Ringkasan Khotbah

9 November 2025
Persevering to the End (2)
Pdt. Agus Marjanto, M.Th · Ibr 12:1-3

Ibr 12:1-3

Ibrani pasal 12:1-3 memberikan kita prinsip Rohani tentang bagaimana kita bisa bertekun. Bertekun itu luar biasa penting. Apa gunanya kita memulai tetapi tidak bisa mengakhiri? Apa mulianya seseorang yang memulai pernikahan, tetapi kemudian cerai? Apa mulianya seseorang yang maju dalam pertempuran, tetapi tidak bisa menyelesaikannya sampai akhir? Yesus sendiri memberikan peringatan kepada kita. Engkau jangan sampai membangun, tetapi engkau tidak bisa menyelesaikannya. Engkau jangan memulai peperangan, tetapi engkau tidak bisa mengalahkan. Saudara-saudara, Allah yang memulai pekerjaan yang baik di tengah-tengah kita, adalah Allah yang akan menyelesaikannya di dalam kehidupan kita. Yang memulai benih iman itu, akan menyempurnakan. Tetapi, dari permulaan (start) sampai kepada kesempurnaan, itu ada di dalam anugerah Allah. Anugerah yang diberikan kepada kita adalah anugerah yang memberdayakan kita untuk berjuang sampai akhir, adalah anugerah yang membangkitkan. Anugerah yang memberikan ketekunan. Anugerah yang memberikan desakan. Anugerah yang memberikan kekuatan baru untuk berlari sampai akhir. Seluruh kalimat demi kalimat itu adalah sesuatu yang penting, saudara dan saya harus memperhatikan. Karena di dalam pikiran kita yang berdosa, begitu ada anugerah, maka kita santai. Ketika ada anugerah, hidup kita sembarangan. Ketika anugerah itu ada, kemudian kita boleh membuang anugerah itu. Jikalau pikiran kita seperti itu, tidak mungkin sampai pada akhir! 

Beberapa waktu yang lalu, saya mendapatkan satu kalimat yang benar di dalam relasi suami istri. Saudara-saudara, saya doa terus sampai waktunya nanti kita buat seminar dan buat eksposisi khotbah berkenaan dengan suami istri dan keluarga, tapi waktunya bukan sekarang. Bahkan di situ dikatakan, “Bahkan di dalam relasi suami istri, sesama orang Kristen, sesame aktivis pun di dalam sebuah gereja, Saudara dan saya harus kerja keras dalam pernikahan, kalau tidak akan hancur.” Harus kerja keras dalam pernikahan, kalau tidak pasti akan terus decline, dan kemudian menjadi dingin, dan kemudian itu ada dunia sendiri-sendiri, dan kemudian itu mereka bukan hidup bersama, mereka tinggal bersama. Saudara-saudara, maka begitu banyak pernikahan itu menjadi pudar cintanya. Anugerah diberikan itu untuk kita kerja keras. Waktu saya membaca buku itu, dan kemudian ada satu ilustrasi yang baik. Da mengatakan, “Lihatlah di jalanan itu atau lihatlah di dalam sebuah taman, kalau di situ ada bunga, pasti ada yang berusaha keras dengan kesadaran menanamnya dan mengusahakannya.” Harus dengan usaha, kesadaran, sungguh-sungguh aku menanam baru ada bunga yang saudara bisa lihat. Tapi rumput liar itu tidak perlu, saudara. Saudara biarkan saja kebun saudara. Maka saudara akan melihat rumput liar tumbuh dengan sendirinya. Juga demikian di dalam pernikahan, kalau saudara dan saya mau pernikahan itu sampai selesai, bukan saja sampai selesai, sampai kehendak Tuhan itu jadi sampai selesai, maka suami istri harus kerja keras. Dan, Tuhan memberikan anugerah kepada saudara-saudara untuk kerja keras ini. Sama dengan pertempuran. Maka saudara-saudara, ketika mau bicara mengenai bertempur, saudara dan saya harus mengikat diri di dalam sebuah pasukan, memiliki strategi dan memiliki keberanian untuk maju dan anugerah Tuhan itu diberikan dan membuat kita menang. 

