Matius 7:21-23
Kita meneruskan berkenaan dengan Khotbah di Bukit. Khotbah di Bukit ditulis di dalam Injil Matius pasal 5-7. Khotbah di Bukit berbicara tentang apa? Khotbah di Bukit berbicara berkenaan dengan pengajaran Yesus kepada murid-murid-Nya tentang Kerajaan Allah. Apa itu Kerajaan Allah? Satu kerajaan bukankah ada tiga hal ini; yang pertama adalah rajanya, yang kedua adalah rakyatnya dan yang ketiga adalah wilayahnya. Maka ketika bicara mengenai Kerajaan Allah, kita berbicara berkenaan dengan poin pertama, Rajanya yaitu Yesus Kristus sendiri atau tepatnya adalah Allah yang menjadi Raja, di dalam eksekusinya adalah oleh Yesus Kristus. Yang kedua adalah rakyatnya. Siapakah rakyatnya? Ini adalah rakyat yang dibentuk oleh pelayanan dari Yesus Kristus dan rakyat yang dibentuk oleh pelayanan sesudah Yesus Kristus yaitu oleh Roh Kudus yaitu gereja. Jadi gereja yang sejati adalah gereja yang berada di dalam pemerintahan Allah di dalam Yesus Kristus. Jadi gereja itu kalau sejati, maka berisi orang-orang yang menginginkan Allah memerintah dia. Gereja kalau sejati, merupakan kumpulan umat yang menyerukan dan berusaha untuk pemerintahan-Nya terjadi, kehendak-Nya jadi. Yang pertama ada Rajanya, yang kedua ada rakyatnya dan yang ketiga adalah ada wilayahnya. Tetapi wilayah kerajaan Kristus Yesus saat ini belum terwujud. Kapan itu terwujud? Yaitu pada waktu Yesus datang untuk yang ke-2 kali. Di mana seluruh bumi ini tidak ada satu inci pun yang tidak dimiliki dan tidak dikuasai oleh Kristus. Karena seluruh muka bumi ini dan seluruh makhluk akan ditaklukkan oleh Kristus Yesus. Tetapi wilayah ini belum terjadi saat ini. Saudara masih melihat begitu banyak rumah, tempat yang sama sekali Kristus tidak bertahta. Saudara akan lihat manusia yang melakukan berbagai macam kekotoran kekejian kebusukan di mana Kristus belum memerintah. Bumi ini masih merupakan campuran pemerintahan yang evil dan pemerintahan dengan kuasa Kristus yang mau memerintah seluruh muka bumi, sedang berjalan. Jadi sekarang apa definisi Kerajaan Allah? Kerajaan Allah bukan saat ini, bukan bicara mengenai wilayah, tetapi adalah bicara berkenaan dengan keadaan. Keadaan di mana kehendak Allah terjadi di muka bumi ini.
Saya ambil contoh, jikalau misalnya suami dan istri bertengkar dan terjadi percekcokan yang besar sekali, tetapi suami dan istri itu kemudian sadar mereka sudah berdosa bersama dan mereka tidak hidup benar di hadapan Tuhan. Mereka mau kembali kepada Alkitab dan mereka mau takluk kepada Kristus, belajar mengasihi satu dengan yang lain. Suami istri yang tadinya bertengkar kemudian berlutut bersama-sama berdoa kepada Kristus minta pengampunan, minta kuasa untuk mengampuni satu dengan yang lain dan mengasihi satu dengan yang lain, maka keadaan itu seturut dengan apa yang menjadi kehendak Kristus. Keadaan itu disebut sebagai kehendak Tuhan jadi. Itu artinya pemerintahan Allah dinyatakan. Itu artinya suami mau takluk kembali kepada Kristus, istri juga mau takluk kepada Kristus dan Kristus mengatakan “Engkau tidak lagi boleh bertengkar, engkau harus saling mengampuni saling mengasihi.” Suami kemudian mengatakan, “Ya, aku rela. Meskipun aku tersinggung.” Dan istri mengatakan, “Ya, aku rela. Meskipun aku sakit hati, aku mengampuni suamiku.” Maka di saat itu kehendak Allah jadi. Itu artinya pemerintahan Allah datang, Kerajaan Allah dinyatakan dalam keadaan itu. Setiap kali kita taat kepada Allah maka Kerajaan Allah dinyatakan dalam hidup kita dan suatu hari