Yohanes 13:31-35
Minggu lalu kita sudah bicara tentang Yesus yang membasuh murid-murid-Nya. Pada waktu itu Yudas masih ada di sana, tetapi pada perikop ini, Yudas sudah pergi. Yesus sendiri mengatakan kepada Yudas “Apa yang engkau mau perbuat, perbuatlah dengan segera.” Yudas kemudian dengan cepat pergi dari kumpulan murid-murid Yesus. Ini menyatakan suatu pelajaran yang penting dari Yesus Kristus. Sesungguhnya setiap kalimat yang Yesus sendiri ucapkan, Yudas sama sekali tidak mungkin mendengarnya, Yudas tidak berhak untuk mendengarnya dan Yudas juga tidak memiliki kemampuan untuk mengerti seluruh kalimat setelah Yudas pergi. Seumur hidupnya Yudas tidak pernah mendengar. Ini ada suatu paradoks yang besar, Yudas yang memutuskan aku mau pergi, tetapi Yohanes menuliskan Yesus-lah yang melepas dia dan setelah Yesus melepas dia, Yudas berpikir bahwa aku pergi menurut keinginanku sendiri. Tetapi setelah itu Yesus mengajarkan hal-hal yang pokok yang hanya bisa didengar oleh murid-murid sejati-Nya.
Tahu cara kerja Allah ini pun membuat saya terlalu takut. Perhatikan baik-baik, engkau menentukan mau untuk pergi ke gereja atau tidak, engkau pikir itu adalah hakmu, tetapi sesungguhnya adalah Allah yang akan membawa atau melepaskan kita. Setiap Firman yang keluar di tengah-tengah dunia yang kita tidak bisa dengarkan itu adalah kehendak Allah untuk menyaring kita. Saya suka sekali dengan lagu Fanny Crosby “Kasihanilah aku, jangan lalui aku, jangan lalui aku, pass me not.” Ini adalah sesuatu permohonan, “Tuhan bicara sama aku. Kalau Engkau bicara dan dia dengar, mengapa aku tidak? Tuhan bicara kepada aku.” Ini adalah jeritan murid Yesus yang sejati. Fanny Crosby tahu bahwa kalau seseorang bisa menemukan anugerah Firman, itu benar-benar adalah karena isi hati Kristus tertuju kepada dia. Oh dunia, engkau tertipu oleh dirimu sendiri, aku boleh pergi ke gereja, aku boleh tidak pergi ke gereja. Apa artinya Firman boleh aku lupakan dan aku tidak peduli setiap Minggu aku tidak pergi gereja juga tidak apa-apa. Saya katakan kepada saudara-saudara, bahwa engkau pasti adalah anak binasa karena engkau dilepaskan oleh Allah, engkau dibuat untuk tidak peduli apapun saja dari hal-hal yang suci. Firman yang sangat berharga, Firman yang dikejar oleh orang-orang yang takut akan Tuhan. Dibuat enteng, dibuat tidak berharga oleh anak-anak kegelapan. Engkau pikir bahwa engkau yang mengatur hidupmu? Tidak! Seperti Yesus melepaskan Yudas, engkau sedang dilepaskan oleh Tuhan. Saya katakan dengan apa yang sungguh-sungguh ada dalam hati saya, ujilah ini, bahkan sampai engkau mati, bahkan engkau sampai dalam kekekalan. Engkau akan tahu. Kalau engkau mendapatkan penghakiman dari pada Allah, saya tidak bersalah atas darahmu. Saya bicara sungguh-sungguh, jangan main-main anak muda, jangan main-main semua orang di tempat ini.
