Yoh 13:1-20
Kejadian-kejadian itu adalah malam hari tepat sebelum Yesus di atas kayu salib. Malam itu Yesus mengumpulkan murid-murid-Nya dalam suatu perjamuan terakhir. Ini adalah perjamuan makan Paskah orang Yahudi tetapi tidak sama dengan seluruh perjamuan orang Yahudi karena nantinya Yesus akan memberikan makna yang baru. Pasal 13 yang kita baca adalah tentang tindakan Yesus Kristus membasuh murid-murid-nya. Maka pada pagi hari ini saya akan membawa saudara-saudara pada 4 hal ini. Pertama, kapan ini dilakukan? Dan ke-2 apa motif Yesus melakukannya? Hal yang ke-3 adalah pelajaran apa yang Yesus katakan kepada murid-murid melalui semua ini? Hal yang ke-4 adalah berdasarkan kredibilitas apa Yesus melakukan pembasuhan kaki?
Yang pertama adalah kapan Yesus melakukan pembasuhan ini? Maka terlihat jelas bahwa Yesus melakukan pembasuhan ini pada waktu murid-murid dan Dia sendiri sudah ada di sekitar meja. Dan kalau saudara-saudara perhatikan perjamuan malam seluruh ceremony belum dilakukan. Ini juga bukan pembasuhan kaki oleh seorang pembantu pada waktu tamu-tamu datang untuk masuk ke dalam perjamuan. Jadi saudara-saudara pada waktu itu ketika satu rumah tangga melakukan perjamuan Paskah, maka kemudian tamu-tamu itu datang dan ketika tamu-tamu datang di pintu depan ada pembasuhan kaki oleh seorang budak. Tetapi ini bukan yang dilakukan oleh Yesus. Saudara-saudara, tamu-tamu tersebut sudah datang, sangat mungkin sudah dibasuh kakinya dan mereka sudah berkeliling di meja perjamuan dan mereka sudah berbicara-bicara tetapi perjamuan Paskah belum dilakukan. Dan tiba-tiba Yesus bangkit berdiri dan kemudian melepaskan jubah-Nya dan kemudian mengambil daripada pakaian untuk membasuh dan kemudian Dia membasuh satu-persatu kaki murid-murid-Nya. Mengapa saya membawa saudara-saudara melihat poin kapan ini? Karena itu artinya pembasuhan kaki murid ini adalah tindakan yang sengaja dibuat oleh Yesus Kristus. Ini bukan budaya, tidak pernah ada seperti ini, di seluruh keluarga Israel juga tidak pernah ada. Ini juga bukan bagian dari budaya makan Paskah. Yesus melakukan suatu tindakan yang khusus. Mau memberikan suatu pelajaran yang penting, yang partikular bagi murid-nya, bagi gereja, saudara dan saya.
Hal yang ke-2 adalah apa motif-Nya? Saudara-saudara Alkitab dengan jelas, Yohanes menuliskan; dorongan Yesus melakukan pembasuhan ini adalah karena Dia mengasihi milik kepunyaan-Nya sampai pada kesudahannya. Dorongan-Nya adalah love, cinta. Ada sesuatu yang menarik di dalam kalimat ini bahwa Yesus mengasihi mereka sampai pada kesudahannya. Saudara-saudara, ‘He loved them to the end.’ Di dalam bahasa aslinya itu adalah Telos, itu artinya adalah bicara berkenaan dengan ‘to the end’ itu adalah end itu adalah sampai akhir yang sifatnya adalah waktu. Tetapi di tempat yang lain ‘to the end’ itu adalah bicara mengenai secara jangkauan itu sampai extend sejauh-jauhnya, sampai tidak ada yang kurang, sampai tuntas, lengkap, sempurna. Itu arti kata ini. Yohanes mau menuliskan kepada kita semua, inilah yang dilakukan oleh Yesus; Dia mengasihi aku sampai kepada kesudahannya, bukan saja akhir, bukan saja bicara berkenaan dengan ‘waktu’ Dia mengasihi aku, ‘Dia memberikan semuanya.’ Dan di dalam kasih itu Dia melakukan tindakan yang spesifik, membungkuk, membasuh kaki. Dan bahkan kaki Yudas.
