Yohanes 3:1-16
Kita akan merenungkan satu bagian Injil Yohanes yang penuh dengan blessing bagi kita. Awal dari Injil Yohanes ditulis menggunakan pola tulis Kejadian 1-3. Seperti di dalam Kejadian 1-3 diperkenalkan awal mula ini dan awal mula itu. Awal penciptaan, awal diciptakannya binatang, awal diciptakannya benda-benda langit, awal diciptakannya manusia, awal mula manusia mulai berjumpa dengan pasangannya, awal mula manusia berdosa dan Tuhan mencarinya, sampai awal mula manusia diutus pergi ke Eden, dan seterusnya menjadi awal mula segala sesuatu ada pada kitab Kejadian. Dalam injil Yohanes kita menemukan semacam kemiripan itu, dikatakan awal mula adalah Firman bersama-sama dengan Allah, lalu setelah itu awal baptisan Yesus Kristus, bagaimana Yesus datang menghampiri Yohanes Pembaptis. Jadi dikisahkan dengan sangat dekat dan lebih terang benderang dibandingkan di Injil-Injil yang lain, karena penulisnya langsung berada di sisi tokoh utama. Di situlah kita mendengar bagaimana komunikasi Yesus dengan Yohanes Pembaptis, kemudian Yohanes memberi tahu bahwa murid yang pertama dipilih itu siapa di sana. Di bagian 3 Injil sinoptik yang lain hanya dijelaskan inilah 12 murid Yesus. Rupanya, nama-nama yang dituliskan pertama bukan berarti dia murid pertama yang dipanggil, jadi kita makin lengkap dan makin jelas ketika membaca Injil Yohanes. Lalu kita mendapatkan semacam rekaman atau revelasi tentang dialog yang tidak ditulis di dalam Injil-Injil yang lain. Seorang penafsir mengatakan bahwa Yohanes benar-benar menulis semua yang langsung dia dengar dari bibir Tuhan, juga ada satu kisah tentang mukjizat pertama tidak ditulis di Injl- Injil lain. Anda semua ingat bukan mukjizat pertama apa? Ya disebut mukjizat pertama karena muncul di bagian awal Injil Yohanes. Sepertinya, awal dari pelayanan-Nya setelah Ia dibaptis, Dia mulai mengadakan kunjungan di pernikahan. Dia merubah air menjadi anggur, itu menjadi awal dari pemberitahuan bahwa nanti kamu akan berjumpa dengan Aku sebagai pokok anggur yang benar.
Juga di injil Yohanes, ditulis awal pertama Yesus marah membersihkan Bait Suci, hingga sebagian dari penafsir mengatakan Yesus marah 2 kali. Di awal pelayanan Dia sudah mulai marah, dan terakhir Dia marah sekali. Inilah salah satu penyebab Dia harus segera ditangkap, kalau tidak, Dia akan marah ke-3, ke-4, ke-5, maka kosonglah Bait Allah. Kosong dan berpindah orang-orang kepada Yesus, karena ditulis di bagian itu, tak ada seorang pun yang melawan Dia, justru sebagian banyak orang sangat interest kepada tindakan Yesus ini. Saya percaya kemarahan Yesus bisa 10 kali lipat dari kemarahan pendeta Stephen Tong. Kita terlalu banyak dipengaruhi oleh guru Sekolah Minggu sejak kecil, bahwa Yesus penuh kasih, marah-Nya juga hanya memperlihatkan kemarahan, tapi tidak direkam tindakan marah-Nya seperti apa. Kemurnian Tuhan yang menjadi manusia menampilkan kemarahan yang sangat-sangat sejati di sana. Marah-Nya bersifat Ilahi, melampaui sifat maskulin seorang pria dan melampaui kasih sayang seorang ibu yang marah ketika mem-protect anak-anaknya. Ke-2 itu bisa kita bayangkan sebagai kemarahan Ilahi pada waktu itu, orang tidak pernah lihat kemarahan yang begitu sangat memberkati mereka.