Tuhan melepas Yudas dan setelah itu Dia bicara kepada para murid-Nya, dan seluruh pembicaraan ini saudara akan tahu, Yudas mengerti pun tidak, dia pasti tidak dengar, dengar pun tak mungkin mengerti. Sekarang kita akan masuk ke dalam intinya. Apa yang sesungguhnya Yesus sedang ajarkan? Apa yang Yesus sedang usahakan dengan seluruh pengajaran ini? Untuk mengerti hal ini, kita harus mengerti latar belakang waktunya. Ini adalah jam-jam sebelum Yesus ditangkap dan dipaku di atas kayu salib. Ada dua konteks yang besar sekali yang akan terjadi sebentar lagi. Yang pertama adalah Yesus sedang mempersiapkan semua murid-murid-Nya menghadapi kejahatan yang makin lama makin memuncak. Bahkan pada perikop ini murid-murid-Nya tidak bisa mendeteksinya, tetapi evil sedang jalan ke tempat kelompok ini. Yesus dan murid-murid-Nya sebentar lagi akan masuk di dalam masa kegelapan yang luar biasa besar. Ada progress kejahatan, evil yang semakin lama semakin bergerak ke arah mereka dan semakin memuncak. Yesus sendiri kemudian mengatakan, “Inilah waktu kegelapan itu.” Kita tahu nanti di taman Getsemani, beberapa jam saja setelah ini, Yesus ditangkap dan tidak ada satu murid-Nya yang bisa bertahan, mereka lari terbirit-birit, mereka lari ketakutan. Begitu sangat takutnya dan bahkan pada salah satu Injil, ada murid Yesus lari sambil telanjang karena saking takutnya. Konteks yang kedua adalah Yesus mengajarkan hal-hal ini semua untuk mempersiapkan murid-murid-Nya mengambil alih untuk misi-Nya. Sebentar lagi misi Yesus akan berakhir di dunia ini. Dia disalib, Dia bangkit, dan kemudian Dia naik ke surga dan seluruh misi-Nya selesai? Tidak. Misi-Nya akan dikerjakan oleh Roh Kudus dan gereja-Nya, oleh Roh Kudus dan murid-murid-Nya. Saudara-saudara perhatikan, segala sesuatu dilakukan Yesus di sini adalah untuk menjamin seluruh murid-Nya bisa bertahan dari kuasa kegelapan yang sangat besar yang menyerang. Bukan itu saja, tapi nantinya bisa menang untuk dapat meneruskan pelayanan-Nya di dunia. Segala sesuatu yang Yesus ajarkan dan Yesus lakukan di dalam detik-detik terakhir ini adalah untuk melindungi iman murid-murid-Nya dan membuat murid-Nya tetap bisa hidup dari masa kegelapan dan meneruskan misi-Nya.
Ketika sampai di kalimat ini pikiran saya mengingat akan Firman Tuhan. Ini sungguh-sungguh terjadi di salah satu hutan di satu negara. Tim pemadam kebakaran masuk ke dalam hutan yang baru selesai terbakar. Jadi, sudah selesai semua kebakaran itu dan dia masuk untuk mengecek apakah masih ada sisa-sisa api. Saudara bisa bayangkan hutan yang terbakar seperti apa, hitam di sana sini, semua pohon terbakar, tidak mungkin lagi ada kehidupan apapun saja. Tim pemadam kebakaran masuk lebih lanjut ke dalam hutan tersebut sambil terus berjaga-jaga sampai beberapa waktu mereka melangkah, tiba-tiba mereka mendengarkan ada suara kicauan burung, kecil. Mereka kemudian cari-cari, loh ini kok masih ada burung. Lalu mereka memperhatikan dan mereka melihat ada satu induk burung terbakar habis di sana. Mereka dengan dengan satu tongkat kayu menusuk-nusuk induk burung tersebut. Ketika induk burung itu lepas dari pohon, terlihatlah di dalamnya tiga sampai empat anak burung yang kecil yang terus berciap-siap di sana. Ini yang mencengangkan. Ketika mereka memperhatikan posisi induk burung tersebut, maka posisinya adalah dia sedang membentangkan sayapnya lebar-lebar dan memeluk entah telur atau anak burung yang sudah menetas pada waktu itu, untuk melindungi mereka dari kebakaran dan dia sendiri tidak lari dari kebakaran itu. Dia mati di sana. Ini yang dilakukan oleh Yesus. Waktu tinggal sedikit, bahkan murid-murid-Nya tidak tahu apa yang sebentar lagi akan terjadi. Yesus melakukan