Mat 7:24-27
Sekali lagi perikop-perikop ini bicara tentang hal-hal yang sejati dan tipuan Iblis yang ada di tengah-tengah gereja-Nya. Kristus mau mendirikan Kerajaan Allah di tengah-tengah bumi, tetapi ketika Dia mengerjakan mendirikan Kerajaan Allah di tengah-tengah bumi, Kerajaan Allah didirikan bukannya tanpa perlawanan yang banyak, ada tipuan di mana-mana. Apa yang kita kira benar, ternyata setelah dibuka dalamnya penuh dengan kepalsuan. Ayat yang kita baca adalah rumah yang didirikan di atas batu dan rumah yang didirikan di atas pasir. Sepanjang sejarah filsafat, maka saudara-saudara bisa menemukan seorang yang bernama Immanuel Kant, filsuf dari Jerman pada abad ke-18, ada satu kata yang berkali-kali dia munculkan dan yang menjadi terkenal dan kita tahu: ‘Fenomena dan Nomena.’ Fenomena adalah bicara mengenai apa yang terlihat, dan Nomena adalah sesuatu yang sifatnya hakekat. Apa yang terlihat dan apa sesungguhnya itu.
Dan di dalam kalimat-kalimat Yesus, meskipun Dia tidak menggunakan kalimat filosofi, tetapi kalimat-Nya begitu tajam dan begitu dalam, mengajarkan dari orang terpandai sampai orang-orang yang tidak terpelajar. Meskipun engkau mungkin bukan orang-orang yang mengerti secara kalimat filosofi, tetapi kalau engkau adalah orang-orang yang mengerti kalimat-Ku, demikian kata Yesus, engkau adalah orang bijaksana. Engkau lihatlah, Yesus seakan-akan bicara untuk kita melihat hal yang lebih dalam daripada sekedar penampakan mata. Yesus memberikan ajaran untuk kita memiliki mata rohani yang tajam. Saudara-saudara bukan saja menjadi dewasa secara karakter, bukan saja menjadi seorang yang dewasa memilah mana yang benar mana yang salah, tetapi adalah seorang dewasa di dalam hal rohani, mengerti kedalaman seturut dengan Firman.
Yesus sudah mengatakan 4 hal ini dari awal. Engkau jangan ikut orang banyak yang pintunya itu lebar, jalannya itu luas. Engkau harus lihat baik-baik bahwa sangat mungkin pintu yang sempit, jalan yang sesak itu menuju kepada kehidupan. Engkau harus hati-hati, jangan mempercayai seluruh ajaran karena banyak sekali serigala kelihatan seperti domba. Dan engkau jangan pikir bahwa seluruh pohon itu sama, engkau lihat pohon itu, engkau tidak bisa menamainya, tetapi engkau perhatikan buahnya. Dan di dalam tempat ini maka engkau lihat ada 2 rumah, engkau lihat seluruhnya sama secara fenomena, tetapi engkau perhatikan rumah itu dibangun dengan dasar yang berbeda. Yesus memberikan suatu hikmat kepada kita untuk melihat bukan saja membedakan dari lapisan luar tetapi untuk melihat kedalaman.
Apa itu fenomena? Apa itu nomena? Apa yang terlihat? Apa sesungguhnya yang terjadi? Maka saudara-saudara ini adalah suatu pengajaran yang sangat berhikmat. Yesus mengatakan ada 2 rumah. Saudara coba bayangkan. Sama luasnya, arsiteknya sama, denah di dalamnya seluruhnya sama, catnya sama dan bahkan atapnya seluruhnya sama. Dua-duanya sama. Kemudian dua-duanya dijual. Dan ketika dua-duanya dijual mungkin kita akan berpikir semuanya sama. Kalau agen itu datang ke tempat saya, saya akan tawar, “Mana yang bisa ditawar lebih murah? Lalu agen itu mengatakan, “Oh, itu boleh turun 10 ribu atau 15 ribu dollar.” Kemudian pasti saya akan ambil itu. Saudara-saudara, kita selalu akan lihat seluruhnya fenomena, tapi Yesus mengatakan, “Lihat fondasinya.” Saudara-saudara, saya hampir yakin, tidak banyak orang atau mungkin hampir semua orang yang di sini tidak lihat fondasinya. Hal yang pertama saudara-saudara lihat adalah suka, yang ke-2 adalah lihat lingkungannya, oh itu bisa dijual lagi. Kemudian saudara akan lihat builder-nya, lalu harganya. Siapa yang pernah lihat fondasinya? Tidak ada. Saudara berpikir semuanya juga sama.
