Ringkasan Khotbah

11 May 2025
Mother’s Day – Keselamatan Umat Tuhan Dimulai dari Keranjang Kecil
Pdt. Agus Marjanto, M.Th · Kel 2:1-10

Kel 2:1-10

Di dalam Keluaran 2:1-10, saudara akan menemukan bagaimana Allah dari bibit pertama bicara berkenaan menyelamatkan orang Israel dari Mesir dinyatakan. Ini adalah suatu penyelamatan yang sifatnya itu sungguh diam-diam, tetapi Tuhan kemudian akan membuatnya menjadi sesuatu yang mencengangkan, Musa akan menghancurkan seluruh Mesir, kerajaan yang paling adidaya itu. Di dalam 10 ayat ini, saudara lihat bagaimana Tuhan memakai keluarga yang sangat sederhana dan khususnya seorang ibu. Mari sekarang kita melihat 10 ayat ini dan mari kita pikirkan 3 hal besar ini. 

Pertama, mari kita perhatikan baik-baik musuh yang sangat kejam terhadap keluarga-keluarga umat Allah. Saudara-saudara akan melihat dalam 10 ayat ini ada keluarga yang kecil, yang rapuh, yang tidak terkenal, yang tidak memiliki kekuatan apa pun selain dia harus bersembunyi dan lari. Siapa yang mereka hadapi? Adalah kejahatan yang terbesar dengan militer yang terkuat di seluruh dunia, Firaun dan Mesir. Sepanjang sejarah kita tahu bahwa Mesir adalah salah satu negara yang pernah hidup yang terkuat di dunia. Mesir negara yang kuat, setelah itu Asyur negara yang kuat, Babel negara yang kuat, Media Persia negara yang kuat, Yunani negara yang kuat, dan Romawi, negara yang paling kuat, yang pada waktu itu keluarga Yesus hadir di situ. Negara-negara ini jauh lebih kuat daripada Jerman, lebih daripada Inggris, lebih daripada Amerika, dan khususnya pada waktu itu Mesir sangat-sangat kejam. Mereka tidak suka dengan orang-orang Ibrani, budak-budak Ibrani, semua orang itu dibunuh dan khususnya anak-anak laki-laki yang baru lahir harus dimasukkan ke dalam sungai Nil. Rencana pembunuhan masal secara ras, genocide itu ada dalam pikiran orang-orang Mesir, khususnya Firaun. Saudara-saudara, ini bukan sekedar masalah sederhana, ini adalah masalah penderitaan yang ekstrim di dalam sebuah keluarga Ibrani. Tiap hari mereka diperhadapkan dengan kematian yang menunggu. 

Pada waktu itu ada satu keluarga yang kecil, Amram dan Yokhebed. Yokhebed sudah hamil besar dan di saat hamil besar itu, mereka pasti sangat kuatir karena mereka tidak tahu bayi yang dikandungnya ini laki-laki atau perempuan. Ketika mereka menunggu dan menunggu, dan pada waktu harinya lahir bayi itu, mereka bercampur antara senang dan air mata. Mereka melihat, “Oh bayiku, anakku laki-laki, berarti harus mati.” Tidak ada jalan lain. Sejak saat itu hati mereka sangat gelisah, terus mereka kepikiran bagaimana caranya bisa melihat anak yang sebentar lagi dimatikan di depan mata mereka. Suami dan istri terus bicara, ini adalah keluarga yang sederhana, keluarga yang tidak terkenal, bahkan di kitab Keluaran, saudara tidak menemukan di ayat-ayat ini nama mereka. Di dalam pasal yang ke-6, baru saudara dan saya menemukan nama mereka. Tuhan memang mau menyatakan bahwa mereka itu nothing, dan mereka berhadapan dengan kekuatan yang luar biasa di dunia ini. 