segala sesuatu, mengajarkan hal-hal yang perlu untuk meng-cover iman mereka sampai kegelapan itu lewat, iman mereka bisa tetap hidup dan mereka bisa meneruskan misi Kristus. Yesus pernah melihat dari atas bukit Yerusalem dan Dia berseru, “Yerusalem, Yerusalem, berulang kali Aku mau mengumpulkan engkau seperti induk ayam mengumpulkan anak-anaknya tetap di bawah sayapnya, tetapi engkau tidak mau.” Tetapi murid Kristus yang sejatilah yang menemukan tempat perlindungan yang kokoh di bawah sayap induk itu. Yesus mengembangkan sayap-Nya seluas-luasnya dan menutup mereka. Tidak ada satu pun daripada mereka yang binasa. Mereka bisa khawatir, mereka goncang, mereka lari, mereka ketakutan, tetapi tidak ada satu pun yang kalah imannya. Oleh pertolongan Roh Kudus mereka akan mengingat setiap perkataan Yesus. Yesus sudah mengatakan berkali-kali, kalau itu terjadi, engkau tahu Aku sudah mengatakannya. Yesus melindungi iman mereka, Yesus melindungi mereka dari mara bahaya yang dekat, dan Yesus ketika Dia menyatakan semua pengajaran ini Dia menyatakan mereka akan hidup dan meneruskan seluruh pelayanan-Nya. Itu adalah konteksnya. Kalau saudara tidak mengerti konteksnya, saudara akan baca ini seperti biasa dan sekarang kita sudah mengerti konteksnya untuk melindungi dan agar murid-murid-Nya bisa bertahan atas kuasa kegelapan serta murid-muridnya bisa menang sehingga dapat meneruskan pelayanan Kristus di dunia ini.
Yesus bicara di dalam perikop ini tentang tiga hal. Apa itu? Yang pertama untuk mempersiapkan murid-murid-Nya menghadapi kegelapan yang puncak, untuk murid-murid-Nya tetap bisa hidup bertahan dan melanjutkan misi-Nya, Yesus memberikan pelajaran bahwa salib adalah jalan kemuliaan. Yesus berkali-kali bicara tentang hal ini dan khususnya di dalam perikop ini dan selanjutnya juga Dia tekankan berkali-kali, “Ingat ya murid-murid, salib itu kemuliaan-Ku.” Sepanjang 3½ tahun Yesus melayani dan khususnya di dalam waktu-waktu terakhir ini, satu hal yang Yesus terus-menerus usahakan adalah membalik pikiran, membalik asumsi murid-murid Yesus bahwa salib adalah kebinasaan, salib adalah kehancuran. Yesus berkali-kali mengatakan salib adalah kemuliaan. Ini adalah suatu peperangan terhadap pikiran yang luar biasa sulit. Kalau saudara-saudara menyanyi lagu “Salib-Nya, salib-Nya, selamanya mulia,” orang Yahudi akan menertawakan kita. Mana pernah salib itu kemuliaan? Dia akan bicara “Pak Agus, salib itu kekalahan.” Engkau teologinya dari mana salib itu kemuliaan? Kesebelas murid-Nya tak pernah akan percaya salib adalah kemuliaan Kristus, tetapi Yesus terus bicarakan hal ini. Dia mengatakan sekali lagi di tempat ini, “Sekarang Anak Manusia dimuliakan dan Allah dimuliakan di dalam Dia dan jikalau Allah dimuliakan di dalam Dia, Allah akan memuliakan Dia juga di dalam diri-Nya dan akan memuliakan Dia dengan segera.” Kenapa ada kata ‘now’? Sekarang Anak Manusia dimuliakan. Perhatikan ketika Yudas pergi, maka Yesus mengatakan, “Sekarang anak manusia dimuliakan,” karena Yesus tahu begitu Yudas pergi, salib pasti akan langsung datang. Yesus menyatakan bahwa Dia akan dimuliakan, itu artinya Dia akan diangkat tinggi di atas salib. Ketika salib itu Dia pikul, maka Allah akan dimuliakan, jikalau Allah dimuliakan di dalam Dia, Allah akan memuliakan Dia juga dalam diri-Nya dan akan memuliakan Dia dengan segera, artinya kebangkitan dan kenaikan Kristus ke surga akan terjadi. Tidak ada tempat yang dapat kita lihat dan kita kenali dengan lebih jelas bahwa Yesus itu layak menerima seluruh kemuliaan kecuali di salib. D.A. Carson menyatakan, “Momen tertinggi dari penyingkapan ilahi, momen terbesar dari kemuliaan yang ditunjukkan adalah dalam rasa malu di atas kayu salib.”
