Kejadian 12:1-13:4
Kalau saudara perhatikan dalam Kejadian 12:1-13:4, ada 4 hal yang terjadi dalam hidup Abraham. Hal yang pertama atau fase yang pertama adalah fase iman, fase yang ke-2 adalah fase ketaatan, fase yang ke-3 adalah fase berkat, dan fase yang ke-4 adalah fase ujian, dan mungkin bagian dari fase ujian tersebut adalah fase pertobatan. Kalau saya lihat dalam Kejadian 12:1-3 ini, maka berkat Tuhan, janji Tuhan mengenai keselamatan “protoevangelium” yang Tuhan berikan kepada Adam, ketika Adam sudah jatuh di dalam dosa, itu sangat semakin nyata apa yang dinyatakan oleh Tuhan di dalam Kejadian 12 ini, bukan cuma segala keturunan dari perempuan, tapi keturunan dari Sarah yang akan meneruskan janji Tuhan tersebut. Kita tahu Abraham itu orang yang mungkin terkenal, figur yang sangat dikenal sekali sebagai bapa orang beriman, tapi kisah Abraham beriman adalah suatu hal kisah yang sangat indah sekali. Waktu dia masih di Mesopotamia, dia bukan orang yang beriman. Ayahnya adalah orang yang menjual berhala. Konon tradisi mengatakan, ketika ayahnya pergi keluar atau melakukan bisnis keluar kota, jadi ayahnya mempercayakan toko dewa-dewa kepada Abraham. Ketika ayahnya kembali, dia melihat bahwa seluruh patung dewa-dewa sudah hancur, hanya satu dewa yang masih tegap dan bagus sekali. Ayahnya bertanya kepada Abraham, “Apa yang terjadi?” Abraham menjawab, “Ketika ayah pergi, dewa saling berperang satu dengan yang lainnya, lalu ada satu patung dewa, satu dewa yang menjadi jagoan dan memenangkan pertarungan tersebut.” Lalu ayah Abraham itu berkata kepada Abraham, “Bagaimana mungkin terjadi, mereka adalah patung-patung, mereka adalah patung yang mati, tidak mungkin melakukan hal seperti ini.” Lalu Abraham mengatakan kepada ayahnya, “Kalau mereka adalah dewa yang mati, mengapa kita menjualnya dan menyembahnya?” Di Mesopotamia, Abraham sudah mendapatkan suatu pengertian bahwa pasti agamanya adalah suatu hal yang salah, tetapi tanpa Firman Tuhan datang kepada Abraham, tidak mungkin dia mendapatkan iman yang sejati. Maka kita lihat dalam Kejadian 12 ini, Firman Tuhan itu datang kepada Abraham, dan Firman Tuhan ini menuntut Abraham suatu hal yang sangat sulit. Memang dia harus beriman kepada Tuhan, tapi dia juga harus menyatakan iman itu adalah iman yang benar. Dengan akhirnya obey atau taat kepada Tuhan, kalau saudara perhatikan perintah Tuhan di dalam Kejadian 12:1, itu ada suatu kalimat: “Pergilan dari negerimu, dan dari sanak saudaramu, dan dari rumah bapamu ke negeri yang akan Kutunjukkan kepadamu.” Ini adalah suatu perintah yang mungkin sangat sulit dilakukan, karena ini suatu perintah yang makin lama makin sulit untuk dilakukan. Pada saat itu, identitas seseorang tergantung dimana dia dilahirkan. Negeri itu menjadi satu identitas, sanak saudaranya ada di mana. Khususnya rumah bapanya, di mana dia dilahirkan, itu identitas dari orang tersebut. Mungkin bagi orang modern, ini adalah hal yang tidak terjadi, banyak mungkin di antara kita yang lahir di Indonesia tetapi akhirnya tinggal di Sydney. Tetapi bagi orang pada zaman itu, ketika lahir di mana ya selamanya di tempat itu, tidak pindah-pindah lagi, tetapi perintah Tuhan kepada anak Tuhan itu akhirnya harus mencabut dia dari identitas dia. Pergilah dari negerimu, dari sanak saudaramu, dari rumah bapamu, ini berarti identitas Abraham itu harus dicabut. Kemana? Ke negeri yang bahkan Tuhan tidak tunjukkan, Tuhan tidak kasih tahu. Kita sudah terbiasa hidup dengan zaman modern ini, kita mau tahu ke mana, rencana ke depan itu bagaimana, tapi pada saat itu, Abraham harus bergantung kepada Tuhan dan percaya kepada Tuhan.
