Ringkasan Khotbah

15 October 2023
Jesus Christ is the Radiance of God’s Glory (2) – The Faithfulness of God
Pdt. Agus Marjanto, M.Th · Yesaya 49:13-15, Yesaya 46:3-4, Mazmur 108:4-5

Yesaya 49:13-15, Yesaya 46:3-4, Mazmur 108:4-5

Hari ini kita mengingat kasih setia Tuhan, The Faithfulness of God. Biarlah kita boleh ingat, gereja ini ada karena kasih setia Tuhan sampai saat ini. Di dalam bahasa Indonesia, gabungan kedua kata ini sangat-sangat indah dan saya sangat menyukainya. The Faithfulness of God, dinyatakan dalam bahasa Indonesia, kasih dan setia. Yang mengasihi belum tentu setia sampai akhir, yang setia sampai akhir belum tentu memiliki kobaran kasih yang sama dari sejak awal terus menerus sampai akhir. Ini adalah sifat Allah yang paling jelas dimengerti oleh saudara dan saya. Maksudnya apa? Kenapa sifat ini paling jelas dimengerti? Karena begitu kita berdosa tetapi masih hidup, masih berani mendekat kepada Allah, masih bisa datang ke sini, dan mendengarkan berita ini, ini adalah karena kasih setia-Nya. Manusia yang berdosa, detik itu harus mati. Kasih setia Allah kita alami dan nikmati setiap hari bahkan. Meskipun kita nikmati dan alami setiap hari, seluruh pengalaman, seluruh penelitian abadi tidak pernah akan bisa menghabiskan tema kasih setia ini sampai selama-lamanya. Perhatikan baik-baik, ‘dicintai’ dan ‘dicintai terus menerus’ adalah hal yang berbeda. Apapun yang kita perbuat, apapun keadaan kita, apapun respon kita, menyakitkan sekalipun kepada Allah, dan seberapa lamanya kita hidup, seandainya kita bisa hidup 10 tahun atau 6000 tahun, Alkitab mengatakan selama-lamanya, Allah di dalam Yesus Kristus tetap mengasihi kita dengan kobaran kasih yang sama sejak dari mulanya, itu adalah kasih setia.

