[simple_crumbs root="Home" /]
kembali

31 December 2023

Pdt. Agus Marjanto, M.Th

Kesia-siaan Hidup

Maz 39: 1-14

Ini Adalah salah satu Mazmur yang sangat-sangat indah dan sangat-sangat saya sukai. Karena Mazmur ini bicara sesuatu yang real, yang jujur dan pergumulan yang terdalam di dalam hati Daud. Alkitab adalah kitab yang jujur, yang tulus dan yang terbuka, mencatat bagaimana manusia-manusianya Allah. Orang-orang yang suci, bahkan. Yang sungguh-sungguh Tuhan pakai, bahkan! Yang sungguh-sungguh Tuhan urapi, bahkan! Tetapi mereka bukanlah orang yang dengan rohani yang seakan-akan itu tinggi. Mereka adalah orang-orang yang jujur dengan real life yang dibuka kepada para pembaca. Ada pergumulan. Ada dosa. Ada kesulitan hidup, dan mereka berkeluh-kesah.

Siapakah Daud? Bukankah seseorang yang diurapi oleh Roh Kudus? Siapakah Daud? Bukankah orang yang dikatakan biji matanya Allah? Bukankah orang ini adalah satu contoh seorang yang sangat rohani bagi gereja Tuhan masa kini? Dan, Yesus Kristus di dalam Kitab Wahyu mengatakan: “Aku pemegang kunci Daud.” Itu artinya dalam setiap perkataan-perkataan Daud, kita menemukan satu prinsip Kristologi yang luar biasa limpah dan kental, tetapi kalau saudara-saudara membaca Mazmur pasal 39, apa yang terjadi? Oh, Daud berada di dalam suatu jurang yang luar biasa dalam. Kalau saudara-saudara membaca ayat-ayatnya, ada 2 hal yang terjadi dalam saat yang bersamaan di dalam diri Daud. Yang pertama adalah Daud, baru saja selesai berbuat dosa (atau Daud baru saja melakukan dosa), dan kemudian Tuhan menghajar dia. Pada saat yang sama, di dalam waktu yang sama, musuh-musuhnya ada di depan dia dan mau menyergap dia. Jadi saudara-saudara bisa melihat 2 hal ini bergabung di dalam waktu yang sama, di dalam diri Daud. Tangan Allah menekan dia dengan kuat karena dosa, dan dari tulisan-tulisannya sangat mungkin Daud sakit keras karena dosa. Beberapa penafsir mengatakan mungkin sekali apa yang ditulis di dalam Mazmur 39 adalah setelah dia menulis Mazmur pasal 51. Mazmur pasal 51 menyatakan suatu pergumulan dan pengakuan dosa Daud. Kemudian, ada waktu di mana Tuhan menghajar dosanya, dia menjadi sakit dan Tuhan menghadirkan musuh-musuhnya di depan dia untuk menghabisi dia. Ini adalah sakit yang sangat mungkin bisa membawa kepada kematian dan musuhnya yang mengetahui seluruh peristiwa dan keadaan Daud ini, berusaha mengambil keuntungan dari kondisi ini, dari keadaan sakitnya.

Saudara-saudara, lihatlah betapa krusialnya dan dia ada di ujung jalan, di tepi jurang sebelum dia akan mati. Saudara-saudara, sekarang apakah kita bisa melihat betapa jujurnya dan terbukanya Daud ini? Dia bukan orang yang menutup dosanya. Dia bukan orang yang mengatakan, “O, bagaimana keadaanmu? Aku baik. Allah itu hebat!” Dia bahkan mengatakan, “Sia-sia hidupku.” Orang yang dipakai oleh Tuhan. Orang yang diurapi oleh Roh Kudus. Tetapi inilah yang Alkitab ajarkan kepada kita. Saudara jangan berpikir bahwa orang-orang yang dipakai oleh Tuhan itu adalah seperti Superman yang tidak pernah mendarat ke bumi. Dan, saudara juga tidak dibentuk oleh Tuhan menjadi seorang Superman, kekuatan rohani yang dahsyat yang tidak terkalahkan. Itu bukan kehendak Allah untuk membuat saudara itu tidak bisa jatuh atau tidak pernah tersandung. Ya, kita diminta untuk berhati-hati dalam hidup, tetapi, Alkitab dengan jelas menyatakan kita adalah manusia yang fana, manusia yang terpolusi dosa, manusia yang sungguh-sungguh mudah sekali untuk rentan, untuk jatuh ke dalam dosa, tetapi Alkitab juga mengajarkan ketika kejatuhan terjadi, ketika masalah yang besar terjadi, apa respon kita?