Kemudian kita bisa menemukan awal atau pertama kali Yesus menginjili petinggi Yahudi, sebelum Dia juga menginjili perempuan Samaria di pasal 4, jadi bagus sekali kalau kita tidak kehilangan banyak catatan. Dia menginjili orang yang paling top, Nikodemus. Dia menginjili juga wanita yang sudah terlanjur dieliminisi, didisfikualifikasi, dikafirkan 3 lapis kafir, meskipun ada juga penafsir mengatakan wanita itu tidak serendah yang diduga orang, meskipun bagi sebagian orang di Samaria itu bukan tindakan moral yang popular. Tetap dia di mata orang Yahudi pada khususnya adalah orang yang paling tidak mungkin perlu dihargai.
Pagi ini kita akan merenungkan tentang siapa Nikodemus, sehingga datang kepada Yesus di malam hari. Nikodemus baru tahu lahir menjadi Kristen itu pasif dan tidak tertolakkan. Kita lahir dari ibu kita, mana bisa kita memilihnya. Kita tidak bisa pilih ibu yang mana, kita tidak bisa pilih tanggal kapan, kita tidak bisa pilih lewat sesar atau lahir normal, kita tidak bisa pilih selamat lahir atau mati dalam keadaan lahir; kita begitu pasif, dan kita tidak bisa menolak keberadaan kita itu. Sehingga istilah dilahirkan kembali cocok sekali untuk menjelaskan bagaimana seorang yang terpelajar dan seorang profesor tertinggi di kalangan Yahudi ini mulai terheran-heran, kenapa dia bisa dilahirkan kembali. Setelah lahir kita diminta untuk hidup dan survive sendiri. Mari kita membaca Yohanes 3:1-16 (Percakapan dengan Nikodemus). Terlalu syarat dengan pengetahuan bagaimana kita diselamatkan di dalam ayat-ayat yang kita baca ini. Nikodemus adalah seorang petinggi agama Yahudi. Banyak penafsir memberikan title dia dikenal sebagai seorang anggota sang Sanhedrin. Sanhedrin adalah 71 orang tertinggi di seluruh orang Yahudi pada tempo itu. 71 orang ini perwakilan dari berbagai macam partai dan kelompok Yahudi yang ada di sana. Sudah tentu orang-orang yang karirnya sangat cemerlang, baik di dalam dunia akademik ataupun di dalam urusan dunia ekonomi dan sejenisnya. Ditambah dengan urusan politik serta kemasyarakatan mereka adalah orang-orang yang tidak mungkin lagi mengecewakan para pemilihnya. Jadi kita tahu sendiri orang-orang ini bukanlah orang-orang yang gampang tampil di muka publik, tetapi dia muncul di dalam kamera John, penulis Injil. Untung ada satu murid yang selalu ikut dan dekat dengan Yesus. Dia rekam semua, dan di masa tua dia menuliskan itu. Menarik sekali kalau penulis pertama dari kitab suci kita berusia 80 tahun lebih, namanya Musa dan penutup dari 5 tulisan Kitab suci kita adalah orang yang juga berusia 80 tahun lebih, namanya Yohanes, sehingga buku kita benar-benar ditulis begitu matang, begitu mantap dan tidak mungkin lagi bisa ada ke-2 atau ke-3 atau saingannya. Karena bukan semata-mata dia seorang yang expert dan orang yang sudah begitu menguasai berpuluh-puluh tahun, tetapi dia orang yang direvelasi oleh Tuhan. Pekerjaan Tuhan memilih orang untuk menulis itu, begitu kita flashback ke belakang tidak semudah yang kita pikirkan. Saya percaya sebelum Yohanes menulis ini, dia sudah merenungkan berpuluh-puluh tahun dalam pelayanannya tentang apa yang dia harus tuliskan untuk melengkapi ke-3 Injil yang lainnya. Seperti sebagian para penafsir percaya bahwa tulisan Yohanes sebanyak 5 tulisan ini ketika dia dibuang ke pulau Patmos di masa tua itu. Injil Yohanes, 1-3 surat Yohanes, dan terakhir adalah Wahyu, terlalu indah dan mantap tulisan-tulisan ini.