The Faithfulness of God bukan bicara berkenaan dengan kasih saja tetapi bicara berkenaan dengan dari pertama sampai akhir. Kita tahu tidak ada akhir dalam hidup kita sampai selama-lamanya. Dia tetap mengasihi dengan kobaran kasih yang tidak berkurang sedikit pun. Kasih setia Allah yang diberikan kepada orang-orang yang dipilih-Nya di dalam Yesus Kristus. Bahkan kalau saudara dan saya membandingkan dengan bumi ini, Alkitab dengan jelas menyatakan, makin mendekati akhir zaman, kasih kita bahkan di dalam keluarga pun makin lama makin hilang, makin lama makin hambar. Di dunia ini saudara tidak menemukan kasih setia. Alkitab menyatakan tanda akhir zaman. Apa itu tanda akhir zaman? Ada perang, ada gempa bumi, ada kelaparan dan itu sekarang sudah terjadi. Tetapi tanda akhir zaman adalah satu dengan yang lain di antara kasih kita, bahkan di dalam keluarga sendiri kasih akan makin hambar, demikian kata Alkitab. Tetapi kasih setia Allah tetap untuk selama-lamanya dari awal sampai akhir. Konsep awal dan akhir adalah konsep yang di dalam Alkitab, beberapa kali diperhatikan. Sama seperti photographer menemukan waktu yang terbaik memfoto adalah pada waktu golden time kurang lebih satu jam sebelum sunrise, dan satu jam sebelum sunset. Di dalam Alkitab, dikatakan Allah yang memulai pekerjaan yang baik kiranya Dia menyempurnakan pekerjaan pada akhirnya, awal dan akhir. Di dalam Alkitab juga dikatakan, Yesus adalah Alpha, dan Yesus adalah Omega, awal dan akhir. Di dalam meneliti hal ini, saya berpikir bahwa ini hanya bagian waktu dan saya mengkhotbahkan berkali-kali berkenaan Yesus adalah Alpha dan Omega, bicara berkenaan dengan Yesus yang memegang waktu, Dia memegang sejarah. Dan itu tidak salah. Tetapi, ketika saya masuk mengeksposisi bagian ini, ternyata kalimat ini bicara berkenaan Yesus adalah setia. Yesaya 46 yang tadi kita baca, saudara bisa melihat Allah setia, dari kandungan sampai kita tua, setia. Awal dan akhir itu diperhatikan di dalam Alkitab. Kesetiaan mengandung arti tidak berubah dari awal sampai akhir. Kalau studi kata di dalam bahasa Ibrani, maka ada sesuatu yang unik di sini. Kata faithfulness itu, akar katanya adalah Emet. Kata Emet ini terdiri dari tiga huruf, Aleph, Mem and Tav. Aleph, Mem dan Tav digabung adalah Emet dan artinya adalah truth. Jadi, kata faithfulness ini akar katanya adalah kebenaran. Suatu kejujuran, suatu keakuratan. Ketika kita bicara mengenai kesetiaan Allah, saudara dan saya tidak mungkin bisa melepaskan kesetiaan Allah dari kebenaran dan bukan suatu kebetulan. Kalau mempelajari kata-kata Ibrani, kata Ibrani memiliki keindahan-keindahan yang tersembunyi seperti menulis kalimat atau kata dalam Chinese. Kalau merentang seluruh huruf Ibrani, ada 22 huruf, Aleph adalah huruf pertama, Tav adalah huruf terakhir dan Mem adalah huruf paling tengah. Awal, tengah, akhir, dan apa yang saudara-saudara akan pikirkan? Sepanjang jalan Tuhan pimpin. Sepanjang jalan, dari awal, pertengahan, akhir. Alkitab sendiri mengatakan Yesus mengatakan; Akulah Alpha dan Omega. Di dalam Ibrani pasal yang pertama dikatakan bahwa Dia penopang segala sesuatu yang ada. Dia bukan pemula dan pengakhir saja, tetapi Dia penopang. Seluruh hal-hal ini bicara mengenai, the faithfulness of God. Kesetiaan adalah sifat Allah. Allah sendirilah yang setia. Perbuatan-perbuatan-Nya juga setia. Alkitab mengatakan rencana-Nya setia. Pekerjaan-Nya dilakukan dengan setia. Keputusan-keputusan-Nya ditetapkan dengan setia, jalan-Nya adalah kesetiaan, bahkan ketika Dia memberikan penderitaan kepada anak-anak-Nya, penderitaan itu diberikan dengan kesetiaan. Alkitab mengatakan Allah menghajar anak-anak-Nya di dalam kesetiaan.

Kata faithfulness, di dalam Alkitab selalu dikaitkan dengan beberapa hal ini. Yang pertama adalah dikaitkan dengan kebenaran, Emet. Ke-2 adalah Berith, covenant. Ke-3 adalah cinta, Hesed. Yang ke-4 adalah righteousness, itu adalah Sedek. Yang ke-5 adalah Mispath, justice.

Kata faithfulness kalau dilihat di dalam seluruh bagian Alkitab, maka saudara akan menemukan selalu digandeng dengan kata yang lain. Boleh dikatakan semua pekerjaan Allah yang dilakukan bagi orang-orang pilihan-Nya, kepada gereja-Nya adalah di dalam rangka membuat perjanjian, mengambil kita yang bukan umat-Nya, yang adalah musuh-Nya untuk dikasihi dan disatukan dalam kebenaran, keadilan-Nya dan itu dilakukan di dalam kesetiaan. Seluruh pekerjaan Allah, apa yang terjadi ketika Allah bekerja kepada kita dengan membuat kita mengenal Salib, mendapatkan Roh Kudus dalam hati kita, Dia kerjakan dengan membuat berith, membuat perjanjian, mengambil yang bukan umat seperti kita ini menjadi umat-Nya untuk dikasihi hesed dan disatukan di dalam kebenaran, keadilan-Nya, sedek dan mispath dan itu dilakukan secara terus menerus di dalam kesetiaan. The faithfulness of God di dunia ini, dikenal oleh dunia, oleh gereja-Nya melalui Yesus Kristus. Perhatikan baik-baik. Dunia ini tidak mengenal the faithfulness of God, karena the faithfulness of God hanya diberikan kepada umat-Nya di dalam Yesus Kristus. Ketika bicara mengenai faithfulness, itu bicara mengenai covenant. Kalau saudara dan saya tidak mendapatkan covenant dari Allah, saudara dan saya tidak mungkin akan mendapatkan faithfulness Allah. Boleh dikatakan faithfulness adalah properti spesial, properti khusus saudara dan saya, gereja Tuhan. Allah memberikan faithfulness-Nya di dalam Yesus Kristus kepada kita dan di dalam hal ini saya akan bicara beberapa hal yang ditekankan oleh Alkitab.

