[simple_crumbs root="Home" /]
kembali

26 November 2023

Pdt. Agus Marjanto, M.Th

Christ and Culture (04) – Transforming Culture

Mat 28:18-20

Sebenarnya ini adalah topik yang luar biasa luas dan begitu dalam dan sampai masuk di dalam seluruh area di depan kita, tetapi kita tidak mungkin bisa mencapai satu persatu, bahkan dari setiap area itu dan mengotbahkannya seumur hidup kita. Di dalam 4 kali hari Minggu ini, saya hanya bermaksud untuk menyatakan sesuatu awareness supaya saudara dan saya muncul satu kesadaran apa yang sedang kita hadapi. Ketika bicara berkenaan budaya adalah bicara mengenai seluruh kehidupan kita dan Alkitab dengan jelas menyatakan tidak ada satu aspek di dalam hidup yang terlepas dari penguasaan Kristus. Di setiap tempat, di semua bangsa, pada semua area, dan di seluruh tatanan kehidupan di bumi dan di sorga, Kristus adalah Tuhan. Abraham Kuyper menyatakan, ‘Tidak ada satu inchi-pun di seluruh wilayah keberadaan manusia, yang mana Kristus yang berdaulat atas segala sesuatu tidak berteriak, this is Mine (milik-Ku).’ Selama tiga minggu kita sudah berbicara beberapa hal mendasar tentang Kristus dan kebudayaan. Apa definisi budaya itu? Budaya meliputi apa saja dan bagaimana budaya itu ada dan dapat berkembang sampai saat ini? Ada potensi yang Tuhan berikan di dalam hidup manusia dan ada perintah yang Tuhan sendiri nyatakan kepada kita untuk kita mengembangkan budaya. Pengembangan budaya bukan inisiatif kita, itu inisiatif dari Tuhan sendiri. Minggu yang lalu kita sudah bicara bagaimana dosa masuk dalam kebudayaan. Maka saudara bisa melihat hidup kita adalah hidup yang penuh dengan sesuatu keindahan dari Allah tetapi ada kejahatan-kejahatan di dalamnya yang bercampur. Dan dua ini akan terpisah pada waktu kedatangan Yesus Kristus yang kedua. Dan kita juga sudah bicara berkenaan bagaimana rencana Kristus untuk menebus, mentransformasi kebudayaan yang sudah jatuh dalam dosa. Yaitu melalui Roh Kudus yang bekerja dalam gereja-gereja lokal.