Salib Kristus adalah kemuliaan, apa artinya? Apakah ada yang baik dari salib? Jawabannya adalah tidak. Orang yang disalib itu banyak, ribuan. Hanya ada satu salib yang dianggap mulia yaitu salib Kristus. Kenapa salib Kristus itu mulia? Karena salib Kristus adalah puncak ketaatan Kristus kepada Bapa-Nya. Itulah kemuliaan. Dan itu juga kemuliaan saudara dan saya jikalau kita mau taat kepada Bapa di surga. Di salib tidak ada mulianya sama sekali, tapi Kristus yang tersalib itu mulia bukan karena salib pada dirinya sendiri mulia, tidak. Tetapi kenapa salib Kristus atau Kristus yang tersalib menjadi mulia? Adalah karena ketaatan-Nya. Nanti panggilan murid dan panggilan saudara dan saya adalah memikul salib dan memproklamasikan salib Kristus di tengah-tengah dunia ini. Kristus sedang mempersiapkan murid-murid-Nya agar mereka tidak hilang iman, tidak goncang ketika Yesus disalib. Bukan itu saja, Yesus mau menjamin bahwa murid-murid-Nya akan meneruskan pelayanan-Nya. Untuk meneruskan pelayanan-Nya, murid-murid harus rela memikul salib yang diberikan Allah kepada kita, untuk itu murid-murid harus tahu bahwa ketaatan kita di hadapan Bapa adalah suatu yang mulia. Kemuliaan kita, kemuliaanmu dan saya bukan terletak pada uangmu berapa banyak, berapa banyak orang menghargai kepandaian kita dan terpesona sama kita, bukan! Kemuliaanmu hai manusia, kemuliaan kita hai manusia, tergantung pada satu hal, apakah kita taat kepada Bapa di surga atau tidak. Kenapa kita mencari definisi sendiri? Kenapa engkau pikir bahwa ada kemuliaan di tengah-tengah kehebatan namamu, kehebatan keuanganmu? Manusia diciptakan untuk satu hal, yaitu takluk dan taat kepada Bapa, kepada Allah di surga yang menciptakan kita. Perhatikan baik-baik satu kalimat penting ini, “Yang bisa melihat kemuliaan salib pasti adalah karena pekerjaan Roh Kudus di dalam hati.” Saya tanya, orang-orang Yahudi itu semua bisa lihat kemuliaan salib? Apakah Yudas bisa melihat “Oh Yesus disalib, engkau mulia.” Apakah Imam Besar, Pilatus, melihat Yesus di atas kayu salib “Engkau mulia.” Satu orang yang tadi saya sudah sebutkan, satu orang yang melihat Yesus di atas kayu salib itu mulia, sesungguhnya ada dua, tapi saya akan bicara satu. Satu orang yang melihat Yesus di atas kayu salib mulia adalah centurion. Dia lihat Yesus di atas kayu salib dia bicara “Sungguh orang ini Anak Allah.” Kalau imam besar lihat, sungguh orang ini kalah. Saudara lihat bedanya? Roh Kudus pekerjaaan utamanya adalah melihat kemuliaan di tengah-tengah kehinaan Kristus.
Hal yang kedua. Apa yang Yesus ajarkan untuk murid-murid-Nya bertahan dalam kegelapan yang puncak untuk tetap bisa bertahan dan melanjutkan misi-Nya? Yaitu Yesus menyatakan rencana dan seluruh jalan di depan, Yesus sedang menyatakan Aku yang berdaulat. Ini adalah panggilan yang penuh kasih sayang. Yesus katakan kepada murid-murid-Nya “Anak-anak-Ku …” Tidak pernah ya di tempat yang lain Yesus ngomong, “Anak-anak-Ku.” Ini tinggal beberapa jam, Dia sangat sayang sama semua murid. “Aku akan pergi dan ke tempat Aku pergi kamu tidak mungkin bisa datang.” Saudara akan melihat kalimat-kalimat Yesus, Dia sudah memprediksi apa yang terjadi di depan. Dia akan mati, Dia akan bangkit, Dia akan naik ke surga, Dia mengatakan di Farewell Discourse, di tengah-tengah meja ini, Dia mengatakan, “Roh Kudus akan menjadi penolongmu, kamu ada dukacita tapi dukacita cuma sebentar dan nanti kamu akan bersukacita lagi.” “Aku akan pergi dan di mana Aku pergi kamu tidak bisa datang ke situ.”
