[simple_crumbs root="Home" /]
kembali

25 February 2024

Pdt. Agus Marjanto, M.Th

Menjadi Murid (5)

1 Tim 1:18-20; 1 Tim 6:12; 2 Tim 4:7; 2 Tim 2:1-13

Kita sudah beberapa minggu melihat apa yang menjadi isi hati Tuhan melalui Firman ini. Sekali lagi, orang Kristen adalah orang yang sering sekali menanyakan, “Apa sih kehendak Tuhan dalam hidupku?” Kalau kita mau jujur bahwa kehendak Allah untuk kita adalah menjadi murid dan kita memuridkan. Ini adalah suatu bentukan Tuhan di dalam gereja-Nya yang sejati. Sekali lagi, Tuhan tidak bermaksud untuk mati dan bangkit, lalu menjadikan saudara dan saya hanya pengunjung gereja. Dia mau untuk membentuk kita menjadi murid, maka ini adalah kehendak-Nya di dalam hidup kita.

Beberapa minggu yang lalu kita sudah bicara berkenaan dengan 3 gambaran yang Paulus katakan tentang Timotius seperti apa menjadi seorang murid. Gambaran pertama adalah tentang prajurit. Di dalam prajurit ini menegaskan Paulus meminta Timotius memiliki kesehatian di dalam penderitaan. Ikutlah menderita bersama dengan Aku. Yang ke-2 adalah gambaran olahragawan. Seorang yang mengikuti peraturan untuk mendapatkan reward. Tidak ada orang yang bisa disebut sebagai pemenang kalau tidak mengikuti aturan. Gambaran yang ke-3 adalah petani. Menegaskan kerja keras dan pada akhirnya baru mendapat upah. Ini adalah bicara mengenai upah yang Tuhan berikan pada akhir zaman (eschatology) bagi semua orang-orang yang bekerja keras pada saat ini. Tiga gambaran ini dinyatakan Paulus dalam tulisannya.

Murid yang seperti apa yang dibentuk dengan gambaran seperti ini? Kira-kira kalau sudah dimuridkan oleh Paulus orang itu nanti karakternya seperti apa? Value-nya seperti apa? Lifestyle-nya seperti apa? Disposisi yang dimilikinya itu apa? Disposisi adalah kualitas inherent dari seseorang di dalam karakter dan pikirannya. Kristen seperti apa yang dibentuk dengan pemuridan seperti ini? Mari kita pikirkan baik-baik dan jujur.

Beberapa minggu ini dan beberapa minggu ke depan, maka kami mengumpulkan pemimpin-pemimpin KTB untuk membahas satu buku yang berjudul Gospel Centered Discipleship. Di dalam satu bab yang menyatakan hal ini. Sebenarnya seluruh hidup kita adalah hidup yang digerakkan untuk mengejar image yang ada, yang kita inginkan, ada di dalam pikiran kita. Image, berarti ada suatu gambaran. Kemudian dari gambaran itu kemudian kita ingin menjadi seperti itu, dari anak kecil sampai orang dewasa. Saya masih ingat ketika dulu saya masih kecil saya diajak orangtua saya nonton film Spiderman. Setelah pulang, saya ingin jadi manusia laba-laba. Saya ingin sekali suatu hari digigit laba-laba dan saya bisa pergi ke beberapa pencakar langit untuk bisa merayap di sana. Itu menjadi image saya. Sungguh! Berbulan-bulan saya ingin menjadi seperti dia. Banyak anak-anak remaja melihat idolanya, apakah dia seorang penyanyi atau seorang olahragawan, dan dia ingin menjadi seperti dia. Kalau dia adalah atlet, maka dia berlatih dan berusaha untuk menjadi seperti dia. Kita mengejar image yang kita inginkan. Bahkan saudara yang sudah dewasa, saudara sadar atau tidak sadar, saudara menginginkan hidup, atau menginginkan hidup seperti orang itu. Jika ada seseorang yang kita inginkan menjadi image kita, kita lihat hal-hal yang dimilikinya memiliki nilai yang tinggi dan kita ingin menjadi orang tersebu, tetapi masalahnya adalah kita sudah berdosa. Kita tidak lagi mengetahui pengetahuan yang benar mengenai suatu nilai, bahkan kita tidak bisa mengerti image seperti apa yang sungguh-sungguh bernilai, sehingga mengejar image yang kita inginkan membuat hidup kita itu menjadi tersesat. Itu  sebabnya Allah memberikan Alkitab bagi kita sehingga kita memiliki pandangan tentang image yang sesungguhnya kita harus kejar, atau tepatnya image yang Tuhan sedang bentuk kembali dalam hidup kita, dan itu adalah the image of Christ. Kita diubah untuk menjadi serupa Kristus. Pikiran Kristus menjadi pikiran kita. Perasaan Kristus menjadi perasaan kita. Tindakan Kristus menjadi tindakan kita. Apa yang ada di dalam hati Kristus menjadi hati kita, dan itu tidak bisa dari sekolah. Tuhan membentuk image of Christ itu dengan Firman-Nya dan dengan Roh Kudus. Anugerah Roh Kudus di dalam proses pengudusan supaya kita serupa dengan Kristus melalui Firman-Nya, tetapi untuk hal itu, maka Allahlah yang memulai inisialnya dan setelah itu ada kontinuitas, pengubahan itu sampai kita mati. Alkitab mengatakan di dalam kontinuitas itu, pengubahan-pengubahan sampai menyerupai Kristus sampai kita mati, ada satu kata yang penting di sini yaitu berjuang. Berjuang! Tetapi celakanya kata ini sudah hilang di dalam gereja. Saya akan jelaskan dengan cara yang lain.

