Mat 16:24 – 28
Yesus berkata kepada semua orang yang mau mengikuti Dia, di ayat ke-24, “Setiap orang yang mau mengikuti Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku.” Di sini, Tuhan Yesus memberikan kepada kita, 3 macam panggilan. Pertama, untuk menyangkal diri kita. Kedua, untuk memikul salib kita, dan yang ketiga, untuk mengikut Dia. Kita akan telusuri satu demi satu.
Pertama, apa artinya untuk kita menyangkal diri kita? Secara sederhana, jika kita menyangkal sesuatu, kita berkata ‘Tidak’ kepada hal tersebut. Jadi untuk menyangkal diri kita artinya mengatakan tidak kepada hal-hal yang menguntungkan bagi kita. Mengatakan ‘Tidak’ kepada keinginan dan pengharapan kita yang alami, yang wajar. Artinya membuat selera kita, keinginan kita, keamanan kita, kenyamanan kita, kenikmatan yang kita alami, bahkan reputasi dan barang-barang milik kita, bahkan hidup kita sendiri baik hal yang baik ataupun yang buruk, semua itu dikesampingkan untuk sesuatu yang lain, sesuatu yang lebih berharga, lebih bernilai adanya. Ada alasan kenapa Yesus pertama-tama menuntut dari semua murid-Nya untuk menetapkan satu komitmen untuk menyangkal diri mereka. Sebab apa yang Yesus minta setelah komitmen ini adalah sesuatu yang sangat bertentangan dengan keinginan kita sendiri. Sangat wajar bagi kita untuk ingin melindungi diri kita. Tentu kita mau berusaha untuk menyayangi atau mengasihi diri kita sendiri. Dan, kita ingin untuk tetap memiliki kuasa atau kontrol di atas segala hal yang menjadi milik kita. Tetapi, bertentangan dengan keinginan kita sendiri, Yesus memanggil kita untuk memikul salib.
Saya rasa akhir-akhir ini panggilan untuk memikul salib itu hanya menjadi satu slogan yang tidak ada bahayanya dan itu hanya ucapan umum di kalangan Kristen saja tentang pemuridan. Jadi bahasa ‘memikul salib’ itu menjadi sesuatu yang sangat lemah. Dan, diartikan oleh banyak orang hanya untuk menanggung satu atau 2 beban rohani, atau menanggung ketidaknyamanan di dalam hidup demi Kristus. Kita yang sekarang hidup di dalam Abad ke-21 tidak pernah melihat salib Roma dipakai di dalam konteks aslinya untuk tujuan kenapa salib itu diciptakan. Dan, bagi budaya dan komunitas sekeliling kita, salib itu hanyalah sebuah ikon budaya, ikon agama. Jadi, sangat mudah bagi kita sebagai orang Kristen untuk melupakan makna sesungguhnya, makna asli dari salib. Makna asli dari salib adalah sesuatu yang sangat-sangat menyiksa dan memalukan. Salib orang Romawi dipakai hanya untuk satu tujuan saja, dipakai untuk proses penyaliban. Ini adalah salah satu cara untuk mematikan orang, menghukum mati orang sengaja didesain untuk memperpanjang penderitaannya. Sebelum dieksekusi, orang yang akan disalib akan ditelanjangi. Dia akan dicambuk sampai kulitnya semua mengelupas. Kemudian dia akan dipaksa untuk memikul salibnya sendiri yaitu untuk memikul alat yang akan dipakai untuk menyiksa dia nanti dan dia harus membawanya sampai kepada tempat di mana dia akan dimatikan. Dan, kemudian tangan dan kakinya akan dipaku di atas kayu salib. Kemudian seperti lukisan di tembok, dia akan digantung di atas kayu salib tersebut mungkin sampai beberapa hari lamanya. Musuh-musuh bebuyutannya, orang-orang yang membenci dia akan datang melihatnya. Mereka akan melontarkan segala macam hujatan kepada dia. Penyiksaan itu dan rasa malu yang orang itu akan tanggung akan terus berkelanjutan sampai ia menghembuskan nafas terakhirnya.
