Ringkasan Khotbah

29 June 2025
Eksposisi Matius: Tanda Iman yang Menyelamatkan (3)
Pdt. Agus Marjanto, M.Th · Mat 7:24-29

Mat 7:24-29

Sekali lagi, kita sudah sampai di dalam akhir-akhir kalimat Yesus dari khotbah di Bukit. Matius pasal 5-7 terakhir adalah satu rangkaian khotbah pengajaran di bukit oleh Tuhan Yesus, dan di dalam pengajaran ini Yesus mau mendirikan satu komunitas umat-Nya. Dan komunitas umat-Nya memiliki moral teologi yang berbeda dengan dunia, sehingga kalau saudara memperhatikan dari sejak khotbah ini, pertama saudara akan menemukan prinsip-prinsip etika atau prinsip-prinsip moral teologi yang Yesus ajarkan, yang berbeda dengan orang Israel pada waktu itu, guru-gurunya dan bahkan oleh dunia. Dan uniknya, setelah Yesus Kristus menyelesaikan pengajaran-Nya, Dia tidak meninggalkan murid-murid-Nya, Dia kemudian menutupnya dengan ucapan-ucapan waspada. Saudara-saudara perhatikan Khotbah di Bukit, dimulai dengan ucapan “Berbahagialah”, Khotbah di Bukit diakhiri dengan kalimat “Waspadalah”. Yang pertama adalah “Berbahagialah” tetapi kemudian di akhir adalah “Waspada”. Waspada apa? Yesus tidak sedang bicara berkenaan dengan sesuatu pengajaran yang positif saja, tetapi Yesus juga menutup dengan sesuatu hal yang negatif. Waspada apa? Waspada adalah karena adanya sesuatu yang di dalam berbeda dengan yang di luar. “Di tengah-tengah jemaat yang Aku dirikan ada kepalsuan di dalamnya. Musuh itu datang menyuntikkan kepalsuan di tengah-tengah jemaat yang Aku dirikan. Umat-Ku sendiri terlibat di dalam kepalsuan.” Maka di dalam akhir-akhir Khotbah di Bukit, sekali lagi Yesus bicara mengenai “Waspada” karena ada kepalsuan di tengah-tengahmu. Kata kepalsuan ini adalah kata yang sangat-sangat berbahaya, kalau saudara-saudara tidak menemukan sesuatu yang asli, itu luar biasa bahaya. 

Kalau saudara membeli sebuah tanah dan kemudian saudara mendapatkan surat tanah, dan kemudian setelah lima tahun kemudian ada orang yang klaim tanah itu, memiliki surat yang asli, dan saudara baru sadar itu surat palsu, saudara rugi miliaran. Kalau saudara dan saya kemudian menikah, dan kita berpikir bahwa “Oh, pasangan kita mengasihi kita”, tetapi ternyata dia itu palsu, dia selama ini berpura-pura, maka saudara akan menemukan neraka di tengah-tengah kehidupan kita sampai kita mati. Bukankah berkali-kali kita dari mimbar dan semua orangtua kita, ketika anak kita berpacaran, terus kita kasih warning: lihat baik-baik, mata buka baik-baik, jangan sampai ketipu. Itu kalau bicara mengenai surat tanah. Itu bicara mengenai relasi suami istri. Tetapi bagaimana dengan pengajaran? Kita berpikir pengajaran bukan sesuatu yang penting, tetapi ketika pengajaran yang kita anggap benar itu salah, maka taruhannya adalah kekekalan. Yang pertama taruhannya adalah rugi uang, yang kedua adalah taruhannya seumur hidup di dunia, tetapi pengajaran yang salah yang kita ikuti taruhannya adalah kekekalan. Oh, yang Yesus sedang katakan, Dia bukan mengecam orang Islam, atau orang Hindu, atau orang Budha, karena yang Dia sedang katakan adalah ada pengajar yang tidak beres dan ajaran-ajaran yang tidak beres di dalam gereja. Ada orang yang mengatakan “Tuhan, Tuhan, kami bernubuat demi nama-Mu, kami melakukan mujizat demi nama-Mu”. Tetapi Yesus katakan, “Enyahlah, Aku tidak pernah mengenal engkau!” Sekali lagi perhatikan, kalimat Yesus ini adalah kalimat di dalam circle gereja. Dia tidak sedang berapologetik dengan orang-orang di luar gereja dengan agama lain, Dia sedang berbicara mengenai kita, bicara berkenaan dengan gereja. Maka beberapa minggu yang lalu, terus menerus saya membawa saudara-saudara untuk memperhatikan kalimat Yesus, kalau begitu maka sekarang bagaimana saya bisa tahu iman yang saya punya itu adalah iman yang sejati? Apa tanda iman yang sejati? Di dalam Alkitab, ada beberapa tanda-tanda iman yang sejati. Dan kita tidak bicara tentang hal-hal itu karena itu adalah sesuatu eksposisi yang lain. Tetapi saya hanya membatasi dari kalimat Yesus di akhir dari Khotbah di Bukit ini, apa yang Yesus katakan mengenai tanda yang sejati? Saya sudah bicara mengenai dua tanda dan hari ini saya bicara mengenai tanda yang ketiga. 

