Yosua 2:1-15, 23-24
Salah satu pasal di seluruh kitab suci yang saya suka adalah pasal ke-2 dari kitab Yosua. Sebenarnya cerita tentang Rahab bukan suatu cerita penting pada kitab Yosua, tetapi kisah Rahab adalah satu gambar hati Allah untuk dunia ini. Di tengah-tengah kemajuan Kerajaan Allah sehingga Israel bisa masuk ke tanah perjanjian, the whole focus sekarang kepada orang Yahudi, tetapi Tuhan seolah-olah berhenti dan berkata sesuatu. Jangan berpikir saya memberkati orang Israel saja, Saya juga datang untuk semua suku bangsa. Israel menyeberangi sungai Yordan dan hal pertama yang mereka lakukan adalah bertemu hati Allah kepada bangsa-bangsa. Di dalam cerita ini kita lihat bagaimana Yosua mengutus dua pengintai masuk di tanah perjanjian. Memang kita bisa berpikir, wah, Yosua kurang beriman ya. Tuhan sudah berjanji, setiap tempat telapak kakimu injak Saya akan berikan. Kenapa Yosua seolah-olah meragukan sehingga dia perlu mengutus 2 pengintai? Justru terakhir kali orang Israel mengutus pengintai jadi masalah, bukan? Musa kirim 12 pengintai masuk ke tanah perjanjian, mereka kembali dengan membawa anggur, buah-buahan yang lebat dibawa semua. Justru 10 menolak masuk ke dalam tanah perjanjian, hanya dua, Yosua dan Kaleb yang setuju. Jadi mungkin mengutus 2 pengintai lagi akan menjadi masalah. Menarik, Yosua hanya kirim 2, Musa kirim semua. Yosua pikir yang 10 itu tidak perlu dikirim, dia pilih 2 khusus pergi untuk men-survei kota Yerikho. Tetapi coba berpikir kenapa dia melakukan hal itu. Selama 40 tahun Yosua telah lihat wabah atau mujizat yang terjadi di Mesir. Yosua juga melihat mujizat di padang gurun, air yang memancur dan sebagainya. Dan sekarang Yosua baru melihat bagaimana sungai Yordan dibendung dan Yosua dan bangsa Israel bisa menyebrang dengan selamat. Kenapa Yosua seolah-olah masih perlu satu tanda lagi dari Tuhan mengenai Yerikho? Allah sudah berjanji, semua tanah akan Ku berikan, pergi mengambil, bukankah Tuhan sudah janji kepada kita di gereja dan kita selalu berdoa, “Tuhan datanglah kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di surga.”
Pak Agus bicara mengenai gereja kita mau belajar misi, kita mau pergi ke daerah di mana mereka tidak mengenal Kristus sehingga Injil diberitakan di sana. Apakah kita ragu-ragu terhadap janji Allah? Saya kira Yosua tidak penuh dengan keraguan, saya merasa bahwa Yosua ingin merasakan di hati apa yang dia sudah mengerti di kepala. Saya kasih contoh. Saya sudah menikah dan tahun ini adalah 31 tahun dalam pernikahan kami. Waktu menikah kami berdiri di depan jemaat Tuhan dan saya mengikrarkan cinta kasih saya kepada Maria. Di depan Allah dan jemaat-Nya saya memproklamasikan, “Aku mencintai kamu sampai maut memisahkan.” Terus pergi bulan madu, setelah itu pulang, masuk rumah. Minggu pertama penuh dengan Bahagia. Minggu ke-2 kayaknya mulai ada sesuatu, tehnya kurang panas. Minggu ke-3, teh tidak disodorkan. Minggu ke-4, mukanya seram. Nah, laki-laki betul-betul telat membaca perasaan istri. Tak ada kuliah yang mengajar kita untuk mengerti apa yang ada di benak istri. Jadi setelah berhari-hari, berminggu-minggu saya lihat kok ada something wrong. Akhirnya saya bilang, “Kenapa ya, waktu menikah bahagia, berbunga-bunga, kok sekarang beginilah kita?” Dia bilang, “Kamu ngak pernah berkata lagi I Love you.” Saya berkata, “Sudah berdiri di depan Tuhan dan jemaat, sampai maut memisahkan, saya mengasihimu. Kenapa saya perlu setiap hari kasih tahu? Cukup kan?” You see, dia tahu saya mengasihi dia, tapi dia mau merasakan, aku dikasihi suamiku. Suami sekarang ngomong sama istri, paling nggak setahun sekali ya.