Saudara-saudara, Daud sedang berada di dalam kesusahan besar, dihajar oleh Allah dan dihadang oleh musuh tetapi di tempat yang lain, Daud terus menerus berusaha dengan seruannya memegang Allah dan tidak melepaskan-Nya. Di saat seperti itu, di saat sakitnya yang dalam, maka Daud memikirkan secara serius kehidupannya. Pikiran-pikirannya mencapai dasar-dasar fundamental apa yang terjadi sesungguhnya di dalam hidup. Inilah salah satu dari kecelakaan kita manusia. Kadang manusia, kita semua harus diberikan kesulitan agar memiliki waktu untuk berpikir, untuk merenung, untuk bermeditasi. Kalau seluruhnya dalam keadaan lancar dan senang, maka kemudian kita tidak sering berpikir dalam. Kata ‘berpikir’ di sini dalam bahasa Inggrisnya dalam Mazmur pasal 39 adalah ‘muse’. Tetapi kalau saudara-saudara melihat di jalanan, ada tempat-tempat ‘amusement.’ Itu menambahkan kata ‘a’ di depan kata ‘muse’ itu artinya adalah ‘tidak.’ Itu artinya tidak perlu berpikir; jangan berpikir. Tempat kita bermain itu adalah bukan tempat kita berpikir. Di sini Mazmur pasal 39, Daud menegur kebodohan manusia yang tidak mau berpikir dalam akan hidupnya.

Saudara-saudara, hari ini adalah hari terakhir dari tahun 2023. Apakah saudara hari ini mau berpikir serius tentang hidupmu? Jikalau tidak mau lagi, kapan kita mau berpikir serius tentang hidup kita? Apa yang sudah kita lakukan sepanjang tahun 2023? Apa yang sedang kita kerjakan dalam satu tahun ini? Apa yang terjadi dalam hidup kita sepanjang satu tahun ini? Apa yang saudara dan saya sudah lakukan? Dan, apa yang saudara dan saya yang belum lakukan di hadapan Allah di dalam tahun ini? Hal-hal fatal apakah di dalam hidup atau keputusan-keputusan fatal apakah di dalam hidup yang sudah kita kerjakan sepanjang tahun ini? Kegagalan-kegagalan apa dan karena apa hal-hal ini terjadi sepanjang satu tahun ini? Saudara-saudara, ada orang yang hidupnya itu persis seperti sebuah sehelai daun yang jatuh dari pohon dan kemudian terkena angin dan tidak tahu ke mana. Bukan seharusnya hidup seperti ini. Dalam keadaan yang sakit, yang hampir mati, Daud berkeluh-kesah. Dia berkeluh-kesah dan memikirkannya di dalam kesakitannya, apa yang sebenarnya terjadi? Dan apa sesungguhnya, siapa dia itu? Apa sesungguhnya manusia itu?