Pemimpin agama Yahudi yang satu ini memang sudah tidak bisa lagi lepas dari tangkapan penulis Injil Yohanes. Mesikpun dia datang di malam hari, tentu tujuannya untuk menghindari para wartawan yang ada di sekitar sana, dan juga untuk menghindari teman-teman yang tidak sepaham dengannya. Yang kita tahu dirinya begitu gelisah untuk menemui Yesus, tidak ada jalan lain untuk segera menemui Yesus. Secara usia mereka jauh berbeda, seorang penatua yang didaulat menjadi pemimpin tertinggi biasanya usia harus melewati usia 50 tahun. jadi perkiraan mungkin sekitar 65-70 tahun usianya. Jadi, cocok kalau Yesus berbicara kepada Dia dengan panggilan “Oom.” Usia Yesus setengah dari Nikodemus; tetapi terbalik, Nikodemus bilang, “Kenapa tidak bisa sejahtera, mengingat dan memikirkan yang dikhotbahkan Yesus dan dipikirkan Yesus, dan dikerjakan Yesus?” Apakah kita bisa ikut mencurigai bahwa Nikodemus adalah salah satu tua-tua yang pernah bertemu Yesus ketika usia 12 tahun? Jika pada waktu itu Nikodemus baru berkarir usia 50 tahun, 18 tahun kemudian berarti dia sudah berumur 68. Ya, 18 tahun kemudian berjumpa lagi. Yesus tidak panjang lebar, dia menerima Nikodemus dan langsung berkata, “Kamu harus dilahirkan kembali!” Nikodemus datang dengan sopan santun, “Guru, selamat malam,” Yesus berkata, “Ada apa?” Yesus sudah panjang lebar katakan, bahwa kamu harus dilahirkan kembali. Sudah barang tentu orang dengan penuh dengan tata krama, pendidikan tinggi, orang yang begitu terhormat langsung ditembak seperti itu, dia langsung melongo apa-apaan ini anak muda satu ini? Yesus bilang, “Heran kan?” “Jangan heran, kamu professor, kok heran.” Tambah heran, tambah tersinggung, tambah salah tingkah. Lalu keluarlah kalimat yang tidak sepatutnya keluar dari seorang profesor seperti itu. Bagaimana lahir lagi, masuk ke dalam rahim ibuku? Suatu pernyataan yang begitu apa adanya dengan Nikodemus. Saudara sekalian, saya rasa kita kehilangan besar tentang informasi apa itu dilahirkan kembali, jika kita tidak punya tulisan ini.