Pertama-tama ini adalah bad news luar biasa. Murid-murid-Nya luar biasa gelisah karena panggilan mereka pertama kali adalah “Follow Me,”- ikut Aku. Dia ikut saat Yesus mengajar, dia ikut saat Yesus menyembuhkan orang, di seluruhnya bahkan di danau yang penuh dengan guntur mereka semua ikut. Tetapi malam itu Yesus mengatakan, “Aku akan pergi dan ke mana Aku pergi kamu tidak bisa datang ke situ.” Oh, ini seperti layangan putus, gelisah, ketiadaan masa depan, sehingga saudara-saudara akan tahu nanti di dalam ayat-ayat selanjutnya entah Petrus, entah Tomas, entah Filipus, terus-menerus tanya “Ke mana Engkau, ke mana Engkau?” Bagaimana caranya aku pergi? Apa jalannya, Tuhan? Yesus mengatakan, “Ke mana Aku pergi kamu tidak bisa pergi.” Kalau Saudara perhatikan ayat ini, kalimat ini dan kalau Saudara membaca di dalam Yohanes 7:33-34, saudara akan menemukan kalimat yang sama, Yesus bicara kepada orang-orang Yahudi, “Ke mana Aku pergi, kamu tidak akan bisa pergi.” Perbedaannya adalah kepada orang-orang Yahudi, Dia menganggap seluruhnya adalah musuh-Nya. Pada kalimat itu Yesus berhenti, dan tidak menjelaskan apa pun saja. Tetapi kepada murid-murid-Nya, Yesus meninggalkan mereka seperti yatim piatu. Sampai nanti, Yesus meneruskan, perhatikan pasal 14:1, dan ayat yang ke-3. Kalimat pertamanya sama terhadap semua orang Yahudi, tetapi Yesus tidak meneruskan. Tetapi di dalam ayat ini, Yesus meneruskan. Di dalam pasal yang ke-7, Yesus berbicara kepada mereka seperti seorang yang adalah musuh-Nya, “Aku berada di tempat yang engkau tidak mungkin bisa datang.” Tetapi kepada murid-Nya, Dia mengatakan, “Aku akan pergi, engkau tidak bisa datang sekarang, tapi nanti setelah seluruhnya siap, engkau akan bersama dengan Aku.” Yesus sudah menyatakan dengan detail seluruh rencana-Nya ke depan. Apa yang sebenarnya Yesus sedang ajarkan? Yesus mengajar kepada murid-murid-Nya: ‘Ya, sebentar lagi kegelapan akan datang, tetapi Aku sudah mengetahui apa yang akan terjadi. Akulah yang berdaulat, Akulah yang menguasai keadaan, seluruh rencana ini ada dalam tangan-Ku dan desain-Ku.’ Kristuslah yang akan di depan dan memimpin seluruh peristiwa selanjutnya, berkali-kali Yesus juga mengatakan, “Percayalah kepada-Ku.” Dia adalah sebab dan bukan akibat, Dialah yang mengendalikan keadaan, Dia bahkan yang mengatakan kepada Yudas, “Apa yang ingin kau perbuat, silahkan perbuat.” Kristus berdaulat di tengah semua evil yang akan terjadi.