Hari ini kita akan bicara dengan beberapa poin lagi dan khususnya dengan hal-hal yang praktis. Hal yang pertama, ketika kita bicara berkenaan dengan mentransformasi kebudayaan, maka kita harus menyadari adanya kepentingan mutlak kelahiran baru. Ketika kita bicara mengenai budaya itu bukan cuma sekedar budaya, bukan bicara mengenai produk, ini adalah bicara mengenai pribadi yang membuat produk tersebut. Yesus Kristus mengatakan, “Karena itu pergilah jadikan seluruh bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa, Anak dan Roh Kudus.” Kita tahu itu adalah mandat injil, perintah untuk mengabarkan injil dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang Kuperintahkan padamu. Maka ini adalah sesuatu pembentukan budaya yang dikerjakan oleh seseorang yang sudah dilahirkan kembali. Kemudian Yesus di atasnya menyatakan segala kuasa sudah diberikan kepadamu. Segala kuasa di surga dan di bumi. Perhatikan kalimat di bawah ini, bicara mengenai mentransformasi kebudayaan, kita memerlukan kuasa yang besar. Ini bukan sekedar memberikan sesuatu kehidupan tanding dan cara hidup tandingan alternatif dibanding dunia. Kita memerlukan kuasa yang besar. Justification and sanctification pada diri kita diperlukan mutlak untuk perubahan budaya. Kelahiran baru yang membuat pembenaran dalam hidup kita dan adanya proses pengudusan seumur hidup kita diperlukan mutlak untuk mentransformasi kebudayaan kita. Maka kita minta terus kepada Tuhan, Tuhan berikan aku pengudusan-Mu dalam hidupku. Kadang sebagai orang Kristen kita berdelusi. Kita bisa melihat kesalahan-kesalahan dari dunia ini. Tetapi kita ternyata tidak mematikan dosa di dalam diri kita sendiri. Dosen saya mengatakan, “Setiap kali, engkau coba pikir, di mana letak kemenangan Kristus di dalam dirimu?” Di mana letak kemenangan Kristus di dalam diri kita? Kalau pada pagi hari ini, suara dosen tersebut saya akan katakan kepada saudara-saudara. Saudara sudah jadi orang Kristen mungkin 5 tahun atau 50 tahun. Kalau saya tanya, katakan kepada kami, katakan kepada saya, di mana letak kemenangan Kristus di dalam hidup kita? Dari dulu suka video porno, sampai sekarang suka video porno. Dulu suka menunda-nunda, puluhan tahun menunda-nunda, sampai sekarang terus menunda-nunda. Dari dulu suka marah-marah tidak terkendali, sampai sekarang marah-marah tidak terkendali. Dari dulu malas terus, sekarang juga malas. Saudara mau berbeda dengan dunia? Mulai dari diri kita terlebih dahulu dan baru kita menyadari kita memerlukan kuasa pengubahan itu. Kalau saudara melihat suami istri orang lain dan kita bisa mengatakan, “Kasihan ya orang itu ya. Berantem terus ya.” Saya mau tanya, bagaimana keluarga kita? Apakah sama atau berbeda? Maka kita harus mulai dari diri kita sendiri apakah benar-benar Roh Kudus bekerja menguduskan kita.

Hal yang ke-2 adalah pentingnya gereja. Sekali lagi saya menekankan berkali-kali bagaimana signifikansi kemuliaan gereja di tengah dunia ini. Kepentingan di hadapan Allah dan bagi dunia melampaui pikiran orang Kristen sekalipun yang dalam gereja. Kita mungkin pergi ke gereja dan berpikir, tidak pergi ke gereja tidak enak hari Minggu rasanya. Kita juga bukan berpikir oh saya mesti pergi ke gereja supaya anak-anak saya jadi baik. Oh, gereja itu kepentingan dan signifikansinya melebihi daripada semuanya itu. Alkitab dengan jelas menyatakan bahwa Yesus Kristus bicara kepada kesebelas murid dan murid-murid yang lain. Mereka akan menjadi agen perubahan terhadap dunia ini. Mereka menjadi komunitas yang menjadi komunitas alternatif terhadap dunia ini. Dunia ini akan melihat mereka karena mereka adalah kota di atas bukit. Sebaliknya, mereka juga akan menyebar ke seluruh dunia seperti garam. Sekali lagi, untuk mengubah dunia ini Yesus Kristus sudah naik ke surga. Bagaimana cara kerjanya untuk mengubah dunia ini? Melalui Roh Kudus yang bekerja di dalam gereja lokal. Itulah sebabnya saya katakan, dalam Alkitab dikatakan, kalau ada gereja lokal tetapi Roh Kudus ditarik kaki diannya, diambil, gereja itu tetap ada, tetapi area sekitarnya tidak ada perubahan apapun saja dan gereja tersebut akan habis-habisan, akan berjuang mati-matian hanya untuk terus-menerus memikirkan internal. Aku akan mengambil kaki dian. Kaki dian di dalam gereja jika diambil, maka tidak ada gunanya. Tapi gereja yang ada kaki diannya menjadi agen perubahan di tengah-tengah dunia. Itulah sebabnya berkali-kali saya minta kepada saudara-saudara, pagi hari ini, di dalam hati saya yang paling dalam saya minta sekali lagi kepada saudara-saudara berdoalah bersama-sama dengan kami karena Tuhan memakai siapa yang dia mau pakai. Dia mengasihani kepada siapa yang dikasihani. Saya tidak tahu saudara-saudara punya pengalaman seperti apa. Tetapi di dalam pengalaman hidup saya, saya sendiri bisa melihat begitu banyak gereja yang sudah diambil kaki diannya. Boleh ada boleh tidak. Tidak ada denyut jantung, tidak ada kuasa, tidak ada pengubahan apapun saja dan tinggal hanya worship yang kosong dan fellowship sama sekali tidak ada urusan dengan kekekalan. 

