Ringkasan Khotbah

3 March 2024
Yesus di Getsemani (1)
Pdt. Agus Marjanto, M.Th · Yoh 18:1-2, Mar 14:32-42

Yoh 18:1-2, Mar 14:32-42

Beberapa minggu ini kalau Tuhan pimpin, kita akan memeditasi mengenai apa sesungguhnya yang terjadi di Getsemani. Penderitaan Kristus adalah inti dari seluruh keselamatan kita. Dari penderitaan Kristus terpancar seluruh mata air kehidupan kita. Kita harus sering-sering merenungkan dan mengingatnya. Kita harus sering-sering membaca dan mengatakannya dalam hati kita yang terdalam. Pada malam hari ketika Yesus mengumpulkan seluruh murid-murid-Nya Dia mengatakan, “Inilah tubuh-Ku yang dipecahkan bagimu. Inilah darah-Ku yang dicurahkan bagimu. Lakukanlah hal ini setiap kali engkau mengingat Aku.” Pertama kali, ketika saya membaca tulisan itu bagi saya biasa saja. Tetapi beberapa tahun yang lalu ketika saya merenungkan kalimat itu, saya terkejut. “Lakukanlah hal ini setiap kali engkau mengingat Aku.” Untuk apa Tuhan meminta kita mengingat Dia? Apakah Dia takut dilupakan oleh kita? Untuk apa Tuhan meminta kita mengingat Dia? Apakah itu artinya Dia menyatakan suatu kalimat-kalimat sentimental? “Jangan lupa kepada-Ku, jangan lupa kepada-Ku.” Untuk apa Dia mengatakan demikian? Ialah Pencipta langit dan bumi, dan seluruh malaikat menyembah Dia. Setan-setan pun tahu kepada siapa mereka harus menyembah. Kenapa Dia minta untuk diingat oleh kita? Semakin lama, saya semakin menyadari bahwa bukan Dia yang perlu diingat, tetapi kalau Dia meminta kita ‘ingat’, itu adalah suatu perintah dan perintah itu untuk kebaikan kita. Saya mulai menyadari kalau saya tidak mengingat cinta dan pengorbanan-Nya, kalau saya tidak mengingat bagaimana Dia rela untuk direndahkan, maka dosa merajalela dalam hidup saya. Saya akan melayani Tuhan dengan keluhan dan dengan ketidakrelaan; sedikit kesulitan, saya akan mengeluh. Saya mulai menyadari jikalau kita mengenal penderitaan Kristus, jikalau kita memeluk itu, maka itu adalah kekuatan kita hidup sebagai orang Kristen. Dari situlah lahir kerelaan, dari situlah lahir sukacita memikul salib, dari situlah muncul kekuatan dan kuasa. “Ingat akan Aku, murid-Ku.” Apakah Yesus perlu kita mengingat Dia? Sama sekali tidak. Tetapi biarlah kita mencamkan pada diri kita sendiri untuk kita terus menerus berusaha untuk mengingat Tuhan kita yang memecahkan tubuh-Nya dan mengalirkan darah-Nya.

