Mat 7:15-23
Di dalam seri berkenaan dengan Matius 7 mengenai nabi palsu ini, saya hanya punya satu kali untuk menutup seluruh seri ini. Dan pada pagi hari ini saya akan menutup seri ini dengan khotbah ini. Mengapa seseorang bisa masuk ke dalam kesesatan? Mengapa seseorang bisa tertarik masuk ke dalam kesesatan? Sekali lagi saya akan memberikan sesuatu gambaran luasnya terlebih dahulu. Di dalam Injil Matius, maka Matius mempresentasikan kepada orang-orang Yahudi di pembuangan bahwa Kristus yang dinanti-nanti itu sudah datang. Nama-Nya adalah Yesus, anak tukang kayu dari Nazaret, anak Yusuf dan Maria. Maka di dalam seluruh ayat-ayat di dalam Injil Matius, Matius itu mempresentasikan siapakah Yesus Kristus itu. Dan bukan saja Matius mempresentasikan bahwa Dia adalah seorang Juruselamat, tetapi Yesus Kristus itu sebenarnya adalah seorang Raja yang ditentukan Allah untuk menguasai langit dan bumi ini. Kerajaan Allah akan ditegakkan di tengah-tengah bumi ini melalui kehidupan dan pelayanan-Nya. Tetapi selain daripada itu, para pembaca biarlah boleh mengerti ada suatu perlawanan yang jelas sekali, yang terbuka dan kuat sekali dari kuasa kegelapan di tengah-tengah dunia ini melawan Kerajaan Allah yang ditegakkan. Ada sesuatu perlawanan yang kuat, ada perlawanan yang terbuka, ada perlawanan yang tidak pernah mau mundur. Dan setan dengan seluruh antek-anteknya berusaha untuk menghancurkan pekerjaan Kristus dan kerajaan-Nya di muka bumi. Tuhan akan memakai gereja-Nya dengan Roh-Nya yang suci untuk memperluas kerajaan-Nya. Tetapi di tempat yang lain, kuasa kegelapan menggunakan nabi-nabi palsu untuk dimasukkan di dalam gereja Tuhan yang sejati untuk boleh mengalahkan hamba-hamba Tuhan dan iman orang-orang kudus. Nabi-nabi palsu dan pengajar-pengajar palsu itu bahkan sulit sekali untuk dideteksi. Nabi-nabi palsu itu akan menghabisi banyak orang-orang yang seakan-akan orang-orang kudus di dalam gereja dan mereka akan diputar balikkan imannya. Di dalam Alkitab, dalam kitab Wahyu bahkan, maka Tuhan itu mengatakan bahwa penyesat itu menaklukkan dan mengalahkan hamba-hamba-Ku. Saudara jangan berpikir berkenaan dengan predestinasi lalu saudara berpikir bahwa saudara tidak akan lepas. Kita tidak akan lepas dari gangguan dan dari sesuatu pembelokkan masal seperti ini. Kalau kita tidak hati-hati, kita akan masuk di dalam jebakan ini. Tetapi pertanyaannya pada pagi hari ini yang kita mau selesaikan, kenapa seseorang bisa masuk di dalam kesesatan? Kenapa seseorang itu bisa tertarik dengan kesesatan? Minimal ada empat hal yang dikatakan di dalam Alkitab dan kita akan bahas satu per satu kenapa seseorang bisa masuk atau tertarik dengan kesesatan.
Hal yang pertama adalah karena orang tersebut tidak peduli. Ini disebut sebagai dosa ignorance: tidak peduli. Ini adalah sesuatu yang begitu jelas di dalam Alkitab: tidak peduli adalah tanda seseorang yang sebenarnya tidak lahir baru. Ada seorang Yohanes Pembaptis, atau ada seorang Matius, atau seorang Paulus, dia teriak-teriak, dia bicara-bicara mengenai kebenaran Allah, tetapi ada orang-orang yang memperhatikan, dia tidak mengkritik bahkan, dia kemudian melihat, tetapi yang dia lihat itu seperti melihat TV, tetapi tidak ada suaranya. Dia tidak peduli, dia tidak tersentuh, bahkan dia juga tidak marah. Dia keluar dari sana, dia pikir ini orang gila. Yang diperhatikan hanyalah suaranya tinggi atau rendah. Orang-orang seperti ini dikatakan di dalam Alkitab adalah orang yang tertutup dengan ilah zaman ini. Ini yang disebut sebagai noetic effect of sin. Jadi ketika kita mengatakan, “Saya masuk di dalam dosa”, maka kita tahu semua masuk dalam dosa, kita setuju dengan doktrin itu, tetapi sebenarnya apa pengaruh dosa di dalam hidup kita? Maka efek yang pertama adalah efek pikiran. Pikiran kita dibutakan, nilai kita dikacaukan. Maka di situlah yang disebut sebagai