Yesus memberikan suatu pengertian yang begitu dalam yang begitu sederhana tetapi sering sekali karena kesombongan kita, kita lupakan. Semua kalimat Yesus adalah suatu kalimat yang bagi orang yang sederhana itu terbuka dengan limpah, bagi orang sombong itu selalu tertutup. Lihat fondasinya. Ada yang fondasinya cuma tipis, ada fondasi yang di atas pasir, ada fondasi yang begitu kokoh dalam di tengah-tengah batu. Dan engkau dan saya beli, kemudian kita hidup di tengah-tengah rumah itu, beraktivitas setiap hari di rumah itu. Dan kemudian rumah yang di sebelah itu, yang lebih mahal 50 ribu, kita seumur hidup senang karena kita dapat berkat Tuhan, “Puji Tuhan, bedanya 50 ribu Pak, punya dia itu sama lho Pak, semua ukurannya, tapi dia lebih mahal.” Saudara-saudara bersaksi Tuhan itu baik, tidak tahunya kita yang ditipu karena kebodohan kita sendiri.
Dan semuanya Alkitab mengatakan, “Tidak akan tahu bedanya sampai suatu bencana datang.” Di dalam bahasa aslinya, pengertian ini adalah bukan cuma bencana alam, ini adalah penghakiman terakhir dari Tuhan. Ini adalah bicara mengenai seseorang yang mendirikan bangunan imannya sekarang berhadapan dengan penghakiman Allah di zaman akhir. Maka mari jemaat kita membangun iman kita dengan dasar yang teguh. Dan dasar yang teguh itu apa? Adalah mendengar dan melakukan Firman Kristus. Saudara-saudara perhatikan, bukan saja mendengar. Bukan saja mendengar dan mempelajari. Bukan saja mendengar, mempelajari dan menganalisa. Bukan saja mendengar, mempelajari, menganalisa dan mengotbahkan. Bukan saja mendengar, mempelajari, menganalisa, mengkhotbahkan, memproklamasikan, tetapi menaatinya. Itu yang membedakan orang Kristen. Yesus tidak sedang mengabarkan Injil ke daerah-daerah, di dalam khotbah di bukit Yesus mengumpulkan orang-orang Kristen, murid-murid-Nya yang awal dan Dia mengatakan bahwa engkau harus mendengarkan dan menaati, melakukan Firman. Itu baru namanya bijak.
Beberapa minggu yang lalu kita sudah memikirkan 4 hal yang selalu menjadi tanda permukaan iman, tetapi sebenarnya kalau kita pegang itu, itu belum tentu adalah tanda sejati. Tetapi celakanya begitu banyak orang Kristen menganggap hal-hal itu adalah tanda sejati imannya. Bahwa aku memiliki relasi yang benar dengan Kristus maka aku adalah orang yang diselamatkan, maka tanda-tanda ini adalah tanda bahwa aku orang yang diselamatkan. Dan beberapa minggu yang lalu saya sudah bicara kepada saudara-saudara, 4 hal yang paling suka menipu orang Kristen, berpikir kalau kita memiliki atau melakukan itu maka aku pasti anak Tuhan yang sejati. Beberapa minggu yang lalu saya sudah bicara mengenai 4 hal, saya hanya sebutkan tapi saya tidak jelaskan lagi.
Dan ke-4 hal yang paling suka menipu, yang pertama adalah pelayanan. Berpikir kalau aku sudah melayani, kalau aku jadi pengkhotbah, aku hamba Tuhan, aku penatua, aku majelis, aku kepercayaan dari seorang hamba Tuhan, aku sama-sama melayani bersama dia, aku pasti imanku itu menyelamatkan. Jawabannya adalah tidak, sama sekali tidak.
Hal yang ke-2 adalah mujizat. Kalau aku berdoa dan ternyata dijawab oleh Tuhan, maka aku pasti anak Tuhan yang sejati. Kalau aku mendoakan seseorang dan orang tersebut bisa sembuh dari sakit, aku pasti hamba Tuhan yang sejati. Jawabannya adalah tidak.
Hal yang ke-3 adalah mengerti doktrin. Bisa berdebat, bisa berargumentasi, bisa membuat paper, bisa meyakinkan orang, bisa berkhotbah, maka kalau aku mengerti doktrin dan doktrin itu adalah doktrin yang benar, bahkan di dalam kelompok kita adalah doktrin reformed, maka aku adalah anak Tuhan yang sejati. Jawabannya adalah tidak. Saudara mau tahu siapa paling tahu doktrin yang benar, tahu benar-benar dalamnya? Adalah setan. Setan itu tahu doktrin yang benar. Saudara-saudara, Yohanes Pembaptis mengatakan, “Lihatlah, Anak Domba Allah!” Tuhan harus memakai dia, Tuhan mengurapi dia, baru dia bisa menunjuk, “Inilah Anak Domba Allah.” Dan dia bicara kepada semua orang Israel dengan berbusa, banyak orang tidak mau ikut. Yohanes tahu karena anugerah dari Roh Kudus bahwa Yesus adalah Anak Domba Allah. Setan tidak perlu itu, setan tahu Yesus Anak Allah. Ketika Yesus mau mengusir setan dari satu orang yang dirasuk, kemudian setan bicara, “Kamu mau apa, Anak Allah? Kau mau apa?” Bahkan setan itu takluk, setan itu takut, setan itu berlutut memohon, tetapi saudara perhatikan setan tidak pernah taat.