Ada 2 proses di dalam hidup kita ketika kita menjadi satu dengan Kristus, yang bisa kita bedakan tetapi tidak bisa kita pisahkan. Justification and sanctification. Di dalam justification (pembenaran), kita dibawa untuk melihat kemuliaan Kristus. Ada satu waktu di dalam hidup kita, tiba-tiba kita menyadari bahwa kita adalah orang berdosa. Kita adalah orang yang layak untuk dihukum oleh Allah selama-lamanya dalam kekekalan. Kita meratap dengan dosa kita, tetapi pada saat yang sama, Roh Kudus yang bekerja dalam hidup kita memunculkan pandangan akan kemuliaan Kristus dan pengampunan-Nya. Pandangan pertama ini membuka mata kita akan keindahan Kristus yang tiada habisnya, dan kita menemukan di dalam Dia, keindahan dan kemuliaan sejati itu bersatu. Tetapi, proses ini tidak berhenti sampai di situ. Alkitab mengatakan proses itu kemudian diikuti dengan proses sanctification. Sanctification (pengudusan) di mana kemudian, kita dibentuk. Kita dikoreksi dengan memandang kemuliaan-Nya untuk menjadi gambaran kemuliaan-Nya di bumi ini. Pertama-tama, kita disadarkan akan kemuliaan-Nya dan bukan selesai di situ, dengan kemuliaan-Nya yang kita nikmati dan kita pandang itu, Dia membentuk kita untuk menjadi gambaran kemuliaan-Nya di bumi ini. Oleh Roh Kudus, kita diubah sesuai Firman untuk serupa Kristus. Ini tidak terjadi dengan sendirinya. Ini dimulai dari Allah. Ini oleh Allah. Untuk kemuliaan Allah. Tetapi, Alkitab dengan jelas mengatakan Allah membawa kita dalam proses ini, Dia minta untuk kita berusaha keras. Kerja keras. Berjuang. Terus-menerus menyesuaikan diri untuk bisa sesuai, sinkron dengan Firman, dan itu artinya ketaatan. Kristus sendiri mengatakan, “Jikalau engkau mau mengikuti Aku, jikalau engkau mau menjadi murid-Ku, engkau harus sangkal diri, pikul salib dan ikut Aku.”

Maka pertanyaannya adalah, kembali lagi. Image seperti apa yang ada di dalam pikiran kita, dalam pikiran saudara ketika saudara berbicara mengenai kekristenan? Ketika kita bicara menjadi orang Kristen, menjadi pengikut Kristus. Ingat bahwa image tersebut membuat kita menginginkan jadi seperti itu. Alkitab dengan jelas menyatakan bahwa untuk menjadi murid, kita harus berjuang, harus bulat hati, harus sungguh-sungguh. Kita harus kerja keras. Itu adalah image yang diberikan Alkitab kepada kita. Itulah sebabnya Paulus mengatakan, “Jadilah seperti seorang prajurit! Jadilah seperti atlet! Jadilah seperti petani!” Itulah image yang Alkitab berikan kepada kita. Itulah image orang Kristen. Image orang yang ditebus. Tetapi saya tanya image seperti apa ketika kita berbicara menjadi orang Kristen? Kalau saya mau jujur dan saya pasti jujur. Itu ada di dalam diri saya sendiri dan dengan juga semua orang yang saya temui. “Image kita sebagai orang Kristen harusnya adalah seperti liburan. Kita kan orang bebas loh. Sudah ditebus oleh Yesus Kristus. Tidak perlu berjuang. Hidup itu dinikmati saja. Tenang saja. Santai saja.” Celakanya adalah kita berpikir orang Kristen itu santai saja, nikmat saja, ternyata di dalam dosa dan juga di dalam idols. Hidup itu enteng kok, Pak, kalau sudah ditebus sama Yesus.

