[simple_crumbs root="Home" /]
kembali

10 December 2023

Pdt. Agus Marjanto, M.Th

Knowing God (2) – External Signs

Filipi 3:10-14

Pagi ini kita akan melanjutkan tema yang penting ini yaitu Knowing God - Mengenal Allah. Tema ini saya masukkan sebelum tahun ini berakhir untuk mengingatkan kita semua akan jangkar dari seluruh perjalanan hidup kita. Saya mau menegaskan ini dan biarlah ini boleh menjadi suatu kalimat yang saudara masukkan di dalam hati. Jikalau kita ada di dalam Kristus Yesus, segala sesuatu yang kita lakukan dan segala sesuatu yang terjadi di dalam hidup kita, semuanya berpusat kepada satu hal, yaitu mengenal Allah. Gereja ini bergerak, gereja ini berproses, gereja ini berjalan secara rohani diukur dari satu hal ini. Apakah makin mengenal Allah atau tidak? Ini adalah sesuatu yang penting yang Tuhan nyatakan di dalam Alkitab. Berkali-kali dalam hidup saya, kalau saudara-saudara mendengarkan apa yang terus menerus saya khotbahkan dari mimbar sejak pertama kali saya berkhotbah sampai saat ini, saudara akan menemukan satu tema yang menjadi benang merah dari seluruh message saya. Saya sendiri diajar oleh Tuhan dan saya sangat-sangat terkejut akan kebenaran firman Tuhan ini. Saya masuk dalam seminari, saya terus memeriksa diri saya, apakah yang saya inginkan dengan seminari? Apakah saya ingin berkhotbah? Tidak. Apakah saya ingin menjadi hamba Tuhan? Tidak. Saya tahu orang yang menjadi hamba Tuhan adalah orang yang sangat-sangat berharga karena Tuhan memberikan tangan kanan-Nya kepada dia. Saya tahu orang yang diurapi Tuhan berkhotbah sangat berharga dalam Kerajaan Allah, karena Kerajaan Allah intinya adalah Kristus yang difirmankan dan dikhotbahkan. Tetapi saya tahu saya tidak punya hak menjadi hamba Tuhan. Saya tidak memiliki hak untuk berkhotbah. Kalau begitu, kenapa saya berani pergi ke seminari dan meninggalkan seluruh pekerjaan saya yang baik? Saya terus bergumul berhari-hari, bertahun-tahun untuk hal ini. Bahkan sampai pagi hari saya masuk ujian di seminari, sebelum saya masuk ke dalam seminari, sebelum diterima, harus ada ujian. Pagi itu kurang lebih jam 6 pagi saya sudah sampai di seminari. Kalau saya lewat sedikit waktu saja dari rumah, saya pasti akan terlambat sampai seminari itu karena sangat jauh dan sangat macet di Jakarta. Saya sering sekali keluar jam 04:45-04:50 pagi keluar untuk pelayanan di Jakarta. Pagi itu pertama kali saya masuk seminari. Seminari dibuka jam 8, jam 6 pagi saya sudah sampai. Pagi itu saya ingat sekali hujan dan saya tunggu di mobil. Belum ada satu murid pun yang datang ke seminari. Pintu belum dibuka dan jalanan masih sepi. Saya parkir di depan seminari dan saya memandang pintu yang tertutup itu. Pertanyaan itu muncul lagi, kenapa mau melepaskan seluruhnya dan masuk seminari? Apakah untuk menjadi terkenal atau menjadi orang yang mendapatkan uang dari berkhotbah? Apakah untuk mendapatkan ketenaran dalam sebuah gereja? Bagaimana kalau engkau menjadi hamba Tuhan yang tidak tenar? Bagaimana kalau orang tidak menghargai engkau? Kenapa engkau meninggalkan semuanya dan mau masuk seminari? Pertanyaan ini terus ada sepanjang hidup saya. Bahkan pagi ini pun pertanyaan itu terus saya pikirkan. Di sana saya memandang seminari itu, dengan air mata saya katakan kepada Tuhan, Engkau tahu isi hatiku. Aku tidak ingin yang lain, aku ingin mengenal Engkau. Berikan aku pengenalan akan Engkau, aku cuma ingin mengenal Engkau. Terus menerus itu ada di dalam hati saya. Dan yang Tuhan ukir. Itulah yang di dalam hati, yang terus saudara akan temukan dalam setiap hamba Tuhan.

