalah pribadiku. Kalau kita tidak berbuah, kita menghambat pekerjaan Allah di dunia ini. Begitu banyak orang Kristen bahkan orang Reformed sekalipun. Engkau menyukai kotbah yang baik, tetapi hidup kita tidak berbuah. Tetap kita memikirkan untuk diri sendiri. Kita terus memiliki cita-cita untuk diri sendiri. Tidak pernah hidup itu menjadi persembahan yang manis untuk dicicipi oleh Allah. Di dalam ayat-ayat ini, maka selain daripada bicara mengenai kerajaan Allah, di dalamnya Yesus memberikan perumpamaan untuk kita mengerti, mengapa seseorang itu tidak berbuah. 

Kalau saudara-saudara melihat teologia kerajaan Allah yang sebagian besar atau semuanya ditulis, diajarkan di dalam bentuk perumpamaan, maka Markus pasal 4 dikatakan demikian; kalau engkau tidak mengerti perumpamaan ini, perumpamaan penabur ini engkau tidak tahu, bagaimana engkau seluruh perumpamaan yang lain. Maka perumpamaan ini sekali lagi menjadi master key untuk membaca perumpamaan yang lain. Di dalam perumpamaan ini kalau begitu ada hal apa? Saudara-saudara perhatikan dua hal ini. Di dalam perumpamaan ini diajarkan 2 hal ini dan kalau saudara-saudara menggabungkannya saudara bisa melihat seluruhnya adalah perumpamaan yang lain. Saudara-saudara pertama saudara-saudara akan melihat kerajaan Allah itu ketika dinyatakan, ditanam oleh Allah ternyata begitu banyak perlawanan. Kerajaan Allah itu ditanam di tengah-tengah dunia, kepada setiap hati umat manusia, maka keberhasilannya, persentasinya sangat kecil. Ada perlawanan yang besar. Hal yang kedua, kerajaan Allah ketika ditanam di tengah-tengah dunia di dalam hati manusia, tempat yang lain ada progress dan akan berbuah dan pasti berhasil. Saudara-saudara ini akan membedakan dua jenis manusia. Ini bukan membedakan antara orang yang belum ke gereja atau orang yang sudah ke gereja seperti kita. Saudara-saudara ini akan membedakan orang yang berbuah dan orang yang tidak berbuah. Orang yang berbuah dan berhasil pasti ada dalam gereja tetapi tidak setiap orang ke gereja itu pasti berbuah. Dua hal ini, saudara-saudara ada perlawanan yang besar baik itu dari luar atau dari dalam, dan yang kedua ada suatu pertumbuhan yang menjadikan makin lama makin besar. Pagi ini kita akan melihat daripada perikop ini. 

Perikop ini menyatakan; benih itu ditabur, benih itu adalah benih Firman dan Firman itu bukan benih yang mati, Firman itu adalah benih yang hidup. Jikalau Firman itu bertemu dengan tanah yang baik, dia pasti akan berhasil, tetapi ternyata tidak. Yang pertama jatuh ke satu jalanan dan kemudian dipatuk burung. Bicara berkenaan dengan bagaimana setan itu mengelabui kita. Saudara, bagaimana setan mengambil, Yesus tidak menyatakannya. Tetapi kalau saudara membaca buku-buku dari bapa-bapa gereja atau Puritan, mereka di dalam pengalaman sehari-hari atau pastoralnya memberikan penjelasan-penjelasan dengan detil-detil seperti ini. Orang-orang yang dipakai Tuhan peka berkenaan dengan sesuatu Firman yang diambil oleh setan. Hal yang paling sederhana, suatu hari pendeta Stephen Tong itu kotbah dan saya ada di atas dan di situ ada kurang lebih 8000-9000 orang di stadion bulu tangkis Istora dan kemudian saudara-saudara dia berkhotbah dan kemudian dia mau bicara sesuatu yang penting. Dan setelah itu dia konklusi dan setelah bicara itu kemudian dia memanggil orang