Kekristenan adalah diberi iman, bukan dapat hidayah. Kristen bukan mendapat hidayah. Apa hidayah itu tadi? Guidance to the revelation atau tuntunan Tuhan. Tidak, Kristen tidak pernah ada tuntunan, terus jadi Kristen, itu gak ada. Maka semua membuat kita ketawa dan kita senyam-senyum ketika seorang dapat hidayah dan pindah agama. Dan Kristen bukan bicara tentang pencerahaan, apaan itu. Pencerahan atau sesuatu yang sifatnya baru tahu hari itu. Terus belajar lagi lebih dulu, kemudian baru convert. Bukan. Katekisasi untuk melengkapi apa yang sudah membuat dia lahir jadi Kristen, dan Kristen tidak berbicara tentang menjadi tenang. Sekarang sudah bisa yoga, bisa meditasi, dan aku jadi lebih tenang. Saudara-saudara kalau kecoa lewat, tidak tenang lagi. Harusnya kalau sudah meditasi, ada kecoa, ada cicak lewat saudara tenang saja. Seringkali kita tidur dalam kepalsuan, agama hampir mendekati dunia kepalsuan karena itu dicipta oleh manusia, untuk memperlengkapi apa yang dia rasa kurang. Sebaliknya, Kristen justru mengejutkan, istilah yang dipakai dalam bahasa Indonesia, mengherankan. “Jangan kamu heran Nikodemus, karena keselamatan diberikan, dengan tidak pernah berdiskusi dengan kita.” Seperti di dalam ayat 16 seperti, bahasa Inggris jauh lebih tepat dibandingkan dengan bahasa Indonesia. Harusnya tidah boleh menggunakan kata ‘supaya’ di sana, arti ‘that’, berbeda dengan ‘so that’. Keselamatan Kristen adalah sebuah penyataan, bukan pernyataan. Jadi bahasa bibliologi yaitu Firman yang diberikan adalah penyataan, bukan pernyataan. Bukan statement, tapi penyataan, dinyatakan (di-reveal), dibukakan. Demikian keselamatan adalah sebuah pengumuman, bahwa kita mendapatkan iman. Iman sudah ditanam, dan iman sudah diresponi oleh manusia, sekarang iman itu sedang membuat kita terheran-heran kenapa kita menjadi tumbuh di dalam ke-Kristenan. Kenapa kita kok pingin jadi Kristen ya? Kira-kira begitu. Kok setelah Kristen, rasa lebih sejahtera ya? Atau sebagian, kok makin benci dengan Kristen ya? Tapi rindu juga ya? Ini ada apa sebenarnya? Makin aku marah, makin aku rasa aku tidak benar.
Baru saja saya dengar sekeluarga, anak-anak mulai Sekolah Minggu, bapaknya marah-marah setiap anak-anak Sekolah Minggu. Sekarang di Jakarta, bapaknya sudah umur 89 tahun, menjadi pemuka gereja yang tidak pernah bisa turun, karena terus ditahan oleh teman-temannya, dia lebih rohani dari yang lain. Ketika dia pukul anaknya ke gereja, kok hatinya tidak damai ya? Pukul nomor satu, pukul nomor 2, 5 anak dipukul semua. Kenapa kamu ke gereja? Kemudian dia baru tahu itulah sign bahwa dia sebenarnya sudah harus mengakui ada sesuatu yang ditanam dan tumbuh di dalam hidupnya. Jadi, iman kepada Tuhan Yesus Kristus yang mati dan bangkit menyelamatkan manusia akan seiring dengan waktu, menjelas di dalam hidup orang yang mendapatkan benih iman itu. Caranya bisa bermacam-macam, ada yang mulai kooperatif dengan kegelisahan itu; dia mulai cari gereja, tanya-tanya, diskusi tentang Kristen, dengan orang Kristen, dan sebagainya. Ada juga yang berusaha untuk melawannya, menolaknya dan menyangkalinya. Itu sebabnya dia ungkapkan dalam bentuk pukulan, dalam bentuk makian, dalam bentuk kebencian-kebencian lainnya. Rasul Paulus berkata, “Ketika aku mencoba membunuh satu-satu orang Kristen, kenapa Dia membiarkan saya? Dan kenapa Dia tidak menghukum saya, dan kenapa Dia menemui saya dan berkata: Mengapa kamu aniaya Aku?” Paulus katakan, “Aku tidak layak.”