noetic effect of sin. Apa yang berharga bagi Allah itu tidak berharga bagi kita, apa yang penting bagi Allah itu tidak penting bagi kita, apa yang diteriakkan oleh Allah itu sesuatu yang kita buat lelucon, itu tidak penting dalam hidupku, aku tidak peduli dengan Dia. Itu disebut sebagai noetic effect of sin. Dan kalau itu tidak dipedulikan, pasti ada yang dia pedulikan dalam hidup bukan? Apa yang dipedulikan dalam hidupnya? Yaitu hal-hal yang duniawi. Itulah sebabnya Alkitab mengatakan matanya sudah tertutup dengan ilah zaman ini. Ada di mana? Itu ada di dalam 2 Korintus 4, mari kita melihat 2 Korintus 4 dan saudara-saudara akan melihat bagaimana dosa itu masuk dan mempengaruhi seseorang. Saya akan bacakan 2 Korintus 4:1-2, “Oleh rahmat Allah kami telah menerima pelayanan ini. Karena itu kami tidak tawar hati. Namun kami menolak segala perbuatan tersembunyi yang memalukan, kami tidak berlaku licik dan tidak memalsukan firman Allah. Sebaliknya kami menyatakan kebenaran dan dengan demikian kami menyerahkan diri kami untuk dinilai menurut hati nurani semua orang di hadapan Allah.” Mari kita membaca 2 Korintus 4:3-4 bersama-sama, “Jika Injil yang kami beritakan masih tertutup juga, Injil itu tertutup untuk mereka yang akan binasa yaitu orang-orang yang tidak percaya, yang pikirannya telah dibutakan oleh ilah zaman ini, sehingga mereka tidak melihat cahaya Injil tentang kemuliaan Kristus yang adalah gambaran Allah.” Orang ini tidak bisa percaya kepada Paulus, kenapa? Padahal Paulus itu murni, Paulus itu jujur, Paulus itu tidak memiliki satu keinginan untuk membesarkan diri atau untuk mencari uang. Paulus dikatakan di sini, “Aku tidak berlaku licik. Aku tidak memutarbalikkan Frman Tuhan, aku bicara apa adanya.” Dan bahkan Paulus sendiri mau membayar semuanya itu dengan penderitaan. Apakah ada seorang salesman yang bisa berlaku seperti ini? Apakah ada seseorang yang bisa memiliki seluruh karakter ini ketika dia menyampaikan Firman? Kalau ada seorang hamba Tuhan seperti ini, dan orang di depannya masih tidak bisa menerima perkataannya, kepada siapa orang itu bisa menerima perkataan yang lain? Paulus tidak mengambil keuntungan apapun saja dari pendengarnya, tidak palsu, dia mau untuk menderita dan dia sudah menderita, tidak ada yang ditutupi, kenapa itu tidak menggerakkan orang di depannya? Kenapa orang di depannya itu melawan dia? Karena satu hal, Alkitab mengatakan “Maka karena ilah zaman ini menutupi engkau.” Dan orang-orang seperti ini, Paulus katakan, adalah orang binasa. Kenapa orang suka terhadap kesesatan? Karena tidak peduli. “Apa itu maksudnya, Pak, tidak peduli?” “Tidak peduli kan tidak apa-apa, Pak?” Nanti dulu, tidak peduli kalau sudah urusannya rohani itu adalah sesuatu noetic effect of sin. Saya ambil contoh, sama seperti kalau saudara-saudara tidak peduli pada orang lain. Kan tidak apa-apa, Pak, tidak peduli? Nanti dulu, kamu tidak peduli sama siapa? Kalau kamu tidak peduli sama istri, terus-menerus tidak peduli, berarti tidak ada cinta, ada sesuatu yang sudah hilang, maka ini adalah sesuatu hal yang penting sekali, yang sangat dalam sebenarnya, bukan sekedar hanya tidak peduli. Orang seperti ini memang tidak peduli akan kebenaran karena memang dia tidak peduli juga akan kesesatan. Orang seperti ini tidak tahu kebenaran memang karena dia itu tidak mau mencari kebenaran. Orang ini tandanya adalah dia tidak pernah mau sampai kapanpun, dipaksa dengan keadaan apapun, oleh orangtuanya pun dia tidak pernah akan sungguh-sungguh. Dia ke gereja adalah karena ikut teman, dekat sama rumahnya, yang gereja menyenangkan, dia tidak peduli sebenarnya dengan kebenaran, dia tidak memiliki gairah untuk mengejar kebenaran. Yang dipedulikan apa? Ilahnya, ilah dunia ini. Sekali lagi, mengapa orang bisa masuk ke dalam kesesatan? Adalah karena pikirannya dibutakan oleh ilah zaman ini.