Oh suami dan istri ini bicara pagi sore malam sambil meneteskan air mata, sambil ketakutan, sambil kecemasan, sambil doa. Dengan iman kepada Allah yang sangat kecil, pengharapan yang hampir tidak mungkin, mereka melakukan dengan cara the best understanding yang mereka punya. Mereka menganyam daun-daun papyrus pada waktu itu, merekatkannya sedemikian rupa, sedemikian ketatnya supaya tidak ada celah air yang masuk. Kemudian basket itu dilapisi dengan ter dan gala-gala, mereka pikir kalau ini dilapisi dengan ter dan gala-gala maka minyak itu memiliki bau yang tidak disukai oleh buaya. Hari demi hari membuat keranjang ini dengan air mata, dengan doa, dengan ketakutan, dengan doa, terus mereka lakukan dengan the best understanding yang mereka punya. Saya tanya kepada saudara-saudara, jikalau kita adalah Amram dan Yokhebed, meskipun kita membuat keranjang tersebut, apakah menurut saudara kita memiliki optimistis bahwa anak kita itu akan luput dari buaya? Hampir tidak ada. Tetapi mereka terus dengan the best understanding, dengan iman yang kecil, mereka berespon kepada Tuhan. 

Sampai satu waktu anak itu kurang lebih sudah 3 bulan, sudah cukup besar tidak bisa disembunyikan lagi. Suara tangisannya begitu keras, mereka sudah saling memandang, suami dan istri. Mungkin sekali Amram mengatakan kepada Yokhebed, “Besok waktunya. Kita tidak bisa lagi tunggu untuk menyimpan anak ini. Tetangga-tetangga kita sudah tahu bahwa engkau melahirkan anak laki-laki. Kita tidak mungkin bisa melarikan diri dari keadaan ini. Besok pagi-pagi kita akan menghanyutkan anak kita di dalam keranjang di sungai Nil.” Saya tidak bisa memikirkan bagaimana mereka bisa tidur pada malam hari itu. Tapi yang jelas, pasti seharian dan malam hari mereka cium terus Musa yang masih kecil ini, terus air mata mengalir dari kedua orangtuanya, juga Harun dan Miriam. Terus mereka menangis sampai malam, sampai mereka tertidur dengan air mata. Pagi-pagi maka Amram membangunkan Yokhebed dan Yokhebed sudah tidak lagi punya kekuatan di dalam berkata-kata. Dia ambil anak ini, dan Amram mengambil basket itu, dan kedua anaknya yang lain juga mengikuti dia ke tempat tepian dari sungai Nil itu. Sangat mungkin subuh-subuh benar, matahari belum muncul dan kemudian Yokhebed harus melepaskan anak ini masuk ke dalam basket tersebut dan menutupnya. Mereka kemudian berdoa kepada Tuhan, iman mereka dipaksa sampai ke titik nadir. Dan di tengah-tengah air mata, tetapi mereka tidak bisa menangis dengan keras, dan di tengah-tengah keheningan pagi hari itu, mereka melepaskan keranjang bayi itu ke sungai Nil. 

Umat Allah, keluarga-keluarga yang menjadi umat Allah di tempat ini, kadang Tuhan mendidik iman kita, untuk kita yang biasa memegang anak kita, kita diminta untuk melepaskannya. Kita sering memegang anak kita sampai-sampai Tuhan tidak bisa memakai mereka. Seringkali kita memiliki dosa di hadapan Tuhan, tidak mau melepaskan anak kita tumbuh kembang di dalam takut akan Tuhan dan Tuhan pimpin masa depannya. Entah sengaja atau entah tidak sengaja, kita terus-menerus mau menguasai anak-anak kita. Saudara-saudara, biarlah kita menyadari bahwa anak-anak kita adalah milik Allah dan bukan milik kita. Ada saatnya Tuhan mengatakan, “Lepaskan anak ini dan engkau akan tahu, Aku yang akan memelihara mereka.” Sering kali Tuhan memberikan konteks hidup, sampai orangtua, sampai kita tidak bisa mengendalikan keadaan. Ini sering sekali terjadi di dalam kesaksian orang-orang Kristen. Ketika Amram dan Yokhebed melepaskan anak itu di aliran sungai Nil, sesungguhnya iman mereka melepaskan anak itu ke dalam tangan Tuhan. 

