Ringkasan Khotbah

1 October 2023
Jesus Christ is The Radiance of God’s Glory (1) – Holiness of God
Pdt. Agus Marjanto, M.Th · Markus 4:35-41, Yoh 8:46, Kel 15:11

Markus 4:35-41, Yoh 8:46, Kel 15:11

Siapa yang mengenal kekudusan? Siapa yang menginginkan kekudusan? Manusia tidak mengenal kekudusan, manusia tidak menginginkan kekudusan. Tanpa Yesus Kristus datang ke dunia ini tidak ada orang yang tahu apa itu kekudusan. Tanpa Roh Kudus hadir dan bekerja di dalam diri kita, tidak ada satu manusia pun yang menginginkan kekudusan. Kekudusan adalah sifat Allah itu sendiri. Alkitab mengatakan Allah adalah Bapa yang suci. Alkitab mengatakan Yesus adalah Yang Suci dari Allah. Dan pribadi ke-3 dari Tritunggal itu kita kenal dengan nama Roh yang suci, Roh Kudus. Ketika kita bicara mengenai kesucian, kesucian adalah keseluruhan diri-Nya Allah. Seorang bernama Stephen Charnock, dia adalah seorang Puritan, dia menuliskan magnum opus-nya buku yang begitu tebal, di dalam The Existence and The Atributes of God dia menuliskan seperti ini: ‘Kuasa adalah lengan-Nya Allah, mahatahu adalah mata-Nya, belas kasihan adalah hati-Nya, kekal adalah keberadaan-Nya, dan kesucian adalah keindahan-Nya. Allah itu suci adanya dan kesucian-Nya itu mencakup keseluruhan dan substansi dari pribadi-Nya.’

Ketika kita melihat kitab Wahyu, maka mata kita dibawa untuk memandang, menembus langit, dari kehinaan menjadi suatu pagelaran kemuliaan, dari kesementaraan akan diperlihatkan kepada kekekalan. Dan apa yang terjadi di dalam kekekalan, maka kitab Wahyu mengatakan, “Siang malam tidak ada hentinya seluruh makhluk itu memuji Allah dengan sebutan kudus, kudus, kuduslah TUHAN.” Saudara-saudara, di surga sifat kesucian ini menjadikan siang dan malam pujian kepada Allah Tritunggal dari kekal sampai kekal. Kesucian sangat-sangat terkenal di dalam surga. Setiap orang di surga mengerti apa itu kesucian. Tidak ada satu makhluk pun yang besar maupun yang kecil yang tidak mengenal kata ini. Kata ini setiap saat disebut dari kekal sampai kekal. Suci, suci, suci. Setiap detik, setiap jam, setiap waktu, setiap bulan, setiap tahun, dari kekal sampai kekal. Bukan kekal, kekal, kekal, bukan setia, setia, setia, tetapi suci, suci, suci. Seluruh makhluk, siang dan malam tidak henti-hentinya. Kesucian sangat terkenal di surga, tetapi siapa yang mengenalnya di bumi ini? Siapa yang familiar dengan kata ini? Siapa yang tahu dan siapa yang pernah melihatnya di bumi ini? Kecuali Kristus dikirim oleh Allah datang 2000 tahun yang lalu, tidak ada satu manusia pun yang bisa mendefinisikan dan bisa mengenal apa artinya kesucian. Kebenaran paling hakiki yang ada di surga, kesucian itu, tertutup di tengah-tengah mata kita, tersembunyi bagi penduduk bumi seperti kita, dan bahkan kita tidak pernah membayangkan itu apa dan tidak memiliki satu gambaran pun tentang kesucian.

Saudara-saudara, seorang teolog bernama Rudolf Otto, dia adalah seorang German teolog dari Lutheran yang menuliskan buku The Idea of Holy. Dia ke mana-mana mempelajari pengertian orang-orang berkenaan dengan kesucian itu apa. Dan seluruh bukunya itu bisa direduksi dengan dua kata ini, Mysterium Tremendum. Mysterium Tremendum, ketika seseorang dari budaya apa pun saja melihat atau mengatakan kesucian, atau pun tidak bisa mengatakan kesucian tetapi mereka itu merasakan, maka dua kata ini digabungkan. Ini mengacu pada sesuatu yang tidak bisa dipahami, berada di luar kemampuan kita untuk mendefinisikannya, mysterium. Tetapi juga yang kedua adalah tremendum, ada suatu waktu di mana ada kengerian, ada ketakutan, ada teror di dalamnya. Ketika seseorang mendekati sebuah gua, kemudian saudara masuk dan kemudian begitu rasa dingin, sesuatu yang asing di sana, maka di situlah manusia mengatakan, “Ini suci.” Kadang mereka tidak menggunakan istilah ini. Ada misteri, aku tidak bisa menjelaskannya, bulu kudukku semuanya berdiri, aku gemetar. Kalau engkau tanya kepadaku kenapa aku gemetar? Aku tidak tahu, pokoknya takut, ngeri, sesuatu yang asing. Itu yang Rudolf Otto selidiki di seluruh dunia.