nanti keadaan itu akan menggapai seluruh muka bumi. Siapa yang akan melakukannya? Di satu tempat, kehendak Allah jadi, kemudian satu tempat lain, kehendak Allah jadi, satu tempat lagi, kehendak Allah jadi. Siapa yang melakukannya? Yang melakukannya adalah orang Kristen yang lahir baru, karena orang-orang yang belum lahir baru tidak mungkin melakukannya. Orang-orang yang tidak di dalam Kristus tidak mungkin ada Roh Kudus dan tidak mungkin melakukannya. Hanya orang-orang Kristen, saudara dan saya, jikalau kita sungguh-sungguh lahir baru kita bisa berdoa persis seperti Yesus Kristus berdoa. Bukan kehendakku, tetapi kehendak-Mu yang jadi. Bukan kehendakku Bapa, tetapi kehendak-Mu yang jadi. Aku berkehendak untuk marah terus kepada istriku, aku berkehendak untuk dendam kepada orang itu, dia sudah mencuri uangku, dia sudah menipu aku, aku tidak bisa menerima, kehendakku adalah aku mau membalas dendam kepada orang itu, kehendakku adalah aku akan mengangkat kemarahanku, kehendakku adalah aku akan membeberkan keseluruhan kejahatannya tetapi Tuhan, Engkau mengatakan, “Barangsiapa mengampuni, dia akan diampuni.” Aku adalah orang yang sudah Engkau ampuni, Engkau yang mengatakan bahwa aku harus mengasihi dia, aku mau Bapa, bukan kehendakku, tetapi kehendak-Mu, aku mau, aku rela. Aku mau untuk menjadi pedagang, aku mau untuk menjadi orang sukses, aku mau untuk mendapatkan banyak, tetapi Engkau memanggil aku menjadi hamba-Mu, aku tahu bahwa hamba Tuhan harus meletakkan seluruhnya di depan dan tidak pernah boleh menengok ke belakang. Aku tahu tuntutan-Mu bahwa aku tidak boleh membajak kemudian menoleh kembali ke belakang. Aku tahu bahwa di dalam firman-Mu, setiap hamba-Mu menyerahkan seluruh hak di hadapan-Mu. Itu adalah seperti tulisan pada sebuah kertas yang putih kosong lalu aku berikan tanda tangan, Engkaulah yang menulis seluruh riwayat hidupku. Aku tahu sebagai hamba Tuhan bahwa aku tidak memiliki hak lagi ke depan. Apakah Engkau mengangkat aku ataukah Engkau membuat aku tidak terkenal biar kehendak-Mu. Itu sulit dalam hidupku, aku menginginkan seluruh rencanaku jadi, aku ingin mendapatkan hidup yang normal seperti orang-orang lain tetapi aku tahu kehendak-Mu dan aku rela, bukan kehendakku, tetapi kehendak-Mu. Setiap kali keadaan seperti itu, itulah yang disebut sebagai kehendak Allah jadi, Kerajaan Allah datang. Itulah Kerajaan Allah. Kerajaan Allah pada saat ini belum ada wilayah yang terlihat. Tetapi Kerajaan Allah sekarang ada karena ada keadaan anak-anak Tuhan, engkau dan saya yang mau rela kepada kehendak-Nya dan bukan kehendak kita.
Di dalam Alkitab, kitab Injil jelas dinyatakan bahwa Kristus Yesus hadir di tengah-tengah dunia untuk mendirikan Kerajaan Allah di muka bumi. Dia mengumpulkan umat Kerajaan-Nya menjadi satu di dalam gereja. Gereja adalah kumpulan umat Allah yang menyerukan dan berusaha untuk pemerintahan Allah terjadi, kehendak-Nya jadi. Tetapi di perikop-perikop terakhir Matius pasal 7, Yesus memperingatkan seluruh murid-Nya untuk berhati-hati. Di tengah-tengah Kerajaan Allah dan umat Allah yang dibentuknya, maka ada usaha musuh yang membuat satu kepalsuan terjadi di tengah-tengah kita. Di tengah-tengah Kerajaan Allah yang sedang ditegakkan ada perlawanan yang begitu sengit terjadi. Itulah sebabnya Yesus mengatakan, “Biarlah kita boleh berhati-hati.” Berwaspada. Waspada artinya adalah sesuatu hal yang serius, yang kita harus alert, hal yang akan menyesatkan kita, yang kita sendiri jarang bisa lihat.
