[simple_crumbs root="Home" /]
kembali

12 November 2023

Pdt. Agus Marjanto, M.Th

Christ and Culture (02) – Bible and Culture

Kejadian 1:27-28, Kejadian 2:15, Bilangan 3:8

Alkitab adalah buku tentang Allah dan buku tentang kita, manusia. Alkitab mencatat hal-hal yang ada di surga, di dalam kekekalan. Tetapi Alkitab juga menyatakan apa yang Tuhan kehendaki di muka bumi ini. Beberapa minggu yang lalu, kita bicara berkenaan dengan sifat-sifat Allah dan apa yang Tuhan kehendaki. Kesucian Allah, kesetiaan Allah, hikmat Allah, the dominion of God, seluruhnya bicara mengenai pribadi Allah. Musa berbicara kepada Tuhan, show me Thy glory, nyatakan kemuliaan-Mu seluruhnya. Tetapi saat ini kita akan melihat apa yang Allah lihat dan apa yang Allah nyatakan kepada kita sebagai manusia. Calvin dan Agustinus menyatakan, mengenal Allah dan mengenal diri kita, adalah hal yang terpenting dan mereka tidak ingin tahu yang lain kecuali dua hal ini. Mengenal diri kita adalah mustahil untuk dilepaskan dari kebudayaan. Seorang manusia menjadi manusia artinya adalah menjadi seseorang yang berbudaya. Minggu yang lalu kita sudah berbicara berkenaan dengan beberapa elemen penting yang terkandung dalam satu kata, budaya ini. Sebuah budaya akan menjadi identitas kita dan menyatukan sebuah kelompok. Di dalam sebuah kebudayaan maka ada spirit zaman yang menjadi jiwa masyarakat. Pengelompokan budaya adalah pengelompokan worldview yang sama dari orang-orang tertentu. Budaya adalah hasil seluruh pikiran dan seluruh produk hasil tangan dari hidup kita. Minggu yang lalu kita sudah berbicara mengenai istilah kebudayaan dan pagi ini kita akan melihat apa yang Alkitab nyatakan tentang perjalanan manusia dengan kebudayaannya. Saya akan mengeksposisi bagian-bagian yang tadi kita baca. 

Ada beberapa hal di dalam apa yang kita baca. Kejadian 1:27, Ini menjadi pangkal segala pembicaraan tentang manusia. Kalau mau tahu apa perbedaan manusia dengan seluruh makhluk yang lain, ada dalam kejadian 1:27 ini, manusia diciptakan dalam peta dan teladan Allah, image of God. Image of God itu apa artinya? Kalau kita mau membahas mengenai image of God saja, maka kita memerlukan waktu paling sedikit 4 jam setiap hari selama 3 hari. Karena image of God ini menjadi bahan pertimbangan teolog-teolog bahkan sejak bapak-bapak gereja. Image of God itu artinya apa? Seluruh teolog akan setuju dengan apa yang saya akan bicara di sini. Di dalam sejarah kuno, menjadi image of God mengandung ide representatif. Bayangkan sebuah patung, ketika seseorang raja menggempur sebuah daerah yang jauh sekali dari kerajaannya. Kemudian dia memenangkan peperangan itu, maka dia akan membuat sebuah patung dan menempatkan seorang representatifnya di sana. Lalu raja tersebut akan pulang beribu-ribu kilometer kembali. Penduduk-penduduk di daerah yang dikuasainya tidak lagi melihat raja tersebut. Mereka juga tidak tahu apa yang dikehendaki oleh raja tersebut. Jarak sudah memisahkan mereka, bagaimana seorang raja yang ribuan kilometer memerintah daerah yang sudah ditaklukkan itu? Yaitu menempatkan perwakilannya, representatifnya. Representatif itu bisa berupa sebuah patung dan semua orang-orang di hadapan patung itu menyembah. Orang yang tidak menyembah patung akan dipenggal kepalanya, karena menyembah patung sama dengan menyembah raja. Menolak menyembah patung berarti menolak menyembah raja.