Saudara-saudara, tidak ada manusia yang mengerti sesungguhnya apa itu suci. Sampai kemudian tiba-tiba ada seorang anak tukang kayu Nazareth yang berjalan di atas debu Yerusalem. Dan kita tahu Dia adalah pribadi kedua dari Tritunggal yang suci itu. The Holy One of Israel sekarang hadir. Kristus datang menyatakan siapa Allah dan apa yang menjadi sifat-sifat-Nya. Alkitab dengan jelas menyatakan Allah yang tadinya tersembunyi dan seluruh sifat-Nya tadinya tersembunyi, sekarang dinyatakan kepada kita melalui Yesus Kristus. Alkitab mengatakan barangsiapa melihat Yesus, melihat Allah, barangsiapa mengenal Yesus, mengenal Allah, barangsiapa menolak Yesus, menolak Bapa, barangsiapa menerima Yesus, menerima Bapa, barangsiapa mempercayai Yesus, mempercayai Allah, juga barangsiapa membenci Yesus, membenci Allah. Tepatlah yang dikatakan dalam Ibrani 1:3 ini, ‘Yesus adalah cahaya kemuliaan Allah.’

Saudara dan saya tidak mungkin bisa melihat matahari. Saudara tidak mungkin menyentuh matahari. Apa yang terjadi dalam permukaannya pun saudara-saudara tidak bisa untuk melihatnya dengan teleskop. Setiap orang yang mau menyelidiki itu pasti mati. Tetapi saudara dan saya tahu bahwa matahari itu exist dari mana? Dari cahayanya yang sampai kepada kita, dari hangatnya yang sampai kepada kita. Itulah arti dari Ibrani 1:3. Anak itu, Yesus Kristus itu, adalah cahaya kemuliaan Allah. Tanpa Yesus Kristus, sampai kapan pun saja agama tidak mungkin akan mengenal Allah. Tanpa Yesus Kristus, manusia mati di dalam kesia-siaan dan kebinasaan, seumur hidup akan menganggap Allah itu musuh atau Allah itu tidak ada. Melalui Yesus Kristus, manusia bisa melihat Allah itu siapa. Melalui Yesus Kristus, manusia bisa melihat isi hati dan pikiran Allah yang dinyatakan kepada kita. Satu-satunya titik di dalam sejarah umat manusia mengerti kesucian, mengenal kesucian, berhadapan dengan kesucian, yaitu melalui titik inkarnasi Yesus Kristus. Dia disebut sebagai Yang Kudus dari Allah. Kristus adalah Yang Kudus. Apa artinya Kristus itu Yang Kudus? Begitu banyak artinya, tetapi pagi ini saya akan bicara mengenai tiga hal yang paling utama. 

Ketika bicara mengenai Kristus yang kudus, pertama, itu artinya bahwa Kristus itu terpisah dari seluruh kita. Dia pada kelasnya sendiri. Ketika seseorang dikatakan kudus, arti bahasanya itu adalah dia pada kelasnya tersendiri, satu pun tidak ada yang bisa menyamainya, dan ketika Alkitab mengatakan Allah itu kudus, dan seluruh pujian mengatakan kudus, kudus, kudus tiga kali, itu bicara mengenai superlatif, itu bukan saja tidak ada yang menyamai, itu artinya Dia pada puncak unggulan dan seluruhnya itu ada di bawah. Saudara-saudara, perbandingannya bukan surga dan bumi, perbandingannya adalah neraka dan surga. Ketika Yesus dikatakan bahwa Engkaulah Yang Kudus dari Allah, Dia ada pada kelas-Nya tersendiri, Dia terpisah dari setiap manusia yang lahir di dunia ini. Alkitab mengatakan, oleh Dia, Allah menjadikan seluruh alam semesta. Di dalam Alkitab dikatakan, Allah menciptakan dunia ini dan kemudian menopangnya melalui Yesus Kristus. Ketika Alkitab mengatakan, Yesus adalah Yang Kudus dari Allah, maka Dia ada pada kelasnya tersendiri, Dia tidak sejajar dengan bumi ini.

