Ringkasan Khotbah

8 June 2025
Amanat Agung & Kuasa Roh Kudus
Pdt. Agus Marjanto, M.Th · Kisah Para Rasul 1:8-11,14

Kisah Para Rasul 1:8-11,14

Minggu yang lalu kita sudah membaca ayat-ayat ini dan kita membahas berkenaan dengan Yesus naik ke Surga di dalam relasinya dengan misi. Kita tahu ayat ini adalah kalimat terakhir Yesus Kristus. Kalimat terakhir Yesus Kristus adalah bicara berkenaan dengan misi. Itu bukan bicara berkenaan dengan saksi saja, tetapi bicara berkenaan dengan movement. Bicara berkenaan nanti dari Yerusalem, Yudea, Samaria sampai ke ujung bumi; engkau memberitakan Injil, engkau menjadi saksi. Itu adalah bicara berkenaan dengan misi. Salah satu hal yang paling sulit untuk mengajarkan berkenaan dengan misi adalah bahwa banyak sekali dari kita berpikir misi adalah kegiatan gereja. Misi adalah untuk segelintir orang yang mengerjakannya. Misi adalah satu departemen gereja. Begitu masuk di dalam jebakan pikiran ini dan tidak keluar, maka sampai mati orang ini tidak akan mengerti apa itu misi. Gereja yang terjebak di dalam konsep ini, maka sampai kapanpun saja, tidak akan bergerak. Saya sungguh-sungguh berdoa minta belas kasihan Tuhan, karena untuk mendobrak konsep inipun, kita perlu kuasa Roh Kudus. Ketika kita bicara mengenai “Kita harus bermisi.” Saudara pikir, “Oh, itu pergi ke Biak, pergi ke Mesir, pergi ke Kamerun. Pergi ke tempat-tempat yang sulit, pergi ke tempat-tempat yang jauh, itu baru misi. Departemen misi yang mengerjakannya, itu bukan buat saya. Itu adalah untuk hamba-hamba Tuhan, itu bukan untuk saya.” Tidak saudara-saudara. Sesungguhnya yang Yesus berikan kepada murid-murid, apakah itu diberikan kepada semua orang Kristen? Ya, jikalau saudara mau menjadi murid. Saya sudah berkali-kali mengatakan kepada saudara-saudara, prinsip paling dasar dari misi. Bicara berkenaan dengan misi adalah bicara berkenaan dengan satu perintah Kristus untuk mengabarkan ajaran-Nya ke seluruh dunia. Bicara mengenai misi adalah bicara berkenaan dengan seorang yang memuridkan orang lain. Saudara dan saya tidak mungkin bisa memuridkan orang lain, kecuali saudara dan saya adalah murid. Maka relakan hati kita untuk dihajar, relakan hati kita untuk diajar, jangan kita terus memegang satu kehidupan yang egois dan kehidupan yang sombong. Kita sungguh-sungguh minta anugerah ini terjadi dalam kerohanian kita. 

Di tempat yang lain, ketika bicara mengenai misi (sekali lagi dalam ayat ini ditegaskan), adalah bicara keluar dari comfort zone. “Kamu akan menjadi saksiku, di Yerusalem, Yudea, Samaria, sampai ke seluruh bumi.” Ketika bicara mengenai keluar dari comfort zone, maka di sini adalah titik krusialnya, di tengah-tengah seperti itu, di titik pusatnya, maka Tuhan meminta decision of our heart. Apakah kita rela, apakah kita mau, apakah kita sungguh-sungguh mau ditempatkan oleh Tuhan di mana yang Dia kehendaki? 