Hal yang ke-2 yang dilakukan adalah menempatkan seseorang di sana, mungkin menjadi gubernur, mungkin menjadi jenderal. Orang yang menjadi representatif boleh menikmati segala-galanya, gubernur ini memiliki kemuliaan yang diberikan oleh raja yang jauh ini. Kemuliaan menjadi miliknya dan kemuliaan-kemuliaan itu menjadi privilege-nya, dia boleh melakukan apapun saja sesuai dengan kehendak hatinya, tetapi tidak melanggar prinsip raja. Dia boleh melakukan apapun saja tetapi dengan satu prinsip, seluruh kehendak raja jadi di tempat yang dia kuasai. Jadi ketika bicara mengenai image of God, tidak bisa dilepaskan dari kehendak Allah. Image of God ada menekankan kepastian bahwa kehendak Allah jadi pada daerah yang kita pimpin. Siapakah saudara dan saya? Kita diciptakan menurut image of God, kita boleh melakukan apapun saja karena itu adalah privilege dari Tuhan. Tetapi kita harus memastikan semuanya sesuai dengan prinsip Raja kita. Dan kita harus memastikan bahwa seluruhnya adalah kehendak-Nya yang jadi. Itulah sebabnya ketika Yesus ditanya oleh para murid-Nya, perhatikan, di dalam doa Bapa kami, Yesus mengajarkan kepada kita prinsip dasar image of God; Jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga. Dan hanya orang-orang Kristen yang bisa melakukannya, karena di dalam Kristus, image of God yang sudah rusak akibat dosa itu sekarang sudah dipulihkan. Apakah setiap manusia memiliki image of God? Jawabannya, ya. Tetapi kita tahu bahwa dosa sudah merusak image of God, dosa bukan meniadakan image of God tapi dosa merusak image of God. Untuk bisa melakukan kehendak Allah, maka image of God harus diperbarui, image of God harus dikuduskan dan itu di dalam Kristus. Sehingga tidak mungkin ada orang di dunia ini, di luar Kristus yang bisa menggenapi rencana Allah secara aktif dan secara sukarela. Sekali lagi, Kejadian 1:27 bicara berkenaan dengan image of God dan ketika bicara mengenai image of God, saudara-saudara bisa menjabarkan apapun kualitas manusia, tetapi yang paling penting adalah dikaitkan selalu dengan ide representatif. Ini menekankan kepastian bahwa kehendak Allah jadi pada daerah yang kita pimpin atau tempat kita berada. Apakah kita ditempatkan dalam sebuah gereja? Apakah kita ditempatkan di dalam kantor? Dan juga di dalam family, keluarga? Di dalam pekerjaan? Di dalam seluruh hasil karya? Saudara dan saya harus memastikan bahwa kehendak Allah dijadikan. Kita ditentukan di dunia ini untuk mempertontonkan Allah, Raja alam semesta, kemuliaan-Nya, dengan cara meneguhkan kehendak-Nya jadi di tempat yang kita kuasai. 