Pertama, ketika bicara mengenai the faithfulness of God, dalam Kristus Yesus. Yesus Kristus disebut di dalam Alkitab sebagai Saksi yang setia. Wahyu 1:5 menyatakan “Dari Yesus Kristus, Saksi yang setia, yang pertama bangkit dari antara orang mati dan yang berkuasa atas raja-raja bumi ini. Bagi Dia, yang mengasihi kita dan yang telah melepaskan kita dari dosa kita oleh darah-Nya.” Ini adalah sebutan yang khusus, yang unik kepada Yesus Kristus. Di sini dikatakan Yesus Kristus adalah faithful witness. Di dalam bahasa aslinya, saksi, witness dalam tulisannya adalah martir. Artinya martir yang setia. Dia akan menjadi martir untuk memegang kesetiaannya. Di sini dikatakan, Yesus adalah Saksi yang setia, apa artinya? Itu boleh dikatakan dua arti di dalam arah yang berbeda. Dia adalah Saksi yang setia kepada manusia untuk menyaksikan siapa Allah dan yang ke-2 adalah, Dia adalah saksi di hadapan Allah untuk menyatakan apa yang diperbuat oleh manusia. Saya akan meng-explore bagian yang pertama dan saya hanya menjelaskan sedikit bagian yang ke-2.

Saya akan menjelaskan bagian yang kedua terlebih dahulu. Yesus adalah Saksi yang setia. Dia bersaksi akan apa yang kita kerjakan, gereja kerjakan di hadapan Allah. Di dalam Alkitab, kalimat Saksi yang setia ini, ada di bagian pembukaan tujuh gereja Wahyu dan apa yang dituliskan dalam tujuh gereja Wahyu? Selalu ada kalimat Yesus kepada setiap gereja-Nya. Yaitu, Aku tahu apa yang engkau lakukan. Mata-Nya yang menjelajah setiap gereja. Dia yang akan membawa seluruh perbuatan kita dan perenungan hati kita yang benar maupun yang tidak benar. Yang suci maupun yang berdosa. Dia menjadi saksi atas seluruh apa yang ada pada kita. Dia tidak akan berbohong kepada Allah Bapa apa yang kita sudah kerjakan. Dia akan mengungkapkan kepada seluruh manusia, apa yang sebenarnya tersembunyi dalam hati kita. Dia bisa dipercaya. Dia akurat ada-Nya. Apa yang dilihat dan dinilai-Nya tepat, precise adanya. Dia adalah Saksi yang setia.