Kalau kita melayani saat ini, kalau guru-guru sekolah minggu mengajar, kalau guru-guru remaja mengajar, kalau senior berkumpul, kalau PA wanita melakukan persekutuan, saya mau tanya untuk apa? Seluruh pelayan biarlah saudara mengingat hal ini untuk apa? Kalau saya pagi ini berkhotbah, untuk apa Agus? Hanya satu untuk makin mengenal Engkau, aku makin mengenal Engkau dan seluruh jemaat makin mengenal Engkau, itu saja, dan semakin kita melayani apakah kita semakin mengenal Allah atau tidak? Jikalau tidak ada pengenalan Allah yang bertumbuh, maka seluruh aktivitas gereja kita kosong dan tidak berkenan di hadapan Allah. Pengenalan akan Allah itu dasar, energi, motivasi, kekuatan seseorang untuk melayani. Jikalau seseorang memikirkan hatinya sendiri untuk tidak dilukai, begitu dia dilukai, dia tidak mungkin mau melayani. Jikalau seseorang melayani, motivasinya uang, begitu sudah tidak dapat uang atau berkurang sedikit pendapatan uangnya pasti akan rasa rugi dan tidak mau melayani. Alkitab dengan jelas menyatakan apa yang membuat seseorang tetap bisa melayani. Apa yang membuat seseorang tetap bisa kuat melangkah di tengah-tengah kesulitan yang ada di dalam pelayanan. Jawabannya adalah mengenal Allah. Orang yang mengenal Allah akan tetap kuat dan bertindak. Musa adalah salah satu orang yang paling banyak disalah mengerti. Seluruh anak-anak muda di tempat ini, kalau engkau sungguh-sungguh mau mendedikasikan hatimu bagi Tuhan. Perhatikan hal yang pertama. Salib yang pertama adalah engkau akan kesulitan dalam keuangan, tetapi saudara akan melihat Tuhan mencukupkan hal itu. Dan yang ke-2 adalah salib. Yang ke-2 ini, ini dua salib yang paling sering tetapi sebenarnya dalam Alkitab adalah pelajaran yang paling rendah yaitu disalah mengerti terus. Semakin kita mengeluarkan kalimat untuk dimengerti, kita makin disalah mengerti. Maka kekuatan seorang hamba Tuhan cuma diam. Bicara hanya kepada Tuhan ketika sendirian dan minta pertolongan Tuhan untuk terus bisa maju meskipun disalah mengerti dan kadang sampai kepada fitnah. Kita tidak perlu untuk dimengerti oleh manusia. Tetapi kita dikenal oleh Allah, itu adalah kepuasan jiwa kita.

Pengenalan akan Allah menjadi kekuatan kita untuk terus maju melayani. J.I. Packer menyatakan jikalau pengenalan akan Allah menjadi center hidup kita, maka segala sesuatu akan jatuh pada tempat yang semestinya. Bahkan pengenalan akan Allah lebih penting daripada pelayanan. Masa-masa tertentu di dalam diri seseorang kadang diambil seluruh pelayanannya, tetapi yang penting adalah pengenalan akan Allah tetap diajarkan Allah kepada dia, maka orang tersebut akan tetap memiliki arti di dalam hidupnya bagi kerajaan Allah. Perhatikan satu kalimat yang penting ini, arti hidup kita di dalam Kerajaan Allah bukan posisi kita di dalam gereja. Ayub tidak memiliki posisi apapun di dalam gereja, tidak memiliki pelayanan apapun di dalam gereja dan bahkan pelayanan sosialnya, karena dia begitu baik. Diambil oleh Tuhan berada di dalam kesesakan yang luar biasa. Apakah orang ini tidak berguna? Apakah orang ini tidak ada guna apa-apa dalam hidupnya? Tetap berguna. Kenapa berguna? Bukan karena nilai seseorang. Dia adalah mahkluk hidup, dia adalah manusia maka berguna, tidak. Tetapi dia berguna karena di dalam kesesakannya, Allah tetap mengajarkan pengenalan akan Dia. Dia mengatakan setelah seluruh pergumulannya. Ternyata seluruh pergumulan Ayub Tuhan memberikan satu prinsip. Seluruh pergumulan itu dengan satu tujuan “Engkau, Ayub, supaya engkau mengenal Aku lebih lagi.” Maka Ayub dalam akhir pergumulan itu mengatakan “Dulu aku tahu tentang Engkau dari orang-orang lain, tapi sekarang mataku melihat Engkau sendiri.”