Kewaspadaan yang Tuhan nyatakan, Yesus memberikan empat gambaran kontras berkenaan dengan kita harus hati-hati. Gambaran kontras yang pertama adalah engkau harus waspada karena ada jalan yang luas tapi ujungnya maut. Engkau memilih jalan yang sempit karena jalan yang sempit ujungnya kehidupan. Gambaran kontras yang ke-2 adalah engkau harus hati-hati karena di sekitarmu ada domba yang asli, ada serigala yang berbulu domba. Ada serigala yang berpura-pura jadi domba, dia akan menyesatkan engkau dan dia buas sekali. Dia akan memakan engkau sampai habis. Dari buahnya engkau akan bisa melihat siapa itu siapa. Ini adalah bicara berkenaan dengan nabi palsu. Gambaran yang ke-3 adalah gambaran yang kita baca barusan, engkau harus hati-hati karena pada akhir dari semuanya, ada orang yang berpikir bahwa dia diselamatkan, tetapi dia tidak diselamatkan. Ada pengikut-pengikut yang asli dan ada pengikut-pengikut yang palsu dan gambaran yang ke-4 adalah engkau harus lihat ada sesuatu yang di bawah permukaan. Di atasnya, seluruhnya sama, tetapi ada rumah yang dibangun di atas batu dan rumah yang dibangun di atas pasir. Semuanya baru tahu pada akhirnya, ketika penghakiman terakhir.
Sekarang kita akan masuk di dalam gambaran yang ke-3. Gambaran ini menyatakan pada hari terakhir ada orang yang mengatakan, “Tuhan, Tuhan kepada Yesus Kristus bahkan dia mengatakan bahwa kami bernubuat demi nama-Mu, kami mengusir setan demi nama-Mu, kami mengadakan mujizat demi nama-Mu.” Tetapi pada waktu itu Aku akan katakan dengan sesungguhnya, “Aku tidak kenal engkau.” Ini adalah salah satu perikop yang sangat membingungkan bagi semua pengikut, kita semua yang mengaku Yesus adalah Tuhan. Kalau saudara tadi memperhatikan advertising untuk NRETCPdt. Stephen Tong, kalimat terakhir dia teriak, “Tanpa Roh Kudus tidak seorang pun bisa menyebut Yesus Tuhan.” Tetapi kalau saudara lihat di dalam perikop ini, kalimat Pdt. Stephen Tong adalah benar bukan salah. Itu ada di dalam Alkitab tapi perhatikan dalam perikop ini, orang ini menyebut Yesus Tuhan. Kenapa dia tidak diselamatkan? Ini adalah satu perikop yang membingungkan dan ini bersangkut paut dengan hal fundamental dalam hidup kita yaitu kepastian keselamatan.
Pertanyaan selanjutnya adalah apa sesungguhnya tanda sejati dari keselamatan yang diberikan oleh Kristus Yesus atau dengan kata lain apa tanda sejati dari iman yang menyelamatkan. Kita harus hati-hati ketika kita mendengarkan kalimat-kalimat Matius. Saya yakin hampir sebagian besar kita pasti akan berpikir bahwa kita adalah orang diselamatkan. Tetapi Calvin mengatakan kepada kita, “Biarlah kita selalu mau rela untuk mengadakan self-examination.” Terang di dalam pemeriksaan diri, meski menyakitkan harus dilakukan. Kita jangan meng-ignore hal ini. Apakah sungguh-sungguh saudara dan saya adalah orang yang sudah diselamatkan? Kalau melihat perikop yang baru kita baca, hanya 3 ayat saja. Ini berbeda dengan nabi palsu yang beberapa minggu lalu kita sudah bahas. Karena nabi palsu adalah sengaja menipu, tetapi orang-orang di dalam 3 ayat ini seakan-akan lebih terkejut dari siapapun saja ketika mereka mendapati bahwa mereka ditolak di dalam kerajaan surga. Mereka mengira bahwa mereka adalah orang-orang yang berhasil, orang-orang yang memiliki hak masuk dalam kerajaan Allah tetapi tidak. Mereka sama sekali tidak menyadari di mana mereka telah gagal. Di dalam gambaran ke-3 ini, maka kita bertemu dengan orang-orang yang menyatakan kesetiaan mereka kepada Yesus sebagai Tuhan. Dan mereka memiliki pencapaian di dalam bidang-bidang rohani yang sangat mengesankan dan semuanya dilakukan secara eksplisit di dalam nama Kristus.
