Ringkasan Khotbah

6 July 2025
Raja yang Melayani
Pdt. Agus Marjanto, M.Th · Luk 22:24-30

Luk 22:24-30

Sesungguhnya perjamuan itu dilakukan di dalam konteks yang sebenarnya sangat-sangat gelap dan menakutkan. Ketika kita menghadap meja perjamuan Tuhan pada pagi hari ini di dalam keadaan yang tenang, di dalam keadaan yang nyaman, di dalam keadaan yang lancar, di dalam keadaan yang terang, maka kalau kita tidak hati-hati dan Roh Kudus tidak bekerja dalam hati kita, maka pastilah kita akan melihat segala sesuatu ini adalah ritual yang kosong. Kita tidak memiliki apa yang sebenarnya ada dalam isi hati Yesus. Kita berpikir ini adalah upacara gereja, tetapi Yesus sendiri mengatakan, “Aku sangat rindu untuk makan bersama kamu hari ini.” Ini adalah waktu terakhir dari Tuhan kita menggabungkan seluruh murid-murid-Nya, sebelum Dia mati. Dan selanjutnya tidak ada lagi sampai Tuhan kita bangkit. Dia sangat-sangat rindu. Apakah kita memiliki kerinduan ini? Oh, mungkin hampir sebagian besar tidak. Karena sesungguhnya sekali lagi, kita tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi dan Roh Kudus itu tidak bekerja dalam hati kita dan mata hati kita itu terlingkup dengan dosa sehingga kita melihat segala sesuatu tetapi kita tidak mengerti fokus dari isi hati Tuhan kita. Bahkan tidak ada afeksi apapun yang muncul dalam hati kita. Tetapi hari itu, detik itu, maka Yesus Kristus mengatakan, “Aku sangat merindukan untuk makan ini sama engkau.” Dan Dia menyatakan itu dan membuat dari Perjamuan Kudus itu, pada hari itu, di tengah-tengah kegelapan yang luar biasa menakutkan. 

Di tengah-tengah perjamuan itu, dan Yesus sudah tahu, dan Yesus sudah mengantisipasinya, Yudas mengkhianatinya. Setelah dari perjamuan itu, sebentar lagi, murid-murid yang lain akan meninggalkan-Nya. Dan musuh kegelapan itu, dengan seluruh serdadu Bait Suci akan datang dan menangkap Yesus. Yesus sendiri mengatakan inilah saat kegelapan itu. Murid-murid Yesus tidak menduganya. Mereka semua tidak memikirkan segala langkah dari teknik kejahatan itu akan datang kepada mereka. Yesus tahu sebentar lagi apa yang terjadi. Kegelapan, kesepian, ketakutan, pengkhianatan, seluruh kekuatan serdadu akan diberikan kepada Dia. Seluruh evil akan terjadi dan sebentar lagi Dia akan dimatikan. Saya pikir-pikir apa yang kira-kira itu bisa untuk memberikan satu ilustrasi. Seandainya ada seorang ayah dan dia tahu sebentar lagi musuhnya yang sudah mengancamnya akan memasukkannya ke dalam penyiksaan dan dia mati. Kemudian dia mengumpulkan istri dan anak-anaknya, dia lalu mengadakan perjamuan yang dia tahu ini perjamuan terakhir. Anak-anaknya bicara macam-macam mengenai film, mengenai hiburan, mengenai teman-temannya. Isterinya juga tidak bisa mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Tapi bapak ini tahu, ini adalah waktu terakhir. Dan kemudian dia mengumpulkan semuanya, makan bersama. Begitu selesai dia bilang, “Papa pergi.” Dan kemudian setelah itu sebenarnya anak-anaknya tidak sadar itu adalah pertemuan terakhir. Dan itu adalah last supper

