Ringkasan Khotbah

16 November 2025
Persevering to The End (3)
Pdt. Agus Marjanto, M.Th · Ibr 12:1-3

Ibr 12:1-3

Sekali lagi Ibrani 12:1-3 mengajarkan apa? Ayat-ayat ini mengajarkan prinsip-prinsip rohani bagaimana kita bisa bertekun di dalam iman, di dalam seluruh panggilan yang diberikan Allah kepada kita. Saudara-saudara, ketekunan adalah hal yang diperlukan untuk kemenangan, ketekunan adalah hal yang diperlukan untuk sukses, ketekunan adalah hal yang diperlukan untuk berhasil. Orang-orang di dunia ini tahu bahwa ketekunan ini elemen luar biasa penting, maka mereka semua belajar dengan gigih meskipun ngantuk, meskipun malas, mereka belajar dengan gigih. Mereka tekun, mereka gigih di dalam bisnis, mereka tekun, mereka gigih di dalam mencari uang. Sungguh-sungguh tidak menyerah, gigih sungguh-sungguh mengejar. Saudara-saudara, ini adalah karakter-karakter yang baik sebenarnya, tetapi setia dan tekun sampai akhir di dalam menjalani panggilan Allah, setia dan tekun sampai akhir di dalam pos jaga yang Tuhan berikan kepada kita maka sebenarnya ini memerlukan karakter yang melampaui ketekunan alami kita. Saudara bisa melihat orang sungguh gigih di dalam sekolah berhasil belum tentu di dalam iman dia berhasil. Mereka tekun di dalam bisnis, di dalam mencari uang, belum tentu mereka bisa tekun di dalam iman. Kalau ketekunan di dalam iman itu adalah sama dengan karakter tekun secara alami, penulis Ibrani tidak perlu menuliskan ini. Tetapi penulis Ibrani menuliskan hal ini, karena untuk bisa tekun di dalam pos jaga, di dalam panggilan, maka itu memerlukan sesuatu yang extra, yang dari surga, memberitahu kepada kita. Penulis Ibrani mengatakan: Engkau mau tekun di dalam iman? Engkau mau tekun di dalam panggilan? Engkau mau tekun sungguh-sungguh di hadapan mata Allah? Bukan berdasarkan definisimu? Maka matamu harus fokus kepada Kristus, dan juga engkau harus menyadari bahwa kita memiliki banyak saksi. 

Saksi-saksi itu seperti awan yang mengelilingi kita, minggu yang lalu sudah bicara berkenaan saksi-saksi seperti awan, pada pagi hari ini saya akan mengulanginya sedikit dan memberikan penekanan untuk saudara mengerti apa sesungguhnya artinya ini. Saudara-saudara, yang pertama minggu lalu kita sudah bicara, awan adalah kumpulan air yang banyak. Saudara-saudara, perhatikan banyak, saudara-saudara banyak, saudara-saudara lihat ada orang-orang yang sudah mendahului kita ada banyak. Lihatlah cara Allah yang menguatkan kita, yaitu community yaitu Gereja, Gereja lokal yang kita lihat maupun Gereja yang sifatnya yang tidak terlihat dan itu adalah saksi-saksi iman ini. Sekali lagi saya menekankan pentingnya yang Alkitab katakan, community. Penulis Ibrani menggabungkan antara kehidupan mereka dengan saksi-saksi iman yang mereka bahkan tidak kenal, tetapi ini adalah cara kerja Allah cara pandang Allah di dalam membangun iman kita. Sekali lagi, kita tidak ditentukan untuk menang di dalam perang sendirian. Saudara-saudara, kita diminta untuk perang dan kita diminta untuk tekun dan untuk tekun, saudara dan saya tidak bisa sendirian. Bahkan murid-murid Yesus itu diutus oleh Yesus di dalam pos jaga mereka itu berdua-berdua. Dan saudara-saudara katakan, “Saya tidak sendirian kokPak, saya sama istri saya.” Petrus diutus bukan bersama istrinya, saudara-saudara, istrinya ikut tetapi juga ada Natanael yang bersama-sama dengan dia. 