Mari kita melihat sekali lagi Matius 7:21-23 di situ dikatakan, “Tuhan, Tuhan bukankah kami bernubuat demi nama-Mu mengusir setan demi nama-Mu mengadakan banyak mujizat demi nama-mu juga?” Perhatikan bahwa orang tersebut adalah Kristen. Bukan saja Kristen, mereka memanggil Yesus adalah Tuhan. Matius mau memproklamirkan bahwa Yesus adalah Kristus, Yesus adalah Tuhan kepada orang Yahudi diaspora tetapi uniknya sebutan Yesus adalah Tuhan pertama kali itu ada pada ayat ini. Sebelumnya tidak pernah. Jadi orang yang Matius tonjolkan ini menyatakan bahwa Yesus adalah Tuhan. Dan Dia menyebut Yesus Tuhan bukan satu kali, tetapi 2 kali. Ini bukan sesuatu yang main-main. Satu kali adalah sebutan seperti nama. Satu kali adalah sebutan yang sifatnya bisa hanya sekilas, kalau misalnya saya memanggil di tengah jalan, “Wijaya.” Lalu Wijaya bisa jawab atau tidak karena cuma sekali panggilannya, sekilas, tetapi kalau saya panggil, saya berdiri, saya diam dan kemudian saya mengatakan “Wijaya, Wijaya.” Maka itu adalah suatu keseriusan, satu kesadaran, bukan sopan santun. Ketika Allah memanggil, Dia tidak memanggil Musa, tidak. Dia memanggil “Musa, Musa”, “Samuel, Samuel.” Setiap di dalam Alkitab panggilan 2 kali, itu bicara mengenai seluruh hati orang tersebut memanggil bukan panggilan sopan santun, itu bicara mengenai kesungguhan. Jadi orang ini adalah orang yang dengan kesungguhan hatinya menyebut Yesus Tuhan. Bukan itu saja, mereka adalah orang yang melayani, mereka melakukan kegiatan-kegiatan yang sifatnya adalah karismatik. Saya tidak katakan karismatik itu gereja karismatik. Karismatik adalah suatu aktivitas yang berdasarkan karunia Roh Kudus. Di sini dikatakan bahwa mereka bernubuat demi nama-Mu, mengusir setan demi nama-Mu, mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu. Kalau bicara mengenai nubuatan, mungkin saja saudara bakal berpikir nubuatan gampang dipalsukan, tetapi ketika bicara berkenaan dengan mengusir setan dan setan itu kemudian keluar, itu urusan lain. Ketika bicara berkenaan dengan mujizat, mujizat itu boleh terjadi di dalam nama Kristus, itu urusan lain. Saya tanya sekarang kalau saudara-saudara sedang sakit, lalu pergi ke dokter. Apapun saja tidak sembuh, kemudian saya datang kepada saudara dan saya menumpangkan tangan dan berkata, “Dalam nama Yesus, penyakitmu itu sekarang pergi.” Di dalam beberapa menit kemudian saudara sembuh. Sekarang saya tanya, apakah saudara akan meragukan bahwa saya hamba Tuhan yang sejati? Hampir tidak mungkin! Jikalau ada orang lain mengatakan, “Oh, Pak Agus itu bukan hamba Tuhan sejati.” Saya yakin, orang yang saya sembuhkan itu akan marah kepada orang yang menghina saya dan akan berkata, “Saya punya pengalaman Pak Agus adalah hamba Tuhan sejati. Di dalam nama Yesus Kristus itu kemudian menyembuhkan saya, dia adalah pasti hamba Tuhan sejati.” Ini sulit untuk dipalsukan. Tetapi ini adalah sesuatu yang Yesus sendiri katakana, “Aku tidak kenal engkau.” Bukan itu saja, bukan saja dia orang Kristen, bukan saja dia memanggil Yesus, Yesus adalah Tuhan, 2 kali. Tetapi dia juga melayani dan dia melayani demi nama Kristus, “Bukankah kami mengadakan mujizat demi nama-Mu juga?” Di mana salahnya? Dan kalau orang-orang seperti ini adalah orang yang tidak masuk dalam Kerajaan Allah, saya tanya berdasarkan apa saudara dan saya bisa yakin masuk kerajaan Allah. Kesetiaannya kepada Yesus yang adalah Tuhan dan aktivitas antusiasnya dari pelayanan yang berdasarkan karunia Roh Kudus atas nama Tuhan Yesus ternyata tidak merupakan tanda iman yang sejati. Sekarang saya akan jelaskan. Sesungguhnya ada 4 hal yang paling sering menipu hidup kita. Kita berpikir kalau salah satu ini kita dapatkan maka kita pasti memiliki iman yang benar, iman yang sejati.
