Ringkasan Khotbah

20 April 2025
The Lion and The Lamb
Pdt. Agus Marjanto, M.Th · Kej 49:9-10, Wah 5:1-7

Kej 49:9-10, Wah 5:1-7

Dua ribu tahun lebih yang lalu, Yohanes Pembaptis berteriak di tengah-tengah Israel, “Behold The Lamb of God!” Kalimatnya begitu sangat powerful, sampai memecah keheningan Israel pada waktu itu. Yohanes Pembaptis adalah seorang nabi dalam Perjanjian Lama yang hidup di dalam Perjanjian Baru, dan dia seorang yang mahir sekali rohaninya. Dia adalah seorang reduksionis yang terbesar di tengah-tengah kita semua. Dia melihat seluruh bagian kitab suci Perjanjian Lama; menelitinya satu persatu. Dia mengerti satu hal; seluruh Perjanjian Lama berpusat kepada satu pribadi yaitu Mesias. Dan Mesias itu adalah Mesias yang menderita. Maka ketika dia bertemu dengan Yesus Kristus, dia sangat terperanjak dan kemudian dia bersuara dengan suara keras, “Lihatlah Anak domba Allah, yang menebus dosa umat manusia.” 

Saudara-saudara, kalimat ini bicara berkenaan dengan inti seluruh Perjanian Lama dan Perjanjian Baru. Bicara berkenaan dengan Mesias yang nanti akan mati, Mesias yang nanti akan menderita. Mesias itu adalah domba Allah. Dan keadaan nubuatan berkenaan dengan Mesias yang adalah domba Allah, bahkan sudah ada sejak kitab Kejadian. Dan saudara akan melihat satu persatu buku Perjanjian Lama bahkan nanti sampai kepada Yesaya, sampai kepada Yeremia; saudara akan menemukan bahwa Mesias yang ditunggu-tunggu itu adalah Mesias yang akan menderita. Dia akan berkorban untuk kehendak Allah dan untuk umat-Nya. Dia akan lembut, dan Dia akan takluk kepada kehendak Allah di muka bumi ini. Ketika Alkitab menyatakan Domba Allah, maka seluruh konotasi mengenai kelembutan, mengenai ketertaklukan, itu adalah semuanya itu ada pada Mesias. Tetapi sesungguhnya di dalam Alkitab, bahkan sejak kitab Kejadian, selain Allah mengatakan Mesias itu akan menderita; Mesias itu tidak akan bersuara, Dia akan lembut, Dia akan takluk kepada kehendak Allah. Maka Tuhan Allah di Surga mengatakan, “Mesias ini adalah seorang Raja. Dia adalah keturunan Yehuda dan lambang pemerintahan ada pada Dia, dan Dia akan berhak di atas takhta-Nya pada waktu-Nya.” Sebagai domba Allah, maka ini adalah jabatan Kristus sebagai imam. Seorang imam adalah seorang yang membawa dari persembahan Domba itu. Tetapi Yesus Kristus adalah Imam di atas segala imam, karena Dia sendirilah adalah persembahan domba itu, dan Dia mempersembahkan diri-Nya, Dia domba itu sendiri. Tetapi selain dari Imam, (sekali lagi sejak dari kitab Kejadian sampai seluruh Perjanjian Lama) maka Kristus, Mesias itu, adalah seorang Raja yang memerintah. Dan di dalam Perjanjian Lama, saudara akan menemukan beberapa tempat yang sangat mencengangkan. Di dalam Kristus itu, maka saudara-saudara, 2 jabatan ini akan bertemu; yaitu Dia adalah Imam, dan sekaligus Dia adalah Raja. Saudara akan mendapatkannya dari kitab Zakharia, saudara akan mendapatkannya dari Mazmur 110. 

