Ringkasan Khotbah

26 October 2025
The Persevering Christ
Pdt. Agus Marjanto, M.Th · Ibrani 12:1-2

Ibrani 12:1-2

Hari ini kita akan memikirkan tentang ketekunan. Ini adalah masalah yang besar, yang dihadapi oleh penulis Ibrani. Satu slogan anak saya pada waktu SD, SMP, dan SMA adalah “right from the start”, benar dari awal dan itu adalah kalimat yang baik. Kita harus mulai dengan benar, tetapi kita harus menyelesaikannya dengan benar sampai akhir. Itulah ketekunan, banyak orang mulai saja sudah salah, membangun satu sudah salah. Mereka bahkan berumah-tangga saja sudah salah dari awal. Tetapi sebaliknya, banyak orang yang memulai dengan benar, tetapi tidak bertekun sampai akhir. Penulis Ibrani memberikan peringatan yang sangat keras terhadap jemaatnya yang mulai dengan benar, tetapi di tengah jalan mereka terlihat berbalik. Mereka tidak lagi masuk dalam pangggilan yang Allah berikan kepada mereka, dengan seluruh alasan apapun yang ada. Masuk rasio, tetapi sebenarnya bukan alasan biblical untuk mereka meninggalkan signpost mereka. Mulai dari hal-hal seperti itu di dalam keseharian, dan itu akan membuat mereka makin lama makin melenceng di dalam iman sampai pada akhirnya. Mereka terancam dengan ketidaktekunan di akhirnya. Di dalam case seperti ini, bagaimana Allah di Surga memberikan Firman-Nya kepada jemaat Ibrani, kepada kita untuk bisa bertekun. Di dalam Ibrani 12:1-2 saudara akan menemukan 2 hal besar ini. Yang pertama adalah bagaimana Allah melihat kita, melihat orang Ibrani terlebih dahulu. Dan yang ke-2, baru Dia menyatakan perintah-Nya. Bagaimana orang Ibrani yang diberikan surat ini melihat dirinya terlebih dahulu? Bagaimana Allah melihatnya? Hal yang sama saya tanya pada saudara-saudara, bagaimana Allah melihat kita sekarang? 

Kita hidup di dalam zaman individualis, kita tidak memikirkan sejarah itu apa, tetapi sebenarnya Allah melihatnya lain. Allah melihat kita adalah orang yang berdiri, yang berlari di dalam sebuah perlombaan di belakang orang lain. Ada orang-orang terlebih dahulu yang sudah berlari di depan. Kita adalah bagian yang kecil dari sebuah sejarah yang besar. Dan di dalam pandangan Allah, di dalam Ibrani 12, Allah mau mengatakan kepada kita, dari jemaat Ibrani ini, maka engkau itu sekarang ada di tengah-tengah perlombaan dan engkau mengikuti orang di depanmu. Dan ada 2 kelompok orang yang di depanmu. Yang pertama adalah orang yang tidak bertekun dan itu ada di dalam Ibrani 3. Kemudian kelompok ke-2 adalah orang yang bertekun di dalam imannya dan itu ada di dalam Ibrani 11. Kalau saudara membaca seluruh Ibrani 3, maka saudara akan menemukan Allah begitu marah kepada orang Israel yang keluar dari Mesir, yang mau dimasukkan ke Tanah Kanaan, dan saat ini ada di padang gurun, dan mereka memberontak di sana. Mereka tidak berterima kasih akan pekerjaan Tuhan sebelumnya, mereka penuh dengan keluh kesah dan tidak puas dengan hidup mereka sekarang, dan di dalam keadaan seperti itu maka mereka mengatakan lebih baik aku kembali ke Mesir. Padahal Allah begitu jelas di depan mata mereka dengan tiang awan dan tiang api. Dan mereka ingin kembali, mereka tidak menyukai dan tidak mensyukuri apa yang Tuhan kasih. Mereka tidak bisa tekun sampai ke Tanah Kanaan. Kita tahu semua saudara–saudara tentang teologia Kristen itu menyatakan bahwa, keluar dari Mesir itu seperti lahir baru. Kemudian masuk di dalam padang gurun itu sanctification, dan masuk ke Kanaan adalah glorification. Apa yang Ibrani mau katakan adalah begitu banyak orang Kristen yang mengaku bahwa dirinya sudah terima Yesus, tetapi mereka tidak bisa bertekun di dalam proses pengudusan. Itu menandakan sebenarnya mereka bukan umat Allah. Mereka adalah orang-orang yang tidak bertekun. Kalau saudara-saudara membaca tulisan dari TULIP misalnya, total depravity, dan seterusnya, bukankah yang terakhir adalah ketekunan orang-orang kudus? Itu mau menyatakan kalau sungguh-sungguh Tuhan memiliki kita, saudara dan saya pasti bisa bertekun sampai akhir dan kita memiliki tugas dan tanggung jawab di padang gurun (progress sanctification) ini untuk tekun. 