Hal yang kedua, kenapa orang bisa tertarik atau masuk di dalam kesesatan? Karena hatinya itu sudah bengkok. Ajaran yang benar pada umumnya itu memang tidak sesuai dengan hati kita. Pada dasarnya pada sifat alamiah kita, ketika kita mendengarkan kebenaran, kita tersinggung, kita marah. Itu adalah sesuatu hal yang natural bagi kita, karena di dalam kita ada dosa. Perhatikan efek kedua dari dosa, dosa itu mengarahkan inklinasi hati, kecondongan hati kita kepada sesuatu yang bukan Allah yang sejati. Bukankah Yesus itu kasih? Bukankah Yesus itu benar? Bukankah Yesus itu kudus? Bukankah kalau kita mendengarkan yang benar, yang kudus, yang kasih, itu sesuatu keindahan? Tetapi result-nya (hasil akhirnya) kenapa Yesus dibunuh? Berarti Yudas melihat Yesus bukan sesuatu yang indah. Hanas, Kayafas dan semua orang-orang Israel pada waktu itu yang menyalibkan Yesus melihat Yesus bukan sesuatu yang mulia, yang indah, yang benar, yang kudus, yang kasih adanya. Tidak mungkin kalau sesuatu yang indah, yang bersungguh-sungguh saudara harapkan, saudara kemudian matikan. Dia benar. Kita tahu kalimat-kalimat-Nya benar, tetapi kalimat-kalimat itu menusuk hatiku, membuat aku tersinggung, membuat mukaku malu, membuat aku tidak tentram, lain dengan isi hatiku, maka aku harus mematikan Dia, aku harus mematikan pengkhotbah-pengkotbah yang sejati. Yesaya, engkau harus mati. Yeremia, engkau harus mati. Engkau semua pengkhotbah-pengkotbah yang sejati; Petrus, Yakobus, Yohanes, engkau harus mati. Engkau membuat aku marah, aku tersinggung. Kenapa bisa seperti itu? Bukankah sekali lagi ini adalah kebenaran? Bukankah ini sesuatu keindahan? Bahkan tidak ada dosa di dalam Kristus Yesus. Tidak ada sesuatu niat buruk dari Dia kepada kita. Kenapa kita itu kemudian menjadi hostile. Karena inklinasi hati kita, kecondongan hati kita itu adalah kepada dosa, karena hati kita ini licik, keinginan dosa kita yang kita taati, menjadikan kita tidak bisa menerima pengajaran-pengajaran yang jelas-jelas benar.
Sebaliknya, sesuatu yang jelas-jelas berdosa itu kita bisa terima dengan mentah-mentah karena hati kita berdosa dan kecondongan hati kita sudah meleset, kita kemudian menginginkan khotbah-khotbah yang cocok dengan hati kita. Kita tidak habis pikir misalnya saja dengan pengajaran yang mengatakan, “Berikan 100, maka Tuhan akan berikan 1.000. Berikan 1.000 maka Tuhan akan berikan 10.000.” Kita benar-benar tidak bisa mengerti dari mana jemaat itu (bisa jutaan orang) bisa menerima teologia sukses. Kita tidak bisa mengerti ketika hamba-hamba Tuhan yang sejati mengatakan bahwa doktrin itu atau pengajaran itu jelas-jelas salah, dan gereja seperti itu adalah gereja yang benar-benar mendukakan isi hati Tuhan, tetapi kemudian jemaat itu tidak bisa menerima kalimat itu. Kita benar-benar tidak bisa mengerti dari mana bisa jemaat menerima hal seperti itu. Saudara mungkin mengatakan, “Aku tidak tahu.” Jawabannya, “Tidak!” Tetapi ini adalah karena memang jemaat itu memiliki inti isi hatinya cari uang. Seorang mengatakan, “Pendetanya penipu, jemaatnya serakah, jadi klop.” Jadi langsung bisa terima pengajaran seperti itu. Kalau saudara itu bukan serakah, kalau hati saudara adalah Kristus dan bukan mamon, Yesus sudah mengatakan, “Engkau tidak bisa mengabdi kepada dua tuan, pilih Allah atau pilih mamon.” Kalau hati kita itu bukan kepada mamon, meskipun kita tidak mengerti teologia, tetapi kalau saudara dan saya adalah orang Kristen, ketika mendengarkan pengajaran seperti itu, maka saudara pasti akan mengenali ada sesuatu yang aneh dengan pengajaran itu, gampang sekali. Tetapi kenapa bisa diterima dan kemudian dibela? Adalah karena memang isi hati jemaat itu adalah tentang uang.