Di akhir tahun ini kita perlu memeriksa diri apakah saudara dan saya makin bertumbuh mengenal Allah atau tidak. Self-examine, memeriksa diri adalah suatu keperluan yang mutlak di akhir tahun ini dan sekarang saya tanya seandainya saudara dan saya mengingat Natal pada tahun ini. Kristus datang dari surga untuk apa? Untuk memperkenalkan, menyatakan yang tadinya tertutup, Allah kepada manusia. Yesus tidak bermaksud mendirikan sebuah agama yang baru. Yesus tidak bermaksud mengajarkan bagaimana beretika yang baik kepada manusia. Yesus datang tidak bermaksud untuk menyembuhkan orang. Yesus datang untuk menyatakan siapa sesungguhnya Allah yang tidak dikenal kita, manusia berdosa. Yang mengenal Dia itulah yang mendapatkan keselamatan. Yohanes 17:3 menyatakan hidup yang kekal adalah mengenal Engkau dan mengenal siapa yang Engkau utus. Mengenal Allah adalah suatu dealing, interaksi pribadi kita berdasarkan Firman. Perhatikan hal di bawah ini, jikalau saudara dan saya adalah orang Kristen yang sejati, tetapi tidak ada pertumbuhan pengenalan Allah, maka hidup kita akan kering. Kita akan capai. Kita tidak akan ada gairah. Saya akan jelaskan sekali lagi dengan sedikit kesaksian.

Gereja ini dibentuk oleh Tuhan untuk mengerjakan banyak hal. Maksud saya adalah setiap gereja itu unik. Jadi setiap gereja ada bentukan Tuhan sendiri di dalamnya kalau gereja itu sejati. Pasti tidak sempurna, pasti ada salah di sana-sini, pasti ada kekurangan di sana-sini, tetapi saudara bisa melihat ada panggilan khususnya dan ada pelajaran-pelajaran rohani yang khusus yang diberikan oleh Allah melalui pemimpin setiap gereja, kecuali gereja itu adalah gereja yang tidak sejati, gereja yang hanya ada dalam sebuah performance kemudian melepaskan setiap jemaatnya dan tidak ada tarikan sedikit pun tentang spiritualitas. Tetapi, gereja yang sejati pasti ada suatu tarikan dalam spiritualitas, sama seperti sebuah sekolah, begitu anak-anak itu selesai, pasti ada pekerjaan rumahnya, ada projek-projek yang harus dia kerjakan, bukan cuma datang lalu bersenang-senang dan pulang. Ketika saya masuk ke dalam gereja ini, bukan saja ketika menjadi hamba Tuhan, sebelumnya bahkan, masih menjadi jemaat, apalagi sudah menjadi hamba Tuhan, saya merasakan ada satu rasa yang mungkin juga sebagian dari saudara-saudara rasakan saat ini, tetapi yang jelas, perasaan ini kelihatannya ada di banyak hamba Tuhan karena saya sharing dengan hamba-hamba Tuhan pada waktu itu. Perasaan apa itu? Perasaan terseret-seret. Ini belum selesai, ada lagi. Belum beres, ada lagi. Banyak sekali tanggung jawab. Apalagi kalau saudara-saudara menjadi hamba Tuhan di GRII. Di sini tidak ada spesialisasi. Hanya mengajar, hanya berkhotbah, hanya mengabarkan Injil, hanya menggembalakan. Gereja ini di dalam bentukan Tuhan, melalui Pdt. Stephen Tong, membentuk kami mengatakan, setiap orang yang mengabarkan Injil, harus menggembalakan, harus mengajar. Saya bisa bicara panjang lebar dan mengatakan ini adalah penemuan yang “luar biasa dan benar.” Saya bisa bicara panjang lebar dan ada argumen di sini, yang akhirnya setelah saya jalani, ini adalah benar. Banyak sekali hamba-hamba Tuhan termasuk saya, tadinya salah mengerti karena di dalam Alkitab ada 5 jabatan. Yang pertama adalah rasul, yang kedua adalah Nabi, dan dua jabatan ini sudah tidak ada lagi. Kemudian tinggal tiga jabatan. Tiga jabatan itu adalah penginjil, pengajar dan gembala. Dari pertama saya belajar di seminari, kita berpikir kita pasti punya salah satu dari tiga jabatan ini dan mengerjakan hanya satu dari tiga ini. Tetapi Pdt. Stephen Tong mengatakan, “Tidak! Engkau harus kerjakan tiga-tiganya.” “Hah? Tiga-tiganya? Satu saja setengah mati apalagi tiga-tiganya.” Awalnya kita semua menggerutu. “Masa bisa begini?” Tetapi ini adalah sesuatu yang kemudian mulai cerah. Sekarang pertanyaannya, Paulus mengerjakan satu atau tiga-tiganya? Bagaimana dengan Yohanes? Bagaimana dengan Petrus? Bagaimana dengan semua hamba Tuhan yang lain? Oh, saya baru sadar, orang yang terus menggembalakan, kekuatan pengajarannya akan berkurang. Dan orang yang terus mengajar, kadang pengajarannya sampai ke awan-awan dan tidak bisa masuk ke dalam hati jemaat, karena ada disconnect dari apa yang diajarkan dan realita hidup. Orang yang tidak mau mengabarkan Injil, pasti dia bisa benar di dalam doktrin tetapi tidak memiliki api yang berkobar. Tetapi pengertian ini muncul setelah belasan tahun tidak mengerti. Kembali lagi, yang saya mau katakan adalah saya terseret-seret. Respon normal kita sebagai manusia adalah kurang lebih dua ini. Yang pertama adalah liburan makin banyak. Saya kasih disclaimer dulu, saya tidak sedang membuat anda guilty feeling mau liburan bulan Desember ini. Bukan itu maksud saya. Ini saya sedang cerita, kalau terseret-seret biasanya ngapain. Pertama adalah liburan, kedua mengurangi pelayanan. Bahkan saya tahu sendiri ada gereja yang begitu banyak pelayanannya dan karena semuanya rasa terseret-seret, kemudian gembala utamanya mengatakan kita tidak akan ada rapat dan apapun saja sepanjang 2 bulan untuk semuanya bisa reda sedikit. Tetapi perhatikan baik-baik, masalahnya bukan di sana. Ketika saudara pulang dari liburan atau bahkan saudara mengurangi pelayanan, setelah berjalan beberapa waktu, saudara akan tetap rasa terseret-seret, akan tetap rasa capai dan tidak akan ada sukacita. Poinnya bukan liburan, bukan juga kurangi pelayanan.