Kelompok yang ke-2 adalah Ibrani 11. Saudara menemukan begitu banyak dari pahlawan-pahlawan atau saksi-saksi iman, saudara akan menemukan nama Nuh, Habel, Abraham ada di sana. Mereka adalah orang-orang disebut sebagai saksi-saksi iman yang sudah berlari mendahului kita di depan, dan orang Ibrani diminta untuk mengikut mereka. Ini adalah orang-orang yang tekun sampai akhir. Apakah Nuh tidak menerima disalah mengerti orang? Apakah Habel tidak disalah mengerti dan dimusuhi oleh Kain? Apakah Abraham tidak mengalami pengolokan? Seluruh dari mereka mengalami. Mereka punya masalah rumah tangga, mereka punya masalah keuangan, mereka punya masalah relasi, punya masalah dengan gereja mereka, dengan komunitas mereka. Dan mereka berkali-kali ingin pergi, tetapi mereka bertahan. Karena itu adalah signpost yang Tuhan berikan kepada mereka sampai akhir, mereka tekun dan mereka akhirnya tidak kecewa karena Allah menyatakan kebenaran-Nya. Itulah sebabnya Ibrani 12 menyatakan: karena kita mempunyai banyak saksi, bagaikan awan yang mengelilingi kita. Saksi ini bukan saksi yang sedang duduk di tribun lalu kita yang berlomba, lalu mereka yang bertepuk tangan. Tidak. Tetapi saksi itu adalah mereka, saksi-saksi iman, yang sudah sampai ke garis finish. Maka engkau dan saya, Alkitab mengatakan kita berlomba dengan tekun di dalam perlombaan yang ada di depan kita. Kita bisa melihat bahwa iman mereka tidak gagal, pengharapan mereka terjadi dan Allah berkenan atas hidup mereka. Tetapi Allah tidak berkenan sama sekali kepada Israel yang keluar dari Mesir. Mereka sudah sampai di padang gurun, mereka tidak nyaman, “aku mau kembali, aku mau keluar dari tempat ini!”. Mereka gagal di dalam pengudusan. Saya makin membaca dari Ibrani, hati saya makin bergetar. Itu adalah bagian pertama apa yang Allah lihat. 