untuk terima Kristus. Di tengah kalimat yang penting yang mau muncul itu tiba-tiba ada dua orang berdiri pergi ke kamar kecil. Dan pendeta Stephen Tong bilang, “Berhenti!” orang itu tetep jalan. “Berhenti!” orang itu tetep jalan. “Setan saya perintahkan berhenti!” Orang itu plengak-plengok, mana ada setan? Saya tanya kepada saudara-saudara, apa kesanmu? Pasti yang negatif pengkotbahnya kan? Percaya sama saya, saya pada waktu itu adalah jemaat dan saya juga punya pendapat yang sama dengan saudara. Oh, ini pendeta marah-marah. Pulang itu dari sana saya bersama teman saya dia mengatakan, “Itu gila. Pendeta apa itu bilang setan, ga ada cinta kasih, ngapain pergi ke gereja kayak begitu?” Sungguh-sungguh marah, teman saya sungguh-sungguh marah. Pada waktu itu saya ada di universitas. Dan saya ndak tahu, oh begitu? Ngapain marah-marah? Setelah saya membaca ini, setelah saya jadi hamba Tuhan saya tahu. Saudara, banyak dari kita tidak peka. Kalimat yang penting, begitu mau itu keluar.. oeeeekkkk.. bayinya langsung nangis, saya bukan mengatakan bayinya harus disekap ya nanti saudara-saudara ndak punya… saya tidak katakan itu, tetapi ada saja yang membuat saudara-saudara distract. Saya katakan, perhatikan baik-baik. Hidup kita itu berubah cuma dengan satu kalimat. Sungguh, dari ribuan kalimat yang saudara dan saya dengar, satu kalimat saja langsung dapat insight, langsung berubah hidup kita. Apalagi kalau saudara-saudara pergi ke gereja dan Firman yang sejati diberitakan, saudara main whatsApp saya mau tanya kepada saudara-saudara, itu pekerjaan siapa? Saudara pikir itu sederhana? Saudara tidak tahu apa yang sudah hilang dari hidup kita. Saudara perhatikan untuk seseorang bisa mengerti Firman perlu kesungguhan. Maria itu duduk di bawah Yesus terus tunggu kalimat Yesus. Martha susah-susah untuk dia itu melayani. Oh, mungkin saudara pikir orang ndak perlu melayani. Kalimat aslinya adalah; Maria melayani bersama Martha tetapi begitu Yesus itu mau mengajar, Maria berhenti meletakkan semuanya, duduk dekat Yesus. Dan kemudian Martha itu kemudian lihat, “Enak benar ini orang, ayo Guru, Kamu tegur dong dia.” Yesus mengatakan, “Dia sudah memilih tempat, memilih tempat yang terbaik.” Allah yang Maha kuasa, Allah yang mulia, ketika Dia berbicara, apakah saudara dan saya berpikir kita itu bisa sambil berkebun? Apakah saudara pikir Dia bicara kita bisa sambil nonton TV? Sambil kita whatsApp? Kalau begitu Dia bukan Allah yang Maha Kuasa. Bos kita pun kalau memanggil kita, saudara ndak pernah berani whatsApp. Saudara-saudara berani bicara sama bos, bos bilang, “Kita punya target..” saudara whatsApp, apalagi saudara kemudian main game, berani? Setan ambil. Setan men-distract kita punya perhatian. Setiap pagi harusnya kita menghampiri Tuhan di dalam persekutuan. Memiliki waktu yang teduh beberapa puluh menit untuk mendengarkan Dia baik-baik, tetapi distract. Kerja ini, kerja itu, sudah lupa. Satu hari tidak ada Firman, satu hari tidak ada Firman. Saudara-saudara, di sini setan jangan Saudara-saudara pikir terus kemudian datang trus kemudian saya ambil Firmannya ya. Bukan, bukan seperti itu. Kalau setan itu datang lalu mengambil Firman saudara akan mendekat kepada Firman karena saudara ketakutan. Saudara biarlah kita boleh hati-hati apa itu yang kita kerjakan sesungguhnya.