Di dalam poin yang ke-3 ini saudara dan saya akan melihat 3 hal besar. Apa yang Yesus itu mau ajarkan? Yang pertama adalah tindakan ini adalah bayang-bayang salib. Sekali lagi tindakan ini terjadi beberapa jam sebelum salib Yesus itu ada. Murid-murid-Nya tidak tahu apa yang akan terjadi di depan. Salib itu sendiri belum terjadi dan Roh Kudus belum datang pada waktu Pentakosta pada waktu murid-murid melayani. Yesus menjelaskan berkenaan dengan salib tetapi pada titik ini murid-murid-Nya belum sepenuhnya mengerti apa esensi pelayanan daripada Yesus Kristus. Saudara-saudara, Yesus sendiri mengatakan kepada Petrus, “Apa yang Aku perbuat engkau tidak mengerti sekarang tetapi engkau akan mengertinya kelak. “Kapan murid akan mengerti? Waktu Yesus sudah tersalib dan Roh Kudus sudah datang baru mata murid-murid itu celik akan apa yang diperbuat oleh Yesus dan apa esensinya. Pembasuhan kaki adalah bayang-bayang dari salib dan saudara perhatikan baik-baik. Dalam salib terdapat gabungan 3 hal ini. Pertama adalah perendahan diri atau perendahan hati. Hal yang kedua adalah kelembutan hati dan yang ketiga adalah cinta. Sekali lagi, salib adalah gabungan karakter Mesias. Dia yang suci, Dia yang benar, Dia yang adil tetapi Dia memiliki kerendahan hati, Dia merendahkan diri itu yang pertama. Yang ke-2 Dia lembut hati dan yang ke-3 adalah cinta. Saudara sekali lagi bahwa ketika Yesus itu membasuh kaki murid-murid-Nya, termasuk Yudas, maka ini adalah pengajaran kepada murid-murid-Nya melihat karakter Mesias untuk menggenapi seluruh rencana Allah, dan seluruh karakter ini bergabung menuju kepada salib. Sekali lagi, Yesus Kristus merendahkan diri-Nya di depan seluruh murid-murid-nya Dia rela menjadi seperti budak, tepatnya adalah Dia rela menjadi budak mencuci kaki murid-murid-Nya.
Saudara-saudara sebelum Yesus Kristus itu membasuh kaki murid-murid-Nya, maka sesungguhnya dalam Injil Sinoptik saudara-saudara, tidak ada di dalam Injil Yohanes menyatakan bahwa murid-murid-Nya itu bertengkar sebelum perjamuan makan itu ada, mereka sudah kumpul di situ dan kemudian mereka bertengkar. Dan apa yang mereka pertengkarkan? Satu topik, ‘Siapa yang lebih besar?’ Siapa yang lebih besar? Oh, Yohanes mengatakan aku, Petrus mengatakan aku, Nathanael mengatakan aku. Siapa yang lebih besar? Saudara-saudara kita itu kalau melayani itu, saudara-saudara melayani sungguh-sungguh tetapi sebenarnya dibalik yang paling dalam di hati kita, kita mau menentukan siapa yang sebenarnya lebih besar. Setelah kejadian ini apa yang dilakukan oleh Yesus? Yesus kemudian bangkit berdiri pada waktu itu, dan kemudian Dia melepaskan jubah-Nya, mengambil dari pakaian hamba itu dan kemudian Dia mencuci kaki satu persatu murid-murid-Nya. Yesus menjadi pelayan. Dia merendahkan diri-Nya di depan seluruh dari murid-murid-Nya. Bukan itu saja, maka Yesus melembutkan hati-Nya. Dia lembut hati, Dia memilih meekness, Dia tidak memberontak. Dia tidak memberontak kepada keadaan-keadaan hidup yang ditentukan oleh Bapa-Nya di surga. Saudara-saudara, saudara bisa melihat di dalam perikop Yohanes 13 yang tadi kita baca, ada yang unik ditulis oleh Yohanes di situ ditulis bahwa Yudas itu sudah punya pikiran untuk menjual Yesus, menghianati Yesus. Yudas sudah merencanakan hal itu dan Yesus itu tahu tetapi anehnya Dia tidak mencegah Yudas, malah Dia membiarkan Yudas melakukan apa yang Yudas mau. Apa artinya? Artinya adalah Dia rela, Yesus rela masuk di dalam seluruh providence yang telah Bapa-Nya itu tetapkan.