Bagian ke-2 adalah perintah Allah. Ingat bahwa kita sedang berlomba dan kita mengikuti saksi-saksi iman itu. Lalu sekarang apa perintah Allah itu? Perintah Allah ada 2 di dalam hal ini. Yang pertama adalah marilah kita menanggalkan semua beban dan dosa yang melekat kepada kita. Jadi perintah yang pertama adalah adanya sesuatu yang harus dilepaskan. Yang dilepaskan itu apa? Dua hal, yang pertama itu beban, yang ke-2 itu dosa. Saya akan jelaskan yang ke-2 terlebih dahulu. Di sini dikatakan lepaskan dosa yang melekat, ini adalah sesuatu kalimat yang tajam, ini bukan saja bicara mengenai lepaskan dosa, tetapi bicara mengenai dosa yang melekat. Dosa memiliki cara untuk merajutkan dirinya ke dalam jalinan keberadaan kita. Dosa memiliki kuasa untuk melekat di dalam karakter dan kepribadian kita. Ke dalam kecenderungan dan kelemahan kita, dan bahkan di dalam kekuatan kita. Augustinus menyatakan dosa bukanlah sesuatu yang diluar kita. Saudara tidak lagi bisa mengatakan dosa adalah it, tetapi dosa itu adalah aku. Karena dosa begitu melekat, begitu merajut. Kalau saudara-saudara suka kristik atau suka merajut, saudara tahu maksud saya. Dirajut-rajut, di situ dosanya, mustahil untuk saudara bisa mengeluarkan bagian itu tanpa merusak seluruh rajutan itu. Sehingga dosa itu adalah akhirnya aku. Bukan seperti, “dosa ini loh dosa”, tapi ini Agus. Tidak! Dosa itu aku. Itulah sebabnya kita tidak cukup mengerti filsafat seperti orang Yunani, filsafat Yunani mengatakan: kenalilah dirimu sendiri. Tetapi Alkitab mengatakan, kenalilah dirimu yang berdosa. Saya suka sekali pembahasan dari Sinclair berurusan dengan hal ini. Dia mengatakan beberapa hal yang perlu kita sadari, kita perlu menyadari mengapa kelemahan atau dosa atau kecenderungan ini ada. Kita perlu menyadari godaan-godaan khusus yang partikular dalam hidup saudara dan saya sendiri, dan itu begitu sangat melekat dalam diri kita. Bahkan tendensi godaan itu berbeda antara suami dan istri, di antara orang tua dengan anak, bahkan itu partikular bagi kita sendiri. Alkitab mengatakan biarlah kita boleh menanggalkan dosa yang melekat ini. John Owen mengatakan: matikan dosa ini, sebelum dia mematikan engkau. Saudara dan saya tidak mungkin bertekun dengan dosa yang saudara dan saya tidak akui dan bertobat di dalam hidup kita sekarang. Jikalau engkau berzinah pada hari ini, jangan pikir engkau bisa bertekun sampai akhir, itu tidak mungkin. Ibrani mengatakan jikalau engkau mau bertekun sampai akhir, lepaskan dosa itu, bertobat sekarang. 

Pertama adalah dosa, yang ke-2 adalah beban. Sesuatu yang kita pikul atau sesuatu yang kita bawa. Beban di sini sebenarnya bukan sesuatu yang berdosa, ini boleh saudara bawa, tetapi di dalam case tertentu, itu bisa menghancurkan hidup kita, demikian kata Ibrani. Saudara boleh bawa backpack toh. Tapi ketika perlombaan lari, saudara harus lepaskan backpack itu. Saudara boleh bawa koper ke dalam kabin pesawat saudara dan isi di dalamnya seluruh barang yang berharga, perhiasan, dan juga jam tangan. Saudara bawa, pergi ke pesawat, kemudian saudara masukkan ke kabin. Tetapi di dalam emergency, dalam pendaratan darurat, saudara harus lepaskan itu semua, harusnya saudara tidak lagi mengingat itu, dan cepat keluar dari pesawat yang terbakar. Saudara tahu atau pernah mungkin lihat di tiktok atau di youtube. Pesawatnya sudah landing darurat dan semua pramugarinya mengatakan semuanya cepat keluar, terus ada ibu-ibu, bapak-bapak ke belakang mau ambil bagasinya. Ketika saudara lihat ini, saudara akan bilang, “bodoh ini.” Kalau saudara tidak mau melepaskan beban ini maka ancamannya adalah kematian. Ini yang dikatakan Ibrani. 

Ada satu pengumuman di primary school, besok ada lomba lari, oh anak-anak sudah excited. Ketika besok waktunya tiba, seorang anak bernama Lilah memutuskan membawa tas ranselnya kemana-mana. “Jaga-jaga kalau aku membutuhkan barang-barangku”, katanya. Jadi ketika lomba lari itu, teman-temannya lari dengan cepat, sementara Lilah tertinggal di belakang. Tas ranselnya penuh berisi barang-barang, mainan playdough, buku-buku, kotak makan siangnya. Setiap langkah membuatnya semakin melambat dan lelah. Akhirnya dia berhenti, duduk di rumput, kecapean, kesal. Gurunya lalu datang menghampiri dan bertanya, “Lilah kenapa kamu masih pakai tas itu? Kamu tidak butuh semua itu untuk menyelesaikan lomba.” Lalu Lilah mulai taat kepada gurunya, dia membuka tas ranselnya, mengeluarkan barangnya satu persatu. Menyingkirkan setiap barangnya; mainannya, kekhawatirannya, ketakutannya, sakit hatinya, masa lalu, kepahitannya, bahkan seluruh tasnya itu dilepaskan. Kemudian dia mulai berlari, dan kali ini dia lari lebih cepat daripada sebelumnya dan dari teman-temanya. Bahkan waktu dia berlari dan angin bertiup kepadanya, dia tertawa terbahak-bahak. Bukankah itu yang sering kita lakukan? Banyak sekali beban kekhawatiran kita, ketakutan kita, kita bahkan begitu bodoh membawa sakit hati kita, masa lalu itu ke sini dan kemudian kita seakan-akan mau berlari bersama dengan Musa, Abraham, Nuh dengan kecepatan yang sama dengan mereka sampai ke garis finish, tidak mungkin bisa! Gurunya mengatakan, “Lilah, sekarang kamu mengerti Ibrani 12:1, ketika kamu menanggalkan semua beban, kamu dapat berlari dalam perlombaan yang telah ditetapkan Allah bagimu.” Tanggalkan beban!, karena itu tidak saudara butuhkan di dalam perlombaan iman.