Seorang hamba Tuhan mengatakan demikian; ketika dia melihat pengajaran Benny Hinn dan juga beberapa pengajar palsu yang bicara mengenai Kristus tetapi selalu ada urusan dengan kesuksesan, dan suatu hari hamba Tuhan itu lihat TV dan seorang pengkhotbah teologia sukses itu mengatakan, “Kalau kamu kasih 10.000 kamu akan dikasih 100.000 dan seterusnya. Berikan, maka engkau akan diberikan kembali oleh Tuhan berkali-kali lipat.” Dan kemudian banyak dari jemaat yang nonton TV itu kemudian memberikan cek dan memberikan kepada hamba Tuhan tersebut. Tetapi seorang hamba Tuhan yang menonton TV itu, dia bukan menuliskan cek, dia menuliskan surat kepada hamba Tuhan pengkhotbah teologia sukses, “Jikalau engkau memang percaya bahwa kalau seseorang memberikan 1.000 pada Tuhan, diberikan 10.000 (berkali-kali lipat), jikalau engkau memang sungguh-sungguh percaya, kenapa engkau tidak memberikan kepadaku saja?” Jadi sekarang mimbar gereja Reformed akan mengatakan, “Berikan itu kepada kami maka gerejamu akan dikembalikan ribuan kali lipat.” Teologia sukses itu bisa dibereskan dengan sederhana. Kenapa orang itu tertarik dengan kesesatan, dan orang-orang yang tertarik itu begitu berbondong-bondong? Ada sesuatu yang aneh. Pada pagi hari ini saya tidak sedang berkhotbah berkenaan dengan teologia itu salahnya apa. Kita tidak sedang berbicara mengenai kesesatan itu cirinya apa (kita sudah pernah bicara tentang hal itu). Tetapi pada pagi hari ini, saya sedang membedah apa sebenarnya yang ada pada jiwa kita. Apa yang terjadi padamu dan padaku. Apa yang terjadi kepada orang-orang Kristen di dalam jiwanya. Apa yang Alkitab katakan, kenapa kita itu jalan baik-baik, kemudian kita menyimpang kepada kesesatan. Kenapa kita tidak suka berhadapan dengan kebenaran? Kenapa kita begitu tersinggung ketika seseorang menyatakan suatu kebenaran dari mimbar? Ada sesuatu yang sebenarnya terjadi dalam diri kita. Kita tahu teologia, jelas itu adalah dosa, tetapi dosa itu wujudnya seperti apa? Sekali lagi yang pertama adalah noetic effect of sin, pikiran yang dibutakan membuat kita tidak peduli, dan nilai itu dikacaukan sedemikian rupa. Dan yang kedua adalah inklinasi; kecondongan daripada hati. Di dalam Alkitab, pada akhir zaman makin banyak orang seperti ini, yaitu orang yang mencari pengajar-pengajar dan pengkhotbah-pengkotbah yang cocok dengan apa yang ingin didengarnya, cocok dengan apa isi hatinya.
Hal yang ketiga. Apa yang Alkitab katakan berkenaan dengan kenapa seseorang itu kemudian menyukai atau masuk ke dalam kesesatan? Karena sebenarnya kita lebih suka akan kebaikan lebih daripada kebenaran. Perhatikan dua hal ini sesuatu yang berbeda. Kebaikan, goodness dan yang kedua adalah kebenaran, truth. Kita suka mendengar orang yang baik sama kita. Kita mementingkan relasi lebih dari kebenaran. Saya tidak katakan relasi itu tidak penting, tetapi kalau saudara bicara berkenaan dengan kesesatan, ketika kita bicara mengenai hidup kita yang kemudian terserong, bagi banyak daripada orang Kristen, bahkan orang Kristen yang sejati pun, ini adalah karena saudara menempatkan kebaikan itu nomor satu dan kebenaran itu nomor dua. Saudara harus membalik prinsip ini. Itu tidak berarti bahwa kita itu musuhan saja, yang paling penting benar. Tetapi ada kalanya di dalam hidup kita, relasi-relasi itu kemudian kadang itu broke, kemudian kadang terputus, kadang terpecah. Tetapi ketika itu pun terjadi, saudara dan saya harus belajar menempatkan kebenaran itu menjadi nomor satu, dan nanti, ketika saudara menempatkan kebenaran itu menjadi nomor satu dan kita belajar untuk terus mengejar kebenaran, Tuhan di dalam kebenaran-Nya akan memulihkan relasi ini. Tetapi, kalau kita menempatkan relasi ini menjadi nomor satu, begitu pengkhotbah atau begitu hamba Tuhan, atau begitu seseorang yang menyatakan kebenaran itu, itu mempunyai relasi buruk dengan kita, kita langsung akan meninggalkan orang tersebut. Saya tanya kepada saudara-saudara, apakah Yeremia itu tidak ada dosa? Apakah Yesaya itu tidak ada kekurangan? Apakah Daud itu adalah orang yang perfect 100%? Bagaimana dengan Petrus, Paulus, Yohanes? Kalau saudara dan saya dekat dengan dia, kalau saudara dan saya mementingkan relasi dan yang paling penting itu tidak tersinggung, saya yakin sekali, pasti kita akan meninggalkan mereka. Saudara harus ingat satu hal ini, ini adalah sesuatu hal kebenaran tetapi umum sifatnya. Ini ada di dalam Alkitab, dan saudara-saudara lihat hamba-hamba Tuhan yang Tuhan pakai. Semua hamba Tuhan yang sejati, atau kalau saya tidak melebih-lebihkan; hampir semua, adalah orang yang luar biasa keras adanya, luar biasa sulit untuk didekati, dan sulit untuk mendekati orang. Baginya relasi bukan sesuatu yang nomor satu. Relasi itu penting, kita harus belajar, tetapi kebenaran itu nomor satu. Jadi meskipun hamba Tuhan itu menyakiti hatiku, meskipun dia tidak menghargai aku, tapi kalau dia adalah hamba Tuhan, dan itu kebenaran, maka aku harus takluk kepada kebenaran itu.
