Pagi ini saya akan memberikan satu dorongan dan nasehat kepada saudara-saudara di dalam hidup sehari-hari untuk bertumbuh di hadapan Tuhan. Enam dorongan dan nasehat ini, ketika saya bicara mengenai dorongan, saya bicara kepada saudara-saudara yang seumur atau yang lebih tua dari saya, ketika saya bicara berkenaan dengan nasehat, saya bicara kepada semua orang-orang yang lebih muda dari saya. Saat ini, saya, di dalam anugerah Tuhan, Tuhan menjadikan saya gembalamu, maka saya berkewajiban untuk menuntun seluruh kawanan domba ini, seturut dengan apa yang Tuhan kehendaki. Dan, saya mau saudara memperhatikan hidup sehari-hari, untuk boleh bertumbuh. Dan, ini yang saya harap seluruh jemaat di tempat ini sepanjang satu tahun ini bergerak bersama-sama setiap hari, untuk kita boleh bertumbuh di hadapan Allah, untuk kita boleh berjalan bersama Tuhan. Enam dorongan, enam nasehat ini.
Pertama adalah tetapkan hidup untuk bersaat teduh setiap pagi. Oh jemaat, ini adalah sesuatu yang luar biasa penting! Jikalau saya boleh memohon kepadamu, maka saya minta engkau menetapkan hati untuk bersaat teduh setiap hari. Mencari wajah-Nya, mencari kuasa-Nya setiap pagi. Kalau di pagi hari, engkau tidak punya waktu karena terlalu sibuk (dan jangan sering seperti itu), engkau tetap harus menutup harimu pada malam hari dengan bersaat teduh, tidak bisa tidak. Baca Firman-Nya dengan teratur. Ini adalah makanan di dalam hidup kita. Banyak orang tidak tahu kenapa dia begitu lemah, kenapa dia begitu tidak bertumbuh dalam iman, kenapa dia begitu sulit untuk menghadapi hidup; adalah karena dia tidak makan Firman. Dan perhatikan baik-baik, apa arti dari Salib? Kenapa Yesus harus disalib? Untuk menyatukan Allah Bapa dengan kita orang yang berdosa. Tadinya kita yang adalah musuh Allah, sekarang menjadi anak-anak kekasih, demikian kata Alkitab. Tadinya musuh, sekarang menjadi anak-anak yang terkasih. Tadinya tidak punya relasi, sekarang punya relasi. Tetapi sekarang, ketika engkau dan saya sudah ditebus oleh Yesus Kristus, sudah memiliki relasi dengan Bapa di surga, kenapa kita tidak memiliki saat teduh dengan Dia? Kenapa kita tidak memiliki satu relasi yang intim setiap hari dengan Dia? Kenapa kita tidak share (membagikan) isi hati kita kepada Dia? Ini adalah prinsip communion with God.Communion itu bukan komunikasi. Komunikasi itu adalah pertukaran ide. Tetapi, communion itu adalah sharing life. Ini adalah kekuatan kita. Ini adalah inner sanctum di dalam hidup kita yang paling-paling dalam. Biarlah engkau dan saya menatap Dia setiap pagi. Sebagai gembala, saya sungguh-sungguh minta kepadamu; hai jemaat, datang kepada Tuhan setiap hari, terus baca Firman-Nya setiap hari. Ini adalah suatu hal yang paling indah di dalam hidup kita, jikalau engkau menemukan-Nya. Hai semua anak-anak muda! Hai semua anak-anak remaja! Dan, semua pemuda-pemuda! Biarlah engkau boleh belajar setiap hari, bersaat teduh. Terus bicara kepada Tuhan, “Aku ingin kenal Engkau, Tuhan. Aku ingin kenal Engkau.” Kalau Tuhan tidak membukakan diri-Nya, kita semua mati. Tetapi kalau Tuhan membukakan diri-Nya, hidup kita akan berubah. Dorongan pertama, nasehat pertama: hai engkau yang senior, hai engkau yang keluarga, pemimpin-pemimpin, sampai pemuda, remaja, dan anak-anak, mari sepanjang satu tahun ini kita mementingkan saat teduh.