Kalau saudara-saudara bicara berkenaan dengan aku orang reformed, aku tahu teologia, semua orang lain tidak tahu teologia, saudara berpikir bahwa saudara dan saya adalah anak Tuhan yang sejati, kita pasti salah. Sekali lagi, saya tidak mengatakan doktrin yang benar itu tidak penting, sama sekali tidak. Orang yang diselamatkan pasti mengejar pengenalan Allah yang sejati. Tetapi tidak berarti saudara dan saya tahu doktrin yang benar pasti saudara dan saya adalah anak Allah yang sejati. Hal yang ke-4 adalah bicara mengenai tingkah laku, itu adalah hal yang sering menipu. “Oh, anak saya sudah berubah, Pak. Dulu nakal sekarang baik, dulu tidak ke gereja sekarang sudah ke gereja.” Tentu kita senang dengan hal itu, tentu kita bersukacita dengan hal itu. Tetapi itu belum tentu, karena kalau saudara bicara berkenaan dengan perubahan, saudara bicara berkenaan dengan tingkah laku, berbuat baik itu adalah suatu hal yang sama di seluruh agama. Bahkan saudara akan menemukan orang-orang dari agama lain yang tingkah lakunya jauh lebih baik daripada kita. Kalau saudara-saudara bandingkan bahkan bagaimana dengan tingkah laku Daud? Bukankah dia tingkah lakunya lebih jelek daripada kebanyakan orang Kristen? Tetapi dikatakan di dalam Alkitab bahwa dia adalah orang yang Tuhan sendiri itu sayangi. 4 hal ini, pertama pelayanan, yang ke-2 adalah mujizat, yang ke-3 adalah mengerti doktrin, ke-4 adalah tingkah laku. Seluruhnya adalah bukan tanda kesejatian. Lalu kemudian sekarang apa tandanya yang sejati bahwa imanku itu menyelamatkan? Apa tanda sejatinya?
Saya sudah pernah bicara dari beberapa tempat bagian dari Alkitab. Saudara-saudara pikir ini adalah hal sederhana, tetapi ini adalah suatu hal yang penting. Di dalam pelayanan-Nya, Yesus menjangkau jiwa dengan Firman-Nya, tetapi juga di dalam Firman-Nya, Dia menguji setiap orang. Di dalam Firman-Nya, Dia menyaring setiap orang. Dengan Firman-Nya, Dia memberi tahu gereja apa itu tanda kesejatian. Jadi saudara-saudara bisa melihat bahwa Firman Kristus itu melampaui pikiran kita, itu bukan satu tujuan yang single saja. Ya, ketika Dia mengabarkan Injil, ketika Dia melayani, Dia selalu adalah bicara menembus hati, menaklukkannya bagi Allah, tetapi seperti pedang bermata dua. Maka ketika Firman itu diberikan itu akan menyaring. Ada prinsip penyaringan, ada prinsip dari bijaksana sesungguhnya kesejatian itu seperti apa. Maka pada pagi hari ini saudara-saudara lihat di dalam perikop yang kita baca tadi, maka saudara akan menemukan apa yang Yesus sendiri kalimatkan berkenaan dengan iman yang sejati seharusnya seperti apa? Atau iman yang sejati secara normal, secara alamiah, yang menyelamatkan itu memiliki sign apa? Tanda apa?