Di dalam beberapa minggu ini maka kita sampai kepada Mount Everest dari biblical landscape. Kita sampai kepada puncak tertinggi dari seluruh lekukan-lekukan gunung yang ada di dunia, dan khususnya di dalam beberapa minggu ini kalau Tuhan pimpin, kita akan masuk untuk melihat lebih dekat apa yang terjadi di dalam Getsemani. Charles Spurgeon menyatakan hal ini, “Getsemani adalah ruang Maha Suci-Nya Tuhan kita di atas bumi ini.” Ini adalah misteri seperti yang terjadi kepada Musa yang melihat semak duri yang terbakar tetapi tidak habis dimakan api. Ketika kita masuk untuk meneliti apa yang di dalam, kita tidak akan bisa sepenuhnya mengerti. Getsemani bukan tempat pertaruhan intelek. Siapa yang mau masuk dan melihat, harus melakukannya dengan lututnya. Siapa yang mau masuk dan melihat apa yang sesungguhnya terjadi, biarlah kita boleh masuk dengan remuk hati. Apa yang terjadi sesungguhnya melampaui apa yang bisa dikatakan dengan bahasa manusia. Getsemani adalah satu tempat yang paling suci di tempat ruang Maha Kudus kehidupan Tuhan kita di bumi ini. Bait suci memiliki beberapa kompartemen. Yang pertama adalah pelataran luar. Di pelataran luar ada beberapa pelataran yang berbeda; ada tempat imam; ada tempat laki-laki; ada tempat bangsa-bangsa kafir. Kemudian saudara-saudara akan masuk ke dalam ruang suci dan kemudian saudara akan masuk ke dalam ruang Maha Suci. Inilah yang disebut Spurgeon, “Ketika engkau melihat Getsemani, engkau akan masuk di dalam ruang Maha Suci-Nya Kristus.” Getsemani itu tempat apa? Arti kata ‘getsemani’ itu sendiri adalah tempat untuk memeras minyak zaitun. Pada waktu itu Yesus sudah selesai mengadakan perjamuan makan bersama murid-murid-Nya, kemudian dengan nyanyian Dia berjalan keluar dari tempat itu. Dari Yerusalem, Dia keluar melalui tembok Yerusalem. Dan kemungkinan sekali, waktu Yesus sampai di tembok Yerusalem, Dia berdoa kepada Bapa dan murid-murid-Nya mendengarkan. Itulah doa yang dituliskan dalam Yohanes 17. Kemudian setelah berdoa, Dia berjalan terus masuk ke satu bukit yang disebut sebagai Bukit Zaitun. Dan dari tempat menuju ke Bukit Zaitun ada satu lembah, lembah itu disebut sebagai Lembah Yosafat, dan di tengah-tengah Lembah Yosafat itu ada satu sungai yang kecil, disebut sebagai sungai Kidron, dan Dia berjalan mendekati ke Barat dari Bukit Zaitun, maka Dia ada di satu taman dan taman itu namanya Getsemani. Dia sering sekali pergi ke taman itu untuk mengunjungi Bapa-Nya. Di taman itu, tempat di mana Dia biasanya refresh seluruh jiwa-Nya, malam itu menjadi malam yang berubah. Di situlah Dia bertemu dengan seluruh murid-murid-Nya, dan di taman itu Dia akan ditangkap dan dimasukan di dalam enam kali pengadilan tanpa tidur, sampai keesokan harinya Dia dipaku di atas kayu salib. Apa yang terjadi di taman itu? Hari ini kita akan melihat secara gambaran keseluruhan terlebih dahulu. Kemudian setelah itu, kalau Tuhan pimpin, dalam minggu-minggu kedepan kita akan masuk lebih dalam lagi. Pagi ini saya akan bicara mengenai tiga hal yang kita akan pelajari sebagai dasar dari segala sesuatunya. Apa yang terjadi di dalam taman itu? Apa yang Yesus lakukan?