Di dalam Perjanjian Lama, saudara akan menemukan ada seorang imam dan seorang nabi, misalnya saja adalah Yesaya. Saudara akan menemukan seorang raja dan seorang nabi, yaitu misalnya Daud. Saudara juga menemukan satu jabatan yaitu raja, raja Uria. Atau seorang dengan jabatan imam, imam Harun. Atau seorang dengan jabatan nabi, misalnya saja Hagai. Saudara-saudara, tetapi di dalam Perjanjian Lama, saudara tidak akan pernah mendapatkan satu orang dengan 2 jabatan ini, yaitu imam dan raja. Saudara-saudara, dan seluruhnya ini terus menjadi yang ditunggu oleh orang-orang Israel. Dan kita sebenarnya begitu jelas sebagai orang Kristen, karena kita sudah memiliki Perjanjian Baru. Tetapi sesungguhnya saudara-saudara, di dalam Wahyu 5 yang tadi kita baca, saudara akan menemukan de facto berkenaan dengan raja dan imam itu menjadi satu di dalam Yesus Kristus. Petrus pada waktu itu belum pernah melihatnya. Paulus pada waktu itu belum melihatnya. Natanael pada watu itu belum melihatnya. Apalagi Abraham, lebih belum melihatnya. Satu-satunya orang di tengah-tengah dunia ini yang melihat gabungannya ini sungguh-sungguh terjadi, menjadi satu kenyataan dan itu adalah di takhta Allah di Surga, hanya satu orang, Yohanes. Yohanes 5 adalah satu kenyataan dari seluruh pengharapan ribuan tahun; Dua arus ini, raja dan imam itu bersatu. 

Dan sekarang, kita akan melihat Wahyu 5 apa yang sesungguhnya terjadi, dan bagaimana 2 jabatan Kristus ini bersatu. Dikatakan di dalam Wahyu 5 adalah: ‘Allah di surga memegang gulungan kitab di tangan-Nya, dengan 7 materai yang tidak bisa satu orangpun itu membukanya.’ Gulungan kitab itu ada catatannya di luar dan dalamnya. Itu catatan tentang apa? Itu adalah catatan lengkap tentang apa yang telah Allah tetapkan di dalam kehendak-Nya yang berdaulat bagi dunia. Dan 7 materai itu menyatakan bahwa rahasia ketetapannya itu pasti dijamin. Tetapi suatu saat nanti, materai-materai itu akan dibuka, dan sejarah akan bergerak dengan cepat menuju kepada penyempurnaannya. Dan kemudian tiba-tiba ada seorang malaikat yang sangat kuat berseru, “Siapa yang dapat membuka materai-materai ini?” Kalimat itu begitu mencengangkan seluruh surga, ini adalah kalimat tantangan Allah untuk seluruh makhluk yang penah ada. Tidak ada satupun yang bisa menjawab, tidak ada satupun yang maju ke depan yang mampu untuk mendapatkannya. Seluruh pendiri agamapun tidak bisa berdiri pada waktu itu. Tidak layak, dan tidak mungkin mampu untuk membukanya. Abraham tidak, Musa itu tidak, dan seluruh Perjanjian Lama; nabi-nabi, tidak ada yang sanggup untuk membukanya. Malaikat itu berseru, “Siapa yang dapat membuka materai ini?” Karena tidak ada satupun yang mampu untuk membuka. Maka Yohanes yang melihat pemandangan ini, menangis terus. Kenapa dia menangis? Karena kekristenan begitu kecil; tidak punya uang, tidak punya siapa-siapa, mereka adalah orang-orang yang kelas bawah pada waktu itu, ditindas oleh Romawi pada waktu itu, maka masa depan itu tidak diketahui. Tetapi sebenarnya by default, itu adalah sesuatu kematian bagi mereka. Mereka tidak punya pengharapan apapun saja, mereka tidak ada yang menolong, dan masa depan itu tidak di tangan mereka, tetapi di tangan semua penjajah dan orang-orang yang jahat itu, maka Yohanes terus nangis. Tetapi kemudian tiba-tiba, seorang dari antara tua-tua itu bicara kepada Yohanes, “Jangan menangis, lihatlah!” “Lihat apa?” “Lihatlah, Singa dari suku Yehuda itu telah menang. Tunas Daud itu telah menang. Lihatlah, Dia sanggup, Dia mampu membuka gulungan kitab itu dan materainya.” Membuka materai-materai itu tidak hanya berarti mengungkapkan, tetapi juga melaksanakan kehendak dan tujuan Allah sampai tuntas. Allah sudah menuliskan seluruh ketetapannya bagi dunia ini, dan memateraikannya dengan 7 materai yang lengkap, yang tidak mungkin bisa dibuka, kecuali ada satu Pribadi yang layak. Allah sudah menuliskannya, ketetapan-Nya akan terjadi. Tetapi saudara-saudara perhatikan; ketetapan-Nya itu terjadi bukan dikerjakan oleh diri-Nya sendiri, Dia mencari seorang perantara. Allah sendiri tidak melakukan hal itu, tetapi Dia memanggil seorang perantara, yang akan menguasai seluruh keadaan, dari awal sampai akhir. Itulah sebabnya kalau saudara mengerti, Yesus pernah mengatakan, “Segala kuasa di Surga dan bumi ada pada-Ku, sekarang pergi, beritakan Injil.” Itu adalah sesuatu otoritas yang Yesus itu sudah miliki. 