Ada seorang anak muda yang beberapa puluh tahun lalu bicara kepada saya. Dia bersama-sama saya, mendampingi saya untuk pergi ke beberapa museum, dan setelah itu saya tanya, “Engkau kuliah apa?” Dia mengatakan, “Saya kuliah ini.” Kemudian saya tanya, “Sekarang kamu sudah selesai?” Lalu dia katakana, “Ya, sudah.” Terus saya bertanya, “Sekarang kamu lagi apa?” Dia kemudian mengatakan, “Saya sedang tunggu, karena saya kirim beberapa lamaran ke beberapa company.” Saya lihat orang ini adalah orang yang tulus. Saya lihat orang ini adalah orang yang mengasihi Tuhan, dan kemudian saya tanya, “Engkau kirim lamaran kerjamu itu ke mana?” Kemudian dia mengatakan, “Saya mengirim ke kota ini, ke beberapa perusahaan di kota ini.” Lalu saya tanya kepada dia, “Kenapa engkau tidak mengirim lamaranmu ke Madura? Mengapa engkau tidak kirim lamaranmu pergi ke tempat-tempat yang sulit?” Maka orang tersebut mulai berpikir. Kenapa kita harus menentukan tempat hidup kita sendiri? Umur kita bukan milik kita. Saudara dan saya kalau sudah dilatih oleh Tuhan, saudara harus terbuka kepada Tuhan, di manapun Tuhan kehendaki kita melayani, dan di kota apapun. Ini adalah keputusan hati. Saya tidak katakan bahwa Tuhan pasti akan memberikan kita kota yang susah, kota yang terpencil, yang remote area; tidak. Tetapi kita harus terbuka kepada Tuhan, itu baru namanya memiliki satu spirit untuk misi, karena Tuhan sendiri yang menentukan pasukan-Nya ada di mana. Ketika bicara berkenaan dengan misi, hati yang mau dipakai oleh Tuhan, di manapun saja, satu hal adalah saudara dan saya harus memiliki decision of heart untuk lepas dari comfort zone. 

Minggu yang lalu kita sudah bicara tentang Corrie Ten Boom. Dia adalah orang yang ada di Belanda. Dia adalah orang yang sebenarnya bisa menikmati segala sesuatu di dalam keluarganya. Tetapi dia melihat orang Yahudi yang disiksa oleh Nazi, orang-orang yang dikejar-kejar untuk dibunuh, kemudian Roh Kudus memanggil dia untuk menolong orang-orang tersebut. Ketika dia keluar dari keluarganya untuk menolong orang itu, ketika saya bicara ‘keluar dari keluarganya’, dia sama sekali tidak pergi ke luar negeri. Tepatnya, bahkan bukan Corrie Ten Boom terlebih dahulu, tetapi papanya yang mengerjakan. Papanya yang menyembunyikan orang-orang Yahudi tersebut. Ketika dia melakukan misi Tuhan, dia harus keluar dari comfort zone. Dia tetap ada di Belanda, tetapi dia harus menanggung suatu kemungkinan resiko besar di depan, itulah misi. Banyak dari kita sama sekali tidak mau keluar dari comfort zone, padahal Tuhan sudah bicara menetapkan sesuatu di dalam isi hatimu. Engkau tidak mau dipakai oleh Tuhan. Engkau mau untuk membangun kerajaanmu sendiri. Engkau hanya berpikir, ketika kita bicara berkenaan dengan pekerjaan Tuhan maka: “Saya bekerja baik-baik, saya dapat uang banyak, saya beri perpuluhan. Kalau ada orang yang memerlukan, saya memberikan kepada dia, selesai. Tapi saya tidak akan meresikokan hidupku,” Bukan seperti itu. Alkitab mengatakan, “Kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem, Yudea, Samaria, sampai ke ujung bumi.” Yesus tidak bicara berkenaan, “Kamu menjadi saksi-Ku saja.” Ini adalah bicara mengenai keluar dari comfort zone, untuk menggenapi panggilan kita. Dan saya minta seluruh remaja dan pemuda, seluruhnya biarlah engkau mengingat hal ini, ini adalah perintah Yesus. Ini adalah isi hati Yesus. Mungkin engkau akan mengatakan, “Saya takut.” Saya juga takut, tapi biarlah engkau dan saya ingat hidup di tengah genggaman Allah lebih aman daripada segala hal. 

Ada seseorang hamba Tuhan yang sekarang sudah meninggal, sangat-sangat saya hormati. Ada seorang anak muda datang kepada dia, dan mengatakan, “Pak, hidup dipakai oleh Tuhan beresiko.” Dan hamba Tuhan itu mengatakan, “Ya benar, tapi engkau harus tahu, hidup di luar genggaman Allah, di luar rencana Allah, jauh lebih beresiko.” Gereja ini bukan diadakan untuk mengumpulkan saudara dan saya. Gereja ini didirikan mimbar, bukan saudara menikmati Reformed theology saja. Apa gunanya bicara mengenai Reformed Theology, tetapi saudara dan saya tidak bergerak seturut dengan apa yang Calvin inginkan. Bahkan kalau kita memuja muji Calvin yang dipakai oleh Tuhan, bukankah dia sendiri dipindahkan Tuhan berkali-kali, dikejar-kejar karena Firman. Kalau hati tidak diberikan, kalau persembahan tidak diberikan di atas mezbah, maka tidak ada api yang menyambar. Ini adalah satu prinsip Alkitab. Barangsiapa mau sungguh-sungguh menjadi murid Tuhan, berikan seluruh hati dan minta untuk Tuhan pakai. Engkau akan tahu perlahan demi perlahan tetapi pasti, Tuhan akan bawa kita ke tempat yang Dia kehendaki dan memakai kita. Saya mau untuk banyak anak muda mengenal teologia yang kokoh. Karena di tengah-tengah dunia ini, kebenaran sudah hilang. Tetapi di tempat yang lain, itu tidak cukup. Saya minta biarlah engkau dan saya bersama-sama meminta anugerah kuasa Roh Kudus, untuk diurapi agar kita bergerak ke mana yang Tuhan kehendaki. Ayat yang ke-8 yang kita baca, dikatakan, “Tetapi engkau akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun atasmu.” Tetapi kata ini ada di depan, maka Yesus sedang menyatakan suatu alternatif, bukan yang sana, tetapi yang ini, tetapi ini apa? 