Saya tanya, kalau di tengah-tengah saudara dan saudara adalah seorang pemimpin, dan kemudian sekitar saudara semuanya ribut siapa yang lebih besar. Apa yang akan saudara lakukan? Saya akan katakan kepada semua orang itu, seluruh murid-murid-Nya itu, “Hei diam ya, mulutmu diam ya. Kamu pelayanan belum apa-apa saja sudah seperti ini. Kamu terus bilang siapa yang besar, siapa yang besar, siapa yang kira-kira dekat sama Yesus, kenapa dia diangkat jadi pengurus aku tidak? Kenapa dia terpilih jadi elders kenapa aku tidak? Apakah engkau tidak lihat aku sudah kerja keras?” Oh, kita mungkin akan marah sama orang-orang itu. Tapi saudara lihat apa yang dikerjakan oleh Yesus, Dia tidak bicara banyak dan kemudian Dia membasuh murid-murid yang mengatakan siapa yang lebih besar. Dan bukan itu saja, kalau saudara bisa melihat ada satu orang yang saudara sudah ketahui memiliki suatu penghianatan kepada saudara, saudara sebagai pemimpin apa yang akan saudara lakukan? Kita akan menghardik dia, kita akan meminta dia keluar bahkan kita mungkin kalau bisa menghukumnya secara masal. Tapi Yesus tidak membuka mulut-Nya untuk murid ini keluar, bahkan Dia itu melayani Yudas.
Dan saudara-saudara tahu bukan kalau saudara-saudara melihat Leonardo da Vinci punya gambar yang Last Supper itu, itu adalah gambar yang salah saudara-saudara. Murid-murid pada waktu ini itu tidak duduk seperti itu. Perjamuan malam adalah duduknya itu seperti orang itu sedang pergi ke beach, saudara-saudara. Jadi table itu agak rendah dan murid-murid itu duduk sambil selonjor saudara-saudara, sambil reclining begitu karena memang itu dibuat oleh Perjanjian Lama untuk menggambarkan seseorang yang sudah dibebaskan, seorang yang free. Engkau bukan lagi budak, bukan budak di Mesir, engkau adalah umat-Ku, engkau adalah orang yang dibebaskan, engkau bukan budak tetapi tuan. Jadi saudara-saudara bisa bayangkan Petrus atau Yudas atau siapapun saja, dia duduk sambil tiduran miring begini di table dan kakinya itu ke belakang dan nanti Yesus mencuci kakinya dari belakang. Dan Yesus tahu yang dicuci itu adalah seorang penghianat. Dia membiarkan semuanya, Dia lembut kepada kehendak Bapa-Nya mau menerima seluruh keputusan Bapa-Nya di dalam peristiwa-peristiwa. Anak Allah yang begitu lembut hati-Nya. Tetapi bukan itu saja, Anak Allah yang mencintai murid-murid-Nya sampai tuntas. Sekali lagi Yesus rela melayani murid-murid-Nya dengan mensejajarkan kepala-Nya itu dengan bagian terendah dari murid-murid-Nya yaitu kaki. Seorang komentator bernama James Montgomery Boyce menuliskan ini, “Apa yang dilakukan oleh Yesus adalah Love on its knees, cinta di lutut-Nya.” Yesus membungkuk ketika Dia berdoa supaya kehendak Bapa itu jadi di taman Getsemani. Dan Dia di sini, membungkuk ketika Dia melayani gereja-Nya. Kitab Efesus mengatakan, “Mempelai pria itu memandikannya dengan air dan darah sampai tiada cacat dan tiada kerut atau serupa itu.” Salib adalah perendahan diri Kristus terdalam, kelembutan yang terbesar, dan kasih yang terpuncak.