Ini arti salib di abad pertama. Orang Yahudi mengerti arti ini. Lebih lagi mungkin sebagian dari orang Yahudi melihat orang disalib di depan mata mereka sendiri. Hanya dengan mengenal dan mengetahui arti penyaliban di zaman itu, kita dapat lebih memahami dengan lebih dalam betapa brutalnya untuk seseorang memikul salib. Ini adalah tugas yang sangat kejam dan akhir daripada tugas ini sangat mengenaskan. Sama seperti kita meminta orang ini untuk menggali lubang kuburnya sendiri. Untuk memikul salib artinya adalah satu dakwaan hukuman mati telah dijatuhkan dan kita tidak bisa mengelak hukuman itu. Dan, saudara-saudari, inilah yang menjadi panggilan Yesus kepada setiap daripada kita. Ini bukan kalimat saya. Ini kalimat Yesus sendiri, “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya.”
Seorang pendeta John Piper mengatakan bahwa salib ada 4 arti. Pertama, salib artinya pertentangan. Salib digunakan oleh kekaisaran Romawi untuk mematikan orang-orang yang mereka anggap menentang penguasaan mereka. Jika orang Kristen mau sungguh-sungguh taat kepada pemerintah Roma, ketaatan total, jadi mereka tidak menahan-nahan, jadi benar-benar taat. Mereka tidak mungkin akan menerima salib. Mereka akan menerima keselamatan. Mereka akan menerima kehormatan. Namun begitu banyak orang Kristen di abad-abad pertama akan dengan teguh menyatakan Yesus adalah Raja. Mereka akan mengatakan bahwa otoritas yang dimiliki Yesus jauh lebih besar daripada kuasa dan otoritas yang dimiliki Kaisar. Jadi orang-orang Kristen ini menolak untuk menyembah pemerintah-pemerintah dan kuasa-kuasa dunia. Demi Yesus Kristus, mereka memilih jalan salib.
Yang ke-2, salib artinya malu. Metode eksekusi seperti ini dikhususkan hanya untuk kriminal atau penjahat yang paling-paling jahat. Dan, sering kali orang yang dimatikan di atas kayu salib telanjang dan digantung di sana berjam-jam lamanya. Untuk memikul salib artinya kita harus siap-siap menerima hinaan, olokan. Kita harus siap mengantisipasi dan menerima rasa malu, kesalahpahaman, ketidakmengertian orang demi Yesus.
Yang ke-3, salib artinya penderitaan. Jenis eksekusi seperti ini didesain untuk memperpanjang penyiksaan yang anda akan alami. Apakah kita siap untuk menanggung hal seperti ini?
Yang terakhir, yang ke-4, salib artinya kematian. Tujuan akhir penyaliban adalah kematian, bukan sekedar disiksa lalu nanti dilepas. Untuk kita sebagai orang Kristen, untuk memikul salib artinya kita dengan rela menerima dari tangan Allah yang berdaulat dan penuh kasih, segala hal yang di atas yaitu pertentangan, malu, penderitaan dan kematian yang akan datang ke dalam hidup kita ketika kita mau mengikuti Yesus. Bagi para murid-murid yang pertama itu, yang pertama kali mendengarkan kalimat dari Yesus ini. Panggilan untuk memikul salib itu bukan sekedar kiasan, saudara-saudara. Itu suatu hal yang sangat riil bagi mereka. Berdasarkan catatan sejarah, semua rasul kecuali rasul Yohanes dan Yudas yang mengkhianati Yesus, semua rasul lainnya dihukum mati karena komitmen mereka untuk mengikut Yesus sampai kepada akhirnya. Paling tidak, 3 rasul yaitu Petrus, Andreas dan Filipus dihukum mati dengan cara disalib. Besar kemungkinan, sebelum mereka mati, mereka pun juga harus memikul salib. Jadi untuk bagi para rasul, untuk pembaca mula-mula Injil Matius, memikul salib bukan sebuah kiasan. Itu adalah suatu kenyataan. Tetapi ketika kita bicara tentang menyangkal diri, memikul salib, sebagai orang Kristen di