Ibrani 3:7-19, 4:11, 11:1-40, 12:1-2
Ibrani bicara berkenaan dengan ketekunan. Tidak ada gunanya kita memulai tetapi tidak tekun. Kita diminta oleh Tuhan right from the start dan kemudian selesai di dalam kebenaran. Kita diminta oleh Tuhan untuk tekun, untuk setia pada pos jaga yang Tuhan berikan, tetapi orang Kristen, kita begitu sangat lemah, kita sendiri memiliki indwelling sin di dalam diri kita. Kita memiliki begitu banyak konteks hidup yang tidak menguntungkan kita dan iblis sendiri berusaha untuk menjatuhkan kita. Allah mengerti kesulitan-kesulitan kita. Allah mengerti bahwa kita tidak mudah untuk bertekun sampai akhir, tetapi Tuhan juga memberikan kepada kita jalan keluar ketika kita dicobai. Kita juga diberikan anugerah oleh Tuhan bagaimana kita bisa tekun dari titik ini untuk sampai kepada kesudahannya. Ketika bicara mengenai ketekunan, ini menyangkut keseluruhan. Ketekunan menyangkut tekun memiliki iman sampai akhir. Tetapi ketekunan juga bicara berkenaan dengan kita diberikan panggilan khusus di dalam bidang kita masing-masing oleh Tuhan dan Tuhan mau kita menyelesaikannya sampai akhir. Itulah yang disebut sebagai panggilan. Calvin sekali lagi mengatakan panggilan itu adalah pos jaga yang Tuhan sudah tetapkan bagi kita di situ. Kita diberikan pos jaga masing-masing yang merupakan penunjukan Allah kepada kita. Kalau saudara dan saya memiliki pelayanan, di situlah pos jaga yang Tuhan berikan. Jikalau saudara dan saya memiliki pekerjaan, di situlah pos jaga yang Tuhan berikan. Jikalau saudara dan saya memiliki keluarga, di situlah pos jaga yang Tuhan berikan.
Banyak orang yang tidak setia dan tidak tekun di dalam pos jaganya. Oh saya kurang uang, saya mesti keluar. Oh saya tidak suka dengan istri saya, kemudian saya menyeleweng. Oh saya tidak suka dengan anak-anak, begitu merepotkan, maka saya tidak melakukan tanggung jawabnya. Begitu banyak dari kita yang tidak setia. Begitu banyak dari kita yang tidak tekun akan panggilan Allah sampai akhir. Saudara-saudara perhatikan baik-baik, kemunduran itu bukan sesuatu yang akan besar dari awalnya, ketidaksetiaan pada satu titik akan menghantar kepada ketidaksetiaan kepada yang lain. Ketidaktekunan pada satu titik itu akan menghantar kepada titik yang lain. Setelah bertahun-tahun maka kita akan tahu bahwa sesungguhnya kita sudah meleset dari sasaran. Selain dari hidup yang dituntaskan, tidak ada pekerjaan Tuhan yang dituntaskan dengan setia dalam hidup kita. Setan sudah membutakan mata kita. Dosa sudah memutar hati kita, membuat kita tidak menyadarinya, begitu sampai akhir maka kemudian kita melihat ke belakang, air mata kita bercucuran karena begitu banyak pos jaga yang kita sudah tinggalkan. Kita mungkin orang Kristen, tapi kita tidak bertekun. Kita mungkin orang Kristen, tapi kita tidak taat. Saudara-saudara, itulah sebabnya Ibrani ditulis. Bahkan dikatakan, “Biarlah engkau berusaha masuk ke peristirahatan itu. Jangan seorang pun jatuh karena mengikuti contoh ketidaktaatan yang sama.”