Mari kita pikirkan, siapakah Yesus Kristus itu? Apakah Dia pengajar, ataukah Dia moralist yang tinggi ataukah Dia seorang pendiri agama, ataukah Dia seorang penggerak masyarakat, seorang revolusioner, atau apakah Dia seorang nabi? Saudara-saudara gabungkan seluruh itu, tetap tidak bisa mendefinisikan dan sebanding dengan siapa Kristus Yesus sesungguhnya. Ibrani 1:3 dengan jelas menyatakan, ‘Ia adalah cahaya kemuliaan Allah dan gambar yang sempurna dari sifat-Nya, Ia pula yang menopang segala sesuatu dengan firman kuasa-Nya.’ Saudara-saudara, saya tersentuh dengan kata menopang. Menopang. Kalau Dia itu melepaskan, maka seluruhnya akan runtuh. Oh sampai kapan manusia hidup tahu ini, bahwa setiap detik bumi ini dan seluruh kehidupan kita tergantung dari kebaikan-Nya semata. Siapakah Yesus Kristus? Dia lebih daripada pendiri agama, Dia lebih daripada presiden dan raja, Dia lebih daripada seorang yang bermoral tinggi sekali pun, gabungkan seluruhnya itu tetap tidak bisa mendefinisikan Kristus dengan seperti apa adanya. Ialah Yang Kudus itu. Ia terpisah dari seluruh kita. 

Hal yang kedua. Apa artinya Kristus yang kudus? Ketika kata ini muncul, itu artinya adalah Kristus transcend, melampaui dari dunia ciptaan. Dia bukan saja terpisah, tetapi Dia jauh lebih tinggi, artinya adalah Dia yang bertahta terhadap dunia ini. Alkitab mengatakan Dia bukan dari dunia ini, tetapi Dia masuk ke dalam dunia ini maka ketika saudara mengerti dan mempelajari konsep ini, ketika kita bicara mengenai kesucian, itu bukan bicara berkenaan dengan moral terlebih dahulu, ya nanti kita akan masuk ke sana, tetapi bicara mengenai kesucian adalah bicara berkenaan dengan keagungan Kristus. Dengan kata lain berbicara berkenaan dengan kedaulatan penguasaan-Nya. Alkitab dengan jelas, berkali-kali karena kesucian Allah, maka jemaat itu memujinya di dalam takut dan gemetar. Kalau saudara-saudara melihat di dalam Alkitab, maka saudara akan menemukan sebenarnya pekerjaan-pekerjaan Kristus dengan kekuatan kuasanya itu lahir dari kesucian-Nya. Kita sering sekali memisahkan kuasa dari kesucian-Nya, tetapi di dalam dirinya Allah, kesucian itu kuasa-Nya.

Suatu hari, murid-murid Yesus bersama dengan Yesus naik sebuah perahu. Mereka adalah nelayan dan mereka adalah orang yang terbiasa dengan samudera, dengan lautan, dengan danau, dengan badai. Tetapi kelihatannya hari itu badai itu lain daripada yang lain. Nelayan yang terbaik itu pun takut terhadap badai ini. Pada waktu itu Yesus tertidur dan kemudian murid-muridnya yang terbangun melihat seluruh kegelapan danau itu, angin yang memutar kapal itu dan seluruh ombak yang bergelora di situ. Mereka ketakutan dan kemudian membangunkan Yesus, “Guru, Guru, bangun, Engkau tidak peduli kami mau binasa.” Kemudian Yesus terbangun dan berdiri. Dia memandang seluruh gelora lautan dan kegelapan dari langit itu, dan Dia hanya mengucapkan dua kata saja, “Diam, tenanglah!” Dan seluruh gejolak itu kemudian tenang. Ketika murid-murid-Nya melihat, mereka memandang satu dengan yang lain. Alkitab mengatakan mereka melihat dengan sangat takut. Dengan sangat takut. Bukankah sebenarnya mereka seharusnya memuji Tuhan, bukankah sebenarnya mereka mengatakan terima kasih Tuhan Yesus, tetapi tidak. Saya yakin, di dalam hati mereka pasti ada terima kasih, ada bersyukur, tetapi yang lebih melingkupi hati mereka bukan syukur tetapi takut. Apa yang lebih menakutkan kita daripada menghadapi kematian? Kekudusan Allah. Oh, jikalau sekali saja dibukakan kepada kita, maka hidup kita ini akan berubah. Mereka sudah lupa terhadap seluruh badai itu, mereka takut kepada badai itu, tetapi mereka sangat takut kepada Orang ini. Saudara berpikir bahwa itu adalah kuasa Allah. Ya tentu kuasa Allah. Tetapi seperti yang saya jelaskan tadi, kesucian itu bicara mengenai transcend, itu bicara berkenaan yang ada di atas, yang memerintah, yang berdaulat. Ketika Yesus mengatakan ‘diam’, maka Dia sedang menyatakan kuasa yang keluar dari kesucian-Nya. Dan peristiwa ini membuat saya mengingat Keluaran 15:11. Keluaran 15:11 yang tadi kita baca, di dalam KJV ada tulisan yang sangat indah: “Who is like unto thee, O LORD, among the gods? Who is like thee, glorious in holiness?” Dan kemudian ‘fearful in praises’  di dalam Bahasa Indonesia tidak kelihatan bukan? Saudara-saudara, di dalam bahasa aslinya adalah ‘fearful in praises, doing wonders’. Fearful in praises, ada pujian tetapi sesuatu yang takut. Dan itu yang terjadi di danau itu. Orang-orang kudusnya Allah dengarkan baik-baik, kalau engkau dan saya anak Tuhan yang sejati ini pasti terjadi, ketika berkat Tuhan itu datang, engkau dan saya bukan saja berterima kasih, itu akan merendahkan hati kita dan membuat kita berlutut dan kemudian kita makin takut kepada Dia.

