Yesaya 53:6-7
Sebelum saya masuk ke dalam khotbah hari ini, saya ingin untuk saudara membaca satu kutipan yang luar biasa indah, dan terus pikirkan kutipan ini. Kutipan ini mengatakan “Di inti karya penebusan Kristus, terdapat kekuatan yang tak terbatas dari Juruselamat yang diam.” (“At the very heart of Christ’s redemptive work, there must be seen the infinite strength of the silent Savior”). Dua ribu tahun lebih yang lalu, pada hari ini seluruh murid-murid-Nya terpencar dan ketakutan, meskipun pagi atau siang hari, tetapi pada saat itu gelap sepanjang hari. Mereka takut, gelisah, khawatir, malu, merasa terhina. Seluruh dari apa yang mereka harapkan sekarang punah. Tiga setengah tahun mengikuti guru mereka yang penuh kasih itu, sudah tidak ada artinya sama sekali. Hari ini Yesus dikubur. Di mana Yesus? dikubur, Dia terdiam di sana. Ketika seseorang menatap kubur, maka semuanya akan speechless. Kalau saudara memiliki orang yang dikasihi dan saudara menguburkannya, saudara melihatnya, maka seluruh harapan semuanya sirna, dan seumur hidup saudara menginginkan orang itu kalau bisa kembali lagi. Kubur menutup seluruh masa depan, kubur menutup semua orang yang kita kasihi dan semua manusia berusaha untuk membangkitkan kembali memory dari orang yang dikubur itu. Saya pernah mendengar dari satu suami yang mencintai sekali istrinya dan setelah beberapa tahun istrinya sakit dan mati dikubur, dan apa yang dilakukan? Setiap hari, bertahun-tahun pergi ke pasar, membeli bunga yang baru dan meletakkan di depan lilin, di depan foto istrinya, dan memandangnya sekali lagi dengan air mata, menginginkannya kembali. Kubur menutup segalanya. Mereka kehilangan iman, mereka kehilangan harapan. Anak domba itu diam, tetapi sesungguhnya yang terjadi adalah mereka tidak tahu apa yang Alkitab itu sebenarnya sudah pernah katakan.
Dalam Alkitab, ada satu nubuatan tentang Mesias yang begitu tajam berkenaan dengan satu kalimat ini, bahwa Dia seperti domba yang akan masuk ke dalam pembantaian, tetapi Dia akan menutup mulut-Nya, Ia akan diam. Yesaya, 700 tahun sebelum Yesus datang sudah menubuatkan kepada semua orang Israel. Allah seakan-akan mengatakan kepada semua orang Israel, “Lihat, lihat Hamba-Ku itu, lihat Mesias yang akan Aku utus kepadamu.” Itu namanya messianic prophecy (nubuatan Mesias). Nubuatan mesias di dalam Alkitab kurang lebih 300 bagian. Kalau saudara melihat messianic prophecy di dalam Alkitab, misalnya saja ada beberapa; bahwa Mesias yang akan datang, akan menghancurkan kepala ular, dan ular itu akan memagut dari tumit-Nya. Itu artinya bahwa Mesias itu akan mengalami kesakitan, tapi tidak mematikan, tetapi sebaliknya, ular itu akan dimatikan tepat di atas kepalanya. Messianic prophecy yang lain, bahwa Mesias itu adalah keturunan Abraham dan keturunan Daud. Mesias bukan berasal dari jalurnya Imam Harun, tetapi Imam Melkisedek. Dia akan menggabungkan 2 jabatan ini di dalam satu pribadi-Nya, dan tidak ada yang lain yaitu jabatan Imam dan jabatan Raja dan juga Mesias yang akan datang akan menggabungkan 4 pekerjaan ini. Yang pertama adalah, Dia akan memulihkan kembali tahta Daud, ke-2 adalah, Dia akan memulihkan Bait Suci, dan ke-3, Dia akan menggabungkan Israel Utara dan Selatan menjadi satu, dan ke-4 adalah Dia akan mengembalikan Israel ke tanahnya. Messianic prophecy yang lain, bahwa Mesias yang datang itu rupanya seperti Anak Manusia dan Dia akan lahir dari anak dara. Di dalam Perjanjian Lama, begitu banyak sekali berkenaan dengan messianic prophecy. Makanya Charles Spurgeon menyatakan, “Kumpulkan dari semua messianic prophecy itu, maka engkau akan menemukan bahwa seluruhnya akan terangkum di dalam pribadi Yesus Kristus.” Itulah sebabnya Yesus pada waktu di kayu salib mengatakan “Tetelestai, it is finished, sudah genap.” Kalimat itu sendiri adalah kalimat yang luar biasa besar. Saya berusaha untuk suatu hari mengekposisi dari ayat itu, tetapi setelah beberapa kali saya menyadari saya tidak mungkin bisa menyelesaikan, karena kalimat ‘It is finished’ itu artinya keseluruhannya genap, seluruh elemen yang ada di Perjanjian Lama seluruhnya digenapi. Salah satu dari elemen itu adalah Dia, satu-satunya Pribadi yang menggabungkan, menggenapkan seluruh dari nubuatan itu.