Sekali lagi bahwa Firman ini bukan dinyatakan hanya ketika seseorang tadinya Kristen lalu kemudian menjadi Islam. Kalau seperti itu, tidak perlu sepanjang ini dinyatakan. Dan pada konteksnya bahkan orang-orang Yahudi yang ditulis oleh penulis ini adalah orang-orang yang mengaku diri Kristen tetapi mereka kompromi dengan suatu konteks yang terjadi pada waktu itu. Saya akan ceritakan sedikit. Tulisan Ibrani ditulis oleh seseorang yang kita tidak tahu namanya. Dia pasti bukan Paulus, tetapi dia adalah orang yang sangat pandai melebihi daripada Paulus. Sangat-sangat brilliant. Sangat begitu rohani. Dan begitu mengenal Judaism. Ada beberapa bapak gereja yang memuji penulis Ibrani begitu tinggi. Bahkan ada satu bapak gereja mengatakan, “Kita bersyukur karena kita tidak mengenal penulisnyaaren, karena kalau kita mengenalnya mungkin kita akan menyembahnya.” Luar biasa hebat.
Dan saudara-saudara, penulis dari Ibrani ini mengenal ada masalah yang besar terjadi pada bangsa itu sebelum 70 AD. Masalah apa yang terjadi? Sebentar lagi Jenderal Titus dari Romawi akan mengepung dan menghancurkan Yerusalem. 70 AD. Tahun 70 anno domini itu adalah setelah Kristus. Nah saudara-saudara, maka yang terjadi adalah kehancuran dari seluruh bait suci. Maka tulisan ini ditulis beberapa tahun sebelumnya, mungkin satu atau dua tahun sebelum itu terjadi. Jenderal Titus akan datang ke Yerusalem dan akan memerangi orang-orang Yahudi. Peperangan akan begitu sangat sengit. Pemimpin-pemimpin Yahudi kemudian mempersiapkan diri, mengumpulkan seluruh rakyat Yahudi untuk berjuang bersama-sama. Dan mereka kemudian mengambil sumpah, mereka mau mengambil sumpah kesetiaan kepada bangsa Yahudi. Kesetiaan kepada Israel. Orang Kristen, orang Yahudi yang sudah Kristen, orang Yahudi yang sudah terima Yesus, pasti mereka mau setia kepada bangsa Israel. Pasti mereka mau melawan Jenderal Titus. Tetapi masalahnya ada di sini, pemimpin Yahudi minta mereka mengangkat sumpah, mengangkat sumpah kesetiaan. Dan bagaimana sumpah kesetiaan itu? Yaitu setiap keluarga harus membawa lagi domba dan kemudian dibawa kepada imam untuk dipotong di bait suci. Dan ini menjadi masalah yang besar secara teologis. Karena domba yang disembelih itu adalah merupakan bayang-bayang Kristus Yesus yang mati di atas kayu salib, sehingga ketika mereka menerima Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat di dalam hati, maka mereka tidak lagi akan memotong domba. Kalau mereka memotong domba, maka mereka tidak mengakui bahwa Kristus itu domba Allah yang mati.
Ini adalah masalah teologis yang sangat pokok. Maka orang-orang Kristen pada waktu itu pertamanya mereka mengatakan, “Saya tidak bisa. Saya tidak mungkin melakukan pemotongan domba lagi.” Kemudian pemimpin Yahudi mengatakan, “Kalau engkau tidak melakukan, maka sesungguhnya engkau tidak taat, engkau tidak setia kepada bangsa Israel.” Kita tahu semua orang Kristen Yahudi pada waktu itu berada dalam kesulitan yang luar biasa. Karena bagi orang Israel, bangsa dan agama itu menjadi satu. Kalau kita orang Indonesia, kalau saudara-saudara mesti menghormati bendera sebagai wujud dari kesetiaan, tidak ada masalah. Karena bagi orang Indonesia, maka iman dan bangsa, itu 2 hal yang terpisah. Tetapi bagi orang Israel ini menjadi satu dengan agama Yahudi. Orang Yahudi juga tidak bisa mengerti kenapa orang Kristen itu tidak mau lagi potong domba. Tetapi orang Kristen tahu, secara teologis ini tidak bisa terjadi. Penulis Ibrani mengatakan bahwa kalau engkau melakukan seperti ini, engkau tidak taat. Engkau melakukan seperti ini, bahkan engkau itu murtad. Engkau melakukan seperti ini, engkau yang sudah mengatakan bahwa engkau diampuni, tidak mungkin darah itu tercurah bagimu 2 kali.