Di dalam ayat yang ke-3. Maka saudara-saudara bisa melihat Daud mengatakan, “Aku keluh, aku diam, aku membisu, aku jauh dari hal yang baik, tetapi penderitaanku makin berat.” Daud tidak membuka mulutnya. Saudara-saudara, ada pelajaraan yang baik di sini. Saudara-saudara, adalah lebih baik diam terutama di depan orang fasik ketika kita sedang ada di dalam pergumulan khususnya dalam hajaran Tuhan. Orang-orang fasik akan dapat mengambil kalimat-kalimat kita dalam pergumulan kita untuk menghina Tuhan yang kita sembah. Meskipun Daud berada dalam hajaran Tuhan, tapi dia berusaha untuk diam di depan musuh. Dia katakan, “Aku hendak menahan mulutku dengan kekang selama orang fasik masih ada di depanku.” Lalu kalau begini, apakah tidak diperbolehkan untuk men-share-kan pergumulan kita kepada orang benar? Alkitab dengan jelas menyatakan, saling menanggunglah engkau di dalam bebanmu. Itu artinya adalah persekutuan di dalam gereja, di dalam orang-orang benar. Itu adalah memang Tuhan memberikan sarana untuk kita menyalurkan pergumulan yang terdalam, yang mendesak hati kita, tetapi, janganlah kita begitu khawatir sampai kemudian kita mengandalkan orang lain. Saudara-saudara, sekali lagi. Kita diperbolehkan untuk men-share-kan pergumulan kita dengan rekan-rekan seiman dan jangan bicara satu kalimat pun kepada orang fasik karena dia akan mengambil kalimat kita dan mencerca Tuhan kita. Tetapi, ketika kita men-share-kan pergumulan kita dengan rekan-rekan seiman kita, jangan kita bergantung kepada manusia. Manusia tidak dapat menyelesaikan masalahnya. Kesulitan, air mata terdalam kita hanya bisa diselesaikan oleh Allah yang bertindak bagi kita untuk menyelesaikannya.

Saudara-saudara, sekali lagi. Daud menyadari keadaan di depan dia. Meskipun dia berada di dalam dosa dan hajaran Tuhan, tetapi dia berusaha untuk mengekang lidahnya untuk dia tidak lebih bersalah kepada Allah. Dia berusaha mengekang lidahnya untuk tidak diambil kalimatnya oleh orang lain dan kemudian nama Tuhan itu dipermalukan. Itulah yang dia lakukan di depan manusia. Dan, sekarang dia menghadap Allah. Dan, kalau saudara-saudara melihat dari ayat yang ke-5, apa yang dia nyatakan? Keluh-kesah yang terdalam dinyatakan secara pribadi kepada Allah. Tetapi, ketika dia berbicara kepada Allah, dia mengingat bahwa Allah itu adalah Allah Perjanjian (God of Covenant). Dia bukan saja berbicara kepada Allah menyampaikan keluh-kesahnya, tapi dia berbicara kepada Allah yang berjanji di dalam Kristus Yesus. Dan, dia kemudian menyatakan, “Beritahukanlah kepadaku ajalku, dan apa batas umurku, supaya aku mengetahui betapa fananya aku!” Biarlah kalimat ini pada pagi hari ini menjadi ayat hafalan kita. Ini adalah kalimat yang didoakan oleh orang yang rohani.

Saudara-saudara, di dalam Perjanjian Lama, ada 2 orang yang menyatakan kepada Tuhan di dalam doanya. “Tuhan, kasih tahu aku kapan aku mati?” Kalau saudara-saudara melihat dalam Perjanjian Lama, ada seseorang raja yang meminta umurnya diperpanjang. Tetapi ketika umurnya diperpanjang, saudara bisa melihat di dalam sisa umur yang diperpanjang itu, sepanjang umur yang diperpanjang itu ternyata makin banyak dosa yang diperbuat oleh dia. Saudara-saudara, tetapi, Daud dan Musa, orang yang mahir rohani ini adalah orang yang mendoakan, “Tuhan, kasihtahu kapan aku mati?” Dua orang ini adalah orang yang diurapi oleh Tuhan dan dipakai oleh Tuhan tetapi dua orang ini adalah orang yang menyadari bahwa itu pasti akan berakhir.