zaman modern seperti sekarang, kita sering berpikir hal ini dijalankan secara bertahap seperti langkah seorang bayi. Kita berkata kepada diri kita sendiri. Oh! Hari ini saya akan belajar lebih mati kepada diri saya sendiri. Hal ini baik, hal ini benar. Tetapi ini bukan yang dimaksudkan Tuhan Yesus. Ketika Yesus memanggil kita untuk menyangkal diri kita dan memikul salib kita, yang Dia minta adalah suatu komitmen yang tegas. Dengan kata lain, Yesus bertanya kepada setiap dari kita. Maukah engkau mati bagiku? Jika anda berkata, “Ya, saya mau.” Jika kita berkata, “Ya, saya mau”, penyangkalan diri yang makin lama makin bertambah di dalam hidup kita adalah sesuatu hal yang wajar karena itu adalah konsekuensi dari ketetapan hati kita untuk rela mati untuk Yesus Kristus. Kita akan berkata kepada Yesus. Jika nyawaku adalah milik-Mu, ya Tuhan, kiranya hidupku, keseharianku juga menjadi milik-Mu. Saudara-saudari, kita sudah dipisahkan, dikhususkan untuk pekerjaan Kerajaan Allah. Demi perkataan Tuhan kita Yesus Kristus, saya mohon kepada engkau sekalian. Engkau harus memberikan hidupmu dan matimu kepada Tuan dan Tuhan kita. Jangan biarkan pengalaman atau saat-saat damai dan santai itu mematikan tekad hati kita.
Akhirnya, selain panggilan untuk menyangkal diri kita untuk memikul salib, panggilan yang ke-3 dari Yesus adalah untuk mengikut Aku. Apa artinya untuk kita mengikut Yesus? Dia sedang pergi ke mana? Sebelum perintah ini diberikan, Yesus sedang sudah berkeliling di seluruh daerah Galilea. Dan di Galilea, Dia berkhotbah dan menyembuhkan. Dan, tercatat banyak orang berbondong-bondong mengikuti Dia. Tetapi, mulai di pasal ini, Matius 16 mengikut Yesus akan menjadi komitmen yang benar-benar berbeda dari ketetapan hati sebelumnya. Karena Yesus tidak lama lagi akan meninggalkan Galilea dan akan berjalan ke Yerusalem. Dan, perjalanan ke Yerusalem ini adalah perjalanan yang sangat berbahaya. Sejak saat itu, Yesus mulai menyatakan kepada murid-murid-Nya bahwa Ia harus pergi ke Yerusalem dan menanggung banyak penderitaan dari pihak tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari yang ke-3. Yesus sedang berjalan tepat menuju kematian-Nya. Yesus sedang menjalankan sebuah misi yang besar yaitu menyerahkan hidup-Nya supaya orang-orang berdosa dapat ditebus, dapat disembuhkan, dapat dipulihkan, dan dapat diampuni. Dan, kita tau juga bahwa pengorbanan Kristus sebagai Anak Domba Allah itu sekali untuk selamanya. Artinya, peristiwa kematian dan kebangkitan Yesus adalah satu peristiwa yang hanya untuk sekali untuk selama-lamanya. Kalau kejadian itu tidak bisa diulang, maksudnya kita mengikut Dia itu apa karena kita tidak bisa melakukan apa yang Dia lakukan? Meskipun satu kematian dari satu pribadi Yesus ini cukup untuk membayar dosa dari seluruh dunia, kematian-Nya akan tetap memiliki implikasi yang serius untuk mereka yang mengaku diri mengikut Yesus. Maka, untuk mengikut Yesus berarti 2 hal.
Pertama, mengikut Yesus artinya dunia akan menolak kita. Yesus sendiri berkata dalam kitab Yohanes 15 ayat ke-20: “Ingatlah apa yang telah Kukatakan kepadamu: Seorang hamba tidaklah lebih tinggi daripada tuannya. Jikalau mereka telah menganiaya Aku, mereka juga akan menganiaya kamu.” Jika dunia ini, saudara-saudari, sudah memberlakukan Tuhan kita Yesus Kristus dengan sedemikian caranya, bagaimana kita bisa mengharapkan dunia ini untuk memberlakukan kita yang mengaku mengikut Kristus dengan cara yang lebih baik?