Kedua adalah di dalam hidup setiap hari, belajar melayani lebih dan memberi lebih. Sekali lagi; melayani lebih daripada tahun yang lalu, memberi lebih daripada tahun yang lalu. Hanya ada dua hidup, engkau mendapatkan berkat untuk engkau sendiri putar dalam hidupmu dan berkat itu mati dalam hidupmu, atau engkau mendapatkan berkat dan engkau memberkati orang lain. Hanya ada dua jenis hidup; centripetal (terus ke dalam diri) atau centrifuge (terus keluar). Hidup itu hanya ada satu kali. Hidup itu adalah untuk dunia, untuk orang lain atau untuk pekerjaan Tuhan. Belajar untuk memberi lebih. Belajar untuk lebih gracious kepada pekerjaan Tuhan dan juga orang lain. Belajar melayani lebih lagi. Dan, dari seluruh pemberian dan belajar itu, saudara perhatikan gereja Tuhan. Saya bicara ini bukan untuk membujuk saudara memberikan persembahan untuk gereja ini, tetapi saudara uji di dalam Alkitab. Seluruh pekerjaan Tuhan di dunia ada intinya, yaitu gereja Tuhan. Itu adalah sesuatu yang luar biasa penting dalam isi hati Tuhan.
Sama seperti saya mengatakan kepada saudara, keluarga itu begitu penting di hadapan Tuhan. Di dalam Alkitab, hanya ada dua institusi yang keluar dari mulut Allah. Institusi pertama adalah keluarga (di dalam Kitab Kejadian). Institusi kedua adalah gereja (di dalam Kitab Injil). Yang pertama adalah dalam konteks Creation. Yang kedua adalah konteks Redemption. Maka kita melayani bersama-sama dalam sebuah gereja yang benar, itu adalah sesuatu hal anugerah yang besar. Memberi lebih banyak di dalam sebuah gereja yang benar, itu adalah anugerah yang besar. Minggu depan, kalau Tuhan pimpin, maka kita akan meneruskan dari Matius pasal yang ke-7 dan di dalam Matius pasal ke-7 ada tulisan, “Waspadalah terhadap nabi-nabi palsu.” Pdt. Stephen Tong pernah mengatakan dan ini begitu tepat, “Kalau engkau memberikan persembahan dan engkau memberikan pelayanan untuk mendukung pengajaran yang salah, engkau berbagian dalam dosa mereka. Biarlah kita boleh memiliki satu keluarga yang baik dan kita boleh memiliki satu gereja yang sehat dan benar.” Saudara mendapatkan dua hal ini, saudara merasakan, mencicipi surga berkatnya itu apa. Layani lebih! Memberi lebih! Dan, di dalam poin ini selain gereja, saya akan menegaskan mengenai panggilan. Gumuli setiap panggilan keluargamu. Anak-anak muda, gumuli, engkau dibentuk keluarga itu untuk apa? Setiap anak muda, gumuli apa panggilan Tuhan bagimu. Kalau engkau taat di dalam engkau melayani hari demi hari, maka engkau akan dibawa makin lama makin mengerucut, makin tajam mengerti panggilan. Saya sekali lagi akan menyerukan kalimat yang berkali-kali saya serukan kepada anak-anak muda: Allah memiliki panggilan dalam hidupmu. Temukan itu dan genapi itu sebelum engkau mati! Ini adalah suatu hal yang kita mesti kerjakan setiap hari. Tuhan, apa yang menjadi panggilanku?
