Ringkasan Khotbah

27 July 2025
Eksposisi Matius: Yesus menyembuhkan Hamba Seorang Perwira
Pdt. Agus Marjanto, M.Th · Matius 8:5-13

Matius 8:5-13

Catatan di dalam Matius ini sebenarnya adalah paralel di dalam Lukas 7:1-10. Peristiwa ini menceritakan mengenai hamba dari seorang perwira yang sakit keras. Perwira (centurion) ini adalah kepala dari seratus prajurit yang bekerja di bawah otoritas Herodes Antipas. Dia memiliki bawahan yang sakit keras dan hampir mati. Dan centurion ini adalah orang Romawi yang sering membantu orang-orang Yahudi. Dia membangun synagogue, dan dia sangat dekat dengan beberapa tua-tua Yahudi. Ketika centurion ini mendengar Yesus ada di kotanya, maka dia meminta tolong kepada tua-tua Yahudi untuk menjumpai Yesus, dan memohon kesembuhan kepada bawahannya. Tua-tua itu datang kepada Yesus dan meminta dengan sangat untuk Yesus menyembuhkan bawahan ini. Dan tua-tua ini bahkan mengatakan, “Perwira (centurion) ini layak Engkau tolong, karena dia sangat menolong kami.” Dan Yesus menjawab, “Aku sendiri  akan pergi kesana untuk menyembuhkannya.” Dan ketika perwira ini di rumahnya, mendengar bahwa Yesus sedang menuju ke rumahnya, maka centurion ini kemudian mengirimkan bawahannya kembali kepada Yesus dan dia mengatakan, dari kalimat ini saudara akan menemukan iman yang luar biasa besar, yang nantinya akan dipuji oleh Yesus Kristus. Melalui teman-temannya ini (bawahannya ini), centurion ini mengatakan kepada Yesus, “Tuan, jangan susah-susah untuk datang ke tempat saya, sebab aku tidak layak menerima Tuan di rumahku. Sesungguhnya bahwa aku juga tidak layak untuk menghadap kepada-Mu, tetapi katakan sepatah kata saja, maka hambaku itu akan sembuh. Karena aku ini seorang bawahan, dan di bawahku ada prajurit, jika aku berkata kepada seorang bawahanku: Pergi!, maka ia akan pergi, dan: Datang!, maka ia akan datang. Kalau aku katakan kepada bawahanku: Kerjakan!, maka ia akan mengerjakannya.” Seluruh peristiwa ini ditulis oleh Matius, maka sekarang perhatikan apa yang Matius itu mau nyatakan kepada kita semua, dan juga kepada orang-orang Yahudi sebagai pembaca pertama.

Hal yang pertama, Matius mau menyorot akan belas kasihan Kristus kepada orang-orang yang tersingkirkan pada waktu itu oleh orang Yahudi. Beberapa minggu yang lalu, kita bicara berkenaan dengan orang kusta di dalam penyembuhan pertama. Orang kusta adalah orang yang dijauhi oleh orang Yahudi. Dan centurion ini adalah seorang kafir (gentile), seorang Romawi. Pada waktu itu, sesuatu prinsip yang ada dalam kepala orang Yahudi, bahwa yang disebut sebagai gentile itu adalah sama dengan ‘anjing’. Ini adalah suatu pikiran umum pada orang Yahudi, pada waktu itu. Memang kadang-kadang gentiles memiliki teman dari orang Yahudi, seperti centurion ini. Tetapi tetap, bagi kebanyakan orang Yahudi yang lain, dia tidak lebih daripada ‘anjing’, apalagi dia adalah seorang penjajah dari Romawi kepada Yahudi. Tetapi Yesus tidak mengatakan, “Eh kamu itu kan penindas. Aku tidak dapat berbuat apapun untuk engkau.” Tetapi sebaliknya Yesus mengatakan, “Aku sendiri, Aku akan datang kepada centurion ini.” Di dalam bahasa aslinya, saudara akan menemukan sesuatu penekanan di dalam hal ini: “Aku akan datang kepada dia.” Di dalam teologi Matius, Matius berkali-kali menegaskan satu prinsip cara kerja Allah di dalam Kristus Yesus, yaitu keselamatan itu, atau belas kasihan Allah itu, diberikan kepada orang Yahudi untuk disalurkan kepada bangsa-bangsa lain. Dengan mudah saudara akan mendapatkan prinsip-prinsip ini di dalam Matius. Matius memulai Injilnya dengan mengatakan; bahwa Orang Majus itu dari Timur datang untuk menyembah Yesus Kristus. Sekali lagi, mereka adalah ‘anjing’, mereka adalah orang-orang kafir, mereka adalah orang-orang haram (haram itu artinya darah mereka itu adalah halal kalau mereka dimatikan), tetapi anehnya Matius menuliskan permulaan Injil Messianic itu adalah tentang orang-orang haram yang menyembah Yesus Kristus. Dan di akhir Inji Matius, maka dituliskan bahwa: “Pergi, jadikan seluruh bangsa yang haram itu menjadi murid-Ku.” Kerajaan Allah itu terbuka bagi semua orang-orang yang haram. Saudara dan saya tidak akan tersinggung dengan kalimat Yesus ini, karena saudara dan saya itu terlepas dari konteks orang Yahudi. Kita tidak rasa diri kita itu begitu rendah, tetapi bagi orang-orang Yahudi, mereka melihat seluruh bangsa itu adalah bangsa-bangsa yang Allah itu murka. Sekarang saudara bisa bayangkan; Matius itu adalah seorang Yahudi, dan dia menuliskan Injilnya itu adalah untuk orang Yahudi. Kalau saudara dan saya adalah orang Yahudi, dan saudara membaca tulisan ini, maka orang Yahudi pada waktu itu tidak suka. Orang Yahudi pada waktu itu bingung, itu tidak bisa masuk ke dalam pikiran mereka, dan mereka tidak bisa mengubah teologia mereka, tetapi Matius mau mendobrak pikiran mereka. “Engkau menyingkirkan orang-orang ini, Allah mencari mereka, bahkan Allah mengonfirmasi mereka memiliki iman yang sejati lebih daripada engkau hai orang-orang Yahudi.” 