Saudara-saudara, suatu hari, ini sungguh-sungguh terjadi, ketika saya bicara, itu bukan untuk menjelekkan orang itu, tetapi ini adalah sesuatu kebenaran. Saya menghormati sungguh-sungguh, sebaliknya saya menghormati sungguh-sungguh. Pada waktu pertama kali saya ikut gerakan ini, terus kemudian, dengar khotbahnya Stephen Tong. Saya diajak oleh teman saya, dengar beliau. Saudara-saudara, makin dengar makin tersinggung. Makin dengar, makin hati itu tidak suka. Makin dengar itu, makin keluar dari ruang ibadah itu. Ada sejahtera? Tidak ada sejahtera. Pulang tempat kebaktian itu seperti orang ditonjokin, dan merasa orang ini sombongnya luar biasa. Kelihatannya di dunia itu, satu-satunya kebenaran itu Kristus, terus kemudian dia itu ke-2. Saya bencinya luar biasa, tetapi di dalam isi hati saya, “Benar, benar.” Suatu hari, PakTong mengatakan, “Siapa yang mendapatkan pertumbuhan rohani dari mimbar ini?” Oh banyak orang angkat tangan, lalu kemudian saya pelototin dia, dia pasti tidak tahu kalau saya pelototin, kalau dia tahu, dia pasti melotot kembali. Saya di belakang itu, “Lu mau ngomong apa lagi?” Tetapi di dalam hati saya, ada kalimat, “Orang ini benar, dia jujur, dia tidak menyenangkan manusia.” Terus seperti itu, dan makin lama makin saya menyadari; orang yang Tuhan satukan di dalam gerakan Reformed, selalu punya pengalaman seperti ini. Saudara-saudara tidak suka, tetapi saudara tidak bisa keluar, ini adalah kebenaran. Saudara tidak suka, tetapi saudara dan saya tidak bisa menghina, dan kemudian pergumulan itu terus terjadi bertahun-tahun. Lalu kemudian saya menentukan, saya mau untuk takluk kepada kebenaran. Dan setelah itu, maka kemudian saya menyadari seluruh hal yang disampaikan dari mimbar ini dengan begitu nyata. Dan makin saya kenal Pak Tong, ternyata tidak seperti yang saya pikirkan. Saudara-saudara, makin saya kenal Pendeta Stephen Tong, saya mulai menyadari; beliau adalah salah satu orang yang jujur, orang yang tulus, orang yang paling sabar yang pernah saya itu temui. Pasti ada kelemahan, tetapi kemudian saya menyadari, saya juga lebih banyak kelemahan, maka di situlah saya mulai mengasihi gerakan ini.