Saudara lihat Kejadian 1:28, saya bergerak dari ayat 27 ke 28. Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka. Kemudian ayat 28; Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka. Perhatikan ayat yang ke-27 adalah Allah menciptakan kita, ayat ke-28 setelah penciptaan, setelah manusia ada, maka ayat 28 Allah memberkati kita dan Allah berfirman. Perhatikan urutan ini, tidak ada jeda sekalipun, urutan ini mau menyatakan apa? Kita dicipta hanya untuk satu hal, yaitu untuk menjalankan Firman. Kita tidak diciptakan untuk hal yang lain, kita diciptakan untuk menjalankan Firman. Meskipun kita mengatakan “Aku kok tidak enak hidupnya, ya? Oh, aku ini kasihan banget ya? Orang diciptakan untuk menggenapi Firman, aku tidak punya kebebasan yang lainkah?” Perhatikan baik-baik, anehnya adalah sepanjang hidup saudara kalau kita tidak mentaati Firman, saudara dan saya tidak pernah berharga. Saudara dan saya tidak pernah bahagia. Kita mengatakan; Aku tidak mau Firman. Aku tidak mau mentaati Firman. Firman sangat berat bagiku. Aku tidak mau melihatnya. Aku mau menghindarinya. Saudara dan saya bisa menghindarinya tetapi seluruh DNA kita sudah dicipta untuk itu. Anehnya sepanjang kita tidak mentaatinya, sepanjang itu kita tidak pernah merasa content. Aneh sekali. Karena seluruh DNA kita dicipta untuk itu, menolak ini berarti saudara menolak diri saudara sendiri. Menolak ini, menolak keseluruhan natur kita. Sekali lagi ayat 27 adalah kita dicipta menurut peta dan teladan Allah. Ayat 28, Allah memberkati kemudian Allah berfirman. Itu adalah posisi kita. Itu adalah identity kita. Itu adalah panggilan kita. Perhatikan kita hidup, kita bertindak hanya untuk satu hal ini, menggenapkan perintah Allah, melakukan kehendak Allah. Kita ada untuk Firman-Nya dan bukan Dia untuk kita.

Hal yang lain, di dalam Kejadian 1:28, Firman-Nya itu isinya apa? Allah berfirman kepada mereka: “Beranakcuculah dan bertambah banyak, penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi.” Ayat 28 ini, beranakcucu dan bertambah banyak memenuhi bumi adalah perintah dasar perkembangan budaya. Alkitab tidak menyatakan Allah menciptakan budaya tetapi kebudayaan adalah hasil perintah, hasil mandat dari Allah kepada manusia untuk menjalankan. Kebudayaan bukan suatu ciptaan. Tetapi kebudayaan adalah suatu perintah kepada manusia, ketika manusia menjalankannya maka kebudayaan tercipta. Perhatikanlah bahwa pengalaman pertama manusia dicatat dalam kitab suci adalah pengalaman mendengarkan perintah ini. Sebelum ada perintah jangan membunuh, jangan mencuri atau apapun saja, perintah pertama yang didengarkan oleh telinga Adam dan Hawa setelah diciptakan adalah perintah berkenaan dengan pengembangan budaya. Dalam Kejadian 2:15, Tuhan mengatakan untuk mengusahakan dan memelihara taman itu, Tuhan Allah mengambil manusia itu, menempatkan di taman Eden dan manusia mengusahakan dan memelihara taman itu kemudian manusia diminta beranakcucu, bertambah banyak, penuhi bumi. Berarti mereka keluar dari Eden ke seluruh bumi mengusahakan setiap jengkal tanah di muka bumi ini seindah Eden. Kita semua tahu di dalam kitab Kejadian dikatakan Eden adalah tempat di mana Allah melangkah di muka bumi ini. Allah tidak melangkah di seluruh tempat di muka bumi. Di dalam kitab Kejadian dinyatakan Allah melangkah di taman Eden. Maka Taman Eden adalah tempat kehadiran Allah. Secara teologis disebut sebagai kerajaan Allah yang hadir di muka bumi. Maka perintah sesungguhnya Kejadian 1:28 adalah perintah menyebarluaskan Kerajaan Allah. Itu adalah perintah yang sama dengan pengembangan budaya. Sekali lagi, perintah ini menjamin adanya perkembangan budaya manusia yang dilakukan oleh Adam dan seluruh keturunannya. Tetapi ingatlah mengapa Allah memberikan perintah ini bagi manusia? Adalah untuk kemuliaan-Nya. Karena dasar budaya adalah perintah Allah. Sekarang perhatikan kalimat di bawah ini, itulah sebabnya kebudayaan harus tunduk kepada perintah Allah, tunduk kepada norma-norma, nilai-nilai yang Allah tetapkan. Kebudayaan tidak bisa lepas dari perintah Allah. Allah yang mendesain, Allah yang memiliki rencana, Allah yang memiliki ide kebudayaan. Kalau saudara melihat di dalam hal ini, dalam ayat-ayat ini, terus melihat itu, termasuk dalam keluarga, itulah sebabnya saya pernah mengatakan pada saudara, keluarga adalah ide Allah, itu bukan ide saudara dan saya. Saudara mau menikah, itu idenya Allah, bukan ide kita. Allah yang membuat dan memungkinkan institusi keluarga ada di bumi. Tetapi setelah dosa masuk, manusia tetap ingin berkeluarga tetapi seluruh normanya dilepaskan dari Allah. Sama dengan kita bekerja, ketika kita bekerja, kita tetap ingin bekerja, padahal pekerjaan adalah bagian budaya dan budaya adalah perintah, tetapi anehnya kita tetap ingin mendapatkan keuntungan dari pekerjaan tetapi prinsipnya dipisahkan dari kehendak Allah. 