Yesus Kristus akan menghadapi seluruhnya sendiri. Dan di tengah-tengah itu, Dia kumpulkan murid-murid-Nya, kemudian Dia memecah roti, mengangkat cawan, mendoakan dan membagikannya. Yesus kemudian mengatakan, “Lakukanlah ini setiap kali engkau mengingat Aku.” Saudara-saudara, apa maksudnya? Kenapa Dia ingin kita ingat? Saudara-saudara, beberapa waktu yang lalu saya nonton film namanya Coco. Wah, itu film itu, itu theme song-nya itu adalah Remember Me. Di mana-mana nyanyi Remember Me. Intinya adalah kalau sudah sampai titik tertentu orang tersebut tidak lagi diingat oleh orang-orang yang masih hidup, maka orang tersebut akan habis hilang selama-lamanya. Lalu kemudian saya nonton film itu. Oh, mungkin Yesus seperti itu takut dilupakan? Apakah Yesus takut dilupakan sama kita? Pasti tidak. Saudara-saudara. Yesus tidak takut untuk dilupakan oleh kita. Tapi Dia tahu satu prinsip, barang siapa tidak mengenal Dia, barang siapa tidak mengingat Dia, kita akan masuk di dalam ikatan dosa yang tidak mungkin kita bisa lepas. Saudara-saudara, Yesus mengatakan, “Lakukanlah ini setiap kali engkau mengingat Aku.” Kenapa Dia melakukan itu? Kenapa Dia mengucapkan itu? Maka mari kita melihat apa yang sesungguhnya terjadi di depan meja perjamuan itu. Saudara-saudara perhatikan baik-baik. Ada dosa yang besar tepat di sekeliling meja tersebut. Saudara-saudara, pertama-tama mereka saling memandang karena Yesus sudah mengatakan bahwa ada seseorang yang akan mengkhianati Dia. Dan kemudian mereka saling memandang dan kemudian mengatakan, “Siapa yang mengkhianati? Tetapi sekarang pertanyaannya itu kemudian berbalik. Di dalam pikiran mereka adalah siapa yang lebih besar? Saudara-saudara, satu adalah dosa pengkhianatan. Dan yang kedua adalah dosa kesombongan. Dua-duanya adalah dosa yang besar dan dua-duanya itu adalah kakak beradik. Dan dua-duanya itu terjadi pada Taman Eden. Apa yang terjadi di Eden sekali lagi ada di dalam ruangan atas itu. Manusia menginginkan mendirikan kerajaannya sendiri. Allah tidak boleh di atas saya. Saya harus sejajar dengan Allah. Dan saudara-saudara dengan spirit aku ingin sejajar dengan Allah. Siapa yang kita itu bisa terima sejajar dengan kita, tidak mungkin, aku harus lebih besar daripada engkau. Pada malam hari itu, bukan cuma Yudas yang berdosa besar, tetapi seluruh murid-murid-Nya itu berdosa luar biasa besar di hadapan Kristus. Di hadapan meja perjamuan itu, di saat Anak Manusia, Yesus Kristus itu memecahkan roti dan memecahkan tubuh-Nya dengan darah-Nya itu dibagikan, dosa-dosa terbesar manusia berkumpul ada di depan Dia. Dan apa yang terjadi pada malam hari itu? Saya percaya terjadi pada pagi hari ini juga. Mereka mewakili kita. Kita tidak lebih baik daripada seluruh murid. Ada pengkhianat-pengkhianat di dalam hati kita. Dan ada orang-orang yang tidak pernah bisa rest di dalam hidupnya, terus-menerus menuntut posisi yang seharusnya kita tidak pernah boleh dapatkan. Kita tidak mau taat kepada Allah. Dan kita tidak mau rendah hati kepada sesama. Kita semua yang ada di depan meja ini. Pertama-tama adalah pengkhianatan Yudas dan yang kedua adalah kesombongan murid-murid. 

Yesus mengatakan, “Lakukanlah ini untuk mengingat Aku.” Mengingat apa Kristus? Kristus mengatakan, “Mengingat Aku.” Mengingat Dia yang tubuh-Nya dan darah-Nya itu terpecah dan tercurah. Dan saudara-saudara perhatikan sekarang apa yang dikerjakan-Nya merupakan remedi dari dosa-dosa murid-murid dan dosa kita. Pertama adalah terhadap dosa pengkhianatan. Kristus Yesus adalah pribadi yang taat sepenuhnya kepada kehendak Bapak-Nya sampai tuntas. Itulah sebabnya Dia harus dipaku di atas kayu salib. Tubuhnya itu dipecahkan dan darahnya itu tercurah. Yudas mengkhianati Yesus. Yudas memiliki rencana segala sesuatu untuk diri itu ditinggikan dan kemudian Kristus itu direndahkan. Oh, tentu saudara dan saya tidak berani melakukan hal ini bukan? Untuk Kristus itu direndahkan. Oh, tentu kita tidak berani melakukannya. Itu bukan? Jangan salah paham. Selagi ada benih-benih pengkhianatan di dalam hati kita yang berdosa. Orang puritan menyatakan bahkan di dalam kehidupan orang Kristen terbaik pun ada benih atheism. Kita merendahkan Kristus dengan menginginkan kehendak kita jadi. Hanya ada 2 kemungkinan apakah Kristus itu di atas kita sehingga seluruh kehendak-Nya jadi atau kita di atas Kristus seluruh kehendak kita jadi. Yudas melawan Allah. Yudas melawan Kristus. Kristus pada malam hari itu, Dia mengambil makanan yang ada di situ memberikan kepada Yudas dan kemudian Dia mengatakan silakan kau melakukan apa yang kau mau. Itu kalimat menakutkan. Menakutkan. Kalau saudara ngotot terus sama Tuhan dan tidak mau menyerah, kalau saudara terus minta apa yang saudara mau, dan kemudian Tuhan katakan, “Lakukan apa yang kamu mau.” Habis hidup kita. Habis. Kalau saudara dan saya masih dikekang oleh Tuhan. Itu artinya cinta. Kalau apapun yang kita mau itu diberikan, saudara-saudara, hati-hati. Apalagi kalau dosa itu diinginkan dan kemudian saudara-saudara dikasih sama Tuhan. Itu artinya silakan lakukan apa yang kau mau. Apa yang terjadi pada malam hari itu? Kehendak Yudas jadi. Apa yang terjadi pada malam hari itu? Bagi Yesus, kehendak Allah sepenuhnya jadi. 