Lihat seluruh rasul, lihat seluruh nabi atau lihat jemaat mula-mula yang begitu berat tanggung jawabnya. Mereka semua melayani, bahkan di tengah aniaya besar. Bagaimana mereka memiliki api yang tidak bisa padam? Bagaimana mereka memiliki energi yang tidak pernah kendur? Poinnya bukan mengurangi pelayanan, poinnya adalah kita berjalan di dalam track yang salah. Track yang salah adalah saya tidak berjalan semakin mengenal Allah. Saya tidak melayani bersama dengan Allah. Saya tidak melayani dengan memandang wajah Allah dan mencari kekuatan kuasa-Nya. Saya mau mengingatkan mengenai Musa, kalau saudara-saudara mengingatnya, ini adalah khotbah pertama ketika saya ada di Sydney. Musa, tanggung jawabnya besar sekali dan Musa pada waktu itu di titik yang paling melelahkan. Bahkan titik di mana dia boleh dikatakan gagal. Dia dengan pedang yang Tuhan suruh membunuh 3000 pengikutnya sendiri. Siapa pemimpin yang membunuh jemaatnya sendiri? Tetapi ini adalah kehendak Allah. Problem hidup Musa besar dan kalau kita menjadi dia, kita akan berhenti di titik itu. Kita akan merasa kalah, kita akan merasa guilty feeling, kita akan merasa malu, kita merasa gagal. Sungguh-sungguh, kita akan berhenti di titik itu. Tetapi Musa, di tengah-tengah berhenti dan memang dia mau berhenti di titik itu. Dia kemudian dengan suara lirihnya menyatakan satu permintaan. Permintaan itu adalah, “Show me Thy glory.” Nyatakan kepadaku kemuliaan-Mu. Itu adalah kalimat lain daripada aku ingin mengenal Engkau. Paulus tidak menyatakan “Show me Thy glory.” Paulus menyatakan, “Aku ingin mengenal Engkau.” Perhatikan ada dua hal yang membuat orang Kristen sejati kalah. Kalau saudara dan saya sejati, yang membuat kita kalah atau kelelahan. Yang pertama adalah ada dosa yang kita sembunyikan. Yang kedua adalah kita tidak bertumbuh mengenal Allah.