Biarlah kita, gereja Tuhan masa kini, kita harus menangkap isi hati dan cara kerja Tuhan, dan juga bergerak bersama dengan Dia. Allah yang kita sembah adalah Allah di dalam Kristus Yesus yang murah hati. Dia menentang orang-orang yang tamak. Tamak adalah orang yang mendapatkan anugerah Tuhan, tetapi tidak dibagikan kepada orang lain, dan itu adalah kegagalan utama dari orang-orang Yahudi. Mereka adalah orang-orang pilihan Allah, mereka adalah benih dari Abraham, Ishak dan Yakub. Dan dari sejak pertama, kepada bapa nenek moyang Israel, Allah bicara kepada Abraham, “Aku memilih engkau untuk menjadi berkat bagi banyak bangsa.” Tetapi apa yang dikerjakan oleh orang Yahudi? “Aku ini bangsa pilihan. Lihat aku, aku ini bangsa pilihan, dan engkau itu semuanya adalah ‘anjing’. Engkau adalah kafir, engkau itu adalah orang yang tidak dikasihi Tuhan. Lihat aku, Tuhan berkenan kepadaku. Tuhan memberkati aku,” Dan pakai bahasa masa kini, Tuhan mungkin bicara seperti ini: “So what? Engkau diberkati untuk menjadi berkat. Engkau diberkati bukan untuk hidup bagi diri sendiri.” Saudara mengambil berkat Tuhan, dan saudara-saudara tidak ingat orang lain, saya katakan satu hal; berkat ini menjadi kutuk. Itu benar untuk Injil, itu benar untuk hidup kita, itu benar untuk uang kita. Gereja ini dilatih oleh pendirinya untuk mengabarkan Injil, untuk bermisi, untuk memberi.

Saya masih ingat beberapa puluh tahun yang lalu, pada waktu itu saya melayani di Karawaci. Dan kemudian ada seorang sekretaris dari Pusat pada waktu itu, bahkan sebelum sinode itu didirikan. Dia hadir di Karawaci dan duduk di sebelah saya. Kemudian dia bicara-bicara, dan dia tiba-tiba itu bicara seperti ini, “Saya menjabat sebagai sekretaris kurang lebih beberapa tahun ini. Pak Agus, kalau engkau tahu pembukuan kita, maka engkau akan terbelalak. Pak Tong terlalu murah hati, terlalu berani. Berapa pemasukan, dan berapa yang diberikan untuk badan-badan misi, dan juga LAI dan yang lain-lain, begitu besar persentasenya.” Saya bukan orang sinode pada waktu itu, saya masih seorang penginjil. Saya tidak tahu apa-apa. Sekarang Tuhan kasih saya, sekarang saya dewan konsistori. Tetapi orang ini, orang lama sekali di GRII sendiri menyatakan hal ini. Dan saya kemudian menangkap, apa artinya menjadi seorang pilihan. Israel adalah orang pilihan, Israel adalah orang yang diberkati oleh Tuhan. Israel adalah orang yang diangkat oleh Tuhan, tetapi dia menutup jalan anugerah bagi bangsa-bangsa lain. Mereka bukan menjadi terang bagi bangsa-bangsa, menjadi berkat bagi bangsa-bangsa. Orang yang mendapatkan anugerah Tuhan, tetapi tidak menyalurkan, dia mempermainkan anugerah itu, dia mempermainkan hak kesulungannya. Anugerah itu dibuat kesempatan untuk bersembunyi di dalam greedy-nya. “Aku punya umur, tapi aku tidak mau bersaksi. Aku punya Injil, tapi aku tidak mau mengabarkan Injil. Aku punya kesehatan, tetapi aku tidak mau pergi bermisi. Aku punya uang, tapi aku tidak mau memberikan banyak untuk pekerjaan Tuhan. Aku punya waktu, tapi aku tidak mau melayani.” Seluruh berkat menjadi kutuk. Dan Tuhan kemudian mengatakan satu kalimat ini kepada orang-orang Israel, “Kamu tidak berbuah.” Ketika saudara dan saya mau berbuah, saudara harus keluar dari self-centredness.