Saudara-saudara, berdua-berdua, tidak pernah sendirian, selalu komunitas. Sekali lagi, hal ini berkali-kali saya ungkapan dari mimbar ini kenapa? Kerana kita ini adalah orang-orang yang sudah dimasuki di dalam filosofi individualism. Sekali lagi, kita tidak mungkin menang ketika kita sendirian, ada saksi-saksi iman, banyak yang ketika kita melihatnya kita sadar apa yang terjadi kepada kita sesungguhnya terjadi dahulu kepada mereka. Sekali lagi, saya tekankan hal ini, iblis cara kerjanya adalah memisahkan kita menyendiri, ketika seseorang itu menyendiri, orang itu akan mudah sekali disesatkan, dibodohi, ditipu. Orang tersebut akan dibuat kalau dia itu sendiri, dia akan mudah sekali jatuh di dalam mengasihani diri sendiri atau sebaliknya dia jatuh di dalam kesombongan. Dia akan jatuh mengasihani diri sendiri karena dia berpikir, “Oh, aku adalah orang yang paling malang sedunia, aku orang yang paling mendapatkan penderitaan, tidak ada di gerejaku yang mendapatkan penderitaan kayak begini. Kamu tidak pernah kan itu disalah mengerti sama suamimu? Tidak dicintai oleh suamimu? Kamu tidak pernah lihatkan anakmu itu kurang ajar sama kamu?” Dia berfikir bahwa dia adalah satu-satunya, padahal seluruh gereja mengalami hal yang sama, dan seluruh saksi-saksi iman mengalami hal yang sama. Kalau saudara-saudara melihat orang-orang Puritan, mereka mengalami hal-hal yang sama, misionaris-misionaris, mereka mengalami hal yang sama. 

Saudara-saudara, selain mengasihani diri, orang yang menarik akan mudah sekali jatuh di dalam kesombongan, “Aku lain, you harus tahu ya konteksku lain.” Ada orang yang sulit untuk bertumbuh, karena selalu apapun itu Firman dibagikan, kesaksian dibagikan selalu pikirnya konteksku lain, saya tidak harus seperti itu. Saudara-saudara, kalau seperti itu terus dalam cara berfikir kita tidak mungkin akan bertumbuh, kalau seperti itu, saudara bicara sama penulis Ibrani konteksku lain apalagi you bicara Abraham konteks kita lain. Saudara-saudara, kita mesti rendah hati, untuk tekun kita mesti rendah hati. Saudara-saudara, kita perlu mendapatkan dorongan dari semua orang saksi-saksi iman itu, ini adalah cara Allah memberikan anugerah. Kadang-kadang kita menginginkan anugerah tetapi saudara-saudara kita tidak mau untuk mengikut dengan taat cara Allah memberikan anugerah, kiat mau caranya sendiri. Bagaimana caranya untuk aku bisa bertekun? Tuhan datang di kamarku, nyatakan kemuliaan-Mu, mengusir ketakutanku, menghapus air mataku, maka dari situ aku bertekun. Seperti itu? Sekali lagi individualisme. Tidak begitu cara Tuhan untuk memberi anugerah, Allah memberikan anugerah untuk kita bertekun, melalui apa? Melalui komunitas. Sekali lagi, jangan mudah untuk terus dibawa oleh setan untuk menyendiri, saya bicara seperti ini bukan untuk orang extrovert saja tetapi untuk orang introvert. “Oh, saya orang introvertPak, saya tidak ingin untuk bertemu orang, oh saya orang introvertPak, saya kalau ketemu orang malu, cerita juga malu. Saudara-saudara, ini adalah orang-orang introvert pun, saudara-saudara tetap di sini, Tuhan mengininkan kita untuk kita melihat orang lain, berjuang bersama-sama orang lain baru bisa bertekun. Orang introvert untuk sharing itu tidak gampang, orang introvert untuk bisa membuka diri itu sangat sulit, tetapi, ini yang Tuhan itu kehendaki. Saudara-saudara, kalau saya mau cerita hidup saya di mimbar, saya tidak ingin banyak cerita. Saya itu inginnya adalah seperti keong, saya tidak suka untuk keluar, saya tidak suka untuk ketemu sama orang. Ketemu sama orang rasanya lelah, dan ketika saya sudah ketemu orang, saya sendirian nanti di kamar, saya menguatkan diri saya sendiri lagi, minta anugerah lagi, baru bisa bicara sama orang. Sifat saya itu ketemu sama orang itu takut, mungkin saudara sekarang akan bilang sekarang nakutin. Saya itu orang pemalu sekali, mungkin saudara akan bilang sekarang malu-maluin, Tuhan mengubah semuanya, tapi secara karakter dasar, saya orang introvert, paling senang di dunia itu, paling indah adalah baca buku sendiri, punya dunia sendiri dalam pikiran. Tetapi tidak bisa, hidup kekristenan adalah hidup yang dibentuk oleh Allah untuk berkomunitas. Pertamanya saya berpikir oh ini adalah suatu pengudusan karakter, betul, tetapi lebih daripada itu ternyata untuk bisa bertekun kita memerlukan komunitas. Ingat banyak, ingat komunitas, jangan berperang sendiri, tekun itu perlu topangan komunitas. Saya sudah berkali-kali bicara poin yang pertama. Lihat awan-awan engkau memiliki banyak saksi bagaikan awan. 