Pengenalan akan Allah harus real. Tidak bisa orang ke-3 dari orang lain. Pengenalan akan Allah adalah pergaulan yang semakin lama semakin intim dengan pribadi Allah, harus I and Thou relationship. Aku dengan Allah saja. Sama seperti saudara, bagaimana bisa mengenal sebuah apel selain saudara menggigit apel itu sendiri? Mengunyah dan memasukkan di dalam perut kita sendiri bukan ke perut orang lain, bukan mulut orang. Ini adalah pertaruhan pribadi kita sendiri dengan Allah. Pertumbuhan pengenalan akan Allah adalah anugerah tetapi Alkitab juga mengatakan ini perlu diminta. Perlu dikejar dengan tekun, dengan segenap hati terus menerus. Perhatikan baik-baik satu kalimat yang tadi saya katakan, pengenalan akan Allah itu anugerah tetapi perlu diminta. Perlu dikejar dengan tekun, segenap hati, terus menerus. Allah tidak dengan mudah menyatakan pengenalan itu kepada kita, bukan karena Dia pelit tetapi ini adalah sesuatu yang berharga. Kepada jemaat yang dikasihi-Nya, Dia mau mengajarkan nilai pengenalan akan Dia. Sesuatu yang mudah dikejar dan didapatkan, maka itu tidak ada harganya, tetapi pengenalan akan Allah adalah sesuatu yang paling berharga. Itulah sebabnya Tuhan tidak dengan mudah memberikannya kepada kita. Itulah sebabnya dalam jemaat Filipi, Paulus menyatakan, “Aku mengejarnya.” “Mengejar?” “Oh, engkau kejar?” “Iya, aku kejar, aku kejar sungguh-sungguh, aku berlari sungguh-sungguh.” “Oh, Paulus, pasti dong kamu mendapatkannya?” “Tidak, tidak, aku tidak pernah menganggap mendapatkannya, tetapi ini yang aku lakukan; aku melupakan yang di belakangku, aku tidak peduli, aku sudah mengenal Dia lebih atau tidak, tetapi aku mau mengenal Dia lebih lagi.” Pengenalan akan Allah haruslah kita kejar. Ini adalah suatu jangkar dalam hidup kita. Sebagai gembala di tempat ini; ini adalah Firman Tuhan. Firman ini menjadi pelita bagi hidup kita. Tujuan gereja ini bukan mengumpulkan saudara dan saya. Tujuan gereja ini bukan misi. Tujuan gereja ini juga bukan untuk Sunday School. Tujuan gereja ini bukan untuk menjadi terang dan garam bagi dunia. Tujuan gereja ini bukan saudara dan saya makin mengerti teologi Reformed. Mari kita kembali lagi kepada jangkarnya, kepada center-nya, untuk apa seluruh itu ada? Tujuan gereja ini, kalau Tuhan berkenan adalah kiranya Dia menyatakan pengenalan-Nya kepada kita. Karena orang yang bertumbuh mengenal Dia adalah orang yang mengerti panggilan-Nya, mengerti isi hati-Nya, mengerti ke mana Dia melangkah. Ini adalah center segala sesuatu. Kalaupun saudara adalah guru Sekolah Minggu, saudara berkhotbah. Kalaupun saudara adalah seorang misionaris, saudara dikirim ke satu tempat dan kemudian berkhotbah di tempat itu bahkan orang-orang yang di Biak saat ini dan yang melayani di sana, tujuannya bukan membuat asrama, tujuannya bukan membuat, mengajar anak-anak dari tidak bisa membaca, menjadi bisa membaca, tapi tujuan seluruh pelayanan kita adalah membuat (kalau Tuhan kehendaki, adalah sesuatu yang besar) adalah agar kiranya pengenalan Allah hadir kepada semua orang yang kita layani. Ini adalah panggilan kita. Sekarang saya akan masuk, sebelum saya mengakhiri semuanya.