Setiap nabi, setiap kitab dalam Perjanjian Lama selalu memiliki dari nubuatan messianic, tetapi secara khusus Yesaya memiliki beberapa messianic prophecy, dan di dalam pasal 53 yang tadi kita baca sangat-sangat mencengangkan. Yesaya mengungkapkan sifatnya yang sama sekali seakan berbeda dengan kita semua, yaitu Dia adalah seperti domba yang diam. Ketika saudara membaca Yesaya pasal 53, maka saudara akan mendapatkan 2 gambaran tentang 2 jenis domba. Domba yang pertama adalah dikatakan kita semua seperti domba, yaitu domba yang liar, domba yang mencari jalannya sendiri. Tetapi domba yang ke-2 adalah Yesus Kristus yaitu domba yang rela tunduk, domba yang mau taat, yang rela tunduk kepada kehendak Bapa. Di dalam oratorio Messiah yang kemarin sempat dinyanyikan, Handel menuliskan dengan sangat brilliant. Dalam kebaktian Pak Tong kemarin, di dalam nyanyian All we like sheep, itu diambil dari kitab yang kita baca sekarang. Lihat bagaimana Handel mengkomposisi nada-nadanya. Maka ketika dikatakan kita seperti domba yang mengambil jalannya masing-masing, notnya ke mana-mana. Itu bukan saja lincah, tapi liar, ke mana-mana semuanya. Tetapi ada satu kalimat tentang Yesus Kristus, Tuhan menimpakan semua kesalahan kepada Dia, itu begitu tenang, begitu stabil, begitu lembut. Yesaya 53:6 berbicara domba itu kita semua yang liar, tetapi ayat yang ke-7 adalah Kristus Yesus anak domba yang dibawa ke pembantaian itu tidak membuka mulut-Nya. Ada sesuatu antitesis yang besar di sini, ayat ke-6 bicara mengenai sesuatu yang aktif, ayat yang ke-7 bicara mengenai sesuatu yang pasif, ayat ke-6 adalah aktif, kita semua liar, kita semua pergi kemana-mana, tetapi ayat yang ke-7 apa yang berlaku kepada Yesus? Dia dibawa ke pembantaian, Dia harus pasif. Dia digunting bulunya, Dia pasif dan Dia tidak membuka mulut-Nya; Dia pasif. Tetapi perhatikan satu prinsip paradoks yang besar ini, ketika Kristus secara pasif menerima seluruh aniaya dari musuh-Nya dengan diam, maka sesungguhnya di dalam ‘diam’-Nya, Dia aktif taat kepada Bapa-Nya. Ini adalah satu prinsip yang luar biasa penting. Di dalam aniaya, maka sesungguhnya Yesus itu secara pasif menerima seluruh aniaya dari musuh-Nya; tetapi sesungguhnya di dalam ‘diam’-Nya, Dia aktif untuk taat kepada Bapa-Nya. Dari satu kalimat ini saja, dalam ayat yang ke-7, kita bisa mendapatkan satu pelajaran spiritual yang luar biasa besar bagaimana hidup di tengah-tengah dunia ini. Ketika hidup di tengah-tengah dunia ini, kita sebenarnya berespon kepada second causes atau kepada first causes? Yesus mengajarkan kepada kita, di dalam Dia, anak-anak Allah, Gereja yang sejati, apa pun saja yang terjadi di dalam hidup kita, di dalam dunia ini, yang buruk sekalipun terjadi di dalam hidup kita, maka biarlah kita boleh menerima dengan rela dan dengan ketertundukan. Bukan karena kita menyerah terhadap hidup ini, tetapi karena di dalam seluruh providensiasi ini adalah Allah yang menentukan kita aktif taat kepada Dia di dalam ketertundukan.