Saudara-saudara, ketika saya membaca biography atau autobiography orang-orang yang dipakai oleh Tuhan, maka saya menemukan ada beberapa tema khotbah atau beberapa tulisan-tulisan mereka yang mirip. Dan, salah satu yang paling mirip di antara seluruh orang yang dipakai oleh Tuhan adalah selalu memiliki tema khotbah (atau catatan harian) tentang berakhirnya umurnya dia. Kalau saudara-saudara melihat Pendeta Stephen Tong, saudara-saudara bisa membeli satu buku namanya ‘Waktu dan Hikmat.’ Dan, saudara bisa melihat pengertian dia akan waktu yang begitu singkat. Dan, Pendeta Stephen Tong sendiri pernah divonis akan satu penyakit yang dokter mengatakan hanya beberapa bulan saja hidupnya akan berakhir. Kalau saya tidak salah, Pendeta Stephen Tong pernah sharing seperti ini. Ketika dia sudah mendapatkan vonis dari dokter itu, kalau saya tidak salah, mungkin umurnya 6 bulan atau 1 tahun lagi, maka kemudian dia berbicara kepada istrinya, “Aku sudah siap kalau Tuhan panggil aku.” Tetapi istri saya mengatakan, “Aku belum siap untuk jadi janda.” Saudara-saudara, itu kejadian waktu Pak Tong masih sekitar umur 40 atau 45 tahun.

Saudara-saudara, apa yang mau saya katakan adalah saya melihat orang-orang yang dipakai oleh Tuhan selalu memiliki kepekaan waktu seperti ini. Apakah orang tersebut umurnya itu nanti pendek atau panjang dan dalam case Pendeta Stephen Tong ternyata penyakit itu bisa dilalui dan tidak menghasilkan kematian. Orang-orang ini adalah orang-orang yang memiliki kepekaan yang sangat tinggi akan akhir umurnya. Orang-orang Puritan boleh dikatakan, semua orang Puritan yang saya baca memiliki kepekaan yang sama seperti ini. Sehingga kalau saudara-saudara melihat, mereka memiliki satu tema khotbah yang sangat umum adalah the art of dying well. Itu adalah seni sekarat atau seni menghadapi kematian yang baik. Ini adalah sesuatu seni hidup, bukan seni mati. Tetapi, seni hidup itu harus mengerti ending-nya. Sehingga mereka mengatakan, “Bagaimana seni hidup untuk menghadapi kematian?” Tetapi, ketika mereka bicara mneghadapi kematian, itu bukan bicara mengenai future. Kematian itu seakan-akan sekarang ini terjadi.

Saudara-saudara, inilah yang dikatakan oleh Daud, “Tuhan, tunjukkan kepadaku kapan aku mati.” Dan, “Tuhan juga, tunjukkan kepadaku batas umurku,” demikian kata Musa. Daud berdoa untuk ini. Dia mengatakan, “Tunjukkan kepadaku, kapan ajalku, supaya aku takut berbuat dosa. Apa batas umurku sehingga aku mengetahui betapa fana aku ini?” Karena hidupku itu sia-sia. Musa menyatakan, “Kasihtahu kapan aku mati supaya akau bisa mengatur waktu yang masih sisa, Tuhan.”