Seluruh ilustrasi ini adalah untuk membuat saudara dan saya sadar, ketika anugerah itu diberikan itu bukan berarti membuat kita malas, membuat kita tidak berjuang. Dan, kalau saudara-saudara melihat saksi-saksi iman di dalam Ibrani pasal 11. Apa yang membuat kesamaan dalam kehidupan mereka? Yang pertama tentu adalah mereka memiliki kesamaan melihat Kristus. Kedua, mereka memiliki kesamaan mendapatkan anugerah. Ketiga mereka memiliki kesamaan, mereka adalah orang yang berjuang! Kalimat terakhir ini pun merupakan satu hati yang remuk ketika saya mengatakannya. Terlalu banyak orang Kristen yang sudah ditipu oleh pikirannya sendiri, oleh dunia, oleh dosa dan kemudian mereka menjadi orang Kristen yang paling penting menikmati daripada berkat Tuhan. Hidup baik, enak ke gereja lihat, lalu kemudian Kembali ke rumah ngurusin keluarga, semua baik. Itu Kristen. Bahkan aku membawa Firman ini buat anakku, bukan supaya anakku dipakai Tuhan, Pak, itu saya tidak mau. Saya cuma mau ini Firman supaya anakku baik-baik saja. Yang saudara perlukan itu agama! 

Tetapi, bicara mengenai Kristus adalah bicara mengenai ketaatan! Ketika bicara mengenai Kristus, itu bicara mengenai api Roh Kudus yang berkobar dalam hati kita untuk berjuang. Seluruh hal-hal ini sudah hamper hilang di dalam kekristenan di Sydney. Kekristenan dengan kenyamanan itu sama. Di gereja yang lain, kekristenan dengan kemakmuran itu sama. Kekristenan dengan holiday itu sama. Saudara-saudara, Alkitab mengatakan, “Lihat saksi-saksi iman yang sudah berlomba di depanmu.” Saudara-saudara, saksi-saksi iman itu saksi yang seperti apa? Seluruhnya saksi yang berjuang. Seluruhnya saksi yang dibawa oleh Tuhan dari comfort zone untuk seluruh kehendak Allah itu jadi. Saksi-saksi ini adalah saksi-saksi yang sudah berlari di depan kita. Dan, ketika kita melihat mereka, itu menjadi dorongan untuk kita sama-sama boleh berlari. Demikianlah, Tuhan itu melihat kita, kekristenan sepanjang sejarah adalah kekristenan yang semua orang itu berlari terus pada perlombaan yang sama. Dan, dengan mata memandang kepada Kristus dan melihat kehidupan saksi-saksi ini mendorong kita untuk bertekun sampai akhir. Saudara-saudara, dan di sini dikatakan, “Karena kita mempunyai banyak saksi, bagaikan awan yang mengelilingi kita.” Dan, sekarang pagi ini saya akan mengeksposisi satu kalimat ini saja. Saksi-saksi itu saksi-saksi apa sih? Sekali lagi, saksi-saksi daripada pendahulu iman kita yang ada di depan. Dan, di dalam konteks Ibrani pasal 12 itu adalah berarti orang-orang yang ada dalam Ibrani pasal 11. Dan, kemudian Tuhan mengatakan bahwa saksi-saksi ini adalah seperti kita mempunyai banyak saksi bagaikan awan yang mengelilingi kita. 

Saudara-saudara, perhatikan sekarang 3 hal ini. Pertama, awan itu adalah kumpulan tetes-tetes air yang banyak. Itu adalah kumpulan kristal-kristal H2O yang banyak, berkumpul di atas. Perhatikan kata ‘banyak’ di sini. Awan itu bukan tetesan air sendirian, itu kumpulan begitu banyak tetes-tetes air. Di dalam Ibrani pasal 11, saudara tidak hanya akan mendapatkan kehidupan Abraham, atau Habel, atau Nuh. Tetapi, seluruhnya bahkan seluruh nabi dikatakan di situ. Sepanjang sejarah, Allah memiliki begitu banyak saksi-saksi yang pernah hidup, yang menyaksikan bahwa Yahweh itu setia adanya. Mereka dari berbagai bahasa. Mereka berbagai bangsa. Mereka berbagai zaman. Mereka tidak saling mengenal, tetapi mereka memiliki iman yang sama di dalam Kristus Yesus dan memiliki suara kesaksian yang sama. Mereka tekun memegang Allah dan mereka mendapati Allah itu setia. Allah itu benar. Janji-Nya terbukti benar. Allah tidak pernah bersalah. Dengan kesetiaan dan ketekunan, mereka telah memberikan kesaksian tentang kehidupan iman, kehidupan yang mempercayai Allah, dengan setia menjalankan tugas dalam pos jaga mereka. Mereka tidak berkhianat. Mereka tidak berbalik. Mereka tidak memecahkan perjanjian. Mereka tidak mundur. Mereka setia meskipun sulit. Mereka tekun meskipun penderitaan dan sulit dimengerti oleh orang sekitarnya. Dan, dalam banyak hal mereka difitnah. Dan, mereka merasa tersendiri dan benar-benar sendirian. Mereka merasa kesepian. Mereka pertama-tamanya mau meninggalkan panggilan mereka, tetapi mereka tidak. Mereka bertekun sampai akhir dan di ujung akhirnya, mereka mendapati Allah itu setia. Ibrani mengatakan, “Kita memiliki banyak saksi.” Lihat saksi-saksi itu! Dan, kalau saudara dan saya memilah-milah satu persatu kehidupan saksi-saksi ini maka saudara akan menemukan semua orang dalam konteks yang berbeda-beda. Ada yang kaya, ada yang miskin. Ada yang tua, ada yang muda. Ada yang menikah, ada yang berkeluarga, ada yang single. Ada yang sehat, ada yang sakit. Bahkan akhir hidup mereka pun berbeda. Ada hidup, ada yang akhir hidupnya itu “baik”, saudara-saudara, di dunia ini. 