Hal yang ke-2, kita bicara mengenai awan minggu yang lalu, saya sudah katakan ini adalah kumpulan air yang menguap yang mengambang yang mengembang naik tinggi, sekali lagi dalam poin ini saya mau menegaskan sesuatu, saudara perhatikan prinsipnya saksi-saksi ini memiliki ciri hidup mereka di dunia sana seperti kita tetapi mata melihat jauh ke depan melihat kekekalan. Secara sederhana mereka memiliki mental musafir, mental pilgrim, mereka ada di dunia tetapi bukan milik dunia. Saudara-saudara perhatikan, mereka bukan pembenci dunia, tetapi mereka benci keduniawian. Sekali lagi, mereka bukan pembenci dunia tapi mereka benci keduniawian, benci dosa. Saudara-saudara, apa bedanya? Pembenci dunia itu tidak bisa menikmati apa yang Tuhan berikan di dalam dunia ini, tetapi orang-orang yang beriman, yang sejati, bisa menikmati anugerah Tuhan di dalam dunia ini. Saudara-saudara, kita semua diperbolehkan untuk menikmati anugerah Allah di dalam dunia ini. Kalau saudara-saudara bisa dapatkan uang yang banyak, silakan. Engkau bisa beli rumah lebih dari satu, silakan. Engkau punya liburan silakan, dan jangan rasa berdosa karena itu adalah anugerah yang Tuhan berikan kepada saudara dan saya.

Saudara-saudara, orang yang beriman sejati bisa menikmati anugerah Allah di bumi ini, tetapi hatinya tidak terikat bumi ini, hatinya terikat kepada keindahan Allah, kekekalan, dan pekerjaan-Nya artinya semua yang di atas kalaupun pada saat-saat tertentu Tuhan itu meminta hal di bumi itu harus dilepaskan, maka dia akan rela dan sukacita. Sekali lagi, saksi ini memiliki satu ciri, dia itu menguat, dia mengambang, dia itu ke atas, dia naik tinggi melepaskan gravitasi, dia menikmati apa yang diberikan di bumi ini tetapi matanya selalu melihat ke atas dan jikalau pada saat-saat tertentu Tuhan meminta dia melepaskan yang ada di bumi ini, maka dia rela, dia sukacita. 

Saudara-saudara, John Howden memberikan komenteri di dalam Matius 19 bicara berkenaan Yesus bertemu dengan orang-orang yang kaya itu, dan kemudian orang muda yang kaya orang yang beragama itu yang melakukan perintah-perintah Allah itu, dia tanya, “Guru yang baik apa yang harus aku kerjakan aku lakukan untuk aku masuk ke dalam kerajaan Surga?” Yesus kemudian mengatakan, “Jual seluruh apa yang engkau punya dan berikan kepada orang miskin, dan engkau ikut Aku,” dan orang ini kemudian tidak mau melakukannya. Dia memiliki seluruh penampilan agamawi, dia menangis bahkan sambil meninggalkan Yesus sambil menangis. Tidak ada gunanya saudara-saudara meninggalkan Yesus sambil menangis, tidak ada gunanya, yang Yesus inginkan itu pertobatan. Menangis tapi tidak menaati, tidak ada gunanya, ya ini saya terkesima sekali apa yang John Howden katakan, ketika mengomentari ayat itu, tidak sering diulangi dua kali, tidak sering, tetapi ada kalanya Tuhan meminta kita melepaskan sesuatu di dunia ini, yang baik, karena ini menjadi beban yang merintangi kita mengikut Dia. Sekali lagi, tidak sering, tapi ada kalanya Tuhan meminta kita melepaskan sesuatu di dunia ini, yang baik, karena ini menjadi beban yang merintangi kita mengikut Dia. Sekali lagi, saudara dan saya dipanggil untuk menjadi menjalankan kehendak Allah di tengah-tengah dunia, kita harus menyadari bahwa kita ada di dunia, tetapi kita bukan milik dunia ini. Kita ada di dunia ini tetapi mata kita harus memandang kekekalan, hati kita diikatkan kepada keindahan Surga dan pekerjaan-Nya. Saudara dan saya dibebaskan oleh Tuhan untuk memiliki segala sesuatu yang baik di dunia ini, nikmatilah. Seluruh berkat-berkat materi pun boleh dinikmati asal itu bukan di dalam dosa. Tetapi ada kalanya pada saat-saat tertentu Tuhan menginginkan kita melepaskannya, dan biarlah kita boleh rela dan sukacita. Sekali lagi, saksi-saksi iman ini hatinya itu melekat kepada kekekalan, saksi-saksi iman itu hidup pada waktu itu tapi matanya melihat ke depan, dan saudara lihat di dalam Ibrani berkali-kali itu dijelaskan prinsip tersebut. 