Yosua mengutus 2 pengintai, karena dia ingin merasakan janji Allah akan digenapi seperti Allah berjanji. Ini bukan karena dia meragukan, tetapi dia ingin ada satu perasaan yang menyertai iman. Jangan kita berpikir perasaan tidak penting dalam pelayanan di gereja, justru di dalam persekutuanmu dengan Tuhan adalah waktu merasakan bagaimana Tuhan mengasihi dan memperdulikan hidup kita. Maka Yosua mengutus 2 pengintai. Bisa dikatakan 2 pengintai ini adalah pengintai yang paling tidak becus dalam sejarah pengintaian. Kalau kita bikin cerita ini di Hollywood, ini akan menjadi film yang menarik sekali. 2 pengintai diutus, pasti mereka pakai baju orang Kanaan. Akhirnya mereka masuk ke kota Yerikho, tidak ada tempat untuk menginap, mereka tidak punya teman-teman di sana. Mereka memutuskan untuk menginap di rumah Rahab. Kenapa? Karena Rahab seorang pelacur. Orang laki-laki sering masuk keluar di sana, kan? Orang tidak akan bertanya kenapa orang bawa kafilah ke kota Yerikho terus menginap di rumah Rahab, itu sudah sering terjadi. Mungkin ada tamu lain di sana, yang punya informasi. Jadi mereka punya ide yang menarik, pergi ke rumah Rahab. Tetapi yang kita baca, setibanya di sana langsung diketahui ada pengintai di sini. Coba bayangkan, Yosua pilih orang terbaik untuk menjadi pengintai, setiba mereka di sana, langsung diketahui oleh pemerintah. Betul, ini 2 pengintai yang paling tidak becus di dalam sejarah pengintaian. Tetapi terjadi sesuatu yang mengagetkan, pemimpin dari pemerintah mengutus Kopasus untuk menangkap 2 pengintai ini. Jangan berpikir mereka kirim satpam dari depan gereja, bukan. Karena ini ada pengintai yang masuk, jadi harus mengirim Kopasus, Densus 88 untuk menangkap. Mereka datang, ketok pintu, Rahab buka pintu. Tetapi sebelum dia buka pintu dia lakukan sesuatu yang luar biasa. Dia membela ke-2 pengintai ini, harusnya dia melihat ini adalah peluang untuk memperkaya diri. Kalau saya serahkan 2 orang ini, saya bisa berkata, “Oh, memang saya mengunci mereka di dalam. Saya bisa minta uang, upah dari pemerintah, hadiah untuk membangun rumah lebih besar misalnya.” Tetapi dengan resiko besar, dia menyembunyikan dua pengintai ini. Dia menjadi pengkhianat negara dan bangsa, dan dengan mudah 2 pengintai ini bisa ditemui di dalam rumah dia. Tetapi dia justru memilih Allah Israel daripada memilih agamanya. Jadi, 2 pengintai yang tidak becus, ada Rahab yang memihak kepada Allah Israel bukan kepada bangsanya.