Hal yang ke-3. Apa artinya Kristus itu Yang Kudus? Itu artinya Dia tidak berdosa, Dia murni, ini adalah moral perfection. Yoh 8:46 yang tadi kita baca, ada satu kalimat Yesus Kristus yang sampai sekarang siapa pun saja yang membenci Yesus tidak bisa menjawabnya. Yesus bertanya, “Siapakah di antaramu yang dapat membuktikan Aku berbuat dosa?” Satu kalimat ini saja saudara bandingkan dengan seluruh pendiri agama, seluruh pendiri agama jatuh di bawah seluruhnya. Saudara pikir ini kalimat yang biasa? Ini kalimat yang terbuka, dan seluruh orang yang mau menembaknya dengan mudah bukan? Tetapi di mana dan siapa yang bisa menjawab Dia? Siapa yang sampai saat ini, orang yang paling benci pada Yesus pun yang bisa menjawab pertanyaan ini? Siapa di antaramu yang dapat membuktikan Aku berbuat dosa? Semua orang Yahudi pada waktu itu bencinya luar biasa sama Yesus, tetapi mereka tidak bisa menjawab pertanyaan ini. Pendeta Stephen Tong pernah dengan satu kalimat memberi arahan kepada kami, saya kaget sekali, ini kunci. Dia katakan, “Saya melayani bertahun-tahun, dan meneguhkan gerakan Reformed Injili ini.” Dan kemudian dia mengatakan, “Ikuti teladan saya, kau kerja keras, kau sungguh-sungguh. Perhatikan, orang bisa benci kita, tapi orang tidak mungkin bisa hina kita.” Wah saya kaget, saya mengerti sekarang itu kuncinya. Orang bisa benci sama Yesus Kristus, tapi tidak mungkin bisa hina Dia, karena tidak ada kesalahan, karena yang dikerjakan seluruhnya kudus itu sendiri. Mari kita belajar sama-sama, jangan takut kepada orang yang membenci kita, tetapi tidak mungkin bisa menghina kita. Stephen Charnock mengatakan, “Yesus Kristus adalah cahaya yang murni, yang tidak bercampur, lepas dari seluruh noda dalam esensi-Nya, natur-Nya, dan segala cara kerja-Nya.” Dia tidak ada dosa, tidak ada kesalahan sama sekali.

Sekali lagi, apa itu artinya kekudusan Kristus? Secara essential, tiga hal ini. Yang pertama Dia pada kelas-Nya sendiri, terpisah. Bukan saja terpisah, yang ke-2 Dia transcend dan memerintah. Dan yang ke-3 Dia adalah moral perfection, murni. Kalau saudara-saudara melihat dalam Perjanjian Lama, maka salah satu icon yang Allah perhatikan tidak pernah boleh salah, itu adalah Bait Suci. Saudara bisa melihat kitab Imamat secara khusus, saudara akan melihat bahwa pembangunan Bait Suci itu ukurannya, panjangnya, lebarnya, dalamnya, seluruhnya, materialnya apa, mesti tepat. Dan Allah tidak suka ada satu penyelewengan sekecil apa pun. Ketika seorang Israel melihat Bait Suci, mereka belajar satu hal, kesucian Allah, Allah yang precise, murni, tidak ada sedikit pun pergeseran. Ketika kita bicara mengenai Yesus tidak berdosa bukan saja bicara moral, saudara-saudara jangan berpikir bahwa ketika bicara moralitas diberikan kepada Yesus Kristus itu seperti kita, oh orang ini tidak pernah nonton video porno, orang ini tidak pernah menipu, orang ini tidak pernah melakukan pencurian, bukan itu saja saudara-saudara, seluruhnya precise.

Dan sekarang kita akan masuk kepada implikasinya. Saudara-saudara, apa implikasi dari kesucian Kristus? Dia adalah Yang Kudus dari Allah, dan Dia hadir di dalam dunia ini, Dia berinteraksi dengan manusia, dan apa implikasinya? Saudara, di dalam point ini saya akan menyebutkan satu hal yang penting sekali di dalam sebuah kalimat. Perhatikan baik-baik. Kesucian Kristus menyerang pendosa dan memikat pentobat. Dia attack pendosa, tapi attract pentobat. Ini sesuatu yang luar biasa penting. Ketika saudara dan saya mendengar kata ini, apakah saudara merasa diserang atau saudara merasa dipikat? Saudara-saudara, kesucian Kristus mematikan bagi pendosa. Dari kesucian itu muncul murka. Para teolog mencoba untuk mendefinisikan sifat-sifat Allah, salah satunya yaitu murka Allah. Ada teolog sama-sama reformed, ada teolog yang mengatakan bahwa murka Allah itu salah satu sifatnya, ada teolog reformed mengatakan murka Allah itu bukan sifat Allah tetapi murka Allah itu derivative dari kesucian-Nya. Saudara-saudara, dari kesucian Allah muncul serangan yang mematikan. Dari kesucian Kristus maka muncul serangan yang mematikan kepada para musuh-Nya.