Misalnya Nuh itu. Dia selamat dari banjir, satu keluarganya saja. Kalau kita membaca, “Wah, ini orang yang memiliki kesaksian.” Memegang iman sampai akhir dan hidupnya baik. Tetapi, ada yang akhir hidupnya itu menderita “tidak baik”. Yesaya, misalnya saja dipotong menjadi 2 oleh Raja Manasye. Tetapi disebutkan kepada orang-orang ini, Allah itu tidak malu disebut Allah mereka. Sekali lagi, pos jaga mereka lain-lain. Mereka memiliki kehidupan yang berbeda. Mereka bahkan tidak saling mengenal, karena itu bedanya bisa ribuan tahun di dalam Ibrani pasal 11. Mereka bahkan tidak di satu tempat. Kita semua adalah pada zaman yang sama di Sydney. Mereka tidak satu tempat, ada yang di sana, di sini, di seluruh dunia. Tetapi, Allah mengerti siapa yang menjadi milik-Nya, dimunculkan-Nya mereka di depan kita untuk kita boleh hidup mencontoh mereka. Bukan satu, tapi banyak. Mereka adalah saksi-saksi seperti awan yang begitu banyak yang melingkupi kita. Apa artinya awan yang banyak yang melingkupi kita? Artinya Allah sudah memberikan kejelasan ini di depan kita, begitu nyata. Kehidupan mereka nyata, kita bisa lihat. Tidak sulit untuk kita membaca dan menelitinya. Maka tidak ada alasan bagi kita untuk tidak tahu, yang ada adalah tidak mau untuk tekun. Karena seluruh saksi begitu jelas. Seluruh janji begitu nyata. Saudara dan saya tidak lagi bisa untuk menolak atau membuat diri kita mengatakan, “Aku tidak tahu.” Bukan tidak tahu, tapi tidak mau untuk melangkah maju terus. 

Sampai di sini, maka saya akan bicara satu hal. Keputusan kehendakmu dan saya itu apa? Suatu hari maka Yesus itu dicobai oleh orang-orang mengatakan, “Boleh ceraikan istri atau gak?” Kecuali dia itu berzinah, maka tidak boleh. Dan, kemudian mereka mengatakan, “Ini Musa boleh menerbitkan surat cerai.” Yesus kemudian mengatakan, “Karena ketegaran hatimu, Musa melakukan itu.” Itu artinya kamu sudah memutuskan untuk minta cerai dan kamu tidak mau bergeming. Engkau memberikan kehendakmu, cerai! Engkau memberikan keputusan kehendakmu, tidak mau setia. Engkau menguatkan hatimu dan kemudian memutuskan tidak mau maju terus. Kehendakmu, engkau sudah keraskan sampai titik paling berdosa. Engkau dan saya sudah memiliki banyak saksi. Hidupnya jauh sulit daripada kita. Pergumulannya lebih banyak daripada kita. Tetapi mereka menetapkan untuk hidup suci, mereka menetapkan hatinya untuk setia kepada Yahweh. Engkau sudah melihatnya, saksi itu begitu banyak mengelilingi kita. Jangan mengatakan Allah tidak memberikan kenyataan dalam hidup. Yang ada adalah engkau berketetapan di dalam kehendak yang dikeraskan di dalam dosa, aku tidak mau. Awan itu banyak dan mengeliling kita.