Hal yang pertama, apa yang dilakukan oleh Yesus di taman ini, semua peristiwa yang terjadi nanti setelah itu, dilakukan-Nya tanpa paksaan, dilakukan-Nya dengan sukarela dan independently. Ini sesuatu yang begitu jelas dinyatakan dalam Alkitab. Saya harus mengatakan hal ini di depan, karena ini adalah doktrin dan pengajaran yang penting sekali yang mendasari seluruh penderitaan Kristus. Ini adalah hal terdasar yang paling penting; Yesus masuk ke Taman Getsemani, Yesus itu ditangkap dan segala sesuatu yang terjadi di salib, itu dilakukan secara voluntarily and independently. Kenapa ini sangat penting? Kenapa hal ini harus dikatakan di awal? Karena jika Yesus tidak sukarela, itu artinya kuasa kegelapanlah yang menang terhadap Yesus Kristus. Itu artinya ketika Yesus ditangkap, itu sesungguhnya adalah ‘tertangkap’. Dia terjebak, Dia terseret oleh keadaan yang Dia sendiri tidak inginkan. Jikalau itu terjadi, maka kita tidak memiliki dasar pengharapan apapun saja untuk keselamatan, karena Guru Agung kita Yesus Kristus, kuasa-Nya dan hati-Nya dikalahkan oleh kuasa kegelapan yang menyergap Dia. Tetapi tidak. Kalau saudara teliti baik-baik, maka Alkitab memberikan satu prinsip ini; Yesus pergi ke taman itu dengan sukarela, tidak ada satu orangpun yang mendesak Dia. Itu adalah kemauan-Nya. Bahkan dengan sukacita Dia menanggungnya. Saya akan memberikan beberapa kalimat-kalimat di dalam Alkitab untuk mengingatkan kita bagaimana Dia itu secara voluntarily dan independently melakukan semuanya ini:

  • Pertama, berkali-kali Yesus sudah mengatakan hal ini sebelumnya. Dia mengatakan berkali-kali kepada murid-Nya, “Anak Manusia akan ditangkap dan akan diserahkan kepada orang-orang yang menganiaya Dia, dan mereka akan menyalibkan-Nya.” Yesus sudah pernah berkali-kali mengatakan kepada murid-murid-Nya apa yang akan terjadi. Murid-murid-Nya tidak ada yang bisa mengerti-Nya sampai kemudian Roh Kudus datang kepada mereka, baru mereka bisa terbuka dan mengerti seluruh event of Christ. Yesus menyadari sekali apa yang akan terjadi di depan. Dan dengan voluntarily and independently Dia masuk. Bukan itu saja, bahkan beberapa jam sebelumnya, Dia memandang wajah Yudas, kemudian Dia mengatakan, “Apa yang ingin engkau kerjakan, kerjakan dengan segera.” Yesus mengizinkan Yudas melakukan hal itu. Dia tidak bersembunyi di balik dari seluruh peristiwa. Dia tidak menunda hal itu. Apa yang terjadi pada Getsemani dan Kalvari seluruhnya adalah merupakan pengizinan daripada Yesus.
  • Kedua, di dalam Yohanes 18 dikatakan bahwa Yesus sering sekali pergi ke Getsemani untuk berdoa. Dan Yudas mengetahui tempat itu. Apakah kita menyadari kenapa murid Yesus (Yohanes) menuliskan peristiwa ini? Yerusalem itu begitu luas. Bahkan pada waktu itu belum ada mobil, belum ada GPS. Adalah mudah sekali untuk Yesus pergi dari Yudas supaya tidak ditangkap, kalau bukan kehendak-Nya. Yudas bahkan tidak tahu ke mana Yesus pergi. Tetapi Yudas tahu dengan amat sangat pasti kalau Yesus paling suka tempat ini. Sama seperti Daniel dalam Perjanjian Lama, tempat yang paling dia sukai adalah tempat untuk berdoa di hadapan Allah. Musuh-musuhnya menunggu waktu itu. Begitu dia berdoa, di tempat itulah dia ditangkap. Yesus sengaja pergi ke sana, lalu karena Dia sengaja pergi ke sana, maka Yudas bisa menangkap Dia. Dan bukan itu saja, ketika Yudas menangkap dengan sepasukan tentara Bait Allah, Yesus kemudian menghadapi orang-orang tersebut. Berapa orang sesungguhnya yang datang saya tidak tahu. Ketika saya membaca ini, saya pikir mungkin adalah sekitar 20-30 orang. Kalau saudara-saudara melihat film Passion of the Christ, juga kurang lebih ada belasan atau puluhan orang, tetapi ada satu catatan yang saya baca bahwa penjaga Bait Allah, satu grup itu, adalah mencapai 300 orang. Dan orang-orang itu datang kepada Yesus Kristus, kemudian Yesus menatap mereka dengan lembut dan mereka ditanya oleh Yesus Kristus, “Siapa yang engkau cari?” Mereka menjawab, “Yesus dari Nazaret!” Yesus kemudian mengatakan, “I am He.” Satu kalimat, puluhan-ratusan orang itu terjungkal ke belakang. Adalah mudah sekali untuk Yesus menghancurkan mereka, maka kalau mereka bisa memegang dan menangkap Yesus, seluruhnya adalah kerelaan Pribadi Kedua Tritunggal untuk menyerahkan diri-Nya di tangan manusia. Belum lagi kemudian Petrus mengambil pedang dan memutuskan telinga seorang hamba imam besar yang bernama Malkus. Di tengah malam yang gelap, dengan obor dan juga bulan yang pada waktu itu bersinar terang, Yesus mengambil telinga itu dan menempelkannya kembali. Sebuah mujizat dari Pencipta langit dan bumi dinyatakan di Getsemani. Susahnya apa keluar dari itu? Tapi Ibrani 10:5-7 menyatakan: ‘Karena itu ketika Ia masuk ke dunia, Ia berkata: “Korban dan persembahan tidak Engkau kehendaki — tetapi Engkau telah menyediakan tubuh bagiku —. Kepada korban bakaran dan korban penghapus dosa Engkau tidak berkenan. Lalu Aku berkata: Sungguh, Aku datang; dalam gulungan kitab ada tertulis tentang Aku untuk melakukan kehendak-Mu, ya Allah-Ku.”’ Kalimat ini terus menerus berbicara dalam hati saya. “Sungguh Aku datang… Lihatlah, Aku datang.” Oh, setiap dari event of Christ, Dia datang ke Getsemani maka kalimat ini bersuara, “Lihat Aku datang.” Di tempat penahanan Hanas dan Kayafas, kalimat ini sekali lagi bergema “Lihat Aku datang.” Di tengah pengadilan Sanhendrin yang tidak adil tersebut, dan juga pengadilan Pilatus, di depan manusia itu dengan mahkota duri di kepala-Nya dan seluruh luka-luka di tubuh-Nya, ketika Pilatus membuat Dia menjadi tertawaan seluruh bangsa Yahudi, kalimat ini muncul “Behold! Aku datang.” Dan dari Getsemani menuju kepada Kalvari, di atas salib itu Dia menyatakan, “Lihat, Aku datang.” Dia datang untuk kita. Dia datang untuk menjalankan seluruh kehendak Bapa-Nya; voluntarily and Kerelaan hati-Nya terus mau untuk turun sampai ke tempat yang bahkan satu malaikat-pun tidak mau turun. Inilah dasar dari semuanya. Inilah hal yang penting untuk membaca apa yang terjadi di dalam penderitaan Kristus. Siapa satu pendiri agama, satu manusia yang mau turun seperti ini? Bukan terdesak. Bukan karena keadaan. Tetapi Dia rela untuk menurunkan diri-Nya, bukan supaya Dia pergi ke surga. Banyak pendiri agama dan manusia berusaha untuk hidupnya itu dibuat menderita supaya pergi ke surga. Tetapi Kristus tidak. Dia dari surga turun ke dunia. Hal yang pertama adalah Yesus melakukan semuanya tanpa paksaan, Dia melakukan seluruhnya dengan sukarela, voluntarily and independently. Itulah sebabnya maka penderitaan Dia itu adalah penderitaan yang berkhasiat. Penderitaan Dia itu sungguh-sungguh penderitaan yang memiliki kekuatan dan kuasa. Dan karena penderitaan Dia, maka Dia menghancurkan daripada dosa dunia dan juga setan.