Melalui Perjamuan Kudus, di depan meja pada pagi hari ini. Saudara dan saya dibawa untuk melihat lagi 2000 tahun yang lalu. Ketaatan merupakan lawan dari pengkhianatan. Bukan mengkhianati tetapi taat. Bukan kehendakku yang jadi, tetapi kehendak Allah di dalam Kristus kepadaku yang jadi. Tetapi bukan itu saja, Yesus mengatakan, “Ingatlah Aku setiap kali engkau melakukan hal ini.” Perjamuan Kudus mengingatkan bagaimana Kristus dengan kerendahan hati-Nya itu melayani murid-murid-Nya, melayani gereja-Nya, melayani saudara dan saya. Mereka saling memandang satu dengan yang lain. Siapa yang lebih besar? Saya kasih satu rahasia, saudara-saudara. Ini adalah dosa saudara. Dan ini adalah presaposisi paling dasar dosa dari pendeta. Kita semua dealing dengan dosa ini. Menangis pun gak ada guna, tetap dosa ini ada. Dosa kesombongan ndak mungkin bisa hilang dalam hidup kita sampai kita bertemu dengan Kristus di dalam kekekalan. Tapi kita setiap hari harus berusaha menyangkal diri, memikul salib dan mematikan dosa ini. Dan dosa ini tidak mungkin bisa hilang dengan kesadaran berdosa. Dosa ini bisa hilang jikalau Roh Kudus itu memberikan penglihatan akan salib. Bagaimana yang mulia itu Tuhan dari segala tuhan membungkukan diri-Nya melayani daripada kita dan membasuh kaki daripada murid-murid. Perjamuan kudus membuat kita menyadari di atas salib Yesus memecahkan tubuh dan darah-Nya untuk kita. Saudara lihatlah, saudara-saudara dengarkan penekanan ini untuk kita. Dia dipecahkan tubuh-Nya untuk kita, untuk saudara, dan saya. Salib itu bukan saja ketaatan kepada kehendak Bapa, tetapi salib adalah suatu pelayanan Kristus kepada kita. Ya, benar, kita dilayani oleh Yesus, bukan karena kita tinggi dan kita berharga, tetapi karena cinta-Nya, Dia rela untuk membungkuk di depan kaki murid-murid-Nya. Di tengah-tengah perjamuan Kudus itu, Kristus melayani murid-murid-Nya dengan merendahkan diri-Nya untuk menyerang, untuk melawan, untuk mematikan dosa kesombongan mereka. Kalimat yang tadi kita baca lagi, “Aku ada di tengah-tengah kamu sebagai pelayan,” Dia tidak sedang mengatakan, “Aku sedang melayani Bapa di Surga,” Dia mengatakan, “Aku sedang melayani engkau.” Dia yang merendahkan diri, Dia menjadi remedi kesombongan murid-murid-Nya. Dia merendahkan diri, Dia membungkuk, Dia mencuci kaki murid-murid-Nya. Darah-Nya yang suci dan berharga itu melayani kita dengan membayar nyawa hutang darah kita. Darah-Nya yang murni dan yang berharga itu dicurahkan membeli hidup kita yang hina, najis, dan berdosa. Kasih-Nya ditujukan kepada saudara dan saya dengan melayani. 