Dua hal; pertama, fokus hidup murid-murid bukan lagi kerajaan Israel, tetapi Kerajaan Allah. Murid-murid tanya kepada Yesus, “Saya mau tanya, kapan Engkau akan memulihkan kerajaan Israel?” Tetapi Yesus mengatakan, “Bukan, tetapi engkau akan menjadi saksi-Ku, saksi Kerajaan Allah.” Yesus memberikan satu prinsip alternatif, “Engkau tidak boleh pikir itu, engkau harus pikir ini. Bukan kerajaan Israel, bukan kerajaanmu, bukan sukumu, bukan bangsamu berkembang dengan makmur, tetapi pikirkan bagaimana Kerajaan Allah berkembang meluas ke seluruh bumi.” Saya tanya kepada saudara-saudara; apa yang engkau pikirkan setiap hari? Apa yang engkau doakan? Ketika engkau sendiri, bahkan engkau menangis untuk apa? Ketika kita sendirian, kita teriak untuk apa? Apakah kita pernah berteriak, “Tuhan, aku menginginkan mataku melihat Kerajaan-Mu sampai ke bangsa-bangsa.” Kita dilahirbarukan untuk hal ini. Kita diajar, dilatih oleh Kristus dengan Doa Bapa kami yang tadi kita bicara, “Bapa kami yang di Surga, dikuduskanlah nama-Mu. Datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu, di bumi seperti di Surga.” Orang yang mengerti Doa Bapa kami, orang itu mengerti Kisah Para Rasul 1:8. Orang yang mengerti Doa Bapa Kami, matanya, jangkauannya ke mana, persis sama seperti yang Yesus berikan di sini, bukan untuk diri. Ya, kita punya banyak masalah; sakit, relasi suami isteri, orang tua, anak, pekerjaan, kuliah, dengan seluruh examnya; begitu banyak, saya tidak mengecilkan hal itu, Kristus juga tidak mengecilkan hal itu. Tetapi Kristus memberikan kepada kita satu jalan lurus bagaimana hidup di dalam Dia. Jikalau itu menjadi mata kita, dan kita rela untuk masuk di dalamnya, sekali lagi Alkitab mengatakan; maka Tuhan akan memberikan kepada kita, apa yang kita perlukan. Tetapi yang jelas, adalah bukan untuk saudara hidup sendiri, itu fokus kita. “Kapan Engkau akan memunculkan, memakmurkan kerajaan Israel?” Bukan, tetapi bicara mengenai Kerajaan Allah, bukan Israel. “Kapan aku bisa makmur Tuhan? Kapan aku bisa berhasil Tuhan?” Engkau pikirkan satu hal: “Kehendakku jadi, rencanaku jalan,” engkau kerjakan segala sesuatunya dengan the best. Engkau ada exam, engkau kerja, engkau kuliah, engkau jangan malas tentu. Tetapi mata rohani harus tetap di sana, jangan distract. Kemarin di dalam Persekutuan Doa, saya bicara berkenaan dengan distract. Ketika bicara mengenai Roh Kudus akan diberikan, engkau akan mendapatkan kuasa, kuasa apa? Ini begitu banyak elemennya, tetapi masalahnya adalah sering sekali kita berpikir Roh Kudus diberikan ketika bicara mengenai kuasa adalah kuasa untuk menyembuhkan atau kuasa untuk mengusir setan. Itu pasti ada, tetapi salah satu kuasa yang Tuhan berikan kepada kita adalah kuasa untuk hidup suci. Apa arti kesucian? Kesucian adalah dipisahkan untuk seluruh kehendak Allah jadi. Salah satu masalah dengan dosa kita adalah membuat distraction dalam hidup kita. Begitu distraction itu kita layani, maka kita akan kehilangan seluruh jalan-jalan hidup kita dan waktu kita. 