Hal yang lain dari Kejadian 1:28, dari ayat ini kita juga mengetahui manusia yang diciptakan sebagai image of God merupakan seorang pribadi yang memiliki sifat agama dan sifat kebudayaan sekaligus. Manusia berelasi dengan pencipta-Nya, itu agama. Manusia juga berelasi dengan alam dan itu adalah budaya. Seorang teolog bernama Henry Van Til menyatakan kebudayaan secara sederhana dapat dikatakan sebagai pelayanan kepada Allah di luar kehidupan atau secara eksternal, outward. Kebudayaan merupakan agama yang dinyatakan keluar. Istilah culture, corere sebenarnya menunjukkan pada pelayanan religius. Di dalam bahasa Inggris menjadi cult - ibadat atau cultic atau culture. Itulah sebabnya setiap kebudayaan tidak pernah netral secara religius. Karena setiap kebudayaan dibuat oleh seorang manusia yang pasti memiliki konsep agama dan konsep kebudayaan.  

Hal yang ketiga, ada sesuatu yang unik di sini. Kata kerja di dalam Kejadian 1:28, kata kerja di dalam Kejadian 2:15, dan juga nanti di dalam Bilangan 3:8 memiliki urutan dan juga memiliki kesamaan. Kita bicara mengenai Kejadian 1:28, kata menaklukkan, kabash, itu artinya manusia dicipta dengan satu tugas; menggali dan mengembangkan semua sumber yang ada di dalam diri dan dunia. Kata yang paling modern mengatakan itu adalah eksplorasi, sesuatu yang baik, jadi manusia diminta mengeksplor kemungkinan-kemungkinan seluruh potensi di dalam diri dan alam. Jadi kerja keras, studi yang sungguh-sungguh merupakan perintah Tuhan. Banyak orang salah berpikir bahwa kerja keras adalah akibat dosa. Tidak, saudara-saudara. Sebelum dosa masuk, Tuhan sudah menentukan kita, memerintahkan kita untuk bekerja keras dan studi yang berat. Yang menjadi akibat dosa bukan kerja keras atau studi yang berat tetapi sering sekali dosa sudah mencemari apa yang dihasilkan, maka hasilnya tidak sebanding dengan kerja keras kita. Jadi Adam bekerja keras dan menghasilkan begitu banyak. Namun ketika dosa masuk, dia kerja keras dan Allah mengatakan: “Semak duri yang akan dihasilkan dari kerja kerasmu.” Jadi saudara-saudara, biarlah kita boleh mengerti bahwa kita diminta untuk mengeksplorasi seluruh potensi kita. Di dalam Perjanjian Baru, saudara-saudara tahu bahwa Allah menyatakan yang lima talenta, dia kerja keras, lima talenta dapat lima talenta. Yang dua talenta kerja keras, mendapat dua talenta. Jadi adalah benar ketika kita malas, malas adalah satu dari dosa. Bahkan bapa-bapa gereja mengatakan itu adalah salah satu dari tujuh dosa maut, dosa yang sangat-sangat mempengaruhi umat manusia dan juga hidup kita secara long-term. Kita diminta untuk mengeksplorasi, bukan mengeksploitasi, itu