Matius 8:1-4
Kita masuk di dalam pasal 8 Injil Matius dan kita sudah menyelesaikan Khotbah di Bukit. Kalau melihat Matius pasal 8 dan 9, saudara akan menemukan 9 mujizat yang dinyatakan oleh Kristus pada waktu itu. Matius membuatnya, menyusunnya tidak secara kronologis. Itu berarti Matius menyusun dengan suatu maksud. Pada pagi hari ini, kita tidak akan masuk ke dalam apa yang dimaksud oleh Matius dengan seluruh penyusunan ini. Tetapi kita hanya akan masuk di dalam mujizat pertama dari susunan 9 mujizat yang dipresentasikan oleh Matius. Sembilan mujizat yang dipresentasikan oleh Matius itu disusun dengan pengelompokkan 3-3-3. Tiga yang pertama adalah kesembuhan si kusta. Kesembuhan yang ke-2 adalah kesembuhan kepada perwira (centurion). Dan, ke-3, adalah kepada ibu mertua Petrus. Yang pertama adalah orang kusta. Orang ke-2 adalah orang Gentile. Dan, yang ke-3 adalah seorang wanita. Tiga-tiganya adalah kelompok orang yang tersisihkan pada zaman Yahudi. Kita akan melihat apa yang Matius tuliskan di dalam mujizat pertama ini. Ini adalah mujizat yang dilakukan oleh Yesus bagi seorang yang kusta. Kalau melihat dengan baik-baik, maka saudara akan menemukan satu Injil yang sangat sederhana, tetapi mengubah hidup seseorang.
Di dunia kuno, kusta adalah penyakit yang paling mengerikan. Tidak ada pengobatan medis, dan sebagian besar orang yang terjangkit kusta itu mati. Mati dengan cara tubuhnya perlahan membusuk dan nanti dia akan mati secara memalukan dan kesepian. Pada tahap-tahap awal, permulaan penyakit ini adalah putih semua dan semuanya itu akan gatal tetapi perlahan-lahan maka akan ada perubahan bentuk pada wajah, tangan, dan kaki. Satu persatu anggota tubuh di wajah atau jari kaki atau jari tangan akan terlepas tanpa disadari. Seluruh syaraf perasa, seluruhnya mati sel-selnya. Penderita kusta sering dijuluki zombie atau orang mati yang hidup. Penyakit ini secara perlahan menghancurkan tubuh satu persatu, sementara mereka tetap hidup. Dan, kematiannya secara perlahan dan menyedihkan sampai 8 tahun. Bukan itu saja, seorang penderita kusta akan mati secara memalukan dan kesepian. Di antara seluruh penyakit yang ada di dunia ini, penyakit inilah yang paling memisahkan korban dengan manusia yang lain. Pada zaman itu mereka harus memakai pakaian compang-camping yang sobek. Membiarkan rambutnya teruai sampai menutupi batas bibir atasnya. Ketika mereka bergerak, mereka harus mengatakan, “Najis, najis. Aku najis!” Tidak seorang pun berani menyentuh penderita kusta. Bahkan di Israel, tindakan menyapa penderita kusta adalah tindakan melawan hukum. Orang kusta harus mengatakan, “Aku najis! Aku najis!” Dan, mereka harus terasing minimal 2 meter dari orang yang hidup. Jikalau ada angin yang bertiup ke arah mereka dan kepada orang lain, mereka harus menghindar. Mereka tidak diizinkan untuk ikut ibadah di dalam synagogue, atau ibadah di bait suci. Jangankan hal itu, bahkan orang kusta dilarang masuk ke semua kota bertembok, termasuk Yerusalem. Mereka terisolasi dari keluarga, dari Masyarakat, mereka hidup jauh dari kerumunan, mereka hidup sendiri, kadang berkelompok dengan penderita yang lainnya, sendirian sampai mati. Tetapi lebih daripada itu, penyakit ini adalah penyakit jahanam, barangsiapa yang memiliki penyakit kusta, dia dikutuk oleh Allah.