Tanda yang pertama adalah di katakan di sini, “Melakukan kehendak Bapa-Ku di Surga”. Yesus mengatakan, ”Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku, Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Surga, melainkan orang yang melakukan kehendak Bapa-Ku di Surga.” Saudara sekarang bisa melihat paradoksikal di dalam pelajaran Alkitab, setiap kita biarlah menjadi orang yang benar-benar mengenal Alkitab. Jangan ambil satu ayat dan kemudian menyimpulkan semuanya di sana. Tetapi lihatlah keseluruhan dari ayat Alkitab baru saudara dan saya mengerti arti sesungguhnya. Di dalam Alkitab, bukankah ada kalimat, “Tidak ada seseorang yang bisa mengaku Yesus itu Tuhan kalau tidak ada Roh Kudus di dalamnya?” Dan kalau saudara-saudara mengambil ayat itu, berarti saya itu mengaku Yesus Tuhan, maka itu artinya saya adalah anak Tuhan sejati. Tetapi, itu hanya satu bagian Alkitab, ada bagian lain yang melengkapi semuanya. Yesus mengatakan, “Kamu bilang Aku ‘Tuhan, Tuhan!’, Aku katakan kepadamu, engkau mau katakan ‘Tuhan, Tuhan!’, tetapi engkau tidak melakukan kehendak Bapa-Ku di Surga, engkau bukan warga negara Kerajaan Surga.” Sekali lagi, ketika saudara melihat dari ayat-ayat Alkitab dan saudara teliti dan mengumpulkannya, saudara akan tahu arti sesungguhnya. Pengajaran yang jelek adalah pengajaran yang cuma mengambil satu bagian Alkitab dan kemudian berdiri kokoh di dalam ayat itu, tidak tahu ada sesuatu yang terjadi sesungguhnya. Ini adalah sesuatu hal yang kita harus hati-hati. “Oh, saya sudah terima Yesus,” “Kenapa?” “Karena saya menganggap Yesus Tuhan, saya anak Tuhan, saya sejati.” Yesus katakan, “Engkau mengatakan Aku, ‘Tuhan, Tuhan’, tapi engkau tidak melakukan kehendak Bapa-Ku.” Maka saudara perhatikan intinya sekali lagi. Ini bukan suatu pengakuan mulut ‘Tuhan, Tuhan’, tetapi ini adalah keputusan hati men-Tuhankan Dia. Apa tanda pertama? Apakah ada ketaatan di dalam hidup kita? Apakah sungguh-sungguh kita itu mau taat? 