Hal yang kedua; Getsemani, itu saat apa? Itu adalah saatnya kuasa kegelapan. Allah menyerahkan saat itu untuk dimiliki dan dikendalikan oleh kuasa kegelapan. Kuasa kegelapan dipersilakan oleh Tuhan untuk semena-mena melakukan apa yang mereka paling inginkan. Ini adalah saat yang paling evil di antara seluruh event yang jahat di dunia ini. Mari kita lihat satu bagian firman: Lukas 22:47-53. “Inilah saat kamu.” Di dalam kedaulatan-Nya, Dia yang memegang segala sesuatunya, Dia mengizinkan untuk setan berkuasa sesuka-sukanya di dalam waktu yang ditentukan-Nya. Getsemani saat apa? Saat evil yang paling jahat, saat terjadi kegelapan yang paling pekat. Yesus pernah mengatakan demikian, “Bekerjalah selama siang, akan datang malam dan kita tidak bisa bekerja lagi.” Jangan pikir seluruh hidup kita selalu siang. Ada saat-saatnya meskipun terbatas itu adalah malam hari. Yesus di dalam satu kalimat ini memberikan pengajaran kepada kita, “Barangsiapa yang pada waktu siang tidak baik-baik hidupnya, akan menyesal pada waktu malam itu tiba.” Getsemani itu waktu apa? Waktu evil merajalela, waktu kegelapan yang paling pekat. Setan pernah mencobai Yesus tiga kali di awal pelayanan-Nya. Dan ketiga-tiganya setan tidak menang, tapi kemudian ada satu kalimat Alkitab, “Setan mengundurkan diri dari Yesus, dan menunggu waktu yang tepat.” Musuh kita tidak berhenti untuk menjegal kita. Dia menunggu waktu yang tepat untuk bisa mengalahkan kita. Dan di sinilah dia melihat waktu yang tepat itu, perhatikan apa yang terjadi. Oh, kejahatan itu luar biasa kejam. Yesus pada waktu itu bersama dengan siapa? Tidak ada, Dia sendirian. Petrus berjanji beberapa jam sebelumnya, “Aku mau mati bersama Engkau.” Tetapi dialah yang menyangkal Yesus Kristus. Beberapa jam sebelumnya, Yohanes dan Yakobus mengatakan, “Aku mau minum cawan itu.” Tetapi Yohanes dan Yakobus kemudian pergi meninggalkan Yesus. Bukankah mereka adalah murid-murid yang pernah melihat transfigurasi Yesus? Transfigurasi adalah saat di mana the Son of God, Pribadi Kedua Tritunggal yang tersembunyi dengan mata kita, sekarang dilihat di depan bumi ini. Tidak ada satu nabi-pun yang pernah melihat. Tidak ada satu rasul-pun yang pernah melihat. Yohanes Pembaptis-pun tidak pernah melihat Yesus itu dengan cahaya kemuliaan sebagai Pribadi Kedua Tritunggal. Hanya tiga orang murid; Yohanes, Yakobus dan Petrus yang ada di gunung transfigurasi. Mereka sudah melihat sesungguhnya siapa Yesus, tetapi ketika mereka berhadapan dengan seluruh musuh di Getsemani, mereka pergi. Bukankah mereka yang melihat Yesus meneduhkan seluruh air lautan dan membangkitkan Lazarus dari kematian? Tetapi seluruh peristiwa itupun tidak bisa mengokohkan iman mereka. Semua meninggalkan, dan bukan saja meninggalkan, semua mengecewakan. Salib adalah isi hati Yesus Kristus. Alkitab dengan jelas menyatakan, “Untuk itulah Aku datang”, dan seluruh pengajaran-Nya menuju ke sana. Ini adalah hari yang terpenting dari hidup Yesus Kristus. Dan menghadapi hari itu, apa yang murid-murid-Nya lakukan? Tidur.