Saudara-saudara, memandang segala sesuatu dari titik eskatologi (titik akhir) untuk kita boleh hidup saat ini. Saudara-saudara, karena kalau tidak mengerti titik akhir dan dari titik akhir mengisi hidup sekarang, kita itu tidak tahu cara untuk menghidupi hidup yang sia-sia. Saudara-saudara, perhatikan ayat 6-7. Saudara melihat bagaimana Daud itu melihat hidupnya. “Sungguh hanya beberapa telempap saja Kau tentukan umurku; bagi-Mu hidupku seperti sesuatu yang hampa. Ya, setiap manusia hanyalah kesia-siaan! Sela. Manusia hanyalah bayangan yang berlalu! Ia hanya mempeributkan yang sia-sia dan menimbun, tetapi tidak tahu, siapa yang meraupnya nanti. Sekali lagi saudara-saudara, kalau saudara dan saya tidak mau memikirkan hidup saat ini dari kacamata eskatologi yaitu kematian kita, Daud mengatakan, “Engkau orang bodoh.” Karena engkau harus tahu, hidup kita (bukan hidup saudara saja, bukan hidup saya saja, hidupnya Daud) hidup kita ini singkat, dan sangat kosong adanya dan tiada artinya.

Saudara-saudara, di dalam 2 ayat saja, saudara-saudara melihat Daud mengatakan, “Hidup ini fana, hanya beberapa telempap saja umurku.” Hanya beberapa tarikan napas saja. Hidup ini hampa, kosong. Hidup ini bayangan. Oh, saudara-saudara. Shadow. Saudara-saudara, kalau saya tidak menemukan ayat-ayat seperti ini, saya tidak percaya bahwa Daud itu bergumul sampai seperti ini. “Ini orangnya Tuhan lho, Ini orang rohani, lho.” Tapi kemudian baru saya menyadari, orang dunia yang sia-sia tidak pernah menyadari kesia-siaannya. Sama seperti kegelapan tidak pernah menyadari kegelapan. Orang yang buta tidak pernah menyadari bahwa dia sesungguhnya itu buta. Saudara-saudara, orang yang dilahirkan buta, dia tidak pernah tahu bahwa itu sebenarnya adalah tidak normal. Kita orang yang bisa melihatlah yang bisa mengatakan orang ini buta. Orang yang di dalam teranglah yang bisa mengatakan orang itu berada dalam kegelapan. Orang yang hidupnya sia-sia, dia tidak pernah merasakan bahwa dia seungguhnya sia-sia. Tetapi sebaliknya, anak-anak Tuhan seperti Daud yang diterangi oleh Tuhan akan keadaan hidup yang susungguhnya, dia menyadari bahwa tanpa belas kasihan Allah hidup ini sesungguhnya singkat, kosong, tiada berarti, sia-sia. Sangat singkat, kelihatan lalu kemudian lenyap. Bayangan.

Saudara-saudara, bukankah kalau saudara mendengarkan kalimat Daud ini, saudara teringat akan apa yang ada dalam Yakobus 4:13-16 mengatakan demikian: ‘Jadi sekarang, hai kamu yang berkata: “Hari ini atau besok kami berangkat ke kota anu, dan di sana kami akan tinggal setahun dan berdagang serta mendapat untung”, sedang kamu tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Apa arti hidupmu? Hidupmu itu sama seperti uap yang sebentar saja kelihatan lalu lenyap. Sebenarnya kamu harus berkata, “Jika Tuhan mengkehendakinya, kami akan hidup dan berbuat ini dan itu.” Tetapi sekarang kamu memegahkan diri dalam congkakmu, dan semua kemegahan yang demikian adalah salah.’ Saudara-saudara, lihat apa yang didefinisikan oleh Yakobus di sini. Orang yang merasa memiliki kepastian hidup akan masa depan adalah seseorang yang congkak. Oh, seseorang yang tidak mau memikirkan bahwa hidupnya singkat adalah orang yang sombong.

Saudara-saudara, kalau saudara melihat di dalam kitab suci kita, kita akan menemukan kalimat-kalimat yang menusuk kita sampai begitu dalam. Dosa itu ada dalam hati kita dan memiliki lapisan-lapisan yang bahkan kita tidak mengerti. Tentu kita semua setuju, kalau misalnya ada seseorang yang mengatakan, “Saya kaya, eh kamu orang miskin,” itu saudara kita lihat, orang seperti itu kita katakan bahwa orang ini adalah orang sombong. Oh, kalau kita melihat seseorang, “Eh, kamu orang tidak berguna, aku ini orang paling berjasa,” kita tahu bahwa orang itu sombong. Tetapi kita mengatakan, “Aku bukan orang sombong, aku tidak melakukan itu semua!” Tetapi Yakobus mendefinisikan seseorang yang sombong adalah; seseorang yang tidak mau memikirkan hidupnya saat ini dengan kacamata eskatologi. Berpikir bahwa hidup itu akan konstan dan lama.