Saya sendiri belajar banyak dari orang-orang Puritan. Dan salah satu dari features yang mereka miliki yang tidak dimiliki oleh banyak hamba Tuhan adalah mereka melatih diri melalui Firman-Nya menjadi seorang gembala yang bisa membedakan apa yang menjadi kondisi rohani dari jemaatnya. Karena mereka itu berbeda dengan Calvin, tetapi mereka adalah anak dari Calvin, descendants dari Calvin. Teologia Calvin mereka hidupi dan ketika mereka hidupi mereka praktekkan, mereka aplikasikan. Calvin hidup pada zaman seluruhnya adalah katolik, maka ketika dia menuliskan intitutio-nya, dia menuliskan apa sesungguhnya iman di dalam Kristus Yesus. Dan ketika orang membaca tulisan Calvin dan kemudian mendengar khotbahnya dan percaya, dengan sendirinya orang itu akan menerima iman yang sejati. Sama seperti saudara-saudara berkhotbah di depan semua orang Islam, dan ketika saudara-saudara berkhotbah, bicara mengenai Kristus dan orang yang tadinya adalah muslim lalu kemudian dia bertobat, saudara akan tahu orang ini adalah orang yang sejati. Tetapi Puritan tidak. Puritan itu seluruh England, pada waktu itu Kristen. Saudara masuk ke tempat di mana orang yang menjadi pembantu pun Kristen. Raja Kristen, militer Kristen, mereka seluruhnya persis seperti negara muslim sekarang, mereka seluruhnya adalah negara Kristen. Maka mereka tahu bahwa mengerti doktrin yang benar itu bukan satu tanda kesejatian. Mereka tahu bahwa tingkah laku Kristen itu bukan tanda kesejatian. Bahkan pada waktu orang-orang Puritan itu ada, mereka mengajar jemaat mereka mengetahui katekismus Westminster, mereka bisa bicara dan bisa menjawab dengan tepat, teologia yang presisi ada pada seluruh jemaat mereka. Tetapi Puritan tahu itu bukan jaminan dari iman yang menyelamatkan, maka Puritan sangat meneliti poin-poin ini.
Apa sesungguhnya tanda iman yang menyelamatkan? Mereka bicara ribuan halaman tentang hal ini, mereka mengeluarkan satu kalimat, lalu kalimat itu sendiri diuji dengan kalimat Yesus yang lain terus-menerus. Sama seperti seorang dokter penyakit dalam yang ahli, begitu saudara keluarkan symptoms, dokter lain pikir, “Oh ini sakit ini.” Dokter yang ahli, “Tidak, belum tentu itu.” Ada tes lagi, “Tidak, belum tentu itu.” Sampai dia temukan. Bagi kita, kita tidak terlalu pikir baik-baik. Setan membuat kita tertidur, “Oh, aku sekarang sudah di gereja yang baik, teologianya baik, aku pasti memiliki iman yang sejati, aku punya keluarga yang baik, aku berdoa dalam Kristus Yesus, aku pasti punya iman yang menyelamatkan.” Apakah sungguh-sungguh seperti itu? Apakah pernah menguji apa yang Alkitab itu katakan? Jangan cepat-cepat kita percaya kepada sesuatu yang bukan dibangun di atas dasar Firman. Saudara-saudara, dalam ayat-ayat ini, di dalam perikop yang tadi kita baca, saudara-saudara bisa melihat kalimat-kalimat Yesus yang menyatakan orang yang imannya sejati itu seperti apa. Dan pagi ini saya akan bicara berkenaan dengan apa yang Yesus bicara di dalam perikop ini saja.
Apa itu iman yang sejati tandanya, yang menyelamatkan, iman di dalam Kristus, apa tandanya? 3 hal di dalam perikop ini saja. Yang pertama adalah melakukan kehendak Bapa. Saudara-saudara lihat Matius 7:21, mari kita membaca bersama-sama. Sekarang kalau kalimat ini diberikan kepada kita pada pagi ini, dan Yesus tanya kepada kita, “Siapa yang memanggil Aku Tuhan?” Oh, semua dari kita angkat tangan, pasti kita memanggil Yesus Tuhan. Tadi kita juga nyanyi, “Yesus Tuhan,” kita doa, “Yesus Tuhan.” Tuhan itu adalah my Lord, my King, my Master, itu artinya Tuhan. Tuan, bukan pembantu. Siapa yang memanggil Yesus Tuhan? Semuanya angkat tangan. Tetapi ketika Yesus tanya pertanyaan yang ke-2, “Siapa dari engkau yang memanggil Aku Tuhan melakukan kehendak Bapa?” Saudara, di sini penyaringan. Dan kalau tidak melakukan itu, engkau bukan warga Kerajaan Surga. Saya tidak bicara ini di dalam kerangka legalism. Kalau engkau melakukan, engkau warga Kerajaan Surga, bukan. Tetapi iman yang sejati kalau itu adalah dari Roh Kudus yang bekerja, akan membangun satu kerinduan yang dalam untuk melakukan kehendak Allah. Dengan kata lain, iman yang sejati yang menyelamatkan akan menghasilkan ketaatan. Sekali lagi, iman yang sejati akan menghasilkan ketaatan.