Suatu hari Saulus sebelum menjadi Paulus, dia bersama dengan beberapa petugas pasukan bait suci, dengan kemarahan yang luar biasa besar dia naik kuda menuju ke Damsyik mau menghancurkan seluruh kekristenan yang pada waktu itu masih sangat kecil seperti bayi. Dengan kekuatan dari relasinya, juga kekuatan dari senjatanya dan kemarahan dari agamanya, dia naik kuda dan sampai ke titik satu jalan, Alkitab mengatakan the radiance of Christ. Saudara lihat sinar Kristus. Yesus tidak menyentuh, Yesus tidak menghardik, Yesus hanya hadir apa adanya. Kesucian yang tidak diselubungi oleh Yesus akan mematikan seluruh musuh-Nya. Bahkan musuh-musuh-Nya tidak bisa melihat wajah-Nya sekali pun. Kesucian itu kalau dinyatakan oleh Kristus apa adanya seluruh orang di depan-Nya pasti habis. Saudara masih ingat di taman Getsemani. Yesus berdoa minta supaya cawan itu lalu. Malam itu adalah malam yang menggentarkan. Dia berdoa tiga kali dan setelah itu Allah di surga menguatkan Dia. Dan Dia akan minum seluruh cawan murka Allah dan kemudian Dia tahu bahwa musuh-Nya dan di situ ada Yudas sudah mendekat. Dia bangkit dari doa-Nya dan kemudian menghadapi musuh-Nya dan bertanya, “Siapa yang engkau cari?” Jawab mereka dengan kegagahan, dengan obor, dengan pedang, “Yesus dari Nazareth.” Dan Yesus tidak membawa apa-apa. Tetapi Dia mengatakan apa yang Dia pernah katakan kepada Musa, “I AM HE.” Dan tidak ada cerita apa pun, langsung seluruhnya itu jatuh ke tanah. Kesucian Tuhan. Dia tidak perlu pakai pedang, tidak perlu pakai malaikat untuk menghabisi kita maka, kalau Dia mau membawa kita mendekat dan tetap bisa hidup selama-lamanya dengan Dia di dalam kesucian-Nya, itu cinta seberapa dalam.

Sebaliknya, sesuatu yang menyerang pendosa ternyata memikat orang-orang yang bertobat. Kesucian Kristus itu adalah keindahan-Nya. Kesucian Kristus itu mengagumkan dan memikat bagi orang-orang yang ditebus. Kesucian Kristus memberikan kepada kita visi kemuliaan itu apa. Dan saudara-saudara perhatikan, bagi umat pilihan-Nya, orang-orang yang sungguh-sungguh dipilih oleh Dia, maka kesucian-Nya itu yang kita cari. Orang-orang dunia akan mencari cinta Tuhan, love, terus love, tetapi umat Allah akan mencari kesucian Tuhan. Ini adalah sesuatu yang mengagumkan, makin kita bertumbuh mengenal Tuhan, makin kita menginginkan kesucian-Nya. Bahkan hanya melihat kesucian-Nya itu penghiburan kita. Sekali lagi, hanya melihat kesucian-Nya saja itu penghiburan kita. Apa penghiburan kita? Dapat uang, tidak salah saudara, tetapi saudara sekarang lihat, apa penghiburan bagi umat Allah yang sesungguhnya? Kesucian-Nya. Kita dihibur kalau dapat uang, kita dihibur kalau sukses, kita dihibur kalau dapat rumah tangga yang baik, atau apa pun saja. Tetapi coba lihat dan coba untuk merenungkan apa yang menjadi penghiburan umat Allah. 