Tanda yang kedua, maka di dalam Alkitab dikatakan pada hari terakhir banyak orang berseru kepada-Ku “Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, mengusir setan demi nama-Mu, melakukan banyak mujizat demi nama-Mu? Pada waktu itu Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata, “Aku tidak pernah mengenal kamu!” Saya sudah pernah bicara ini begitu panjang, saya tidak akan ulangi lagi. Tapi ini bebicara mengenai mengenal dan dikenal oleh Allah. Mengenal dan dikenal itu berarti ada suatu intimacy. “Yada” artinya adalah memiliki hubungan yang intim, terbuka, mengenal. Setiap orang Kristen yang sejati, yang memiliki Roh Kudus, saudara dan saya, tidak akan tenang kalau saudara meninggalkan kamar kita sebelum kita mengahadap wajah Allah. Sekali lagi, banyak orang yang tidak tenang hidupnya kalau handphone ketinggalan di rumah, tetapi tidak memiliki satu kegelisahan kalau kita tidak menghadap Allah dan minta anugerah Tuhan. Saya tidak lagi meneruskan hal ini, sekarang saya akan masuk ke dalam tanda ketiga. 

Tanda ketiga, di sini Yesus katakan, “Aku tidak pernah mengenal kamu, enyahlah dari hadapan-Ku hai kamu yang melanggar perintah Allah atau pembuat kejahatan.” Apa poin yang ketiga tentang tanda kesejatian? Adalah kalau proses sanctification (pengudusan) itu terjadi di dalam hidup kita. Tiga hal ini: pertama adalah ketaatan, kedua adalah relasi yang intim dan ketiga adalah proses pengudusan. Apakah itu terjadi di dalam hidup kita? Yesus Kristus mengatakan, “Waspada!” Sekarang saya akan jelaskan apa poin yang ketiga ini. 

Kalimat Yesus di sini memiliki nada yang sama dengan apa yang ada di dalam kitab Wahyu; “Aku akan memuntahkan engkau, hai gereja Laodikia, karena engkau tidak dingin, engkau tidak panas, engkau suam-suam kuku.” Apa artinya? Hati yang terus mendua. Tadi saya sudah katakan poin yang ketiga bicara berkenaan kesucian. Ketika saudara dan saya bicara berkenaan kesucian, apa yang ada dalam pikiran kita? Kesucian bukan bicara berkenaan dengan dosa seksual saja, kesucian adalah bicara mengenai sepenuh hati didedikasikan bagi Allah sepenuhnya, seluruhnya. Yesaya 6, ketika Yesaya bertemu dengan Allah yang suci dan seluruh malaikat itu mengatakan “Kudus, kudus, kuduslah Tuhan”, maka ini adalah Trisagion. Ini adalah bicara berkenaan dengan kekudusan yang dinyatakan tiga kali, bukan dua kali, bukan satu kali, tiga kali. Saudara tidak akan pernah menemukan di dalam Alkitab: Allah itu benar, benar, benar. Allah itu kasih, kasih, kasih. Satu-satunya sifat Allah yang diulang tiga kali hanyalah kekudusan. “Engkau adalah Allah yang kudus, kudus, kudus”. Kemudian Yesaya berespon dan menyatakan dosa yang ada di dalam dirinya. Dan kalimat yang diutarakan Yesaya adalah “Celaka aku! aku binasa!” Dalam bahasa aslinya, kalimat “Celaka aku! aku binasa!” adalah sama seperti sebuah gelas yang dilepaskan jatuh berkeping-keping di lantai. Saudara bisa melihat sekarang perbandingannya, Allah yang suci dan satu kehidupan Yesaya yang terpecah. Proses pengudusan adalah proses menyatukan seluruh pecahan karena dosa ini, menjadi satu utuh di hadapan Allah. Ini adalah sesuatu proses yang hanya bisa dikerjakan oleh Roh Kudus. Saudara tidak mungkin bisa mendapatkannya dengan pendidikan, dengan politik, dengan uang saudara. Tidak mungkin. Dosa sudah membuat kita terpecah di hadapan Allah. Ya, mungkin kita memiliki keringanan untuk mendekat kepada Allah pada saat yang sama kita pecah, disintergrated. Maka sekali lagi, proses pengudusan adalah proses menyatukan seluruh keterpecahan kita ini, menjadi satu dan didedikasikan bagi Allah. Ini adalah tanda utama dari Roh Kudus bekerja. Inilah yang disebut sebagai materai dari Roh Kudus. Roh Kudus adalah materai kita, karena materai itu bukan saja Roh Kudus, tetapi apa yang dikerjakan Roh Kudus kepada kita; yaitu kesucian. Seseorang yang diselamatkan akan masuk di dalam proses kesucian, dan perlahan-lahan tetapi sampai kepada kekekalan yaitu glorification (kemuliaan). Thomas Watson seorang Puritan mengatakan, “Pengudusan adalah kemuliaan di dalam benih dan kemuliaan adalah pengudusan di dalam bunga.” Beberapa waktu yang lalu ada seseorang tanya kepada saya, “Pak, saya mau tanya, apa arti dimuliakan? Bukankah suatu hari kita akan dimuliakan?” Bukankah ada empat titik dari worldview kita? Yaitu adalah creation (penciptaan), fall, redemption and glorification. Kita yang dicipta, dan kita sudah jatuh ke dalam dosa, kemudian kita diselamatkan, kita ditebus oleh Yesus Kristus, dan kita akan menuju kepada kemuliaan. Orang tersebut tanya kepada saya, “Apa arti kita akan dimuliakan?” Ada beberapa arti. 