Apa yang menjadi kekuatan kita hidup? Kalau saudara-saudara mengikuti eksposisi kitab Wahyu, kita sudah bicara mengenai kitab Efesus, sudah bicara mengenai kitab Smirna, dan malam ini, kita akan masuk ke dalam kitab Pergamus. Setiap dari 7 gereja di Asia Minor itu, seluruhnya memiliki penderitaan yang besar, bahkan Pergamus ada di tengah-tengah takhta setan, begitu banyak orang martir pada waktu itu. Kita sebagai orang Kristen, kita sekarang sulit di dalam ekonomi, tetapi bagi orang-orang Perjanjian Baru, orang-orang gereja awal adalah persis seperti Yesus Kristus, bukan cuma ekonomi; politik, sosial, dan agama, semuanya berusaha untuk mematikan kelompok kecil ini. Apa yang terjadi kepada Yesus di dalam beberapa jam adalah gabungan seluruh kejahatan dalam seluruh aspek ini. Agama memakai politik, politik memainkan kekuasaannya, sosial (masa) berkumpul mengatakan, “Salibkan Dia, Salibkan Dia.” Uang bermain di belakangnya dengan pengkhianatan Yudas. Seluruh aspek hidup berkumpul dan kemudian memakukan Yesus di atas kayu salib. Apa ada pengharapan bagi satu kelompok yang kecil ini? Uang tidak ada, relasi tidak ada, negosiasi tidak pintar, mereka hanya punya hati yang murni. Yesus membawa hati mereka, iman mereka, mata mereka mengaitkan apa yang terjadi di dunia ini dengan kedaulatan-Nya. “Semua ada dalam kendali-Ku, gereja. Ingat! Aku sebab, Aku bukan akibat. Semuanya Aku sudah tahu ke depan, Aku akan membawa engkau selangkah demi selangkah melewati kegelapan ini.” Perhatikan kalimat di bawah ini; untuk dapat menghadapi hidup yang gelap dan meneruskan pekerjaan misi Kristus, maka memiliki mata akan kedaulatan Allah, itu adalah sesuatu yang mutlak perlu. Kita tidak tahu hidup kita ke depan seperti apa; mungkin kemiskinan, mungkin sakit, mungkin bahaya, mungkin pedang. Kita tidak bisa memprediksi hidup kita di depan, dan itu menakutkan. Tetapi Tuhan mau untuk saudara mengerti; barangsiapa di dalam Kristus, maka sayap-Nya direntangkan, dan kemudian memeluk kita untuk melewati kesulitan itu. Seluruh kegelapan kita ada di dalam kedaulatan-Nya. I am the Alpha, I am the Omega.
Terakhir ke-3. Apa yang Yesus ajarkan untuk mempersiapkan kegelapan yang puncak untuk kita bisa tetap hidup, bertahan dan melanjutkan misi-Nya? Yesus menyatakan kepada murid-murid-Nya, “Aku memberikan perintah yang baru, yaitu supaya engkau saling mengasihi.” Sekali lagi, Yudas tidak pernah dengar ini. Dan kalau dengar, tidak mungkin bisa melakukan. Ini adalah kehendak Bapa. Sering kali dalam hidup kita, kami, hamba-hamba Tuhan ditanya, “Apa sih kehendak Allah bagiku? Pacarku yang mana? Aku mesti pilih kerja yang mana? Aku mesti tinggal di mana?” Kita selalu bilang kehendak Allah adalah untuk keperluanku. Saudara mau tahu jawaban kebutuhan kita, saudara pikirkan dulu apa yang menjadi isi hati Tuhan. Yesus mengatakan, “Ini kehendak-Ku, ini perintah-Ku.” Seluruh GRII Sydney perhatikan, Yesus mengatakan, “Ini perintah-Ku; Saling mengasihilah engkau satu dengan yang lain, sebagaimana Aku mengasihi engkau.” Begitu kuatnya kalimat ini, saudara tahu bukan, kalau kehendak Allah itu, kita mengabarkan Injil. “Pergi, jadikan seluruh bangsa murid-Ku.” Yesus tidak memulai dengan: ‘Ini perintah-Ku.’ Tetapi aneh sekali, di sini dikatakan: ‘Ini perintah-Ku.’ Di perikop ini dikatakan: ‘Perintah yang baru,’ Apanya yang baru? Kalau melihat kitab Musa, saudara akan tahu bahwa perintah mengenai mengasihi sudah ada. Kalau saudara-saudara melihat seluruh Hukum Taurat dan Kitab Para Nabi yang diajarkan oleh Yesus, di situ juga ada perintah mengenai mengasihi. Saudara bisa menyelidikinya panjang lebar dalam Perjanjian Lama dan Injil Sinoptik. Tetapi saya akan langsung menuju kepada intinya. Apanya yang baru? TIga hal ini: Yang pertama adalah standard-nya baru: ‘Kasihilah satu dengan yang lain, sebagaimana Aku mengasihi engkau.’ Ini menjadi sesuatu yang luar biasa tinggi, karena Kristus mengasihi kita, itu karena Bapa mengasihi Kristus, dan kemudian Kristus mati di atas kayu salib. Secara singkat, ini adalah kasih Agape. Ini adalah kasih yang merendahkan diri. Ini kasih yang mengosongkan diri, maka tidak mungkin kalau kita mau melakukan berdasarkan kekuatan sendiri, itulah sebabnya hal yang ke-2 yang baru adalah kuasanya baru. Kuasanya baru karena Roh Kudus akan dicurahkan. Kalau hanya mau ‘Aku mengasihi dia, aku baik sama dia, karena dia baik sama aku,’ semua orang bisa. Tetapi kalau sudah berbicara mengenai kasih Agape, itu urusan lain, kuasanya baru.