Sebenarnya ada sungguh-sungguh kenikmatan, tetapi kita musti membedahnya dengan terlebih dalam, terlebih dahulu. Image kekristenan masa kini sudah lain dari Alkitab dan ini yang paling menakutkan di dalam tubuh Kristus. Saudara bicara mengenai apa pun saja, mengenai terminology (mengenai istilah-istilah Alkitab) sama, tetapi dalamnya itu berbeda semua. Itulah sebabnya, saya tidak bingung kenapa LGBT itu di-endorse oleh gereja Barat. LGBT, feminism, liberalism itu seluruhnya dari gereja. Itu bukan dari mesjid. Itu dari Kristen! Propagandanya itu Kristen dan mereka selalu mengatakan, “Allah itu kasih, bukan? Kita diterima oleh Allah apa adanya.” Image sesungguhnya, seluruhnya sudah diganti dengan pikiran kita yang berdosa. Apa yang terjadi? Bukan kita dirubah seturut dengan Injil, tetapi Injil pengertiannya dirubah sesuai dengan kita. Bukannya kita ditransformasi oleh Injil dengan prinsip-prinsip dan standarnya. Tetapi dengan kelicikan kita, kita memakai istilah-istilah Alkitab untuk menutup dosa kita! Kita manusia celaka! Kita sungguh-sungguh sudah salah, tetap kita bicara Allah itu kasih adanya. Itu tidak ada dalam Alkitab. Saya tanya kepada saudara, ada tidak orang yang sudah berdosa kemudian bilang “Allah itu kasih, Allah itu kasih.” Kemudian ada satu nabi yang bilang, “Iya, betul Allah itu kasih.” Tidak ada.  Hal yang pertama, Nabi selalu bilang, “Bertobat!” Begitu dia itu bertobat, baru di titik itu dia menemukan apa artinya Allah mengasihi dia. Jadi Allah kasih atau tidak? Jelas pasti kasih, tapi pengertian ‘kasih’ beda dengan orang itu.

Seorang hamba Tuhan berkata demikian. Banyak orang berpikir bahwa tindakan penghakiman Tuhan yang paling menakutkan adalah gempa bumi, kebakaran, wabah penyakit dan kelaparan. Itu semua benar karena di dalam Perjanjian Lama, ketika Allah marah menghadirkan hal-hal itu, bahkan Perjanjian Baru juga. Tetapi hamba Tuhan ini mengatakan, “Belum tentu, karena di dalam Alkitab, tindakan penghakiman Tuhan yang paling menakutkan adalah ketika Dia menyerahkan manusia ke dalam pikirannya sendiri yang sudah rusak.” Jadi pikirannya yang rusak, cara pandangnya, image-nya, cara definisinya, dibiarkan oleh Tuhan dan itu menakutkan sekali. Seumur hidup dia berpikir inilah Kekristenan, padahal sebenarnya dia tidak pernah mendapatkan sesuatu transformasi dari Tuhan mengenai apa Kristen sesungguhnya. Dia mendefinisikan apa itu Kekristenan. Dan, setiap istilah-istilah Alkitab semuanya dengan definisi dirinya sendiri. Itu menakutkan sekali.

Perhatikan yang ditulis oleh J.C. Ryle, Bishop Anglican abad 19 akhir. Berhati-hatilah dalam menciptakan Tuhan anda sendiri. Tuhan yang penuh belas kasihan, namun tidak adil. Tuhan yang penuh kasih, namun tidak suci. Tuhan yang bagaikan surga bagi setiap orang, namun bukan neraka bagi siapa pun. Tuhan yang membiarkan keadaan kebaikan dan keburukan berdampingan dalam waktu, namun tidak membedakan kebaikan dan keburukan tersebut di dalam kekekalan. Tuhan seperti itu adalah berhala anda sendiri. Sama berhalanya dengan ular atau buaya manapun di kuil Mesir. Tangan khayalan dan sentimentalitas anda sendiri sudah membuat Tuhan seperti itu. Dia bukan Tuhan dalam Alkitab dan selain Tuhan dalam Alkitab, tidak ada Tuhan sama sekali!