Siapa yang nanti akan menguasai seluruh keadaan ini? Adalah Perantara. Itulah sebabnya di dalam Alkitab mengatakan: ‘Allah itu memberikan kepada Yesus; kuasa di Surga dan di bumi.’ Ini adalah tugas Perantara. Perantara itu akan menyingkapkan dan melaksanakan rencana Allah di dalam sejarah. Perantara itu akan memegang kendali atas seluruh sejarah. Dan segala hal yang evil, akan dihancurkan oleh Perantara itu. Itulah sebabnya Yohanes tidak lagi menangis karena dia tahu; masa depan kita, masa depan gereja, ada di tangan Perantara itu, yaitu Yesus Kristus. Itulah sebabnya Yesus mengatakan, “I am the Alpha and I am the Omega. Aku adalah awal dan akhir, Aku memegang seluruh sejarah.” Itu adalah satu-satunya kemampuan orang Kristen; jalan terus di tengah-tengah dunia yang berdosa ini. “Jangan menangis Yohanes. Ada yang bisa membuka.” “Siapa?” “Lihat, singa dari Yehuda, tunas Daud itu. Dia layak, Dia mampu membukanya.” Dan kemudian Yohanes terkejut, “Mana, mana?” Dan kemudian matanya melihat seseorang yang perlahan-lahan jalan di hadapan takhta Bapa itu. Tetapi ada suatu yang aneh, tua-tua itu mengatakan ‘lion’. Tetapi kemudian Yohanes lihat, “Dia Anak domba, yang bahkan ada luka-luka yang habis disembelih.” Tetapi tulisan Yohanes itu begitu sangat detail, akurat dan sangat-sangat mencengangkan. Dia katakan bahwa Anak domba yang telah disembelih itu; Dia sedang berdiri. 