Sekarang kita lihat kejutan yang ke-3 adalah Densus 88 sudah jadi buta. Saya tidak tahu, mungkin Rahab menjadi figur yang paling elok dalam kota Yerikho. Mereka datang ke rumah Rahab, ketok pintu, “Buka! Buka!” Tidak pernah ada Densus datang, “Permisi.” Suaranya keras, marah-marah, “Cepat buka pintu!” Akhirnya Rahab, “Bentar Mas, ya.” Dia pergi ke atas, menyembunyikan pengintai itu. “Sabar ya, saya ganti baju dulu ya.” Jadi dia dandani diri jadi cantik, pakai parfum dan buka pintu, dia langsung mengibaskan rambutnya, “Selamat malam, Mas.” langsung hati Densus 88 meleleh. “Selamat malam juga Mbak, mau minta ijin, kami dengar ada orang di sini.” “Masa? Tak mungkin ada mereka di sini, Mas. Tadi ya, memang ada. Cuma saya usir. Mau masuk minum teh dulu?” “Tidak, kami lagi dinas, maaf ya.” “Ok, kalo begitu cepat-cepat kejar ya.” Coba pikir, Densus 88 sampai ke pintu tidak masuk. Rumah Rahab sebesar apa? Pasti ada 10 orang untuk menangkap, mungkin kalau mereka masuk dan periksa rumah Rahab, 2 menit selesai. Kalau mau mengejar orang, 2 menit tidak ada masalah kan? Harusnya mereka masuk, bongkar semua, lihat di bawah karpet, lihat di lemari. Tidak ada, lalu pergi. Mungkin Rahab duduk di kursi ada lampu sorot, “Ayo, mereka ke mana?” Tapi Rahab hanya mengibaskan rambutnya dan langsung mereka jadi buta dan “Oh, sudah pergi ya? Kami permisi dulu ya, kami mau pergi juga.” Kalau ini dibikin film bagus banget. Jadi di dalam cerita Yosua ini ada suspensi yang tinggi, betul? Pintu gerbang sekarang dikunci, pengintai ada di atas, dan di ujung dari ayat 7 kita semua menantikan bagaimana orang ini akan selamat. Tetapi cerita tidak berlanjut karena bagaimana pengintai ini menjadi selamat bukan poinnya di sini. Poin yang utama adalah apa yang akan dikatakan oleh Rahab. Kalau kita jalankan pelayanan atau kehendak Tuhan, kita tidak perlu takut akan musuh, kita tidak perlu cemas karena besar tantangan yang kita hadapi. Kita cukup untuk jalankan pelayanan karena Tuhan akan menyertai kita sampai kesudahannya.
Saya mengalami ini berkali-kali di dalam pelayanan saya. Satu kali kami cetak 20 ribu buku kecil dalam bahasa Sunda. judulnya adalah ‘Salib di dalam Al-Qur’an dan Injil, Salib dilebet Al-Qur’an sareng Injil.’ Dua puluh ribu buku dibungkus dengan kertas. Terus saya harus mengantar dari tempat percetakan di Jakarta ke kantor kami. Saya memasukkan semuanya di mobil Kijang saya, mobil saya penuh dengan buku traktat ini, waktu itu lewat Cililitan. Cililitan itu dulu adalah terminal bis di Jakarta, sebelum pindah ke Kampung Rambutan. Kalau anda orang Indonesia ingin tahu sejarah Jakarta, tanya saya. Saya sedang lewat di depan Cililitan, bis masuk keluar, tiba-tiba ban saya kempes dalam satu detik. Jadi ada orang yang lempar paku buatan di depan mobil saya. Waktu roda berputar paku ini berdiri dan tusuk ke dalam ban saya. Tapi paku ini kosong dalamnya jadi semua angin langsung keluar, pasti preman di terminal bis ingin saya turun supaya dia bisa naik dan bawa lari mobil saya. Karena dia tahu orang Indonesia kalau ada ban kempes, langsung berhenti di tempat, mereka tidak peduli