Saudara perhatikan baik-baik keketatan yang luar biasa yang dituntut Allah di dalam iman. Kita tidak boleh jadi orang Farisi. Tetapi Alkitab itu ditulis untuk membuat kita tidak menjadi antinomian. Orang yang tidak peduli, pokoknya aku sudah terima Yesus Kristus, aku dosa juga boleh. Aku pergi ke gereja, aku menyembah-nyembah ilah juga boleh. Aku pergi ke gereja sudah diampuni sama Tuhan Yesus, aku boleh pergi ke pelacuran. Saudara-saudara, hal-hal seperti ini tidak ada dalam Alkitab. Inilah yang terjadi bagi orang Yahudi pada waktu itu. Mereka bisa berpikir rasionalism: “Tidak apa-apalah Tuhan tahu aku bawa domba. Kan aku tuh maksudnya bawa domba itu, cuma untuk aku itu setia sama Israel, domba itu maksudnya bukan Yesus Kristus kok.” Tetapi penulis Ibrani mengatakan, “Tidak!” Di dalam hal seperti ini dan saudara perhatikan baik-baik. Bahaya rasionalis merasionalisasi tindakan kita yang berdosa, itu sangat-sangat berbahaya. Sudah berapa banyak orang dari kita yang mendukakan Allah? Berapa banyak dari kita yang menggenapi Ibrani pasal yang ketiga sesungguhnya? Ini adalah orang-orang yang bagi Allah orang yang sudah mengundurkan diri.
Saudara-saudara, di dalam keadaan seperti itu maka kemudian penulis Ibrani mengatakan, “Engkau lihat sekarang. Apa yang ada kepada orang Israel dalam perjanjian lama? Bukankah mereka itu adalah orang yang dikeluarkan dari Mesir? Apakah yang yang sudah dikeluarkan dari Mesir pasti akan masuk ke tanah Kanaan? Jawabannya adalah tidak. Siapa yang dibinasakan oleh Allah? Kepada siapa Allah mengatakan aku bersumpah di dalam murkaku mereka pasti tidak masuk ke tempat perhentian? Bukankah mereka yang dikeluarkan dari Mesir dengan kekuatan dari Tuhan yang diberikan tiang awan dan tiang api? Bukankah mereka yang dibela di hadapan Firaun?” Saudara-saudara, kalau saudara melihat tulisan dari Ibrani, dan secara keseluruhan dari teologia Kristen, saudara mengerti bahwa keluar dari Mesir itu adalah bicara mengenai justification. Jadi ini adalah tanda kutip orang yang lahir baru. Dan jalan di padang gurun adalah bicara proses sanctification. Dan kemudian nanti masuk ke dalam tanah Kanaan adalah bicara mengenai glorification. Apa yang ditulis di dalam kitab Ibrani? Maka penulis Ibrani mengatakan kegagalan dari orang yang tidak bertekun adalah kegagalan di dalam proses sanctification.