Yang pertama, tentu adalah bahwa kita akan dimuliaakan itu artinya kita akan bersama dengan Kristus selama-lamanya. Bersama dengan Kristus selama-lamanya itu adalah kemuliaan kita. Tuhan beserta dengan kita itulah janji di atas seluruh janji dan itu yang membedakan kita dari bangsa-bangsa lain. Itu adalah identity kita dan itu adalah kemuliaan kita, yaitu Kristus ada di tengah-tengah kita. Dan apa yang sekarang kita itu imani? Dan apa itu yang sekarang menjadi de jure, maka suatu hari kita akan bertemu muka dengan muka dengan Dia dan menjadi de facto. Itu sunguh-sungguh menjadi kenyataan. Apa yang sekarang itu sudah ada, akan disempurnakan di dalam kekekalan kita beserta dengan Kristus, itulah kemuliaan. Kristus ada di tengah-tengah kita, itulah kemuliaan kita. 

Yang kedua, dimuliakan itu adalah kita disempurnakan di dalam kekudusan kita. Kita diberi kesucian yang adalah sifatnya Allah itu sendiri. Kesucian itu adalah sifatnya Allah, kesucian adalah kebahagiaan-Nya Allah, kesucian adalah keindahan-Nya Allah, kesucian adalah kemuliaan Allah. Musa menyatakan di dalam Keluaran 15: “Engkau itu mulia di dalam kekudusanmu.” Saudara-saudara tidak bisa memisahkan kesucian dengan kemuliaan, karena itulah pelajaran dasar Alkitab kita. Suatu hari Musa itu bicara kepada Tuhan “Show me Thy glory”, kemudian Tuhan itu bicara “Tidak ada seseorang yang bisa melihat Aku dan tetap hidup, dan Aku akan mengasihani kepada siapa Aku akan mengasihani. Besok engkau datang ke gunung itu, dan engkau pastikan tidak ada satu manusia, tidak ada satu hewan pun di gunung itu dan Aku akan melewatkan kegemilangan, kemuliaan-Ku di depan matamu dan engkau harus berada di dalam lekuk gunung itu, engkau bersembunyi di sana.” Kemudian Tuhan itu melewatkan kemulian-Nya, dan ketika Tuhan melewatkan diri-Nya di depan Musa, di tengah-tengah Dia melewatkan diri-Nya sambil berjalan, Dia sambil mendeklarasikan diri-Nya.