Iman yang ditumbuhkan adalah iman yang benar-benar diberikan tanpa kompromi lagi dengan siapapun, di situlah manusia mengalami kelahiran baru. Tapi kalau dibayang-bayang, memang tidak ada orang bisa menyadari adanya kelahiran baru sebelum setelah dia sedikit lebih dewasa dan bisa memahami masa lalunya. Kalau saya tanya, saya yakin 1000% tidak ada seorangpun yang bisa bercerita mengalami bagaimana begitu susahnya keluar dari rahim ibu. Kecuali cerita-cerita yang diceritakan oleh mama, oleh sekitar kita, dan mungkin sebagian sudah ada rekaman pada waktu itu, baru mulai tahu, “Oh, masa itu aku?” Jadi cocok sekali istilah kelahiran baru itu diberikan bagaimana kita menjadi Kristen, setelah itu barulah kita mengalami pertobatan. Kesadaran bahwa, “Aduh, untung jadi Kristen,” lalu kita mulai sadar, ternyata ada banyak yang kita tidak mungkin kita selesaikan sendiri. Ah kita mulai rasa, hidup kita harus beriman. Berlanjut dengan mulai menuntut hidup kesucian di situ. Terus menjadi sedikit aneh dibandingkan lingkungan kita. Kita di-bully, “Sok suci lu, ada apa kamu kok rajin ke gereja sekarang? Apa-apa ngomong tentang Kristen lagi, Kristen lagi.” Mulai terjadi perubahan-perubahan yang tidak bisa kita melawannya. Sebaliknya, kita dianiaya sekalipun, kita menikmatinya, dan kita melanjutkannya, dan kita suka untuk meneruskan semua pengalaman-pengalaman itu. Mulailah kita mulai berani menyatakan diri menjadi orang yang tekun di dalam menanggung segala sesuatu demi kenikmatan dan sukacita menjadi orang Kristen. Sehingga, bagi sebagian orang, putus hubungan (relasi family), atau putus hubungan relasi ekonomi, atau putus hubungan relasi-relasi lainnya; mereka rela, karena ada sesuatu yang jauh lebih enjoy yang harus dia lanjutkan dbandingkan itu semua. Karena kemudian kita tidak pernah tahu sebelumnya; diberkati untuk mengejar pertumbuhan kesucian dan ketekunan kita. Jadi Kristen bukan lagi dikenal sebagai agama yang mengobral kepercayaan: “Siapa mau? Siapa mau? Ayo cepat, cepat! Siapa mau?” itu obral.
Saya tanya ke Pak Tong, “Pak Tong, kalau calling 3 kali, tapi pak Tong, 7 kali ya?” Pak Tong, “Yang terakhir kali, kita nyanyi satu kali, yang terakhir kali. Yang terakhir dari terakhir, kita nyanyi sekali lagi,” sudah 4 kali, tadi janjinya 3 kali; sampai biasanya ke 7 kali, baru dia close. Saya bertanya, “Kenapa harus ditambah terus?” Pak Tong bilang, “Yang paling sedap itu yang ke-7 kali.” “Masih ada? Masih ada?” Sudah tidak ada yang jalan, dari mimbar kelihatan sudah tidak ada yang jalan, sudah kumpul semua seribu orang di depan. Pak Tong bilang, “Yang ke-6, biasanya ada 2 nyamuk lari. Dan kalau ke-7 kali, masih ada lari dari satu sudut tempat duduk,” dia berkata, “Itu yang original, itu yang paling sedap, itu yang Tuhan tunggu.” Yang pertama kali, mungkin itu automatically seperti robot. “Siapa yang mau maju depan?” Yang terakhir itu yang sedap. Saya belum berani sampai 7 kali, memang pengalaman beribu kali calling, beliau mengerti apa yang ada di dalam hati orang-orang yang berdetup jantungnya, tapi masih belum ada keberanian, atau masih ada gengsi untuk bangun dan maju. Baru di sana kita tahu Kristen bukan obral. Kristen adalah menentukan dan mencari siapa yang ditentukan. Kristen bukan sayembara. Kristen juga bukan formulasi, Kristen adalah penyataan. “Nikodemus, you Kristen.” “Apa itu? Masa iya? Bagaimana?” Semua pertanyaan yang sebenarnya dia tidak perlu menanyakanya lagi, tetapi itulah pertanyaan iman yang dari awal sudah menggelisahkan dirinya. Kalau benar-benar 18 tahun yang lalu, dia sudah sangat respect kepada anak kecil yang berumur 12 tahun itu, berarti iman itu sudah mulai tumbuh waktu itu. Kita tidak pernah tahu selama 18 tahun dia gelisah seperti apa, dan ‘calling ke-7’ itu, yaitu malam hari itu, segelisah apa dia. Saya tidak tahu bagaimana Nikodemus gelisah, entah berapa orang bodyguard yang harus dia bawa, karena petinggi, tinggi sekali itu harus ada pendamping, atau asisten, atau penjaga mereka, ketika keluar dari tempat tinggal mereka.