Diamnya Kristus adalah tindakan yang perkasa di dalam ketaatan kepada Bapa-Nya dan Dia melaksanakan semua ke-diam-an itu agar seluruh misi keselamatan Bapa-Nya tergenapi di dalam umat Alah. Terhadap providensiasi, Kristus tidak melawan keadaan ini, sebaliknya Ia menyerahkan diri-Nya dengan sukarela. Dengan demikian Ia bukanlah korban yang terperangkap dalam roda gigi besar takdir yang tidak kenal ampun itu. Tetapi Dia adalah seorang yang memiliki nilai, memiliki kehormatan, bahkan di dalam keadaan yang paling hina sekalipun, dan kehormatan itu pada ketaatan-Nya kepada kehendak Bapa. Kita adalah orang yang tidak suka untuk diam, kita adalah orang-orang yang terus ingin untuk menyatakan hak kita di depan dunia ini. Ketika hati kita dilukai, kita disalah mengerti atau mungkin terjadi penyakit di tengah-tengah kita atau evil yang terjadi di tengah-tengah keluarga kita, maka satu hal yang pertama kali kita majukan paling depan adalah mulut kita, dengan bersuara, dengan mengadu dan mengeluh dan menyatakan ketidakpuasan kita. Tetapi seluruhnya itu terjadi pada Kristus dan Kristus itu diam. Ketika bicara mengenai kediaman Kristus, maka saudara akan melihat bahwa Kristus diam bukan saja ketika Dia dikubur. Kalau saudara melihat Alkitab dengan hati-hati, maka saudara akan menemukan beberapa kalimat dalam Alkitab di bagian yang penting itu adalah Kristus diam, Kristus tidak menjawab. Diam itu lawan katanya adalah berbicara. Kristus yang diam itu antitesisnya adalah Kristus yang berfirman. Pribadi ke-2 dari Tritunggal itu disebut logos, sebagai Firman. Kitab Ibrani dengan jelas mengatakan bahwa zaman dulu Allah berbicara melalui nabi-nabi-Nya. Pada zaman akhir ini Dia berbicara melalui Anak-Nya yang tunggal. Maka saudara akan menyadari bahwa di mana pun Yesus melayani, Dia akan berbicara, Dia akan berfirman, karena dunia ini memerlukan Firman untuk menghidupkannya. Bahkan Yesus sendiri mengatakan domba-domba-Ku mendengarkan suara-Ku, berarti Dia berbicara. Kristus bahkan mendatangi murid-murid-Nya yang ketakutan setelah Dia bangkit, Dia mengejar, Dia mendatangi murid-murid-Nya, bicara kepada Tomas, bicara kepada Petrus. Dan perkataan Kristus itu sangat-sangat berharga, kadang keras tetapi sangat berharga. Murid-murid-Nya yang sudah terus bergaul dengan Dia, menyadari perbedaan perkataan Kristus yang bukan saja indah, tetapi menghidupkan dengan seluruh perkataan manusia yang lain. Petrus suatu hari mengatakan, ketika Yesus mengatakan, “Kamu tidak mau pergi juga?” Petrus mengatakan, “Kepada siapa kami harus pergi? Perkataan-Mu itu adalah hidup yang kekal.”
Perhatikan baik-baik ada 2 hal yang membedakan kita sebagai anak Tuhan atau anak kegelapan, yaitu bagaimana kita berespon kepada Firman. Anak Allah akan makin lama makin bertumbuh menghargai Firman, akan makin mencari Firman, akan berlinang air mata meminta Firman untuk Tuhan bicara dan tidak diam. Tetapi anak kegelapan tidak peduli dengan Firman. Sungguh-sungguh tidak peduli dengan Tuhan mau berfirman atau tidak. Tidak melihat perkataan-perkataan Tuhan adalah sesuatu yang terhormat dan sesuatu yang indah. Kristus berfirman, Kristus menyatakan Firman, karena Dia adalah Firman itu sendiri. Bahkan kalau saudara melihat bagaimana Dia berfirman, maka di Yohanes di Pulau Patmos mengatakan, “Suara-Nya seperti sangkakala yang begitu nyaring dan suara-Nya itu seperti deru air bah.” Kalimat dari Yohanes di Pulau Patmos itu menyatakan bahwa suara itu melingkupi, menutupi suara yang lain. Suara yang menciptakan, “Langit dan bumi, jadilah terang!”, maka terang itu jadi, maka suara itu melingkupi seluruh suara manusia, suara itu seperti suara air bah yang besar. Saudara pernah berada di dekat air terjun? Saya yakin saudara pernah pergi ke air terjun, tetapi air terjun di Indonesia itu semuanya kecil-kecil. Saudara dekat saja sama air terjun, akan susah untuk mendengar dari orang di sebelah saudara. Saya tidak pernah pergi ke Niagara, tetapi saya yakin kalau di dekat air terjun Niagara, saudara tidak mungkin bisa bicara dengan orang di sebelah. Air yang jatuh, air yang mengalir suaranya begitu deras, demikian kata Yohanes. Ketika Kristus berbicara, maka umat-Nya akan mendengarkan suara-Nya dan bukan yang lain, begitu berkuasa, begitu hebat, begitu melingkupi segala sesuatu; tetapi pada hari ini Dia diam.
Pagi ini kita akan melihat Kristus diam ke siapa dan apa hasilnya. Saudara akan melihat 2 bagian besar ini; yang pertama adalah Dia diam kepada seluruh orang fasik. Di dalam Alkitab ada 4 jenis orang atau 4 orang yang dinyatakan Yesus diam. Yang pertama adalah Yesus diam di depan Imam Besar, tua-tua, orang farisi, penuduh-penuduh, dan penipu-penipu-Nya. Maka ini adalah orang-orang yang berkumpul pada waktu pengadilan Yesus di Bait Suci. Mari lihat dari Matius 26:62-64, ‘Lalu Imam Besar itu berdiri dan berkata kepada-Nya: “Tidakkah Engkau memberi jawab atas tuduhan-tuduhan saksi-saksi ini terhadap Engkau?” Tetapi Yesus tetap diam. Lalu kata Imam Besar itu kepada-Nya: “Demi Allah yang hidup, katakanlah kepada kami, apakah Engkau Mesias, Anak Allah, atau tidak.” Jawab Yesus: “Engkau telah mengatakannya. Akan tetapi, Aku berkata kepadamu, mulai sekarang, kamu akan melihat Anak Manusia duduk di sebelah kanan Yang Mahakuasa dan datang di atas awan-awan di langit.”’ Ini adalah satu dari peristiwa di mana Yesaya 53 ini diaplikasikan, ketika Yesaya mengatakan bahwa Yesus diam, itu tidak berarti bahwa Yesus itu sama sekali tidak bicara. Tetapi artinya adalah ketika Yesus bicara, Yesus bicara seadanya, seperlunya, sangat-sangat terbatas tanpa penjelasan lebih lanjut dan hanya mengeluarkan sedikit saja statement yang adalah suatu kebenaran. Dan di dalam statement itu Dia sama sekali tidak membela diri-Nya. Padahal kalau Dia membela diri-Nya, Yesus pasti bisa keluar dari seluruh tuduhan ini. Kepada jenis orang yang pertama ini Dia diam, ini adalah otak dari seluruh pembunuhan yang akan dilakukan kepada Yesus dan mereka berusaha untuk memaksa bagaimana pun saja Yesus harus disalib.