Kembali lagi, kita menginginkan kebaikan, dan bukan kebenaran. Mau memunculkan pertama adalah relasi, lebih daripada kebenaran. Pada waktu pertama-tama kami ada di sini, kurang lebih 2-3 tahun pertama, dan seperti biasa kami membuka kelas katekisasi. Dan ini bukan 1-2 kali, tetapi ada beberapa orang yang tanya sama saya, dan pertanyaannya itu adalah satu, “Saya mau ikut katekisasi, tetapi saya mau tanya, Pak Agus di sini sampai kapan?” Saya langsung kemudian mengatakan, “Bapak/Ibu/Saudara, saya harap kalau engkau masuk dalam gereja ini, karena engkau bisa melihat Allah itu besar di sini. Kalau Tuhan itu terlihat besar di gereja ini, kalau engkau bisa melihat dari kepentingan Reformed Evangelical Movement, mari kita berjuang bersama-sama.” Dan kemudian saya menambahkan, “Kalau engkau melihat saya, tinggal tunggu waktunya engkau akan kecewa, kalau engkau mementingkan relasi lebih daripada kebenaran, sebaik apa pun hamba Tuhan itu, engkau akan kecewa.” Ayo jujur, yang sudah nikah, sekarang sudah kecewa bukan? Engkau lihat, “Oh ini indah,” ini baru pertama-tama, “Yang lain tidak indah. Seluruh dunia, ini yang paling indah.” Saudara nikah, makin ketemu, makin relasi, makin mengecewakan. Itulah sebabnya di dalam pernikahan, saudara memerlukan melihat Allah lebih daripada pasangan. Sama pasangan saja bisa kecewa, apalagi sama hamba Tuhanmu. Saya mengatakan ini, bukan berarti saya punya maksud licik untuk memutarbalikkan sesuatu, atau saudara tidak boleh tersinggung sama saya, tidak. Tetapi di dalam hati kita secara rohani, saudara pastikan nomor satu adalah kebenaran, nomor dua baru relasi, sehingga ketika engkau memiliki orang-orang di sekitar gerejamu mengecewakan engkau, engkau tidak langsung keluar, engkau tahu yang paling pertama itu adalah kebenaran. Sama ketika engkau itu kecewa sama suami atau isterimu, engkau tidak langsung cerai bukan? Meskipun engkau tidak suka, engkau tetap di dalam pernikahan itu, karena engkau memegang kebenaran, engkau tidak boleh bercerai. Kenapa orang itu kemudian cerai dan menikah dengan orang lain dan dosa? Karena baginya yang paling utama adalah perasaannya, baginya paling pertama adalah mukanya, baginya yang paling utama adalah egoisnya, baginya yang paling utama adalah relasinya. “Kita punya relasi sudah tidak work ini,” maka kemudian dia keluar dari pernikahan itu, dan nikah dengan orang lain. Saudara harus menetapkan kebenaran itu nomor satu. Tetapi celakanya, begitu banyak orang Kristen yang mengaku lahir baru itu tidak memiliki prinsip ini. Kita menjadi tanda tanya besar, apakah orang tersebut itu sudah lahir baru? Banyak orang Kristen tidak peduli kebenaran, dan mencari Allah hanya untuk kebaikan. Sekali lagi saudara-saudara, Yesus sendiri mengatakan, “Jikalau engkau tetap dalam Firman-Ku, engkau adalah murid-murid-Ku, dan engkau akan menemukan kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan engkau.” Anak Allah diberikan oleh Allah anugerah khusus, yaitu kebenaran. Umat manusia, diberikan anugerah umum, yaitu kebaikan.
Suatu hari (sungguh-sungguh terjadi), pada waktu itu saya humas SPIK yang diselenggarakan oleh PakTong, dan temanya adalah ‘Allah Tritunggal.’ Saya mengambil tiket untuk dijual, dan kalau tidak salah harganya mungkin Rp. 150.000 (saya lupa karena itu sudah beberapa puluh tahun yang lalu ketika saya masih mahasiswa). Kemudian saya tawarkan kepada orang, “Ikut yuk, ada seminar yang bagus selama dua atau tiga hari.” Orang itu bertanya, “Tentang apa?” Saya menjawab, “Tentang Allah Tritunggal.” Orang itu lanjut bertanya, “Berapa biayanya?” Lalu saya menjawab, “Rp.150.000.” Kemudian orang tersebut mengatakan, “Tidak, tidak mau, kemahalan.” Saya susah sekali untuk menjual tiket seminar Allah Tritunggal. Dan saya ingat sekali, kurang lebih satu bulan setelah itu, seorang pengkhotbah kharismatik dari Amerika datang dan mengadakan seminar kesembuhan Ilahi. Dia menyewa ISTORA Senayan. Pada waktu itu ISTORA Senayan (lapangan bulu tangkis) itu memiliki kapasitas memuat 10.000 orang. Sementara, tempat yang kami pakai hanya memuat 3.000 orang. Jadi tempat seminar kesembuhan Ilahi itu memuat 10.000 orang, dan harga tiket bangku 10 baris di depan adalah Rp. 10.000.000. Saudara tahu, di dalam satu minggu, tiket habis terjual semuanya. Dan harga tiket di belakang 10 baris paling depan itu adalah Rp. 1.000.000. Kemudian tempat yang di atas (di tribun) itu gratis. Ketika saya menawarkan kepada orang, “Pak, mau beli? Ini tiket Rp.150.000 saja.” “Tentang apa Pak?” “Allah Tritunggal.” “Kemahalan.” Tetapi di