Saudara-saudara ingat akan cerita Miriam, saudara perempuan Musa yang bersalah kepadanya dan Tuhan mengutuknya, kemudian ada kusta. Alasan mengapa hukum Taurat melarang seseorang menyentuh orang kusta, bukan karena penyakit ini menular saja, tetapi karena sentuhan tersebut membuat orang yang menyentuhnya najis karena kena kutuk dari Allah juga. Hal pertama yang perlu kita ingat ketika kita membaca tulisan Matius adalah seluruh orang Yahudi tahu penyakit ini dengan baik. Seluruh orang Yahudi mengerti kegelapan dari orang yang berpenyakit kusta. Kusta adalah musuh seluruh bangsa Yahudi. Penyakit ini adalah penyakit yang paling menakutkan dari semua penyakit yang ada pada orang Yahudi. Mendapat kusta adalah mendapat neraka di bumi sebelum di dalam kekekalan. Mendapat kusta, hidup tidak ada lagi pengharapan. Saudara tidak bisa bandingkan betapa gelapnya kusta dibandingkan cancer. Penderita kusta di zaman Alkitab mengalami kehidupan yang penuh dengan penderitaan fisik, penolakan sosial, pengucilan spiritual, dan berakhir dengan kematian yang lambat, memalukan dan kesepian.
Ayat yang kita baca hari ini hanya 4 ayat. Kalau kita tidak tahu apa yang menjadi background dari ayat-ayat ini, kita pikir ini adalah hal yang sederhana. Kalau kita tidak tahu apa yang sebenarnya Matius sedang angkat, kita pikir ini adalah urusan sederhana. Matius sedang memberikan kepada saudara dan saya bahwa Yesus sedang menghadapi suatu kegelapan yang luar biasa pekat. Kadang penderitaan yang terdalam, yang terjadi pada manusia tidak bisa dilukiskan dengan seluruh kalimat-kalimat yang panjang. Kadang hanya sangat-sangat sederhana. Saya pernah melihat satu buah kertas, dan tulisannya adalah seperti ini. ‘Bapa di surga’ dan kemudian, semuanya kosong. Kemudian di bawahnya ada nama. Di tengahnya yang kosong itu cuma ada 2 tetes air mata. Tidak banyak tulisan. Tetapi itu adalah jiwa yang tertekan di dalam kegelapan yang luar biasa. Mungkin seperti itulah apa yang dituliskan oleh Matius. Dia sedang membicarakan mengenai seorang yang berada dalam kegelapan yang paling pekat dan tidak ada harapan. Kemudian memunculkannya dengan kalimat yang begitu singkat kepada saudara dan saya. Mari sekarang kita akan lihat pekerjaan apa yang terjadi kepada seseorang yang berada dalam kegelapan yang paling pekat ini. Kalau pertama-tama saya membacanya, saya membacanya seperti biasa, sesuatu yang teknik. Tapi semakin saudara dan saya merenungkan, saya harap, kiranya Roh Kudus menuntun engkau sebagaimana Dia menuntun kami untuk melihat keindahan yang luar biasa yang terjadi di dalam kegelapan ini. Ada minimal 2 hal yang sangat indah yang terjadi di dalam kegelapan ini.
Yang pertama, lihatlah indahnya iman orang tersebut yang dikerjakan oleh Roh Kudus yang tidak tertulis di sini. Lihatlah bagaimana Roh Kudus bekerja membentuk iman secara tersembunyi di dalam orang tersebut. Yesus turun dari bukit setelah pengajaran Khotbah di Bukit. Alkitab mengatakan orang banyak berbondong-bondong mengikuti Dia dari belakang. Coba imajinasikan dengan keadaan tersebut. Tiba-tiba ada seorang kusta dari kejauhan datang mendekat kepada kerumunan itu. Kalau saudara dan saya ada pada waktu itu, apa yang akan kita kerjakan? Satu langkah dia mendekat, saya akan lari 10 langkah. Seluruh rombongan Yesus Kristus di situ kemudian mundur. Yesus berdiri. Dia tinggal tetap di situ. Dan, orang kusta itu perlahan-lahan menghampiri kerumunan itu. Tapi, orang kusta itu pasti tidak berani mendekat lebih lagi, karena sekali lagi itu adalah ilegal. Dia hanya memandang Yesus dari jauh. Dia mengharapkan anugerah daripada Yesus. Kemudian dia membungkuk, dia