Imam-Imam kepala dan ahli-ahli Taurat kemudian membawa dari saksi-saksi dusta. Mereka kemudian menemukan 2 orang untuk bersaksi dusta kepada Yesus Kristus. Saksi harus 2, tidak boleh satu, itu adalah hukum dari Musa dan jikalau ke-2 saksi itu sudah bergabung, maka kesaksian itu adalah sesuatu yang sah. Tetapi ini adalah kesaksian yang palsu dan ahli Taurat sendiri, orang-orang Farisi di sana, semua mereka tahu bahwa ini sesuatu yang palsu. Hanas dan Kayafas merancang seluruhnya, mereka memang punya motivasi supaya Yesus dihukum dan mati, hati mereka itu lika-liku, bengkok, sudah mati. Perhatikan baik-baik terhadap jenis orang seperti ini, berlaku satu prinsip Alkitab, Mazmur 18:26-27, ‘Terhadap orang yang setia Engkau berlaku setia, terhadap orang yang tidak bercela Engkau berlaku tidak bercela, terhadap orang yang suci Engkau berlaku suci, tetapi terhadap orang yang bengkok Engkau berlaku belat-belit.’ Saudara ingat ya kalimat ini! Pernah dengar gak kalimat ini? Masukkan di dalam hatimu. Kalau engkau ketemuan sama seseorang dan engkau tidak suka kepada seseorang dan engkau seakan-akan bertanya, tetapi sebenarnya mau menundukkan dia, engkau mau mempermalukan dia, engkau mau membuat dia di bawah engkau, engkau memiliki sesuatu hati yang terus-menerus bengkok, terhadap orang ini, maka orang ini sampai mati tidak pernah akan menemukan kebenaran. Kalau dia berlaku bengkok kepada Allah, maka Tuhan akan bicara mengenai statement kemudian selesai, diam. Ada satu kalimat yang pertama kali saya baca, ini sesuatu yang buat saya asing sekali, tetapi inilah cara Tuhan menghadapi orang fasik. Berkali-kali saya katakan kepada saudara-saudara, hai jemaat GRII Sydney milikilah hati yang jujur, hati yang tulus, hati yang terbuka di hadapan Allah dan sesama. Kita bisa punya karakter yang tidak menyenangkan orang lain, bisa, karakter itu akan diproses Tuhan perlahan demi perlahan dalam proses sanctification. Tetapi hati kita harus jujur, hati kita harus tulus, hati kita harus terbuka di hadapan Allah dan sesama. Jikalau tidak, kita tidak akan menemukan kebenaran. Jangan pikir kalau engkau berlaku licik kepada sesama, engkau akan mendapatkan kebenaran dari Tuhan. Allah sendiri mengatakan, “Kepada yang setia, Aku berlaku setia.” Perhatikan saudara, “Siapa yang murah hati, Aku akan murah hati kepada dia.” Banyak orang pelit, banyak orang menyimpan harta sendiri, banyak orang melihat harta orang iri, bicara ke mana-mana. Engkau akan diperlakukan Tuhan persis seperti engkau memperlakukan orang lain. Engkau tidak akan dibuka kebenaran sama sekali, membuat orang seperti orang ahli Taurat ini bisa bertobat, sama sekali tidak ada. Karena ini bukan sesuatu dosa yang mengikat, ini adalah keputusan hati. “Pak, saya marah, bagaimana saya bisa menjadi jangan terlalu suka marah?”, Saya tidak bisa mengatakan, “Eh, kamu gak boleh marah lho nanti, 5 menit lagi gak boleh marah lho.” Untuk mengubah marah itu perlu proses progressive sanctification. Tapi saudara-saudara tidak bisa bicara begini, “Pak, saya gak jujur bagaimana saya bisa jujur?” Ya, itu keputusan hati saudara. Tidak perlu ada proses apa pun saja, itu keputusan hatimu, apa yang ada pada Imam, kepala, ahli Taurat, orang-orang Farisi semuanya mereka terus berlaku belak-belok memang untuk mematikan orang ini. Di gereja banyak orang yang berlaku seperti ini untuk mematikan karakter hamba Tuhan. Tapi saya tidak takut karena hal ini ada tertulis dalam Alkitab, yang paling penting adalah menjaga hati terus jujur, tulus, setia kepada Tuhan, mengerjakan apa yang seharusnya kita kerjakan. Ini adalah penipu-penipu di dalam kasus Yesus, penipu-penipu yang seakan-akan membawa data kebenaran, padahal tipuan seluruhnya. Dan seluruh orang Israel yang tidak tahu apa-apa, lalu ikut mengatakan, “Salibkan Dia! salibkan Dia!” Mereka semua berbagian di dalam kejahatan dari ahli Taurat ini. Apakah perlu Yesus menjawab terhadap orang seperti ini? Sama sekali tidak. Tetapi Yesus tetap diam. Sekali lagi, kalau di dalam hatimu ada sesuatu tipuan licik dan pasti engkau tahu, karena engkau menetapkan untuk itu. Percayalah, di dalam Alkitab ,Tuhan akan diam denganmu! Bertobat! Kembalikan hatimu yang bengkok itu! Minta belas kasihan Tuhan untuk Dia bicara lagi.