Beberapa tahun yang lalu saya mengingat ada satu kejadian, ada suami dan istri memiliki 2 anak yang masih menjelang remaja, kelas 5 atau kelas 4 SD waktu itu anaknya. Papanya sakit cancer dan dokter sudah memvonis umurnya tidak akan lebih dari satu bulan lagi. Beberapa minggu sebelum dia meninggal, maka saya membesuk dia. Dokter sudah memberitahu dia dan progress penyakitnya itu begitu jelas terlihat. Dalam keadaan seperti itu dan kedua suami istri itu tahu keadaan itu, saya tanya, “Mau didoakan apa?” Kemudian saya menyambung pertanyaan saya, ”Apakah bapak kuatir? Apakah engkau kuatir akan masa depan anak-anakmu?” Saudara-saudara, jawabannya mencengangkan saya. Dia menjawab, ”Saya tidak kuatir, saya yakin Tuhan akan memelihara mereka. Dan pemeliharaan Tuhan jauh lebih baik daripada saya memelihara mereka.” Saya melihat imannya yang kuat sekali ada di sana. Dan saya bersyukur dan dikuatkan iman saya oleh imannya. 

Saudara-saudara sekali lagi, sering sekali di dalam banyak keadaan, di dalam konteks yang berbeda, Allah memberikan konteks hidup sampai kita tidak lagi bisa mengendalikan keadaan bagi anak-anak kita. Dan di dalam konteks Amram dan Yokhebed adalah ada evil yang besar yang mendatangi mereka, yang membuat mereka harus melepaskan Musa, dan di dalam keadaan seperti ini maka taruhannya adalah hidup dan mati. Saudara lihat musuh dan kejahatan besar yang menyerang umat Allah, keluarga-keluarga Allah. Hidup kita adalah peperangan. Keluarga kita diciptakan, dibentuk, disatukan, dan kemudian dimasukkan di dalam tanah yang lapang, di tempat kita itu bisa untuk tamasya. Saudara-saudara, keluarga kita dibentuk dan kemudian disatukan, dan diletakkan di dunia ini yang penuh dengan evil, kejahatan, sakit penyakit dan dosa. Saudara sekali lagi perhatikan, hal yang pertama, keluarga kecil ini yang rapuh, yang tidak terkenal, yang tidak memiliki kekuatan apa pun, tidak ada senjata, tidak ada kenalan untuk bisa melindungi mereka, mereka diletakkan di mana? Diletakkan di tengah-tengah musuh, kejahatan yang besar, yang sifatnya bahkan seluruh dunia. Saudara-saudara mengingat akan apa yang terjadi pada Yusuf dan Maria? Siapa yang mereka hadapi? Kaisar Romawi. Cerita yang sama, keluarga Kristen yang sangat-sangat kecil, rapuh, yang tidak terkenal, tidak memiliki kekuatan apa pun, dan mereka harus berhadapan dengan kekuatan adidaya dunia. Saudara-saudara, biarlah kita menyadari di mana letak kita hidup. Alkitab adalah kenyataan, Alkitab adalah menyatakan apa yang sesungguhnya ada pada kita, apa yang sesungguhnya kita hadapi. 

Hal yang ke-2, lihatlah cara kerja Tuhan yang tersembunyi tapi pasti di dalam pemeliharaan-Nya. Sekali lagi pada pagi hari ini saudara-saudara bisa melihat bagaimana kerja Tuhan yang tersembunyi, yang tidak spektakuler, tetapi pasti dalam penyelamatan umat-Nya. Di dalam perikop ini tidak ada kata Tuhan, tidak ada kata malaikat, tidak ada penglihatan, tidak ada mujizat, tetapi kita tahu semua Tuhan bekerja secara kuat dengan tangan yang tidak terlihat. Providensia adalah satu kata yang kita harus belajar lebih dalam. John Flavel pernah menyatakan, “Kita diminta oleh Tuhan untuk mempelajari Firman dan mempelajari the work of God. The Word and the work of God.” The Word of God adalah Firman. The work of God adalah providensia Allah, Allah yang memelihara, Allah yang mengatur dengan tangan yang tidak terlihat di dalam peristiwa-peristiwa sehari-hari kita. 