menghalangi lalu lintas kota. Tapi saya bule, saya tahu kalau berhenti di sini bis sekota tidak bisa keluar dari terminal. Saya bisa membuat runtuh ekonomi Jakarta seharian gara-gara ban kempes. Jadi saya jalan terus, di samping terminal bis Cililitan ada perumahan TNI. Saya belok kiri langsung masuk ke portal dan berhenti. Karena ini perumahan TNI, ada tentara yang jaga di situ. Orang Indonesia takut sama tentara tapi saya bule, jadi saya malah menginjili tentara. Saya turun dari mobil, dia mendekati saya, saya berkata, “Maaf.” Minta maaf semua beres, kan? “Maaf, ban saya kempes.” Dia lihat, “Oh, iya, tidak apa-apa Pak. Silahkan ganti ban supaya bisa jalan.” Baru saya sadar untuk ganti ban, saya harus cari dongkrak saya di bawah 20 ribu buku traktat. Jadi saya buka pintu belakang mobil saya. Saya tidak tahu, kadang-kadang saya merasa Tuhan sengaja untuk membuat saya sulit. Saya merasa nyaman karena semua traktat dibungkus dengan kertas jadi orang tidak tahu ini apa. Tapi saya yakin ada malaikat yang dorong beberapa bungkus keluar dari belakang mobil saya. Langsung jatuh ke tanah, kertasnya sobek dan bertebaran di jalan, traktat-traktat ini. “Salib dilebet Al-Qur’an sareng Injil” Ini ditulis dalam bahasa Sunda. Sudah jelas ini bukan buku untuk MRII, GRII. Terus tentara melihat judul buku, dia lihat saya, dia pegang senapan, lihat saya lagi. Saya cuma senyum, saya bilang, “Ini titipan teman.” Terus jawaban dia, “Kami ada bengkel di belakang, saya panggil supaya dia ganti ban mobilmu.” Saya cepat-cepat memasukkan lagi semua buku dan kunci mobil. Kita kalau jalankan pelayanan tidak usah takut, karena Tuhan bisa membutakan mata Densus 88, Tuhan bisa mengatasi semua kebodohan kita, Tuhan bisa membuat penjaga perumahan TNI lunak hati dan menolong orang yang sedang penginjilan. Justru waktu kita menjalankan pelayanan, kita lihat Tuhan hadir dan Tuhan bekerja. Jadi di sini kita lihat hal pertama bahwa Allah sedang mendatangkan kerajaan-Nya. Dan waktu Tuhan mengutus kita, Dia menyertai kita.
Nah berhenti ayat 7, pintu gerbang sudah di kunci, pengintai masih di atas rumah, tidak mungkin mereka keluar. Bagaimana akhirnya mereka selamat? Tuhan berkata, tidak usah dibicarakan, sudah puluhan tahun sebelumnya Tuhan sudah mempersiapkan jalan keluar. Waktu Rahab cari rumah, mau beli rumah, ada perumahan baru di Yerikho Timur, dia pergi ke sana lihat, aku beli yang ini. “Maaf, itu sudah diambil orang, tinggal satu paling pojok di situ, menghadap tembok.” Jadi Tuhan sudah menempatkan rumah Rahab di situ sebagai jalan keluar bagi 2 pengintai ini. Allah jauh-jauh hari sudah mengatur, karena bagi Dia itu gampang. Kita terlalu fokus, dan ingin tahu bagaimana mereka bisa selamat, Allah berkata, “Sudah beres.” Tetapi justru ada hal yang lebih penting yang Allah mau sampaikan kepada kita dan ini adalah hal penting yang harus kita tangkap pagi ini. Allah memberkati Israel supaya mereka memberkati bangsa-bangsa. Allah tidak memberkati Israel supaya mereka mempunyai tanah yang luas. Di tengah-tengah Israel mau merebut tanah perjanjian ini ada jiwa orang kafir yang mau saya selamatkan.