Orang yang ke-2 adalah Pilatus. Pilatus, wakil negeri Roma yang ada di situ sekarang. Semua orang-orang ahli Taurat dan Imam kepala, semua bawa Yesus kepada Pilatus. Kemudian Paulus berbicara, bertanya beberapa kali. Maka saudara akan menemukan di situ Yesus diam kepada Pilatus. Mari kita melihat Matius 27:11-14. Dalam Alkitab, orang ke-2 dikatakan beberapa kali; Yesus diam, Yesus diam adalah orang yang jenisnya seperti Pilatus. Dia adalah seorang paling hebat karena dia wakil dari Roma. Seluruh Yahudi ada di bawahnya, Bait Allah ada di bawahnya, imam-imam agung ada di bawahnya. Maka sekarang Yesus ada di bawahnya. Ada satu kalimat terhadap orang seperti ini. Kalimat ini diucapkan oleh pendeta Stephen Tong, dan kalimat ini adalah benar secara Alkitab. Untuk seseorang bisa understanding God, dia harus stand under God. Untuk seseorang bisa mengenal, mengerti Allah, dia harus mau rendah hati di bawah Allah. Saudara tidak pernah boleh ada di dalam hatimu berpikir, “Seperti apa Firman-Nya? Kalau ini sesuatu yang aku terima, aku akan lakukan. Kalau ini sesuatu yang tidak bisa aku terima, aku tidak akan lakukan.” Tuhan itu Tuhan. Kita ini manusia.
Martin Luther mengatakan dengan satu kalimat itu merangkum begitu banyak hal: ‘LetGodbe God, let men be men.’ Kita hidup untuk taat, untuk mendengar Firman dan menaati, bukan mempertanyakan Firman. Bahkan sejak dari hari pertama Adam dan Hawa itu diciptakan, Allah tidak membuka pertanyaan untuk mereka boleh bertanya kepada Allah padahal mereka belum mengerti. Allah mengatakan, “Engkau makan buah ini maka engkau akan mati.” Kalimat mati itu muncul pertama kali dalam kitab Kejadian. Pada waktu itu belum ada yang mati. Sama sekali belum ada satu binatang, satu orang pun yang mati. Itu berarti kata ini tidak diketahui secara pengertian oleh Adam dan Hawa, dan Tuhan juga tidak menjelaskan. Saya tidak katakan bahwa saudara tidak boleh bertanya tentang banyak hal mengenai Alkitab, mengenai teologia maupun kehendak Allah. Tetapi saudara bertanya itu untuk apa? Motivasimu apa? “Tuhan tolong aku, aku tidak mengerti, berikan penjelasan supaya aku bisa mengerti, supaya aku bisa lebih taat, Tuhan tolong”. Nah, itu benar. Tetapi kalau Tuhan harus di bawah dan kita tanya-tanya sama Dia, itu adalah satu sifat yang tidak beres dan pasti Allah akan diam.
Di dalam pelajaran prolegomena dan bibiology, saya sudah menjelaskan kepada saudara-saudara, ada sesuatu yang unik dengan Alkitab kita. Kalau saudara mau menyelidiki sesuatu maka sesuatu itu pasti akan di bawah saudara. Misalnya, saudara mau menyelidiki bakteri, saudara mau menyelidiki kertas ini kira-kira seratnya seperti apa. Semua di bawah saudara, saudara amati dan saudara simpulkan. Tetapi anehnya di dalam Alkitab, ketika saudara dan saya membaca Alkitab, saudara menyelidikinya, saudara menganalisanya, maka saudara akan menemukan bahwa ketika Roh Kudus itu bekerja, Dia ada di atas kita, Dia yang menyelidiki kita. Maka tanya kepada Allah untuk kita mau taat. Teliti kalimat-kalimat Alkitab untuk kita lebih taat, bukan mempertanyakan dan membuat seakan-akan itu satu pribadi dan satu Firman di bawah kita untuk kita adili. Apa jadinya kalau Yesus menjawab Pilatus? Berarti Pilatus itu posisinya benar. Berarti Yesus mesti di bawah dia. Dia tanya apa, musti jawab. Kalau dia mau mengenal Yesus, dia harus tunduk di bawah Yesus. Yesus tidak perlu untuk menjelaskan segala sesuatu kepada Pilatus sampai Pilatus mengerti, lalu semuanya beres. Tidak perlu. Yesus sebenarnya kalau mau jelaskan semuanya itu bisa. Tetapi Dia memilih diam. Yesaya mengatakan: ‘Seperti domba masuk ke pembantaian.’ Seperti masuk ke tangan algojo, Dia diam, menyelesaikan seluruh sidang itu sampai ujung akhirnya, bukan bebas, harus mati.