Saudara perhatikan, ada 3 hal yang terjadi, atau 3 hal yang Yohanes itu gambarkan di dalam poin ini mengenai Anak domba. Pertama adalah Anak domba yang disembelih itu berdiri. Orang kalau disembelih itu tidur saudara-saudara, orang kalau disembelih itu tergeletak mati. Tetapi Anak domba yang disembelih itu berdiri, maka ini adalah kebangkitan Kristus. Tidak ada satu orang itu disembelih berdiri saudara. Yesus sudah bangkit, Yesus kemudian naik ke Surga. Dan sekarang Dia berdiri di ruang maha suci yang kekal itu. Dia berdiri di hadapan takhta Allah. Dan ke-2, apa artinya ini? Artinya Dia mempresentasikan seluruh korban-Nya di hadapan Allah. Saya pernah mengatakan hal ini. Ini adalah sesuatu yang luar biasa penting, dan saya akan jelaskan sekali lagi. Saudara-saudara, sama seperti Perjanjian Lama, maka seseorang yang berdosa pergi ke imam, dan imam itu menyembelih domba. Saya mau tanya; apakah kemudian itu artinya sudah bisa diampuni? Jawabannya adalah tidak. Maka seorang yang berdosa harus datang ke imam, dan imam itu kemudian menyembelih domba, dan domba itu darahnya itu dibawa masuk ke ruang maha suci, dan diaplikasikan di sana. Dan ketika tidak ada kesalahan, dan tidak ada cacat cela di dalam darah domba itu, maka ada pengamunan dosa. Saudara-saudara, saudara dan saya tidak diselamatkan hanya karena Yesus mati di atas kayu salib. Tetapi saudara dan saya itu diselamatkan karena darah Kristus, atau Kristus yang dikorbankan di atas kayu salib, itu seluruh korban-Nya diterima oleh Allah Bapa di Surga. Itulah sebabnya, saudara bisa melihat bahwa kita itu diselamatkan bukan hanya urusan dengan kematian dan kebangkitan Kristus saja, tetapi juga kenaikan Yesus di takhta Allah. Dan di surga, Kristus itu datang dan mempresentasikan seluruh dari luka-luka-Nya, seluruh korban-Nya. Saudara-saudara, saya pernah mengatakan ini, saya mengulangin lagi; John Flavel pernah menuliskan satu kejadian ini, kejadian yang sungguh-sungguh terjadi. Ada seorang pemuda yang sudah melakukan banyak perampokan, dan sangat merugikan. Kemudian hari itu, dia dihukum mati oleh raja. Dan ini adalah sungguh-sungguh terjadi. Dan kemudian pemuda itu sudah di hadapan rakyat, dan juga di hadapan raja untuk sebentar lagi dia akan digantung. Tetapi, pada waktu tali itu sudah dipersiapkan, maka tiba-tiba, rakyat yang banyak itu mulai terdiam, karena ada satu orang yang berjalan di tengah-tengah mereka, dan mereka semua mengetahui siapa orang ini. Orang ini baru saja datang dari luar kota, mengejar waktu itu, dan kemudian dia datang, dan raja itu tahu orang ini. Dia memakai baju yang panjang, dan kemudian di hadapan takhta raja itu, dia membuka bajunya, dan satu tangannya itu sudah putus, dan seluruh bekas perang untuk membela negaranya, seluruhnya itu ada di tanda-tanda di tubuhnya. Dia adalah seorang pahlawan, dan dia adalah kakak dari orang yang jahat ini. Dia mempresentasikan seluruh korbannya untuk bangsa dan negara di hadapan raja. Dan kemudian, raja yang melihat korban ini, apa yang sudah dikerjakan oleh sang kakak ini, dia kemudian mengatakan, “Turunkan semua, bebaskan dia. Aku mengampuni dia karena kakaknya.” Ya, seperti itu yang Kristus itu kerjakan, itulah sebabnya Kristus mengatakan kepada murid-murid-Nya, “Jangan kamu kuatir, Aku sudah mempersiapkan tempat bagimu.” 