berlutut dan air matanya mengalir. “Tuhan, jika Tuhan mau, Tuhan dapat mentahirkan aku.” Bahasa aslinya, dia berharap terus beberapa kali. “Tuhan, jika Tuhan mau, Tuhan dapat mentahirkan aku.” Orang ini berharap kepada belas kasihan Allah. Tetapi di tempat yang lain, orang ini mengerti kedaulatan Allah. Orang ini tidak berkata, “Tuhan, kalau Engkau bisa, Engkau bisa untuk menyembuhkan aku.” Orang ini berkata, “Tuhan, jika Engkau mau.” Inilah karya Roh Kudus yang luar biasa indah. Iman yang dibentuk oleh Roh Kudus di dalam diri orang ini akan mendobrak seluruh hal-hal yang sulit dipikirkan oleh manusia. Dia tahu tidak punya harapan, tapi dia lihat Yesus ada harapan. Dia tahu tidak boleh mendekat, tapi melihat Yesus, Roh Kudus membangkitkan imannya untuk mendekat kepada Yesus. Dia melihat Yesus yang adalah Manusia, tetapi dia tahu kemuliaan Kristus. Dia mendekat kemudian dia membungkuk. Dia menghormati Kristus dan dia memohon, tetapi dia mau menerima seluruh kehendak-Nya. Itulah iman! Orang Puritan mengatakan, “Iman dibangkitkan oleh Roh Kudus, seperti tangan digerakkan untuk memegang Allah.” Dia tahu bukan, kalau dia dikutuk oleh Allah. Dia tahu bukan, kalau dia tidak boleh mendekat. Tetapi meskipun dia dikutuk oleh Allah, dia mengharapkan Allah mengasihani dia. Dari mana kekuatan itu? Kecuali Roh Kudus bekerja di dalam diri orang tersebut. Pintu yang sudah tertutup. Pintu belas kasihan yang sudah tertutup. Iman bisa melihat secercah pintu yang terbuka sedikit dan dia menerobosnya. Dia mendekat kepada Kristus. Dia menghormati Kristus. Dia mengharapkan Kristus. Dia tidak mengharapkan orang lain. Dia tidak menaruh harapannya kepada manusia. Dia menaruh harapannya kepada Kristus, tetapi dia mau menerima seluruh kehendak-Nya. Itu adalah iman. Oh, seluruhnya begitu indah. Iman bergerak di tengah ketidakberdayaan. Kalau saudara-saudara membaca Alkitab, pengajaran Yesus, Yesus sendiri mengatakan, “Iman itu sesuatu yang Dia cari.” Dia mengatakan ketika Anak Manusia datang, apakah Dia menemukan iman di bumi ini? Banyak dari pembicara, tulisan, pengajaran, bicara mengenai iman, makin saya pelajari, banyak sekali yang pada prinsipnya menyeleweng, ‘Kalau kamu punya iman, kamu doa sama Tuhan, kau pasti bisa sembuh.’ Di sini tidak! Orang ini digerakkan oleh Roh Kudus mendekat kepada Kristus. Dia tidak memiliki confidence pada dirinya sendiri. Dia sadar dosanya. Itulah sebabnya dia membungkuk. Dia melihat kebesaran Kristus. Itulah sebabnya dia mengharap, tetapi dia tahu. Allah adalah Allah yang berdaulat! Allah yang memiliki anugerah adalah Allah yang beranugerah yang berdaulat. Keputusan-Nya ada di tempat Dia dan dia mau taat. Jika Tuhan mau, Engkau dapat mentahirkan aku. Apakah kita memiliki iman yang murni seperti ini? Mendekat kepada Dia. Menghormati-Nya. Mempercayai-Nya. Mengharapkan-Nya dan menyerahkan kepada kedaulatan-Nya akan hidup kita di depan. Banyak orang yang tahu tentang Kristus ketika kita menjadi orang Kristen, tetapi apakah kita memiliki iman kepada Dia? Sebagai orang Reformed kita bisa berdebat teologia, tetapi apakah hidup kita bergerak karena gerakan iman? Uskup J.C. Ryle menyatakan, “Iman kepada Kristus adalah hal yang paling berharga di mata Allah.” Seperti hal-hal yang paling berharga di bumi, iman yang sejati itu langka. Dengan iman yang sejati, orang Kristen hidup. Dengan iman, mereka berdiri. Dengan iman, mereka mengalahkan dunia. Tanpa iman, tidak ada yang bisa diselamatkan. Hal yang pertama yang saudara lihat keindahan adalah bagaimana iman orang tersebut dibentuk secara diam-diam oleh Roh Kudus. Iman yang begitu sederhana, tetapi begitu murni.