Perhatikan, 4 hal yang paling sering menipu kita, yaitu yang pertama adalah pelayanan. Orang berpikir kalau aku adalah hamba Tuhan, pasti aku masuk Kerajaan Allah. Kalau aku penatua, aku pasti masuk Kerajaan Allah. Kalau aku adalah interpreter aku pasti masuk Kerajaan Allah. Interpreter-nya di tempatnya Reformed loh bukan di gereja-gereja abal-abal. Aku benar-benar teologianya benar kok. Pelayanan, choir, apapun saja, itu dia berpikir menggabungkan antara aktivitas pelayanan dengan suatu pertanyaan eksistensial mengenai keselamatan, dia pikir: “Aku melayani, aku pasti adalah pengikut Kristus yang sejati.” Itu di dalam istilah psychology namanya adalah sublimasi. Apa itu sublimasi? Sublimasi itu adalah suatu yang meloncat. Saudara tahu bukan kalau dari padat menjadi cair baru menjadi gas? Tetapi ini adalah dari solid langsung menuju ke gas. Ada sesuatu loncatan. Loncatannya ada di mana? Sekarang saya akan jelaskan. Jadi kita sedang berpikir; apakah aku anak Tuhan yang sejati? Apakah sungguh-sungguh aku ini orang diselamatkan? Dan pertanyaan eksistensial ini setelah tanya satu bulan, 2 bulan tetapi tidak ada jawaban, kemudian kita melupakannya. Terus hidup berlangsung seperti apa adanya. Lalu seseorang mengatakan, “Oh, apakah engkau bisa menjadi interpreter? Engkau bisa bahasa Inggris dan bahasa Indonesia.” Lalu mengatakan, “Oh, yah aku mau.” Kemudian dia melayani. Satu bulan, 2 bulan, satu tahun, 2 tahun. Dan malah ditanya lagi, “Apakah engkau bisa menjadi pengurus gereja?” Lalu dia pikir, “Oh iyah, saya mau.” Karena dia ingin untuk berguna di gereja. Kemudian dia menjadi pengurus gereja dan seterusnya, dan seterusnya. Suatu hari, mungkin 5-7 tahun kemudian, tiba-tiba ada sesuatu kegundahan dalam hatinya lagi dan dia berpikir; Apakah aku ini adalah anak Tuhan yang sejati? Kegundahan itu mungkin bisa muncul karena dia jatuh dalam dosa. Dan dia berpikir; Apakah aku anak Tuhan yang sejati? Tetapi bukannya bertanya kepada Allah secara eksistensial melalui Firman-Nya tetapi dia itu kemudian menjawab; Oh, aku pasti anak Tuhan yang sejati karena aku sekarang sudah melayani. Itu yang disebut sebagai sublimasi. Itu sesuatu yang loncat. Ada pertanyaan yang eksistensial tetapi jawabannya adalah kegiatan pelayanan. Terlalu banyak orang Kristen yang tidak menguji dirinya berpikir bahwa kalau aku melayani apalagi di gereja yang benar, maka pasti aku anak Tuhan yang sejati. Jawabannya: Tidak! Tentu kalau kita anak Tuhan yang sejati, pasti Roh Kudus mendorong kita untuk melayani. Tetapi saudara tidak bisa bacanya terbalik “Kalau aku melayani pasti aku anak Tuhan yang sejati.” Beberapa tahun yang lalu, saya mendapatkan satu kesaksian; Seorang pemimpin KTB. Dia tiba-tiba menyadari dan menangis, dia mengatakan, “Saya sudah jadi orang Kristen berapa tahun, melayani gereja berapa tahun, saya baru sadar saya belum lahir baru. Saya baru lahir baru itu kemarin.” Hal ini harus kita hadapi. Saudara harus berani menguji diri. Saudara dan saya menguji diri berdasarkan firman. Berdasarkan apa saudara dan saya mengatakan bahwa saya dan saudara adalah anak Tuhan yang sejati?