Di hadapan Allah, kita memiliki tempat adalah karena ada Kristus yang mempresentasikan seluruh korban-Nya, sama seperti darah domba itu dipotong dan diaplikasikan di dalam ruang maha suci. Yang pertama Dia bangkit, yang ke-2 adalah Dia naik ke surga dan mempresentasikan korban-Nya, dan yang ke-3 adalah Domba itu diterima oleh Bapa di surga. Itulah sebabnya Allah di surga memberikan gulungan itu untuk dipegang, dibuka oleh Domba itu. Dan setelah ini dipegang dan dibuka oleh Anak Domba itu, maka seluruh Surga menyanyikan nyanyian baru, kenapa nyanyian baru? Karena sebelumnya tidak pernah ada, karena baru titik itulah seorang perantara yang berhasil untuk sampai ke tahta Allah dan membuka gulungan kitab itu dengan tangan-Nya. Nyanyian itu mengatakan: “Engkau layak menerima gulungan kitab itu dan membuka materai-materainya; karena Engkau telah disembelih dan dengan darah-Mu Engkau telah membeli mereka bagi Allah dari tiap-tiap suku dan bahasa dan umat dan bangsa.” Seluruh surga bersukacita untuk kejadian ini. Sekali lagi, Musa bersukacita, Yesaya bersukacita, Daud raja yang besar pun tidak bisa membuka gulungan itu, Abraham dan bahkan satu pribadi dari seluruh orang Israel itu dari keturunannya pun tidak bisa membuka gulungan itu. 

Saudara, dan kemudian apa yang terjadi? Setelah itu terjadi maka Anak Domba itu ditakhtakan. Ketika bicara dengan ditahtakan itu adalah The Lion of Judah yang kemudian mengambil kembali posisi-Nya. Dan saudara kalau memperhatikan kitab Wahyu, ada sesuatu yang signifikan di sini. Sebelum pasal yang ke-5 ini, saudara hanya akan menemukan satu takhta, yaitu takhta Allah. Tetapi setelah Wahyu 5 sampai terakhir saudara begitu takhta Allah itu muncul selalu di sebelahnya takhta Anak Domba. Mari kita melihat Wahyu 5:13. Saudara-saudara, saudara lihat tahta Allah tidak berdiri sendiri, sekarang adalah takhta Allah dan takhta Anak Domba. Saudara akan menemukan itu di sepanjang kitab Wahyu, maka di dalam Wahyu 5 saudara akan menemukan satu prinsip yang penting ini. Maka Anak Domba itu ada di atas takhta-Nya, maka Singa dari Yehuda adalah Anak Domba itu. Kuasa yang tertinggi yang diberikan oleh Allah kepada satu Mediator, adalah satu Pribadi yang adalah Singa dari Yehuda. Tetapi bagaimana Dia bisa memiliki takhta itu? Adalah melalui Dia mati di atas kayu salib, korban-Nya di atas kayu salib sebagai Anak Domba. Dan saudara akan melihat gabungan ke-2 ini; Imam dan Raja, Anak Domba dan Singa, satu kesakitan satu penghinaan satu suffering tetapi kemuliaan gabung di dalam satu Pribadi yaitu Yesus Kristus Anak Domba yang di atas takhta The Lion of Judah. Dan itulah Raja Gereja. 