 Saudara-saudara, mari kita melihat ayat yang luar biasa indah, penting ini, saudara sekarang lihat apa yang dideklarasikan Allah mengenai diri-Nya, Keluaran 34:6-7: ‘Berjalanlah TUHAN lewat dari depannya dan berseru: “TUHAN, TUHAN, Allah penyayang dan pengasih, panjang sabar, berlimpah kasih-Nya dan setia-Nya, yang meneguhkan kasih setia-Nya kepada beribu-ribu orang, yang mengampuni kesalahan, pelanggaran dan dosa; tetapi tidaklah sekali-kali membebaskan orang yang bersalah dari hukuman, yang membalaskan kesalahan bapa kepada anak-anaknya dan cucunya, kepada keturunan yang ketiga dan keempat.”’ Jadi Allah itu sedang berjalan dan kemudian memproklamirkan diri-Nya, Dia memproklamirkan sifat-Nya. Perhatikan baik-baik, tidak ada kata kesucian di dalamnya. Tidak ada kata kesucian, yang ada: panjang sabar, berlimpah kasih setia. Tetapi saudara perhatikan tadi saya sudah katakan, kalau memang Allah itu berlimpah kasih setia, panjang sabar, kenapa Dia ketemu sama seseorang, orang itu mesti mati? Maka saudara bisa melihat seluruh sifat Allah itu ada di dalam cangkang, di dalam seluruh inti kesucian. Kesucianlah yang membuat kita itu mati, Dia tidak perlu mengungkapkan diri-Nya suci, Dia itu Suci itu sendiri, sehingga saudara dan saya tidak pernah bisa memisahkan cinta-Nya dengan kesucian-Nya, cinta-Nya adalah cinta yang suci, benar-Nya adalah benar yang suci, murah hati-Nya adalah murah hati yang suci, kemarahan-Nya adalah kemarahan yang suci. Di Surga, Dia bertahta dengan seluruh sifat-Nya yang suci, Dia itu suci adanya. Maka tidak ada satu dosa terkecil pun bisa bertahan di depan mata-Nya. Allah yang suci itulah kemuliaan-Nya. “Show me Thy Glory” demikian kata Musa. Maka kemudian kesucian Allah itu lewat. Kesucian dan kemuliaan itu dua hal yang tidak pernah bisa dilepas, itulah sebabnya saudara-saudara, dunia yang rusak ini, dunia ini membutuhan orang-orang suci-Nya Tuhan. Dunia sudah membuang kesucian, dunia sudah menertawakan kesucian, tapi sesungguhnya dunia itu membutuhkan kesucian. 