Hal ke-2 yang menipu. Yang pertama tadi adalah pelayanan, aktifitas; sublimasi. Yang ke-2 adalah mujizat. Mujizat kalau terjadi dalam hidup kita, kita pikir bahwa kita adalah anak Allah yang sejati. Kadang jawaban doa. Kalau aku berdoa dan Tuhan memberikannya. Itu adalah tanda aku adalah anak Allah yang sejati. Ketika orang Israel keluar dari Mesir, maka dia berdoa kepada Tuhan minta daging. Dan Tuhan memberikan daging burung puyuh. Ketika mereka makan, maka Tuhan murka kepada mereka. Jawaban doa mereka bukan hasil dari perkenanan Allah tetapi adalah hasil dari murka Allah yang diberikan. Di dalam Alkitab juga dikatakan orang ini adalah orang yang melakukan mujizat-mujizat. Di dalam Alkitab, di dalam kitab 1 Korintus maka Paulus menyatakan, “Kalau engkau memiliki iman untuk memindahkan gunung sekalipun dan kalau engkau mampu berbahasa bahasa malaikat sekalipun” – dia sedang menyinggung orang-orang berbahasa roh, – “maka tanpa engkau memiliki agape love maka sesungguhnya engkau tidak sama sekali memiliki hitungan apapun saja dalam Kerajaan Allah.” Di dalam Alkitab dikatakan, “Engkau sama sekali tidak berguna.” Saudara-saudara, mujizat sering sekali menipu kita. Apakah itu kita dapatkan mujizat atau kita melakukan maka itu sering sekali menipu kita. Kita berpikir jikalau kita mendapatkan mujizat/melakukan mujizat maka kita adalah anak Allah yang sejati.
Hal yang ke-3. Apa yang paling sering menipu kita? Pertama adalah sublimasi. Yang ke-2 adalah mujizat. Yang ke-3 adalah mengerti doktrin yang benar. Saya katakan pada saudara sekali lagi. Setan tahu doktrin yang benar. Setan bisa tahu Yesus adalah anak Allah. Bahkan Setan membungkuk untuk menyembah Yesus, Anak Allah. Dia takut tetapi dia tidak pernah taat. Mengerti doktrin yang benar sering sekali menipu kita. Dulu aku orang karismatik, doktrinnya ga karu-karuan. Saya bertemu sama pendeta Stephen Tong. Saya membaca buku-buku Reformed. Ini yang benar. Aku sekarang menjadi orang yang baru. Aku adalah orang yang sekarang anak Tuhan karena aku menghargai kebenaran. Mengerti, mengakui, percaya dan iman; itu seluruhnya beda derajat. Tentu mengenal Allah yang sejati harus berdasarkan doktrin yang benar. Tetapi doktrin yang benar itu yang kita miliki, tidak berarti bahwa kita adalah anak Allah yang sejati. Apalagi kalau saudara-saudara mengerti doktrin yang benar, berpikir seolah-olah anda dan saya adalah orang tersebut. Saya paling takut kalau saya mengajar Puritan. Lalu saya mengajar di sini, di kota ini, di kota itu, bicara sama orang-orang tentang Puritan, maksud saya memperkenalkan bahwa mereka adalah satu sumber teologia yang baik dan sumber spiritualitas yang sehat. Hasil side effect-nya adalah orang-orang bilang, “Pak Agus itu orang Puritan. Pak Agus itu Puritan.” Puritan dari mananya? Mereka raksasa rohani, kita kerdil. Kemudian orang bilang, “Lah itu karena engkau rendah hati. Engkau Puritan.” Kita bukan Puritan. Saya membaca buku Puritan. Saya berkhotbah tentang Puritan. Itu tidak serta merta bahwa saya pasti menghidupi seperti mereka hidupi. Tuhan yang tahu. Ketika saya menghidupi apa yang mereka hidupi dan sungguh-sungguh ketat, baru mungkin kita boleh dikatakan bahwa kita mengikuti jejak Puritan. Tetapi ini yang saya mau tegaskan, saudara mengerti satu doktrin, saudara setuju akan satu doktrin, itu tidak berarti bahwa kita memiliki iman dengan orang yang menulis doktrin itu adalah sama imannya. Sama sekali tidak. Kita sering sekali salah mengerti dalam hal ini dan tersesat dalam hal ini.