Tidak peduli berkenaan dengan KTP kita apa. Tidak peduli saudara dan saya posisinya sebagai pengkhotbah, penatua, majelis atau jemaat. Tidak peduli berapa besar saudara punya kehebatan dalam kesaksian penyertaan Tuhan. Orang-orang Israel mengalami Allah yang adalah tiang awan dan tiang api, tetapi Alkitab dengan jelas menyatakan tidak semua mereka itu masuk ke dalam pemberhentian Allah. Tidak peduli saudara dan saya itu bersaksi seperti apa. Saudara bisa bersaksi, “Oh, kemarin saya kekurangan uang, saya tiba-tiba ditolong sama Tuhan.” Saudara bisa bersaksi itu. Alkitab mengatakan bahkan orang-orang bisa bersaksi, “Orang itu aku doakan dan sembuh. Itu penyertaan Tuhan.” Saudara-saudara, tetapi Yesus mengatakan intinya adalah ketaatan nomena. What is Christianity, apa sesungguhnya kekristenan? Apa itu sesungguhnya orang-orang Kristen adalah orang yang menaati Allah di dalam Kristus. Di dalam Matius 12:50, di atasnya saudara akan menemukan bahwa ada seseorang yang datang kepada Yesus dan kemudian dia mengatakan, “Yesus, ibumu di luar sama saudara-saudaramu, tunggu kamu.” Tapi Yesus kemudian menjawab, “Siapa ibu-Ku? Siapa saudara-Ku? Siapa saja yang melakukan kehendak Bapa-Ku di surga, dialah ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku laki-laki dan perempuan.” Saudara-saudara, Yesus menyatakan ketaatan kepada Bapa sebagai ciri utama keluarga Allah. Siapa sesungguhnya murid adalah bukan jabatan tetapi adalah ketaatannya.
Di dalam Matius 7:21 yang tadi kita baca, Yesus mengontraskan dengan tajam antara ketaatan dan pengakuan menyebut nama-Nya Tuhan. Saudara-saudara, sekali lagi di sini memunculkan satu prinsip, satu doktrin: Iman yang sejati, iman yang menyelamatkan, jikalau itu ada pada engkau dan saya, itu akan memberikan satu dorongan yang kuat untuk jiwa kita mencari kehendak-Nya dan ingin menaati-Nya. Bukan karena takut dihukum, bukan karena takut ke neraka, bukan karena mencari kehendak Tuhan. Itu kehendak Tuhan kan baik ya Pak? Tetapi adalah karena keinginan di dalam hidup yang hanya sekali ini adalah untuk melakukan kehendak Allah bagi kita. Dan orang yang berjalan di dalam jalur ini, dia akan bukan saja mencari kehendak Allah secara umum tetapi makin hari makin spesifik mencari kehendak-Nya, untuk kehendak Allah dijalaninya. Dan ketika saya mengatakan kehendak Allah, prinsip dari Alkitab bicara mengenai kehendak Allah adalah di dalam batasan ini, kehendak Allah itu selalu bersangkut-paut dengan rencana Kerajaan-Nya di muka bumi. Dan ketika kehendak Allah itu kita cari dan kita temukan, maka kita akan menemukan satu hal ini, salib adalah bagian yang menjadi integral di dalam kehendak-Nya bagi kita. Sekali lagi, salib adalah bagian integral di dalam kehendak Allah bagi kita.
Saudara-saudara, ini adalah sesuatu yang sangat jelas yang Alkitab itu nyatakan. Kalau saya punya waktu saya akan menjelaskan satu per satu dari kalimat-kalimat ini. Tetapi minimal pada pagi hari ini saudara mendapatkan satu kristalisasi, karena banyak orang suka bicara kehendak Allah, dan kemudian setelah kebaktian ini saudara-saudara pikir, “Ya, ya kehendak Allah.” Saudara-saudara, saya takut ketika bicara mengenai kehendak Allah, karena begitu banyak orang Kristen gampang sekali bicara mengenai kehendak Allah bahkan memutar-balikkan sifat Allah dengan kalimat kehendak Allah. Suatu hari, benar-benar ini pernah terjadi, ada seorang yang dari gereja lain datang ke tempat kami, bertemu dengan istri saya dan kemudian meminta waktu untuk konseling. Dan intinya ketika dia bicara itu adalah dia mau cerai dari suaminya. Dan ketika konseling itu kemudian istri saya menyatakan itu adalah sesuatu hal yang tidak baik, bukan tidak baik, itu adalah berdosa dan tidak benar, itu tidak boleh terjadi, kemudian dia langsung marah dan menggebrak meja. Dan kemudian dia mengatakan, “Saya sudah sadar padahal Tuhan itu sudah bicara kepada saya untuk tidak konseling hari ini.” Saya waktu itu tidak ada di kantor. Kalau saya ada di kantor, dia pakai nama itu, maka saya akan pasti marah, “Engkau menggunakan nama Allah dengan sia-sia.”