Kalau kita membaca, sebelum Nikodemus datang kepada Yesus, Yesus baru selesai KKR di kota Yerusalem, tetapi dikatakan Yesus tidak mempercayakan diri-Nya kepada orang banyak itu. Malam hari, Dia pulang ke tempat Dia biasa menginap, tempat itu biasa adalah di Betfage, 1,9 km menuju Betania. Kita tahu para petinggi, tinggal di sekitar kota Yerusalem. Jadi berapa gelisahnya sampai dia harus menempuh 1,9 km di malam hari untuk menjumpai seorang yang sebenarnya jauh lebih muda dari dia dan Nikodemus berhasil menemui Yesus. Perkataan: ‘Jangan heran, karena Aku berkata kepadamu, kamu harus dilahirkan’ Kembali di ayat ke 7. Kata “deî” dalam bahasa Yunani, adalah permintaan untuk menerjemahkan sebagai ‘must be, must need it’. Jadi, tidak ada jalan lain, kamu memerlukan itu, dan tak ada yang diperlukan kecuali itu; kamu harus dilahirkan kembali. Jadi saya mengajak menafsir bagian ini, atau mengerti bagian ini sebagai peneguhan Yesus terhadap Nikodemus, bahwa Nikodemus sudah menyatakan tindakan-tindakan imannya mulai dari kegelisahan yang paling awal, sampai dia bisa tiba di malam hari ketemu Yesus, itu adalah kegelisahan berjumpa dengan Kerajaan Allah.
Seperti kakek saya, akong saya ketika keponakannya yang sudah menjadi pendeta datang ke rumah, waktu itu saya usia 5-6 tahun, saya sering mendengar perkataan, “Ayo masuk! Jangan ngomong Tuhan ya! Terus dia keluarkan duit segepok, “Ini tuhan.” Buka catur, main catur, minum teh, tapi si pendeta ngomong Tuhan lagi, sampai berantem, “Pulang, pulang!” Bulan depan datang lagi, “Ngomong Tuhan ya? Ini tuhan (duit segepok). Masuk, masuk.” Memang gak ada teman ngobrol, begitu galaknya akong saya, hanya ada orang yang sama-sama galak bisa ngobrol sama dia. Yang menjadi pendeta itu Oom saya, yang juga adalah preman daerah situ. Kalau orang main layangan dengan dia, gak boleh orang lain menang. Kalau main layangan sama dia, terus dia kalah, dia cari, “Layangan siapa itu?” Biasanya orang langsung lepaskan layangannya dan kabur, tetapi kalau tidak main dengannya, juga dia cari, “Kenapa kamu gak main sama gua?” Susah orang ini, anaknya 14. Kalau makan sate, satu gerobak diambil, dia mesti makan 50 tusuk sendiri dulu, baru anak-anak dipanggil, “Ayo-ayo makan!” Orang yang keras, tapi kegelisahan Tuhan membuat dia menyerahkan dirinya, tidak mampu lagi; menerima Yesus Kristus. Saya percaya ketika kakek saya berkata, “Ini tuhan (segepok duit),” hatinya tertusuk, hatinya berkata, “Jangan bohong lu, kamu kecewa pada uangmu, kamu kehilangan sesuatu, kamu suka kepada si pendeta ini.” Empat jam sebelum kakekku meninggal, dengan tumor yang ada di leher, yang besar sekali, dia minta, “Panggil dia (keponakannya yang pendeta), tolong panggil, doakan aku!” Waktu itu saya sudah kelas 4 SD. Jadi dari umur 5 dengar ‘uang adalah tuhan’, sampai kelas 4 SD, pergumulan 4-5 tahun kakekku, sampai 4 jam sebelum meninggal dia bilang, “Panggil keponakannya itu.” Artinya, hatinya sebenanya sudah terpaut kepada berita yang membangkitkan imannya itu. Terlalu banyak cerita yang sama, dan itu yang kita alami. Aneh sekali di masa yang begitu masih muda, “Kok saya sudah Kristen?” Sampai kita bilang ada apa sebenarnya, muda-muda kok sudah Kristen? Apa karena orangtua Kristen, lalu saya jadi Kristen?” Tidak, kita menjadi Kristen, karena Dia menjatuhkan iman kepada kita. Kita percaya ketika kita dilahirkan orangtua kita, kita dilahirkan sebagai Kristen, lalu dipercayakan kepada orangtua yang belum sadar dia Kristen. Sebagian besar diberikan kepada orangtua yang sudah Kristen. Kita adalah orang yang sangat beruntung karena diberikan iman, jika tidak diberikan iman, maka kita tidak Kristen.