Kalau saudara-saudara mempunyai pasangan dan hari ini saudara akan menikah. Kalau perempuan itu pergi ke salon dari jam 4 pagi walaupun acara pernikahnya itu jam 12 siang. Dan jika perempuannya sudah siap-siap berjam-jam dari pagi, kemudian setelah selesai semuanya, dia menelepon calon suaminya tetapi tidak diangkat. Setelah beberapa kali coba menelepon baru diangkat, dan ternyata calon suami itu kesiangan karena baru bangun tidur. Apakah saudara tidak marah? Saudara akan sakit hati seumur hidup. Yesus sedang bergumul dengan darah yang menetes, tetapi Dia melihat murid-Nya sedang tidur. Kalau saudara-saudara seorang ibu, seorang istri, saudara lihat suamimu sedang tidur saja, rasa kesalnya sudah luar biasa bukan? Jika kita melihat anak kita tidur sampai jam 9 pagi, kita akan marah bukan? Ini saat terpenting, tetapi murid-Nya tidur. Ini saat terpenting, tetapi murid-Nya mengkhianati. Ini saat terpenting, tetapi murid-Nya menyangkal. Ini saat terpenting, bahkan kita bisa mengatakan, “Kalau kamu menyangkal, jangan saat ini. Ini saat paling penting malah kamu menyangkal.” Saudara coba pikirkan apa yang terjadi pada Yesus. Satu kata ini akan tertinggal; kesepian. Saudara perhatikan satu kalimat ini; kalau kita sungguh-sungguh mau mengikuti Tuhan kita, sungguh-sungguh mau melayani Dia, ada satu waktu mungkin kau akan menemukan dirimu sendiri ditinggalkan semua orang yang mencintai kita, tidak dimengerti oleh siapapun, dan itu adalah masa kegelapan. Tetapi perhatikan, bahwa Tuhan kita tidak akan meninggalkan kita. Dia tahu hati kita yang paling kesepian. Setan itu begitu jahat.

Saya akan bacakan apa yang menjadi tulisan William Gurnall (seorang Puritan). Kalau saudara-saudara mau melihat dan melatih diri saudara untuk bertempur secara rohani, bacalah tulisan-tulisan William Gurnall. Perhatikan apa yang dia tulis, “Iblis merupakan musuh yang licik, dia mengetahui kapan saat paling memungkinkan untuk berhasil dan mempertunjukkan keahliannya menggoda pada masa itu. Seperti di Mesir, ia memburu bayi yang baru lahir, demikianlah ia memburu orang yang baru saja bertobat. Iblis juga mendatangi orang percaya yang sedang tertindih penderitaan berat, ia seperti seorang pencopet yang sedang menunggu di lorong gelap untuk menyerang korbannya. Masa kritis pencobaan, juga terjadi pada saat menjelang kematian, ketika kekuatan fisik orang kudus sedang letih lesu. Iblis yang pengecut mendatangi orang yang lemah karena menyadari waktu yang dimilikinya sangat pendek. Iblis merayu dengan segala tipu muslihat dan akal bulusnya tatkala orang kudus sedang melangkah memasuki kekekalan.” Perhatikan baik-baik kalimat di bawah ini, “Jikalau Iblis tidak dapat menghalangi kedatangan anda ke surga, setidaknya ia masih dapat melukai anda menjelang anda masuk ke surga.” Dan ini yang terjadi pada Yesus Kristus. Saat menjelang akhir pelayanan-Nya dan akhir hidup-Nya, seluruh murid-Nya mengundurkan diri dan pergi. Tidak ada satupun yang tersisa; menyangkal, mengkhianati, mereka takut, mereka pergi, dan seluruh musuh mendekat kepada mereka.