Rahab adalah orang yang menarik sekali di dalam Alkitab. Rahab adalah orang yang sudah menyadari dia adalah orang berdosa. Rahab jelmaan dosa manusia, dia profesinya prostitusi. Kita melawan Allah sebenarnya kita melakukan perzinahan rohani. Dan setiap kali Rahab bersetubuh sama laki-laki, dia menggambarkan bagaimana manusia melakukan perzinahan rohani terhadap Allah. Kita main dengan berhala lain, dengan dewa-dewi lain sehingga kita berzinah terhadap Tuhan kita. Juga Rahab tahu dia adalah orang di dalam penghakiman Allah. Dia berkata, “Di dalam kota ini, kami sudah tahu bahwa kota ini sudah diserahkan kepada Allah.” Jadi, Rahab tahu dia adalah najis dan dia adalah orang yang dihukum. Wah, ini luar biasa. Rahab bisa mengerti itu. Tidak ada alasan sehingga orang tidak tahu bahwa mereka di dalam penghukuman. Coba bayangkan, selama 40 tahun mereka tahu cerita bagaimana Israel keluar dari Mesir. Rahab cerita bagaimana Allah telah membawa mereka keluar, menyeberangi Laut Teberau. Jadi selama 40 tahun, cerita ini diceritakan di pasar. Mungkin diajar di sekolah. Selama 40 tahun, seluruh kota tahu apa yang telah dilakukan oleh Yahweh. Tapi yang percaya berapa orang? Cuma Rahab. Tidak ada orang yang tidak punya alasan untuk tidak menerima Injil. Allah sudah beritahu berkali-kali. Kadang-kadang kita merasa, “Aduh, kasihan. Mama papa saya akan mati masuk neraka tanpa Kristus.” Padahal mereka sudah lihat dari hidupmu puluhan tahun tentang Kristus. Tidak ada orang yang tidak punya alasan ketika berdiri di depan Tuhan. Mereka punya informasi yang sama, tetapi hanya Rahab bisa merasa dirinya najis dan di dalam penghakiman. Yang menarik bagi saya adalah bagaimana Rahab meresponi apa yang dia dengar. Mulai dari ayat 9. “Aku tahu, aku tahu, dia berkata.” Jadi dia mulai menceritakan ulang, tingkah laku Allah untuk membawa penebusan di dalam dunia ini. Jadi, Injil adalah menyampaikan berita kepada orang. Orang harus tahu sebelum mereka beriman.
Kalau saya mau pacaran. Beda cara pacaran di Barat sama Indonesia. Lucu sekali. Kalau kita pacaran di Barat, kita pergi ke restoran. Kami cari meja. Ya, mudah-mudahan meja yang agak sunyi di belakang. Kemudian saya duduk di sini, dia duduk berhadapan dengan saya, supaya kita bisa bicara satu demi satu, bisa menatap matanya supaya tahu orang ini seperti apa. Semakin kita mengenal, semakin hati kita berbunga-bunga. Betul? Tapi pacaran di Indonesia beda ya. Kita pergi ke restoran dengan TV yang besar. Kita duduk bersebelahan dan semua menatap ke TV. Tidak bicara, yang penting bersama. Habis nonton bersama, jadi. Ini kita kok pacaran, tapi tidak mengenal sesuatu tentang orang yang kita nanti mau nikahi. Justru kalau kita mau hubungan yang sehat, kita mau menggali dan mengetahui siapa orang ini. Maka hal pertama yang kita lihat di dalam iman Rahab adalah dia dengar. Dia tahu sesuatu tentang Allah. Kemudian kita lihat apa yang dia tahu tentang Allah. Pertama, dia mulai cerita bagaimana Tuhan telah mengeringkan air laut Teberau. Dia kasih tahu bagaimana Tuhan mengalahkan raja orang Amori. Dan, kita melihat bagaimana Tuhan mengalahkan dewa mereka di dalam peperangan. Rahab tahu bahwa mereka ditumpas oleh Allah. Ditumpaskan adalah satu istilah dari bait suci. Itu untuk hal yang najis yang ada di bawah penghukuman Allah. Apa yang kita lihat dari iman Rahab? Rahab, dia mengerti Allah menyelamatkan. Dia mengerti Allah adalah Allah di atas segala allah yang lain. Dan dia tahu Allah itu menghakimi. Dari mana Rahab dapat ini? Rahab tidak pernah ikut Sekolah Minggu. Dia tidak pernah ada tim dari GRII Sydney datang KKR Siswa di sekolah dia. Dia tidak nonton live streaming dari Jakarta pas Pak Stephen Tong berkhotbah. Tidak ada yang bagikan traktat. Tidak ada film Yesus. Dari mana dia tahu ini? Tuhan menaruh di dalam hatinya iman kepercayaan. Apa yang dia dengar tidak begitu keluar, tetapi disimpan di dalam hati. Jadi apa yang dia dengar diresponi.