Tuhan mengajarkan kepada kita, tidak ada kemuliaan tanpa jalan salib. Tuhan mengajarkan kepada kita, di dalam Dia kalau kita mau menanggung rencana kehendak Bapa, maka kubur itu bukan hasil akhirnya. Bukan juga kebangkitan. Kemuliaan itu di surga itu adalah hasil akhirnya. Kristus Yesus adalah Domba yang lembut tetapi kalau saudara-saudara melihat di dalam Alkitab, ketika Dia melihat kehormatan Bapa-nya itu diganggu maka Dia tidak bisa tenang, Dia akan seperti singa, Dia akan marah dengan kemarahan yang suci. Suatu hari, Dia melihat Bait Suci itu dijadikan tempat berjualan. Dari dulu, dosa pemimpin agama sama sampai sekarang, agama dipakai untuk cari uang, Firman Tuhan itu dipakai untuk mendapatkan keuntungan. Bait Allah tempat berjualan, Domba yang lembut ini yang tidak pernah menyaringkan suara-Nya yang bahkan tidak ingin diketahui oleh banyak orang ketika Dia melayani. Setiap orang yang ingin membuat Dia jadi Raja, Dia katakan tidak, engkau diam-diam saja. Setiap kali Yesus berusaha setelah selesai melakukan mujizat, Dia katakan, “Engkau diam-diam saja, jangan bicara apapun.” Dia yang lembut itu, yang tidak pernah mau untuk kelihatan tenar tetapi ketika melihat Bait Allah itu dinajiskan, dihina, kehormatan Allah itu menjadi taruhannya, Dia tidak pernah bisa diam. Tukang kayu itu kemudian berani untuk melawan seluruh pejabat yang paling agung pada waktu itu, seluruhnya diporakporandakan bahkan Dia menantang orang-orang pada waktu itu. Kepada orang-orang yang melawan Dia, Dia lembut. Dia adalah Domba yang rela, yang tunduk kepada kehendak Allah dan mau rela menanggung seluruh providensiasi. Tetapi ketika kehormatan Allah itu diganggu gugat, maka Dia berani untuk maju. Dia tidak pernah mundur satu langkah pun, tidak pernah minta maaf satu kali pun, Dia adalah seperti singa yang tidak akan pernah bisa dilawan. Dan Domba itu begitu lembut, tetapi Dia tidak pernah takut untuk masuk ke sarang musuh. Orang-orang menangkap-Nya, memukul-Nya, memahkotai duri, menyeret-Nya sampai ke atas kayu salib, dipaku tangan-Nya, dipaku kaki-Nya, seluruh darah itu mengucur. Orang yang lembut tetapi tidak lemah, Dia seperti singa, Dia maju satu langkah demi satu langkah tidak pernah mundur. Dia satu-satunya kehendak-Nya yaitu kehendak Bapa di Surga dijalankan. Herodes melihatnya tercengang, Pilatus melihatnya bungkam tidak bisa bicara apa lagi. Kenapa Orang ini begitu berani? Orang yang tidak punya uang, tidak punya relasi, murid-murid-Nya semua pergi, dan Dia begitu lembut tetapi Dia, Singa, yang maju yang akan mengalahkan dosa, mengalahkan setan tepat di singgasana setan yaitu kubur. Singa dari Yehuda. Dan Dia adalah Singa yang memerintah, yang memiliki otoritas, memiliki kuasa. Segala kuasa di langit dan di bumi ada pada-Ku, Paulus menyatakan; bahwa kuasa yang di surga maupun di bumi maupun yang di bawah bumi, yang di laut, yang di bawah laut tidak ada satu inci pun di seluruh galaksi dan alam semesta yang tidak di bawah kuasa-Nya. 

Dia, Singa dari Yehuda, yang memerintah, tetapi dengan kelembutan hati-Nya Dia mau mendengarkan keluhanmu dan keluhanku. Dia mau mendengar seseorang dengan air mata minta ampun kepada Dia. Tidak Dia tidak keras kepada orang-orang yang bertobat dan kepada orang-orang yang tidak memiliki gembala itu hatinya penuh dengan cinta kasih. Dan orang-orang yang sakit, yang anaknya itu hampir mati, yang dirinya sendiri kusta, yang buta dan mereka itu berseru, “Tolong aku, tolong aku.” Dia yang bertakhta di takhta Maha Kudus itu, hatinya begitu lembut sampai Dia bisa mendengarkan suara keluhan kita di tempat kamar kita yang terdalam. The Lion and The Lamb. Siapa Juruselamat yang seperti Dia? Siapa yang kepala gereja lagi yang seperti Dia? Apakah engkau melihat kemuliaan-Nya? apakah engkau melihat kemuliaan-Nya di tahta-Nya? Apakah engkau melihat kemuliaan-Nya di dalam isi hati-Nya yang terdalam? Bertobatlah sekarang! Hormatilah Dia! Hormatilah Dia dalam hati dan hidupmu. Kalau tidak engkau akan menyesal bahwa engkau akan bertemu, yang Domba itu adalah Singa. 