Saya akan memberikan satu gambaran untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi pada Yesus Kristus. Sungguh-sungguh evil, dan ini bukan gambaran imajiner, bahkan ini pun ada di dalam tengah-tengah dunia. Coba saudara bayangkan, jikalau ada seorang laki-laki yang sebentar lagi menghadapi kematian dalam waktu satu sampai dua bulan, mungkin karena dia tua atau sakit, dan di dalam satu sampai dua bulan yang dinyatakan oleh dokter itu dia menghadapi kematian. Di saat itu tiba-tiba, dia mendengar bahwa istrinya itu menyeleweng dengan orang lain. Dan di saat seperti itu, dia juga mendengar bahwa anaknya yang meneruskan perusahaannya tiba-tiba menjual perusahaan itu. Bahkan tidak ada satu orang-pun temannya, rekan bisnisnya, yang datang untuk menjenguk dia. Apa yang akan terjadi dengan dia? Meskipun orang ini pergi ke surga (Iblis tidak bisa menghalangi orang ini pergi ke surga) tetapi Iblis masih dapat melukai orang ini menjelang orang ini masuk ke surga. Menyakitkan! Sendirian! Dan itulah Yesus Kristus. Lonely (kesepian), sendirian, tapi biarlah ini menjadi satu pengertian dan pengenalan kita, bahwa tidak ada satupun aspek, area, bahkan yang tergelap sekalipun di dalam hidup kita, yang Kristus itu tidak menyadarinya dan tidak mengertinya. Dia adalah Allah yang mengerti demikian, Dia Imam Besar yang mengerti seluruh penderitaan kita. Getsemani itu adalah waktu di mana evil yang paling kejam, kegelapan yang paling dalam.

Hal yang ketiga, Getsemani adalah titik krusial ketaatan. Penentuan ketetapan kehendak ada di sini. Oh saudara-saudara, melihat seseorang yang ada di Getsemani, ini adalah Man of Sorrow. Dan kalau saudara-saudara jeli dengan apa yang terjadi di Getsemani, maka saudara akan menemukan satu kalimat yang Philip Yancey tuliskan di dalam bukunya: Bukan Yesus yang Aku Kenal. Kalau saudara-saudara melihat dari tulisan empat Injil, maka sebelum Getsemani, saudara akan menemukan satu Pribadi yang stabil, satu Pribadi yang sungguh-sungguh tidak pernah mundur sedikit-pun, dan Dia tidak sama sekali memikirkan bagaimana respon orang lain, dan Dia juga tidak peduli dengan seluruh penderitaan-Nya. Yesus pergi ke satu desa demi satu desa, satu kota demi satu kota dengan gagah berani, tanpa ada penyesalan sama sekali. Dan setelah dari Getsemani, saudara akan menemukan seorang Mesias yang dengan kekuatan seadanya, tetapi menyelesaikan dengan tekun seluruh panggilan-Nya. Dengan keberanian, meskipun sudah berdarah, Dia menghadap Imam besar Kayafas. Dengan seluruh darah-Nya, Dia menatap Pilatus dan tidak mundur sama sekali. Di atas salib, Dia sama sekali tidak minta belas kasihan. Jiwa-Nya luar biasa dalam, stabil. Tetapi di Getsemani, Dia takut. “Berjagalah dengan Aku, Petrus. Berjagalah dengan Aku.” Dia pergi meninggalkan Petrus dan berdoa. Alkitab mengatakan bahwa Dia sangat sedih, Dia gemetar. Kalau saudara dan saya adalah prajurit bawahan, dan saudara melihat pahlawan kita gemetar, apakah kita tidak mundur teratur? Jikalau kita adalah seorang anak kecil, dan papa kita yang adalah hero kita lari, apakah kita tidak takut? Habakuk 3:16 dan seterusnya menyatakan kegentaran, ketakutan Habakuk yang luar biasa. Saya percaya apa yang terjadi pada Yesus, jauh lebih dalam daripada apa yang terjadi pada Habakuk. Habakuk menyatakan, “Aku menggigil, bibirku menggigil, hatiku gemetar, aku gemetar, tulang-tulangku seakan-akan kemasukan sengau.” Yesus sangat takut, sangat gemetar, dan Alkitab mengatakan Dia tertelungkup ke bawah.