Pelajaran apa yang Yesus berikan? Pelajaran pertama adalah bayang-bayang dari salib, pelajaran kedua adalah bayang-bayang dari kebangkitan.Yohanes itu menangkap peristiwa ini dan menuliskan satu ayat yang kalau saudara-saudara lihat itu adalah sesuatu yang aneh. Ayat 12, sesudah Ia membasuh kaki mereka Ia mengenakan pakaian-Nya dan kembali ke tempat-Nya. Mengapa ditulis begini? Ini adalah Alkitab, ini bukan catatan kronologis. Setiap kalimat pasti ada sesuatu yang mau dikatakan. Saya akan jelaskan. Saudara-saudara, banyak komentator ketika melihat apa yang ditulis di dalam detail Yohanes mereka membandingkannya dengan apa yang ditulis Paulus di dalam Filipi 2:6-10. Saudara-saudara di dalam Filipi 2:6-10. Saudara-saudara apa yang dituliskan oleh Yohanes secara detail, saudara akan mendapatkan paralelitasnya dengan apa yang ditulis Filipi di sini. Filipi itu menuliskan mengenai teologinya, Yohanes menuliskan mengenai kejadiannya. Saudara-saudara lihatlah paralelitas ini, pertama Yohanes menulis bahwa Yesus bangun, berdiri dari tempat perjamuan, saudara-saudara sekali lagi, Dia tadinya rebahan dan kemudian Dia berdiri dan saudara-saudara, hal ini adalah sama diparalelkan dengan di Surga, Kristus yang bertahta itu bangkit berdiri untuk meninggalkan kemuliaan-Nya sebelum Ia datang ke dunia ini. Hal yang lain adalah Yesus kemudian menanggalkan jubah-Nya, Paulus dalam Filipi mengatakan bahwa, ketika Ia datang ke dunia, Dia meninggalkan kemuliaan-Nya, mengosongkan diri-Nya menjadi manusia, kemudian Yohanes mengatakan bahwa Dia Yesus mengambil sehelai kain lenan dan mengikatkan pinggang-Nya dan saudara-saudara ini adalah pakaian seorang hamba, seorang budak dan suatu posisi yang Kristus ambil untuk menjalankan misi-Nya. Sekali lagi, Kristus menjalankan misi-Nya bukan sebagai seorang Raja, tetapi seorang budak. Akhirnya, yang menuangkan air ke dalam sebuah baskom dan mulai membasuh kaki para murid-Nya dan kita tahu di dalam beberapa jam kemudian maka Kristus akan mencurahkan darah-Nya untuk membersihkan dosa manusia melalui penebusan, dan kemudian baru Yohanes menuliskan dalam ayat 12, “Sesudah Ia membasuh kaki mereka, Ia mengenakan pakaian-Nya dan kembali ke tempat-Nya.” Alkitab banyak tempat mengatakan dengan cara yang sama Dia turun, maka Dia akan naik ke Surga, Dia akan ditinggikan di tempat yang paling tinggi. Di tempat sebagaimana asalnya Dia berada, kembali ke tempat-Nya, duduk di sebelah kanan yang Maha Besar di Surga. Yohanes menangkap seluruh peristiwa pembasuhan ini adalah hal apa yang dikerjakan oleh Yesus, salib dan kebangkitan. Di sini Yohanes menggabungkan salib dan kebangkitan. Saudara-saudara, begitu banyak teolog menyatakan demikian, ayat 1-2 ini, “Yesus telah tahu, bahwa saat-Nya telah tiba untuk beralih dari dunia ini kepada Bapa yang mengasihi orang milik-Nya dan Ia mengasihi mereka sampai kepada kesudahannya” ini adalah kalimat pembuka bukan saja untuk perikop pasal 13, tetapi ini adalah kalimat pembuka untuk seluruh perikop pasal 13-21. Saudara-saudara, Yohanes mau menuliskan setelah peristiwa ini, aku akan menuliskan banyak cerita detail yang gelap, yang menakutkan; darah dan kematian Yesus. Tetapi kematian itu bukanlah jalan buntu, kematian adalah sarana menuju kemuliaan dari Kristus, akhir dari segalanya adalah kebangkitan, bukan kematian. Dia akan kembali kepada hak-Nya, kepada tempat-Nya semula. Saudara-saudara Yohanes menuliskannya, ketika saya melihatnya satu persatu, begitu indah.
Dan pelajaran ketiga, Yesus mengajar untuk gereja itu hidup saling mengasihi, dan kasih itu berisi lembut hati dan rendah hati satu dengan yang lain, dan hasilnya adalah saling mengampuni. Yesus mengatakan “Jikalau Aku membasuh kakimu, Aku yang adalah Tuhan dan Gurumu, maka kamu pun wajib saling membasuh kakimu” ayat 14. Dan ayat 15, “sebab Aku telah memberikan suatu teladan kepada kamu, supaya kamu juga berbuat sama seperti yang telah Kuperbuat kepadamu.” Ini adalah undangan bagi saudara dan saya untuk melakukan hal yang sama. Apakah kita nanti habis ini harus basuh kaki satu orang dengan yang lain? Dan kemudian basuh lagi, nanti basuh lagi, saudara-saudara sampai kapan selesainya? Saudara-saudara apa yang di maksud oleh Yesus ini adalah saudara-saudara, kita harus mengerti dalam kerangka teologia keselamatan, ketika Yesus itu membasuh kaki, dan Petrus kemudian mengatakan tidak mau, Yesus katakan, “Engkau kalau tidak mau, tidak berbagian dalam Aku.” Petrus kemudian mengatakan, kalau gitu basuh semua.