sisi yang lain, ketika orang-orang ditawarkan, “Pak, mau beli tiket?” “Berapa harganya?” “Rp. 10.000.000” “Tentang apa?” “Kesembuhan Ilahi.” “Saya beli tiga.” “Pak Agus, Rp. 150.000? Allah Tritunggal? Saya kasih tahu ya, mau empat tunggal, lima tunggal juga terserah. Saya tidak peduli, Yesus 100% Allah, 100% manusia, terserah. Saya tidak ada pedulinya pada hal itu. Engkau bilang kebenaran, aku tidak peduli. Saya hanya peduli satu, saya punya masalah ini, lalu kemudian bagaimana Tuhan itu menyembuhkan.” Kita itu menyukai goodness of God, not the truth of God. Perhatikan baik-baik, Allah di dalam Alkitab ingin dikenal sebagai Allah Tritunggal, ingin didekati sebagai Allah Tritunggal, ingin disembah sebagai Allah Tritunggal, dan di luar Allah Tritunggal, tidak ada keselamatan. Sekali lagi, “Saya tidak peduli Engkau itu siapa, tetapi saya peduli akan apa yang Engkau berikan kepadaku.” Sama halnya, saudara tidak akan pernah lepas dari hamba Tuhan yang menolong, yang saudara lihat itu baik, yang pernah dekat sama-sama, dan dia mau bicara apapun saja di gerejanya, saudara tetap akan di situ. Saudara lebih mementingkan relasi. Sungkan lebih penting daripada kebenaran. Berapa banyak orang yang tidak bertumbuh di dalam satu gereja yang jelas mimbarnya tidak menyatakan kebenaran, tetapi karena baik, sudah lama di situ, maka dia tidak berani pindah? Berapa banyak orang yang sakit hati dengan hamba-hamba Tuhan di dalam gereja yang benar, kemudian meninggalkan gereja itu dan mencari gereja lain, akhirnya ketemu sesuatu hal yang tidak beres. Saudara dan saya harus dewasa, jangan jadi anak kecil. Saudara perhatikan baik-baik kalimat di bawah ini, “Setan mudah mengalihkan kita dari kebenaran dengan kebaikan.”
Hal yang keempat (terkahir), kenapa seseorang mudah tertarik dengan kesesatan? Karena tidak bertumbuh. Tuhan mau kita punya mata dan telinga yang jeli dan mahir untuk membedakan. Tetapi ketika saya bicara seperti ini, “Siapa yang jeli, siapa yang tajam, siapa yang jitu?” Sudah pasti itu adalah orang dewasa. Seseorang anak kecil, tidak bisa melihat, ini penjahat, ini penipu, atau ini orang yang genuine. Tetapi orang yang semakin dewasa, langsung dapat berkata, “Jangan dekat-dekat sama orang itu”. Saudara bisa melihat sesuatu di baliknya. Lalu anakmu bertanya, “Kenapa Papa kok seperti itu?” Engkau menjawab, “Papa bisa lihat itu orang tidak benar.” Anakmu lalu berkata, “Tidak kok, semuanya benar, bajunya juga putih seperti Papa, sepatunya juga kurang lebih sama, mengapa Papa bilang orang itu tidak benar?” Anak itu kalau masih kecil, sulit untuk membedakan. Tetapi, orang dewasa bisa membedakan. Lebih lagi, orang dewasa rohani, Alkitab dengan jelas menyatakan dia sanggup dengan jeli membedakan.
Hati saya tergerak dengan dua peristiwa ini. Pertama adalah Musa. Musa turun dari gunung setelah dia bertemu dengan Tuhan. Dia bersama dengan Yosua. Dua orang; satu Musa, satu Yosua. Saat dia turun, tiba-tiba di tengah-tengah perjalanan, mereka mendengarkan suara riuh rendah di tempat orang-orang Israel berkemah. Jauh sekali suaranya. Musa sudah mendengar, kemudian Musa tanya kepada Yosua: “Suara apa itu?” Yosua itu mendengarkan dan mengatakan: “Suara deru perang.” Musa kemudian mendengarkan dan dia mengatakan, “Tidak, ini suara perayaan.” Dan benar, karena pada waktu itu Harun sedang membuat lembu emas, dan semua orang Israel sedang menari, menyanyi, tertawa bersama-sama untuk sebuah perayaan. Saudara bisa melihat perbedaan nyata daripada seorang yang tajam sekali di dalam telinganya Musa, bahkan Yosua tidak bisa membedakan. Saudara melihat, seorang yang makin mature itu, makin bisa membedakan. Peristiwa yang kedua, adalah Elia. Ketika dia sedang lari dari Izebel dan bersembunyi di gunung itu, tiba-tiba ada api itu lewat, tetapi tidak ada Allah di situ. Ada gempa, tetapi tidak ada Allah. Ada tiupan angin yang besar, tetapi tidak ada Allah. Tetapi begitu ada angin yang bertiup sepoi-sepoi, langsung Elia tahu; ada Allah, Allah itu hadir. Dia langsung menutupi mukanya. Oh saya sangat-sangat tersentuh, siapa yang bisa tahu Allah itu sedang bekerja di tengah-tengah kita? Ada orang ketika melihat gereja membangun, “Oh ada Allah di situ.” “Oh, ada KKR besar, Allah bekerja di situ.” Belum tentu. Hanya orang-orang tertentu yang makin bertumbuh dewasa, dia tahu membedakan. Padahal di dalam Alkitab, biasa Allah itu bekerja dengan gempa, dengan api, dengan kereta yang berapi, dengan sesuatu yang besar, tetapi Elia itu tahu tidak ada Allah, semuanya kosong; ini orang mahir rohani.