Dan yang ke-3, ini yang menjadi kekhususan kitab ini, dan saya sangat terkejut. Hal yang ke-3 yang baru adalah tatanannya yang baru. Apa yang Yesus sedang bentuk hari itu, adalah komunitas gereja, komunitas Kerajaan Allah yang saling mengasihi. Yudas tidak berbagian, orang-orang yang belum lahir baru tidak berbagian di dalamnya. Ini perintah bukan bagi dia, tetapi ini adalah mandat bagi semua murid, orang-orang yang ditebus oleh Tuhan, gereja Tuhan, saudara dan saya, kalau engkau dan saya adalah sungguh lahir baru. Yesus akan mengatakan, “Kalau engkau mau menang terhadap kejahatan yang sebentar lagi datang, kalau engkau mau melanjutkan misi-Ku di dunia, maka engkau harus saling mengasihi, sebagaimana Aku mengasihi engkau.” Kita harus tahu, ketika evil datang, maka pasti akan ada kuatir, sakit, goncangan. Saudara-saudara akan menemukan kegagalan kita, atau rekan-rekan seiman kita kebingungan. Malam hari itu, maka murid-murid akan terpencar. Petrus melarikan diri, dan satu-satunya yang tidak melarikan diri sesungguhnya adalah Yohanes. Saya mulai menyadari Yohanes menuliskan ini, agar Firman ini berbicara untuk dia juga. Dari seluruh murid-Nya, yang paling kecewa adalah Yohanes. Dia satu-satunya yang tetap di bawah kaki salib Yesus; “Petrus ke mana? Dia lebih terkenal dari aku, dia adalah pemimpin para rasul. Tomas engkau ke mana? Engkau tidak pakai rasiomu? Natanael engkau kemana? Semua mengecewakan.” Yohanes punya hak untuk marah. Apalagi dia adalah boanerges, ‘anak guntur’, apa-apa dia marah. Tetapi karena dia melihat salib Kristus, maka dia tahu Yohanes 3:16. Kalau sesuatu yang jahat datang ke dalam komunitas kita, maka saudara akan lihat satu dengan yang lain, kita akan saling menyalahkan, kita akan kecewa besar. Tetapi Yesus mengatakan, “Engkau harus menang terhadap evil ini, engkau harus keluar hidup dan terus meneruskan misi-Ku, maka kasihilah satu dengan yang lain.”
Saya teringat akan peristiwa beberapa tahun yang lalu. Terjadi ke semua gereja, di tempat kita, di tempat yang lain, di pusat, di manapun saja. Saudara ingat pada waktu covid datang? Wah itu evil sekali. Seluruh dunia disapu. Saudara bisa bayangkan, virusnya berusaha untuk hidung kita tidak menghirup satupun. Kita semua kebingungan, “Bagaimana caranya kita menghadapi covid ini?” Saudara akan menemukan pada waktu itu kesaksian ini bukan 1, bukan 2, ratusan gereja. Ada kubu ini dan kubu ini berperang, saling menyalahkan, “Harusnya seperti ini, harusnya seperti itu,” rapat menjadi keras. Menyalahkan satu dengan yang lain. Saya kemudian menyadari satu hal, “Lho ini masalahnya, musuh saya adalah covid, musuh kita covid, bukan dia. Kenapa kita tidak sama-sama untuk menghadapi covid? Mengapa kita harus berperang untuk urusan ini?” Ini adalah sesuatu yang biasa terjadi; kalau ada evil yang datang, selalu kita akan saling menyerang satu dengan yang lain. Yesus mengatakan, “Saling mengasihi engkau, satu dengan yang lain, sebagaimana Aku mengasihi engkau.”