Saudara-saudara, saya suka sekali dengan Petrus, dia punya banyak kesalahan tapi tulus, dan hatinya itu terus berkobar-kobar buat Yesus dan Yesus mengatakan, “Tidak, engkau sudah mandi, engkau bersih.” Saudara-saudara ini adalah sesuatu analogi untuk sesuatu doktrin keselamatan. Ini bicara berkenaan dengan justification dan sanctification, kelahiran baru justification itu di dalam konteks ini digambarkan mandi hanya terjadi satu kali. Saudara tidak perlu dilahirkan kembali, besok dilahirkan kembali, tetapi sanctification, pengudusan itu terjadi terus menerus, dan saudara-saudara di sini kuncinya, di dalam anugerah Allah, di dalam prinsip dari Allah bekerja di dalam salvation, maka konteks sanctification itu ada bagian dari sesama kita di dalam gereja untuk melakukan, untuk saling mengampuni satu dengan yang lain, untuk saling rendah hati, untuk saling mengasihi satu dengan yang lain. Itulah sebabnya Alkitab mengatakan, kasih menutupi banyak sekali dosa. Ini tidak diketahui oleh Yudas. Yudas tidak mungkin melakukan hal ini, ini hanya diketahui oleh anak-anak Allah yang sejati. Anak-anak Allah yang sejati akan memiliki dorongan dan kuasa untuk saling mengasihi, mengampuni sesama yang bersalah kepada dia. Sehingga ini menjadi satu gereja yang bergerak untuk mengasihi dan di dalamnya penuh dengan kasih.
Di tempat yang lain, maka saudara akan mengerti bahwa sekali lagi ini tidak dimengerti oleh Yudas, nanti Yesus akan mengelaborasi prinsip kasih ini setelah Yudas keluar dari tempat itu. Yudas tidak diberi tahu, Yudas tidak berbagian di dalamnya, Yesus sedang bicara saling mengasihi, saling mengampuni dan Dia nanti mengelaborasinya sesudah Yudas pergi. Saudara lihat Yohanes pasal 13:31, maka ini adalah pembelajaran mengenai kasih yang Yesus ajarkan, perintah yang baru, saudara perhatikan ayat 31, ‘Sesudah Yudas pergi’ ayat 34 “Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi”. Saudara-saudara ini adalah suatu pelajaran yang penting, sekali lagi sangat-sangat penting sekali. Mengapa? Saudara lihat konteksnya sekarang, Yesus hanya punya beberapa jam saja sebelum Dia itu mati, bangit dan nanti beberapa hari, kemudian Dia naik ke Surga.
Saudara-saudara Alkitab dengan jelas menyatakan, ketika Yesus naik ke Surga, maka seluruh pekerjaan-Nya di bebankan kepada kita, Gereja. Tentu kita tidak bisa melakukannya sendiri, kita memerlukan Roh Kudus untuk itu, tetapi bukan orang lain dan bukan Yesus lagi, tetapi saudara dan saya dengan anugerah Roh Kudus, dengan penyertaan Roh Kudus kita melakukan pekerjaan-pekerjaan yang Yesus lakukan di dunia ini dan seluruh pekerjaan Kristus Yesus motornya itu adalah kasih Agape. Dia mau memastikan bahwa seluruh murid-Nya memiliki hal ini, Dia membentuk saudara dan saya menjadi satu Gereja di tengah-tengah dunia yang tidak ada kasih. Untuk saudara dan saya saling mengasihi menutup dosa, kita bukan kompromi, kita berjalan dalam kekudusan dan kebenaran, tetapi kita siap sedia untuk mengampuni. Dan ketika seseorang itu mengampuni, mencuci kaki itu, dunia akan tahu bahwa engkau adalah murid-murid-Ku.