Image seperti apa tentang Kekristenan yang kita miliki hai semua orang-orang Kristen yang mendengarkan berita pada hari ini? Image seperti apa yang engkau miliki? Kita semua selalu tidak suka dengan hukum. Kita berpikir kalau seseorang hamba Tuhan berbicara mengenai hukum adalah bicara berkenaan dengan legalism. Itu adalah suatu tipuan setan. Perhatikan baik-baik, kita dilepaskan dari hukum, tetapi kita tidak dilepaskan dari mengikut Kristus yang tersalib. Pakai istilah dari Paulus, engkau berlarilah, engkau seperti olahragawan, tetapi ingat ada aturan. Kita bukan taat dan dengan ketaatan itu kita merasa berjasa lalu dengan jasa itu, kita minta anugerah dari Tuhan. Bukan! Tetapi kita taat, kita berjuang, karena kita sudah mendapatkan anugerah itu. Banyak orang Kristen yang sudah membuang perjuangan. Banyak orang Kristen yang sudah membuang kesungguhan dengan berpikir aku sudah ditebus oleh Yesus, aku tidak perlu lagi untuk berbuat sungguh-sungguh. Hidupku seharusnya bisa enteng. Anugerah yang kita dapatkan, bukanlah meniadakan kerja keras. Tetapi anugerah yang kita dapatkan, meniadakan jasa. Ini kalimat luar biasa penting. Kalau kita sudah dapat anugerah keselamatan di dalam Kristus. Penerimaan di dalam Kristus. Saudara berpikir kalau sudah dapat itu, aku tidak perlu kerja keras. Aku tidak perlu berjuang. Siapa bilang? Itu adalah Kekristenan, image kita sendiri. Yang benar adalah kalau kita sudah mendapatkan keselamatan, mendapatkan anugerah di dalam Kristus, kita bukan kerja keras untuk mendapatkan jasa. Tuhan, aku sudah kerja keras, maka Engkau beri kasih karunia kepadaku. Bukan seperti itu! Seballiknya, kalau kita sudah mendapatkan anugerah dalam Kristus, Alkitab mengatakan, “Aku akan kerja lebih keras karena aku sudah mendapatkan anugerah.” Aku kerja lebih keras. Kenapa Paulus? Adalah karena engkau mau supaya pergi ke surga. Tidak, karena aku sudah diterima, maka aku kerja lebih keras. Itulah sebabnya, tanda di dalam Kekristenan, seorang murid adalah bicara mengenai menyangkal diri, memikul salib, mengikut Kristus. Kerja keras. Ikut aturan. Sehati di dalam penderitaan.

Elisabeth Elliot, istri dari Jim Elliot. Sekarang banyak perempuan-perempuan yang sangat saleh di dunia ini adalah murid dari Elisabeth Elliot. Dia mengatakan demikian, menjadi pengikut Yesus yang tersalib berarti cepat atau lambat mengalami pertemuan pribadi dengan salib. Dan salib selalu membawa kerugian. Simbol agung Kekristenan berarti pengorbanan dan tidak seorang pun yang menyebut dirinya seorang Kristen dapat menghindari fakta yang begitu jelas ini. Steven Lawson mengatakan, “Kehidupan Kristen bukanlah suatu playground, melainkan medan peperangan rohani. Semakin dekat kita mengikut Yesus, semakin maju kita mendekati garis peperangan itu. J.C. Ryle sekali lagi mengatakan demikian. “Menjadi seorang Kristen sejati memerlukan biaya yang besar, harga yang banyak. Sesuai dengan standar Alkitab, ada musuh yang harus diatasi, peperangan yang harus dilakukan, pengorbanan yang harus dikerjakan, Mesir yang harus ditinggalkan, adang gurun yang harus dilalui, salib yang harus dipikul, perlombaan yang harus dijalankan. Pertobatan bukanlah menempatkan seseorang di kursi malas dan membawanya dengan mudah ke surga. Ini adalah awal dari sebuah konflik besar yang membutuhkan banyak harga yang harus dibayar untuk meraih kemenangan.” Apa image kita tentang Kekristenan?