Hal yang ke-4. Salah satu yang menipu adalah adanya perubahan tingkah laku. Oh, anak saya berubah tingkah lakunya. Sekarang menjadi lebih baik maka dia adalah orang yang diselamatkan. Itu belum tentu. Keselamatan adalah sesuatu yang kompleks di dalam Alkitab. Keselamatan memiliki banyak sekali elemen di dalam Alkitab. Itu tidak bisa saudara cuma lihat dari depan. Perbuatan baik dalam relasinya dengan iman yang sejati adalah luar biasa kompleks. Sekarang saya akan memberikan contoh kepada saudara-saudara. Bagaimana orang yang bisa berbuat baik, sangat baik tetapi itu bukan memiliki iman yang menyelamatkan? Mungkin saya sudah pernah bicara kepada saudara-saudara di Pemuda atau di mana, saya akan ulangi. Dulu ada seorang Perdana Menteri Israel namanya Yitzhak Rabin. Suatu hari dia mengumumkan sesuatu hal yang sangat mencengangkan. Israel dan Palestina sejak dari jaman Perjanjian Lama, Daud pun melawan orang-orang Filistin. Dia tidak mau memberikan seinci tanah pun tanah yang dikuasai oleh Daud kepada orang-orang Filistin. Tetapi berapa puluh tahun yang lalu, seorang perdana menteri Israel, Yitzhak Rabin tiba-tiba mengumumkan kepada seluruh dunia: “Palestina, kita jangan perang. Mari kita berdamai. Begini saja. Maka kita punya daerah bagi 2. Yang sebelah di sini punya saya, sebelah sana punya kamu.” Itu sangat mencengangkan dunia. Bahkan pada akhirnya, Yitzhak Rabin dibunuh sendiri oleh orang Israel. Ketika dia mengumumkan ini, seluruh dunia kaget. Kalau saudara adalah orang yang concern di dalam hal-hal spiritualitas di dalam Alkitab, maka saudara akan terkaget-kaget karena orang ini jauh lebih baik dari Daud. Kalau begitu, orang ini adalah orang yang pasti lebih diselamatkan dan kalau Daud itu diselamatkan. Orang ini sama sekali tidak kenal Kristus. Kalau tidak kenal Kristus, dari mana dia bisa berbuat baik lebih baik daripada orang Kristen? Saudara perhatikan baik-baik kalimat di bawah ini. Agama kalau sudah masuk ke dalam hati nurani, saudara akan sulit menentukan bahkan orang ini orang sejati, anak Tuhan atau bukan.
Saya ambil contoh. Ada seorang pemimpin redaksi namanya Goenawan Mohamad, Majalah Tempo. Suatu hari dia pergi ke Ka’bah. Orang Islam selalu putar-putar Ka’Bah. Tapi Goenawan Mohamad ingin sekali untuk melihat apa isi dalam Ka’bah. Kemudian dia dapat kesempatan, dan begitu dia dapat kesempatan, dia lihat. Dibuka, isinya, dia tulis yang di dalam cuma batu hitam. Dia lihat, dia refleksi, dia merenung dalam beberapa menit, kemudian air matanya terus bercucuran. Dia mengatakan, “Allah, Engkau besar.” Orang seperti ini, orang yang tinggi sekali di dalam iman dan kerohaniannya, dan di dalam hati nuraninya. Sama seperti Daud; Dia lihat batu karang, dia bisa memproyeksikan dengan Allah: “Engkau adalah batu karang yang teguh, tempat aku berlindung.” Saya tanya; Kalau saudara-saudara lihat batu karang, saudara lihat apa? Ya, batu karang. Apalagi mau dilihat? Kok kamu bisa melihat Allah? Orang tersebut memiliki kemampuan reflektif yang sangat tinggi di dalam hatinya. Orang-orang seperti ini, orang besar. Kalau saudara-saudara lihat bangsa Indonesia. Orang ini, orang yang sudah agama masuk dalam hati nurani, adalah orang yang luas hatinya. Salah satunya adalah Gus Dur, orang yang tahu dalamnya, agama masuk dalam hati nurani, luasnya luar biasa. Dia tidak membela agamanya, dia membela kebenaran. Sampai di titik ini, bagaimana saudara-saudara bisa mengatakan, “Orang ini tidak diselamatkan. Tapi orang ini, aduh Pak, dia pinjam aja lupa ngembaliin. Lupa dia, Pak. Terus dia mengaku Yesus Kristus Tuhan. Oh, dia itu orang Kristen. Oh, dia itu diselamatkan. Terus Gusdur tidak diselamatkan, dari mana, Pak?”