Kemarin saya kumpulkan KTB saya, lalu ada satu orang yang ikut KIN yang sharing. Dia lihat Pak Tong, umur 85 masih khotbah dengan semangat. Kemudian dia mengatakan, “Saya bertanya-tanya, kenapa beliau di umur 85 tidak berhenti, menikmati hidup?” Kemudian saya teringat akan kalimat ini; Pendeta Stephen Tong tidak memerlukannya, tidak membutuhkannya, dia tidak membutuhkan santai, kaki diangkat, dan kemudian tidur-tidur, kipas-kipas. Mungkin sebagian besar dari kita, itu adalah kebutuhan saudara, tapi orang-orang kudusnya Allah akan dibuat bertumbuh sampai saudara-saudara tidak membutuhkan hal itu. “Pak, gak mau ganti mobil lebih bagus?” Tidak apa-apa ya kalau saudara mau ganti mobil, jangan tersinggung sama saya. Tetapi bagi orang-orang yang dipilih oleh Tuhan, sungguh-sungguh tidak perlu itu, ada mobil boleh, tidak ada mobil juga tidak apa-apa. Saudara dan saya makin lama akan makin bertumbuh, dan saudara akan dibuat seperti itu, sungguh. Dulu yang saudara cita-citakan, bukan berdosa, saudara beli tidak apa-apa, saudara beli boleh, misalnya sekarang saudara beli emas, emas makin naik harganya. Itu boleh saja saudara-saudara, tidak salah. Tapi uniknya, kalau Roh Kudus bekerja, berapa tahun kemudian, saudara akan tahu, tidak ada gunanya ini. Hidupku adalah bukan membeli, untuk memiliki, tapi hidupku adalah memberikan, makin lama makin memberikan banyak. Saudara akan meninggalkan beban itu, menanggalkan beban itu. 

Perintah yang pertama adalah apa yang harus ditanggalkan, sekarang perintah yang ke-2, dan kita masuk ke dalam intinya. Yang pertama, apa yang harus ditinggalkan: beban dan dosa. Kalau engkau tidak meninggalkan beban dan dosa, engkau tidak mungkin bertekun. Tetapi perintah ke-2 adalah yang harus dikenakan, harus dipegang, yaitu pandanglah pada Kristus yang tekun. Dan kita sekarang masuk ke dalam inti iman. Tanpa melihat kepada Kristus, kita tidak mungkin bisa bertekun sampai akhir. Kita tidak bisa memandang Musa, Joshua, Abraham, Billy Graham, Stephen Tong untuk bisa bertekun. Yang membuat saudara dan saya bertekun, bukan saksi-saksi iman. Yang membuat saudara dan saya bertekun adalah Kristus. Malah sebaliknya, kalau saudara melihat seorang hamba Tuhan, tahun pertama, saudara akan kagum, 10 tahun, saudara akan pahit. Saudara tidak akan bertekun ketika melihat hamba Tuhan, siapapun saja. Saya jamin, kalau engkau bersama dengan Yeremia, melihat Yeremia, kamu akan kecewa. Engkau lihat Musa, engkau akan kecewa. Belum lagi Daud, pasti engkau sudah meninggalkan iman. Fokus mata kita bukan ke saksi-saksi iman. Ibrani mengatakan, “Lihat kepada Kristus Yesus,” dan saudara-saudara perhatikan baik-baik, itulah sebabnya Yesus mengatakan berkali-kali: “Ikutlah Aku, ikutlah Aku.” Dan saudara-saudara sekarang perhatikan, sesuatu yang luar biasa dalam di dalam Ibrani 12 ini, “Lakukan itu dengan mata tertuju kepada Yesus, Dia memimpin kita dalam iman dan membawa iman itu kepada kesempurnaan.” Dalam bahasa inggrisnya, founder and perfecter of our faith. Perhatikan di dalam bahasa aslinya, founder itu adalah archegos, founder itu artinya dalam bahasa inggris, Archegos itu adalah pelopor, perintis, pendahulu, pencetus, pemberi jalan. Dan penyempurna itu adalah penuntas. Kata ini adalah kata yang sulit, archegos itu, karena di dalam bahasa inggris tidak ada padanannya, dan ini hanya muncul 4 kali dalam Perjanjian Baru, dan empat-empatnya menunjuk kepada Yesus sendiri.