dua hal yang berbeda. Hal yang kedua, bicara mengenai menguasai. Kata kerja menguasai adalah radah, berarti di sini ada penguasaan manusia terhadap alam. Maka dengan sendirinya saudara akan menemukan ordo di sini. Allah menguasai manusia dan manusia menguasai alam. Saudara-saudara dan saya boleh menikmati alam untuk mendatangkan dan dibawa untuk menyembah dan beribadah kepada Allah. Sekarang saya akan masuk ke dalam poin yang ke-3 di dalam Kejadian 2:15 dan dalam Bilangan 3:8. Ini ada dua kata yang sama, to work and to keep - mengusahakan dan memelihara. Itu ada dalam Kejadian 2:15 dan ada dalam Bilangan 3:8. Di dalam bahasa Inggrisnya to work adalah abad, dan to keep adalah shamar. Perhatikan baik-baik, ada sesuatu yang unik di sini. Kejadian 2:15 adalah kalimat dari Tuhan yang dinyatakan kepada Adam dan Hawa di taman Eden untuk mengusahakan tanah. Kata yang dipakai ternyata adalah sama dengan Bilangan 3:8 di mana Allah memerintahkan imam, orang-orang Lewi ketika melayani, bekerja keras di dalam sebuah bait Allah. Perhatikan baik-baik prinsipnya, ada hubungan yang erat sekali antara taman Eden dan Bait Suci. Ada kaitan yang luar biasa erat antara pekerjaan, antara toko, antara marketplace dengan gereja. Keduanya menjadi tempat di mana penyembahan kepada Allah yang sejati terjadi. Keduanya tempat di mana Allah datang dan bertakhta. Keduanya adalah tempat di mana Allah memenuhinya dengan kemuliaan-Nya. Alkitab dengan jelas menyatakan tidak ada pemisahan antara yang sacred dan secular. Tidak ada dikotomi untuk hal itu. Kalau saudara-saudara mau sungguh-sungguh mendalami teologi of worship and work, maka tidak ada tempat lain, kita harus belajar dari Puritan. Bagi seorang Puritan, prinsip pekerjaan adalah seluruh pekerjaan dikuduskan bagi Allah. Orang-orang teolog masa kini memandang orang-orang Puritan, dan mengatakan demikian; his pulpit - mimbarnya dan his shop - tokonya is God’s Holy Ground. Perhatikan baik-baik, biarlah kita mengkuduskan mimbar ini. Gereja GRII Sydney, saya minta saudara-saudara, mari mengkuduskan hari Minggu, mari menguduskan ruangan ini. Mimbar ini adalah God’s holy ground. Tetapi jangan lupa, pekerjaanmu, tempatmu bekerja, tokomu di mana engkau bekerja adalah His holy ground! Bagaimana engkau menyembah Dia di gereja ini, Dia bertakhta di tempat kerjamu. Dia bertakhta di Eden. Dia bertakhta di Bait Suci. Perintah itu didengar oleh Adam dan Hawa dan seluruh keturunannya. Perintah itu juga didengar oleh Harun dan seluruh keturunannya, hamba-hamba Tuhan full time. Tempat di mana Tuhan bertakhta di tengah-tengah kita dan juga rumah tanggamu adalah tempat Dia bertakhta.