Yang ke-2, mengikut Yesus artinya kita diutus ke dunia. Yesus berkata dalam Kitab Yohanes pasal 20 ayat 21: “Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga sekarang Aku mengutus kamu.” Jika Yesus Kristus memberlakukan orang-orang yang membenci Dia dengan rasa yang begitu tanpa pamrih, dengan rela berkorban dengan sedemikian rupa, bagaimana seharusnya yang menjadi respon kita ketika kita dibenci orang karena kita mengaku mengikut Yesus? Jika saya bisa persingkat, mengikut Yesus artinya ini. Mengikut Yesus berarti menjalankan Amanat Agung sekali pun ada pertentangan yang berat. Artinya kita dipanggil untuk membalas benci tanpa alasan dengan kasih tanpa syarat.
Saya ingin menekankan satu poin yang penting. Jika setiap kita tidak memiliki pola pikir misioner yang kuat, kita tidak akan pernah memahami makna atau panggilan Yesus untuk menyangkal diri, memikul salib, mengikuti Dia, kita tidak akan pernah memahaminya. Ketika Yesus berkata, “Ikut Aku.” Bukan artinya… Yesus bukan berarti berkata kepada kita, “Karena Saya sudah menderita, kamu juga harus menderita. Oh, karena engkau adalah milik-Ku, kamu juga harus mengalami sakit yang sama.” Bukan itu artinya. Arti sesungguhnya adalah Kristus telah memberikan kita sebuah misi yang mirip dengan misinya. Kristus mengutus kita ke dalam ladang misi yang mirip dengan ladang misi yang Ia tuju. Itu artinya ada harga yang harus dibayar untuk menjalankan misi tersebut yang mirip dengan harga yang harus Kristus itu bayar. Saya mau memperjelas poin ini.
Hidup orang Kristus, misi orang Kristus, bukan untuk menderita. Misi orang Kristen adalah untuk menghormati dan memuliakan Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat kita. Untuk mengikut Dia dan membuat Dia dikenal oleh misi dunia. Penderitaan bahkan kematian itu bukan tujuan akhir misi Kristen, saudara-saudari. Penderitaan dan kematian hanyalah harga yang harus kita bayar. Jadi, kita tidak dengan sengaja mencari atau menerima penderitaan karena itu ada sesuatu yang indah di dalamnya. Kita juga tidak mencari atau menciptakan penderitaan itu sendiri, seolah-olah kalau kita makin menderita, kita makin kudus. Karena sangat wajar, saudara-saudari, kita mengerang dengan kesakitan dalam penderitaan kita. Sangat wajar, kita berseru kepada Tuhan, “Tuhan, berapa lama lagi?” Bukan seperti itu, tetapi yang kita lakukan adalah kita menerima hal-hal yang menyakitkan, hal-hal yang bahkan kita sendiri tidak suka atau nyaman. Kita terima semua itu karena kemuliaan Yesus dan keselamatan jiwa-jiwa jauh lebih berharga bahkan lebih daripada diri kita sendiri. Hal-hal itu jauh lebih berharga daripada diri, daripada aku yang Yesus sendiri panggil untuk sangkali. Kita berbagian di dalam penderitaan Yesus Kristus karena kita berbagian di dalam misi Yesus Kristus. Jika kita melupakan alasan ini, saudara-saudari, penderitaan kita tidak ada artinya, tidak ada gunanya dan kita tidak akan tetap bertahan berdiri ketika setan mencobai kita untuk mengubah batu menjadi roti. Ini adalah pemuridan sejati. Untuk menyangkal diriku. Memikul salibku. Dan, mengikut Yesus.