Kalau saudara melihat satu per satu di dalam ayat-ayat ini, saudara akan melihat bagaimana tangan Tuhan memelihara Musa. Dan keselamatan ini, keselamatan bagi Musa dan nantinya keselamatan bagi Israel, mulai muncul dari satu keranjang papyrus itu. Saudara-saudara, basket di dalam Ibraninya adalah tebah, dan kata ini adalah kata yang persis sama dengan perahunya Nuh. Tuhan mudah sekali untuk menyelamatkan melalui suatu perahu yang besar maupun suatu keranjang yang kecil, dua-duanya tangan Tuhan yang tidak terlihat yang memimpin semuanya. Saudara boleh menuliskan judul dari ayat-ayat ini adalah ‘Keselamatan besar dari Tuhan melalui atau dimulai dari keranjang yang kecil’. Saudara-saudara, ini adalah sesuatu yang sengaja dituliskan di dalam kitab Keluaran disandingkan dengan pekerjaan Allah pada Nuh. Keranjang tersebut menjadi satu alat keselamatan, ketika keranjang itu dialirkan di sungai Nil, Tuhan, dengan tangan yang tidak terlihat, menjagai dan mengalirkan basket itu menuju ke tempat yang Dia kehendaki, sampai kepada satu tempat, di mana putri Firaun sedang siap-siap mandi. Dia terkejut ada satu basket yang mengalir di depan matanya. Putri Firaun mengatakan kepada semua dayang-dayangnya, “Ambil basket itu.” Dan ketika basket itu diambil dan didekatkan kepada putri Firaun, dibuka, ada seorang bayi menangis dengan keras dan putri Firaun langsung tahu ini adalah anak Ibrani. Kita tidak tahu dari mana dia tahu. Mungkin sekali dia tahu bahwa ini adalah seorang bayi yang sudah disunat atau mungkin bayi Ibrani itu kuat sekali dan tangisannya melengking. Dan kemudian ada satu hati yang tergerak penuh dengan belas kasihan kepada bayi ini di dalam isi hati putri Firaun. Bukankah seharusnya yang ada dalam isi hati putri Firaun adalah sama seperti papanya yang mau menghancurkan, membunuh dari bayi ini? 

Saudara-saudara perhatikan cara kerja Allah, tidak ada mukjizat, tidak ada penglihatan, tidak ada sinar, tetapi Dialah yang memegang hati dan arah hati dari raja-raja, memberikan hati yang lembut, belas kasihan kepada putri Firaun untuk anak tersebut. Bukannya jijik kepada bayi tersebut, bukannya marah, tetapi belas kasihan. Ini sekali lagi adalah suatu providensia Allah yang begitu nyata. Dan ketika dia melihat bayi ini, dan kemudian ada belas kasihan, dan kemudian dia tahu bahwa ini adalah bayi yang sangat mungkin dibuang oleh mamanya, ada satu keinginan dia untuk mengadopsi bayi ini. Dan kemudian dalam pikirannya bayi ini harus tumbuh besar, harus minum susu. Tanpa dia bicara panjang tiba-tiba ada seorang anak perempuan Ibrani mendekat kepada dia. Ini adalah Miriam, kakak perempuan dari Musa, seorang yang sangat lincah, sangat cerdik. Dan langsung tanya kepada putri Firaun, “Apakah engkau mau aku carikan seorang ibu untuk menyusui dia?” Saudara-saudara, waktunya begitu tepat. Sekali lagi ini adalah providensia Tuhan. Dan kemudian putri Firaun itu mengatakan, “Ya, aku mau.” Lalu anak ini pulang, cepat lari ke rumahnya dan bilang, “Mama, mama, ayo ikut saya.” Mamanya yang baru menyeka air mata yang belum kering itu tanya kepada anaknya, “Ada apa?” “Ikut aku, ikut aku.” Lalu mamanya diseret untuk pergi ke tempat putri Firaun itu. Maka Yokhebed dipertemukan dengan putri Firaun dan kemudian Miriam berkata kepada putri Firaun, “Ini Ibu, dia bisa menyusui.” Kemudian putri Firaun menyerahkan anak ini ke dalam pangkuan Yokhebed kembali, meskipun dia tidak tahu sesungguhnya ibu ini siapa. Lalu setelah itu, maka Yokhebed bisa menyusui, bisa mendidik Musa kurang lebih hampir 3 tahun sebelum dikembalikan ke putri Firaun. Dan saudara lihat seluruhnya ini adalah permulaan dari kerja Allah yang dahsyat sepanjang kitab Keluaran. 