Kemarin saya sharing berkenaan dengan membuat paper, saya memberikan satu ilustrasi, karena terakhir ini saya membuat paper. Kita tahu semua yang ambil S2 atau S3 di sini, membuat paper bukan pekerjaan gampang. Kalau kita belum pernah membuat paper, tiba-tiba membuat paper, kita bisa nangis-nangis. Apalagi kalau sudah bicara mengenai paper S2, S3, maka saudara-saudara, ada satu aim, satu tujuan yaitu judulnya. Kemudian kita research bertahun-tahun untuk bisa membangun kalimat-kalimat menuju kepada tujuan judul paper itu. Kita tahu semua yang pernah research, ketika kita research, pakai internet, lalu kita klik, klik, klik, kemudian masuk, kemudian kita tersesat. Saat kita sadar, kalau kita research berjam-jam di sini, tidak ada hubungannya dengan jalur utama. Itu kalau researchnya tetap ilmu, apalagi kalau research-nya begitu klik itu kena facebook, malah 3 jam habis, dan mata kita sudah berair, capek, kemudian kita selesai. Besok mulai lagi research, kita mulai kuatkan hati untuk kembali ke jalur yang benar. Saudara punya waktu misalnya 3 tahun, lalu saudara pergi ke tempat research yang tidak sesuai, saudara habiskan puluhan hours di sana. Banyak orang yang tidak bisa kembali, dan kemudian waktunya habis. Kita tidak menuju kepada sasaran yang diinginkan, kita distract, dan seperti itulah hidup kita. Tuhan memberikan satu tujuan: “Engkau menjadi saksiku, di Yerusalem, Yudea, Samaria sampai ke ujung bumi.” Ini adalah jalan yang harus kita tempuh sampai ke sana. Tetapi kemudian kita lihat; berantem sama suami isteri, belum lagi ada urusan dengan sakit, diputus sama pacar, pekerjaan, di-redundant, apa saja membuat kita distract. Akhirnya bukan kehendak Allah yang dijalankan, seluruh urusan bumi yang kita perkarakan. Sampai pada waktunya, hidup kita habis, sama seperti deadline paper, dan kita presentasikan di depan dosen kita, dan dia lihat jelek. Sama, suatu hari saudara dan saya akan mempresentasikan hidup kita di depan Allah Tritunggal. 

Fokus utama bukan kerajaan Israel, bukan hidup kita, bukan company kita, tetapi adalah Kerajaan Allah yang berkembang luas di muka bumi. Saya tahu, saya tidak tahu berapa banyak, tapi mungkin ada saudara-saudara yang berpikir bahwa ini sesuatu yang absurd; tetapi tidak, sungguh-sungguh tidak. Kalau saudara dan saya, kita mendapatkan anugerah dari Roh Kudus, kalau saudara dan saya adalah orang yang dilahirbarukan, saudara dan saya akan makin menyadari hidup di dunia ini, untuk menggenapi rencana Allah. Kekristenan bukan satu agama yang saudara tempelkan di hidup saudara, dan saudara jalani hidup yang sesuka-suka kita. “Oh, saya mau lakukan ini, saya memiliki tujuan ini. Saya beragama Kristen, saya memerlukan surga, itulah sebabnya saya perlu lahir baru, dan saya sudah mendapatkannya, saya sudah menempelkannya, saya sudah ada paspor, dan saya jalan untuk mengikuti apa yang sebenarnya aku rancangkan dalam hidup.” Tidak. Kita dilahirbarukan untuk kita bisa punya hati yang rela ditaklukkan seluruhnya untuk Allah dan pekerjaan-Nya di dunia ini, itu mission.