Cotton Mather mengatakan: “Oh, biarlah setiap orang Kristen berjalan bersama Tuhan ketika dia melakukan panggilan-Nya. Bertindak di dalam pekerjaannya dengan mata yang tertuju kepada Tuhan. Bertindak karena semua ini adalah di bawah penguasaan Tuhan.” Bagi orang-orang Puritan, Allah adalah Jendral dan Dia yang memerintah, Dia mengamati seluruh lingkup kehidupan kita, baik di gereja, maupun di tempat kerja (marketplace). Di situlah kebudayaan terus menerus berkembang di dalam kehendak-Nya. Jangan merendahkan pekerjaanmu. Jangan berpikir bahwa pekerjaanmu adalah nomor dua dan urusan gereja adalah yang nomor satu. Jangan engkau menjadi orang yang bersungguh-sungguh di gereja tetapi engkau tidak bersungguh-sungguh di dalam kuliahmu. Jangan engkau menjadi orang yang mempersiapkan diri ketika engkau diminta pelayanan di gereja dengan baik-baik tetapi engkau menjadi orang yang malas di tempat kerjamu. Jangan engkau menjadi orang yang sungguh-sungguh mau untuk taat di gereja, tetapi engkau menipu di tempat kerjamu. Dua-duanya adalah His holy ground. Banyak sekali orang dunia yang tidak menghargai gereja. Banyak sekali orang-orang yang kerja baik-baik di dunia tetapi menyepelekan gereja dan berpikir bahwa ini adalah second. Tetapi kemudian juga banyak orang yang mengatakan, yang paling penting dekat sama Tuhan Yesus, kemudian yang lain semua tidak penting. Ketika saudara memisahkan 2 ini dan menempatkan salah satunya menjadi lebih penting, maka saudara sudah masuk spirit dunia yang mendikotomi, memisahkan antara sacred dan secular. Tuhan yang membangun dan memerintahkan Bait Suci untuk precise, Dia pula yang menempatkan Adam dan Hawa untuk mengusahakan Eden.

Saudara-saudara, adalah satu tanggung jawab dari tempat saya untuk melihat apa yang terjadi di dunia ini, minimal di depan mata saya. Sepanjang 10 tahun ini, saya berusaha berjuang, berjuang, mengokohkan, dan membuat gereja menjadi suatu pangkalan bagi hati kita. Begitu saya masuk ke Sydney, saya melihat begitu banyak orang yang menyepelekan gereja. Tidak mementingkan gereja sama sekali, dan malah merendahkan gereja. Gereja luar biasa penting. Terhadap gerejalah, Tuhan berbicara di muka bumi ini. Saya bisa bicara bukan satu- dua bulan, tahunan, berkenaan tentang pentingnya gereja. Tetapi di tempat yang lain, saya melihat ada beberapa anak-anak muda yang sangat antusias di gereja, tetapi mulai kelihatan tidak sungguh-sungguh di dalam dunia pekerjaan, saudara harus bertobat. Saudara belajar untuk rajin di gereja, juga rajin di rumah tangga. Kalau mama, papamu menyuruh sesuatu kepadamu, belajar taat dan belajar lakukan. Dua-duanya, baik itu rumahmu maupun gereja adalah His holy ground, God’s holy ground. Ada orang sebelum masuk gereja, mau habiskan dulu rokoknya. “Kenapa?” “Ini kan gereja, tempat sucinya Tuhan, jadi tidak boleh rokok masuk gereja.” Nah itu betul, dan kemudian pendetanya bilang begini, “Pak, tapi juga dalam Akitab, tempat Bait Suci bukan cuma di gereja, tubuhmu adalah Bait Suci, jadi engkau kasih terus asap rokok juga?” Dia baru sadar, “Oh, iya ya.”