Ada hal lain yang lebih indah. Lihatlah tindakan personal Allah di dalam Kristus yang berbelas kasihan kepada orang ini. Tadi saya sudah katakan bahwa penyakit kusta membawa seseorang kepada penderitaan. Selain dari sakit fisik, dia terisolasi, terpisah dari manusia yang lain. Ya, dia terpisah dari manusia kelompok lain. Orang itu pada posisi yang jauh dengan Kristus dan dia berhenti, dia tahu dia tidak mungkin bisa mendekat karena dia adalah lepra. Kemudian dia membungkuk, dia tersungkur dengan air mata, dia mengatakan, “Tuhan jika Engkau mau, Engkau dapat mentahirkan aku.” Dan, apa yang dilakukan oleh Yesus? Luar biasa indah. Dia menciptakan langit dan bumi dengan kalimat-Nya. “Jadilah terang”, maka terang itu jadi. Dia mudah sekali bicara dari kejauhan untuk menyembuhkan orang ini. Tetapi bukan itu yang dikerjakan Kristus, Dia melihat dengan belas kasihan dari kejauhan, di tengah-tengah seluruh orang menghindarinya, Dia berjalan mendekat. Dia berjalan mendekat dan Alkitab mengatakan, Ia ‘menyentuh’ orang tersebut. Dia mengatakan, “Aku mau, jadilah tahir.” Lihatlah, tangan Allah yang penuh dengan kekuatan, kuasa, kesucian itu menyentuh seorang yang berdosa dan yang sangat menjijikkan penyakitnya. Yesus menyentuh. Yesus bukan bicara dari kejauhan. Yesus menyentuh. Kata ini begitu penting, ini bukan kata sederhana. Kalau saudara melihat ke-3 Injil sinoptik, semuanya menuliskan ini. “Yesus menyentuh. Kata ‘menyentuh’ ini tidak bisa, harus ada. Apa yang Allah mau katakan melalui Firman ini? Dia adalah Allah yang secara pribadi mendekati kita dan secara pribadi menyentuh hidup saudara dan saya. Pribadi ke-2 Tritunggal yang bertakhta bersama dengan Bapa di Surga, dan seluruh makhluk dan seluruh orang tebusan, nanti kita sama-sama ada di takhta itu. Tetapi Dia berada di takhta yang boleh dikatakan tidak terhampiri, sekarang Dia turun ke bumi dengan satu tujuan, untuk menyentuh orang kusta itu. Itu cinta.
Ini sesuatu yang tidak mungkin dilakukan oleh satu orang pun di zaman itu. Tidak ada satu pendiri agama berani untuk melakukannya. Dan lebih dari itu, sekali lagi perhatikan bahwa kusta itu diidentikkan dengan kenajisan. Kusta diidentikkan dengan dosa. Kusta diidentikkan dengan hidup yang dikutuk oleh Allah. Ini bukan saja tindakan penyembuhan penyakit, ini adalah tindakan penyucian. Kalau saudara-saudara lihat Alkitab, semua penyakit ketika disembuhkan oleh Yesus maka tulisannya adalah “Yesus menyembuhkan.” Tetapi kalau sudah bicara mengenai kusta, maka Yesus menjadikannya bersih. Yesus menjadikannya tahir, bukan menyembuhkannya saja. Ini adalah tindakan penyucian, pembersihan. Artinya ini bukan sekedar orang tersebut disembuhkan lalu selesai, tetapi ini adalah tindakan Allah yang membawa orang yang jauh mendekat kepada Dia yang suci. Allah kita adalah Allah yang suci, dan kita tahu di dalam Alkitab, tanpa kesucian tidak seorang pun bisa melihat Allah. Jadi apa yang Yesus kerjakan ini bukan sekedar penyembuhan, tetapi Yesus yang adalah Anak Allah yang suci membawa orang yang jauh, yang dikutuk oleh Allah ini, mendekat untuk dikasihi oleh Allah. Sentuhan Kristus kepada orang tersebut bukan membuat Yesus menjadi najis, tetapi sebaliknya membuat orang kusta itu menjadi suci. Yesus tidak menjadi berdosa ketika Dia datang menjadi manusia. Sebaliknya, dengan menjadi manusia ini memungkinkan kita untuk dibersihkan dari dosa melalui kontak dengan kehadiran-Nya. Sekali lagi lihatlah keindahan-Nya. Cinta kasih, belas kasihan Kristus ketika melihat orang ini, Dia kemudian mendekati dan menyentuh dengan tangan-Nya. Ini adalah tindakan pribadi Allah kepada pribadi orang tersebut. Saudara perhatikan satu prinsip ini, tindakan penyucian atau kesucian yang dibentuk dalam hidup kita adalah ketetapan hati Allah kepada kita secara pribadi. Saudara perhatikan, ‘personally’, saya akan jelaskan. Ketika bicara mengenai dosa, kenajisan, kejahatan akan menjalar dengan sendirinya; tetapi, kesucian tidak. Kesucian kalau terjadi itu merupakan tindakan ketetapan hati Allah kepada orang tersebut secara pribadi.