Mari sekarang kita melihat Ibrani 11, saudara-saudara bukan hanya melihat prinsipnya, saudara melihat dari kenyataannya. Saudara perhatikan Ibrani 11:10, bicara berkenaan dengan imannya Abraham, Abraham menjadi salah satu dari saksi iman, dan apa ciri dari saksi iman? Yaitu dia memiliki mata melihat jauh ke depan kepada kekekalan. Perhatikan ayat yang ke-10: ‘Sebab ia menanti-nantikan kota yang mempunyai dasar, yang direncanakan dan dibangun oleh Allah.’ Saudara-saudara, Abraham keluar dari Ur-Kasdim, pergi ketempat yang Aku kehendaki. Tuhan tidak bicara itu tempat itu apa, Abraham tidak tahu, tetapi dia berjalan, dia melihat ke depan, dia mengharapkan kota yang dibangun sendiri oleh Allah. Dan itu kita tahu imannya bukan di sekitar Palestina, imannya itu sampai kekekalan. 

Ayat 13: ‘dalam iman mereka semua ini telah mati sebagai orang-orang yang tidak memperoleh apa yang dijanjikan itu, tetapi yang hanya dari jauh melihatnya dan melambai-lambai kepadanya dan yang mengakui, bahwa mereka adalah orang asing dan pendatang bumi ini.’ Ini adalah pilgrim. ‘sebab mereka yang berkata demikian, menyatakan bahwa mereka sangat rindu mencari sesuatu tanah air sekiranya dalam hal ini mereka ingat akan tanah asal yang telah mereka tinggalkan mereka cukup mempunyai kesempatan untuk pulang ke situ, namun sekarang mereka merindukan tanah air yang lebih baik yaitu satu tanah air sorgawi. Sebab itu Allah tidak malu disebut Allah mereka, karena Ia telah mempersiapkan sebuah kota bagi mereka.’ Perhatikan, mereka memiliki ciri yang sama, saksi itu hidup sekarang tetapi melihat kekekalan. Saudara minta pertumbuhan rohani seperti ini, kalau kita tidak memiliki pertumbuhan rohani seperti ini, kita tidak mungkin tekun. Dunia ini terlalu menantang jiwa kita, dunia ini terlalu menarik, kecuali kita nelihat sesuatu yang jauh lebih menarik daripada dunia ini, baru kita bisa melangkah ke depan. Minta sama Tuhan, “ , Engkau sendiri yang menyatakan aku harus bertekun, Engkau sendiri yang menyatakan aku harus melihat apa yang saksi-saksi iman itu lihat. Tuhan, Engkau memanggil aku sekarang, Engkau yang sudah menyatakan bagaimana Engkau membuka kota yang ada yang kekal itu, bukakan itu kepadaku sekarang.” Biarlah setiap kalimat- kalimat Firman kembali menjadi doa kepada Allah. 

Kita sudah bicara mengenai Abraham, kita sudah bicara mengenai musafir ini, sekarang kita akan bicara mengenai Musa. Saudara perhatikan ayat 25-27, mulai dari 24: ‘karena iman setelah dewasa, Musa menolak disebut anak putri Firaun, karena ia lebih suka menderita sengsara dengan umat Allah dari pada untuk sementara menikmati dari dosa. Ini adalah sesuatu yang sama, bukan? Seluruh saksi-saksi itu memiliki karakter yang sama. Mereka melihat sesuatu di depan, melihat sesuatu yang surgawi, melihat sesuatu yang tidak kelihatan. Mereka menyadari; yang tidak kelihatan itu pasti. Saudara-saudara, ini adalah iman. Saudara-saudara, biarlah kita sungguh-sungguh minta belas kasihan Tuhan untuk mengalami semua ini. Semua ini diberikan Allah kepada kita. 