Kalau saudara masuk ke gereja, saudara ingin gereja seperti apa? Kalau mau menjadi orang Kristen, mau menjadi orang Kristen yang seperti apa? Jangan mau dibebani oleh aturan-aturan manusia, tetapi kalau itu adalah prinsip Alkitab, kita harus merelakan diri untuk menerimanya. Paulus mengatakan, “Sehatilah engkau di dalam penderitaanku, dalam kesulitan ini, Timotius.” Berjuanglah dengan aturan yang ada dengan hukum yang ada. Kerja keraslah Timotius. Bukan itu saja bahwa kalimat-kalimat terakhir Paulus ini sudah diucapkan berulang-ulang beberapa tahun sebelumnya kepada Timotius. Tadi kita melihat dalam 1 Timotius 6:12. “Berjuanglah dalam pertandingan iman yang baik.” Pegang, atau dalam bahasa Indonesia, “Engkau pegang dengan erat.”, bukan sentuh, tapi pegang dengan erat. Kenapa musti erat? Karena kalau tidak erat, pasti akan ada yang ambil daripadamu. Ini bukan bicara mengenai keselamatan yang akan hilang, tetapi sebaliknya orang yang mendapatkan keselamatan pasti dosa, dunia, setan akan berusaha untuk meraih. Ada musuh yang mengincar kita. Ada orang-orang yang menghina kita. Ada orang-orang yang mencari-cari kesalahan kita. Ada orang-orang yang berusaha merendahkan kita, membuat kita mundur dan membuat kita malu menjadi orang Kristen.

Di dalam 1 Timotius 1:18-19 tadi dikatakan, “Timotius, berjuanglah dalam perjuangan yang baik.” Menjaga iman dengan hati nurani yang baik. Kita pikir menjaga, ya sudah menjaga.  Seorang prajurit yang menjaga wilayahnya untuk diserang musuh artinya seluruh hidupnya dipertaruhkan. Tetapi ini bukan saja perintah Paulus kepada Timotius, Paulus sendiri melakukannya. Beberapa waktu sebelum dia dipenggal. Dia menuliskan kepada Timotius, sebenarnya dia menginginkan Timotius datang, tetapi sejarah menyatakan sangat mungkin ketika Timotius datang Paulus sudah mati. Paulus sadar mungkin dia tidak bisa lagi melihat Timotius. Dia menulis, “Aku sudah mengakhiri perjuangan, pertandingan ini dengan baik. Aku sudah memelihara, menjaga iman.” Sekali lagi, seluruhnya bicara mengenai kerja keras. Seluruhnya bicara kesungguhan hati. Seluruhnya bicara berjuang.

Beberapa tahun yang lalu saya mulai menyadari satu hal. Satu kata yang terus-menerus Pak Tong ucapkan sama kami. Tetapi yang saya tidak miliki dan saya juga tidak pernah kepikir itu ada, yaitu satu kata itu, yaitu ‘niat perjuangan’. Saya pikir itu tidak ada di dalam Alkitab. Saya sudah lama sekali jadi orang Katolik. Saya katakan hal ini, maksudanya bukan Katolik terus kemudian sesat. Tidak, saudara-saudara, tetapi yang saya mau katakan adalah bahwa saya adalah orang yang dari kecil dididik di dalam kekristenan, dididik di dalam mengerti Alkitab, dan saya lama sekali di gereja Karismatik dan saya kenal dengan beberapa hamba-hamba Tuhan. Pada waktu saya masih mahasiswa, saya undang orang ini, orang itu untuk berkhotbah di kampus. Tidak pernah ada satu kata ini ‘niat perjuangan’. Atau, sebaliknya mungkin ada, tapi tidak pernah masuk di dalam telinga atau hati saya karena saya tertutup. Niat perjuangan itu apa? Kenapa musti kerja keras? Bukankah Yesus sudah mati bagiku? Bukankah harga sudah dibayar? Bukankah kekristenan bicara damai sejahtera, sukacita? Kenapa musti ada niat perjuangan? Pertamanya saya tidak percaya. Dan saya tidak katakan saudara harus percaya kepada saya dalam hal ini, tetapi, tolong pulang dan selidiki lagi Alkitab. Saudara akan menemukan kata itu begitu muncul berkali-kali. Orang yang sudah mendapatkan kasih karunia adalah orang yang berjuang untuk Kerajaan Allah. Tidak ada orang dapatkan dari kasih karunia lalu kemudian dia enteng. Orang yang mendapatkan kasih karunia adalah orang yang menghargai Allah itu suci. Dia tidak mudah mengatakan, “Oh, Allah itu cinta.” Ya, Allah itu cinta, tetapi lain dengan apa yang ada dalam pikiran kita orang berdosa.