Saya akan definisikan archegos itu apa, archegos itu adalah seseorang yang tindakannya menciptakan suatu situasi yang baru bagi orang-orang yang menjadi miliknya. Dengan mencapai suatu prestasi tertentu, dia menjamin bahwa mereka akan turut merasakan hasilnya. Kata archegos ini sebenarnya gambarannya adalah pemimpin militer zaman kuno, jenderal pada masa kuno berbeda dengan masa sekarang, karena jenderal pada masa kuno, jenderal berada di depan dan anak buahnya mengikuti dari belakang. Kalau jenderal sekarang, anak buahnya di depan, Jenderalnya di belakang, terakhir. Jadi menjelaskan archegos pada masa kini itu, agak kesulitan. Tapi saya akan memberikan satu ilustrasi, dan ini tepat. Bayangkan satu regu pasukan yang mendaki sebuah gunung yang tertutup salju tebal, tanpa jejak kaki, atau jalan setapak. Dan tidak ada satu orang pun yang mampu untuk menaiki tempat itu, tetapi jenderal mereka mengambil inisiatif, menembus es itu sendirian, naik satu langkah, demi satu langkah dengan luar biasa sulit. Melewati rintangan dan rintangan yang menjebak, dan setiap beberapa langkah, dia patok satu patokan yang nanti akan membuat jalan bisa dilihat aman bagi anak buahnya untuk menuju ke tempat itu. Dia jalan 10 kaki, lalu kemudian diberi patok. Naik lagi, jalan lagi 10 langkah, diberi patok. Kalau ada suatu persimpangan, harus ke kanan atau ke kiri, maka dia kemudian ke kanan, dia kasih patok yang ke kanan, sehingga seluruh pengikutnya nanti tidak ke kiri. Dan di tempat-tempat yang terjal, dia memasukkan alat sehingga pengikutnya bisa bergantung di sana. Terus seperti itu sampai puncak. Setelah sampai di puncak, dia membuang tali yang begitu panjang, sehingga bisa diraih beberapa ratus meter di bawah, dan dari atas itu, jenderal itu dengan menggunakan gaung di gunung itu, dia mengatakan pasukan seluruhnya naik. Kemudian satu persatu dari anak buah itu memegang tali, mereka naik. Naiknya susah atau tidak? Susah. Tetapi aman atau tidak? Aman. Karena patoknya begitu jelas, dan sudah dijalani oleh jenderalnya. Bukan itu saja, ada tali yang sudah dipegangnya. Dia aman, sepanjang Jenderal itu pegang talinya dari atas. Dan pasukan itu naik satu persatu dengan susah payah tetapi aman sampai di atas, itulah artinya Kristus itu pendiri, pelopor, dan penyempurna. Dan itu yang Dia kerjakan kepada kita, ketekunan kita dari bawah, sampai ke gunung es di atas, tergantung kepada ketekunan Kristus, Dialah yang memulai, Dialah yang membuka jalan. Dia sendiri yang menjadi contoh jalan itu. Dan Dia itu penyempurna sampai di atas. Dan dengan seperti itulah, Dia menopang seluruh ketekunan kita. Jangan berpikir bahwa jalan iman itu mudah, tetap akan berkeringat, tetap akan sulit, tetap sakit, tetap ada penderitaan, tapi aman, dan Tuhan berjanji pasti menang, kalau kita memegang tali itu, karena Tuhan pasti memegang. Ketekunan kita bergantung kepada ketekunan-Nya, bahkan ketika kita tidak tekun, kita terjatuh, kita tergelincir di gunung itu, kemudian kita terjatuh dan kemudian kita cari tali itu kembali, Dia akan menarik kita. 