Tadi di poin yang pertama saya mengatakan Amram dan Yokhebed adalah keluarga yang kecil, yang tidak memiliki apa pun, tetapi sesungguhnya mereka memiliki yang paling penting di seluruh dunia yaitu janji Allah dan penyertaan Allah untuk keluarga itu. Hai keluarga-keluarga Kristen, inilah yang kita miliki. Mengapa engkau minder kalau engkau tidak punya banyak uang? Mengapa engkau minder kalau engkau tidak memiliki dukungan di belakang, relasi yang kuat dengan orang-orang besar? Mengapa engkau minder kalau engkau tidak berpendidikan tinggi? Saudara-saudara, di dalam Alkitab yang menjadi warisan bagi kita adalah penyertaan Allah dan janji Allah. Itu adalah bagian yang Tuhan berikan kepada kita. Kalau engkau dan saya memiliki uang, itu baik, kalau pun tidak engkau jangan minder, karena kita memiliki janji Allah dan penyertaan-Nya. Inilah privilege, hak Istimewa engkau dan saya sebagai ayah, ibu dari anak-anak kita, keluarga Kristen. 

Apa yang membedakan kita dari keluarga-keluarga yang lain? Sekali lagi bukan karena kita punya banyak uang lebih dari mereka, kita memiliki rumah yang lebih bagus dari mereka, kita memiliki relas-relasi yang lebih hebat dari mereka, apa yang membedakan kita dengan yang lain? Karena ada God with us. Amram dan Yokhebed begitu miskin, yang dilawannya bukan orang yang benci kepada dia, tetapi negara adikuasa. Kalau saudara menghitung secara manusia, mereka sudah pasti mati konyol, mereka pasti kalah total, tetapi tidak. Allah kita adalah Allah yang menyertai kita. Dia ingat akan janji-Nya, pada waktu-Nya maka Dia akan mengeluarkan Israel dari Mesir. Dia ingat akan kasih setia-Nya, pada waktu Dia bekerja penyertaan-Nya jelas, meskipun itu tidak spektakuler. Dari basket yang kecil, dari hati putri Firaun, dari waktu yang tepat Miriam muncul, maka seluruh dari bayi tersebut, perjalanannya yang seharusnya mati, sekarang dia kembali kepada ibunya yang mencintai dia. Berbahagialah orang-orang yang dapat melihat pekerjaan Tuhan di dalam hidup kita yang sederhana di dalam keseharian. Ini adalah Firman untuk engkau para ibu. Ini adalah Firman untuk engkau ayah-ayah dan ibu-ibu, dan keluarga kristen. Tuhan menyertai keluarga kita, meskipun tidak spektakuler tetapi biarlah hati kita boleh belajar bagaimana Dia menyertai begitu jelas. 