Perhatikan Kejadian 12:2-3, itu ada janji dari Tuhan, dan di dalam bahasa Indonesia kata ‘will’ itu hilang atau kata ‘akan’ itu berkali-kali. Tapi dalam ayat 2 dan 3 muncul 7 kali, kata ‘akan’ janji Tuhan itu muncul. Seven adalah angka sempurna di dalam Alkitab, janji Tuhan kepada anak Tuhan selalu sempurna. Oh saudara baca, “Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar. Aku akan memberkati engkau, serta (akan) membuat namamu masyur. Engkau akan menjadi berkat. Aku akan memberkati orang-orang yang memberkati engkau, dan akan mengutuk orang-orang yang mengutuk engkau. Dan olehmu semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat,” ini adalah janji dari Tuhan kepada Abraham. Kalau saudara perhatikan, kita sudah terbiasa hidup di dalam zaman yang modern yang dipengaruhi dari filsafat enlightenment. Kita mau merasionalisasikan segala sesuatu. Kalau saudara perhatikan, janji Tuhan kepada Abraham menjadikan dia bangsa yang besar. Satu bangsa yang besar memerlukan 2 hal, yang pertama adalah tanah yang besar, yang ke-2; keturunan atau orang yang jumlahnya banyak. Abraham itu bahkan satu anakpun tidak bisa keluar, tidak bisa dilahirkan karena Sarah adalah orang yang mandul, dan ini luar biasa sekali Tuhan akhirnya mengatakan di dalam Ibrani 11. Dalam Ibrani 11:9 itu dikatakan; Abraham bahkan hanya melihat 2 keturunan ke bawah, yaitu Ishak dan Yakub yang tinggal bersama di dalam tendanya. Abraham dijanjikan suatu bangsa yang keturunannya banyak sekali, bahkan yang tidak bisa dihitung jumlahnya. Sampai dia mati, dia tidak melihat janji Tuhan itu digenapi. Ibrani 11:13, mengatakan bahwa orang-orang ini mati di dalam imannya mereka, tanpa mendapatkan apa yang dijanjikan kepada mereka. Saudara jangan berpikir bahwa orang-orang ini adalah orang-orang yang sial, yang tidak mendapatkan janji apa yang mereka dapatkan dari Tuhan. Tetapi mereka adalah orang yang sampai mati, hidup di dalam janji Tuhan.
Kita hidup di dalam suatu zaman yang sudah modern, yang membedakan antara knowledge dan faith. Iman atau faith adalah suatu yang uncertain, tapi knowledge adalah suatu hal yang pasti kita ketahui, bagaimana cara mendapatkan knowledge atau certainty tersebut? Maka orang modern mengatakan certainty tersebut didapatkan melalui metode ilmiah, melalui ilmu pengetahuan dan seterusnya. Orang yang percaya itu percaya kepada suatu janji yang bisa terjadi atau tidak, janji adalah suatu hal yang tidak bisa dipastikan. Tapi bukan seperti ini konsep dari anak Tuhan, anak Tuhan itu tahu, bahwa janji Tuhan itu pasti terjadi. Iman kita adalah knowledge kepada janji Tuhan, maka ketika dikatakan bahwa orang-orang ini, Abraham, mati di dalam janji Tuhan, mereka itu seakan-akan sudah mengetahui (for sure, for certain), mereka akan mendapatkan apa yang dijanjikan tersebut. Sayangnya, di dalam bahasa Indonesia, Ibrani 11:13 dikatakan mereka sedang melambai-lambaikan tangan kepada janji Tuhan tersebut. Tapi dalam bahasa aslinya, dalam bahasa English, ESV atau KJV, saudara bisa melihat bahwa mereka sudah merangkul janji Tuhan tersebut, sudah berjabat tangan dengan janji Tuhan tersebut. Pada saat mereka mati, mereka belum bisa mendapatkan janji Tuhan tersebut, but they know in certain, they will receive it.Walaupun Abraham hanya melihat 2 keturunan ke bawah, tapi janji Tuhan bahwa dia akan menjadi bangsa yang besar, bahkan tidak bisa dihitung keturunannya, itu adalah suatu hal yang certain bagi Abraham.