Jika ini artinya kita menjadi orang Kristen, tentu kita bisa menerima atau mengantisipasi satu penolakan atau keberatan, dan itu wajar. Jika saya mengikut Yesus dan semua hal-hal buruk ini terjadi kepada saya, kenapa orang yang waras mau melakukan? Orang gila saja yang mau melakukan. Kenapa saya harus boro-boro menderita memikul salib dalam hidup? Kenapa saya harus mengikut Yesus sampai kepada kematian? Yesus memberikan jawaban kepada kita di ayat 25; “Karena barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya.” Jadi Yesus berkata pada saat akhir sejarah, pada akhirnya akan ada satu pemutarbalikan yang besar. Dan di dalam pemutarbalikan yang besar ini, orang-orang yang berusaha sebaik sebisa mungkin menjaga nyawanya, akan kehilangan nyawanya. Tetapi orang-orang yang menyerahkan nyawanya saat ini, sekarang, kepada Yesus akan menemukan nyawanya. Yesus kemudian menjabarkan ke-2 skenario ini dengan lebih detail di ayat selanjutnya. Ayat 26, “Apa guna seorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya? Dan apalah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya?” Di dalam ayat ini, Yesus menimbang dua hal dan menimbang bobot dari masing-masing hal. Di satu sisi, kita mendapat seluruh dunia yang bisa kita peroleh. Dunia dengan segala keindahan dan kemuliaannya. Tetapi di sisi yang lain, kita hanya dapati satu jiwa. Saya bertanya kepada saudara-saudara sekalian, yang mana yang lebih berharga, dunia atau jiwa?
Qin Shi Huang adalah kaisar pertama yang menaklukan dan mempersatukan seluruh dari China pada waktu itu. Untuk memperkuat kekuasaannya, untuk mencegah serangan dari bangsa-bangsa asing, Qin Shi Huang memerintahkan pembangunan tembok yang kita kenal, tembok besar China. Panjangnya lebih 21.000 km. Pada masa pemerintahannya, Qin Shi Huang memanggil 500.000 orang pria. Dan biasanya, yang dipanggil kerja paksa untuk membangun tembok ini, kondisi atau lapangan kerjanya sangat-sangat sulit. Banyak harus bekerja di pegunungan yang curam, atau padang gurun yang begitu panas. Kadang-kadang mereka harus bekerja di tengah-tengah kondisi cuaca yang sangat ekstrim. Mereka bahkan tidak diberikan makanan atau tempat peristirahatan yang cukup atau memadai dan akibatnya banyak pekerja itu mati. Perkiraan konservatif, jumlah nyawa yang hilang hanya pada zaman Qin Shi Huang, kurang lebih ada 200.000, dan angka kematian itu terus naik, hingga sampai ketika tembok itu selesai dibangun, angka kematian berjumlah 1.000.000 jiwa. Jika anda bisa bertanya kepada Qin Shi Huang, “Yang mana lebih berharga Qin Shi Huang, satu tembok besar atau 1.000.000 jiwa?” Saya cukup yakin, dia tidak perlu pikir panjang, dia akan menjawab, “Temboklah.” Tapi pada masa-masa akhir hidupnya, ketika ia menyadari bahwa ajalnya makin mendekat, dia menjadi orang yang sangat-sangat ketakutan, paranoid akan kematian yang akan datang. Dia takut apa yang terjadi setelah dia mati. Dan di dalam ketakutan yang besar, ia menyewa begitu banyak penyihir, ahli nujum, para cendikiawan bahkan, dan dia menyuruh mereka mencari obat legendaris, konon katanya memberikan kehidupan abadi. Dia juga memanggil banyak dokter untuk mengelilingi dia. Dan dia memanggil dokter, untuk memberikan dia minum segala macam obat-obatan, yang katanya secara teori bisa memperpanjang hidupnya. Tetapi bukan itu saja saudara-saudari, Qin Shi Huang adalah orang yang penuh perencanaan, dia ini orangnya penuh persiapan. Jadi seperti contohnya, just in case; kalau pencariannya itu gagal, tidak dapat lagi mencari obat kehidupan abadi, dan dia harus mati, dia ini orangnya juga siap mempersiapkan diri untuk akhirat. Jadi di satu sisi, dia akan konsultasi dengan berbagai macam pemimpin agama, para peramal. Jadi dia panggil mereka, dan minta untuk dia bisa berteman baik dengan semua macam dewa-dewi, bahkan semua setan yang dia kenal pada zaman itu. Di sisi yang lain, dia juga menyewa begitu banyak ahli pahat untuk memahat patung-patung seukuran manusia. Jadi dia memanggil mereka, meminta mereka membangun patung-patung tentara, kuda, kereta kuda, berbagai macam senjata dan sebagainya. Dan semua itu diciptakan untuk melindungi dia ketika dia nanti masuk di dunia orang mati. Jika kita punya kesempatan untuk bertemu kembali dengan Qin Shi Huang, saat sebelum dia mati dan kita bertanya hal yang sama, “Yang mana lebih berharga, seluruh dunia dengan segala keindahan dan kemuliaannya, atau satu jiwa?” Saya percaya dengan satu kesungguhan, dan pada saat yang sama, kegundahan yang sangat besar, dia akan menjawab, “Satu jiwa.”