Orang yang ke-3 adalah Herodes dalam Lukas 23:8. Ini adalah orang yang menginginkan mujizat. Ini adalah orang yang menginginkan sesuatu atraksi di depan matanya. Orang seperti ini tidak ada harganya sama sekali di dalam Kerajaan Allah. Yesus pernah mengatakan, “Jangan engkau melempar mutiara untuk mulut babi.” Apa yang dikerjakan dalam mujizat Yesus adalah sign bahwa Dia adalah Mesias. Pekerjaan-Nya adalah satu hormat yang tinggi. Kalimat-Nya adalah sesuatu yang luar biasa mulia. Orang-orang seperti ini tidak layak untuk mendapatkan bagian apapun saja. Jikalau saudara adalah orang Kristen tetapi saudara mau datang ke gereja cuma mau lihat atraksi, dan hidup saudara cuma mencari sesuatu dari Tuhan untuk saudara itu bisa bergairah karena mendapatkan mujizat demi mujizat, melihat sesuatu yang luar biasa, membangkitkan emosi saudara, saudara bukan orang yang tepat, yang layak untuk mendapatkan Firman. Engkau akan mendapatkan entertain tetapi tidak Firman. Firman itu didapat seperti perempuan Siro-Fenisia yang terus-menerus dengan air mata minta firman. Kepada Bartimeus yang terus mengatakan: “Have mercy on me, the Son of David. Have mercy on me.” Kepada orang seperti itu, Yesus sedang melangkah pun Dia akan menoleh dan memberikan Firman. Tetapi kepada Herodes, di depan dia Yesus diam. “Engkau tidak layak sama sekali untuk mendapatkan Firman-Ku. Engkau tidak layak sama sekali melihat pekerjaan-Ku.”
Orang yang ke-4 adalah Yudas. Yudas ini mungkin paling banyak di tengah-tengah dari orang Kristen masa kini, di tengah-tengah gereja. Yudas adalah satu bentuk ironi yang terbesar di seluruh Alkitab. Dia ikut Yesus 3 tahun lebih. Dia lihat semua yang dikerjakan; bagaimana Yesus membesuk seseorang dan menyembuhkan. Dia melihat dan mendengar khotbah-khotbah-Nya, tetapi hatinya memang tidak pernah mau untuk maju bertumbuh di dalam pengenalan akan Tuhan kita, dan dia terus-menerus terikat dengan dosa di dalam uang. Saya sudah pernah mengatakan ini beberapa kali tentang dosa uang. Kalau saudara suka sekali sama uang, memegang uang, saya boleh hampir pastikan bahwa sebenarnya Yesus tidak pernah menjadi isi terdalam dari hatimu. Di dalam Alkitab, semua orang yang terlibat dosa uang, seluruhnya anak binasa. Saudara akan menemukan orang yang tergelincir di dalam dosa seksual masih mungkin anak Tuhan. Saya tidak katakan, semua boleh dosa seksual, terus tetap anak Tuhan. Saya tidak katakan itu. Daud tergelincir dalam dosa seksual. Dia tetap anak Tuhan. Tetapi Bileam itu bukan. Yudas itu bukan. Ananias, Safira itu bukan. Seluruhnya adalah masalah uang. Orang yang memegang uang paling utama di dalam hidupnya meskipun dia beragama, dia akan memakai agama itu untuk meributkan uang. Mata dan hati Yudas bukan kepada Yesus, tapi kepada uang. Alkitab mengatakan: ‘Dia mencuri uang itu.’ Dan Alkitab juga mengatakan dia membuat perjanjian dengan orang-orang mahkamah agama itu, pemimpin agama itu untuk menjual Yesus. Beberapa minggu yang lalu kita sudah bicara berkenaan dengan Yohanes 13, maka di situ dikatakan bahwa setelah Yudas pergi. Yesus menunggu sampai Yudas pergi. Dia pergi. Dia baru mengajar final discourse, farewell discourse. Seluruhnya pelajaran berharga, hanya untuk murid. Celakanya adalah, paradoks yang besar adalah Yudas berpikir bahwa aku yang pergi sekarang, tetapi sesungguhnya Yesus yang membiarkan dia pergi. Hal seperti ini terlalu banyak di depan kita semua. Banyak orang mengatakan, “Aku tidak mau pergi ke gereja.” Pada saat seperti itu, saudara pikir saudara yang menentukan mau pergi ke gereja atau tidak, sebenarnya Tuhan yang tidak membuat engkau ditarik menuju kepada Firman. Seluruh malam