Jikalau pertumbuhan pengenalan Allah terjadi, akan berdampak seperti apa di dalam hidup kita? Hati seperti apa yang terbentuk jikalau seseorang makin mengenal Allah? Perhatikan satu kalimat yang penting di bawah ini. Seseorang yang makin mengenal Allah maka dia makin fear of the Lord. Takut akan Allah. Saya tidak suka dengan bahasa Indonesia ini; takut akan Allah. Tetapi Alkitab mengatakan berkali-kali fear of the Lord, dan itu ada dalam Perjanjian Lama. Saya pernah bicara ini, mungkin satu dua kali di tempat ini. Saya akan tegaskan hal ini sekali lagi untuk mengingatkan kita semua. Kata fear of the Lord pada zaman Reformasi, maka dijabarkan oleh Calvin dengan kata piety, pietas atau godliness. Di dalam bahasa Indonesianya yaitu kesalehan. Apa itu piety atau kesalehan atau fear of the Lord? Saya minta saudara-saudara mengingat apa yang ada di power point ini. Saya sudah pernah bicara ini dan saya menegaskan ini sekali lagi. Saya akan membacakan dalam bahasa Indonesia: Kesalehan sejati terdiri dari perasaan tulus yang mencintai Tuhan sebagai Bapa, yang diikuti dengan perasaaan yang sama besarnya dengan yang pertama yaitu rasa takut dan hormat kepada-Nya sebagai Tuhan, menerima kebenaran-Nya dan takut menyakiti hati-Nya, lebih daripada takut akan kematian. Saudara-saudara akan menyadari kalau kita bertumbuh mengenal Allah, maka aspek-aspek ini ada di dalam hati kita. Pasti tidak mungkin sempurna atau maksimal; tetapi semakin lama, akan semakin tumbuh fear of the Lord. Semakin lama, semakin saleh. Saudara perhatikan 2 hal yang penting di sini, yaitu mencintai Tuhan sebagai Bapa serta takut dan hormat kepada-Nya sebagai Tuhan. Menerima kebenaran-Nya dan takut menyakiti Dia lebih daripada takut akan kematian. Kalau ini ada di dalam hati kita, ini ada di dalam hati anak-anak kita dan bertumbuh, maka saudara tahu kita tidak perlu mengkuatirkan apapun saja. Kita kadang telepon anak kita, “Kamu lagi di mana?” Mungkin ada sebagian orangtua telepon cuma mau tanya informasi, ada sebagian yang worries; ‘Nanti dia lakukan ini bagaimana? Dia lakukan itu bagaimana?’ Tetapi bentuklah di dalam hati anak-anak kita, hati yang seperti ini. Tentu saudara setuju dengan hal ini. Tetapi pertanyaannya adalah; hati seperti ini, bukan bentukan pendidikan, ini adalah bentukan pengenalan akan Allah. Dan untuk menegaskan pentingnya kesalehan ini. Calvin di dalam commentary 1 Timotius 4 menyatakan (saya akan translate ke dalam bahasa Indonesia secara keseluruhan): “Anda melakukan hal yang paling bernilai, jika dengan segenap semangat dan kemampuan, anda mengabdikan diri pada kesalehan saja. Kesalehan adalah awal, pertengahan dan akhir kehidupan Kristen di mana ini lengkap, tidak ada yang kurang. Ketika kita sudah mencapainya, Tuhan tidak menuntut lagi apapun dari kita.” Calvin mengulangi apa yang ada dalam Filipi yang kita baca tadi (meskipun dia menuliskannya untuk commentary 1 Timotius) dia mendorong jemaatnya untuk sungguh-sungguh dan dengan seluruh kemampuan mendedikasikan untuk pelayanan? Tidak, tetapi untuk mengejar kesalehan ini. Kesalehan adalah awal, pertengahan dan akhir dari kehidupan kekristenan. Ketika ini ada, ketika ini sempurna, tidak ada sesuatu yang kurang. Tentu kita tidak mungkin sempurna, tetapi melihat arah yang Calvin katakan; ketika ini ada, Tuhan tidak menginginkan, tidak menuntut atau tidak meminta apapun lagi. Hal yang lain, Calvin juga mengatakan: “Tuhan telah menetapkan bagi kita suatu jalan yang melaluinya, Dia dipermuliakan oleh kita, yaitu kesalehan yang terdiri dari ketaatan kepada Firman-Nya.” Tuhan menetapkan jalan bagi kita untuk mempermuliakan Dia. Jalannya adalah jalan fear of the Lord. Fear of the Lord tidak mungkin terbentuk dengan sendiri, ada suatu prinsip di dalamnya dan prinsipnya adalah pengejaran akan Allah, pengenalan akan Allah.

Sekarang saya akan akhiri dengan tanda eksternal orang yang bertumbuh mengenal Allah. Minggu lalu kita sudah bicara tanda internal atau sign atau tanda-tanda seseorang di dalam dirinya makin mengenal Allah. Sekarang adalah tanda orang yang bertumbuh mengenal Allah secara eksternal. Saya akan bicara dengan cepat 4 hal ini. Saudara bisa melihat ini dari buku J.I Packer; Mengenal Allah. Ini adalah buku yang saya terus menerus bicara kepada seluruh pemimpin KTB untuk mendidik semua anak-anak KTB mulai dari buku ini. Dampak eksternal orang yang bertumbuh mengenal Allah.

Yang pertama; orang yang bertumbuh mengenal Allah memiliki energi yang besar bagi Allah. Ini adalah energi rohani. Ini adalah energi yang kita perlukan untuk hidup dan juga untuk melayani di dalam kehendak Allah. Saya tidak akan bicara panjang lebar mengenai hal ini, tetapi jikalau pengenalan Allah redup, maka kita tidak akan kuat dan tidak akan bertindak. Semakin banyak kita punya pelayanan, jika pengenalan akan Allah redup, maka kita akan makin capai, melambat dan kita akan makin terseret, maka kita harus mengejar pengenalan akan Allah. Di dalam poin ini, maka J.I packer menyatakan mesti mencari wajah Allah di dalam doa. Doa dan pertumbuhan pengenalan akan Allah itu sesuatu yang paralel.