Saudara-saudara, kasih itu, jikalau kita mengatakan, “Aku mengasihi,” maka saudara-saudara, kasih itu selalu memiliki object. Object-nya ada 2; yang pertama adalah Allah, ketika kita mengatakan, “Aku mengasihi Allah,” itu artinya bentuknya adalah ketaatan. Saudara dan saya tidak bisa lari dari satu kalimat ini. Saudara mau punya air mata seberapa besar, silahkan. Tetapi kalau tidak ada obedience, kita tidak mengasihi Allah. Saudara-saudara, kasih itu kalau object-nya Allah, itu adalah obedience. Dan kasih, kalau object-nya adalah sesama manusia, maka itu bentuknya adalah pelayanan. Di depan meja perjamuan itu, Yesus menyatakan, “Inilah tubuh-Ku yang dipecahkan, inilah darah-Ku yang sebentar lagi tercurah.” Di atas salib, Dia melayani Allah, dan Dia melayani saudara dan saya sebagai gereja-Nya. Dia adalah Tuhan yang memerintah laut untuk diam. Dia adalah Tuhan yang menghardik musuh-musuh-Nya, dan musuh-musuh-Nya terpelanting ke belakang. Dia adalah Tuhan yang mengusir setan, dan membuat setan itu harus tersungkur. Tetapi terhadap kita; Dia adalah Tuhan yang melilitkan handuk di pinggang-Nya, dan membasuh kaki saudara dan saya, dan mati di atas kayu salib menebus kita, dan itu adalah pelayanan-Nya. Dia adalah Pelayan kita. 

Saudara-saudara, kalimat ini hampir tidak pernah muncul dari mimbar ini, “Dia Pelayan kita.” Oh terlalu takut bicara, tetapi Yesus sendiri yang mengatakan, “Aku ada di tengah-tengahmu sebagai pelayan.” Dan sekarang Dia mau membereskan pikiran murid-murid-Nya, karena murid-murid-Nya sudah kerja keras, sudah memperjuangkan hidupnya untuk melayani, dan kemudian dia sekarang berpikir, “Siapa yang lebih besar?” Tadi saya sudah katakan kepada saudara-saudara, kesombongan itu adalah dosa dari kita semua. Tetapi itu adalah dosa yang paling menetap di dalam tubuh hamba Tuhan. Murid-murid-Nya, seperti kami, dan seperti saudara, menggabungkan antara pelayanan dengan menjadi besar; makin melayani, makin besar. Di dunia yang penuh dengan orang-orang yang memberikan teori leadership. Dan menyatakan kebesaran itu, atau kehormatan itu datang berdasarkan usia, kepandaian, atau skill, atau apapun saja, pengalaman; makin tua berarti makin hormat, makin pintar itu makin hormat, makin lama pelayanan itu makin hormat; Yesus membalik semuanya itu. Engkau mau bicara mengenai hormat, engkau mau bicara mengenai pemimpin, jalannya adalah satu; kerendahan hati, taat kepada Bapa, dan melayani sesama. 

Ada satu kalimat yang saya tergelitik sekali, dan saya terus menerus memikirkan, tetapi makin saya pikirkan, makin saya curiga. Terus menerus, tahunan, kalimat itu adalah satu kalimat ini: servant leadership. Saudara jangan punya pikiran servant leadership; sekarang saya jadi servant, suatu hari karena saya servant saya jadi leader. Itu adalah kesombongan yang ditutup, dicegah untuk sementara. Saudara-saudara, Yesus menyatakan, maka ketika engkau dan saya itu melayani, itulah pemimpin. Saudara tidak perlu menunggu hari, di hadapan Allah, ketika saudara dan saya itu belajar merendahkan diri, melayani sesama, itu di hadapan Allah; pemimpin. Kalau saudara dan saya kemudian, “Saya melayani, saya berpikir suatu saat saya akan memimpin engkau, mempengaruhi engkau,” di situlah letak dosanya. Tuhan sendiri memberikan satu patron, satu platform, di mana engkau masuk di dalam kerendahan hati, engkau dan saya pasti mempengaruhi orang lain. Kita tidak perlu memiliki sesuatu status. Ketika engkau dan saya melayani, maka di situ pasti engkau akan mempengaruhi orang lain. Pendeta Stephen Tong itu berkali-kali mengajar kepada kami; engkau harus tahu di seluruh dunia, siapa yang membawa perubahan di tengah-tengah dunia? Selalu ada satu ciri. Orang yang membuat perubahan di dunia adalah orang yang hatinya luas dan rendah hati. Makin engkau hati luas, makin engkau mau rendah hati, maka engkau pasti akan mengubah orang lain. Yang menyentuh hati manusia adalah orang-orang yang hatinya luas dan penuh compassion, penuh dengan kerendahan hati melayani. 