Banyak orang bicara kehendak Allah. Kehendak Allah. Satu lagi orang di Bandung, bukan dari jemaat kami. Saya tiba-tiba dikenalkan oleh orang dan orang itu kemudian datang dan bicara dengan saya beberapa puluh tahun yang lalu. Orang ini adalah seorang perempuan yang sangat aktif dalam pelayanan dan kurang lebih adalah sama, dia melihat suami dan anak-anaknya tidak ada menyokong dia dalam pelayanan. Dan kemudian dia ajak-ajak terus suaminya. Suaminya tidak mau untuk bersama dengan dia sehati. Dan kemudian dia sampai kepada kesimpulan bahwa adalah kehendak Allah untuk menceraikannya. Maka kemudian saya katakan, “Itu tidak benar. Itu pasti bukan kehendak Allah.” Kami berdebat di dalam area seperti itu. Terlalu banyak orang gampang sekali bicara mengenai kehendak Allah. Calvin sendiri menyatakan dua kalimat ini memiliki kehormatan tertinggi. Pertama adalah Allah. Yang ke-2 adalah kehendak Allah. Saudara-saudara, Alkitab mengatakan, “Jangan sembarangan menyebut nama Allah.” Dan itu artinya juga jangan sembarangan mengatakan, “Ini kehendak Allah.” Tetapi Alkitab dengan jelas mengatakan, maka kita harus mencari kehendak Allah. Kita harus mengabdikan hidup kita yang sia-sia satu kali ini dalam waktu yang terbatas untuk melakukan kehendak-Nya. Dan sekali lagi ketika Yesus mengatakan, “Pada-Ku ada makanan yang engkau tidak tahu. Dan makanan-Ku adalah melakukan kehendak Allah.” Maka kalimat Yesus itu artinya adalah salib.
Sekali lagi ketika bicara berkenaan dengan tanda iman yang sejati adalah iman yang sejati itu akan mendorong kita untuk mencari apa yang Kau kehendaki untuk aku genapi di dalam hidup yang singkat ini, Bapa. Dan ketika kehendak Allah itu diketahui, dijalani, maka salib adalah bagian integral di dalamnya. Itu adalah tanda dari iman yang menyelamatkan. Apa sih artinya iman yang menyelamatkan? Menyelamatkan dari apa? Menyelamatkan dari dunia ini. Menyelamatkan dari dunia ini maksudnya apa? Dari kumpulan orang-orang yang menentang kehendak Allah sehingga menyelamatkan kita dari murka Allah. Iman yang sejati. Saudara perhatikan baik-baik kalimat di bawah ini. Iman yang sejati adalah iman yang mendorong kita mengaitkan hidup yang singkat ini dengan rencana Allah yang kekal untuk kerajaan-Nya ditegakkan di bumi ini. Sekali lagi, iman yang sejati adalah iman yang mengaitkan hidup kita yang singkat ini dengan rencana Allah yang kekal untuk Kerajaan-Nya ditegakkan di muka bumi ini.
Sekarang saya akan masuk ke dalam poin yang kedua di dalam perikop ini. Apa tanda dari iman yang menyelamatkan? Tanda ke-2 adalah mengenal Kristus atau lebih tepatnya adalah dikenal Kristus. Saudara lihat Matius 7:23, “Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata, “Aku tidak pernah mengenal kamu!” Aku tidak pernah mengenal kamu. Saudara-saudara, jadi kalau iman itu sejati maka orang tersebut dikenal oleh Kristus. Mengenal dan dikenal oleh Kristus. Saya akan jelaskan. Kata ‘mengenal’ ketika ini dikatakan dalam Alkitab, itu adalah kata yang dipakai untuk dua orang suami istri bersetubuh. Mereka memiliki hubungan seks. Jadi di dalamnya adalah dalam kesucian, keterbukaan, ada intimasi, ada sharing life. Saudara-saudara perhatikan kata ‘mengenal’, kalau saudara-saudara mau Perjanjian Lama atau Perjanjian Baru, prinsipnya sama. Adalah orang yang terbuka hidupnya di hadapan Tuhan. Memiliki intimacy, memiliki sharing life. Di dalam bahasa Calvin dan Puritan itu disebut sebagai communion. Sekali lagi itu bukan communication. Komunikasi atau communication itu adalah sharing ide, sharing tukar-menukar pikiran, tukar-menukar kata. Tetapi communion itu adalah bicara mengenai sharing life. Communion with God adalah respon alami terhadap union with Christ yang terjadi. Sekali lagi saudara-saudara, ini adalah kalimat penting. Kalau saudara dan saya disatukan dengan Kristus, uniknya saudara dan saya akan memiliki kerinduan yang dalam untuk sharing our life dengan Kristus. Ini adalah suatu respon dari union with Christ.