Beberapa waktu yang lalu, saya melihat satu meme yang sangat menarik sekali. Saya melihat ada satu perkataan yang mengatakan bahwa janji Tuhan akan tubuh kebangkitan bagi anak Tuhan itu adalah suatu hal yang lebih pasti daripada kita bangun esok hari, dari tidur kita. Saya mau anda sekalian di tempat ini percaya bahwa janji Tuhan di dalam tubuh kebangkitan, langit dan bumi yang baru bukan cuma impian, bukan cuma angan-angan, tetapi suatu hal yang akan kita dapatkan. Maka saya kurang setuju dengan health and wealth gospel, bagi saya itu adalah gospel yang lain, karena health and wealth gospel menjanjikan bahwa kita bisa meng-expose semua di dalam dunia yang sementara ini. Janji Tuhan itu terlalu luar biasa besar, yang kita harapkan itu segini, tapi janji Tuhan itu lebih daripada apa yang kita harapkan. Yang diharapkan oleh Abraham hanya melihat satu keturunan, yang dijanjikan oleh Tuhan adalah satu bangsa yang besar. Maka janji Tuhan itu tidak mungkin bisa kita hidupi atau nikmati dalam satu kali, saya percaya bahwa Tuhan terus berjanji kepada anak Tuhan dan berbicara di dalam bahasa janji tersebut. Tidak ada satu anak Tuhan yang mengatakan bahwa saya sudah ekspos semua janji Tuhan, bahkan kita semua di tempat ini bisa mengatakan bahwa janji Tuhan, kita masih berharap kepada janji Tuhan mengenai tubuh kebangkitan, langit dan bumi yang baru, yang akan kita dapatkan nanti, jadi jangan termakan filsafat dari enlightenment, yang membedakan antara faith and knowledge. Saudara akan menjadi orang-orang seperti di dunia ini, menuntut faith pun dibuktikan oleh metode ilmiah dan seterusnya. Kalau saudara perhatikan janji Tuhan kepada Abraham, pertanyaan mengenai, “where to go?” itu Abraham tidak bisa jawab saudara. Tuhan menjanjikan bahwa dia akan pergi ke suatu negeri yang akan Ku-tunjukkan, jadi Abraham tidak tahu semula negeri apa yang dia tuju. Kalau Abraham bertanya kepada Tuhan, how is it possible, bahwa dia dapat memiliki keturunan yang banyak, istrinya adalah isteri yang mandul, dia juga tidak bisa menjawab pertanyaan tersebut. Dia bertanya kepada Tuhan, kapan janji Tuhan itu akan dilihat oleh dia? Itu adalah suatu hal yang dia tidak bisa jawab, jadi banyak pertanyaan yang dia tidak bisa jawab secara tuntas. Kita hidup dalam satu zaman di mana kita mau mengikuti Tuhan kalau semua sudah tuntas dan dapat kita jawab. Iman Abraham adalah iman yang luar biasa sekali, karena dia beriman bukan kepada pengertiannya dia, dia beriman kepada siapa yang dia percayai.