Dan hal yang ke-2, apa yang ditegaskan dalam Ibrani dan sebenarnya ini ditegaskan dalam seluruh kitab Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Seseorang yang mengatakan atau seseorang yang dianggap atau dinyatakan oleh Allah yang lahir baru, yang diselamatkan, itu adalah orang yang menyelesaikannya sampai akhir. Engkau tidak bisa menyimpulkan dirimu itu pasti diselamatkan di saat sekarang, jikalau kita itu kehilangan ketekunan, jikalau kita kehilangan kesetiaan. Jangan pernah berpikir secara evangelical yang sesat. Oh saya sudah diselamatkan, nanti kalau saya itu bahkan murtad pun saya akan diselamatkan. Oh saya sudah diselamatkan, lalu kemudian saya pergi ke pelacuran, saya juga akan diselamatkan. Saya diselamatkan dan saya akan menjadi pencuri, saya akan tetap diselamatkan. Karena sekali diselamatkan saya akan diselamatkan. Itu tidak ada di dalam Alkitab. Siapa yang diselamatkan? Adalah orang yang dimulai dari Allah dan akan sampai kepada kesudahannya, setia. Itulah sebabnya Petrus mengatakan: “Biarlah engkau sungguh-sungguh untuk membuat jaminan keselamatan itu lebih pasti dalam hidup kita.” Justification and sanctification tidak mungkin bisa dipisahkan.
Sekarang ada beberapa hamba Tuhan di dunia, orang-orang Reformed, kalau saudara-saudara perhatikan baik-baik, mereka berkali-kali bicara tentang hal ini, karena menakutkan sekali apa yang terjadi pada evangelical. Kita bukan orang yang meragukan keselamatan, bukan saudara. Tetapi di tempat yang lain, kita juga tidak boleh ditipu oleh kepalsuan dari iman atau kepalsuan dari kepercayaan diri yang palsu. Ini adalah kalimat dari Puritan. Orang-orang Puritandealing dengan jemaatnya yang memiliki confidence yang palsu. Confidence yang palsu adalah didirikan di atas dasar satu pernyataan: “Aku sudah lahir baru, aku sudah terima Yesus Kristus, aku pasti selamat.” Orang-orang Puritan akan memunculkan kalimat dari Yakobus: “Engkau mengatakan engkau diselamatkan, engkau mengatakan bahwa engkau beriman, tetapi engkau tidak punya perbuatan, iman itu adalah mati adanya. Dan aku akan tunjukkan imanku dari perbuatanku. Aku akan tunjukkan imanku dari pilihan-pilihan hidupku.”
Saudara-saudara, Ibrani begitu keras, sangat menegur orang-orang yang sudah lahir baru dan mereka berhenti di dalam proses pengudusan. Dan sekali lagi penulis Ibrani memperingatkan dengan keras di dalam case ini. Tetapi di tempat yang lain, penulis Ibrani mendorong orang-orang yang sedang bergumul ini untuk melihat saksi-saksi iman. Dan inilah cara Allah melihat kita. Sekali lagi, inilah cara Allah melihat kita, Allah melihat saudara dan saya. Allah melihat saya, Agus. Allah melihat Wijaya. Allah melihat Chika. Allah melihat seluruh saudara satu per satu, adalah bukan saja secara individual, tetapi adalah sebagai satu komunitas yang sedang berlomba menuju ke Zion. Allah mengingatkan setiap dari kita, “Ingat bahwa engkau sedang berlomba menuju ke garis akhir.” Kita sedang menuju ke garis akhir dan kita tidak berlomba sendiri. Kita sedang berlomba di belakang orang-orang seperti Henok, seperti Nuh, seperti Musa, seperti Abraham. Kita sedang berada di belakang mereka dan kita berlari dengan arah yang sama dengan mereka.