Hal ke-3, perhatikan bagaimana Amram dan Yokhebed berespon kepada Tuhan. Saudara-saudara, pertama lihat dengan jelas siapa yang kita hadapi. Kita ditempatkan di mana? Kejahatan yang besar di sekeliling kita. Ke-2 lihat dengan cermat bagaimana Tuhan bekerja menolong kita. Alkitab mengatakan, “Kecaplah dan lihatlah betapa baiknya Tuhan itu.” Dan sekarang yang ke-3 maka belajarlah, lihatlah bagaimana keluarga yang sederhana ini merespon kepada Yahweh. Mereka berespon kepada Yahweh dengan cara apa? Maka Yokhebed khususnya dan tentu Amram mendidik Musa dari bayi sampai umur kurang lebih 3 tahun, terus bicara Firman Tuhan, Firman Tuhan. Mereka terus mendidik di dalam waktu yang mereka tahu sangat singkat. Saudara-saudara, di dalam hal ini kita harus belajar dari mereka. Engkau dan saya diberikan di tangan kita berapa belas tahun, berapa puluh tahun anak-anak kita tumbuh kembang di bawah kita, apa yang kita didik? Kita tidak terlalu mementingkan Firman Allah di dalam keluarga kita, karena kita sendiri orang tua tidak kait dengan Firman Allah. Kita tidak memprioritaskan Firman Allah setiap pagi dalam hidup kita. Apa yang kita didik belasan tahun? Amram dan Yokhebed cuma punya waktu 3 tahun. Alkitab dengan jelas menyatakan, “Didiklah anak itu sejak kecil maka mereka tidak akan menyimpang sampai tuanya.” Banyak orang tua kemudian tanya, “Kenapa anakku seperti ini, kenapa begitu masuk universitas seperti ini?” Sangat mungkin karena kita tidak mendidik anak kita baik-baik pada waktu dia kecil. Saudara-saudara mulai hari ini, pertama, didik jiwa kita untuk membaca Firman dan taat kepada Firman. Ke-2 tetapkan Firman itu ada di dalam keluarga, bagi kita dan bagi anak-anak kita. Inilah respon terhadap anugerah.

Musa sudah di tangan mereka kembali, hanya di dalam 3 tahun harus keluar dari keluarga mereka. Mereka tidak bisa lagi lihat dia, tidak bisa lagi pegang dia, tidak lagi bisa main-main dengan dia. Saudara-saudara, mereka cuma punya waktu beberapa tahun saja dan kemudian mereka harus mendidik apa? Mereka memiliki satu perasaan urgency di dalam pendidikan Kristen. Dan bukan itu saja, hal yang ke-2 mereka berespon dengan mendidik Musa memiliki hati yang bermisi. Apa itu artinya hati yang bermisi? Mereka mendidik Musa supaya Musa tahu panggilannya yaitu dipakai oleh Allah. Mereka mendidik Musa bukan supaya Musa nanti sopan, tidak kurang ajar. Saudara-saudara, mereka mendidik Musa bukan supaya Musa itu baik saja, bukan supaya Musa nanti berhasil. Kalau dia mendidik Musa menjadi seorang yang sukses, Musa akan memilih istana Firaun daripada membela umat Allah. Oh, saya melihat ini menjadi sesuatu yang sangat tipis tetapi menentukan jiwanya Musa. Kalau mereka bilang kepada Musa, kamu jadi anak baik-baik, jangan kurang ajar, jangan membantah, kamu menjadi anak yang mesti rajin belajar dan kamu harus jadi anak yang sukses di bidangmu, maka saya katakan kepada saudara-saudara, maka Musa akan memilih istana Firaun daripada dia mengeluarkan orang Israel dari Mesir. 