Hal yang ke-2, orang yang semakin bertumbuh dalam pengenalan akan Allah, memiliki pemikiran-pemikiran besar tentang Allah, memikirkan hal-hal yang besar bagi Allah. Ini adalah sesuatu yang sering sekali orang Kristen carnal, orang Kristen yang kedagingan tidak mengerti. Orang berpikir kalau sudah bicara berkenaan dengan suatu pekerjaan Allah yang besar, maka ini adalah suatu ambisi. Jawabannya benar, tetapi ambisi apa? Kita harus memiliki ambisi yang kudus. Perhatikan orang yang semakin mengenal Allah; diajar sedemikian rupa, semakin lama semakin memiliki horizon yang semakin luas. Bukan untuk dirinya terkenal, bukan membuat menara gading seperti Babel, tetapi makin ingin setiap tempat, setiap bidang, setiap negeri, setiap bangsa, setiap bahasa; nama Allah dikenal. Pada akhir abad ke-18, William Carey, seorang bapak misionari modern (pada waktu itu tentu dia tidak dikenal sebagai bapak misionari modern), William Carey menyampaikan khotbah yang pada akhirnya menjadi khotbah yang sangat berpengaruh dan khotbah ini sangat menantang. Temanya sendiri dilekatkan pada hidup William Carey, dan temanya adalah: “Mengharapkan hal-hal yang besar dari Tuhan dan mengupayakan hal-hal yang besar bagi Tuhan.” Ini kalimat yang penting. Kalau saudara membaca sejarah gereja, kalimat ini terus diulang-ulang. Orang yang berjalan bersama Allah, orang yang mengenal Allah; akan memiliki kekuatan kuasa, api Roh Kudus, dia mengharapkan hal-hal yang besar dari Allah dan mengupayakan hal-hal yang besar bagi Allah. Expect great things from God and attempt great things for God. Aneh ya? Kalau melihat, mendengar khotbah minggu lalu. Seorang yang mengenal Allah di dalam diri-Nya dibentuk simplicity of heart. Simplicity; sederhana. Dengan segala sesuatu yang Tuhan berikan, dia bersyukur. Dia tidak bersungut-sungut menginginkan a, b, c, d untuk dirinya; tetapi untuk Allah. Dia menginginkan suatu jangkauan yang besar, sesuatu jangkauan yang luas, menginginkan hidupnya dihabiskan untuk Allah, untuk nama Tuhan dikenal dan ditakuti di antara seluruh bangsa. Perhatikan 2 hal ini menjadi satu keindahan di dalam diri kita. Orang yang mengenal Allah memiliki simplicity di dalam hatinya, tetapi memiliki ambisi di dalam pikirannya untuk Allah. Kalau orang dunia, orang Kristen yang tidak bertumbuh, punya ambisi yang besar untuk diri dan memiliki pikiran-pikiran yang kecil untuk Allah. “Begini?” “Oh, gak mau.” “Begitu?” “Gak mau.” Tetapi kalau untuk diri; “Harus dapat ini,” “Harus dapat itu,” Semuanya terbalik. William Carey menantang gereja pada zamannya untuk tidak berpuas diri dan harus melakukan misi ke luar negeri.

Hal yang ke-3; orang yang mengenal Allah menunjukkan keberanian yang besar bagi Allah. Ketika J.I Packer mengajarkan hal ini, dia melihat seluruh daripada; Daniel, Sadrakh, Mesakh dan Abednego. Orang yang semakin mengenal Allah akan melihat salib dan kerugian bukan masalah tetapi privilege.

Dan terakhir, hal yang ke-4 dan kita akan akhiri khotbah ini, orang yang makin mengenal Allah akan memiliki kepuasan yang besar di dalam Allah. Apa contentment kita? Apa kepuasan kita? Apakah saudara dan saya orang yang puas? Coba kita berpikir, kita menguji diri. Apakah kita meributkan hal-hal yang kecil? Apakah kita meributkan hal-hal yang dunia? Apakah kita iri kepada orang lain? Apakah kita terus menerus seperti orang Israel yang menggerutu sepanjang perjalanan? Kalau itu ada, berarti kita bukan orang yang puas, dan bukan puas di dalam Tuhan. Kalau kita adalah orang yang puas di dalam Tuhan, kita akan ada ketenangan, kedamaian, kestabilan di dalam hati. Karena kita tahu meskipun kita bisa marah, meskipun kita pertamanya bisa goncang, tetapi kemudian kita akan tenang lagi, kita tahu bahwa yang terpenting adalah relasi dengan Allah, pertumbuhan pengenalan akan Allah tetap ada. Pengenalan akan Allah, memandang Allah yang besar dan berelasi dengan kita adalah kunci agar kita tidak ribut di dalam hal-hal yang kecil. Untuk kita puas di dalam Tuhan dan tidak iri terhadap hal-hal apapun saja yang dimiliki oleh orang lain, tidak rebutan dengan orang lain. Saya akan akhiri ini dengan satu ilustrasi yang beberapa kali sudah pernah saya katakan, tetapi saya perlu mengatakan ini untuk mengingatkan sekali lagi.