Perhatikan apa yang ada dalam Alkitab untuk mematikan dosa. Itu adalah perintah dalam Alkitab. Mematikan dosa itu aktif. Itu bukan pasif. Itu perjuangan. Tidak ada dosa dalam diri kita yang bisa mati tanpa perjuangan. Untuk melawan dunia dan tidak tertarik dengan dunia seperti Demas saudara dan saya perlu berjuang, perlu menyangkal diri untuk Kerajaan Allah berkembang. Kerajaan Allah berkembang dalam 2 hal ini. Yang pertama adalah berkembang dalam diriku, pemerintahan Allah di dalam setiap aspek hidupku. Maka kita perlu berjuang, karena kita perlu menyangkal diri. Dan untuk Kerajaan Allah berkembang di luar, untuk mengabarkan injil seperti Paulus atau murid-murid yang lain dalam Alkitab, itu perjuangan yang sulit. Itulah sebabnya dalam Matius 28 dikatakan, “Jadikan seluruh bangsa murid-Ku.” Apakah itu perintah Yesus? Ya, tetapi apakah kita ingat apa yang dikatakan sebelumnya?  “Segala kuasa ada pada-Ku.”  Kalau itu sesuatu yang gampang, kita tidak perlu kuasa. “Dan ketahuilah Aku menyertai engkau senantiasa sampai akhir zaman.” Kalau untuk Kerajaan Allah berkembang itu gampang, tidak perlu kuasa dari surga. Kerajaan Allah berkembang tidak mungkin dengan kita itu santai. Tidak mungkin. Bagaimana dengan melawan pencobaan seperti Yesus melawan setan? Perlu berjuang. Perlu membuat hati didedikasikan bagi Allah setiap kali. Tidak usah seperti itu. Hal yang paling sederhana kita perlu seperti Yesus Kristus bukan? Alkitab mengatakan pagi-pagi benar, Yesus Kristus mencari wajah Allah dengan doa. Pemazmur mengatakan aku seperti rusa yang merindukan sungai. Pemazmur mengatakan aku mengharapkan rembang pagi. Aku mengharapkan Engkau, ya Tuhan. Untuk mempertahankan kita bisa saat teduh dengan teratur setiap hari, itu pun sangkal diri. Seluruh Kekristenan, seluruh pembacaan ini adalah kerja keras, berjuang. Kerja keras, berjuang melawan dosa. Kita bekerja keras, melawan dunia. Kita kerja keras mengabarkan Injil. Kita kerja keras.Tadi kita baru membaca 5 gadis bijaksana 5 gadis bodoh. Apakah saudara mengerti perbedaannya? Cuma satu, yang membedakan itu adalah yang satu ada karakter berjaga-jaganya, satu lagi tidak punya karakter berjaga-jaga. Itu perumpamaan tentang apa? Tentang Kerajaan Allah. Kita selalu akan pikir yang satu pelitanya mati, satu tidak. Itu iya, itu kenyataannya, itu secara fenomena, di belakangnya itu adalah satu berjaga-jaga dan satu tidak. Berjaga-jaga itu tidak gampang, saudara. Itu kerja keras.

Ini sungguh-sungguh terjadi. Jadi dulu itu, kami kuliah terkadang di Sunter, terkadang di Warung Buncit; kuliah bersama Pak Tong. Jadi saudara-saudara, itu 2 kelompok mahasiswa nanti malam hari Pak Tong misalnya ada di Malaysia, kemudian hubungi petugas seminari lalu memberi tahu besok kuliahnya di Sunter, maka kita semua pergi ke Sunter. Cuma kadang-kadang Pak Tong tidak bisa dihubungi atau dia lupa menghubungi. Jadi suatu hari itu, ketika minggu ini Sunter, minggu depannya Warung Buncit, itu jalannya jauh sekali. Jadi minggu ini Sunter, minggu depannya Warung Buncit, kemudian minggu depannya lagi Sunter. Rumah saya ada di Serpong, jadi kalau saya itu kuliah jam 8 pagi maka saya harus berangkat jam 5 pagi, paling lambat jam 5:20 pagi. Kami sudah menduga bahwa pasti saat ini pergi ke Warung Buncit dan mobil kami sudah ke sana. Dan sudah hampir di Warung Buncit, kami dapat telepon bahwa hari itu di Sunter. Kuliah itu susah sebenarnya. Tetapi, yang mau saya katakan adalah, setiap kali, sebelum Pak Tong mengajar, dia akan memanggil satu orang ke depan dan men-summary apa yang minggu lalu diajarkan. Jadi semua anak-anak itu pasti prepare, meskipun sebenarnya ada yang maju kemudian tidak prepare kemudian Pak Tong marah. Percayalah kepada saya, saya adalah orang yang selalu akan prepare. Hanya satu kali aja saya tidak prepare, sungguh saya cape, jadi saya tidak prepare dan saya kuliah sama dia itu 2 semester, tidak pernah dipanggil ke depan satu kali pun, kecuali hari itu. “Agus, maju!” Loh, Pak, saya tidak prepare. “Maaf, Pak Tong, saya belum baca.” “Apa kerjamu?” Padahal saya capenya luar biasa, ya sudah saya dengarkan. Saya musti minta maaf dan semuanya, cuma di dalam pikiran saya itu kata Alkitab muncul. “Berjaga-jagalah karena setan itu berkeliling seperti singa yang mengaum-aum.” Saya tidak katakan Pak Tong setan, bukan. Berjaga-jaga. Berjaga-jaga itu capek. Kalau ada musuh, kita berjaga-jaga masih lumayan. Kalau tidak ada musuh berjaga-jaga, capek saudara-saudara. Begitu tidak berjaga-jaga, tidak tahunya musuhnya datang. Itu kerja keras saudara. Yesus bahkan mengatakan kamu tidak tahu Anak Manusia kapan datang loh. Kamu harus berjaga-jaga.