Hal yang ke-2, kalimat ini sekali lagi dimulai dengan “tetapi”. “Tetapi kamu akan menerima kuasa bilamana Roh Kudus turun ke atas kamu.” “Tetapi murid-murid-Ku, seharusnya engkau bukan menyandarkan dirimu kepada kekuatan politik, tetapi kepada Roh Kudus.” Saya akan jelaskan ini. Murid-murid adalah orang Yahudi Kristen. Orang Yahudi Kristen, ada sesuatu yang menutup mata mereka dan tidak terbuka sampai di dalam kasus Kornelius. Apa yang menutup mata mereka? Yaitu mereka berpikir, kalau seseorang mau masuk di dalam Kerajaan Allah, ya engkau harus lewat Yesus Kristus, tetapi engkau harus melalui bangsa Israel, engkau harus menjadi proselyte. Jadi sebenarnya dengan makin berkembangnya kekuatan militer dan politik Yahudi, maka dengan sendirinya Kerajaan Allah akan makin berkembang, tetapi bukan seperti itu. Yesus mengatakan Dia akan membangun kerajaan-Nya bukan dengan kekuatan dan keperkasaan manusia. Tadi pada waktu votum dinyatakan; bukan kuat kuasa tetapi dengan roh-Ku, kata Tuhan; itu ada dari Zakharia 4. Zakharia 4:6 bisa ditampilkan. Jadi itu adalah membangun bait Allah, dan Tuhan mengatakan: “Bukan dengan keperkasaan, bukan dengan kekuatan, melainkan dengan Roh-Ku, Firman Tuhan semesta alam.” Ini yang dinyatakan dalam Kisah Para Rasul 1:8: “Kamu akan menjadi saksi-Ku sampai keujung bumi, tetapi engkau tidak akan bergantung kepada kekuatan politik, engkau tidak akan bergantung kepada kekuatan militer, engkau tidak akan bergantung kepada kekuatan yang paling kuat di bumi ini. Keberhasilan kerajaan-Ku berkembang sampai ke suku-suku bangsa adalah karena Roh-Ku akan diberikan untuk engkau, karena Roh-Ku akan menguasai engkau. Bukan dengan kekuatan, bukan dengan keperkasaan, tetapi melalui Roh-Ku,” demikian kata Tuhan. Ini adalah satu prinsip rohani yang besar. Kita hidup untuk satu tujuan. Ingat akan paper tadi; satu tujuan tema judul paper, dan saudara research, kemudian menjalaninya bertahun-tahun. Kita sering sekali ke kanan ke kiri, dan kita distract dengan segala sesuatunya. Tuhan terus bekerja untuk membawa kita kembali ke tempat tujuan, dan Tuhan mengatakan: “Engkau akan menjalaninya dengan kuasa dari tempat yang tertinggi yaitu kuasa Roh-Ku.” 

Salah satu hal yang sulit untuk dinyatakan di dalam gereja Tuhan yang tadi saya sudah katakan; hal yang sulit dalam poin ini, pertama adalah bahwa banyak orang berpikir kalau sudah berbicara mengenai misi, itu adalah departemen, itu adalah kegiatan gereja, itu nothing to do sama hidupku; “Itukan pak Agus, hamba-hamba Tuhan yang lain, tapi bukan aku. Aku orang biasa, aku cuma jemaat, aku cuma bisa kirim uang, aku cuma bisa doa.” Tidak, ini adalah perintah bagi saya, bagi saudara, keluar dari comfort zone, dan serahkan seluruhnya kepada Tuhan. Engkau akan lihat bagaimana Tuhan pimpin satu persatu.

Sekarang adalah kesulitan yang ke-2; saudara berpikir kuasa Roh Kudus hanya diberikan kepada orang-orang tertentu. Sama sekali tidak! Itu diberikan untuk engkau dan saya! Jangan buat pemberian itu menjadi sia-sia! Setan berusaha untuk membuat saudara menjadi orang Kristen tingkat ke-2, ke-3. Tidak! Ini diberikan kepada engkau dan saya. Ini diberikan kepada Tomas, bahkan yang sudah keluar, yang tidak mau mempercayai Yesus. Ini diberikan kepada Petrus yang sudah menyangkal Yesus. Ini diberikan kepada engkau dan saya, Roh Kudus bukan properti spesial kepada orang-orang tertentu yang Tuhan berikan, ini diberikan kepada kita. “Engkau akan menjadi murid-Ku, engkau akan menjadi saksi-Ku sampai keujung bumi, tapi engkau akan mendapatkan kuasa dari tempat tertinggi, engkau akan mendapatkan kuasa kalau Roh Kudus itu dating.” Roh Kudus adalah satu pribadi yang penting sekali di dalam misi. Kalau saudara-saudara melihat seluruh ayat ini. Ayat 6-14, maka saudara akan melihat pentingnya Holy Spirit, kebangkitan dan kenaikan Yesus ke Surga, pentingnya gereja, karena itu tidak diberikan pribadi, itu diberikan secara komunitas, dan pentingnya misi, dan terakhir nanti pentingnya doa. Kelima itu gabung seluruhnya di dalam beberapa ayat yang kita baca. Orang tidak mungkin akan menggenapi rencana Tuhan, kalau dia tidak makin mengenal Kristus. Saya katakan bukan cuma tahu, bukan cuma kenal, “makin” itu berarti ada pertumbuhan. Orang tidak mungkin akan menggenapi rencana Tuhan, kalau dia tidak ada kuasa Roh Kudus. Seseorang tidak mungkin menggenapi rencana Tuhan, kalau dia tidak mau masuk di dalam satu komitmen untuk dirinya dipakai oleh Tuhan. Seseorang tidak bisa dipakai oleh Tuhan ketika dia reject gereja yang sejati, dan seluruhnya dipersiapkan oleh Allah, dan orang-orang itu berdoa.