Suatu hari, Musa sedang berada di dalam kesendiriannya. Dia terlempar dari Mesir. 40 tahun kemudian dia menjadi penggembala kawanan kambing domba. Tidak pernah ada di dalam satu kehidupan Nabi, ini yang paling pertama. Tiba-tiba Musa melihat ada semak belukar yang ada apinya tetapi tidak terbakar. Dan ketika dia curious mau tahu itu apa dan mendekatinya, tiba-tiba ada suara dari tempat semak itu dan mengatakan, “Engkau tidak boleh mendekat, Musa diam di situ, tidak boleh mendekat, lepaskan sandalmu karena tempat yang kau injak ini adalah kudus adanya.” Kata kudus pertama kali keluar dalam Alkitab di titik ini. Oh saya tidak tahu apa yang terjadi di dalam hati Musa melihat kesucian Allah itu nyata. Dan saudara tahu bahwa setelah itu Allah memberikan pengutusan kepada dia. Dan berbulan-bulan atau mungkin bertahun kemudian maka Musa sudah berhasil mengeluarkan orang Israel dari tanah Mesir. Tetapi sekarang seluruh rakyatnya sebagian besar memberontak kepada dia dan orang-orang yang dikasihinya kemudian harus dihajar oleh Tuhan sampai akhirnya mati. Saya tidak tahu seberapa dalamnya kejatuhan hati Musa. Coba saudara pikirkan kalau saudara adalah seorang guru dan di kelas saudara ada 20 orang dan kemudian 18 orang tidak naik kelas, apa yang ada di dalam hati saudara? Saudara akan bercampur dengan marah, dengan malu, saudara akan bercampur dengan rasa gagal, saudara mungkin sekali akan pergi ke kepala sekolah dan mengatakan aku tidak akan lagi mengajar seumur hidupku, kenyataan sudah membuktikan aku adalah orang yang gagal. Dan saudara meletakkan seluruh barang-barang sekolah kembali dan pulang ke rumah dengan air mata. Saudara akan sendirian merenungi nasib. Dengan peristiwa yang berbagai macam di dunia, banyak orang yang merasa gagal dan kemudian pulang dan kemudian bunuh diri. Tetapi Musa tahu, oh penglihatan itu, kesucian Allah, oh aku begitu merindukannya, aku begitu merindukannya sekarang dan kemudian dia menghadap Allah setelah beberapa dari pertanyaan dan kalimat dan permohonan, dan kemudian Musa mengatakan, “Aku minta satu hal, show me Thy glory.” Show me Thy glory

Dan apa isi kemuliaan Allah? Kesucian-Nya. Itulah sebabnya Allah mengatakan, “Aku akan lewat di depanmu, engkau ada di lekuk itu, gunung itu, tidak boleh ada satu manusia atau satu binatang pun.” Karena kenapa? Pasti mati. Dan Allah melewatkan seluruh kegemilangan-Nya. Musa sebenarnya tidak melihat seluruh kemuliaan kekudusan Allah, Musa hanya melihat sisa berkas sedikit saja kekudusan yang lewat. Dan Musa hancur hatinya dan menangis dan gemetar. Tetapi di situlah kekuatan orang kudus, dari titik situ dia berani untuk berdiri lagi karena melihat kekudusan Allah. Apakah saudara-saudara tahu apa yang diminta oleh Musa? Ketika Musa meminta show me Thy glory, itu artinya adalah Musa tahu sebentar lagi dia pasti mati karena tidak ada orang yang bisa melihat kekudusan Allah dan tetap hidup. Tetapi kekudusan Allah itu menarik hatinya. Agustinus pernah mengatakan, “Oh Tuhan, jikalau seseorang yang melihat Engkau maka pasti mati, izinkan aku mati untuk aku bisa melihat Engkau.” Kekudusan Allah itu begitu memikat umat-Nya. Mintalah pertumbuhan rohani. Mintalah pertumbuhan rohani. Minta Tuhan menyatakan kekudusan-Nya dan membuat kita tetap bisa hidup sementara. Tanpa itu, hidup kita tidak akan berubah. Tanpa itu, dunia tidak akan mengerti dan takut dan mau takluk kepada kekristenan. Apa yang membedakan kita dengan semua orang lain? Banyak anak muda itu berpikir naif, aku lebih pandai maka aku bisa menghadapi dunia. Dunia lebih pandai. Orang Kristen yang tidak bertanggung jawab mengatakan, “Aku mesti jadi anak Tuhan yang kaya supaya aku bisa membawa orang.” Orang dunia lebih kaya dari kita. Yang membedakan kita dengan mereka adalah Allah yang kudus ada di tengah-tengah kita, sehingga kita disebut sebagai umat yang kudus.

Dan terakhir. Saya akan bicara berkenaan dengan aplikasi, sesuatu yang practical. Pada prinsipnya, Allah menginginkan kita menjadi jemaat yang mengenal dan bertumbuh di dalam kesucian Kristus. Tuhan memimpin sampai sekarang gereja ini ada dalam 10 tahun. Dan orang-orang yang dari pertama itu ada, saudara tahu betapa ombak yang besar itu berkali-kali menghantam, dari luar mau pun dari dalam. Dan belum lagi kita bergumul dengan dosa kita. Belum lagi kita bergumul dengan keinginan kita akan dapat sesuatu dari dunia. Kita mengalami naik turunnya gelombang kehidupan sebagai satu jemaat Tuhan. Tetapi  perhatikan baik-baik arahnya. Perhatikan baik-baik benang merahnya. Allah menginginkan kita menjadi jemaat yang mengenal dan bertumbuh di dalam kesucian Kristus. Beberapa hal ini: 