Contoh yang lain, pada akhir hidup orang ini, setelah dia mencapai kekayaan lebih dari kekayaan negara-negara, bangsa-bangsa lain disatukan, sesudah menikahi 1.000 wanita yang penampilannya, kecantikan mereka menandingi artis-artis dan penyanyi-penyanyi kesukaan zaman kita sekarang, setelah dia membawa kerajaan Israel, menuju puncak kejayaan mereka, Raja Salomo menyimpulkan, “Sia-sia, semuanya sia-sia.”
Contoh yang lain, Iskandar Agung, penakluk bangsa-bangsa besar, penakluk Persia, Babel dan Mesir. Dan ketika dia sudah berumur 32 tahun, dia menguasai hampir seluruh dunia yang pada zaman kuno yang mereka kenal. Dia berkata kepada pengikut-pengikutnya sesaat sebelum dia mati, “Kamu kuburkan saya, tapi nanti jangan bangun monumen. Dan ketika engkau menguburkan saya, biarkan tangan saya tetap di luar. Supaya seluruh dunia tahu, bahwa penguasa, penakluk yang memenangkan seluruh dunia pada masa hidupnya, tidak memegang apa-apa saat dia mati.”
Saudara-saudari yang terkasih di dalam Kristus, mari kita belajar memahami baik-baik apa yang Yesus katakan, “Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia, tetapi kehilangan nyawanya, dan apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya?” Apa dunia yang anda ingin cari? Banyak orang di dunia menghabiskan waktu, uang, tenaga. Semuanya itu mereka usahakan untuk mengukir secuil kecil daripada dunia ini untuk diri mereka sendiri. Mengambil sesuatu yang mereka anggap sangat berharga. Ada yang mau rumah besar seperti istana, mobil yang keren mewah, dan juga uang pensiun yang banyak. Ada yang mau jatuh cinta saking dalam-dalamnya, dia tidak mau memikirkan hal yang lain. Ada orang yang mau melakukan hal yang besar di dalam dunia ini, supaya mereka dikenang dan ingatan mereka itu terus diingat, dipuji orang. Banyak yang mau tenar, ada yang mau hormat, ada yang mau kuasa, ada yang mau penerimaan orang, ada yang mau stabilitas. Jika ada satu dari semua yang saya baru sebutkan diatas, yang adalah keinginan anda lebih daripada segala sesuatu; jangan datang kepada Yesus. Tidak usah ikut Yesus!
Karena jikalau kita hanya punya hidup ini saja, orang-orang yang seperti inilah, orang-orang yang pintar, yang bijak. Rasul Paulus pun setuju dengan orang-orang seperti itu dalam 1 Kor 15, “Jika orang mati tidak dibangkitkan, mari kita makan dan minum, sebab besok kita mati.” Satu-satunya alasan kenapa satu orang mau dengan rela menyerahkan hidupnya, menyerahkan segala ambisi terbesar yang dapat dia capai di dalam hidup ini, adalah jika dan hanya jika ada hidup yang lebih agung, dunia yang lebih mulia yang menanti mereka di depan. Semua yang Yesus katakan di dalam perikop ini hanya akan masuk di akal, jika ada kehidupan sesudah kematian yang jauh lebih baik dari kehidupan kita sebelumnya. Dan, langkah yang harus kita jalani untuk mencapai hidup yang lebih baik itu saudara-saudari. Memikul salib, menyangkal diri dan mengikut Yesus.