Sekali lagi ketika kita berbicara berkenaan dengan iman yang sejati, itu adalah iman yang terus bertumbuh di dalam kesucian, tentu kita tidak mungkin sempurna ketika kita di dunia ini, kita masih ada dosa, tetapi ketika kita menjadi anak Allah, Roh Kudus itu hadir di tengah-tengah kita. Dan apa yang dikerjakan oleh Roh Kudus dalam hidup kita? Roh Kudus akan menurunkan kuasa dosa yang ada di atas tahta hati kita. Ya, dosa masih memiliki kehidupannya, tetapi kita tidak lagi harus diperalat oleh dosa yang ada di atas hati kita sebelumnya. Kristuslah yang bertahta di dalam hati kita, bukan dosa. Itulah sebabnya di Alkitab dikatakan, kita diperintah, kita ditugaskan: matikanlah dosa. Sekali lagi, ini seluruhnya bukan dalam kerangka legalism, bukan kerangka dari orang Farisi, tetapi dalam kerangka kasih karunia. Kasih karunia sudah menjangkau kita, Roh Kudus sudah hadir tengah-tengah kita, Dia memberikan hati yang baru. Alkitab mengatakan, “Aku memberikan hati yang baru.” Apa itu hati yang baru? Yeremia mengatakan, “Maka tulisan-tulisan itu bukan saja lagi ada di dalam loh batu tetapi tulisan itu ada di dalam hatimu.” Iman yang menyelamatkan, kalau saudara dan saya adalah sungguh-sungguh milik Allah, bukan sesuatu yang palsu, saudara dan saya akan berteriak seperti pemazmur, “Aku menyukai hukum-hukum-Mu, aku menyukai hukum-hukum Mu. Bukan supaya kita pergi ke Surga, tetapi karena Engkau sudah mengubah hidupku, mengubah hatiku.” Itulah kenapa poin yang kedua ini saya katakan kepada saudara-saudara, apa tanda sejati? Yaitu jikalau di dalam hati kita, hidup kita, ada pengubahan makin lama makin suci. Dan orang-orang yang mengalami ini, ya dia bisa jatuh  dalam dosa, kita bisa jatuh dalam dosa seperti Daud, tetapi tidak akan munafik, kita akan mengakuinya di depan Allah dengan air mata, kita akan minta anugerah Dia untuk mengampuni dan kembali hidup suci, kita tidak akan mempertahankan dosa kita. Tidak ada satu orang Kristen manapun saja yang mempertahankan dosa, dan saudara berpikir bahwa kita tetap bisa masuk Surga. Kita tidak pernah boleh mempertahankan dosa. Kita bisa jatuh, tetapi kalau kita mempertahankan dosa, itu berarti bahwa kita menyetujui kehadirannya, kita menghendakinya dengan sepenuh hati kita. Itu berarti kita tidak mengalami proses pengudusan, karena proses pengudusan akan membuat kita sejalan dengan Roh Kudus untuk mematikan dosa. Tujuan setiap orang percaya yang sejati itu akan sejalan dengan tujuan Roh Kudus, yaitu menghancurkan dan mematikan dosa. John Flavel bahkan mengatakan seperti ini, “Kalau engkau melihat kematian, maka engkau tidak akan memiliki penghiburan.” Benar, kalau kita sudah menghadapi kematian, bahkan orang yang beriman pun itu bisa gemetar, sampai gemetar itu akan hilang, kenapa? Karena orang beriman ini kemudian melihat bahwa kematian itu yang membebaskan dia dari dosa dan mereka akan masuk, kita akan masuk di dalam pandangan menikmati Allah selama-lamanya, itulah penghiburan. Karena orang yang beriman sejati akan berteriak seperti Paulus “Celaka aku, siapa yang bisa membebaskan aku dari tubuh jahanam ini? Aku ini, oh manusia celaka karena berlaku dosa terus.” Itulah tanda kesejatian, itu adalah tanda iman yang sejati, bukan berkhotbah, bukan melakukan mujizat, bukan menyembuhkan, bukan mengusir setan, itu seluruhnya hanya lapisan luar dari agama. Yesus mengatakan, “Enyahlah engkau, Aku tidak kenal engkau hai engkau pembuat kejahatan, engkau adalah law breaker.” Saudara-saudara, engkau adalah yang memecah, menghianati hukum, engkau tidak menyukai hukum. Roh Kudus, ketika Dia bekerja, Dia akan membuat hati kita itu mengasihi hukum dan melakukannya meskipun mungkin gagal, tapi akan bangkit lagi melakukannya, mungkin gagal lagi tapi bangkit lagi. Sekali lagi, orang seperti ini bisa jatuh tetapi tidak mungkin munafik, dia tidak mungkin akan kelihatannya baik di luar dan pelayanan tetapi kemudian memegang dosa terus. Tadi saya sudah katakan pada saudara, satu kalimat yang penting ini, dulu saya tidak berani mengatakan hal ini, karena saya berpikir bahwa orang pokoknya kalau dalam Kristus Yesus, dosa apapun saja yang dia pegang dia akan tetap masuk Surga, sampai kemudian saya makin mengenal dari Firman, saudara silahkan uji. Sekali lagi saya katakan, tidak ada satu orang Kristen sekalipun yang mengatakan, “Aku terima Yesus Kristus,” dan kemudian kita memegang erat dari dosa itu, dan kemudian saudara dan saya berasumsi, berpikir kalau kita masuk Surga, sama sekali tidak ada. 