Kata “lahir kembali” berbicara tentang lahir dari atas, itu sebabnya kita mengerti bahwa iman itu datang dari atas, kemudian kita diprogram dari atas, serta kita diminta untuk meresponi panggilan dari atas. Secara menarik diterjemahkan dalam bahasa Indonesia, atau bahasa Inggris menjadi “kembali” atau “again”. Kata anothen sebenarnya dari atas, atau berasal dari satu sumber yang berada di atas. Penyataan takdir dari atas tidak bisa dilawan. Kekristenan bukan lahir dari bawah, tumbuh, kemudian jadi Kristen. Kristen adalah datang dari atas, kemudian mengajak kita untuk meresponi atas, tumbuh ke atas. Jadi jika kita tahu seperti ini, maka berapa besar kita harus menghargai dan bersyukur atas pekerjaan Tuhan ini. Sekaligus tidak ada sedikitpun halangan untuk kita menginjili siapapun di dunia ini, apakah anak muda atau orang tua, orang yang miskin atau orang yang sangat kaya raya, orang yang tidak punya posisi sampai kepada orang yang punya kedudukan begitu tinggi, tak ada urusan dengan pemilihan Tuhan atas hidup setiap orang. Jika masih ada orang tua yang masih belum percaya, terus doakan dan harapkan iman ada padanya, dan berdoa mohon kepada Tuhan kita diberikan kesempatan pertumbuhan iman yang ada padanya. Sampai sisanya kita tidak diminta untuk mengurusnya, kita harapkan sampai sebelum dia meninggal dunia, dia benar-benar memiliki kesempatan untuk merespon atas pekerjaan Tuhan ini. Setiap orang Kristen diberikan iman, kemudian mengalami kelahiran kembali, pertobatan, pertumbuhan, dan hidup mengejar kesucian serta ketekunan.