Hal yang kedua, yang ditabur itu kemudian ada di tanah yang berbatu-batu dan dikatakan di sini dia cuma tahan sebentar saja dan akarnya itu pendek. Tidak berakar, sehingga penindasan, penganiayaan ada, maka dia itu segera murtad. Apa yang mau dikatakan di sini? Apakah ini artinya pasti, harus adalah penganiayaan yang besar? Orang yang membakar gereja, membawa kita ke penjara, menyedihkan hati kita, membunuh orang-orang yang kita kasihi, membuat kita sakit hati, mem-bully kita. Ya tentu itu berbagian di dalamnya. Tetapi di sini dikatakan tahan sebentar saja. Saudara pernah bertemu dengan orang yang pergi ke gereja di dalam beberapa bulan mengatakan gereja ini bagus lho, oh gerejanya ini bagus khotbahnya bagus lho, tetapi tiba-tiba dia hilang. Tiba-tiba dia mengundurkan diri, bukan karena gerejanya itu terus kemudian berbeda doktrinnya, tapi “rasa dianiaya”. Terasa dianiaya sama dianiaya itu dua hal yang berbeda. Saudara-saudara, ‘rasa di-bully’ sama ‘di-bully’ itu dua hal yang berbeda. ‘Rasa ditindas’ sama ‘sungguh-sungguh ditindas’, dua hal yang berbeda. Saudara, ‘rasa diperlakukan tidak adil’ dan ‘sungguh-sungguh tidak adil’ itu adalah berbeda. Orang yang centre hidupnya adalah diri dan dia mengangkat diri sendiri pasti sensitifnya luar biasa. Apa pun saja bisa membuatnya tersinggung, apapun saja. Dan ketika sudah tersinggung dia kemudian bicara, bicara. Ini menandakan satu hal, saudara tidak usah membicarakan siapa benar siapa salah, tetapi ini mau menandakan satu hal; Firman itu tidak berakar dalam. Jangankan berbuah, jangankan bicara berkenaan dengan penganiayaan besar, urusan tersinggung saja dia pergi saudara-saudara. Itu adalah seluruh dunia. Saudara kalau mau tersinggung seluruh orang tersinggung, kita juga bisa tersinggung. Tapi panggilan kita bukan mengikuti langkah ketersinggungan kita. Panggilan kita adalah mau dibentuk, sangkal diri, pikul salib dan ikut Tuhan. Saudara-saudara, begitu banyak orang Kristen di dalam poin yang ke-2 ini dia pergi, murtad. Saudara-saudara, ketika bicara berkenaan dengan murtad, oh dia berbalik dari Tuhan. “Orang itu tidak berbalik dari Tuhan kok Pak.” Saudara perhatikan. Setiap kali Firman yang sejati dinyatakan dan saudara itu melawan dan kita itu melawan maka itu artinya kita tidak mau untuk sinkron dengan Tuhan, kita membalik diri kita untuk jalan sendiri menjauh dari Tuhan. Itu semua ada pada kita, ada pada saya. Ini terjadi beberapa kali. Suatu hari saya masih ingat sekali. Saya marah sekali sama satu orang hamba Tuhan itu, sama pengkhotbah itu, lalu kemudian saya ndak bisa ndak suka dengarnya. Ini sama satu orang, juga sama satu lagi. Yang ke-2 saya sebut namanya, Pendeta Stephen Tong. Saya pada waktu mahasiswa ikut kebaktian dia, diajak. Setelah beberapa kali diajak, lalu kemudian suatu hari dia tanya, “Siapa yang anda sadar merasa bahwa mimbar ini memberkati saudara?” Wah semua orang begini-begini, saya bilang, “Lu mau sombong ya? Memangnya berkat cuman disini saja?” Mungkin gara-gara itu Tuhan juga memberikan hidup saya seperti ini. Saya ndak suka. Saya marah. Padahal dia juga ndak singgung saya, dia cuma bicara begitu dan itu umum. Tapi saya nggak bisa terima. Saya pulang, tapi tiba-tiba saya masih ingat ketika di dalam satu angkot. Ada satu suara entah isi hati nurani saya, saya tidak tahu itu suara dari mana. Kalau ini adalah suatu kebenaran dan memang itu kebenaran, kenapa saya tersinggung ya? kenapa saya tersinggung? Saya pikir, besoknya muncul lagi kalau itu kebenaran, kenapa saya tersinggung. Sejak saya temukan itu, saya katakan kepada Tuhan, “Saya yang salah, saya yang sombong, saya yang tidak tahu Firman dan kemudian menghakimi Engkau dan hamba-Mu. Ampuni aku Tuhan dan berikan aku hati yang lembut.” Itu salah satu turning point dalam hidup saya. Setiap kali saya mendengarkan Firman, bukan jasa saya, tapi adalah anugerah Tuhan. Setiap kali saya mendengarkan Firman, meskipun yang berkhotbah itu mungkin lebih muda dari saya, bahkan mungkin lebih kurang bagus dari saya, kurang pengalaman dari saya dan kadang itu beberapa teologinyapun kadang bisa meleset, kapan pun saya mendengarkan Firman saya tahu Tuhan sedang bicara sama saya. Saya mau mengambil Firman itu dan menanamkannya di dalam hati saya. Kalau itu kebenaran, kenapa engkau tersinggung? Firman itu datang tidak berakar, saudara senang sebentar. Bagus ya, bagus, tapi kemudian akhirnya tidak tahan terhadap aniaya, terhadap tindasan.