Sekarang perhatikan hal yang ke-2. Sekali lagi, ini sungguh unik karena penulis Ibrani memakai saksi ini bagaikan awan. Awan itu adalah tadi saya sudah katakan, kumpulan air yang banyak. Tetapi ini bukan saja air, ini adalah air yang mengembang, saudara. Dari cair menjadi gas, dari cair menjadi uap karena panas dan tekanan kepada air di tanah ini, di bumi ini maka air itu kemudian mengembang dan menjadi ringan dan meninggalkan daratan. 

Saudara-saudara, saya menjadi sangat tertarik, kenapa ya mesti pakai awan? Jadi banyak saksi, banyak orang-orang yang kemudian itu meninggalkan daratan dan mengembang dan kemudian menjadi ringan dan kemudian itu ada di awan, ada di langit. Prinsip ini adalah prinsip sama yang dikatakan dalam Ibrani sebelumnya. Dunia ini tidak layak bagi mereka, artinya dunia ini tidak berharga bagi mereka. Awan tidak terikat oleh dunia. Awan sudah begitu masuk ke dalam satu posisi lepas dari dunia. Mereka adalah kumpulan yang mendekati langit. Mereka pada posisinya tersendiri dan bukan di tengah-tengah dunia. Mereka ada pada tempat yang lain. 

Saudara-saudara, saudara sekarang coba hubungkan dengan Ibrani 11 yang mengatakan; Musa itu bertekun karena dia itu melihat sesuatu yang tidak kelihatan. Mereka adalah saksi-saksi yang hidup seperti kita. Mereka kerja seperti kita, berumah tangga seperti kita, punya masalah dengan keluarga seperti kita. Mereka mesti dipecat dari perusahaan, mereka mesti setengah mati cari lagi pekerjaan, belum lagi karena iman mereka itu diolok-olok bahkan dianiaya, bahkan ditinggal sendirian bahkan ada yang dimatikan. Mereka ada di dunia ini persis seperti saudara dan saya, saudara bisa melihat dia, bisa memegang dia. Tetapi, pada saat mereka ada di dunia ini mereka melihat dunia yang lain. Mereka begitu bisa tahu ada sesuatu yang lain selain dunia materi yang mereka bisa pegang. Sewaktu mereka ada di bumi pikiran mereka tidak dipenuhi oleh hal-hal di bumi saja, pikiran mereka memikirkan hal-hal setelah bumi ini berlalu. Pikiran hal-hal surgawi yang mereka harus nyatakan di bumi ini sebagai panggilan mereka. Dengan kalimat yang lebih sederhana saya katakan. Ini adalah orang-orang yang memikirkan masa depan kekekalan untuk menjadikan hidup mereka di bumi ini menjalankan kekekalan. Ini yang menjadikan mereka berbeda dengan kita. Ketika saya mengatakan hal ini ini bukan bicara mengenai spiritualitas tinggi, tetapi ini adalah bicara mengenai sanctification, pengudusan. Jikalah kita menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadi, Roh Kudus melalui Firman-Nya akan membawa melihat dunia yang lain. Kita akan menyadari kita adalah perwakilan, ambassador, utusan dunia lain itu- Kerajaan Allah- di tengah-tengah dunia ini. Kita akan menjadi orang yang tidak terikat di bumi ini, senang dengan kepentingan-kepentingan bumi ini saja. Kita menyadari bahwa bumi ini adalah sementara, kita adalah pilgrim, musafir di bumi ini. Saksi-saksi iman itu memiliki pikiran, bisnis yang lain dengan kebanyakan orang. Ada kehendak Allah yang aku harus genapkan, dikerjakan di bumi ini. Dan untuk itu aku harus bertekun dan nanti sampai pada waktunya aku akan kembali kepada surgawi itu. 