Hal yang ke-3, biarlah kita boleh mengingat pentingnya bumi. Ingat bahwa tugas kita, gereja ini adalah di bumi ini, saat ini. Ketika kita bicara mengabarkan injil, ‘Mari saudara-saudara mengabarkan injil.’ Selalu pikiran kita adalah, “oh supaya bikin orang itu dari neraka masuk ke sorga. Sehingga ketika kita mengabarkan injil biasanya, ‘Om saya mau tanya, om kalau nanti mati pergi kemana?’. Nanti Om-nya bilang, ‘Saya tidak tahu’. Om, terima Tuhan Yesus jadi bisa masuk ke sorga. Biasa seperti itu bukan mengabarkan injil? Iya itu adalah orang injili dan saya tidak katakan 100% salah. Tetapi kita harus belajar Firman. Ketika bicara berkenaan salvation, keselamatan bicara berkenaan dengan bumi dan surga. Ketika kita bicara berkenaan dengan progres pekerjaan Allah itu adalah di bumi ini terus sampai eskatologi, menghadirkan surga di tengah-tengah hidup kita. Tetapi jangan lupa bahwa tugas kita adalah memberi dampak di bumi ini, menghadirkan kerajaan surga di muka bumi ini. Boleh dikatakan dengan satu kalimat ini:  Kita adalah warga negara kerajaan surga yang berjuang di bumi ini sampai kerajaan-Nya itu hadir, kokoh di muka bumi ini.

Hal yang ke-4, adalah pentingnya pengubahan pikiran. Ketika bicara berkenaan dengan mentransformasi budaya, sekali lagi Kristus mentransformasi budaya melalui hidup kita adalah bicara berkenaan adalah sesuatu yang sifatnya itu inheren, di dalam diri kita. Itu adalah perngubahan hati, pengubahan pikiran dan baru kemudian menuju kepada seluruh aktifitas kita. Apa maksudnya? Ketika bicara mengenai mentransformasi kebudayaan itu bukan bicara mengenai simbol-simbol yang kita ubah. Ada orang berpikir kalau mentransformasi kebudayaan itu berarti mengubah karya seni menjadi traktat Kristen. Ada seorang montir mobil, lalu dia sudah mendengarkan prinsip ini, mentransformasi kebudayaan, lalu dia berpikir bagaimana memperbaiki mobil dengan cara Kristen. Tidak ada saudara-saudara! Saudara-saudara mau memperbaiki mobil saudara itu tidak ada secara khusus Kristen itu begini. Tidak ada saudara. Jangan masuk ke dalam fenomena. Jangan masuk dalam simbol-simbol. Saya akan memberikan contoh yang lebih sulit lagi untuk kita pikirkan. Kalau saudara lihat di dalam Kitab Suci, maka zaman Paulus adalah zaman di mana culture dari slavery itu ada, perbudakan itu ada. Salah satu buku yang bicara mengenai hal ini adalah kitab Filemon. Filemon punya seorang budak, namanya Onesimus. Kemudian Onesimus mencuri barang Filemon dan dia lari. Pada suatu saat, dia bertemu dengan Paulus dan bertobat. Kemudian apa yang dilakukan oleh Paulus? Paulus mengirim Onesimus kembali ke Filemon dan secara jabatan, maka Onesimus tetap menjadi budaknya Filemon. Tetapi Paulus mengatakan kepada Filemon, “Saya minta kepadamu, dari hatimu engkau menganggap dia menjadi saudara.” Maka di sini, saudara-saudara bisa melihat Paulus sebenarnya tidak sedang melawan fenomena budak. Tetapi dia menghancurkan inti perbudakan. Itu lebih penting daripada simbol kekristenan. Sekali lagi ketika kita bicara berkenaan mandat budaya, maka kita bicara berkenaan sesuatu yang inheren, bicara berkenaan dengan motivasi kita, tujuan kita, cara pandang kita dan worldview kita dan standar kita bekerja. Sekali lagi, ketika saya bicara mengenai worldview, perhatikan bahwa ini bukan bicara berkenaan pelajaran philosophical. Ada aspek philosophical, tapi worldview christian adalah bicara berkenaan biblical. Maka belajar Firman untuk mengubah cara pandang kita. Itu adalah sesuatu luar biasa penting. Dan ketika orang Kristen mengganti ban mobil, maka tidak ada cara Kristen mengganti ban, tetapi orang Kristen mengganti ban mobil untuk kemuliaan Allah.