Salah satu hal ketika kita itu berkhotbah, yang saya kuatirkan adalah; khususnya dalam khotbah-khotbah seperti ini; ada di dalam hati kita, saudara mengagumi iman orang-orang ini tetapi saudara berpikir bahwa itu buat mereka, tapi aku itu bukan mereka. Engkau melihat saksi-saksi iman itu dan engkau bertepuk tangan, tetapi engkau kemudian katakan kepada dirimu sendiri bahwa itu bukan aku, aku adalah orang yang kalah. Saudara-saudara, setan selalu akan membuat saudara untuk melihat diri yang kalah. Atau sebaliknya, saudara-saudara berpikir bahwa oh, aku ini luar biasa, aku pasti bisa. Dua-duanya masuk dalam jebakan setan. Tetapi katakan kepada Tuhan, “Engkau tahu aku ini siapa. Aku bukan Abraham, bukan Ishak, bukan Yakub, tetapi Firman-Mu itu diberikan bagi orang-orang yang ada di dalam Engkau, ya Tuhan Yesus. Kasihanilah aku. Apa yang Engkau sudah berikan kepada mereka, berikan kepadaku. Apa yang Engkau sudah bukakan kepada mereka, bukakan kepadaku. Berikan anugerah-Mu, belas kasihan-Mu seperti Engkau memberikan Abraham, Isak, dan Yakub. Abraham. Itu adalah respon terhadap Firman ini. Allah yang menyayangi Petrus adalah Allah yang kemudian menyatakan diri-Nya menyayangi perempuan Siro-Fenesia itu. Saudara-saudara, ketekunan itu memerlukan saksi-saksi iman. Dan saksi-saksi iman itu memiliki ciri melihat kekekalan.

Sekarang saya akan lanjutkan poin yang ke-3. Perhatikan setiap saksi-saksi iman itu memiliki ciri lain adalah mereka selalu memiliki musuh. Mereka selalu memiliki musuh. Selalu ada figur antagonis di dalam hidup mereka. Bisa satu, bisa banyak, bisa sekelompok, bisa massa yang besar. Bisa datang dari musuh yang jauh, bisa dari keluarga sendiri. Saudara, mari kita melihat Ibrani 12:3. Ketika bicara mengenai saksi, saudara-saudara, dan kemudian Ibrani itu membawa kita kepada Yesus Kristus. Kata ‘tekun’ ini dimunculkan oleh penulis Ibrani dengan konteks peperangan/pertentangan. Mereka memiliki musuh pada time and space mereka. Dan mereka disebut saksi iman karena mereka tetap memegang apa yang dipercayakan Allah di dalam hidup mereka. Meski orang-orang lain mengejek, memfitnah, menghancurkan karakter mereka, dan bahkan ada yang menghancurkan hidup mereka, membuat mereka tidak lagi dipercaya oleh orang sekeliling mereka, dan itu disebut sebagai saksi iman. Saudara mau bicara dari Habel sampai Abraham, Musa, sampai seluruh yang tertulis di sini, Gideon, Barak, Daud, seluruhnya memiliki figur antagonis. Dalam poin ini saya mau mengingatkan arti kata saksi, saudara-saudara. Sekali lagi di dalam Alkitab, ‘saksi’, ketika kata ini muncul, itu selalu dikaitkan dengan kata martir. Saudara-saudara, salah satu dari bapak gereja namanya OrigineOrigines, orang Indonesia katakan. Saudara-saudara mendefinisikan kata martir sebagai berikut; Seseorang yang atas pilihan bebasnya sendiri memilih untuk mati demi apa yang dia percayai daripada menyelamatkan hidupnya dengan meninggalkannya. Saudara-saudara, saksi, martir dan kematian itu menjadi satu kesatuan. Kenapa? Karena ada figur antagonis. 