Saya kira ini penting untuk penginjilan kita. Karena waktu kita menginjili orang, kita tidak sedang membujuk orang untuk memihak ke pendapat kita. Waktu saya menyampaikan Injil, saya sedang filter orang. Saya ingin tahu sejauh mana Tuhan sudah bekerja sehingga dia siap untuk meresponi Injil. Rahab tidak ada mujizat. Dia tidak pernah lihat manna di padang belantara. Dia tidak melihat bagaimana Tuhan memisahkan lautnya. Dia hanya mendengar berita dan dia langsung anggap ini suara dari Tuhan. Jadi waktu kita bertemu orang untuk menyampaikan Injil, kita sedang mencari orang yang dipersiapkan Tuhan untuk percaya. Sehingga waktu berita ini sampai ke telinga Rahab, iman timbul di dalam hati. Sehingga kita lihat di ayat yang ke-11 dikatakan, “Sebab TUHAN, Allahmu, ialah Allah di langit di atas dan di bumi di bawah.” Ini menarik sekali karena Rahab pakai istilah Tuhan. Di dalam Alkitab, ada 2 cara menulis Tuhan. Ada Tuhan, T-nya besar, yang lain huruf kecil. Atau, seperti yang kita baca di sini. T-U-H-A-N, semua huruf besar. Kenapa kita pakai 2 cara menulis ‘Tuhan’? Karena di dalam bahasa asli, ada 2 istilah dalam bahasa Ibrani yang kita menerjemahkan ‘Tuhan’. Dan waktu semua huruf besar itu adalah terjemahan Yahweh.
Ingat waktu Musa menghadapi Allah di dalam semak yang menyala-nyala? Musa bertanya, “Siapa yang mengutus saya ke Mesir?” dan Allah berkata, “Inilah nama kudus-Ku. Saya tidak punya nama lain. Nama saya adalah Yahweh. Ini sekarang kita melihat pengakuan nama Allah Israel ada di bibir orang Kafir. Dan dia berkata, “Allah ini di langit di atas dan di bumi di bawah.” Dia justru sedang mengutip dari pengakuan orang Israel. Dia sedang berkata, “Tuhan itu adalah Tuhan di atas semua tuhan yang lain.” Ini seperti kita bertemu orang di pedalaman di negara Pakistan. Di situ kita bertemu orang dan dia berkata, “Aku percaya bahwa Yesus adalah Tuhan di atas segala tuhan.” Dari mana tahu? Oh, saya pernah dapat WA dari teman. Kira-kira seperti ini. Luar biasa iman yang bisa timbul di dalam hati Rahab. Kenapa dia bisa beriman begini? Karena dia mengerti bahwa Allah Israel berlaku ramah. Di dalam ayat ke-12 berkali-kali dia berkata, “Berlaku ramah terhadap aku dan keluarga.” Istilah ‘berlaku ramah’ adalah istilah terpenting di dalam Perjanjian Lama. Itu adalah istilah Hesed חֶסֶד (kasih setia Allah). Dia mengerti bahwa Allah Yahweh ini satu-satunya Raja yang benar. Dia yang menghakimi orang yang berdosa. Dia menyelamatkan orang yang memihak kepada Dia. Maka, dia memegang kepada Yahweh. Dia lari kepada Yahweh untuk diselamatkan. Rahab tidak memiliki Alkitab. Tidak pernah ke Sekolah Minggu. Tidak pernah melihat mujizat. Tapi, dia punya iman yang menyelamatkan. Ini adalah mujizat terbesar. Waktu kita memberitakan Injil, kita lihat Tuhan sudah lebih dahulu bekerja. Setelah Rahab menerima Injil, seluruh hidupnya berubah. Dia diselamatkan karena dia di dalam ruangan, dengan tanda, dengan tali kermisi. Warna kirmizi di situ, rumah itu tidak dihancurkan. Dia dan keluarga dibawa keluar dan ditempatkan di antara bangsa Israel. Langsung Rahab menjadi bagian di dalam komunitas orang percaya. Mungkin anda tidak tahu, tetapi Rahab adalah great, great, grandmother dari Daud. Coba bayangkan sekarang, Rahab, seorang pelacur, seorang kafir, pindah masuk ke orang Israel. Dia menikah sama anak seorang pemimpin dari Israel. Coba bayangkan kalau keluarga terpandang di Indonesia, terus anaknya kuliah di Australia. Di Australia bertemu dengan seorang pelacur yang masuk