Mari kita kembali ke Matius 16:25: “Karena barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya.” Bagaimana cara kita menafsirkan kalimat yang paradoks seperti ini? Hal ini hanya masuk akal, jikalau kita memahami bahwa Yesus sedang menggambarkan 2 jenis hidup. Ada hidup yang fisik. Hidup jasmani. Hidup yang sementara. Hidup yang ada saat ini. Sekarang. Hidup yang mengejar, mencapai seluruh dunia. Kemudian di sisi yang lain, ada hidup yang lain. Hidup rohani. Hidup yang kekal. Hidup yang tidak pernah bisa diancam oleh kesakitan, atau kelaparan, atau kekerasan, atau kemiskinan. Dan hidup rohani ini lebih mulia, lebih sejati, lebih memuaskan dari segala sesuatu yang ada di dunia ini sekarang. Dan ada satu hal yang memisahkan 2 hidup yang besar ini adalah penghakiman terakhir Allah.
Yesus berkata dalam Matius 16:27, “Sebab Anak Manusia akan datang dalam kemuliaan Bapa-Nya diiringi malaikat-malaikat-Nya; pada waktu itu Ia akan membalas setiap orang menurut perbuatannya.” Suatu saat di depan, Yesus akan datang, dan Dia akan datang sebagai seorang Hakim. Dan Dia pantas, Dia layak untuk menjadi Hakim bagi kita, karena Dia bukan hanya seorang manusia yang sejati, Dia adalah Allah yang sejati. Dia adalah Panglima bala tentara Kerajaan Surga, Dialah yang berbagian kemuliaan dengan Bapa-Nya di Surga. Sebagai Allah, Dia memiliki hak untuk menghakimi dunia. Dan, sebagai Panglima bala tentara Kerajaan Surga, Dia memiliki kuasa untuk menegakkan penghakiman-Nya. Dan, di dalam penghakiman terakhir ini, Yesus berjanji untuk memberikan hidup yang kekal yang melampaui kematian, kepada semua orang yang ingin dan rela menyerahkan hidup mereka yang sementara, yang singkat ini kepada Dia. Tetapi saudara-saudari, kita harus memahami, ini bukan satu pertukaran antara Tuhan dan manusia. Karena sebenarnya kita tidak memiliki apapun yang berharga yang dapat kita tawarkan kepada Tuhan. Karena hidup yang singkat, dan sementara yang kita miliki ini, bahkan bukan milik kita sendiri. Karena hidup kita ini adalah pemberian Tuhan yang sudah menciptakan setiap dari pada kita. Jadi, kalau ini bukan satu petukaran, apa ini jadinya? Ini adalah sebuah hadiah, anugerah yang Allah berikan di dalam kasih-Nya. Karena Allah sudah terlebih dahulu mengasihi kita, bahkan ketika kita masih menjadi orang berdosa, masih membenci Allah. Allah mengasihi kita dengan jalan memberikan anak-Nya yang Tunggal, Tuhan Yesus Kristus untuk dimatikan karena kesalahan kita. Supaya Yesus yang terpuji, yang terberkati itu dikutuk dan menjadi yang terkutuk. Supaya kita yang terkutuk itu bisa menjadi yang terberkati. Saudara-saudari yang terkasih, sangat wajar untuk orang berhutang nyawa kepada orang yang menyelamatkan nyawanya. Dan jikalau Yesus mati supaya kita boleh hidup, hidup tidak lagi sebagai budak, hamba terikat dalam belenggu dosa, tetapi menjadi anak-anak Allah. Jika demikian, kita tidak memiliki hak untuk hidup, untuk diri kita sendiri, kita harus hidup bagi Kristus. Saudara-saudari, terutama yang sedang berjuang di dalam pelayanan. Jika engkau mau melayani Tuhan dengan efektif, jangan pernah anda kehilangan pandangan akan kekekalan. Sebab sesungguhnya tidak ada hal yang berharga di dunia ini, yang engkau bisa terima jikalau engkau sudah meresponi panggilan Tuhan untuk memikul salib dan mengikut Dia. Dan jikalaupun ada sesuatu yang bisa kita peroleh ketika kita melayani Yesus, memikul salib di dunia ini sekarang. Dan jikalau hal itu cukup sebagai motivasi untuk mendorong anda melayani Tuhan, sesungguhnya anda tidak melayani Tuhan sama sekali.