Sampai di tempat ini saya sulit sekali untuk mengelaborasi ini. Saudara mungkin akan bertanya “Tuhan Yesus untuk apa ya saya mencintai, mengasihi orang lain? Apakah saya kasih makan, itu mengasihi? Atau apakah aku memperhatikan, aku mengasihi? apakah aku memberikan uang, aku mengasihi?” Saudara-saudara kasih memiliki sesuatu hal yang penting tetapi danger di dalam. Dan saya tidak bisa mengelaborasi pada hari ini bentuknya seperti apa, tetapi saudara perhatikan baik-baik, apa pun saja berkenaan dengan kasih. Pertama kasih itu adalah verb kata kerja. Yesus sudah sampai pada akhirnya Dia mengasihi murid-Nya sampai akhir, dan kemudian Dia bangkit berdiri membuka jubah-Nya, memakai kain lenan, dan kemudian mencuci, love is verb.Yang kedua, apa pun saja yang kita kerjakan, ketika kita bicara, itu adalah kasih, pasti di dalamnya saudara dan saya harus lembut hati dan rendah hati. Pasti. Lembut hati dan rendah hati, kalau saya mau memberikan ini kepada dia yang tidak punya, tapi di dalam hati saya, saya mau meninggikan diri saya, itu adalah orang yang lebih kaya dari dia. Saudara tahu bahwa apa yang saya berikan itu bukan cinta, maka saya tidak bisa memberikan contoh pada saudara-saudara love itu ini, love itu, itu. Tetapi, kalau ada orang bersalah kepada kita di dalam gereja ini dan saudara lepaskan kesalahan itu, dan saudara mau lembut, dan mau rendah hati kepada Tuhan, tahu bahwa semuanya itu dalam providensianya Tuhan, itu cinta. Cinta tidak memperkarakan lagi apa yang dia kerjakan kepada kita. Itu yang Yesus kerjakan, Ia tidak mengutak-atik kesalahan Yohanes, Petrus bicara seperti itu, kamu dosa kamu sudah mengatakan bahwa sendiri kamu lebih besar. Dia mencuci kaki mereka, biarlah kita boleh menjadi satu komunitas yang belajar mengasihi, membasuh kaki satu dengan yang lain, karena dengan seperti ini dunia akan tahu bahwa kita murid-murid Yesus dan seluruh pelayanan kita, dan bahkan seluruh pelayanan di luar misi kita didorong oleh cinta.
Terakhir, keempat, berdasar apa Yesus melakukan pembasuhan kaki ini? Berdasar apa? Kalau saudara-saudara misalnya pergi ke bank, dan kemudian saudara mengatakan; saya mau mencairkan uang 500 ribu, maka petugas bank bukan begini saudara-saudara, oke pak, lalu dikeluarkan uang 500 ribu, tidak, dia akan tanya identitas saudara, kalau di Indonesia dia akan tanya kartu bank saudara, lalu kemudian semuanya dicocokkan, juga muka saudara, “Oh ya, anda memiliki hak untuk uang 500 ribu ini ditarik” kalau ada seorang debt collector datang kepada kita, dia mengatakan, “Agus, bayar uang 100 ribu, engkau sudah berhutang”, lalu kemudian saya mengatakan, ”Saya tidak berhutang kepada engkau, saya berhutang kepada Pak Rudi, “Ya, ini adalah satu dari surat penunjukan saya menjadi representatifnya Pak Rudi untuk menagih hutang.”
Sekarang saudara perhatikan baik-baik, seluruh tindakan itu berdasarkan pada kredibilitas di belakangnya, semua tindakan itu berdasarkan dari siapa orang ini sesungguhnya, dan kemudian saudara-saudara perhatikan kenapa Yesus melakukan ini? Berdasar apa Yesus melakukan hal ini? Dan kemudian jawabannya adalah Yohanes menuliskan ‘Yesus tahu bahwa Bapa telah menyerahkan segala sesuatu kepada-Nya bahwa ia datang dari Bapa dan akan kembali kepada Bapa. Lalu bangunlah Yesus dan menanggalkan jubah-Nya’ Apa yang dituliskan Yohanes? Bahwa kuasa dan otoritas ada di tangan Yesus. Yesus yang memiliki otoritas dan kuasa itu, itu adalah kredibilitas-Nya dan kita akan berpikir dengan kekuatan dan otoritas-Nya Dia akan menyapu seluruh musuh-Nya, menghardik dosa murid-murid-Nya menyatakan kekecewaan-Nya. Dengan kuasa dan otoritas-Nya, lalu Yesus menanggalkan jubah-Nya, mengambil dari pakaian budak itu, dan mencuci kaki murid-murid-Nya, bahkan musuh-Nya, itu Rajamu dan Rajaku, itu adalah Raja Gereja. Saya tidak tahu apa itu rendah hati, apa itu lembut hati, apa itu cinta. Kiranya kasihan Tuhan menyertai kita. Mari kita berdoa.
GRII Sydney
GRII didirikan di atas dasar Pengakuan Iman Reformed Injili dengan tujuan menegakkan satu gereja yang berbasiskan teologi Reformed, dengan mimbar yang menyampaikan khotbah ekspositoris, read more