Saya akan berikan ilustrasi yang beberapa puluh tahun lalu pernah dinyatakan oleh Pak Tong dan saya beberapa waktu yang lalu mendengarnya. Ada seseorang yang terdampar di sebuah pulau, luka di mana-mana. Dan kemudian ditemukan oleh sekelompok penduduk setempat dan kemudian diobati dan beberapa hari kemudian sembuh. Dan kemudian orang-orang lokal itu datang kepada dia dan mengatakan, “Pak, karena bapak sudah terdampar di sini, kami memiliki kebiasan untuk orang yang terdampar itu ada dua hal. Yang pertama bapak kami jadikan raja atas kami satu tahun, raja Pak, tapi satu tahun. Hal yang kedua, setelah satu tahun maka kemudian bapak harus pergi, kami tempatkan di pulau sebelah dan pulau sebelah itu adalah pulau yang kering dan begitu banyak ular berbisa yang menakutkan dan mematikan, dan bapak harus dilempar ke sana.” Wah, orang ini kemudian senang dicampur sedih. Dan kemudian ditinggalkan oleh kepala suku itu, dan kemudian dibawakan makanan, hiburan, mulai detik itu menjadi raja. Hari pertama, hari ke-2, minggu pertama, minggu ke-2, tapi dia pintar. Dia pintar karena didorong ketakutan, waduh cuma setahun begini nanti setelah itu saya akan dilempar ke pulau itu dan saya akan mati. Saya menjadi raja tapi satu tahun saja, lalu dia pikir-pikir lalu besoknya dia bertemu dengan seluruh rakyatnya karena dia raja. Engkau sudah bilang sama saya bahwa saya menjadi raja, saya boleh melakukan apapun saja. Ok. Sekarang perhatikan baik-baik, seluruh engkau saya bagi ke 4 kelompok. Kelompok pertama, 2 bulan ke pulau itu habisi seluruh ular yang ada. Kelompok ke-2, 2 bulan bajak tanah, tanami tumbuhan dan sayuran dan seluruh buah-buahan, jadikan pulau itu hijau. Kelompok ke-3, 2 bulan kemudian maka bangun rumah-rumah mewah di sana. Dan kelompok ke-4 engkau pindah ke sana seumur hidup untuk menjadi pembantu dan menjadi orang-orang yang memelihara seluruh taman. Saya akan jadi rajamu sekarang. Lalu kemudian mereka jalankan. Dan kemudian ada satu kalimat yang Pak Tong itu kemudian bicara, ketika saya mendengarnya hati saya tertusuk. “Engkau ada di sini, kita semua ada di sini. Engkau mau menikmati semuanya? Engkau mau menjadi raja, cuma satu tahun buat apa? Dan setelah itu engkau dan saya akan pergi ke pengadilan kekal.” 

Saksi-saksi iman adalah orang yang hidup di dunia ini, tapi mata mereka melihat dunia yang tidak kelihatan. Mereka tahu mereka jadi raja di bumi ini tetapi buat apa? Cuma sebentar dan mereka harus memikirkan kalau mereka pindah akan seperti apa. Saya jadi teringat pada kalimat daripada Puritan, The Art of Dying Well, aneh ya. Kalimat ini hilang zaman ini, “Seni mati dengan baik”. Kalau saudara mau mati dengan baik, maka biarlah kita boleh seperti saksi-saksi iman ini, orang yang mengambang naik tinggi melepaskan dirinya dari tarikan gravitasi di bumi ini. Ya mereka ada di dunia ini tetapi mereka tidak dipenuhi oleh seluruh isi dunia ini, mereka tidak bisa dihibur oleh dunia ini, mereka tidak bisa menikmati sepenuhnya kemewahan dunia ini. Mereka menyadari mereka hidup bukan untuk dunia ini, mereka mempersiapkan dunia ini untuk dunia yang berikutnya dan mereka membawa kebenaran dunia berikutnya kepada dunia ini. 