Tetapi hal yang lain saudara-saudara, dan bagian pertama ini yang saya akan tegaskan. Yesus dikatakan saksi yang setia yaitu terhadap bumi ini, khusus-Nya terhadap gereja-Nya. Dia menjadi saksi, siapa Allah sesungguhnya. Kristus Yesus menyatakan siapa Allah yang sesungguhnya. Dia menyatakan kebenaran yang tersembunyi ini. Tidak ada orang yang mengenal Allah. Tidak ada orang yang melihat Allah. Tidak ada manusia yang matanya yang bisa menjelajah langit untuk menemukan pribadi Allah padahal Allah adalah realita yang sesungguhnya. Tetapi realita itu tersembunyi bagi manusia. Ada perbedaan kualitatif antara Allah dan manusia. Tetapi perbedaan kualitatif itu dijembatani oleh inkarnasi Yesus Kristus. Apa yang tersembunyi yang tidak mungkin bisa dijelajah oleh manusia sekarang dinyatakan di depan kita. Yohanes 3:32-33 menyatakan, “Ia memberi kesaksian tentang apa yang dilihat-Nya dan yang didengar-Nya, tetapi tak seorang pun yang menerima kesaksian-Nya itu. Siapa yang menerima kesaksian-Nya itu, ia mengaku, bahwa Allah adalah benar.” Pribadi ke-2 Tritunggallah yang mengenal pribadi yang pertama, jikalau pribadi ke-2 Tritunggal tidak turun ke dunia, sampai kapan pun manusia tidak mungkin mengenal Allah. Yesus yang adalah inkarnasi, Dialah yang menjadi saksi akan Allah, keberadaan-Nya, sifat-Nya dan apa yang menjadi isi hati dan pikiran-Nya. Ketika saudara dan saya melihat, membaca Alkitab, jika Yesus sedih, saudara dan saya bisa melihat kesedihan Allah. Jika Yesus marah, maka saudara dan saya bisa mengenal kemarahan Allah. Ketika Yesus bergembira, maka itu menyatakan kegembiraan dan sukacita Allah. Yesus menyatakan karakter Allah, menyatakan emosi Allah, menyatakan kesaksian adanya Allah. Dia mengatakan Aku bertindak bukan dari diri-Ku sendiri tetapi Aku bertindak karena Dia yang mengutus Aku. Di hadapan Pilatus maka Yesus mengatakan, untuk itulah Aku lahir dan untuk itulah Aku datang ke dalam dunia supaya Aku memberi kesaksian tentang Kebenaran dan setiap orang yang berasal dari Kebenaran mendengarkan suara-Ku. Ketika kita bicara berkenaan dengan, the faithfulness of God, maka kita bisa melihat pribadi Kristus Yesus yang setia, yang inkarnasi untuk menyatakan isi hati, menyatakan pikiran, menyatakan kehendak Allah dan emosi Allah yang tersembunyi bagi umat manusia.

Hal yang ke-2, ketika kita bicara mengenai the faithfulness of God, yang dikenal di dunia ini melalui Yesus Kristus dengan jelas menyatakan bahwa dia adalah pancaran kemuliaan Allah. Itu artinya Allah mengutus Yesus Kristus inkarnasi di dunia sebagai perwujudan tertinggi dari kesetiaan Allah. Ketika membaca the faithfulness of God, saudara dan saya harus mengingat itu adalah Yesus Kristus. Kalau saudara bertanya kepada Tuhan; Tuhan, apa bukti Engkau mengasihi aku? Allah di sorga, apa bukti bahwa Engkau setia kepada janji-janji-Mu? Bukankah Engkau sudah berjanji kepada Abraham, Ishak, Yakub, Daud, Salomo, semua, Yeremia, Yesaya, seluruh nabi-Mu? Apa bukti Engkau setia pada seluruh janji-Mu? Apa bukti bahwa Engkau setia kepada bangsa pilihan-Mu, Israel? Allah di sorga, apa bukti bahwa Engkau mengerti dan setia padaku bahkan saat ini ketika aku menderita? Maka Alkitab mengatakan, seluruh pertanyaan ini, jawabannya satu yaitu pribadi Yesus Kristus. Semua bukti kesetiaan Allah ada pada diri Yesus Kristus. Bahkan bukan itu saja, Yesus Kristus adalah perwujudan tertinggi kesetiaan Allah. Seluruh janji Allah, ya dan Amin di dalam diri Kristus Yesus dan puncak kesetiaan Allah dinyatakan dengan mengirimkan Yesus Kristus mati di atas kayu salib, bangkit dan naik ke sorga bagi kita.