Yang pertama, selalu sadarilah tujuan Allah untuk kesucian ini. Mari kita melihat Efesus 1:4. Sebenarnya saya bisa langsung untuk mengotbahkan kepada saudara-saudara isinya, tetapi saya mau untuk saudara membacanya: “Sebab di dalam Dia Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya.” Allah memilih kita untuk kita kudus dan tak bercacat. Sejak pertama sebelum dunia dijadikan bahkan sebelum saudara dan saya itu diciptakan, bagi orang pilihan kita diciptakan itu adalah dan dipilih itu adalah untuk bisa berbagian di dalam kesucian. J.I. Packer mengatakan kesucian adalah tujuan penebusan. Biarlah kita mengingatnya kita dipilih untuk apa, kita ditebus untuk apa.

Hal yang ke-2, biarlah semua daripada saudara dan saya mengingat ini. Sumber atau mata air kekudusan itu adalah Kristus Yesus. Saudara perhatikan fountain, sumber mata air kesucian itu adalah Kristus. Mungkin saudara-saudara adalah orang yang hanya pergi ke gereja setiap minggu atau mungkin engkau adalah orang yang belum Kristen sama sekali dan engkau kebingungan bagaimana aku bisa memiliki sesuatu keinginan yang baik, sesuatu kekudusan dalam hidup. Saudara tidak mungkin bisa memilikinya kecuali engkau datang kepada Yesus Kristus dan meminum dari sumber mata air itu. Seluruh pemimpin agama bisa membuat kita menjadi lebih baik tetapi tidak mungkin lebih kudus. Seluruh pendidikan kita bisa membuat kita menjadi kaum yang beradab tetapi tidak mungkin lebih kudus. Ketika bicara mengenai kekudusan, itu adalah pekerjaan Allah sendiri karena tidak ada yang memilikinya kecuali pribadi Allah sendiri. Dan jikalau kita berkali-kali jatuh di dalam dosa, biarlah kita boleh mengingat untuk kita terus menempel kepada pokok anggur yang benar yaitu Yesus Kristus sumber kesucian itu sendiri. Tidak ada yang lain, tidak ada kemungkinan yang lain selain minta belas kasihan kesucian-Nya bekerja di dalam hidup kita. Datanglah kepada Yesus dan minta untuk dia menyucikan dan memberikan Roh-Nya untuk kita kuat dan mampu hidup suci.

Hal yang ke-3, bagi semua orang yang melayani, apakah itu engkau guru Sekolah Minggu, apakah pembina remaja, pengurus, pemuda atau penatua atau siapa pun juga, pasti termasuk hamba Tuhan, ingatlah akan satu kalimat Yesus Kristus. Yohanes 17:19 mengatakan: “Dan Aku menguduskan diri-Ku bagi mereka, supaya mereka pun dikuduskan dalam kebenaran.” Saya teringat akan kalimat Robert Murray M’Cheyne, dia berkata kepada semua hamba-hamba Tuhan, “Yang diperlukan oleh jemaatmu adalah kekudusanmu.” Kristus bukan saja melayani tetapi Dia menjaga kekudusan-Nya. Biarlah seluruh guru Sekolah Minggu mengingat ini. Apa yang diperlukan oleh anak-anak kita? Kekudusanmu. Apa yang diperlukan oleh remaja kita? Kekudusanmu. Apa yang diperlukan oleh jemaat adalah kekudusan kita.

Hal yang ke-4, biarlah kita boleh mengingat 1 Petrus 1:15. Mari kita membaca bersama-sama ayat ini: “Tetapi hendaklah kamu menjadi kudus di dalam seluruh hidupmu sama seperti Dia yang kudus, yang telah memanggil kamu.” Di dalam Bahasa Indonesia dan juga di dalam ESV atau NIV tidak terlalu jelas, tetapi di dalam bahasa aslinya adalah jadilah kudus seperti The Holy One. Jadilah Kudus seperti The Holy One yaitu Yesus Kristus yang sudah memanggil kita. Dan sekali lagi apa itu holy, apa itu ‘jadilah kudus’? Maka kudus itu adalah dipisahkan untuk hidup sesuai dengan tujuan Allah. Hidup yang dipisahkan untuk tujuan Allah. Bapa ibu sekalian, saudara sekalian yang ada di sini, saudara dan saya tidak hidup di dunia ini diberikan keselamatan untuk hidup menurut keinginanmu sendiri. Kita dipisahkan dari dunia, dimiliki oleh Allah adalah untuk kita hidup dengan tujuan-tujuan Allah. Kita dipisahkan untuk tujuan Allah. Saudara-saudara, saudara dan saya tidak boleh punya tujuan sendiri, istri tidak boleh punya tujuan sendiri untuk mengatur suaminya dan suami juga tidak boleh punya tujuan sendiri untuk mengatur seluruh keluarga sesuka-suka hatinya. Orangtua, engkau harus bertobat tidak boleh punya tujuan sendiri untuk anakmu. Kekudusan itu apa? Apakah kita berjalan dalam kekudusan? Apakah kita dipisahkan untuk tujuan Allah? Jadilah kudus bagaimana The Holy One memanggil kita. 