Ketiga adalah luaskan hatimu. Perhatikan baik-baik: Semakin kita bertambah umur, semakin sempit hati kita. Ini adalah satu dosa yang terus ada dalam hidup kita. Maka sejak dari saat ini, apakah engkau remaja, apakah engkau pemuda, apakah engkau adult atau senior, belajar untuk meluaskan hati. Meluaskan hati belajarnya bagaimana, Pak? Perhatikan baik-baik beberapa hal ini: Kalau ada orang salah kepadamu, maka belajar ampuni dia. Kalau engkau sadar kesalahanmu, maka cepat minta maaf kepada dia. Kalau ada orang yang menyalahkan kita, orang yang kurang ajar pada kita, kita pasti marah. Saya tidak katakan kalau orang luas hati, orang salah pada kita, kita senyum-senyum. Itu orang gila. Bukan seperti itu. Pasti secara spontan kita marah. Mungkin dalam 1-3 jam atau dalam 1-3 hari, kita marahnya luar biasa. Tetapi, tenangkan hati kita. Apalagi kalau Tuhan memberikan kepada kita belas kasihan muncul. Entah ketika engkau sedang drive, ketika engkau saat teduh, ketika engkau sedang mengerjakan sesuatu. Engkau teringat orang itu. Cepat, berikan pengampunan kepada orang itu. Jangan lama-lama menyimpan kepahitan di dalam hatimu. Kalau engkau menyimpan terus dalam hatimu, sebulan, dua bulan, satu tahun… itu akan mempercepat engkau memiliki hati yang sempit. Dan, semakin engkau sempit hati, engkau makin tidak bisa dipakai Tuhan. Semakin engkau sempit hati, semakin engkau tidak akan mendapatkan berkat banyak. Ilustrasi yang paling tepat untuk ini adalah martabak. Martabak itu dibuat dari satu dough yang kecil. Dough itu dipukul-pukul, dibanting-banting. Saudara, kalau jadi martabak itu nangis. Dibanting-banting. Sesudah itu, diluaskan dengan jari orang yang memasak. Tapi kuncinya itu, berapa banyak daging yang bisa dimasukkan itu tergantung luasnya. Kalau dough itu masih kecil, tidak ada daging yang bisa dimasukkan. Ingat dan belajar dari hal ini. Kalau hatimu sempit, tidak ada berkat yang akan masuk. Kalau ada orang salah pada engkau, engkau pegang terus kesalahannya bertahun-tahun, engkau pasti tidak bisa diberkati. Itu prinsip Alkitab.
Prinsip Alkitab itu, ada orang yang salahnya cuman sedikit dicekik-cekik. Dia tidak memperhitungkan dirinya sendiri yang mempunyai banyak kesalahan. Orang ini tidak mungkin diberkati. Setiap hari bertumbuhlah, punya hati yang luas. Bagaimana cara untuk punya hati yang luas? Cepat-cepat untuk mengampuni. Kalau saudara dan saya salah, cepat-cepat minta maaf. Jangan pegang gengsi. Oh, itu pegang muka kita, pokoknya tidak ada kesalahan. Kalau salah, minta maaf. Kalau tidak salah, tidak perlu minta maaf. Maka itu akan membuat hati itu semakin besar, semakin luas. Bukan itu saja, hati kita akan semakin luas kalau kita belajar mengasihi orang lain. Tahun ini belajar; ketemu dengan orang yang kita tidaksuka, kita coba untuk kenal, coba untuk sapa, coba untuk mengasihi, kasih perhatian dan coba untuk berdoa syafaat bagi orang itu. Adalah sesuatu yang alami memang kalau kita suka pada orang-orang itu-itu saja, tetapi adalah kehendak Allah untuk kita boleh memberkati banyak orang. Buka hati untuk orang-orang yang karakternya berbeda dengan kita. Buka hati untuk orang-orang yang opininya berbeda dengan kita. Coba untuk mengerti dari sisi dia, itu akan membuka kita semakin lama memiliki horizon yang semakin lebar. Hal yang lain adalah: engkau membuka hati makin luas adalah dengan membagi traktat, karena engkau mau peduli dengan keselamatan orang lain. Kalau engkau mau menjangkau jiwa maka hal pertama yang engkau pasti hadapi adalah bukan orang itu, tetapi adalah mukamu (kita punya malu). Selalu orang itu tanya, “Pak, bagaimana caranya saya mengabarkan Injil? Mengapa mengabarkan Injil itu susah?” Karena yang pertama kita hadapi adalah ‘aku takut’, ‘aku malu’, bukan orang itu, tetapi adalah diri kita. Maka luaskan hati kita. Jangan biarkan terus terlindungi dan tidak mau disakiti dan tidak ada resiko. Berdoa syafaat itu akan meluaskan hati kita. Menjangkau orang itu akan meluaskan hati kita.