Ketika kita membaca Alkitab, sebenarnya ada satu benang merah. Benang merah seluruhnya adalah kerajaan Allah. Di dalam kerajaan Allah, ada benang merah yaitu covenant. Saudara-saudara akan melihat pergerakan umat manusia adalah pergerakan yang seperti ini, bahwa Allah di dalam Alkitab mengikat covenant pada Abraham, Ishak dan Yakub menjadi sebuah bangsa pilihan dan saudara-saudara akan menemukan prinsip ini: cerita Alkitab seluruhnya adalah cerita yang menyatakan bagaimana Allah setia dan memegang covenant sedangkan umat itu tidak. Kemudian umat yang tidak setia itu dihajar dan dikembalikan hatinya untuk boleh menghargai dan memegang covenant. Seluruh janji Allah diberikan Allah kepada kita di dalam bentuk covenant. Jikalau saudara dan saya tidak mendapatkan covenant dari Allah, tidak memiliki janji apapun saja, Saudara dan saya tidak memiliki apapun saja yang berkaitan dengan kesetiaan Allah, karena bicara mengenai kesetiaan itu adalah kesetiaan di dalam covenant, dan inti covenant-Nya adalah “Aku menjadi Allahmu dan engkau menjadi umat-Ku.” dan titik dari kulminasi tertinggi daripada hal ini adalah Immanuel – God with us.

Ketika saudara dan saya bicara mengenai the faithfulness of God, saudara bicara berkenaan dengan Yesus Kristus sebagai perwujudan tertinggi seluruh kesetiaan Allah. Yesus Kristus, diri-Nya sendiri bukan saja setia, Ia adalah saksi yang setia, Ia memiliki kualitas kesetiaan. Tetapi Yesus Kristus itu sendiri adalah perwujudan janji Allah, yang Allah memegang-Nya dengan kesetiaan.

Dan poin ke-3 yang saya mau untuk kita renungkan adalah ketika the faithfulness of God, kata ini muncul di dalam Alkitab menyatakan pengorbanan Allah melayani kita. Ketika saya menuliskan kalimat ini, ada sesuatu yang aneh yang saya rasakan. Bukankah seharusnya kita yang melayani Allah dan bukan Allah yang melayani kita. Tetapi ternyata, ketika kita makin bertumbuh, prinsip Alkitab adalah kita bisa melayani Allah kalau terlebih dahulu Allah melayani kita. Di dalam teologia, saudara-saudara akan mengerti kalimat economical Trinity, itu artinya bagaimana Allah melayani dunia ini. Ketika Allah melayani gereja-Nya, saudara dan saya, maka Dia “melayani,” bukan karena kita lebih tinggi dari Dia tetapi Dia memberikan anugerah-Nya adalah di dalam bentuk kesetiaan-Nya.