Sekali lagi, saya memberikan satu contoh. Ada tiga orang, mereka adalah tukang batu yang sedang membangun sebuah gedung gereja. Ada seseorang tanya kepada orang pertama, “Bapak, apa yang engkau sedang lakukan?” Orang yang pertama itu mengatakan, “Engkau tidak lihat ya, saya sedang bangun dan saya sudah menyusun batu ini di atas batu yang lain.” Lalu dia menuju kepada orang yang kedua dan bertanya, “Bapak, apa yang engkau lakukan?” “Oh, saya sedang bekerja untuk bisa mendapatkan uang, menghidupi istri dan anak-anak saya.”  Kemudian dia pergi ke orang ketiga. Dia adalah orang Kristen, yang lahir baru. “Bapak, apa yang engkau sedang lakukan?” “Oh, saya bekerja untuk membangun sebuah gereja dan nanti suatu saat gereja ini terbentuk dan akan begitu banyak orang dari berbagai macam bangsa datang untuk menyembah Allah.” Perhatikan, tiga-tiganya adalah bekerja dengan pekerjaan yang sama, tetapi dengan visi yang berbeda. Kita harus belajar Firman dan minta Roh Kudus bekerja membentuk visi itu di dalam hati kita. Sepanjang saudara dan saya tidak mendapatkan visi itu, maka hidup kita tidak pernah ada gairah karena jiwa kita diciptakan Allah untuk menikmati Dia dan mempermuliakan nama-Nya. Maka kita bisa melihat Paulus pun mengatakan, “Jikalau engkau makan dan minum, lakukan itu untuk kemuliaan Allah!” Makan dan minum untuk kemuliaan Allah? Maksudnya makan dan minum, doa dulu kan? Lebih dari itu, ada satu gairah, satu api mengerjakan apapun saja dengan visi untuk Allah; visi yang kekal. Maka dari itu, pengubahan pikiran seperti Roma 12 itu penting sekali, karena begitu kita melihat pada Alkitab, kita mempelajarinya dan Roh Kudus mengajarnya lebih dalam, lebih kenal lagi, maka kita bisa tahu ada suatu yang berharga di tengah-tengah seluruh pekerjaan yang biasa seperti ini. Tanpa visi, maka tanpa satu penglihatan itu maka kita bekerja di mimbar gereja seperti saya pun bisa melihatnya untuk uang. Dengan visi, seorang peyusun batu-batu itu bisa melihat untuk kemuliaan Allah. Perhatikan, ini bukan bicara saya dari mimbar, dan orang itu tukang batu, bukan! Ini bicara berkenaan apakah Allah membuat kita, jiwa kita mengerti, mengerti visi dari kekekalan yang diberikan Allah oleh kita. Maka terus minta sama Tuhan, berdoa, ‘Saya kerja menjadi manager, kerja bagian finance, saya bekerja mejadi enginering, kerja jadi nurse, kerja di IT. Tuhan nyatakan kemuliaan-Mu, aku mau tahu apa aku kerjakan untuk kemuliaan-Mu. 