Sekali lagi, Jonathan Edwards mengatakan ,”Meteraikan kekekalan di bola mataku.” The Art of dying well. Dan orang-orang Puritan mengatakan, “Ketika engkau bertemu dengan orang yang hampir mati, berikan kepada dia ribuan dolar apakah dia akan tertarik? Berikan dia TV yang besar untuk dinikmati, apakah dia akan tertarik? Buat orang-orang yang sekarat, apakah perzinahan itu menjadi sesuatu yang tertarik?” Buat orang-orang yang sekarat seluruh dunia itu menjadi beban yang ditinggalkan. Itulah yang dikatakan, tanggalkan seluruh beban dan dosa yang begitu mengikat engkau. The Art of Dying Well. Dan itulah saksi-saksi iman. Sekali lagi, saksi-saksi ini hidupnya itu mengembang ke atas dan daya tarik bumi itu menjadi tidak lagi berarti. Mereka makin meluas dan saudara perhatikan, begitu makin ke atas makin banyak orang di bumi jangkauannya, lingkupannya yang bisa melihat. Jelas kan? Kalau saya duduk di bawah sebelahnya Wijaya, maka Wijaya bisa lihat, Andreas bisa lihat, beberapa orang di belakang bisa lihat tetapi yang paling belakang tidak bisa melihat saya. Begitu saya naik di sini semua mata bisa memandang saya. Tapi kapal terbang di atas saya, maka bukan cuma saudara dan saya bisa melihat dia, dari radius beberapa kilometer di Sydney bisa melihat. Ini artinya apa? saksi-saksi ini bagaikan awan begitu dia menjadi saksi iman pasti pengaruhnya melampaui zaman, melampaui waktu mereka, melampaui ruang, melampaui suku bangsa mereka. Lihatlah saksi-saksi iman yang ada di sini. Bukankah kita bangsa Indonesia diberkati? orang-orang China yang di sini diberkati? Orang-orang Jerman yang melihat mereka bukankah diberkati? Mereka memberkati generasi demi generasi sesudah mereka. Mereka tidak hidup untuk mereka sendiri tetapi bagi Allah karena mereka memiliki satu fokus hidup hanya bagi Allah, maka Allah memakai hidup mereka memberkati bangsa-bangsa, generasi-generasi sesudah mereka. 

Saudara-saudara, kita itu orang yang diciptakan untuk mempengaruhi orang lain, menjadi berkat bagi orang lain, tetapi saudara-saudara biarlah kita boleh mengerti poinnya. Bagaimana jalan yang Tuhan berikan kepada kita untuk kita boleh menjadi berkat, menjadi saksi bagi orang-orang setelah generasi kita? Yaitu dengan setia, dengan taat, setia bertekun sampai akhir. Suatu hari saya bertemu dengan seseorang. Dan kemudian orang itu mengatakan, ”Wah, kita itu mesti jadi berkat Pak Agus ya? Oh, saya ini sekarang melayani di lembaga ini trus kemudian saya ada orang yang konseling dan kemudian saya terima Hotline itu yang free line itu. Saya mau hidup saya itu jadi berkat bagi orang lain.” Saudara-saudara, kemudian ada sesuatu yang saya rasa ada yang tidak tepat di dalam hal ini. Pada waktu kami sedang jalan, dan kemudian saya mengatakan, ”Saya ndak pernah terpikir lho kalau hidup saya menjadi berkat jadi orang lain, saya ndak pernah terpikir lho hidup saya itu untuk jadi pengaruh bagi orang lain.” Lalu kemudian itu, dia menghentikan langkahnya dan kemudian mengatakan, “Kita itu harus menjadi berkat bagi orang lain, harus menjadi pengaruh bagi orang lain.” dan kemudian saya mengatakan kepada dia, “Saya tidak pernah memikirkan itu, yang saya pikirkan cuma satu apakah saya bisa taat sama Tuhan.” 

Taat. Tekun sampai akhir di dalam ketaatan. Titik. Dan di dalam kedaulatan-Nya, orang-orang yang taat akan dijadikan-Nya orang-orang yang berpengaruh. Orang-orang yang taat menjadi orang-orang yang memberkati. Kita ingin untuk menjadi berkat bagi banyak orang, tetapi kita menyingkirkan ketaatan, tidak mungkin itu terjadi! Nuh itu tidak perlu jadi viral pada zamannya, seluruh nabi itu hidupnya bahkan tersembunyi, sendirian. Kalau pada waktu mereka itu hidup ada Instagram, ada Facebook, ada website, saudara-saudara mereka tidak ada sama sekali. Saya tidak anti sosial media, bukan itu maksud saya, tetapi kalau saudara berpikir dengan seluruh sosial media itu kita bisa dipakai oleh Allah memberkati seluruh dunia tetapi kalau kita tidak taat, kita menipu diri kita sendiri. Sebaliknya Tuhan melihat ketaatan kita ketika kita sendirian, ketika kita di tempat tersembunyi. Dan Dia akan memunculkan pada waktu-Nya, hamba-hamba-Nya. Kita memiliki banyak saksi seperti awan yang melingkupi kita. Kalau Tuhan pimpin, maka kita akan lanjutkan tema ini dua minggu dari sekarang. Mari kita berdoa.


Ibrani 3:7-19, 4:11, 11:1-40, 12:1-2
 
GRII Sydney

GRII didirikan di atas dasar Pengakuan Iman Reformed Injili dengan tujuan menegakkan satu gereja yang berbasiskan teologi Reformed, dengan mimbar yang menyampaikan khotbah ekspositoris, read more