Salah satu pertanyaan yang terus menerus dulu saya pikirkan, kenapa Petrus itu bisa bertobat kembali, sedangkan Yudas itu tidak? Saya tadinya berpikir, “Oh dosanya Petrus lebih sedikit, daripada dosanya Yudas,” Tapi nggak lho, itu dosa yang besar. Kenapa Saul itu kemudian meninggalkan imannya, sedangkan Daud tetap pada imannya. Padahal dosa Daud kelihatan jauh lebih besar daripada Saul. Maka saya kemudian mengerti satu hal ini dan hati saya hancur. Yesus bicara kepada Petrus, “Sebelum ayam berkokok, maka engkau sudah menyangkal Aku 3 kali, tetapi Petrus, Aku sudah mendoakan engkau.” Sekarang hampir setiap hari, saya bilang sama Tuhan, “Tuhan doakan saya, masukkan saya di dalam pokok doa-Mu kepada Bapa di Surga.” Hidup saya, tergantung nama saya disebut oleh Dia atau tidak. Jangan jadi orang sombong. Petrus orang berani, tulus, jujur, dekat sama Yesus pun menyangkal imannya. Juga keluar dari sign postnya. “Kristus kasihani aku, ingatlah aku ketika Engkau berdoa syafaat.” Perhatikan, kitab Ibrani mengajarkan bukan saja ketahuilah dosa yang ada padamu, tetapi ketahuilah juga kasih sayang-Nya yang diberikan kepadamu. Kita ditebus oleh Kristus. Kalau saudara dan saya adalah milik Kristus, tetapi kita tidak langsung diangkat ke Surga, kita didatangkan di dunia ini mengalami begitu banyak salah paham, kesulitan, fitnah, segala kerugian, penderitaan bahkan, penyakit, terminal ill, ke suatu yang mengguncang hati kita, tetapi Tuhan meminta kita untuk bertekun. 

John Stephen Akhwari, dia adalah pelari marathon dari Tanzania, pada Olimpiade MexicoCity pada tahun 1968, di tengah dia berlari maraton, tiba-tiba dia bertabrakan dengan pelari yang lain, dan dia mengalami cedera di bahu dan lututnya. Dia terkilir, dia jatuh di jalanan, dan kakinya diperban. Beberapa orang mengatakan, “Ya sudah, kamu selesai di sini saja.” Tetapi tidak, dia bangun lagi dan tubuhnya yang kecil itu, dia berlari lagi. Karena tabrakan itu, dia kram beberapa kali. Banyak orang di sebelah kiri dan kanannya, “Sudahlah, sudah, engkau sudah pasti kalah, sudahi saja, lihat semuanya sudah pergi ke tempat sana, sudah ke garis finish.” Tapi Akhwari tidak mau mendengarkan mereka, dia terpincang-terpincang dan kelelahan, dan satu langkah, satu langkah bahkan sampai ke garis finish. Padahal pelari-pelari lain sudah masuk satu jam yang lalu, bahkan perlombaan itu sudah mau ditutup. Tapi John Stephen Akhwari akhirnya sampai di garis finish yang terakhir itu. Kemudian seseorang bertanya, “Mengapa engkau tidak menyerah saja? Dia mengatakan, “Negara saya tidak mengirim 5000 km untuk memulai perlombaan, mereka mengirim saya 5000 km untuk menyelesaikan pelombaan.” Tuhan letakkan engkau dan saya orang-orang yang ditebus, bukan untuk memulai iman yang sudah Dia berikan, tapi untuk menyelesaikannya, karena Kristus. Seluruh jemaat GRII Sydney, mungkin sekali perjalanan ke depan lebih tidak mudah, tetapi yang jelas akan panjang. Satu hari, demi satu hari, satu minggu demi satu minggu. Apa yang membuat saudara dan saya bertekun? Mata yang tertuju kepada Kristus, Archegos dan penyempurna iman. Mari kita berdoa.


2 Tawarikh 7:11-16
 
GRII Sydney

GRII didirikan di atas dasar Pengakuan Iman Reformed Injili dengan tujuan menegakkan satu gereja yang berbasiskan teologi Reformed, dengan mimbar yang menyampaikan khotbah ekspositoris, read more