Israel tidak akan peduli pada orang kusta, Israel juga tidak peduli pada gentiles, tetapi Kristus peduli. Orang kusta itu datang mendekat kepada Yesus Kristus, orang-orang yang berbondong mengikuti Yesus langsung menjauh, tetapi Yesus mendekat kepada orang kusta itu. Dan itulah yang dikerjakan oleh orang Yahudi yang tamak. Sekali lagi, gereja ini dilatih untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan Tuhan, untuk belajar mengikuti kehendak Allah, untuk memiliki hati bagi bangsa-bangsa, untuk memiliki perhatian kepada orang-orang yang terabaikan. Itulah sebabnya setelah seluruh peristiwa ini terjadi, Yesus mengatakan satu kalimat penghukuman yang mencengangkan, “Aku berkata kepadamu…” kalimat ini adalah kalimat penegasan. Saya lagi ngomong dengan Rachel dan kelihatannya dia tidak memperhatikan, dan saya mau bicara mengenai sesuatu yang penting, “Rachel, aku berkata kepadamu sesungguhnya…” Biarlah seluruh telinga kita mendengar kalimat Yesus, “Banyak orang datang dari Timur dan Barat, duduk makan bersama dengan Abraham, Ishak dan Yakub di dalam Kerajaan Surga, sedangkan anak-anak kerajaan itu akan dicampakkan keluar.” Kalimat ini adalah kalimat penghukuman, kalimat ini adalah juga suatu nubuatan. “Israel, engkau bangga? Ya, Aku memilih engkau, tapi engkau tidak berbuah, engkau mengambil anugerah untuk ketamakanmu. Maka perhatikan baik-baik; engkau akan dikeluarkan dari Kerajaan ini dan engkau akan dimasukkan ke dalam neraka. Sebaliknya, Aku akan memberikan anugerah kepada bangsa-bangsa itu untuk masuk di dalam Kerajaan-Ku.” Saudara jangan pikir kita tidak murah hati, itu adalah hanya urusan moralitas, itu adalah bicara mengenai iman kita sejati atau tidak. Orang Kristen kalau sudah bicara berkenaan dengan uang, sungutnya itu langsung naik ke atas. Saudara bicara mengenai keselamatan, saudara bicara mengenai iman, terus saudara-saudara, “Ya, amin.” Begitu uang, langsung matanya besar, kenapa? Karena hal terdalam dalam diri kita adalah uang. Itu adalah identitas kita, sama seperti anak remaja, kalau saudara menghina musiknya, saudara menghina identitasnya. Kalau mimbar yang benar bicara mengenai uang, saudara langsung tersinggung. Ada sesuatu yang salah di dalam hati kita yang terdalam. Orang Israel, di dalam Injil Matius, adalah orang yang tamak terhadap seluruh anugerah. Begitu di sini mereka terjatuh, saudara perhatikan satu prinsip ini, saudara akan melihat prinsip yang dikatakan oleh Yesus, “Yang terdahulu akan menjadi yang terakhir, yang terakhir akan menjadi yang terdahulu.” Begitu banyak orang Kristen, yang terdahulu menjadi terakhir, yang terakhir menjadi terdahulu. Yang pertama, sekali lagi, apa yang Matius mau nyatakan? Perhatikan belas kasihan Kristus kepada orang-orang yang tersingkirkan. 