Menjadi orang Kristen itu kerja keras, dan bukan itu saja seluruh kata-kata yang ada dalam Alkitab itu bahkan anugerah Tuhan selalu konteksnya itu berjuang. Contohnya, ada dua hal kalau berbicara berkenaan dipenuhi Roh Kudus. Saya tidak tahu berapa orang yang menginginkan dipenuhi oleh Roh Kudus. Petrus dipenuhi oleh Roh Kudus, Stefanus dipenuhi oleh Roh Kudus, Paulus dipenuhi oleh Roh Kudus. Dipenuhi Roh Kudus itu bukan seperti dipimpin oleh Roh Kudus. Dipenuhi Roh Kudus di dalam teologinya yaitu sesekali dipenuhi, lalu tidak lagi. Sehingga Alkitab mengatakan Petrus dipenuhi Roh Kudus kemudian dia berkhotbah kepada 3000 orang dan selesai itu Petrus tidak lagi ada tulisan dipenuhi Roh Kudus, bahkan dia sempat munafik. Kemudian setelah itu dia bertobat dan dia dipenuhi Roh Kudus untuk melalukan tugas yang lain. Apa yang mau saya katakan? Saya teringat akan satu kalimat ini. Saya membaca buku, dia mengatakan demikian, “Anda tidak bisa expect dipenuhi Roh Kudus ketika anda sedang nonton TV atau main games.” Untuk apa? Untuk apa dipenuhi Roh Kudus ketika kita santai. Stefanus mau berkhotbah dan dia akan mati dirajam, dipenuhi Roh Kudus. Petrus berkhotbah di depan begitu banyak orang untuk pertobatan, dipenuhi oleh Roh Kudus. Dipenuhi Roh Kudus, dipimpin oleh Roh Kudus, diurapi oleh Roh Kudus semuanya saudara lihat orang sedang berjuang.

Bahkan kalau bicara mengenai buah Roh. Saya dulu itu jadi orang Kristen saya terus pikir buah Roh. Saya punya kok, saya punya. Terutama sukacita dan damai sejahtera. Nah saya mendapatkan itu kalau Sabtu pagi. Saya dulu bekerja, jadi kalau orang kerja susah-susah, lalu hari Jumat itu saya senang sekali karena “Thanks God its Friday”. Tapi sekarang kebalik, sekarang menjadi hamba Tuhan, “Oh, no, it’s Friday. Satu hari di mana saya paling menikmati, dan saya pikir itu adalah saya dapatkan buah Roh itu (damai sejahtera) adalah Sabtu pagi, kurang lebih jam 7 – 7.30 pagi. Apa yang saya lakukan? Saya ambil Kompas. Saya duduk di kursi yang nyaman. Ada teh hangat dan bakpao, ada snack, menikmati pemandangan yang cerah. Matahari mulai masuk dan burung tetangga itu bernyanyi. Wah, itu damai sejahtera. Saya baru tahu kata ‘damai sejahtera’, ‘sukacita’ di dalam Alkitab kalau itu sungguh-sungguh buah Roh, adalah kepada anak-anak Tuhan yang berada dalam penderitaan, kesulitan, dikejar-kejar oleh musuh gereja, difitnah seakan-akan tidak ada masa depan, tetapi Tuhan nyata menyertai mereka dan mereka bersukacita di dalam Tuhan untuk penyertaan, itu damai sejahtera. Apakah kita menyadari bahkan setiap kalimat buah Roh pun di saat anak Tuhan kerja keras. Tetapi itu sekarang hilang semuanya. Kekristenan model seperti apa yang kita miliki? Apakah artinya kita tidak bisa menikmati hidup? Kalau aku mesti berjuang terus, mesti kerja keras terus apakah itu tidak bisa menikmati hidup? Jawabannya adalah malah kita bisa menikmati hidup karena di dalam Alkitab, hidup Kristen itu manis karena kita bisa melihat dan mengalami Kristus di dalam seluruh kerja keras itu. Kemanisan begitu tinggi ketika kita menaati Tuhan. Di dalam menaati mungkin kita sulit, tetapi kita tahu Tuhan menolong kita. Itu luar biasa manis adanya. Nikmatilah hidup di dalam Tuhan.