Hal yang ke-5, biarlah kita boleh ingat Ibrani 12:10, sama-sama kita akan membacakan, “Sebab mereka mendidik kita dalam waktu yang pendek sesuai dengan apa yang mereka anggap baik, tetapi Dia menghajar kita untuk kebaikan kita, supaya kita beroleh bagian dalam kekudusan-Nya.” Saudara-saudara, bagi anak-anak Tuhan ketika kehidupan itu sulit dan menderita, dan bahkan ketika kita merasa bahwa Allah itu sedang mendidik dan menghajar kita atau bahkan menghukum kita, saudara, isi hati Tuhan sudah dibuka kepada kita. Ya itu akan sakit, itu akan menghancurkan hatimu, itu akan membuat engkau berlinang air mata, tetapi Aku melakukannya untuk engkau berbagian di dalam kekudusan-Ku. Bukan seperti Firaun yang dihancurkan untuk dimatikan, tetapi bagi umat Allah, bagi anak-anak Tuhan, setiap penderitaan dan didikan dan hajaran dari Tuhan adalah untuk membawa kita mendekat kepada Dia, untuk kita boleh berbagian di dalam kekudusan-Nya.

Dan yang terakhir yang ke-6, biarlah kita boleh ingat panggilan kesucian adalah panggilan untuk bahagia, penuh dan sukacita. Panggilan kesucian adalah panggilan untuk kita hidup berbahagia, penuh dan sukacita. Saya teringat akan satu cerita ini yang sungguh-sungguh terjadi. Seorang ayah yang mendidik anaknya yang kecil sekali untuk bermain sepeda. Saudara tahu bukan bahwa bersepeda buat kita mudah, tetapi buat anak-anak kecil sangat sulit. Beberapa kali mereka akan terjatuh dan sakit dan terluka. Kemudian anak ini dilatih, pertama-tama sepedanya dipegang, dan kemudian dia naik dan perlahan-lahan dia kayuh dan kemudian perlahan-lahan dilepas dan kemudian jatuh dan kemudian nangis lalu kemudian diobati dan besok paginya ayo latihan sepeda lagi. Seperti itu terus, anaknya kadang-kadang tidak mau lagi karena sering sekali jatuh dan sering sekali sakit. Tetapi terus-menerus orang tua itu sangat tekun untuk melatih anaknya sampai anaknya itu bisa. Kemudian ada seseorang bertanya kepada ayah ini, “Mengapa engkau melatih anakmu main sepeda, apakah nanti suatu hari mungkin kalau dia kerja di luar negeri bisa jadi orang yang lempar koran pakai sepeda yang antar-antar, atau dia bisa pergi ke sekolah?” Papa itu mengatakan, “Ya tentu itu juga. Tetapi ada satu hal yang paling utama aku melatih anakku naik sepeda, karena sampai suatu hari aku menginginkan dia beserta dengan istriku, kita sama-sama naik sepeda di pinggir pantai dan menikmati seluruh alam di dalam sukacita.” Apakah saudara tahu kenapa Tuhan menginginkan kita hidup suci? Karena Dia ingin kita terus berjalan bersama Dia. Alkitab dengan jelas menyatakan: “Yang suci hatinya yang bisa melihat Allah.” Panggilan kesucian adalah bukan panggilan legalism, panggilan kesucian adalah panggilan untuk menyerupai Dia dan berjalan bersama dengan Dia, ini adalah panggilan cinta.

Gereja ini sudah 10 tahun dan sampai saat ini orang mau bicara apa kepada kita, berhasil atau tidak berhasil, itu tidak masalah. Kita tahu kita semua adalah kumpulan orang-orang berdosa, tetapi yang paling penting adalah apakah kita belajar untuk berjalan di dalam kesucian dan bertumbuh di dalam kesucian dan dengan keadaan yang seperti itu kita bisa memastikan Allah berjalan bersama dengan kita.  Kemuliaan Allah, kesucian Allah yang dinyatakan kepada gereja-Nya melalui kesucian Kristus. Kiranya kasihan Tuhan memimpin kita. Mari kita berdoa.

GRII Sydney

GRII didirikan di atas dasar Pengakuan Iman Reformed Injili dengan tujuan menegakkan satu gereja yang berbasiskan teologi Reformed, dengan mimbar yang menyampaikan khotbah ekspositoris, read more