Saudara, mari kita melihat 2 bagian Firman. Kisah Para Rasul 22:20. Saudara perhatikan, saksi muncul dan darah Stefanus. Hal yang lain, Wahyu 2:13: ‘Antipas, saksi-Ku yang setia yang dibunuh.’ Wahyu 1:5: ‘Dan ini adalah gelar Yesus Kristus panglima kita.’ Saudara-saudara, Kapten kita. Ayat 5, Yesus Kristus disebut saksi yang setia, yang bangkit. Itu artinya sebelumnya dibunuh. Saudara-saudara, saksi, martir, dan figur antagonis selalu itu menjadi satu kesatuan. Saudara-saudara, mari sekarang kita pikirkan. Siapa yang menjadi figur antagonis dari Nuh? Siapa yang melawan Nuh pada waktu itu? Seluruh muka bumi. Tidak ada satu orang pun yang percaya kecuali keluarganya. Siapa figur antagonis Daud? Semua musuh-musuhnya, ada beberapa jenderalnya, tetapi juga Absalom, anaknya. Siapa yang menjadi figur antagonis Ayub? Setan memakai istrinya, dan juga sahabat-sahabatnya yang tidak tahu kehendak Allah. Siapa yang menjadi figur antagonis pada waktu itu untuk Musa? Yaitu gerejanya sendiri. Umat Allah yang dikeluarkan dari Mesir yang digembalakan, yang melawan dia yang membuat dia begitu sangat sedih. Siapa yang menjadi figur antagonis Nehemia? Sanbalat, dengan kelompoknya yang membuat berita-berita palsu di sekitar jemaat Nehemia. Dan saudara-saudara, siapa yang menjadi figur antagonis Yeremia? 

Saudara-saudara, salah satu nabi yang saya ingin untuk saudara-saudara kenal, adalah Yeremia. Dan kalau saudara-saudara mengerti apa yang menjadi kehidupannya, saudara-saudara akan mengerti sebenarnya apa yang Tuhan itu nyatakan menjadi seorang hamba Tuhan. Yeremia itu dilawan oleh imam besar pada waktu itu. Yeremia itu dilawan oleh sesama hamba Tuhan. Yeremia itu dilawan bahkan oleh jemaatnya dan Yeremia bahkan dilawan oleh keluarganya. Saudara-saudara, dia begitu sangat tertekan; dari segala penjuru itu, musuh itu berusaha untuk menaklukkan dia. Sampai dia itu mengutuki hari lahirnya. Dia bukan saja mengutuki hari lahirnya, dia marah kepada semua orang yang bergembira pada waktu dia lahir. Dia mengatakan, “Mengapa kandungan ibuku tidak menjadi kuburanku?” Figur antagonisnya begitu banyak dalam kehidupan Yeremia. Dan saya akan bawa saudara-saudara untuk mengerti satu saja. Yeremia 28:1-17. Di situ dia bertemu dengan seorang nabi yang melawan message-nya. Saya akan bacakan seluruhnya dalam bahasa Indonesia dan tidak diterjemahkan. Saudara perhatikan ayat 8-9. Saya tanya pada saudara-saudara. Siapa nabi sejati? Siapa nabi palsu? Yeremia? Hananya? Yah, tahu; orang kita yang baca sekarang. Saudara coba bayangkan. Dan di sini nanti saudara akan mendapatkan hikmat. Kalau saudara pada waktu itu ada di sana, dan ada dua orang yang berkhotbah dengan berlawanan. Tafsirannya beda. Mana yang benar, mana yang salah? Ini kunci. Saudara-saudara, saya sisihkan pertanyaan itu dulu. Saudara-saudara, Yeremia itu sedihnya luar biasa. Seluruh hidupnya itu, seluruh karakternya itu dibusukkan. Fitnah demi fitnah. Dia tadinya memiliki rakyat pun, memiliki pengikut pun satu persatu hilang. Dia menjadi sendirian. Dia mengutuki hari lahirnya. Dia pulang ke rumah, ternyata keluarganya pun sudah tidak mempercayai dia lagi. Saudara-saudara, menyakitkan sekali. Dan di tengah-tengah seperti itu sekarang beritanya pun dilawan. Yeremia baru saja mengatakan, “Babel akan menghancurkan kita. Babel akan menaklukkan kita. Raja yang sudah pergi itu tidak mungkin akan kembali.” Lalu kemudian Hananya datang. Dengan confident Hananya mengatakan, “Tidak, Babel akan dikalahkan.” Maka Yeremia yang memberikan simbol itu, dia pegang gandar itu kemudian dipatahkan gandarnya. Apa yang dikatakan Yeremia, dilawan sama Hananya di depan semua orang. Saya tanya pada saudara-saudara, kalau kita ada di tengah-tengah situ, apakah mungkin kita mempercayai Yeremia daripada Hananya? Apalagi jikalau hati kita sedikit bengkok kepada dunia ini, apakah mungkin mempercayai Yeremia? Gak mungkin. Di situlah seluruh umat Tuhan dari dulu sampai sekarang satu persatu tersesat. Yeremia mengatakan, “Amin, moga-moga itu yang aku juga suka. Tetapi bukan seperti itu yang aku dengar.” Perhatikan baik-baik, kalau ada 2 hamba Tuhan, dan kemudian dia bicara sesuatu penekanannya itu bertolak-belakang/anti tesis. Mana yang sejati? Saudara mungkin katakan, “Oh, yang terjadi yang sejati.” Yah, yang terjadi kalau sudah sejati, yah bisa dibedakan, tetapi ini kan sebelum terjadi. Tapi saudara-saudara, apakah betul yang sejati yang pasti terjadi? Yunus bagaimana? ‘40 hari lagi engkau akan ditunggangbalikan.’ Terjadi enggak? Gak. Karena itu adalah jalan sempit untuk tahu mana yang sejati. Saya pertamanya juga gak tahu. Dan beberapa belas tahun yang lalu saya diberi kesempatan untuk mengajar bersemester-semester kitab Nabi. Satu persatu saya selidiki, saya baru sadar, mata saya baru terbuka, perhatikan Yeremia 28, yang tadi saudara baca, itu kuncinya. Kalau mau tahu mana yang sejati, mana yang palsu, nabi yang sejati selalu bicara mengenai penghakiman, peringatan, suatu warning, suatu salib kepada umat. Penghakiman. Itu nabi yang sejati. Mari kita melihat ayat 8. Jadi, nabi yang sejati khotbahnya apa? Penghakiman Allah. Nabi yang sejati bicaranya apa? Kemarahan Allah. Nabi yang sejati bicaranya apa? Bagaimana penghukuman Allah akan tiba. Di situlah anugerah Allah diberikan. 