Saya tambah satu contoh lagi. Makin saya tambah mungkin saudara akan makin bingung; perlu Yesus atau engga dalam hidup saya. Saya cuma mau mengatakan satu hal ini. Ini bukan “cuma”, ini sesuatu yang dalam. Perubahan tingkah laku tidak serta merta adalah bukti iman yang menyelamatkan. Saya ambil contoh satu lagi. Suatu hari saya naik mobil dari rumah saya jam 5 pagi menuju ke kampus di mana saya mengajar, dan hari itu saya menyetel radio di mobil. Radio adalah radio orang Islam yang berdakwah. Mereka ada interview. Satu orang membacakan satu buku doa dari orang Islam yang kurang lebih 100-200 tahun yang lalu. Ketika dia membacakan buku doa itu, saya hampir ngerem di tengah-tengah jalan tol. Saya kagetnyaluar biasa. Doanya seperti ini, “Ya, Allah. Jikalau aku mencari Engkau karena aku takut akan neraka, maka masukkan aku di neraka yang paling bawah. Ya, Allah. Jikalau aku tidak melakukan kejahatan supaya aku masuk ke surga, ambil jiwaku dan masukkan dalam penghakiman-Mu yang paling dalam, tetapi, ya Allah, jikalau aku mencari Engkau adalah untuk Engkau saja. Engkau adalah belahan jiwaku, kasihanilah aku, ya Allah dan bawalah aku mendekat kepada-Mu.” Orang Islam kok doanya seperti ini? Seluruh orang Karismatik hancur sama dia. “Dalam nama Yesus, mesti sembuh. Dalam nama Yesus, aku kaya.” Saudara lihat kedalaman kerohaniannya lebih dalam mana? Saya hampir ngerem. Ayo, siapa yang pernah doa seperti itu? Sekarang kasih survey yang pernah doa seperti itu. Biasa doanya; Tuhan tolong anak saya untuk bisa sukses, nanti nikah sama orang yang bener. Padahal kita sudah punya Alkitab bahkan kita ga pernah bilang; Engkau adalah belahan jiwaku/You are my portion, oh Lord. Wah, saya merinding,saya dengar doa tersebut. Kamu pernah doa seperti begitu? Tetapi apakah dia pasti memiliki iman yang menyelamatkan? Pasti tidak. Karena di dalam Alkitab; Iman yang menyelamatkan harus di dalam Kristus Yesus. Tetapi di tempat yang lain, kita yang mengaku Yesus Kristus, mengapa kita tidak memiliki satu doa yang sampai sedalam itu? Apakah lapisan tipis kehidupan kita yang mengatakan Yesus Kristus adalah Tuhan itu menjamin kesalamatan kita? Alkitab mengatakan: “Waspada Engkau.” Kita, saudara dan saya harus waspada. Jangan berpikir bahwa kalau kita adalah orang Kristen, kita pasti diselamatkan. Jangan berpikir bahwa engkau dan saya adalah orang GRII, pasti kita diselamatkan.
Ada tanda-tanda kesejatian iman. Tetapi 4 hal ini, belum tentu. Pertama adalah pelayanan. Yang ke-2 adalah mujizat. Ke-3 adalah memiliki doktrin yang benar. Dan yang ke-4 adalah perbuatan baik. Kalau saudara melihat anak saudara berubah. Orang yang bertobat, pasti berubah. Tetapi orang yang berubah belum tentu dia bertobat. Maka apa yang Kristus sekarang katakan berkenaan dengan tanda kesejatian iman? Saya tidak bisa meneruskan karena kita sudah sampai waktunya. Kalau Tuhan pimpin, maka 2 minggu lagi, saya akan teruskan bagian ini. Ini sebenarnya bukan masalah sederhana. Dan orang Puritan sangat-sangat bergumul dengan hal ini karena begitu banyak orang Kristen di depannya dan mereka mengaku pasti sudah diselamatkan tetapi sesungguhnya belum. Biarlah di dalam beberapa minggu ini, kita berani untuk menguji hati. Mari kita berdoa.
GRII Sydney
GRII didirikan di atas dasar Pengakuan Iman Reformed Injili dengan tujuan menegakkan satu gereja yang berbasiskan teologi Reformed, dengan mimbar yang menyampaikan khotbah ekspositoris, read more