Hal yang ke-5, adalah pentingnya pengujian. Ketika gereja kita mau untuk bertampak bagi kebudayaan, maka setiap keluarga yang di dalam gereja ini belajar menguji segala sesuatu yang disodorkan dalam hidup kita oleh dunia. Kita harus menguji setiap hasil budaya yang kita dengar dan yang kita hidupi, yang kita lihat. Banyak dari kita, keluarga kita, tidak ada saringan sedikitpun ketika melihat TV, melihat tik-tok, melihat YouTube, mendengar music, tidak ada. Kita tidak punya sesuatu spirit untuk membedakan, discernment, di dalam diri kita. Kita harus mendalami Firman, kita harus belajar maju terus di dalam bergaul dengan Tuhan, baru bisa mendengar sesuatu, membedakan. Saya sangat tersentuh dengan apa yang ada dalam kitab Keluaran. Pada waktu Musa turun dari gunung bersama Yosua, kemudian mereka mendengar di seluruh rakyat Israel itu keriuhan, gaduh. Kemudian Musa bicara, “Apa yang engkau dengar Yosua?” dan Yosua mengatakan, “Aku mendengar teriakan perang.” Tetapi Musa, berada bersama-sama Yosua itu berapa kilometer kita tidak tahu, tapi itu berapa kilometer mendengar yang sama. Musa itu dekatnya dengan Tuhan itu seperti apa, sampai bilang, “Tidak Yosua, ini bukan teriakan perang, bukan kemenangan, bukan kekalahan, ini ibadah.” Apa yang terjadi? Harun sedang beribadah bersama dengan Israel, menyembah anak lembu emas. Saudara perhatikan, ada 3 orang di sana. Harun sendiri yang ikut dunia, yang sama-sama menyembah apa yang disembah dunia, tidak bisa membedakan. Yosua yang mendengar dari jauh tetapi dia tidak bisa mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Musa yang hatinya lembut sekali sampai bisa membedakan ini apa. Minta Tuhan membentuk hati kita begitu lembut dan jalan bersama Dia sehingga ada kepekaan. Orang yang tidak ada kepekaan selalu akan tanya “Salahnya apa kalau musik kaya begini, salahnya apa?,” dan orang tua biasanya langsung bantah anaknya karena bukan karena kepekaan sama Tuhan tetapi karena budayanya memang lain, nanti anaknya bilang, “Itu zamannya mama papa, sekarang aku lain!” Ya sudah, kalau sudah seperti ini, nanti argue tidak habis-habis. Dua orang dalam dua zaman yang berbeda, dengan dua budaya yang berbeda, satu rumah, argue tidak habis-habis. Maka, belajar untuk punya hati yang lembut dan berjalan untuk berjalan dekat dengan Tuhan, baru saudara bisa mengerti membelah itu seperti apa. 

Sekarang hal yang ke-6 adalah belajar membaca zaman. Terakhir ini belajar membaca zaman. Ya ini adalah sesuatu yang besar, sesuatu yang luas dan saya sendiri tidak mungkin terluput dari kesalahan ketika bicara berkenaan dengan hal ini. Dan saya tidak mungkin terluput dari blind spot di dalam hal ini, tetapi kiranya Tuhan mengasihani kita sama-sama. Tuhan Yesus sendiri mengatakan, “Sebelum engkau pergi ke laut, engaku sudah tahu membaca langit.” Ini diperlukan ketika mau melaut, nanti sebentar hujan, badai, atau laut tenang atau apapun saja. Nelayan sudah bisa membaca dari tanda-tanda di langit. Tetapi Yesus mengatakan, “Tetapi engkau kenapa tidak bisa membaca tanda zaman (the sign of the ages)?”  Setiap zaman itu memiliki tanda-tandanya, memiliki karateristiknya. Setiap waktu tertentu, saudara akan lihat ada hal yang dimunculkan paling tinggi di atasnya.