gereja. Kemudian dia bawa pelacur ini back to Indonesia. Sebelum datang, dia sudah telpon mamanya. “Ma, ada kabar gembira. Aku sudah jatuh cinta dengan seorang gadis.” Terus, mamanya bilang, “Kami sudah lama mendoakan calon istrimu. Sejak lahir, kami mendoakan calonmu. Kami bersyukur Tuhan sudah menyediakan.” Akhirnya bawa dia pulang. Mama mikir, mungkin orang Surabaya. Tahu-tahu, ada pelacur. Warna kulit berbeda denganmu. Hidungnya panjang. Rambutnya pirang. Punya tato sana-sini. Antingnya 10 di sini, 3 di sana. Akhirnya dia pulang ke rumah, “Ma, ini calon istriku.” Reaksi orang tuamu apa? Senang? Happy? Mungkin saya tanya, “You kerja apa yah?” “Oh, sekarang pengangguran.” “Oh, sebelumnya apa?” “Eh, marketing. Customer relations.” Coba bayangkan. Bagaimana perubahan hidup Rahab dari hidup sebelumnya kepada sekarang ini? Dan ini adalah transformasi untuk setiap orang yang percaya. Pada saat kita percaya kepada Kristus, hidup kita berubah total. Mulai pertama dengan status kita. Dulu menjadi musuh Allah, sekarang menjadi anak Allah. Kita punya status tertinggi di dalam dunia ini. Konglomerat, menteri, presiden, status mereka kelihatan besar. Mungkin kalau kita bicara soal ekonomi, memang mereka lebih tahu, saya tidak tahu. Tetapi, di dalam bidang rohani, anda punya status tertinggi. Aku hari ini adalah anak Tuhan. Allah sudah membuang semua di latar belakang hidup saya. Semua yang membuat saya malu, semua yang membuat saya hina, Tuhan sudah menguburkan. Tuhan angkat saya menjadi anak Dia! Sekarang saya duduk semeja dengan Dia untuk bersekutu dengan Dia. Setiap hari saya bicara dengan Tuhan. Muka dengan muka. Dan Dia menyahut saya. Di sinilah saya melihat bahwa betul Allah mengasihi saya. Anda perlu membaca cerita Rahab dan menjadi kagum terhadap Allah kita. Allah tidak hanya memberitahu secara mujizat kepada Rahab dari tidak tahu, kok bisa beriman kepada Tuhan. Rahab tidak diselamatkan untuk duduk di belakang dengan pembantu. Rahab disuruh datang untuk semeja dengan Tuhan sebagai anak. Dan Rahab langsung memiliki hati yang berbeda, tidak lagi melacur. Tidak lagi memikirkan dirinya sendiri, tetapi sekarang dia mencintai umat Allah dan dia berjalan bersama mereka.
Apakah hidupmu sudah mengalami transformasi seperti ini? Saya berpikir kalau semua datang ke gereja hari Minggu, pasti karena sudah beriman kepada Kristus. Tetapi semakin saya menggembalakan jemaat, semakin saya sadar banyak di antara orang yang duduk di sini setiap Minggu, belum pernah menerima Kristus di dalam hati. Banyak hadir hari ini karena mengantar keluarga. Ada yang datang karena saya tidak ada kegiatan lain. Saya datang karena ada perempuan cantik di sini. Saya datang karena saya butuh komunitas. Tragedi terbesar adalah orang bisa dengar Firman, tidak meresponi dan beriman. Orang di Kanaan dengar berita Injil selamat 40 tahun, yang selamat cuma satu keluarga. Jangan mengeraskan hatimu hari ini. Rahab selamat bukan karena dia orang baik. Rahab tidak diselamatkan karena dari keluarga terpandang. Satu-satunya hal yang menyelamatkan Rahab adalah dia berada di dalam rumah. Tuhan berkata, “Yang ada di dalam rumah ini, Aku akan selamatkan.” Mungkin di luar, ada orang yang jauh lebih baik. Tetapi hanya yang ada di dalam rumah yang diselamatkan. Masuklah ke dalam Kristus. Masuk ke dalam Kristus dan diselamatkan. Karena penghakiman Tuhan akan datang. Tuhan berkata, “Seluruh dunia ini, suku-suku bangsa akan berlutut di depan Saya dan menyembah Saya.” Kerajaan Allah sedang datang.