Beberapa waktu yang lalu kita masuk di dalam retreat pemuda berkenaan dengan grace/anugerah. Itu adalah center Injil.Orang yang tidak tahu prinsip itu gak tahu kekristenan. Dan nabi-nabi dan rasul-rasul itu diutus oleh Tuhan memberitakan anugerah. Tapi saudara-saudara perhatikan baik-baik and saudara lihat di seluruh Alkitab, ada enggak nabi atau rasul berkata, “Anugerah, anugerah, cinta Tuhan, cinta Tuhan. Tuhan mengasihi engkau. Tuhan menerima engkau apa adanya.” Gak ada. Yeremia ayat 8; ‘Engkau tidak bertobat, Aku akan mengirimkan penyakit sampar. Engkau tidak bertobat. Engkau akan lihat negerimu akan hancur oleh perang.’ Dan Yohanes Pembaptis mengatakan, “Bertobatlah karena kerajaan Allah sudah dekat.” Siapa yang mengatakan kau bisa lepas dari penghakiman itu, kapak sudah disediakan untuk generasi ini. Nabi yang palsu mengatakan, “Oh, ada revival.” Ada pembebasan dari Nebukadnezar. Engkau akan bebas. Engkau tidak lagi akan masuk dalam penghakiman. Saudara-saudara, kenapa ya ayat seperti ini tertutup dari mata kita? Entah karena kita begitu berdosa, tetapi yang lebih menakutkan kalau Tuhan tutup mata kita melihat ayat-ayat seperti ini. Saudara-saudara, Yeremia memiliki figur antagonis yang melawan setiap kalimatnya. Dan inilah yang memang Tuhan itu berikan kepada saksi-saksi iman. Saudara-saudara, saksi iman itu melihat ke atas dan saksi iman itu dilawan di tengah-tengah dunia. Kiranya kasih sayang Tuhan menyertai kita. Kiranya Tuhan meneguhkan iman kita. Mari kita berdoa.

 

Kejadian 12:1-13:4
GRII Sydney

GRII didirikan di atas dasar Pengakuan Iman Reformed Injili dengan tujuan menegakkan satu gereja yang berbasiskan teologi Reformed, dengan mimbar yang menyampaikan khotbah ekspositoris, read more