Apa yang muncul di dalam era medieval berbeda dengan enlightenment, apa yang ada di enlightenment berbeda dengan modern, apa yang di modern berbeda dengan postmodern. Setiap zaman maka ada spirit zamannya. Di dalam spirit zaman pasti ada evil-nya. Saya bisa bicara panjang lebar bukan karena kepandaian, tetapi ini adalah pembahasan yang luas sekali. Tetapi secara singkat untuk memberi kepada kita satu sense awareness maka saya akan coba untuk menjelaskan sesederhana mungkin mengenai zaman ini. Zaman ini disebut sebagai zaman postmodern dan postmodern age itu zaman seperti apa? Definisinya apa? Itu masalah besar. Karena postmodern sendiri tidak ingin untuk didefinisikan. Itulah sebabnya disebut sebagai postmodern, itu artinya setelah modern. Maka ini adalah sesuatu zaman yang sangat-sangat menentang sesuatu definisi yang ketat. Tetapi kalau sesuatu yang menentang sesuatu definisi yang ketat maka itu artinya bisa apa saja atau bisa tidak ada apa-apa saja. Seorang filsuf mengatakan postmodern seems to mean anything, everything and nothing. Saudara bicara mengenai postmodern bisa panjang lebar, tetapi kita musti mengerti karena kita hidup di zaman ini dan kita adalah orang-orang, anak postmodern. Kita bukan orang modern kita bukan orang medieval, kita adalah orang postmodern. Kita hidup pada zaman postmodern dengan budaya postmodern. Tetapi kita harus mengerti ada sesuatu yang sangat bahaya di dalam zaman postmodern ini. Maka saya melihat buku-buku dan mempelajarinya, tidak ada sesuatu yang lebih mudah untuk masuk melalui jalan ini. Tetapi memang ini adalah cikal bakal dari pemikiran postmodern. Mulai dari bahasa. Bahasa itu apa? Maka ketika saudara tanya setiap zaman, biasanya mereka akan, bahasa adalah alat komunikasi. Tetapi orang postmodern mengatakan bahasa adalah alat untuk memberi makna kepada sesuatu yang tidak bermakna. Maka contohnya adalah kalau saya tanya ini, ini apa? Maka saudara mengatakan ini buku. Pertanyaannya adalah kenapa ini namanya buku, bukan sandal? Kenapa? Karena orang pertama memberi nama ini buku. Kalau orang pertama kali kasih nama ini sandal, ini jadinya sandal. Mungkin saudara tidak percaya. Sekali orang postmodern mengatakan bahasa adalah memberikan arti, memberikan makna kepada sesuatu yang tidak ada maknanya. Mau apa saja boleh. Buku itu tidak ontological di dalam benda ini. Buku adalah sesuatu yang diberi namanya. Maka saudara perhatikan, kalau saudara tidak percaya. Interpreter ini namanya Kevin. Dia diberi nama Kevin dari papa mamanya, “Betul ya?” Kalau papa dan mamanya berunding pada waktu dan begitu Kevin keluar sebagai bayi, dia mengatakan namanya Hika, sekarang namanya Hika. Perhatikan, dia tidak ada namanya, dia keluar sudah begitu saja, tidak ada namanya, tidak ada apa-apa, dia kan tidak bisa berkata, “Namaku Kevin!” tidak mungkin kan saudara-saudara. Maka dia tidak ada makna apapun saja, saya, bukan saya, orangtuanya beri nama Kevin, maka namanya Kevin. Kalau dulu dikatakan namanya Joni, hari ini Joni. Kalau dia diberi sama papanya namanya Alfred, maka jadinya Alfred. Maka saudara perhatikan, Kevin tidak identik, tidak secara hakekat ada inheren di dalam dia. Itu adalah pemberian dari orangtuanya. Itu adalah penamaan, itu adalah bahasa. Memberi makna kepada sesuatu yang tidak bermakna. Prinsipnya adalah ketika seseorang memberikan nama kepada sesuatu yang tidak bermakna adalah bentuk penguasaan. Itulah sebabnya di dalam Alkitab dikatakan satu persatu binatang diberikan kepada Adam dan Adam memberikan nama itu, artinya, binatang itu bukan saja diberi nama, tapi dikuasai oleh Adam.