Keempat adalah belajar lebih banyak untuk kita boleh bertumbuh setiap hari. Banyak orang tidak bertumbuh karena dia tidak belajar, bahkan tidak punya buku untuk dibaca setiap tahunnya. Saya bersyukur mendengar kesaksian tadi karena bukan saja Biak diberkati, tapi hal yang pertama yang diberkati adalah Usman sama Patricia itu sendiri. Sebelum mereka melayani, mereka baca buku. Mereka membaca buku, mereka baru mengerti; sekarang saya kenal tidakdengan Tuhan yang saya baca bukunya ini? Mereka mau tidak mau, harus bertumbuh. Banyak manager di tempat ini tidak bertumbuh, karena saudara tidak studi lebih. Banyak suami dan istri tidak bertumbuh, bahkan saudara tidak mengerti bagaimana mengasuh anak karena saudara tidak study sama sekali. Lebih celaka adalah hamba Tuhan. Banyak hamba Tuhan di dalam gereja-gereja tertentu yang dia tidak pernah baca buku, berani untuk bicara. Itulah sebabnya yang dibicarakan terus menerus, putar-putar itu saja dan yang dibicarakan adalah isinya mimpi-mimpi dan segala sesuatu ambisi sendiri. Mari saudara-saudara guru-guru Sekolah Minggu, engkau punya pelayanan, belajar. Remaja, belajar. Semua guru-guru, pembina remaja, pemuda, seluruhnya belajar. Engkau menjadi pengurus, engkau menjadi penatua, engkau mau apa, duduk begitu saja? Memerintah-memerintah? Tidakbisa. Kita semua bisa bicara karena kita belajar. Belajar. Cari buku yang baik. Cari bahan yang baik. Belajar sepanjang satu tahun ini.
Kelima adalah belajar peka pada pimpinan Roh Kudus dalam hidup sehari-hari. Roh Kudus adalah Roh yang menyertai kita. God with us, dan itu artinya Dia memimpin kita setiap hari entah kita sadar atau tidak. Tetapi, Tuhan menginginkan kita untuk mengerti pimpinan-Nya, maka kita terus menerus belajar untuk peka pada pimpinan Roh Kudus. Dalam poin yang kelima ini, saya akan memberikan sedikit catatan. Dan secara singkat saya akan menyelesaikannya. Perhatikan baik-baik. Saudara dan saya hampir tidak mungkin peka pada pimpinan Roh Kudus kecuali beberapa poin ini kita lakukan. Sekali lagi, kita diminta untuk peka pada pimpinan Roh Kudus tapi saudara dan saya tidak mungkin akan peka pada pimpinan Roh Kudus dan saya tidak akan sadar ini Roh Kudus pimpin, kecuali beberapa hal ini secara conditional itu kita kerjakan:
Hal yang pertama, adalah saudara dan saya harus membaca Firman itu secara teratur. Saudara tidak mungkin akan peka pada pimpinan Roh Kudus di hari-hari tertentu kecuali saudara dan saya baca Firman secara teratur. Saudara tidakbisa begini, “Oh, ini Roh Kudus pimpin”, padahal saudara tidak baca Firman dengan teratur. Saya takut sekali kalau ada orang mengatakan, “Tuhan menghendaki ini.” Tapi dia tidak pernah baca Firman.
Hal yang kedua adalah lakukan tugas sehari-hari dengan bertanggung jawab. Roh Kudus itu masuk di dalam kehidupan kita sehari-hari, maka lakukan semuanya dengan bertanggung jawab. Saudara akan menyadari, tiba-tiba Dia akan mengungkapkan bahwa ini adalah pimpinan Dia dan begitu saudara diungkapkan, saudara akan bersukacita karena saudara berjalan bersama dengan Dia.