Satu hal yang Tuhan nyatakan di dalam Firman-Nya dan di dalam providensia-Nya pada pagi hari ini, hidup kita akan berakhir. Hidup kita akan berakhir, dan kalau kita tidak memikirkan hidup yang masih sehat sekarang dengan akhir hidup kita sebagai kacamata. Maka kita akan segera mengerti bahwa hidup itu cepat, kosong dan sungguh-sungguh tidak ada artinya. Tetapi ketika ketika sudah mengerti pada saatnya, sudah terlambat. “Hidup itu cepat, dan hidup itu seperti bayangan,” Daud menyatakan demikian. “Hidup itu cepat dan uap, sebentar saja kelihatan lalu lenyap,” Yakobus menyatakannya. Musa juga menyatakan hal yang sama. Mazmur 90:5 menyatakan: “Engkau menghanyutkan manusia; mereka seperti mimpi, seperti rumput yang bertumbuh, di waktu pagi berkembang dan bertumbuh, di waktu petang lisut dan layu. Masa hidup kami tujuh puluh Tahun dan jika kami kuat, delapan puluh tahun, dan kebanggaannya adalah kesukaran dan penderitaan, sebab berlalunya buru-buru dan kami melayang lenyap.” Bukankah sangat mengejutkan saudara-saudara? Nabi dan rasul mengatakan hal yang sama, dengan gambaran yang sama, dan dalam kitab Musa dikatakan, seperti mimpi. Rumput hari ini ada, besok tidak ada.

Saudara-saudara, sekali lagi biarlah kita boleh mengerti ini. Tuhan tidak akan mengaruniakan informasi kepada kita kapan kita akan mati. Sekudus apapun kita, sehebat apapun kita, diberkati, diurapi, dipakai apapun kita; Tuhan tidak akan menginformasikan kepada kita, kapan sesungguhnya kita akan mati tetapi yang diminta oleh Musa, yang diminta oleh Daud adalah meminta anugerah supaya Tuhan menyadarkan kita bahwa hidup ini singkat. Bukan saja tahu, tetapi sadar bahwa hidup ini singkat sehingga tidak bermain-main di dalam hidup ini, sehingga mengurangi dosa di dalam hidup ini, sehingga hidup lebih berbakti, lebih berdedikasi, lebih melayani Tuhan dalam hal ini karena segala sesuatu itu ada batasnya.