Apakah tidak ada rest? Apakah orang yang kerja keras berjuang kehilangan damai sejahtera? Sebaliknya ada rest di dalam Tuhan. Saudara perlu melihat kembali Alkitab dan melihat orang-orang yang dipakai Tuhan dan berjalan bersama dengan Tuhan. Tidak semuanya mereka adalah hamba Tuhan full time, ini bukan bicara full time atau bukan full time. Banyak hamba Tuhan yang full time pun tidak memiliki hal ini. Saya tidak sedang berbicara mengenai jabatan. Saya bicara berkenaan dengan satu disposisi hati yang dibentuk oleh Allah. Sebagaimana menjadi Kristen yang sesungguhnya dan kita akan memiliki rest yang besar sekali dan buah Roh itu menyertai kita. Apakah itu artinya saya harus menerima seluruh pelayanan dalam gereja? Jawabannya adalah tidak. Yang saya bicara adalah bentukan Roh Kudus melalui Firman-Nya dalam hidup kita, bukan kegiatan. Saudara bisa sibuk dalam gereja dan kehilangan Tuhan. Tetapi poin utama di sini adalah ketika seseorang mendapatkan kasih karunia dari Tuhan, pada saat yang sama Tuhan akan memberikan begitu banyak hal untuk dia tanggung. Karena ini bicara mengenai rencana-Nya di tengah-tengah dunia untuk pelebaran Kerajaan-Nya di dalam hidup kita dan di luar hidup kita pemuridan untuk pemerintah Kristus, Kerajaan Kristus hadir.

Navy SEAL adalah pasukan tempur khusus dari Amerika. Orang-orang yang ada dalam Navy SEAL dilatih bisa hidup di tengah-tengah alam liar. Bahkan mereka bisa naik gunung sampai tingkat di mana kadar oksigen begitu tipis. Mereka dilatih untuk bisa menyelam di dalam waktu yang cukup lama. Mereka bisa hidup di banyak keadaan alam dan juga mampu untuk bertarung secara tangan kosong. Mereka bangun begitu pagi dan tidur sangat sedikit sekali. Ini adalah orang-orang yang dilatih untuk menjadi tentara khusus Amerika, Navy SEAL. Suatu hari seorang bernama Bob, dia adalah orang yang dilatih dalam Navy SEAL. Dia mau menikah dan dia datang kepada Jendralnya, “Jendral, saya mau minta izin karena saya mau menikah.” Kemudian Jendral itu mengatakan, “Ya, boleh 3 hari.” Bob kaget, nikah itu butuh berapa bulan, juga honeymoon-nya. Nikah kok disuruh meninggalkan barak 3 hari kembali lagi. “Jendral, Jendral, maaf, mungkin anda kurang mengerti. Aku mau menikah.” Kemudian Jendral itu mengatakan, “No, no, son. Engkau tidak tahu, this is Navy SEAL.”

Apakah saudara tahu ini Kristen? Apakah kita tahu ini adalah Kristen? Gambaran seperti apa yang kita miliki kalau kita itu Kristen? Sebelum mati, Paulus mengatakan, “Timotius, bersama-sama aku, kita berjuang dalam penderitaan. Timotius, kerja keras sampai akhir. Timotius, perhatikan prinsip-prinsipnya. Tapi Timotius ingat, ada anugerah. Ada anugerah! Tapi, jangan cairkan semua itu. Kalau engkau jatuh, ada anugerah. Tapi prinsip itu jangan dilepas! Ada pengampunan. Ada kekuatan dan lihat Kristus sudah mati dan bangkit bagi kita. Itulah Kekristenan. Itulah pemuridan. Itulah gereja. Oh, kiranya kasihan Tuhan menyertai kita semua. Kiranya Tuhan sendiri membukakan apa sesungguhnya yang menjadi isi hati-Nya. Ini adalah Kekristenan. Mari kita berdoa.

Alamat

556 - 558 Botany Road, Alexandria, NSW, 2015
sekretariat@griisydney.org
0422690913
0430930175

Social Media

Facebook GRII Sydney Instagram GRII Sydney Twitter GRII Sydney


Google Play Store
App Store

^