Saya akan katakan satu hal ini, dengan takut dan gentar, dan harap Tuhan melindungi kami, melindungi saudara sekalian. Saya melihat dengan mata saya sendiri, berkali-kali hamba Tuhan, satu per satu dikalahkan di dalam hal ini. Akhirnya isi mimbarnya adalah kepahitan, karena hatinya pahit. Saya sendiri sudah mendengarkan; misionaris-misionaris yang pulang dari dunia misi; isinya cuma cerita kepahitan, kekecewaan, kesulitan di ladang misi, dan orang-orang di ladang misi itu bagaimana tidak menghargai mereka. Saya membaca begitu banyak misionaris yang pulang dari tempat misi, dan mereka berkemenangan, tetapi ada juga misionaris-misionaris pulang dari tempat misi dan mereka sangat pahit. Karena evil sampai kepada mereka dan mereka tidak lagi bisa mengasihi.
Yesus mengatakan kepada kita, “Saling mengasihi engkau satu dengan yang lain sebagaimana Aku mengasihi engkau,” Itu adalah kunci untuk kita bisa menang terhadap evil, dan kunci untuk kita bisa meneruskan pelayanan Yesus di tengah-tengah dunia ini. Banyak orang-orang yang dulu dipakai sama Tuhan, kemudian berhenti pelayanannya, karena saudara tidak mau untuk lebih lagi mengasihi, lebih lagi menerima, lebih lagi mengampuni orang yang sudah bersalah kepada saudara di dalam gereja. Kalau Yohanes mau kecewa, dia akan berhenti di sini. Dia sangat kecewa kepada murid-murid yang lain. Apalagi kalau dia tidak bisa menerima Petrus, Petrus yang sudah menyangkal, tetap dia dijadikan oleh Yesus menjadi pemimpin seluruh rasul, bukan Yohanes. Ini bukan sesuatu yang main-main. Ini adalah isi hati Kristus untuk gereja, ini perintah.
Saya tadi pagi membaca bagian ini dan kemudian saya membaca selanjutnya, saya sangat-sangat terkejut. Hanya pasal 13-16 dari Farewell Discourse. Saudara nanti pulang ke rumah, saudara lihat perintah ini; kalimat “saling mengasihi satu dengan yang lain” itu muncul berkali-kali. Yesus bukan cuma di sini, Yesus mengulang lagi, mengulang lagi, dan tiap kali Dia mengulang, Dia mengatakan, “Ini perintah-Ku kepadamu.” Saudara lihat sebentar, Yohanes 15:12, bersama-sama, mari kita membaca bersama-sama. Ayat 17. Dan nanti saudara akan melihat center kasih ini, Roh Kudus diberikan untuk kita bisa mematuhi perintah ini. Biarlah seluruh keluarga yang mendengarkan Fiman ini, kita semua belajar saling mengasihi. Biarlah seluruh orang-orang yang ada di lapangan, maupun di dalam gereja, yang ada di misi, maupun di sekolah minggu, remaja, pengurus, seluruhnya belajar mengasihi. Yesus sendiri mengatakan, “Kalau engkau tidak mau dipatahkan oleh evil, kalau engkau mau melanjutkan misi-Ku, tidak bisa tidak, salinglah mengasihi.” Kenapa suami dan istri susah lagi mengasihi? Bertobat, belajar mengasihi. Kenapa semua orang yang melayani itu sulit lagi untuk maju? Bertobat, belajar untuk mengasihi. Sekali lagi, Yesus melakukan seluruh pengajaran ini, seperti induk burung itu. Mengepakkan seluruh sayap-Nya, mengembangkannya selebar mungkin, dan kemudian melindungi anak-anak-Nya, sampai Dia sendiri mati, tetapi anak-anak itu kemudian tetap hidup, bisa melanjutkan hidup dan meneruskan misi-Nya. Tadi pagi ketika saya merenungkan ini kembali, saya kemudian tersadar sesuatu. Inilah ayat di mana pertama kali inagurasi gedung gereja ini diadakan. Mazmur 61:4, “Biarlah aku menumpang di dalam Kemah-Mu untuk selama-lamanya. Biarlah aku berlindung di bawah naungan sayap-Mu.” Kiranya Tuhan menyertai kita semua. Mari kita berdoa.
GRII Sydney
GRII didirikan di atas dasar Pengakuan Iman Reformed Injili dengan tujuan menegakkan satu gereja yang berbasiskan teologi Reformed, dengan mimbar yang menyampaikan khotbah ekspositoris, read more