Hal yang ke-3. Firman itu datang di tengah-tengah tanah yang berduri, baru berbuah sedikit tetapi kemudian dihimpit. Dihimpit oleh duri-duri itu. Dan Yesus mengatakan orang ini adalah orang yang menerima Firman, tetapi kemudian kekuatiran dunia ini, kekayaan, keinginan-keinginan akan hal yang lain masuk. Saudara-saudara, mungkin itu adalah teman, itu mungkin uang, itu mungkin adalah sesuatu kesukaan akan kekayaan. Saudara-saudara intinya adalah satu, tidak ada single heart, tidak memiliki kebulatan hati. Ini adalah orang yang terpecah hatinya. Mau ikut Tuhan, tapi juga mau suka sama dunia. Alkitab mengatakan, “Barangsiapa mengasihi dunia, kasih akan Bapa tidak ada pada orang itu,” orang itu ingin dia untuk mendengar Firman, tetapi jikalau hari Minggu adalah hari yang dia bisa mendapatkan uang lebih banyak, maka dia berdasarkan kebutuhan, dia akan ambil hal itu. Dan dia berpikir mungkin minggu depan masih ada kok khotbahnya, apalagi ada di tempatnya You tube. Oh, mungkin dia ingin mendengarkan Firman, tetapi temannya ajak untuk jalan-jalan, holiday. Dan di tempat-tempat itu sama sekali tidak mempedulikan harus pergi ke gereja. Intinya adalah hati yang double, hati yang terpisah, hati yang tidak sungguh-sungguh. Saudara-saudara perhatikan baik-baik! Firman itu ada pada diri Allah, Firman itu dinyatakan oleh Allah. Seluruh materi ketika Allah berbicara, “Jadilah terang,” tidak ada satu materi pun yang mendua hati, seluruhnya taat. Terang jadi. “Jadilah cakrawala” maka cakrawala itu jadi. “Jadilah langit dan bumi” dan langit dan bumi itu jadi. Firman itu tidak pernah gagal, tetapi Firman itu “gagal” di dalam hati yang mendua. Ketika kita mendengar Firman, ketika setiap hari minggu dengar. Apakah saudara dan saya mempersiapkan hati baik-baik, “Tuhan, aku ingin mendengar Firman, jangan lalui aku. Aku tidak pergi ke gereja karena agama, aku pergi ke gereja karena aku ingin mendengar Firman. Dan hatiku bersuka di tengah-tengah orang kudus. Hari ini, saat ini, aku memusatkan hatiku kepada-Mu. Bicara kepadaku, bicara kepadaku.”

Ke-4, tanah yang baik. Ini adalah cuma seperempat saja jenis tanah ini dari keseluruhannya. Firman yang ditabur, benih yang ditabur di tanah yang baik baru bertumbuh, baru berbuah. Tetapi saudara-saudara, mari kita pikirkan. Tanah yang baik itu, apakah ada dengan sendirinya? Kalau saudara-saudara pergi ke satu tempat. Saudara-saudara meskipun tanahnya itu subur, ada yang memang benar-benar tanah tandus, sebagian besar Australia tanah tandus, sebagian besar Indonesia tanah subur. Tetapi tanah yang subur pun itu saudara-saudara bisa melihat banyak lalang, banyak rumput, banyak batu di sana. Saudara-saudara perlu kerja keras untuk bisa membereskan, sehingga saudara bisa menanam sesuatu. Tanah itu perlu diusahakan, dicabut rumputnya, diberi air, lalu kemudian digaruk itu saudara-saudara, pakai alat penggaruk itu, lalu kemudian dibolak balik tanahnya, diairi lagi. Dan kemudian kalau sudah siap, saudara kemudian bawa sapi, lalu diinjak-injak oleh sapi bersama dengan roda di belakangnya, dengan scrap itu dibelakangnya. Itu namanya dibajak. Saudara perhatikan ya, kalau itu adalah gambaran hati itu sakitnya seperti apa? Itulah sebabnya sering sekali di dalam Alkitab gambaran penderitaan itu menghasilkan suatu tanah yang baik untuk Firman. Banyak orang kaya sulit untuk mengerti Firman. Saudara-saudara, maka itu seluruhnya kerja keras. Perlu disiplin untuk membuat satu tanah yang baik. Saudara-saudara, saya terus berpikir. Apa Tuhan kunci pertumbuhan itu? Apakah itu dari Engkau ataukah itu dari manusia? Saya kemudian menemukan satu kunci disini, “Paulus menanam, Apolos menyiram dan Allah yang memberikan pertumbuhan.” Jadi apa kunci pertumbuhan? Oh, kita bisa langsung mengatakan Allah yang memberikan pertumbuhan. Jawabannya adalah benar. Tetapi saudara-saudara perhatikan, Allah yang memberikan pertumbuhan, Allah pula yang mengatakan ada usaha terlebih dahulu untuk menanam dan menyiram.