Allah sedang membangun jemaat-Nya di mana-mana. Waktu itu Dia mengutus kita ke Yerusalem, Samaria sampai ke ujung bumi. Dan kita tahu Rahab sungguh bertobat karena dia sekarang punya niat yang baru di dalam hati. Hal pertama yang dialami oleh Rahab adalah bagaimana keluarga saya juga bisa selamat. Dia sedang memikirkan tentang ‘Yerusalem’ dia yaitu orang yang paling dekat dengan dia. Bagaimana mereka juga bisa selamat? Coba bayangkan. Rahab sebagai pelacur harusnya dia ada sakit hati sama keluarga. Hanya ada 2 kemungkinan. Keluarga menjual dia jadi pelacur, atau, keluarga tidak peduli dia jadi pelacur. Harusnya Rahab sakit hati besar sama terhadap mereka, tetapi justru orang pertama yang ada di hati Rahab adalah bagaimana keluarga saya bisa selamat. Saya bertemu banyak orang masuk ke gereja. Aduh, puji Tuhan. Tuhan menyelamatkan saya, tetapi aku masih ada kebencian terhadap mamaku, aku masih dendam terhadap papaku yang marah dengan saya. Kita ingin dipulihkan, tetapi kita tidak mau melepaskan emosi dan masa lalu kita terhadap keluarga. Namun, orang yang ditransformasi oleh Tuhan akan sadar, Tuhan telah mengampuni dosaku. Kalau Tuhan bisa mengampuniku, Dia bisa mengampuni orangtuaku. Apakah anda berusaha mendatangkan Firman Allah di tengah keluarga besarmu? Atau apakah kepahitan di dalam hatimu masih disimpan dan menjadi batu sandungan? Rahab juga melihat bahwa orang sekitar dia seperti orang Samaria perlu diinjili.
Di tempat yang sama, beberapa ribu tahun kemudian ada seorang perempuan sundal seperti Rahab diselamatkan. Sama-sama orang di Kanaan. Sama-sama orang yang menyembah berhala. Sama-sama punya hubungan dengan banyak laki-laki. Waktu itu Yesus bertemu seorang perempuan Samaria di pinggir sumur. Yohanes 4 dan para murid hanya berpikir tentang suku mereka sendiri, orang Israel. Tetapi Yesus berkata, “Di tempat seperti ini, saya sudah menyiapkan tuaian.” Tuhan sudah ada tuaian sekeliling gereja ini. Apakah kita punya hati untuk jalankan kehendak-Nya? Dan, kita juga lihat bagaimana Injil ini sampai ke ujung bumi. Ya, Yerikho seperti dunia ini berpikir itu adalah kota yang mustahil ditaklukkan. Tetapi Tuhan berkata, “Di tengah-tengah orang seperti itu, Aku akan membawa kebangunan rohani.” Sebenarnya cerita Rahab ini memperlihatkan kepada kita, rencana atau cerita yang lebih besar lagi. Rahab diselamatkan oleh kasih setia Allah (Hesed חֶסֶד Allah). Bukti atau pernyataan dari Hesed Allah yang paling besar akan terwujud. Itu terwujud dari keturunan Rahab ini. Karena kita baca di dalam Matius pasal yang pertama, silsilahnya Yesus Kristus. Dari Rahab datang Daud. Dan dari Daud datang Mesias. Dan melalui apa yang terjadi di Yeriko di sini, kita melihat bagaimana Tuhan akan menyelamatkan seluruh dunia. Mungkin Tuhan sudah siapkan Rahab di sekeliling kita. Mungkin anda akan dipakai Tuhan untuk menuai apa yang Tuhan sudah mempersiapkan. Beriman, maju, dan biar Tuhan pakai gereja kita.
GRII Sydney
GRII didirikan di atas dasar Pengakuan Iman Reformed Injili dengan tujuan menegakkan satu gereja yang berbasiskan teologi Reformed, dengan mimbar yang menyampaikan khotbah ekspositoris, read more