Ada telur burung rajawali yang pecah di tengah-tengah telur anak-anak ayam. Dia tidak tahu bahwa dia adalah anak burung rajawali. Dia setiap hari berebutan butiran-butiran beras itu di bawah. Kalau sudah gelap dan ada thunderstorm, lalu takut sama seperti semua anak-anak ayam. Sampai suatu saat, tiba-tiba ada satu burung rajawali yang besar melayang di udara. Dia mengepakkan sayapnya. Anak burung rajawali yang tidak tahu dia adalah rajawali, dia lihat: “Wuih, itu bagus ya.” Dia tanya sama yang dikira mamanya: “Itu siapa?” “Itu rajawali.” “Oh, bisa terbang ya? Kita bisa terbang atau tidak?” “Tidak, tidak bisa. Kita cuma bisa terbang satu meter, lalu turun lagi, dan you jangan pikir macam-macam, jangan mimpi macam-macam. Engkau paling tinggi, paling terhormat adalah Kentucky Fried Chicken, tidak lebih daripada itu.” Kemudian dia pikir hidupnya seperti itu, kalau ada sedikit nasi dikasih pengunjung, langsung diambil, cepat-cepatan, rebutan sama anak-anak ayam. “Oh, ndak mau kalah. Ini punyaku, hidupku tergantung dari ini.” Sampai suatu hari ada awan gelap mulai menutup dan semua anak ayam bersama dengan induknya takut dan masuk ke sarangnya. Tetapi burung rajawali kemudian terbang, dan semua anak-anak ayam ini melihat: “Apa yang akan dilakukan sama burung rajawali itu? Apakah dia akan takut bersembunyi seperti kami?” Oh, mereka semua menunggu waktu itu. “Pasti akan seperti kami, pasti akan seperti kami,” tetapi tidak; burung rajawali itu mengepakkan sayapnya dan seluruh tempat itu makin lama makin gelap. Sebentar lagi guntur akan terdengar dan angin sangat-sangat besar. Apa yang akan dilakukan oleh rajawali itu? Dia mengepakkan sayapnya sekuatnya, bukan ke atas; dia ke bawah, sampai di titik yang terbawah kemudian dia naik, dan sampai di titik tertentu dia kemudian kembangkan seluruh sayapnya. Lalu dia menembus langit itu, menembus awan yang gelap, sampai bertemu lagi dengan matahari. Dia kemudian memekik pekikan kemenangan, semua anak ayam lihat itu. Sama seperti kita melihat Sadrakh, Mesakh, Abednego, lihat Musa: “Aku bukan, aku bukan, itu orang besar.” Saya katakan satu hal, itu adalah orang biasa seperti saudara dengan saya, bedanya adalah mereka mengenal Allah, kita tidak. Sepanjang anak burung rajawali tidak kenal siapa bapaknya, dia terus rebutan yang tidak berguna dalam hidup ini. Tidak peduli dia anaknya siapa, tapi dia rebutan sesuatu yang tidak berguna dalam hidup ini. Kalau seseorang menyerang saudara, kalau seseorang salah paham sama saudara, jelaskan satu kali dan orang itu tidak mau tahu; tidak usah sakit hati, lepaskan, karena itu bukan sesuatu yang penting untuk kita pertahankan. Uang kita tidak penting untuk dipertahankan! Nama kita tidak perlu untuk dipertahankan! Apapun saja tidak perlu dipertahankan! Satu hal yang perlu; Apakah Allah tetap melihat kita atau tidak? Itu segala-galanya! Cari wajah Allah, cari kekuatan-Nya, bukan cari hal-hal yang kecil di dunia. Kiranya kasih Tuhan menyertai hidup kita. Kiranya Tuhan tetap mengarahkan pandangan-Nya kepada jemaat yang kecil ini, GRII Sydney. Mari kita berdoa.

Alamat

556 - 558 Botany Road, Alexandria, NSW, 2015
sekretariat@griisydney.org
0422690913
0430930175

Social Media

Facebook GRII Sydney Instagram GRII Sydney Twitter GRII Sydney


Google Play Store
App Store

^