Orang yang dilahirbarukan salah satu tanda sejatinya adalah dia sekarang melibatkan satu Pribadi di luar dia di dalam seluruh hidupnya. Hidupku bukannya aku lagi tetapi Kristus yang hidup dalam aku. Itulah sebabnya saudara-saudara di dalam banyak kasus melihat seseorang lahir baru atau tidak, bertumbuh atau tidak, memiliki iman yang menyelamatkan atau tidak, salah satu tanda sejatinya adalah dia bersaat teduh atau tidak. Kalimat ini adalah kalimat kebenaran, tapi Saudara tidak bisa membaliknya. Saudara tidak bisa, karena tanda sejati adalah saat teduh, maka besok saudara-saudara akan saat teduh. Saudara akan lihat bahwa saudara-saudara akan makin lama makin tidak ingin saat teduh kalau saudara bukan anak Tuhan. Sekali lagi, Alkitab tidak pernah mengajarkan legalism. Legalism adalah pengajaran mengatakan, “Aku lakukan ini maka aku dapat ini.” Alkitab adalah bicara berkenaan dengan Injil kasih karunia. Apa yang dikatakan Alkitab adalah jikalau kita mendapatkan kasih karunia kelahiran kembali maka kita akan memiliki satu sikap alamiah untuk mencari wajah Allah setiap hari. Ada kerinduan yang muncul dengan sendirinya. Iman yang sejati akan berseru, “Kenallah aku ya Tuhan.” Iman yang sejati akan berseru, “Aku ingin dekat dengan Engkau Tuhan.” Tidak pernah puas. Ada keinginan, kegairahan mengejar karena kita sendiri sudah ditangkap oleh Kristus, demikian kata Paulus. Ingin ‘dikenal’ dan ingin ‘mengenal’, bukan cuma ingin ‘tahu’. Ini 2 hal yang sungguh-sungguh berbeda. ‘Kenal’ itu suatu experiental, suatu pengalaman, tetapi ‘tahu’ itu adalah urusan rasio saja. Orang-orang Puritan mengatakan ‘kenal’ itu adalah pemberian anugerah yang lain, lebih daripada sekedar ‘tahu’. Saudara-saudara, ‘tahu’ adalah respon tanggung jawab kita untuk belajar Alkitab, mengerti Alkitab itu ‘tahu’. Tetapi ‘kenal’ adalah mengalami Alkitab. Saudara-saudara, ada 2 hal yang beda, sekali lagi mempelajari Alkitab itu adalah respon kita, itu adalah tanggung jawab kita, tetapi ketika bicara mengenai iman yang menyelamatkan, saudara akan tahu bahwa Roh Kudus akan membawa bukan saja tahu, tetapi mengalami Alkitab. Itu disebut sebagai experiential theology. Kalau saudara-saudara bicara mengenai experiental, saudara-saudara akan pikir, “Oh, itu orang karismatik.” Bukan. Karismatik itu salah karena mereka membangun teologia dari pengalaman subjektif. Pengalaman-pengalaman subjektif. Tetapi ketika orang-orang Puritan mengatakan experiential theology, itu artinya adalah Alkitab yang hidup, Alkitab yang dialami.
Saudara-saudara, seorang teolog reformed masa kini yang sangat-sangat dihormati dan sangat dalam pengajarannya adalah Sinclair Ferguson. Dia adalah seorang pastor di Glasgow, Skotlandia. Sebelum dia kembali ke Skotlandia negara asalnya, dia adalah pengajar systematic theology dari Westminster Theological Seminary. Pada pembukaan kelas doktrin Roh Kudusnya, dia berkata demikian, “Tujuan teologia adalah penyembahan kepada Allah. Sikap teologia adalah berlutut dan cara teologia, mode teologi adalah pertobatan.” Itu adalah experiential theology. Kalau saudara dan saya mendapatkan dari Roh Kudus yang melahirbarukan, memberikan iman yang menyelamatkan, apa pun teologia yang kita pelajari, maksud saya adalah doktrin apa pun saja, dan kalau itu kembali kepada Alkitab, itu akan membuat kita makin menyembah kepada Allah, makin membuat kita berlutut kepada Dia, dan makin membuat kita memiliki kebiasaan habit yaitu repentance.