Saudara-saudara ini adalah sesuatu kerja keras. Beberapa minggu yang lalu, saya sudah mengatakan ini kuncinya. Allah di surga memberikan sesuatu tuduhan. Kesalahan itu adalah bukan ada pada anugerah-Nya, tetapi kepada Israel. Dia menempatkan kesalahan kepada Israel, padahal ini adalah urusan berbuah. Loh, Tuhan kan seharusnya berbuah, Engkau yang memberikan buah. Kok Engkau menyalahkan Israel? Kalau Allah menyalahkan Israel, itu berarti ada bagian Israel yang tidak dikerjakan oleh Israel. Dan di dalam Alkitab, tidak ada satu gambaran pun seseorang yang bisa berbuah, tanpa kerja keras. Sekali lagi, Allah mengatakan, “Jikalau engkau mencari Aku, seperti engkau mencari perak atau emas, engkau akan menemukan-Ku.” Mesti kerja keras, mesti disiplin. Tidak pernah ada orang yang bisa berbuah tanpa setiap hari tekun membaca Alkitab, tidak pernah ada! Tidak pernah ada sepanjang sejarah, temukan satu jikalau ada, seseorang yang bertumbuh dan dipakai oleh Allah, dia tidak menghargai ibadah di dalam gereja. Bukan menghargai hamba Tuhannya ya, tetapi menghargai ini gereja, aku mau bertemu Tuhan, berbicaralah kepadaku. Karena seluruh pertumbuhan itu tergantung dari sarana-sarana yang Tuhan berikan kepada kita. Dan pertumbuhan rohani itu adalah pertumbuhan karena Firman. Iman muncul dari Firman. Saudara-saudara, maka saudara tidak bisa memisahkan antara Firman dan pertumbuhan rohani. Yang tumbuh dengan baik adalah tanah yang baik dan good soil ini perlu diusahakan dan yang mengusahakan itu ada bagian dari Roh Kudus yang memproses hati kita melalui kehidupan sehari-hari, menghancurkan kekerasan-kekerasan hati kita, tetapi di tempat yang lain ada bagian dari kita yang mendisiplin untuk membajak dan mengolah tanah itu. Kalau saudara-saudara, saya bawa saudara-saudara untuk mengenal, bukan saja Calvin, tetapi adalah orang-orang Puritan. Kadang saudara-saudara akan tahu bahwa di dalam hidupnya orang-orang Puritan memiliki begitu banyak contoh berkenaan dengan disiplin. Saudara-saudara, key puritan devotion is discipline. Saudara-saudara, J.I. Packer mengatakan demikian, mari kita mendengarkan, “Ketika kaum Puritan menyerukan ketertiban, disipilin, kedalaman dan ketelitian, sifat kita saat ini adalah sifat serampangan yang tidak sabar dan gelisah. Kita telah kehilangan selera akan pembelajaran yang sungguh-sungguh, pemeriksaan diri yang rendah hati dan meditasi yang disiplin.” Kita sudah kehilangan kerja keras kita dan juga panggilan untuk doa-doa kita. Sekali lagi. Ketika Puritan menjadikan Tuhan dan kemuliaan-Nya sebagai pusatnya, pikiran kita berputar pada diri kita sendiri, seolah-olah kita adalah pusat alam semesta. Kekosongan pengertian kita akan Alkitab, kita banggakan dengan jelas dan berulang-ulang dengan memisahkan hal-hal yang begitu jelas disatukan di dalam Alkitab. Kita selalu memikirkan diri kita sendiri dan bukan gereja. Kita selalu memikirkan kesaksian diriku dan bukan worship, suatu ibadah dan pada saat ini bahkan orang-orang mengabarkan Injil tanpa hukum dan tanpa pertobatan. Orang-orang menekankan anugerah keselamatan tetapi mengabaikan pemuridan. Tidak heran jika banyak orang yang mengaku bertobat dan kemudian murtad. Dan itulah kekristenan masa kini. Biarlah kita boleh menguji diri kita sendiri. Apakah kita sungguh-sungguh? Sungguh-sungguh terhadap hati kita? Sungguh-sungguh mau untuk mendisiplin diri dan membajaknya sedemikian rupa dan minta anugerah Roh Kudus di dalam providensia-Nya untuk melembutkan hati kita? Dan jika pada waktunya Tuhan memberikan firman, saudara dan saya menerimanya karena kita adalah tanah yang baik. Kiranya kasih yang Tuhan menyertai kita. Mari kita berdoa.

GRII Sydney

GRII didirikan di atas dasar Pengakuan Iman Reformed Injili dengan tujuan menegakkan satu gereja yang berbasiskan teologi Reformed, dengan mimbar yang menyampaikan khotbah ekspositoris, read more