Hal yang ketiga adalah buang dan akui seluruh dosa yang terlihat dan sengaja. Saudara tidak bisa menikmati dosa sambil minta pimpinan Roh Kudus yang jelas. Dosa kita sehari-hari apa itu jelas. Akui itu. Kalau saudara-saudara misalnya greedy, saudara juga akui itu. Atau, saudara-saudara gampang sekali jatuh dalam urusan seksual, saudara akui itu. Dan, coba sebisa mungkin dengan anugerah Tuhan, buang dosa itu. Kalau jatuh lagi, minta ampun dan buang dosa itu. Jangan pelihara dosa, apalagi melakukan dosa secara sengaja. Makin kita melakukan, makin saudara akan tahu secara kerohanian itu makin seperti awan gelap. Saudara tidak tahu berjalan sedang menuju ke mana.
Hal keempat adalah relakan taat. Relakan hati taat setiap saat. Pada waktu kemarin saya sudah sakit, saya sudah tidak inginpergi dan saya dengan mudah akan meng-cancel seluruh pelayanan itu. Dan saya pikir juga itu adalah bukan jemaat yang besar, kenapa saya harus pergi ke sana? Tapi saya belajar untuk taat. Minimal taat sebagai seorang yang sudah membuat janji kepada orang lain. Di dalam Alkitab dikatakan: ‘Seorang gentleman adalah seseorang yang melakukan tanggung jawabnya meskipun dia rugi.’ Maka kita tetap jalani di tengah-tengah kelemahan. Setelah beberapa hari kemudian, baru kita tahu bahwa orang itu (di mana kita itu datang untuk melayani) sudah berdoa untuk kehadiran kita. Itu saya kaget sekali. Saya bersyukur kepada Tuhan. Belajar peka pada pimpinan Roh Kudus dalam hidup sehari-hari.
Terakhir, hal keenam, yaitu belajar setiap hari minta belas kasihan Tuhan. Saudara-saudara, saya minta kepadamu mengembangkan satu sikap yang rendah hati ini di dalam segala sesuatu. Minta belas kasihan Tuhan. Itu akan mengembangkan hati kita yang remuk. Belajar setiap hari bergantung dengan minta belas kasihan Tuhan. Pada pagi hari ketika kita menghadap Tuhan, meskipun kita memiliki confident, meskipun kita lihat sepanjang hari segala sesuatu itu bisa ada di dalam pegangan dan aturan kita, tetapi kita belajar meminta, “Tuhan, kasihani aku.” Setiap hari saudara mengatakan itu dengan hati yang tulus, maka saudara akan menyadari pada satu waktu Tuhan akan memberikan pengertian kepada kita bahwa sesungguhnya hidup kita itu fragile adanya. Bahkan untuk sehari-hari, sesuatu yang kelihatannya ada di dalam kontrol kita. Dia akan membukakan hidup kenyataannya itu seperti apa, bukan seperti yang kita kira sebelumnya. Itulah sebabnya saudara akan menemukan kalimat dalam Alkitab itu: ‘Orang sombong itu disebut sebagai orang bebal, orang bodoh.’ Orang yang tidak mengandalkan Tuhan itu adalah orang yang sungguh-sungguh tidak tahu hidup itu seperti apa. Tadinya kita tidakrasa itu, tetapi begitu Tuhan buka, baru kita sadar kita itu sungguh-sungguh gemetarmelihat hidup, kalau Tuhan itu tidak tolong dalam segala sesuatu. Saya akhiri sampai di sini, biarlah enam hal boleh saudara pegang dan sebagai satu jemaat kita sama-sama belajar untuk melakukannya setiap hari. Mari kita berdoa.
GRII Sydney
GRII didirikan di atas dasar Pengakuan Iman Reformed Injili dengan tujuan menegakkan satu gereja yang berbasiskan teologi Reformed, dengan mimbar yang menyampaikan khotbah ekspositoris, read more