Kenapa mesti Tuhan bicara pasal 11 itu panjang lebar mengenai saksi-saksi iman? Tentu adalah supaya kita mempelajari kehidupan mereka. Dan ketika saudara dan saya melihat kehidupan mereka, saudara dan saya mendapatkan apa? Saudara dan saya mendapatkan seluruh pergumulan demi pergumulan yang ada pada mereka. Saudara-saudara, mari kita pikir berkenaan dengan Nuh. Nuh itu diberikan pos jaga untuk membangun bahtera. Kemudian dia diminta untuk semua orang mempercayai dia masuk ke bahtera itu dan tidak ada seorang pun yang mau masuk kecuali keluarganya. Ratusan tahun dia memberitakan Injil, tidak ada seorang pun yang percaya. Dan ketika dia membuat bahtera itu, selain dia membuat bahtera, dia mesti cari makan. Selain cari makan, dia mesti punya masalah dengan keluarganya, punya masalah dengan pendidikan anaknya, punya masalah dengan tetangganya, punya masalah dengan keuangan, punya masalah dengan kesehatan. Nuh bukan malaikat. Nuh seperti saudara dan saya. Begitu banyak pergumulan. Ada indwelling sin di dalam. Ada pertentangan di luar. Ada masalah-masalah keluarga dan keuangan. Tetapi ada pos jaga yang Tuhan berikan dan dia setia sampai mati di sana.
Dan saudara akan menemukan Habel, saudara akan menemukan Abraham. Dan sepanjang sejarah, saudara akan menemukan Agustinus, saudara akan menemukan Calvin, saudara akan menemukan Chrysostom, saudara akan menemukan Adoniram Judson, yang berlari dengan seluruh pergumulan yang sama. Kalau saudara-saudara melihat bahkan John Wesley, seorang yang Tuhan pakai untuk great awakening. Empat orang, Jonathan Edwards, George Whitefield, John Wesley, Charles Wesley menyapu seluruh Inggris dan Amerika pada waktu itu, saudara lihat satu per satu kehidupan mereka, tidak mudah. Sama seperti kita. John Wesley tiap hari istrinya ribut sama dia, tiap hari. Sampai suatu hari John Wesley mau pergi untuk memberitakan Injil, dia naik kuda dan istrinya dari atas siram satu ember, jengkel sekali sama John Wesley. Kenapa Allah memberikan seluruh saksi-saksi ini kepada kita? Untuk memberitahu kepada kita bahwa hei kamu tidak sendirian. Kamu punya masalah keuangan, kamu tidak sendirian, mereka juga, tetapi mereka tidak meninggalkan pos jaga. Engkau punya masalah suami istri, mereka juga. Engkau punya problem kesehatan, lihat Ayub, mereka juga. Engkau punya masalah dengan tidak dimengerti orang, lihat Yeremiah, dia juga. Apa yang membedakan dia dengan kita? Dia bertekun sampai akhir di pos jaganya. Kita lari, kita berhenti, kita berbalik.
Bahkan kalau saudara-saudara sudah bicara berkenaan dengan tidak suka, apakah itu tidak suka dengan keluarga kita, dengan suami istri kita, atau tidak suka dengan gereja. Saya memilih dua ini karena ini adalah sesuatu yang isi hati Tuhan dan dua-duanya selalu terhubung. Orang kadang tidak suka lagi sama istrinya, “Oh, coba ya aku kawin sama orang yang lain.” Dia lihat seluruh keburukan dari istrinya. Tuhan mengatakan, “Lihat saksi iman.” Bahkan Ayub ketika menderita, istrinya seperti apa? Dikata-katain seperti itu. Tetapi Ayub bertekun sampai akhir. Tapi engkau mau seperti orang Israel? Israel begitu susah sedikit di padang gurun di bawah Musa, Musa loh saudara-saudara, Musa, bukan Jonathan Edwards, bukan Stephen Tong, mereka tetap tidak puas, “Oh, enakan dulu di Mesir. Di sana aku bisa dapatkan ikan, bisa dapatkan daging, sayur.” Mereka pengin kembali. Mereka tidak setia pada pos jaga mereka.