Kata Emet yang tadi kita bicara arti di dalamnya merupakan gabungan antara menggendong seorang anak dan merawat seorang anak. Sehingga di dalamnya itu ada nuansa tindakan yang menopang dengan kekuatan-Nya dan kemudian ada relasi yang intim di dalamnya. Ada gabungan antara kuasa, kekuatan dan juga satu keintiman cinta. Dan kata Emet menyatakan atau menunjukkan keteguhan kasih atau kasih yang teguh, stabilitas, komitmen, loyalitas, bisa dipercaya. Faithfulness didefinisikan sebagai demikian, kesetiaan Allah yang teguh terhadap perjanjian yang penuh kasih karunia. Untuk perjanjian yang teguh, kesetiaan yang teguh, yang memegang perjanjian-Nya, Dia harus berhadapan dengan kita manusia yang tidak setia. Kesetiaan Allah yang teguh terhadap perjanjian yang penuh kasih karunia. Kita adalah manusia yang tidak mudah dikasihi. Sekali lagi, dikasihi adalah satu hal, tetapi tetap dikasihi adalah hal yang lain. Kalau masuk ke dalam hubungan suami istri, mengerti kalimat itu. Pertama-tama dicintai, tetapi dicintai adalah satu hal, saudara-saudara bisa mempertahankan dan tetap memiliki kobaran cinta sampai akhir itu urusan lain. Banyak sekali keluarga yang awalnya mencintai, terakhir tetap setia tapi sudah tidak ada cinta. Tetapi Allah dari sejak pertama mengasihi kita. Dia terus menerus mengasihi kita meskipun kita sulit dikasihi dan tidak bisa dikasihi. Kita seperti landak yang dipeluk. Saudara pernah memeluk landak? Dari jauh saja, dia akan menyemburkan duri-duri. Makin saudara mau memeluk dia, makin saudara punya komitmen memeluknya, saudara makin berdarah-darah, saudara akan makin sakit dan itu yang dilakukan Allah kepada kita. Jangan terlalu cepat senang bahwa kita adalah orang yang mudah dikasihi. Tidak usah tanya sama Allah, tanya sama istri atau suami saja. Kita ini sulitnya luar biasa untuk dikasihi. Dulu ada orang yang adalah pekerja lembaga kemanusiaan dan menolong orang yang sulit, tetapi ketika dia menolong orang yang sulit itu, dia sendiri setiap kali menolong, orang yang ditolong ini marah-marah. Jadi setiap kali dia mau menolong, malah terluka. Bukankah itu sering sekali kita temui? Dan kita menganggap orang lain adalah landak. Kita lupa bahwa diri kita adalah landak. Orang jadi terluka ketika berelasi dengan kita. Saya masih ingat, ada satu orang yang sangat-sangat gracious, sangat murah hati dan menolong orang yang miskin. Dia sungguh-sungguh menolong orang dan bahkan anak dari orang yang ditolongnya itu, ketika sakit, berkali-kali dimasukkan rumah sakit, ditolong dengan uangnya dan semuanya. Bukan saja menolong dengan uang tetapi dia membawanya sendiri ke rumah sakit dan merawatnya dengan baik. Tapi ketika anak itu meninggal, apa yang terjadi? Seluruh keluarga yang ditolongnya menuntut dia. Seluruh keluarga itu marah kepada dia. Kalau saudara-saudara masuk ke dalam gereja, salah satu masalah di dalam gereja yang terus menerus harus dipikirkan adalah diakonia. Kenapa? Karena diakonia begitu diberikan akan membuat saudara pada posisi menjadi orang jahat. Begitu diberikan bulan pertama, ke-2, ke-3, ke-4 lalu kemudian kita menganggap bahwa cukup diakonianya. Orang itu tadinya berterima kasih bisa berbalik mengatakan bahwa kita jahat. Suatu hari, kami di gereja di Jakarta, memberikan diakonia kepada dua keluarga. Keluarga yang satu diberikan satu baju dan keluarga lain adalah pakaian yang lain. Tiba-tiba keluarga ini saling berkomunikasi dan dua-duanya itu datang kepada kami, terpisah datangnya dan marah. Kenapa aku tidak dikasih yang itu? Dan yang ke-2 juga, kenapa tidak dikasih yang itu? Manusia, kita itu, jahatnya luar biasa. Sungguh-sungguh jahatnya luar biasa. Kita landak. Kita sulit untuk didekati. Makin dibaiki, makin menyakitkan.

Maka saudara mengerti dalam konteks seperti inilah the faithfulness of God dinyatakan. Diberikan kepada Israel yang bukan umat-Ku, sekarang menjadi umat-Ku. Di dalam kitab Hosea, ketika Gomer belum melacur, maka Allah menyatakan kepada Hosea, nikahi pelacur ini karena Allah tahu; Aku menetapkan cinta-Ku kepada Israel meskipun suatu hari engkau tidak setia kepada-Ku. Itu adalah kasih setia Allah, kasih setia yang mendekati kita dengan seluruh tantangan yang menyakitkan pada diri Allah, Dia tetap berjalan mendekati kita. Sama seperti seseorang yang berjalan di tengah badai salju, dia tidak harus jalan, tapi dia mau jalan dan dia jalan dengan seluruh angin yang menghempas dia, dengan seluruh butiran salju yang menyakitkan mukanya, dia mempertahankan hatinya, tetap jalan, tidak mungkin akan kalah. Aku akan tekun, engkau menyakiti Aku, Aku akan tekun sampai dia datang kepada kita dan memeluk kita. Itu adalah kemenangan dari kesetiaan Allah kepada kita. Itu kesetiaan, Dia sebenarnya tidak perlu maju, tiap kali maju menyakiti Dia. Itu adalah kesetiaan Allah di dalam Kristus Yesus. Itu adalah Roh Kudus yang tetap berdiam di dalam kita dengan setia meskipun kita melakukan dosa. Dia mengatakan; Apa mungkin seorang ibu lupa kepada anaknya? Jikalau itu pun terjadi, Aku tidak akan pernah melupakan engkau.