Saudara-saudara, ada satu kutipan yang saya baca, dan saya sangat-sangat tersentuh. Di dalam Kerajaan Allah, orang-orang yang terhebat, adalah hamba-hamba yang terendah. Di dalam Kerajaan Allah, dan juga di dalam gereja, orang-orang yang terhebat adalah hamba-hamba yang terendah. Kristuslah Pelayan dari seluruh murid-murid-Nya. Dan kalau saudara-saudara membaca ayat 28-30, Kristus sekali lagi memberikan contoh hidup-Nya yang melayani murid-murid-Nya. Di dalam ayat 28-30, saudara akan menemukan kalimat ini. Dia mengatakan dengan penuh cinta kasih, Dia memuji murid-murid-Nya, Dia murah hati memuji murid-murid-Nya, Dia mengatakan demikian. Yesus memberikan pengertian kepada mereka, bahwa mereka nanti akan duduk bersama dengan Dia memerintah. Dan sebelumnya Yesus mengatakan, “Kamu yang tinggal tetap bersama-sama dengan Aku, dalam segala pencobaan yang Aku alami,” Yesus mengatakan mereka tinggal bersama dengan Dia ketika Dia itu dicobai. Dan kalau saudara menggabungkan ayat 28,29 dan 30 saudara akan memiliki kesan ini, bahwa mereka itu sudah kerja keras, dan mau sama-sama Yesus di dalam penganiayaan, di dalam pencobaan. Dan kemudian nanti di dalam eskatologi, di dalam akhir zaman, maka Yesus akan mengangkat mereka menjadi pemerintah. “Engkau bersama-sama dengan Aku dalam segala pencobaan yang Aku alami.” Saya tanya kepada saudara-saudara, bukankah murid-murid itu yang menemani Yesus Kristus di taman Getsemani dengan ketekunan doa-Nya? Bukankah murid-murid yang membela nama-Nya di hadapan imam besar Hanas, Kayafas, pengadilan Pilatus, dan semua rakyat itu? Bukankah murid-murid-Nya bersama dengan Kristus berhadapan dengan semua orang, ribuan orang yang menyatakan: “Salibkan Dia, salibkan Dia,” bukankah murid-murid ada di sana? Bukankah para murid-Nya yang ada bersama dengan Dia di salib, menemani Dia, berjaga dengan Dia di dalam kubur-Nya? “Kamulah yang tetap bersama dengan Aku di dalam setiap pencobaan yang Aku alami,” benar bukan? Murid-murid-Nya ada di sana bukan? Tidak, sama sekali tidak. Kita sama seperti mereka, kita tidak setia, kita lari, kita pengecut, kita menyakiti hati-Nya, tetapi kita tetap diangkat jadi anak-Nya, kita tetap akan dimuliakan bersama dengan Dia di dalam kekekalan, mengapa? Karena Dia melayani kita sebagai mediator. Dengan kasih-Nya, Dia menutup banyak dosa kita dihadapan Bapa. Dengan kesucian-Nya, Dia menyempurnakan seluruh kegagalan kita, itulah pelayanan Kristus kepada saudara dan saya. 

Saudara perhatikan satu kalimat di bawah ini; Raja dari semua raja, dialah Pelayan dari semua pelayan. Kristus yang adalah Raja di atas seluruh raja, Dia adalah Pelayan dari seluruh pelayan-Nya. Lihatlah kerendahan hati-Nya, lihatlah cinta-Nya, lihatlah apa yang Dia buat kepada saudara dan saya; Dia melayani kita, dan Dia mau. Dia mengatakan demikian, “Lakukanlah ini, setiap kali engkau mengingat Aku.” Dia menginginkan engkau dan saya taat kepada Bapa. Dia menginginkan saudara dan saya belajar mencintai sesama dan melayani mereka. Dia menginginkan saudara dan saya berjalan di dalam jalan yang menurut kerendahan hati. Dan dengan hanya cara seperti ini, saudara dan saya dipakai oleh Allah melayani seluruh dunia, kerajaan-Nya jadi. Jawaban terhadap pengkhianatan itu, ada di depan mata mereka. Jawaban terhadap kesombongan itu, ada di depan mata kita. Kiranya Roh yang suci itu memunculkan visi akan kebesaran-Nya, Kepala gereja, Raja di atas seluruh raja, dan Pelayan yang paling rendah di antara seluruh pelayan-Nya. Mari kita berdoa.

GRII Sydney

GRII didirikan di atas dasar Pengakuan Iman Reformed Injili dengan tujuan menegakkan satu gereja yang berbasiskan teologi Reformed, dengan mimbar yang menyampaikan khotbah ekspositoris, read more