Lahir kembali adalah sebuah kesempatan untuk kita hidup lebih bersemangat. Karena lahir kembali, berarti kita memiliki hidup seperti hidup yang ke-2 kali, atau hidup yang diperpanjang, dan bagian lain disebutkan ‘lahir dari roh’ katanya. Dilahirkan kembali itu sebuah pengalaman yang sangat menakjubkan bagi kita. Di bagian lain disebutkan. lahir dari roh; lahir dihasilkan dari sebuah tenaga atau pribadi yang kita tidak nampak. Kata ‘roh’ berbicara tentang angin rasional, atau the rational soul, berbicara tentang mental disposition, ada sesuatu yang mendorong kita, kita tidak nampak, tapi mendorong kita dan membuat rasional kita menjadi bertumbuh, dan kita menjadi sangat enjoy dengan kekristenan. Menyebabkan kita berpendapat menjadi; makin lama, makin masuk akal, semakin lama semakin memuaskan watak mental kita, itu sebabnya kita terus menerus mengejarnya. Dan tekanan itu membuat kita menjadi lebih menggebu-gebu untuk mengikuti apa Firman Tuhan dan pekerjaan Tuhan. Seperti dalam Filipi 3:8-9. Semua kuanggap rugi, jadi istilah kuanggap rugi itu terhitung dengan baik, benar-benar terhitung dengan logis. Dan hasilnya sangat menakjubkan. Hasilnya Tuhanku lebih mulia dari semuanya itu. Saudara biasa menghitung harta, kita biasa melihat berapa tabungan kita, kita biasa berpikir mencari bulanan berapa yang kita perlukan. Kita mengerti bagaimana menghitung saham yang baik. Bagaimana kita tahu penambahan dari simpanan kita. Rasul Paulus menggunakan kosakata semacam itu untuk menjelaskan bahwa Yesus Kristus, terhitung jauh lebih untung daripada segala hitungan-hitungan yang bisa dihitung. Karena ayat 9 mengatakan: “Aku tidak menggunakan kebenaranku sendiri menurut hukum Taurat.” Semua itu dihentikan oleh Tuhan, dan kita dibenarkan oleh Tuhan, saya memulai lagi yang baru dengan kebenaran yang datang dari Tuhan. Rasul Paulus mengatakan bagaimana saya tidak hidup mati-matian dan memberi sehabis-habisnya bagi Tuhan yang sudah memberikan sesuatu yang lebih berharga dan baru.
Nikodemus menunggu Yesus di pintu kematian-Nya, dia mengikuti keputusan teman-teman untuk membunuh Yesus. Setelah sempurna emosi teman-temannya menggantung Yesus di kayu salib, Tuhan menempatkan Nikodemus di samping salib itu. Hanya Nikodemus yang berhak menurunkan mayat Yesus. Tidak ada orang yang bisa berdiri sejajar dengan Pilatus, kecuali orang yang paling tinggi, di dunia kepemimpinan Yahudi pada waktu itu. Dia korbankan prestasinya, dia korbankan nama besarnya, dia korbankan posisinya dengan teman-temannya, dan datang kepada Pilatus dan meminta mayat Yesus. Begitu saja dia memberikan kuburannya, dia memberikan biaya peminyakan Yesus, dan dia sempurna menyerahkan seluruhnya untuk Tuhan yang sudah menyelamatkan dirinya. Mari kita melihat 2 Korintus 5:17-18, sebagai ayat penutup kita. Baik Nikodemus maupun Paulus, juga kita, mengalaminya. Kita sudah meninggalkan yang lama, sisa yang baru, apa itu meninggalkan yang lama? Dalam bahasa Yunani, “parerchomai”, yang berarti adalah orang-orang yang bergerak maju ke depan. Person moving forward, to act continuing for the time; orang-orang yang bergerak maju ke depan. Kita sudah meninggalkan yang lama, kita adalah orang-orang yang lancar sekali, ingin lebih cepat, lebih jauh, lebih banyak maju ke depan. Pagi ini kita belajar dari seorang Nikodemus, dia korbankan apa saja demi untuk dia memberikan yang terbaik untuk Tuhan yang menyelamatkannya. Saya percaya umur Nikodemus tidak panjang setelah itu, namun dia pasti menjadi tiang jemaat di jemaat mula-mula. Dia menjadi bukti bahwa tak ada satupun yang bisa menghalangi pilihan Tuhan atas hidup orang berdosa. Tidak ada usia, tidak ada posisi, tidak ada kehormatan apapun yang bisa menghalangi seseorang untuk hidup melayani Tuhan dan mempersembahkan apa yang bisa dia persembahkan. Jangan kita terlambat, jangan kita berlambat-lambat, Tuhan memberkati kita.
GRII Sydney
GRII didirikan di atas dasar Pengakuan Iman Reformed Injili dengan tujuan menegakkan satu gereja yang berbasiskan teologi Reformed, dengan mimbar yang menyampaikan khotbah ekspositoris, read more