Sekarang saya akan masuk langsung di dalam pentingnya berdoa. Yesus mengatakan,  “Kamu akan menjadi saksi-Ku, tetapi kamu akan menerima kuasa dari Roh Kudus terlebih dahulu.” Yesus dengan jelas mengatakan: “Engkau jangan pergi kemana-mana.” Yesus dengan jelas mengatakan bahwa murid-murid-Nya tidak boleh bergerak, dan harus menunggu di satu tempat, murid-murid berkumpul setiap hari. Apa yang dilakukan mereka? Mereka berdoa. 

Kita tidak menyetujui teologia pentakosta yang mengatakan; setiap tahun kita mesti doa untuk menunggu Roh Kudus turun. Tidak. Roh Kudus sekali diberikan dari Surga, untuk seluruh gereja sepanjang zaman. Saudara tidak bisa doa, nanti Roh Kudus datang, sudah datang, mungkin hari Selasa dia pergi lagi ke Surga. Tahun depan doa lagi supaya dia turun; Tidak. Roh Kudus sudah turun kepada kita gereja Tuhan. Tetapi perhatikan baik-baik; ada satu prinsip rohani yang dalam di dalam prinsip ini. Ketika mereka menunggu Roh Kudus memakai mereka, mereka bukannya jalan-jalan, mereka bukannya tidur-tiduran, mereka bukannya pergi ke tempat-tempat di dunia dan menikmati hidup. Mereka mengonsentrasikan dirinya untuk tekun berdoa, demikian kata Alkitab. Kenapa harus? “Bukankah Yesus mengatakan Aku akan memberikan Roh-Ku. Maka kalau Dia sudah bilang mau memberikan “Roh-Ku”, itu namanya predestinasi, kan? Kita tidak perlu melakukan apa-apa, kan?” Banyak orang Kristen tidak tahu prinsip Alkitab, dan menggunakan secara salah kalimat ini. Orang-orang Puritan tahu tepat, dia mempercayai dan berlaku seturut dengan kehendak Allah. Mereka tahu kedaulatan Allah, tetapi mereka juga tahu prinsip ini. Di dalam kedaulatan-Nya, maka Allah menetapkan ada hal-hal yang tidak diberikan, kecuali dituntut dengan doa yang sungguh, dengan sungguh-sungguh! Dan kita tanya kepada Puritan; kalau memang Tuhan mau memberikan, kenapa kita mesti menunggu? Kenapa kita mesti tekun berdoa, kenapa? Orang Puritan mengatakan; karena yang diberikan itu sungguh-sungguh sangat berharga.

Roh Kudus yang bekerja di tengah-tengah sebuah gereja, sangat berharga. Roh Kudus yang bekerja bisa memberdayakan keluarga Corrie Ten Boom, dari papanya, sampai seluruh anaknya. Luar biasa berharga, sangat berharga. Holy Spirit yang bekerja di tengah-tengah keluarga Hudson Taylor; papa, mama sampai anaknya, sungguh-sungguh sangat berharga. Banyak dari kita tidak mau menunggu Dia. “Lho Pak, kenapa mesti ditunggu, katanya sudah datang?” Ketika bicara berkenaan dengan Holy Spirit yang datang, hadir di tengah-tengah kita, maka kita bicara berkenaan dengan satu prinsip adalah di tengah-tengah permanent dwelling of the Holy Spirit; Dia sudah datang. Tetapi bicara mengenai conditional dwelling of the Holy Spirit; saudara dan saya harus mengejar. Ini adalah suatu prinsip Alkitab, ini bukan prinsip dari orang kharismatik. Ini adalah prinsip dari Alkitab, dan di dalam Reformed Theology, maka saudara akan lihat prinsip ini ada pada Calvin. Prinsip ini ada pada orang-orang Puritan, mereka adalah orang yang terus menerus di dalam hidupnya, pelayanannya, apalagi untuk pelayanan yang besar, mereka akan menunggu Holy Spirit untuk bicara. Ada gereja yang saudara lihat, saudara datang, saudara tahu ini gereja tidak banyak doa. Ada gereja yang saudara datang, saudara tahu gereja ini berdoa. Ini adalah sesuatu yang tidak bisa dibantah. 