Mari kita melihat sekarang apa yang terjadi di Surga, mari kita melihat Wahyu 21:8: “Namun orang-orang penakut, orang-orang yang tidak percaya, orang-orang keji, orang-orang pembunuh, orang-orang sundal, tukang-tukang sihir, penyembah-penyembah berhala dan semua pendusta, mereka akan mendapat bagian mereka di dalam lautan menyala-nyala dengan api dan belerang; inilah kematian yang kedua.” Saudara perhatikan ayat 27: “Namun tidak akan masuk ke dalamnya yang najis, atau orang yang melakukan kekejian atau dusta, tetapi hanya neraka yang namanya tertulis di dalam kitab kehidupan Anak Domba.” Saudara berpikir, aku sudah dalam Kristus pokoknya aku dusta aja, aku akan dusta kepada anakku, aku akan dusta kepada istriku, aku akan dusta sama orang-orang, aku sembunyikan sesuatu kehidupanku dan saudara berpikir bahwa kita akan masuk ke Surga karena nama Yesus itu. Itu adalah kepercayaan yang sia-sia. Sekali lagi saya tidak sedang berbicara mengenai legalism, saya sedang berbicara berkenaan dengan the whole gospel. Legalism mengatakan: “Buang dustamu, dan engkau akan masuk ke Surga dan Allah akan memberimu reward engkau akan masuk ke Surga, karena engkau membuang dustamu.” Injil kasih karunia bukan seperti itu, itu adalah agama-agama lain, itu diajarkan oleh Judaism atau Islam atau apapun saja, aku melakukan sesuatu atau aku tidak melakukan sesuatu yang dilarang dan aku mendapatkan hak untuk masuk ke Surga karna Allah akan membalasnya kepadaku. Injil kasih karunia bukan seperti itu. Tetapi injil kasih karunia juga bukan seperti ini: Aku memegang dosaku, aku orang Kristen, aku mengakui Yesus Tuhan, dan aku pasti pergi ke Surga, kerana pengajaran Alkitab mengatakan: Siapa yang mengatakan Yesus Tuhan itu adalah anak-anak Allah. Alkitab tidak mengatakan itu sebagai seluruhnya, saudara hanya mempercayai dan mengambil sebagian saja. Tapi injil kasih karunia mengatakan: Anak Allah diutus untuk menyelamatkan kita, dan di dalam anugerah-Nya, kemudian kita percaya dan ketika kita percaya, ada Roh Kudus yang datang kepada kita, dan begitu Roh Kudus itu datang, Dia akan memulai proses pengudusan, kita tidak lagi akan memegang dosa, kita akan membenci dosa, kita akan menangis ketika kita jatuh di dalam dosa dan kita merindukan pembebasan tubuh kita yang berdosa dan hari itu, ketika kita dibebaskan dari dosa, itulah kemulian kita di dalam Kristus. Apakah proses ini terjadi? Biarlah kita boleh menguji hidup kita dengan firman, Alkitab mengatakan: “Bukan saja pendengar, tetapi yang melakukannya itu yang membuat rumah di atas dasar batu yang teguh.” Dan apa yang Tuhan kehendaki ketika Dia mengatakan waspada? Cuma kita mendengar? Tidak saudara-saudara, tetapi melakukan. Dan apa yang harus kita lalukan? Kalau Tuhan mengatakan, “Waspada! Waspada Agus,” maka apa yang harus kita lakukan? Kita sudah mendengar “Waspada” tapi Alkitab mengatakan, “Jangan cuma kamu mendengar dan kemudian kamu melupakan, tetapi mendengar dan percaya dan melakukan, itulah yang akan menjadikan engkau orang bijaksana.” Mendengar dan melakukan, kalau Tuhan mengatakan kepada saudara, “Waspada!,” kalau Tuhan bicara kepada Hika, “Waspada!,” kepada Wijaya, “Waspada!,” kepada Ryan, “Waspada!,” kepada setiap saudara-saudara, “Waspada!,” Saudara dengar bukan? Kita dengar ‘kan? Tapi Yesus mengatakan, “Engkau mendengar dan melakukannya.” Tuhan apa yang harus aku lakukan? Maka self-examination, maka bertobat minta anugerah Tuhan yang sungguh-sungguh menyelamatkan terjadi dalam hidup kita. Tiga hal ini dan saya akan menutup seluruh rangkaian dari Khotbah di Bukit. Pertama adalah taat, yang kedua memiliki relasi yang intim, yang ketiga masuk ke dalam proses pengudusan. Kiranya Roh Kudus mengaruniakan itu kepada kita dan jikalau engkau menyatakan: “Aku tidak mengalaminya”, minta belas kasihan Tuhan, Dia yang memiliki keselamatan itu. Mari kita berdoa.

 

Luk 22:24-30
GRII Sydney

GRII didirikan di atas dasar Pengakuan Iman Reformed Injili dengan tujuan menegakkan satu gereja yang berbasiskan teologi Reformed, dengan mimbar yang menyampaikan khotbah ekspositoris, read more