Saudara-saudara, melihat apa yang ada pada saudara-saudara seiman yang ada di saksi-saksi iman ini, itu membuat kita tidak sombong. Orang sombong adalah orang yang berpikir, “Oh ini masalahku itu berat. Ini sangat berat. You gak tahu sih masalahku. Gak ngerti, aku ini berat sekali masalahnya.” Spesifik-spesifik bagi aku. Seakan-akan saudara-saudara, masalahnya Habel itu tidak berat, Nuh itu tidak berat. Itulah sebabnya penulis Ibrani, “Lihat mereka saksi iman. Lihat!” Ciri dari orang sombong adalah menyendiri dan berpikir dia itu spesial. Dia berpikir dia itu special. Saudara-saudara, ini terjadi di dalam banyak lapisan kerohanian. Dan saudara akan tahu itu adalah cara setan perlahan demi perlahan akan mengasingkan orang itu dan akan ditangkap secara keseluruhan. Nah, saudara bisa melihat orang-orang yang mengaku diri, “Oh, Tuhan bicara kepada saya.” Nah saudara-saudara, saya sekarang kasih satu hal, kenapa orang karismatik itu berbahaya? Karena salah satunya yaitu mereka tidak mau melihat sejarah. Oh Roh Kudus bicara sama saya. Iya, Roh Kudus mungkin bicara sama kita, tetapi harus ingat Roh Kudus yang sama juga bicara kepada Nuh. Roh Kudus yang sama juga bicara kepada Petrus. Roh Kudus yang sama juga bicara kepada Chrysostom. Kepada Tertulian, kepada Jerome, kepada Agustinus, kepada Calvin, kepada Jonathan Edwards. Jangan pikir Roh Kudus cuma bicara kepada kita. Jangan pikir engkau satu-satunya yang spesial. Kalau engkau mengerti ini, kenapa teologiamu bisa berbeda dengan mereka? Ada sesuatu yang aneh terjadi.
Dan saudara perhatikan orang yang tidak melihat dari sejarah, selalu dia akan mudah sekali tersesat. Karena setan akan meminggirkan dia, menjadikan sendirian dan berpikir spesial, berpikir masalahnya itu aku spesial, aku yang paling disakiti, aku yang paling dirugikan. Di tengah-tengah dari keinginan untuk menjadi victim, di situ ada dosa yang besar. Di tengah-tengah seperti itu, maka saudara-saudara, orang-orang itu mulai tersingkir. Di tengah-tengah seperti itu, maka orang-orang itu mulai tersandung. Maka penulis Ibrani mengatakan, “Biarlah ingat engkau dan saya itu bukan sendirian, kita satu dari body of Christ yang berlari menuju ke Zion. Kita ada dalam perlombaan iman, kita di belakang mereka. Sekali lagi, ini bukan perlombaan saya dengan Musa atau saya dengan dia, bukan, ini adalah perlombaan yang saya selesaikan sendiri. Musa sudah menyelesaikannya. Nuh sudah menyelesaikannya. Jonathan Edwards sudah menyelesaikannya. Rutherford sudah menyelesaikannya. Flavel sudah menyelesaikannya. Kemarin berapa hari yang lalu, Solomon Tong sudah menyelesaikannya. Bagaimana dengan saudara dan saya? Maka yang mundur, bertobatlah. Yang menyimpang, bertobatlah. Yang berhenti berlari, bertobatlah. Yang mengatakan bahwa ini masalahku spesial, bertobatlah. Yang tidak bisa bersyukur untuk apa pun yang terjadi pada saat ini, bertobatlah. Kita memiliki banyak saksi. Maka tinggalkan beban dan dosa yang begitu melekat kepada kita. Dan Tuhan mendorong kembali kita untuk berlari menuju kepada akhir. Kiranya kasihan Tuhan menyertai kita. Biarlah kita diberikan ketekunan hari demi hari. Mari kita berdoa.
GRII Sydney
GRII didirikan di atas dasar Pengakuan Iman Reformed Injili dengan tujuan menegakkan satu gereja yang berbasiskan teologi Reformed, dengan mimbar yang menyampaikan khotbah ekspositoris, read more