Yesus memanggil kita memikul salib, menyangkal diri, dan mengikut Dia untuk mengejar janji yang kita tidak akan dapatkan di dalam dunia ini. Hidup bagi Kristus adalah hidup yang berbahaya. Ada tertulis dalam 2 Tim 3:12: “Memang setiap orang yang mau hidup beribadah di dalam Kristus Yesus akan menderita aniaya.” Meskipun Tuhan telah, dalam anugerah-Nya meletakkan kita di satu tempat, kita boleh berkumpul di dalam satu komunitas sebagai satu orang Kristen, memuji dan menyembah Tuhan di dalam keamanan dan kenyamanan ini. Kita harus terus menerus mengingat saudara, bahwa dari awal, ketika Yesus memanggil kita, dan kita menjawab, “Ya,” kita sudah menetapkan hati untuk satu komitmen untuk memikul salib, salib yang melambangkan pertentangan dari pemerintah-pemerintah dan penguasa. Malu yang kita terima dari komunitas, dan penderitaan yang kita alami sampai kepada kematian.” Kita berjanji untuk memikulnya. Karena kita percaya akan nantinya ada kebangkitan. Kita percaya akan kedatangan Kristus yang ke-2 kali. Kita percaya akan Kerajaan Surga, kita percaya akan hidup yang kekal. Dan untuk orang-orang yang memandang rendah, memandang hina hidup mereka demi Kristus, Yesus menjanjikan satu hadiah bagi orang-orang yang setia. Dia mengatakan dalam Matius 16:27, Ia berkata, “Ia akan membalas setiap orang menurut perbuatannya.” Demikian pula pada akhir hidupnya, Rasul Paulus sebelum dimatikan oleh iman, dia menulis kepada penerusnya Timotius, “Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, Aku telah mencapai garis akhir, dan aku telah memelihara iman, Sekarang telah tersedia bagiku mahkota kebenaran yang akan dikaruniakan kepadaku oleh Tuhan, Hakim yang adil, pada hari-Nya; tetapi bukan hanya kepadaku, melainkan juga kepada semua orang yang merindukan kedatangan-Nya.” Tetapi saudara-saudari, meskipun rasul Paulus menderita dengan sangat hebat demi imannya, sekalipun demikian saudara-saudari, mahkota kebenaran ini bukan sesuatu yang ia layak terima, atau layak ia ambil untuk jasanya kepada Tuhan. Sebab pada akhirnya, setelah kita telah melakukan segala sesuatu yang ditugaskan kepada kita, kita harus berkata demikian, “Kami adalah hamba-hamba yang tidak berguna, kami hanya melakukan apa yang harus kami lakukan.” Tetapi saudara-saudari, kita akan menerima mahkota itu, karena Allah berkenan kepada kita, dan Dia membalas kita keluar dari kelimpahan kasih karunia-Nya kepada kita. Karena Allah mengasihi kita, dan kasih Allah kepada kita sudah ditunjukkan dengan begitu jelas melalui Yesus Kristus. Saudara-saudari yang terkasih, ini adalah panggilan orang Kristen. Dan hal ini menuntut kita untuk memperbaharui komitmen kita yang teguh saat ini, sekarang untuk mengikut Yesus Kritus, dengan salib yang kita pikul di bahu kita, sepanjang hidup kita. Kiranya pada saat itu, kita boleh merespon kepada Tuhan Yesus, “Jika nyawaku adalah milik-Mu ya Tuhan, kiranya hidupku, kiranya sehari-hariku menjadi milik-Mu juga.” Kiranya Tuhan memberikan anugerah-Nya untuk meneguhkan ketetapan hati kita, memberikan kita sukacita, hari demi hari terus menerus supaya kita boleh terus mengikuti Dia. Amin. Mari kita berdoa.
GRII Sydney
GRII didirikan di atas dasar Pengakuan Iman Reformed Injili dengan tujuan menegakkan satu gereja yang berbasiskan teologi Reformed, dengan mimbar yang menyampaikan khotbah ekspositoris, read more