Hal yang kedua, Kristus adalah Mesias dengan kuasa yang luar biasa besar, Dia memberikan kesembuhan dengan perkataan-Nya tanpa perantara dan melampaui ruang. Dengan seluruh kalimat-kalimat Matius ini, Matius mau menyatakan kepada kita dan semua orang Yahudi bahwa Yesus itu bukan sembarang mesias, bukan sembarang nabi. Dia membuat mukjizat yang tidak bisa dikerjakan oleh nabi-nabi dan semua pendiri agama yang lain. Seluruh dari nabi-nabi, dan seluruh orang-orang yang hebat dan sakti, ketika mereka melakukan sesuatu pasti ada perantara. Dan kekuatan dan kuasa mereka pasti akan tergantung pada ruang. Tidak demikian dengan Yesus Kristus, ketika Yesus bertemu dengan orang kusta, maka Yesus mendekat dan kemudian menyentuhnya. Sentuhan ini tidak membuat Yesus menjadi tertular najis, tapi sebaliknya, kesucian itu merambat. Tetapi di dalam peristiwa ini, Yesus tidak menyentuhnya, dari kejauhan Yesus mengatakan, “Pulanglah dan jadilah padamu seperti apa yang kau percaya.” Dari kejauhan Yesus menyembuhkan bawahan perwira tersebut, sekali lagi Matius mau mempresentasikan siapakah Kristus itu sesungguhnya. Dia adalah Anak Allah yang turun menjadi manusia. Dia adalah Mesias yang diurapi, yang sesungguhnya ditunggu-tunggu oleh orang-orang Yahudi itu. Ini adalah proklamasi injil bagi orang Yahudi. Sekali lagi ini adalah proklamasi Injil bagi orang Yahudi. Sekarang saudara-saudara bisa melihat orang Yahudi itu memiliki konsep Mesias tetapi mereka tidak mengenal Mesias. Yahudi itu memiliki konsep Mesias, tetapi mereka tidak bergaul dengan Mesias. Sekali lagi iman adalah bicara berkenaan relasi, dengan relasi yang sejati kepada Kristus, sama seperti perwira ini. Perwira ini kemudian tunduk, perwira ini kemudian akan taat, perwira ini kemudian memberikan hidup kepada-Nya, dia memiliki posisi hati yang tepat. 

Kita semua bisa tahu akan Mesias, tetapi apakah saudara dan saya memiliki relasi dengan Mesias itu? Atau saudara dan saya itu memiliki relasi imajiner dengan Mesias? Relasi imajiner tidak akan membuat saudara dan saya bertobat. Dan apa perbedaan antara relasi yang sesungguhnya dengan relasi imajiner? Sekali lagi adalah ketertundukan, ketaatan, dan posisi hati yang tepat. “Jangan pergi ke rumahku Yesus, aku tidak layak, bahkan aku menganggap diriku tidak layak untuk menghadap Engkau.” Kalimat ini adalah kalimat yang persis sama dengan kalimat Yohanes Pembaptis, “Membuka tali kasut-Nya pun aku tidak layak.” Saudara perhatikan baik-baik kalimat ini: ‘Membuka tali kasut-Nya pun aku tidak layak.’ Kalau saudara dan saya mengenal Yesus Kristus yang sejati, bukan sesuatu yang imajiner dalam pikiran kita, maka saudara dan saya pasti ada ketertundukan. “Aku tidak layak untuk melayani engkau, Tuhan. Aku tidak layak untuk beribadah, Tuhan. Aku tidak layak untuk menerima Firman Tuhan. Aku tidak layak untuk berbagian dalam pekerjaan-Mu yang besar, ya Tuhan.” Kalau saudara-saudara memberikan sesuatu, dan kemudian saudara merasa diri sudah memberi banyak; saya pastikan kepada saudara-saudara bahwa kita belum mengenal Kristus, karena Dia terlalu besar. Perwira ini bahkan mengatakan: “Aku datang kepadamu saja aku tidak layak.” Saudara dan saya mengatakan bahwa kita adalah orang-orang pengikut Kristus, tapi sesungguhnya apakah kita mengenal Dia? Orang yang mengenal Dia adalah orang yang memiliki posisi hati yang tepat ketika berhadapan dengan Dia. “Aku tidak layak Tuhan, aku tidak layak untuk datang beribadah, aku tidak layak untuk menerima firman-Mu, tapi aku perlu firman-Mu, kasihani aku.” Seperti Fanny Crosby: “Kalau orang lain dapat Firman, kalau orang lain dapat berkat, jangan lalui aku, ya Tuhan,” dan ketika dia mengatakan demikian, dia tahu dia tidak layak. Itulah iman yang sejati. Kita berhenti sampai di sini, minggu depan kalau Tuhan pimpin kita akan teruskan. Mari kita berdoa. 

GRII Sydney

GRII didirikan di atas dasar Pengakuan Iman Reformed Injili dengan tujuan menegakkan satu gereja yang berbasiskan teologi Reformed, dengan mimbar yang menyampaikan khotbah ekspositoris, read more