Suatu hari, saya pernah berkhotbah di satu KKR, 2500 orang. Ketika saya datang, saya sadar sekali semua orang tidak siap untuk ibadah. Keringnya luar biasa, dan sangat-sangat sulit sekali. Lalu saya doa kepada Tuhan, tapi tidak bisa apa-apa, karena orang cuma tahu panitianya mengumpulkan orang, lalu ditinggal, selesai. Kemudian saya datang ke ruangan itu, sudah langsung sadar, ini orang tidak siap untuk ibadah. Liturgisnya, juga tidak siap pelayanan, keringnya luar biasa. Saya diundang naik ke mimbar, kemudian saya seperti satu orang yang pegang pedang melawan hati yang ribuan itu, sulitnya luar biasa. Tetapi di tempat yang lain, ada satu kebaktian, dan ketika itu diberikan untuk kami untuk mengadakan, saya minta untuk semua orang panitia bukan saja cari jiwa tapi juga doa, terus doa sambil cari jiwa, minta belas kasihan Tuhan. Doa itu bukan syarat, “Kalau tidak doa aku tidak diberkati.” Bukan. Tetapi di tempat yang lain, Allah akan memberikan berkatnya besar kepada orang yang begging minta tolong kepada Dia. 

Saya kemarin tanya sama satu orang, “Apakah engkau saat teduh?” Kemudian orang itu mengatakan, “Gak, saya sudah lama sekali tidak saat teduh.” “Saya katakan kepadamu; apakah engkau tahu Alkitab mengatakan orang-orang yang mengandalkan diri sendiri, bukan mengandalkan Allah disebut orang sombong? Saya juga orang sombong tapi Tuhan secara spesifik mengatakan; selain kita orang sombong, semua kita adalah orang yang sangat sombong ketika kita tidak mengandalkan Dia setiap hari.” Kita berdoa bukan karena doa itu membayar berkat Tuhan, tetapi kita berdoa karena kita tahu dengan apapun yang terbaik yang kita berikan, tak mungkin ada satu orang bertobat kalau bukan anugerah belas kasihan Tuhan. Maka kita doa, dan ketika hamba Tuhan itu berkhotbah, saya minta beberapa orang berdoa, “Mari kita berdoa di belakang,” Kemudian kita berlutut, kita berdoa. Kebaktian berjalan dengan baik. Semua sudah selesai, kemudian kita ajak hamba Tuhan untuk makan. Di meja makan, di tengah makan, tiba-tiba hamba Tuhan itu mengatakan, “Pelayanan hari ini, lain lho suasananya. Orang begitu haus mendengarkan Firman, saya sudah khotbah puluhan kali, ratusan kali, ini salah satu tempat yang baik,” Saya cuma diam, saya tidak bicara apa-apa. Kita orang berdoa, Tidak ada jasa apapun, tapi saya tahu Tuhan sudah memberikan anugerah. Kemudian saya diam, tetapi saya tahu satu hal, itu adalah karena anugerah Tuhan diberikan karena ada orang-orang yang rela membayar harganya dengan doa. “Cari wajah-Ku, cari kuasa-Ku,” demikian ayat Alkitab. 