Ketika saya mempersiapkan hal ini saya sedih, karena di gereja ini tidak banyak orang berdoa. Sekali lagi, tiba-tiba ada kesedihan di dalam hati saya, karena saya tahu banyak sekali dari orang-orang di gereja ini yang jarang berdoa, yang tidak berdoa. Sulit, bahkan tidak mau, bahkan tidak punya keinginan dan bahkan tidak ada prioritas untuk berdoa berlutut bersama-sama setiap hari Sabtu. Symptom seperti ini menandakan tidak banyak pertumbuhan yang terjadi. Saya tidak mengatakan bahwa yang berdoa itu pasti, semua yang datang berdoa itu adalah karena pertumbuhan, saya tidak katakan itu, tetapi saya bisa katakan banyak orang yang tidak berdoa, tidak tertarik berdoa, tidak memiliki urgency berdoa, melihat prioritas yang lain lebih daripada berdoa, itu menyatakan ada suatu sakit di dalam kerohaniannya yaitu kurangnya pengenalan akan Allah. Saudara bisa mendebatkan hal ini tetapi lihatlah Alkitab. Saudara bisa mendebatkan dalam pikiran, tetapi Tuhan menginginkan pertobatan. Lihatlah dalam Alkitab, orang yang bertumbuh pasti mengejar Allah. Orang yang bertumbuh pasti mengerti pentingnya berlutut memperjuangkan gereja Tuhan di muka bumi. Saya terbuka untuk saudara-saudara uji. Ujilah kalimat-kalimat ini. Tetapi biarlah satu hal, seluruh dari kita tunduk kepada kebenaran. Doa itu kalau tidak berkobar adalah tanda dari hati kita yang kurang bertumbuh. Dan itu adalah salah satu tanda vital, sangat vital. Dan saudara bisa melihat sejarah gereja, saya bisa bicara ini berjam-jam. Saudara lihatlah ketika satu gereja atau satu kota yang terdiri dari gereja-gereja, ada satu kebangunan atau satu pembaharuan secara rohani, saudara lihat apa yang terjadi yaitu doa, pasti doa. Saudara-saudara mengenal dan dikenal oleh Kristus. Saudara-saudara mengenal dan dikenal oleh Kristus.
Tadi pada waktu saya datang jalan ke sini bersama dengan istri saya, dalam perjalanan dengan mobil, istri saya drive dan saya menatap ke langit, dan kemudian saya melihat, menyadari sendiri betapa kecilnya kita. Dan Dia yang pencipta langit dan bumi itu meletakkan kalimat-Nya kepada kami hamba-hamba Tuhan. Kemudian saya mengatakan kepada istri saya, “Kita ini orang yang terlalu berani. Kita tuh gak kenal Tuhan loh, kok berani ngomong ya?” Istri saya kemudian mengatakan, “Ya, semua nabi seperti itu.” Ya, sangat-sangat kecil pengenalan akan Allah itu, bukan? Dan sangat sedikit, lalu kita harus bicara kepada dunia ini. Dan suatu hari kita semua akan datang ke hadirat-Nya, Dia begitu besar dan kita tahu apa yang kita tahu itu sangat-sangat kecil, seperti pasir di laut di tengah-tengah seluruh pantai seluruh dunia. Kita membutuhkan anugerah yang merendahkan hati kita. Dan ketika itu diberikan, itu akan membuat lutut kita bertelut. Itu membuat kita meratap meminta kepada Dia menyatakan diri-Nya lebih kepada kita. Kita membutuhkan anugerah yang membuat kita rendah hati. Kita sudah mendapatkan anugerah Allah, tetapi apakah itu membuat kerendahan hati? Oh, kita mendapatkan suami, istri, anak-anak, ekonomi, keadaan tubuh yang baik, lalu kita melihat orang lain yang keluarganya tidak baik, pekerjaannya kurang beruntung, kemudian kita merasa bersyukur atau aduh, untung ya, aduh, Tuhan itu baik loh, gak seperti dia. Apakah kekristenan seperti itu? Tidak! Kekristenan ketika kita mendapatkan anugerah membuat kita berlutut. Saya tidak tahu harus seperti apa karena pertumbuhan rohani kita semua itu di tangan Tuhan. Tetapi tanda kesejatian adalah mengenal dan dikenal oleh Allah. Dan itu tidak pernah akan ada kecuali orang tersebut itu terlihat berlutut dengan air matanya memohon belas kasihan-Nya. Kiranya Tuhan mendengarkan seruan kita. Kiranya Dia memberikan pertumbuhan dan iman yang sejati di tengah-tengah gereja-Nya. Mari kita berdoa.
GRII Sydney
GRII didirikan di atas dasar Pengakuan Iman Reformed Injili dengan tujuan menegakkan satu gereja yang berbasiskan teologi Reformed, dengan mimbar yang menyampaikan khotbah ekspositoris, read more