Kembali lagi, maka bahasa itu apa? Bahasa memberi makna kepada sesuatu yang tidak bermakna. Kenapa namanya piano? Kenapa bukan gendang? Karena orang pertama memberi nama piano. Kenapa ini tisu? Kenapa ini bukan sandal? Karena orang pertama bicara ini adalah tisu dan maka seluruh kita mengatakan ini tisu. Kenapa itu namanya kursi dan bukan meja? Karena orang pertama itu bicara itu adalah kursi. Maka perhatikan, karena nama itu tidak inheren di dalamnya, maka saudara sekarang bisa lihat apapun saja bisa berubah. Oh, ini bisa meja. Ini bisa sandal, kan tidak harus dong. Ini bisa pakaian. Saudara coba lihat kanan kirimu, kenapa itu musti namanya dia, ganti saja. Mau pake Upin Ipin juga boleh. Bahkan ada anak kecil, orangtuanya berkata, “Eh, namanya siapa?” Namanya Otong, memang Otong, namanya Otong begitu ya saudara, malu dia, ganti nama. Berarti kan tidak apa-apa dong itu bukan sesuatu yang inheren di dalam dirinya. Itulah di dalam philosophical disebut sebagai dekonstruksi. Dekonstruksi itu berarti sesuatu yang sudah konstruk itu dirubah semuanya. Maka tidak ada makna di dalam buku ini, buku ini dikasih maknanya dari luar dengan penamaan. Sekarang dengan konsep seperti itu dibawa masuk ke membaca Alkitab. Maka orang postmodern mengatakan ini membaca Alkitab? Kalau saya mengatakan ini yang Tuhan kehendaki, Yesaya menyatakan demikian, orang postmodern mengatakan ,“Jangan gitu pak Agus, tidak ada itu. Tidak ada Tuhan itu bicara tidak ada, ada juga engkau yang menafsir. Jangan bohongin jemaatmu, itu adalah pembacaanmu, itu adalah tafsiranmu, itu bukan Tuhan bicara. Karena sesungguhnya tidak ada sesuatu yang inheren, koheren di dalam teks ini, yang ada adalah engkau membacanya. Tidak ada lagi original meaning pak Agus, itu semua tidak ada lagi. Yesaya sudah mati dan juga ada gap kebudayaan. Apa yang menjadi budaya Yesaya berbeda dari budayamu, maka engkau mengatakan ada original meaning? Ah itu tidak mungkin, itu impossible yang ada adalah tafsiran Agus Marjanto.”  Maka ini menjadi masalah besar sekali. Sesungguhnya yang dikerjakan di dalam membaca Alkitab adalah kalau Yeremia bicara seperti itu arti sesungguhnya Yeremia mau ngomong apa sih. Tapi orang postmodern mengatakan, “Tidak, tidak mungkin Yeremia juga sudah mati sudah ribuan tahun, beda culture tidak mungkin engkau tahu. Maka, jangan bicara original meaning Pak Agus, yang ada adalah reader response, tafsiranmu. Nah maka kalau itu tafisranmu jangan bilang kamu itu benar dan orang lain salah. Jangan pernah bilang seperti itu.” Maka orang postmodern, spirit zaman postmodern itu menolak kebenaran absolut. Orang postmodern menyatakan tidak ada makna tunggal. “Kamu mau bicara seperti itu boleh Pak Agus, tapi orang lain yang berbeda bicaranya 180 derajat dari kamu itu, engkau harus hargai, karena memang tidak ada original meaning, yang ada semuanya adalah tafsiran.” Kalau tidak ada kebenaran absolut, maka seluruhnya akan runtuh. Ordo tidak lagi akan dihargai dan zaman ini adalah zaman yang anti high culture sehingga saudara ketemu sama lukisan abstrak itu mahal harganya, padahal tidak mengerti. Kalau saudara ketemu dari lukisan Mona Lisa, wah itu kan indah sekali bisa milliaran dollar, jutaan dollar, matanya, senyumnya, wajahnya. Tetapi sekarang aneh loh itu orang siapa saja bikin tidak karu-karuan begitu, dibingkai, miliaran. ‘Siapa yang bisa mengatakan bahwa Mona Lisa lebih tinggi, itu kan tafsiran kalau saya yang abstrak.’ Saya bisa panjang lebar, tapi saya selesaikan di sini. Saudara bertemu dengan zaman seperti ini, intinya mereka tidak ingin untuk ditegur. Kita tidak ingin untuk ditegur, ketika kita ditegur, “Itu kan kamu, kalau saya lain.” Zaman ini adalah zaman yang membenci seorang pengkhotbah yang berbicara sesuatu yang tegas. Zaman ini membenci itu. Zaman ini adalah zaman yang membenci seseorang yang mengatakan kebenaran, engkau tidak punya hak seperti itu karena memang tidak ada kebenaran. Yang paling penting adalah bukan dari Firman ini bicara apa kepada kita, tetapi kita menafsirkan yang paling penting adalah preferensiku. Itulah sebabnya jangan bilang LGBT itu salah, “Engkau preferensinya apa, engkau sama yang lain dari seks, lain gender silahkan, tapi jangan pernah bilang ini satu-satunya yang benar, tidak pernah boleh. Jangan pernah bilang ini satu-satunya dari Tuhan, kata siapa, Alkitab? Ayo kita sekarang debat saya akan baca Alkitab menurut penafsiran saya sendiri.” Maka adalah benar seperti seorang teolog mengatakan dari seluruh zaman sangat mungkin ini adalah zaman yang paling tinggi evil-nya, karena saudara tidak lagi bisa untuk mengerti kebenaran absolut itu apa. Saya akan akhiri.