Perhatikan baik-baik, peristiwa ini sendiri menyatakan, apa yang ditakuti oleh Yesus adalah murka Bapa-Nya yang ada nanti di atas kayu salib. Kepada manusia, Dia tidak pernah takut sama sekali, tetapi ditinggalkan Bapa, itu menakutkan bagi Dia. Tetapi bagaimana dengan kita? Kita tidak takut ditinggalkan Tuhan ketika kita itu berdosa. Tetapi kalau teman kita tidak menghargai kita, teman kita tidak melihat kita, kita tidak dilibatkan, kita takut. Kita takut kepada manusia, kita tidak takut kepada Tuhan. Tetapi Yesus Kristus, Dia tidak pernah takut kepada manusia, tetapi terhadap ancaman ditinggalkan oleh Tuhan, Dia takut luar biasa. Dan di dalam ketakutan-Nya itu, di Getsemani, maka Dia harus menentukan sekali lagi, apa keputusan hati-Nya. “Bapa, Engkau bisa melakukan segala sesuatu, kalau bisa biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku. Tetapi jikalau tidak, biar kehendak-Mu saja yang jadi.” Dia berdoa untuk kedua kalinya, “Bapa, Aku minta cawan ini lalu. Jangan tinggalkan Aku, jangan murka kepada-Ku. Tetapi kalau Engkau menginginkan cawan ini Aku minum, Aku akan minum.” “Bapa…” untuk ketiga kalinya Dia berdoa: “…lalukan cawan ini daripada-Ku,” Dia jeda sebentar, dan dengan kekuatan kehendak-Nya sekali lagi dia melanjutkan doa-Nya, “…tetapi biarlah kehendak-Mu saja yang jadi.” Setelah tiga kali Dia berdoa, Dia berdiri, Dia bertemu dengan seluruh musuh-musuh-Nya. Dia masuk dalam satu pengadilan demi satu pengadilan, tanpa sekalipun Dia mundur satu langkah. 

Perhatikan baik-baik: Di dalam setiap hidup kita, ada masanya Allah memberikan satu waktu, waktu itu adalah waktu penentuanmu. Dan itu adalah waktu untuk menentukan dirimu di hadapan Allah sendiri. Dan dari titik itu akan mempengaruhi seluruh masa depanmu. Pada saat itu terjadi, apa yang menjadi jawabanmu di hadapan Allah? Apa yang menjadi ketetapan hatimu di hadapan Allah? Guru Agung kita, Kepala Gereja kita menyatakan; Tetapkan hati kita untuk taat kepada seluruh kehendak-Nya sampai jadi. Itulah Getsemani. Saudara tidak akan menemukan keluhan Kristus sampai di salib. Dia hanya mengeluh di titik ini. Di titik doa-Nya. Di situ Dia menetapkan kehendak-Nya, dan Dia tidak menarik-Nya sama sekali, dan di situlah letak keselamatan kita. Ada saatnya titik itu terjadi dalam hidup kita. Saya mendengar dari beberapa orang hamba Tuhan yang ikut Pdt. Stephen Tong pergi ke Israel. Ketika mereka sampai ke Getsemani, Pdt. Stephen Tong menyuruh beberapa orang hamba Tuhan untuk berdoa. Setelah mereka berdoa, kemudian mereka ditegur oleh Pdt. Stephen Tong, “Engkau tidak tahu apa yang paling penting.” Kemudian hamba-hamba Tuhan itu bertanya, “Apa yang paling penting, Pak Tong?” Dan Pdt. Stephen Tong menjawab, “Engkau seharusnya berdoa: apa Getsemaniku, Tuhan?” Karena ini adalah waktu di mana kita menetapkan kehendak di hadapan Allah. Dan di situlah letak kekalahan atau kemenangan kita. Kiranya kasihan Tuhan menyertai kita. Mari kita berdoa.


1 Tim 1:18-20, 1 Tim 6:12, 2 Tim 4:7, 2 Tim 2:1-13
 
 
GRII Sydney

GRII didirikan di atas dasar Pengakuan Iman Reformed Injili dengan tujuan menegakkan satu gereja yang berbasiskan teologi Reformed, dengan mimbar yang menyampaikan khotbah ekspositoris, read more