Saudara mendengarkan kalimat-kalimat ini dari Alkitab, bukankah hati kita itu seharusnya didorong, “Tuhan berikan aku pertumbuhan rohani.” Tetapi ini masalahnya; setan mengerti, kalau kita bertumbuh rohani, saudara dan saya akan makin peka akan pekerjaan-Nya. Maka yang dia lakukan adalah membuat jemaat Kristen nyaman di satu gereja yang mengkhotbahkan apa pun saja, yang membuat relasi saudara itu bahkan baik, tetapi bertahun-tahun saudara di gereja itu tidak bertumbuh. Karena semakin kita tidak bertumbuh, semakin kita mudah disesatkan. Sebaliknya, dalam Alkitab Tuhan menginginkan kita semua bertumbuh. Tuhan memberikan gereja-Nya dan hamba-hamba Tuhan, supaya saudara dan saya bertumbuh menuju kepada Kristus yang adalah Kepala.
Bagian terakhir, mari kita melihat Efesus 4, dan saudara akan melihat pentingnya gereja, pentingnya pertumbuhan. Efesus 4:11-13, “Dialah yang memberikan baik rasul-rasul maupun nabi-nabi, baik pemberita-pemberita Injil maupun gembala-gembala dan pengajar-pengajar, untuk memperlengkapi orang-orang kudus bagi pekerjaan pelayanan, bagi pembangunan tubuh Kristus, sampai kita semua telah mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Anak Allah, kedewasaan penuh, dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus,” Kedewasaan penuh, dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus. Untuk apa hamba-hamba Tuhan diberikan? Untuk memperlengkapi saudara dan saya, membuat kita menjadi dewasa, untuk kita bertumbuh. Dan apa yang dilakukan oleh hamba-hamba Tuhan yang tidak bertanggung jawab? Membuat jemaatnya tidak bertumbuh. Semakin tidak bertumbuh, semakin saudara mudah untuk disesatkan.
Sekali lagi, satu hal yang membuat saya itu menangis; terlalu banyak gereja, yang jemaatnya bertahun-tahun di sana, tidak bertumbuh. Saya tidak katakan bahwa di dalam gereja kita saja jemaatnya itu bertumbuh, tetapi yang mau saya katakan adalah kalau itu gereja sejati, pasti kita bertumbuh. Alkitab dengan jelas menyatakan; Allah memberikan rasul, nabi, penginjil, pengajar, gembala, untuk memperlengkapi saudara dan saya untuk bertumbuh dewasa. Efesus 4: 14-15, “sehingga kita bukan lagi anak-anak, yang diombang-ambingkan oleh berbagai angin pengajaran, oleh permainan palsu manusia dalam kelicikan mereka yang menyesatkan. Sebaliknya, dengan teguh berpegang kepada kebenaran di dalam kasih, kita bertumbuh di dalam segala hal ke arah Dia, Kristus, yang adalah Kepala.” Tadi pada waktu persiapan di atas, maka Samantha tanya mengenai hal ini, “Apa itu maksudnya itu bertumbuh ke arah Dia, Kristus yang adalah Kepala?” Saya katakan kepada dia, “Saya perlu beberapa sesi untuk menjelaskan, tetapi satu hal ini; tidak mungkin engkau menggenapi ayat ini, tidak mungkin engkau mengejar Kristus yang adalah Kepala, yang itu adalah arah pertumbuhan, jikalau engkau dan saya tidak diperlihatkan kemuliaan Kristus, keindahan-Nya, dan kesucian-Nya.” Dan banyak sekali mimbar, bertahun-tahun kita masuk di dalam gereja tersebut, kita tidak dibukakan berkenaan dengan kemuliaan Kristus. Kita tidak dibukakan kemuliaan salib-Nya. Hati kita tidak pernah dihancurkan oleh Kristus dengan kemuliaan, keindahan, dan kesucian-Nya. Dan apa yang dikhotbahkan bertahun-tahun itu? Ya, nama Kristus ada, tetapi saudara-saudara tidak bisa masuk ke dalam inti iman, tidak ada pertumbuhan rohani. Ya, mungkin pertumbuhan pelayanan, tetapi bukan pertumbuhan rohani sampai kepada Kristus yang adalah Kepalanya. Kenapa seseorang itu disesatkan? Karena dibuat untuk tidak bertumbuh. Kiranya Tuhan boleh menghindarkan kita dari seluruhnya. Kiranya kasihan Tuhan menyertai kita.
GRII Sydney
GRII didirikan di atas dasar Pengakuan Iman Reformed Injili dengan tujuan menegakkan satu gereja yang berbasiskan teologi Reformed, dengan mimbar yang menyampaikan khotbah ekspositoris, read more