Kenapa saya membawa sesi terakhir Christ and Culture ini kepada Matius pasal 28? Karena di situ Yesus mengatakan, “Segala kuasa di surga di bumi diberikan kepada-Ku dan Aku menyertai engkau senantiasa sampai pada kesudahan zaman.” Perhatikan kalimat di bawah ini, seseorang bisa mengerti kebenaran, apalagi pada zaman postmodern ini, itu benar-benar anugerah Tuhan yang besar. Dan seorang pengkhotbah yang bisa menyatakan Firman dan diterima oleh orang lain dan orang lain boleh tunduk kepada kebenaran Alkitab maka memerlukan kuasa yang memegang surga dan bumi, yaitu kuasa dari Yesus Kristus. Saudara pikir ketika bicara berkenaan khotbah menyatakan kebenaran itu masalah sederhana? Tidak, ini masalah peperangan rohani besarnya luar biasa. Banyak orang Kristen berpikir ketika kuasa itu adalah ketika ada orang kesurupan, kemudian hamba Tuhan tumpang tangan, lalu dalam nama Yesus Kristus keluar, itu adalah kuasa, betul itu adalah kuasa. Tetapi tetap kuasa yang lebih besar adalah kuasa untuk mengubah pikiran di tengah zaman philosophy postmodern seperti ini. Maka gereja, berdoalah! Minta kuasa Tuhan. Minta urapan Tuhan untuk pelayanan-pelayanan kita, karena ini adalah sesuatu yang sebenarnya mission impossible. Kiranya kasihan Tuhan menyertai kita. Mari kita berdoa.

Alamat

556 - 558 Botany Road, Alexandria, NSW, 2015
sekretariat@griisydney.org
0422690913
0430930175

Social Media

Facebook GRII Sydney Instagram GRII Sydney Twitter GRII Sydney


Google Play Store
App Store

^