Saya akan memberikan ilustrasinya. Kalau saudara masih mengingat beberapa tahun yang lalu ada covid menjalar di seluruh dunia. Maka pada waktu covid menjalar ke mana-mana, kita akan langsung berjarak beberapa meter, 2 meter dan pakai masker dan sebagainya. Kenapa kita melakukan itu? Karena kita sadar bahwa covid akan menjalar dengan sendirinya. Sama dengan kusta. Jadi kalau saya kusta, maka Hika di sebelah saya, jika kemudian saya pegang dia, atau saya covid dan Hika dekat dengan saya, maka dengan sendirinya itu menjalar kepada dia. Juga demikian dengan dosa. Juga demikian dengan kenajisan. Juga demikian dengan kejahatan. Kalau ada orang berkumpul dan kita ada di tengah-tengah, maka cepat atau lambat dengan sendirinya menjalar. Kalau saya covid, saya dekat dengan Hika maka Hika covid. Saya lepra, jika saya dekat dengan Hika, saya memegang Hika, maka Hika terkena kusta. Dengan sendirinya, otomatis. Sekarang perhatikan. Kalau saya sembuh, saya dekat sama Hika, dia bisa sembuh tidak karena kesembuhan saya? Tidak. Saudara perhatikan, kesembuhan dan kesucian tidak bisa ditularkan dengan sendirinya. Jadi bagaimana kalau saya sudah sembuh dan Hika masih sakit? Saya tidak bisa menularkannya, maka saya harus bawa Hika ke rumah sakit dan dia kemudian dirawat secara pribadi sampai dia sembuh.
Ingat ya, sekali lagi. Dosa secara otomatis turun. Lho, anak saya kok bisa begitu, tidak ada yang ngajarin, secara otomatis turun. Dia tidak diajari, kamu bohong ya. Tidak. Tapi dia lihat lho kok, papa bohong sama mamaku, nah dia bohong. Bahkan banyak orang yang merokok lalu bilang sama anaknya, “Ndak boleh rokok ya, ngak boleh rokok.” Dia merokok. Dosa secara otomatis akan menjalar. Kejahatan secara otomatis akan menjalar. Tidak ada yang bicara kepada Kain, “Kamu boleh bunuh adikmu.” Tidak ada. Tetapi untuk mengubah seseorang menjadi sembuh, itu adalah pekerjaan pribadi kepada orang tersebut. Apalagi bicara mengenai keselamatan, apalagi bicara mengenai kesucian.
Kekudusan, kalau terjadi di dalam hidup kita di dalam Yesus Kristus, itu adalah tindakan keputusan kehendak dari Allah yang menguduskan saudara dan saya, pribadi. Itulah sebabnya untuk mendapatkan keselamatan, anugerah diberikan di dalam bentuk perjumpaan pribadi saudara, saya dengan pribadi Allah sendiri. Saudara tidak bisa mengatakan, “Oh, saya anak pendeta. Papaku sudah diselamatkan saya pasti diselamatkan karena menular.” Gak ada, saudara-saudara. Oh, lihat GRII seluruh pendeta dan penatuanya orang diselamatkan, saya pasti diselamatkan. Kenapa? Karena saya anggota GRII? Tidak saudara-saudara. Ada juga dosa kami yang menyalur kepada saudara-saudara. Tetapi bicara mengenai keselamatan, bicara mengenai kesucian adalah bicara mengenai pribadi Allah yang berinteraksi kepada saudara dan saya secara pribadi. Itulah sebabnya, sekali lagi ini adalah satu Injil yang sangat sederhana meski berada di dalam kegelapan yang luar biasa pekat. Allah di dalam anugerah-Nya di dalam Kristus Yesus pagi hari ini, sepanjang saudara masih memiliki nafas, inilah hari keselamatan, hari anugerah itu. Saudara dan saya harus secara pribadi datang kepada Dia dan minta pengampunan-Nya, minta disucikan secara pribadi oleh Dia yang adalah pribadi.