itu, Alkitab dengan jelas menyatakan semua ada di dalam kedaulatan Yesus, bukan di kedaulatan Yudas. Dikatakan; Yesus sudah tahu waktunya akan dekat, maka Dia berkata kepada Yudas sambil mencelupkan roti itu dan memberikan kepada Yudas. Dan Dia mengatakan, “Silahkan lakukan apa yang engkau mau.” Semuanya ada dalam kendali Yesus, bukan dalam kendalimu atau kendaliku. Jangan pernah punya attitude aku mau pergi ke gereja, aku lagi engga mau pergi ke gereja. Celaka engkau! Saudara pikir bahwa hidupmu itu ada di dalam kedaulatanmu? Kalau saudara terus engga pergi gereja, engga pergi gereja. Oh, boleh ikut, boleh tidak. Allah perlahan-lahan melepaskan engkau. Kenapa tidak memiliki satu hati seperti Fanny Crosby itu? Terus mempersiapkan diri pergi ke gereja. Sampai di gereja berdoa; Tuhan, tolong bicara kepadaku. Kalau orang lain dapat berkat, jangan lalui aku. Pada waktu hari Paskah, maka Tuhan memberikan darah anak domba untuk Dia melewati kutuk-Nya dari orang Israel yang memiliki darah anak domba. Yang dilewati oleh kutuk Allah kiranya dihampiri oleh firman.
4 orang yang kepada mereka Yesus diam. Setelah itu, Yesus pernah lagi bicara sama Yudas? Seperlunya. Yaitu ketika Yudas menangkap Yesus. Yudas sama sekali tidak tahu pengajaran itu. Sama sekali. Pasal 13 sampai 16. Dia tidak pernah mendengar sampai mati, Yesus itu di dalam Yohanes 17. Hal-hal yang paling penting diucapkan Yesus menjelang salib, semuanya Yudas sama sekali tidak tahu. Celakanya adalah sekali lagi dia pikir dia sedang punya kesibukan sendiri, ga ada urusannya sama Dia. Tetapi sesungguhnya ini semua urusan Yesus yang melepas Yudas. Seluruhnya adalah Kristus diam kepada orang fasik, kepada musuh-musuh-Nya.
Sekarang saya akan masuk ke dalam Kristus diam untuk umat-Nya. Apa artinya, apa hasilnya Kristus itu diam bagi umat-Nya? Yang pertama, diamnya Kristus menghasilkan penebusan bagi umat-Nya. Karena Yesus rela diam, Dia tidak membuka mulut-Nya di depan semua pengadilan itu. Tidak membela, padahal Dia adalah kebenaran dan Dia mudah sekali untuk lolos darinya. Dia rela diam, itulah sebabnya Dia diam untuk bisa naik ke atas kayu salib, mati dan dikubur. Maka baru keselamatan itu sampai kepada saudara dan saya. Yesaya 53 di dalam ayat di bawahnya menyatakan: ‘Apabila Kristus itu menyerahkan jiwanya sebagai korban penebus salah maka Ia akan melihat keturunan-Nya, umur-Nya akan berlanjut dan kehendak Tuhan akan terlaksana oleh-Nya.’ Saudara bisa melihat inti karya penebusan Kristus terhadap kekuatan yang tidak terbatas dari Juruselamat yang diam. Kristus diam, Kristus dikubur tetapi sesungguhnya Dia itu bekerja menyelamatkan. Ketika Dia mati, ketika Dia dikubur, Dia diam. Bukan berarti Dia tidak bekerja. Maka kekuatan kuasa penebusan itu terjadi pada kita. Suatu hari Elia ada di gunung Horeb, kemudian Tuhan itu datang. Pertama-tama yang datang itu api. Ke-2 adalah suatu badai dan gempa. Elia salah satu orang yang mahir sekali kerohaniannya. Kalau saudara bisa melihat di dalam Alkitab, maka Allah memiliki singgana, juga kereta api dan badai. Pada zaman Uzia, gempa besar datang, itu berbicara mengenai pekerjaan Tuhan sedang datang. Seluruhnya mecengangkan, tetapi lihat baik-baik Elia dan mengatakan: “Tidak ada Tuhan. Ga ada Tuhan.” Tetapi kemudian datang satu angin yang sepoi-sepoi seperti bisikan. Angin yang berjalan. Tapi Elia langsung bilang, “Ada Tuhan.” Dia langsung menutup mukanya. Apakah saudara berpikir bahwa ketika Yesus itu dikubur, Dia diam, ga ada Allah? Allah tidak bekerja? Tidak. Dia sedang bekerja. Kuasa penebusan-Nya itu terjadi. Pada saat Dia mati maka seluruh kegenapan itu terjadi. Dan engkau dan saya ditebus.