Ada orang muda yang sangat-sangat jahat, dia suka mencuri, dia suka merampok. Dan pada suatu hari, raja dari kerajaan itu sedang turun menuju melihat satu per satu dari rumah-rumah dan pasar-pasar dari pemerintahannya. Dan ketika dia sedang menginspek dengan hanya beberapa pengawal saja, dan di belakang sana maka pemuda itu sedang menjambret dari seorang ibu yang tua, diambil uangnya dan dia lari. Ketika dia lari dia nabrak raja itu, dia terjatuh dan ketika dia melihat raja itu takutnya luar biasa, ”Ah ini raja, aku akan dihukum.” Dan kemudian raja yang menyelidiki peristiwa itu dia mengatakan, ”Aku mengampuni engkau. Engkau jangan lagi mencuri, jangan merampok, jangan memukul orang yang tua, jangan berbuat jahat kepada orang lain.” Dan beberapa tahun kemudian itu berlalu, dan pemuda ini terus menerus mencuri, dia memukul, begitu banyak orang dirugikan sampai suatu hari ada pengawal raja yang akhirnya itu bisa menangkap dia, dan kemudian pengawal raja itu membawa dia ke tempat dari raja kerajaan itu. Dan raja kerajaan itu sedang duduk di takhtanya, dan anak muda itu melihat raja itu dia senyum, pengawal-pengawal itu kesal sama dia kenapa dia berani senyum di bawah? Karena di dalam pikiran anak muda itu, “Raja ini raja yang baik, raja ini dulu pernah mengampuni saya. Pasti saya juga akan diampuni dan dilepaskan.” Dan kemudian maka peristiwa itu masalahnya itu kemudian dinyatakan, apa kejahatan pemuda ini di hadapan raja. Dan kemudian raja itu mengatakan, “Engkau harus masuk hukuman penjara seumur hidup.” Dan anak muda ini gemetar, dia takut, ndak masuk akal, dia tanya, “Raja, sudah lupa sama aku? Aku itu yang berapa tahun itu engkau ampuni, masa engkau sekarang tidak mengampuni aku? Apakah engkau lupa cara keadilanmu?” dan raja itu kemudian mengatakan, “Anak muda perhatikan, hari pada waktu aku mengampunimu adalah aku sedang berada di depan rakyatku, tetapi sekarang aku sedang berada duduk di takhtaku.” Engkau membuat cinta-Nya itu main-main? Engkau membuat belas kasihan-Nya itu adalah sesuatu yang boleh engkau buang? Ya Dia Domba Allah, ya Dia selama ini lembut kepada kita. Tetapi biarlah kita boleh takut kepada Dia karena Dia adalah The Lion of Judah, Dia akan menghakimi seluruh umat manusia dan pada waktu itu terjadi, Dia ada di takhta-Nya. Hai seluruh umat manusia, lihatlah Kristus, The Lamb of God dan The Lion of Judah. Biarlah hidup kita yang hanya satu kali, hidup yang sungguh-sungguh menikmati cinta, tetapi juga hidup yang sungguh-sungguh hormat kepada Dia. Bertobatlah! Bertobatlah! Kerajaan Allah sudah dekat, Bertobatlah! Lihatlah Anak Domba Allah yang mengampuni dosamu dan aku, bertobat sekarang karena Dia akan datang sebagai Singa dari Yehuda memerintah dan menghakimi seluruh umat manusia. Kiranya kasihnya Tuhan memberikan kita kesempatan pada hari ini. Mari kita berdoa.

 
 
GRII Sydney

GRII didirikan di atas dasar Pengakuan Iman Reformed Injili dengan tujuan menegakkan satu gereja yang berbasiskan teologi Reformed, dengan mimbar yang menyampaikan khotbah ekspositoris, read more