Saudara-saudara, Daud menyatakan hidup ini sia-sia, tadi saya sudah katakan karena sangat singkat dan hampa sekali tetapi Daud juga menyatakan hidup itu sia-sia bukan saja karena hampa, singkat, tetapi juga karena harus menghadapi hajaran Tuhan akan dosa. Saudara perhatikan ayat 12: ‘Engkau menghajar seseorang dengan hukuman karena kesalahannya, dan menghancurkan keelokannya sama seperti gegat; sesungguhnya, setiap manusia adalah kesia-siaan belaka. Sela.’ Saudara-saudara perhatikan 2 kata “sela” ini. Dua-duanya digabungkan dengan kesia-siaan. Pertama adalah kesia-siaan karena kehampaan dan kecepatan hidup. Tetapi yang kedua adalah karena hajaran Tuhan terhadap dosa kita, maka kita itu menjadi sia-sia. Saudara-saudara, bukankah Musa menyatakan hal yang sama. Saudara-saudara, di dalam Mazmur 90:7 dikatakan: ‘Sungguh, kami habis lenyap karena murka-Mu, dan karena kehangatan amarah-Mu, kami terkejut. Engkau menaruh kesalahaan kami di hadapan-Mu, dan dosa kami yang tersembunyi dalam cahaya wajah-Mu. Sungguh, segala hari kami berlalu karena gemas-Mu, kami menghabiskan tahun-tahun kami seperti keluh. Masa hidup kami tujuh puluh tahun dan kalau kami kuat, delapan puluh tahun, dan kebanggaannya adalah kesukaran dan penderitaan; sebab berlalunya buru-buru, dan kami melayang lenyap. Siapakah yang mengenal kekuatan murka-Mu dan takut kepada gemas-Mu?’ Saudara-saudara, ada paralelitas tematik yang sangat dalam antara Mazmur 39 dan Mazmur 90. Saudara-saudara, kalau saudara-saudara membaca Ayub 7:6-21, saudara akan menemukan tema yang sama lagi. Misalnya saja ayat 17: ‘Apakah gerangan manusia, sehingga Engkau memperhatikan dengan sangat, dan Engkau datangi setiap pagi, dan Kauuji setiap saat? Bilakah Engkau mengalihkan pandangan-Mu dari padaku, dan membiarkan aku, sehingga aku sempat menelan ludahku?’ Perhatikan ayat 20: ‘Kalau aku berbuat dosa, apakah yang telah kulakukan terhadap Engkau, ya Penjaga manusia? Mengapa Engkau menjadikan aku sasaran-Mu, sehingga aku menjadi beban bagi diriku? Dan mengapa Engkau tidak mengampuni pelanggaranku, dan tidak menghapuskan kesalahanku karena sekarang aku terbaring dalam debu, lalu Engkau akan mencari aku, tetapi aku tidak akan ada lagi.’ Sama seperti Mazmur 39:14, Daud juga berteriak hal yang sama. “Oh Tuhan, alihkan pandangan-Mu terhadap aku ya Tuhan, supaya aku bisa bersukacita sebelum aku pergi dan tidak ada lagi!”

Saudara-saudara, inilah yang membuat kepedihan setiap orang-orang kudusnya Tuhan. Apa yang menjadi kepedihan hatimu dan hatiku? Sepanjang satu tahun ini, apa yang memedihkan hatimu? Oh, mungkin diputus sama pacar? Oh, mungkin bunga bank naik sehingga kita menjadi orang yang bangkrut? Oh, mungkin kita tidak mendapatkan pekerjaan? Oh, saudara-saudara banyak hal yang membuat hati kita itu hancur tetapi orang-orang kudusnya Allah melihat kehancuran yang paling dalam adalah ketika dia berdosa dan tangan Tuhan itu menghajar dia. Dua hal ini. Singkatnya hidup di dalam kehampaan dan hajaran Tuhan terhadap dosanya, maka itu membuat orang sucinya Allah itu menangis. Dia menyadari dirinya nothing.

Saudara-saudara kita itu nothing. Dari dalam diri; hidup itu singkat dan hampa. Di hadapan Allah, kita berdosa dan Dia menimpakan hukuman terhadap dosa kita dan di depan kita, musuh itu mau menghancurkan kita. Saudara-saudara perhatikan ayat 13: ‘Sebab aku menumpang pada-Mu, aku pendatang seperti semua nenek moyangku.’ Aku ini alien. Aku ini stranger. Aku ini adalah seorang yang asing bagi-Mu. Saudara-saudara, ketika saya membaca ini, pertama kali hati saya itu remuk. Kita, orang-orang kudusnya Tuhan adalah pilgrim. Kita, orang-orang kudusnya Tuhan adalah perantau. Pendatang. Alien di bumi ini. Tetapi di sini dikatakan; kita juga adalah pendatang. Perantau. Alien bagi Tuhan. Kita adalah orang berdosa bagi Dia. Lalu apa harapan kita? Kita orang yang tidak memiliki tanah, tidak memiliki apapun saja kepemilikan di bumi ini. Apa yang menjadi penderitaan Daud di sini? Dia menyatakan, “Aku orang asing bagi-Mu karena dosa.” Dia bukan siapa-siapanya Tuhan tetapi di dalam keadaannya yang seperti itu, dia mengatakan, “Dengarkan doaku ya Tuhan, dan berilah telinga kepada teriakku minta tolong, janganlah berdiam diri melihat air mataku.” Ayat 14: “Alihkan pandangan-Mu dari padaku supaya aku bersukacita sebelum aku pergi dan tidak ada lagi!”