Hal yang ke-2, terakhir. Kristus itu dikubur. Kristus itu diam. Apa artinya bagi kita umat-Nya? Diamnya Kristus memberikan pengharapan yang pasti; adanya kemenangan Allah terhadap evil yang terjadi pada kita di dunia ini. Maka karya Kristus itu bukan saja membuat kita secure pergi ke Surga, tetapi karya Kristus membuat kita boleh bersama dengan Dia menang terhadap segala tantangan dan evil yang terjadi di dunia ini sekarang, pada saat kita hidup. Sabtu seperti ini 2000 tahun lebih, Yesus ada di dalam kubur. Kubur adalah akhir hidup manusia. Kegelapan. Itu suatu penjara. Tidak ada yang baik dari kubur. Tetapi saudara bisa melihat, dengan kerelaan-Nya, dengan kemauan-Nya sendiri Kristus diam untuk Dia bisa masuk ke kubur. Atau kembalikan dari kalimat ini adalah: Untuk bisa masuk ke kubur, untuk bisa mati; Kristus harus diam, Kristus rela diam. Kalau Dia tidak mau diam, Dia tidak akan masuk ke kubur itu. Dia yang sanggup untuk menenangkan badai, tidaklah sulit untuk membungkam Yudas. Dia yang menciptakan seluruh alam semesta, tidak sulit untuk menghancurkan seluruh Bait Allah dan pasukannya. Kepada musuh-musuh-Nya di Taman Getsemani, Dia mengatakan di depan Petrus, “Apakah engkau tidak tahu bahwa Aku sanggup untuk mengerahkan 12 legion malaikat hari ini juga untuk melawan mereka?” Di dalam kitab Tawarikh dan Raja-raja, saudara akan melihat satu malaikat menghancurkan 185.000 pasukan Asyur. Berapa banyak kalau 12.000 malaikat? Saudara boleh hitung seluruhnya adalah 2,2 milyar lebih. Itu artinya kalau Yesus pada waktu di Getsemani, Dia tidak mau rela untuk diam dan masuk ke kubur, Dia mengerahkan semua malaikat, seluruh dunia ini habis. Tapi Dia diam. Dia diam untuk masuk ke kubur, Dia diam, untuk seluruh orang-orang jahat itu, mendiamkan Dia di kubur. Karena Dia diam, Dia dihakimi dengan tidak adil, diolok-olok, dipermalukan, dicaci maki, diludahi, dipukul, dimahkotai duri, diseret. Seluruh tubuh-Nya sakit, dipertontonkan di depan banyak orang, dipaku dan disalib dengan telanjang, dan dikubur. Seluruh proses itu, Kristus jalani dengan rela. Seluruh proses itu adalah evil.
Salah satu pertanyaan teologis yang terbesar adalah the problem of evil. Mengapa orang baik itu menderita? Kalau Tuhan penuh dengan cinta dan Dia maha kuasa, mengapa ada penderitaan? Aku melayani Tuhan baik-baik, kenapa aku sakit cancer? Kenapa hal-hal yang buruk ini terjadi kepada kami padahal kami sudah menjaga kejujuran dan ketulusan? Kenapa aku sudah kerja luar biasa sulit, tetapi tetap saja sulit untuk hari demi hari membiayai hidupku? Aku sudah melayani dengan baik-baik, kenapa disalah mengerti? Kenapa di dalam hidup seperti ini hak-hakku diambil? Kenapa aku difitnah? Seluruh pertanyaan ini bukankah Yesus itu pernah mengalaminya? Puji Tuhan karena kita memiliki Juruselamat yang mengalami semuanya, karena Dia mau diam. Dia mau menyatakan kepada kita, “Engkau tidak sendiri umat-Ku. Aku beserta dengan engkau.” Ibrani menyatakan: ‘Imamat Agung kita yang melintasi langit itu bukanlah imamat agung yang tidak mengerti kesulitan kita.’ Seluruh yang terjadi pada kita, Dia sudah mengalaminya. Dia mengikatkan perjanjian dengan kita. God with us. Sungguh-sungguh Tuhan beserta kita. Ketika engkau difitnah, Dia hadir di situ. Ketika engkau disalah mengerti, Dia pernah disalah mengerti. Ketika engkau sakit, Dia sendiri sakit. Ketika evil itu terjadi pada kita, Dia pernah menerima evil yang terbesar. Mengapa semua itu terjadi? Karena Savior/Juruselamat kita adalah Juruselamat yang diam. Dia begitu indah. Begitu mulia. Tidak meninggalkan kita. Dia memberikan kemenangan-Nya menyertai kita di tengah dunia yang jahat ini. Di inti karya penebusan Kristus terhadap kekuatan yang tidak terbatas dari Juruselamat yang diam. Bersyukurlah kepada Dia. Pujilah nama-Nya. Hormatilah Dia lebih lagi dan belajar untuk lebih mengasihi Dia. Mari kita berdoa.
GRII Sydney
GRII didirikan di atas dasar Pengakuan Iman Reformed Injili dengan tujuan menegakkan satu gereja yang berbasiskan teologi Reformed, dengan mimbar yang menyampaikan khotbah ekspositoris, read more