Gereja Tuhan perhatikan baik-baik! Hidup kita tergantung akan ketekunan Allah. Alkitab mengatakan di dalam masa kemiskinan, masa aniaya, masa takut, masa gelapmu, Dia tetap Allah yang menggendong kita dengan kesetiaan-Nya. Gereja ini ada karena kesetiaan Allah. Hari ini saya ada di sini, bisa berkhotbah adalah karena kesetiaan Allah. Dia tekun dan Dia tidak menyerah untuk memegang saya terus. Dan sama dengan saya, saudara ada di sini adalah karena kesetiaan Allah, Dia tekun dan tidak pernah menyerah kepada kita, meskipun kita menyakiti Dia. Gereja ini ada, dan gereja ini continue dan masa depan gereja ini tergantung pada ketekunan, kesetiaan Allah menopang kita. Itulah sebabnya saya minta pada saudara datang berdoa. Karena kita bergantung pada ketekunan-Nya saja. Datang berdoa khususnya hari Sabtu minggu depan jam 2 siang, kita akan mengadakan Concert of Prayer. Semua, datanglah berdoa! Kita harus menyadari bahwa seluruh hidup kita masih bisa ada, masih bisa berdiri itu karena kesetiaan ketekunan-Nya. Dia adalah Allah yang menggendong kita dengan kesetiaan-Nya. Saya akan menutup khotbah ini dan mengingatkan saudara satu ilustrasi yang sudah lama sekali dan saudara pasti mengetahuinya. Suatu malam seorang laki-laki bermimpi, dia bermimpi sedang berjalan kaki di pantai bersama Tuhan. Mereka berjalan, beriringan melintasi pantai yang berpasir dan merupakan kilasan kehidupan yang pernah dilalui oleh laki-laki itu. Pada setiap babak kehidupannya, dia menyadari ada dua pasang jejak kaki di atas pasir yang dia lalui. Satu adalah jejak kaki miliknya dan satu lagi adalah jejak kaki milik Tuhan yang menemani dia di dalam perjalanan. Ketika dia berhasil melewati babak terakhir dari lintasan kehidupannya, ia menoleh ke belakang dan melihat banyak jejak-jejak kaki yang tertinggal di pasir itu. Tetapi ia baru sadar, ternyata ketika berada di dalam kesulitan, masa-masa yang sulit dan menyedihkan, hanya tinggal satu jejak kaki saja. Dia bertanya kepada Tuhan, “Tuhan, Engkau berjanji jika aku memutuskan untuk mengikuti jalan-Mu, Engkau akan berjalan bersamaku sepanjang jalan tetapi kenapa aku melewati masa-masa yang paling sulit dalam hidupku hanya ada satu pasang jejak kaki di pasir itu? Aku tidak mengerti Tuhan, mengapa ketika aku sangat membutuhkan-Mu, Engkau malah meninggalkan aku?” Tuhan kemudian menjawab, “Hai anak-Ku, Aku mencintaimu. Aku tidak pernah meninggalkanmu. Ketahuilah pada masa-masa sulit itu, ketika kamu melihat hanya satu pasang jejak kaki itu, itu adalah jejak kaki-Ku karena aku sedang menggendongmu.” Itu yang ditulis di dalam kitab Yesaya; ‘engkau Ku-dukung sejak dari kandungan, engkau Ku-junjung sejak dari rahim. Sampai masa tuamu Aku tetap Dia, sampai masa putih rambutmu Aku menggendong kamu. Aku telah melakukannya dan mau menanggung kamu terus; Aku mau memikul kamu dan menyelamatkan kamu.’ Nikmatilah kasih setia Tuhan dan biarlah kita tidak melupakannya dan tidak take it for granted. Mari kita berdoa.

 

Rom 16:25-27, Ayub 12:13, 1 Kor 1:18-30, Ef 1:17, Ef 3:10-11
GRII Sydney

GRII didirikan di atas dasar Pengakuan Iman Reformed Injili dengan tujuan menegakkan satu gereja yang berbasiskan teologi Reformed, dengan mimbar yang menyampaikan khotbah ekspositoris, read more