Tidak ada satu agama, pendiri agama, yang bisa menyucikan orang kusta. Hanya Anak Allah yang terpaku di atas kayu saliblah dengan darah-Nya yang menyucikan saudara dan saya! Anak Allah dengan kuasa-Nya mengubah kegelapan kita menuju kepada terang yang ajaib. Di dalam Dia-lah seluruh kematian menjadi hidup. Satu-satunya pengharapan di tengah umat manusia. Tadi DR. Tan bicara di tengah-tengah kita. Agama apa yang muncul yang begitu berkembang di Australia di dalam beberapa tahun ini? Seluruh agama bisa mengajar orang untuk berbuat baik, bisa mengangkat moralitas, tetapi tidak mungkin bisa mengeluarkan orang dari kegelapan. Tidak mungkin bisa membuat yang najis menjadi suci adanya! Satu-satunya adalah Anak Allah, Yesus Kristus. Itulah yang dipresentasikan oleh Matius kepada kita. Itulah yang dipresentasikan oleh Matius kepada seluruh orang Yahudi diaspora, dan Matius menuliskan di sini, Yesus mengatakan kepada orang yang sudah sembuh itu, dia tidak bicara kepada banyak orang. Apakah orang itu ditahan untuk memberitakan Injil? Bukan. Tetapi bahwa orang tersebut ketika dia bicara mengenai Yesus menyembuhkan, Matius dengan tepat sekali mau menyatakan, Yesus bukan tukang sembuh, bukan dokter. Bicara berkenaan dengan Yesus Kristus adalah bicara berkenaan dengan Mesias, dan Mesias bukan untuk kesembuhan, bukan untuk kemakmuran. Tetapi adalah Kerajaan Allah yang mau diteguhkan, dihadirkan di tengah-tengah dunia dan Allah menjadi Rajanya.
Kalau saudara-saudara berdoa, saudara sakit, kemudian sembuh, tetapi saudara tidak mau takluk kepada Dia yang adalah Raja dalam hidup kita, saudara belum tahu apa isi Injil. Perhatikan, bahwa hanya satu orang yang sakit kusta di antara ribuan yang sakit kusta yang disembuhkan. Yesus mampu, pasti bisa untuk Dia menyembuhkan semuanya, tetapi Dia bukan datang untuk itu. Dia menyembuhkan, tetapi kenapa tidak boleh bicara? Karena inti kesembuhan itu mau memperlihatkan kepada semua orang Yahudi bahwa Dia adalah Mesias yang ditunggu. Orang Yahudi punya satu konsep teologis. Ketika Mesias datang, salah satu tandanya, bukan satu-satunya, salah satu tandanya, Dia adalah seorang pembebas. Dia adalah seorang pembebas. Matius mau menyatakan bahwa Kristus jauh lebih daripada seorang dokter. Dia adalah Allah itu sendiri. The Son of God yang adalah Mesias yang diurapi, dan bagi semua orang Yahudi yang melihat-Nya dan semua orang-orang di dunia yang mendengar-Nya dan melihat Injil ini, biarlah kita semua memiliki sikap seperti orang penyakit kusta ini. Menyembah Dia, menghormati Dia dan mengakui bahwa Dia adalah Tuan di atas segala tuan, Raja di atas segala raja. Inilah Injil yang sederhana itu. Kiranya Dia boleh bekerja di tengah-tengah kita. Kiranya keselamatan-Nya dari ketetapan hati-Nya pribadi menjangkau engkau secara pribadi. Mari kita berdoa.
GRII Sydney
GRII didirikan di atas dasar Pengakuan Iman Reformed Injili dengan tujuan menegakkan satu gereja yang berbasiskan teologi Reformed, dengan mimbar yang menyampaikan khotbah ekspositoris, read more