Banyak orang ingin cepat-cepat melayani, banyak orang berpikir dengan belajar baik-baik, saudara bisa menaklukkan hati. Saudara pikir dengan semua kepandaian saudara menyanyi, main piano, saudara bisa dipakai sama Tuhan? Tidak. Kita bergantung sepenuhnya kepada kuasa Roh Kudus, maka cari Dia, minta belas kasihan Dia, berlutut minta, memohon seperti Yakub, dan tidak melepaskan Dia sampai Dia memberikan berkat. Tunggu Dia, karena Dia begitu berharga, Dia Tuhan Allah di Surga, tidak akan memberikan sesuatu yang berharga, yang kemudian kita akan membuangnya. Karena itu sangat berharga, maka Dia membangkitkan roh kita untuk berdoa, minta sampai kita tahu ini sangat berharga, dan hidup kita tergantung dari Roh Kudus bekerja atau tidak. Hai anak-anak muda, hai remaja-remaja, pemuda-pemuda, belajar cari wajah Tuhan dari sekarang! Hai keluarga-keluarga, belajar untuk berlutut bersama suami istri di dalam rumahmu, minta Tuhan memakai keluargamu. Minta jangan cuma satu kali, terus menerus minta. Nehemia memiliki motif yang sungguh-sungguh murni, dia bahkan rela untuk berkorban. Tetapi sebelum dia melangkah, empat bulan dia berdoa! Gereja ini, saya tanya kepadamu, engkau mau dipakai sama Tuhan? Engkau mau gereja ini dipakai sama Tuhan? Berdoalah bersama kami setiap Sabtu. Saya sendiri sudah mengatakan dua hal yang terpenting dari gereja ini adalah pertama; mimbar itu tidak boleh menyeleweng, dan yang ke-2 dan ini lebih penting, karena ini adalah bahan bakarnya yaitu doa, berapa orang yang berdoa bersama-sama. Berdoalah bersama kami cari wajah Tuhan, minta belas kasihan Tuhan, menunggu Dia bekerja. 

Cerita ini sungguh-sungguh terjadi. Ini diceritakan oleh Martin Lloyd Jones. Dia menceritakan tentang seorang pendeta tua dari Wales yang sedang berkhotbah di sebuah konvensi di kota kecil. Orang-orang sudah berkumpul, tetapi pendeta tersebut belum datang. Jadi para pemimpin yang ikut convention itu menyuruh seorang stafnya untuk datang menjemput hamba Tuhan yang tua itu, kemudian pelayan itu kembali dan melaporkan bahwa pendeta itu sedang berbicara kepada seseorang, dan dia tidak ingin untuk mengganggunya. Para pemimpin yang menunggu di convention memandang satu dengan yang lain, aneh, karena semua orang sudah ada di sini, dia bicara sama siapa? Kemudian dia suruh staf ini untuk kembali menjemput pendeta yang tua itu, “Katakan kepada dia, bahwa kita sudah terlambat.” Jadi staf ini pergi lagi, dan tidak beberapa lama, kembali dengan laporan yang sama, dia mengatakan, “Pak Pendeta sedang bicara dengan seseorang.” Dan orang-orang pemimpin gereja yang ada dalam convention itu kemudian bertanya: “Kok kamu tahu?” Staff itu kemudian mengatakan: “Aku mendengar dia berkata dengan orang lain.” Orang-orang itu kemudian tanya, “Kamu dengar apa?” Staff itu kemudian mengatakan, “Aku mendengar pak Pendeta, berkata kepada orang itu, katanya seperti ini: Aku tidak akan pergi berkhotbah kepada orang-orang itu, kecuali jika Engkau ikut dengan aku.” Para pemimpin orang-orang Kristen yang bijak itu mengatakan, “Oh tidak apa-apa, kalau begitu lebih baik kita menunggu.” Saudara perhatikan baik-baik, kalau saudara melihat autobiography semua orang-orang besar yang Tuhan pakai, bahkan orang-orang yang tidak terkenal sekalipun, saudara akan lihat satu prinsip ini; mereka tidak akan maju kecuali mereka mendapat satu kepastian bahwa Roh Kudus menyertai dia! Ini adalah rahasia gereja yang bangkit. Bukan musik, bukan kontemporer musik, bukan fasih lidah, bukan lampu yang kelap-kelip, bukan musik-musik yang indah-indah seperti dunia. Bagaimana kita menaklukkan dunia? Bagaimana kita menaklukkan, membuat hati bertobat? Satu-satunya adalah kuasa dari Roh Kudus. Apakah kita mau mencari-Nya? Apakah kita mau menunggu-Nya? Apakah kita mau memegang Dia dan tidak melepaskan-Nya sampai Dia memberikan berkat? Itu adalah rahasia kebangunan rohanimu, aku, dan seluruh gereja. Kiranya kasihan Tuhan ada pada gereja kita, pada saudara dan aku, pada setiap keluarga kita. Nantikan Dia, minta kuasa-Nya, kejar Dia dan begging terus untuk anugerah-Nya diberikan, karena kita tahu tanpa Dia bekerja, kita tidak akan memenuhkan misi itu. Mari kita berdoa.

GRII Sydney

GRII didirikan di atas dasar Pengakuan Iman Reformed Injili dengan tujuan menegakkan satu gereja yang berbasiskan teologi Reformed, dengan mimbar yang menyampaikan khotbah ekspositoris, read more