Pada waktu itu, Daud sebentar lagi akan mati karena hajaran Tuhan terhadap dosanya. Dan di dalam keadaannya yang sekarat ini dan di tengah-tengah seluruh musuhnya yang akan menghancurkan dia. Kekuatan doanya sudah mulai melemah. Kekuatan tubuhnya tidak ada lagi, tetapi hatinya terus berteriak minta perdamaian dengan Allah. Saudara-saudara, ketika sudah tidak ada lagi apapun yang saudara bisa andalkan, saudara jangan melupakan teriakan Daud ini. Ada tetap jalan keluar di dalam hidup kita yang paling bermasalah sekalipun. Jangan tidak mengandalkan Tuhan dan jangan berhenti untuk berharap kepada Tuhan, karena Dia adalah Allah yang berjanji di dalam Kristus Yesus, God of Covenant. Dia adalah satu-satunya pribadi yang menjadi andalan kita sepanjang hidup kita. Dia adalah Allah yang setia meskipun kita sudah tidak setia sepanjang satu tahun ini. Daud sebelum hari matinya, maka dia berharap mau ada perdamaian dengan Allah. “Alihkan pandangan-Mu dari padaku, berdamailah dengan aku. Jangan pandangan murka-Mu itu terus padaku. Alihkan pandangan-Mu dari padaku ya Tuhan, supaya aku bersukacita sebelum aku pergi dan tidak ada lagi.” Dan, Allah mengalihkan pandangan murka-Nya dari Daud. Allah mengalihkan pandangan-Nya dari Daud kepada Yesus Kristus. Dia menghancurkan Kristus dan tidak menghancurkan Daud. Dia menghancurkan Kristus dan tidak menghancurkan orang kudus-Nya. Oh, ini sesuatu kebesaran, kemurahan dan cinta Tuhan bagi kita.

Saudara-saudara, sekali lagi, hari ini adalah hari yang terakhir dari tahun 2023. Dan sepanjang satu tahun ini, berpikirlah apa yang sudah kita lakukan. Dan ketika saudara dan saya memikirkan begitu kedalaman akan dosa, pergumulan, kesulitan, air mata dan segala hal yang terjadi. Saudara, hari ini, biarlah saudara dan saya berdamai dengan Tuhan. Kiranya Tuhan memberikan satu kedamaian dan kesejahteraan sebelum hari ini berakhir kepada kita semua. Kiranya gundah gulana dan segala kegalauan yang dalam itu seperti ombak yang besar, Tuhan redakan dalam hidup kita. Lihatlah Mazmur 39, seorang yang terbuka, jujur apa adanya di hadapan Tuhan dan seorang yang berteriak minta perdamaian dengan Tuhan kembali. “Alihkanlah pandangan-Mu dari padaku supaya aku bersukacita sebelum aku pergi dan tidak ada lagi!”

Mari sekarang kita bangkit berdiri dan kita akan berdoa.

Alamat

556 - 558 Botany Road, Alexandria, NSW, 2015
sekretariat@griisydney.org
0422690913
0430930175

Social Media

Facebook GRII Sydney Instagram GRII Sydney Twitter GRII Sydney


Google Play Store
App Store

^