Pada waktu itu Mesir adalah negara yang menjadi central dari international education. Sastra, matematika, medicine dan geografi semuanya ada di sana, astronomi ada di sana. Ini adalah negara yang paling hebat secara education. Kalau Musa mau terkenal dan nanti bawa Amram dan Yokhebed hidup enak, hidup nyaman, tidak perlu ada masalah, maka Amram dan Yokhebed bisa mendidik Musa seperti itu. Tetapi tidak, Musa dididik untuk kenal Kristus, Musa dididik untuk mentaati Yahweh, Musa dididik untuk menjalankan pangilan Allah, misi Allah yang harus digenapinya. Seluruh pendidikan itu masuk di dalam hati Musa. Hanya 2-3 tahun. Dan kemudian pada waktunya Musa mau keluar dari Mesir, sangkal diri, pikul salib, jadi pengembara, sering sekali dihina oleh umat Israel yang lain, putar-putar 40 tahun di Padang Gurun, makan seadanya, makan manna setiap hari, tetapi satu tujuannya, misinya adalah berjalan kemana Tuhan kehendaki, menghancurkan kubu-kubu musuh di tempat yang Tuhan kehendaki. Musa menjadi a man with God mission

Saya mau tanya kepadamu keluarga Kristen, saya mau tanya kepadamu seluruh ibu-ibu, apa tujuanmu ketika engkau mendidik anak-anakmu? Musa dididik ketat di dalam iman. Itu tidak sama dengan pikiran kita, oh ketat dalam iman adalah pokoknya tidak pergi ke agama lain, jadi anak baik-baik, u hao sama orang tua, aku ingin lihat anakku berhasil. Tidak. Musa dididik ketat di dalam iman artinya hidup adalah untuk satu, mengabdi kepada Yahweh. Banyak sekali orang Kristen bahkan reformed yang missed di dalam area ini. Kita mendidik anak kita dengan prinsip iman Kristen, tetapi sebenarnya arah pendidikan itu adalah untuk aku, untuk kenyamananku sebagai orangtua, untuk kehormatanku sebagai orangtua. Sekali lagi jikalau Amram dan Yokhebed mendidik Musa seperti itu, maka kalimat Ibrani pasal 11:26 ini tidak mungkin muncul. Di situ dikatakan: “Musa menganggap penghinaan karena Kristus sebagai kekayaan yang lebih besar daripada semua harta Mesir, sebab pandangannya ia arahkan kepada upah.” 

Saudara-saudara, maka Yokhebed mendidik Musa dengan hati yang bermisi. Kehendak Allah jadi bukan saja kepada keluarga mereka tetapi kepada Israel dan dunia. Sama seperti Jonathan Edwards mengatakan: ‘Yokhebed berusaha untuk mencap kekekalan di bola mata Musa.’ Melihat pekerjaan Allah jauh lebih besar daripada keluarga. Karya keselamatan Allah lebih besar hanya sekedar orang Israel, tetapi seluruh bangsa. Dan kemuliaan Allah lebih daripada dunia ini, tetapi sampai kepada kekekalan. Kita tahu semua bahwa Musa nanti pada saatnya dipakai oleh Tuhan mengeluarkan bangsa Israel dari Mesir. Dan Alkitab mengatakan bukan saja bangsa Israel, tapi ada beberapa orang dari beberapa macam bangsa ikut serta di dalam Keluaran ini adalah satu simbol, satu bayang-bayang dari Allah akan menyelamatkan suku-suka bangsa sampai nanti waktunya ada kegenapan di dalam tahta Anak Domba. Biarlah kita sekali lagi belajar. Pertama, perhatikan yang jahat di sekitar kita. Ke-2, perhatikan Tuhan dengan tangan yang tidak terlihat menolong kita. Ke-3, belajarlah bagaimana mendidik anak-anak kita seperti iman dari Amram dan Yokhebed. Para ayah dan para ibu, anak-anak kita memerlukan kita bukan untuk diri kita, tetapi untuk mereka mengenal Allah dan berjalan bersama dengan Allah. Kiranya Tuhan menyertai kita semua. Happy mother’s day. Mari kita berdoa.

GRII Sydney

GRII didirikan di atas dasar Pengakuan Iman Reformed Injili dengan tujuan menegakkan satu gereja yang berbasiskan teologi Reformed, dengan mimbar yang menyampaikan khotbah ekspositoris, read more