Banyak orang yang pikir rohani, pikir yang paling penting adalah gereja, tetapi lupa bahwa Tuhan tidak pernah membedakan sacred dan secular. Sekali lagi saudara-saudara, pekerjaanmu penting, culture penting, pemuridan penting, gereja juga penting, penginjilan penting. Bahkan saya terus pikir, kalau saya bicara mengenai Christ and culture, apa yang nanti menjadi tujuannya? Maka saya makin menyadari pentingnya gereja di dalam mandat budaya. Tidak mungkin ada perubahan budaya di depan kita, kecuali saudara dan saya bergerak bersama-sama, bersehati di dalam prinsip-prinsip Alkitab. Ketika saudara dan saya bicara berkenaan dengan mengabarkan Injil, itu bisa satu dengan satu. Tetapi ketika saudara mau mengubah budaya, itu mesti komunitas dengan komunitas. Community lawan community. Kalau community tidak bergerak bersama-sama, budaya tidak mungkin berubah. Saya ambil contoh ya, suatu hari ada keluarga yang sangat baik, ini bukan satu keluarga yang saya kenal, ada beberapa keluarga di beberapa kota. Dan dia ingin menetapkan anak-anaknya semua dengan prinsip rohani, bagus lho. Maka salah satunya yaitu, dia tidak kasih anaknya melihat ipad atau lihat handphone. Tidak ada ipad, tidak ada handphone. Bagus ya? Bagus. Problem-nya satu, kalau di sekolah, dia masih bisa berkata, “Ini bukan Kristen, kita Kristen.” Tetapi begitu sampai di gereja, anaknya penatua juga main handphone, anaknya pendeta juga main handphone, anaknya aktifis main handphone. Bawa ipad antara kebaktian satu sampai kebaktian dua, nonton-nonton ipad. Anaknya itu tidak punya handphone, tidak punya ipad, lihat-lihat terus. Lihat-lihat, sambil lihat, ada rasa bersalah. Sampai kapanpun tidak mungkin ada perubahan budaya untuk anak itu karena komunitasnya dalam gereja tidak mendukung. Saudara mengerti maksud saya? Pentingnya komunitas. Saya tidak sedang bicara berkenaan dengan ipad atau handphone. Saya tidak sedang berbicara itu. Saya berbicara tentang satu prinsip, apakah saudara-saudara mengerti? Prinsip pemuridan, prinsip mandat budaya tidak mungkin dilakukan pribadi, harus komunitas lawan komunitas!

Saya akan masuk selanjutnya, terakhir. Kita sudah bicara berkenan dengan apa yang Alkitab nyatakan. Perjalanan dari mana? Manusia memiliki potensi dan mengapa manusia bergerak untuk bisa berbudaya? Itu sebenarnya adalah perintah, penetapan Allah yang sangat agung. Tetapi penetapan Allah yang sangat agung sudah dirusak oleh dosa. Dosa sudah masuk ke setiap lapisan hidup manusia. Di manapun dan apapun saja yang manusia pikirkan dan hasilkan tidak lagi sempurna seperti yang dikehendaki Allah. Di dalam kebudayaan, saudara bisa melihat fakta kejatuhan, itulah sebabnya ketika saudara melihat kebudayaaan di manapun saja, apakah saudara mau pergi ke China atau saudara mau pergi ke Manado, saudara akan melihat gabungan antara suatu keindahan dan evil, kejahatan ada di dalamnya. Karena mandat budaya, orang yang tidak mengenal Kristus, tetap dapat menghasilkan sesuatu yang baik, karena anugerah umum. Mereka dapat membuat, mencari, menemukan, menghasilkan sesuatu yang berguna dalam setiap ide-ide mereka. Saudara bisa melihat ada penemuan-penemuan ilmiah dari manusia sampai sekarang - karya seni, hiburan, pekerjaan, dengan hasil-hasil yang luar biasa menakjubkan. Itu semua dapat tetap memajukan kemasyarakatan, tetapi tetap di hadapan Allah itu tidak baik dan berdosa, karena semuanya mereka lakukan dengan mencuri kemuliaan Allah. Ada fakta kejatuhan di dalam setiap kebudayaan. Biarlah kita boleh menyadari bahwa inilah yang kita hadapi dan inilah yang kita produksi. Hari ini kita sampai di sini dan minggu depan kita akan masuk di dalam fakta kejatuhan dosa di dalam kebudayaan dan apa yang Kristus kehendaki ketika Dia berhadapan dengan kebudayaan. Mari kita berdoa.

Alamat

556 - 558 Botany Road, Alexandria, NSW, 2015
sekretariat@griisydney.org
0422690913
0430930175

Social Media

Facebook GRII Sydney Instagram GRII Sydney Twitter GRII Sydney


Google Play Store
App Store

^