Ini suatu hal yang penting, kalau kita bisa bertanya kepada diri kita apakah kita beriman sekarang? Apa alasan kita beriman? Apakah kita beriman karena berkat-berkat Tuhan yang kita lihat ini? Apakah kita beriman, karena kita beriman kepada Tuhan saja? Ayub sangat berbeda sekali, itu adalah suatu tesis dari setan bahwa Ayub beriman karena dia diberkati oleh Tuhan. Akhirnya saudara tahu, kisah Ayub, bagaimana dia kehilangan seluruh hartanya bahkan semua anak-anaknya, dan akhirnya dia kehilangan kesehatannya sendiri. Istrinya berkata, “Kamu masih mau beribadah kepada Tuhan? Kutukilah dan mati sajalah!” Isteri Ayub itu mengikuti Tuhan karena berkat-berkat Tuhan yang Tuhan berikan kepada mereka. Tapi Ayub berkata,e “Maukah kita menerima yang baik dari Tuhan, tidak mau menerima yang jelek dari Tuhan, yang jahat dari Tuhan tersebut.” Itu bukan mengatakan bahwa Tuhan sedang merencanakan membuat suatu kejahatan, tapi sebagai orang Reformed, kita percaya satu hal bahwa Tuhan itu berdaulat atas segala sesuatu. Di dalam Alkitab mengatakan; di dalam segala apapun yang Ayub katakan dan lakukan dia tidak bersalah. Saudara, ini adalah doktrin Reformed juga, di dalam kisah Abraham. Kita mengenal satu hal, yaitu mengenai doktrin keselamatan, unconditional election. Saya pernah memikirkan perikop ini, apa alasan Tuhan memilih Abraham? Kalau Tuhan mau, akhirnya menjadikan suatu bangsa yang besar. Kalau saya jadi Tuhan, saya akan memilih orang yang subur seperti saya. Saya punya 6 anak, saya dipilih ya itu masuk akal, satu anak bisa keluar 6 anak lagi, itu luar biasa sekali saudara. Tapi Tuhan memilih orang yang bahkan isterinya mandul, mengeluarkan satu anakpun tidak mungkin. Jadi saudara bisa melihat, alasan Tuhan memilih Abraham itu tidak ada alasan, bukan karena sesuatu yang Abraham miliki, maka Tuhan memilih Abraham. Dan ini adalah suatu pola yang terus kepada doktrin keselamatan. Alasan Tuhan menyelamatkan kita bukan karena kita elok di mata Dia, Tuhan menyelamatkan kita karena Tuhan itu sovereign, maka doktrin Reformed, mengenai unconditional election itu adalah suatu hal yang sangat biblical dan bahkan ada di Perjanjian Lama. Melalui apa yang terjadi di dalam hidup Abraham. Kita bisa mengetahui kedaulatan Tuhan yang akhirnya memungkinkan Tuhan menjalankan rencana-Nya, bukan kemungkinan dari manusia. Perhatikan, ini bukan cuman Abraham saja, tapi anaknya Ishak, Ribka itu juga mandul. Nanti Yakub, salah satu isterinya Rahel itu juga mandul, nanti Simson, mamanya juga mandul. Nanti saudara lihat, Yesus akhirnya keluar dari seseorang yang bukan mandul, tetapi melahirkan itu tidak mungkin. Jadi seluruh kisah keselamatan di dalam Alkitab selalu mementingkan kedaulatan Tuhan bukan kebisaan dan kemungkinan dari manusia.
Kembali kepada fase yang pertama, fase Abraham beriman kepada Tuhan bukan karena dia bisa menjawab semua pertanyaan dengan tuntas. Tapi dia beriman kepada satu pribadi, Step yang ke-2, iman harus disusul dengan obedience, dengan ketaatan. Abraham walaupun tidak tahu ke mana dia harus pergi, dia pergi mengikuti Tuhan. Kita hidup dalam suatu zaman di mana kita akhirnya menjadi orang yang beriman, tapi tidak mau taat. Atau mungkin kita mau taat, tapi sebenarnya ketaatan tersebut bukan dihasilkan oleh iman atau moralism. Tetapi saya mau katakan pada hari ini, iman dan obedience adalah 2 hal yang tidak bisa dipisahkan. Ibrani 11:8 mengatakan karena iman maka Abraham taat. Ini sesuatu yang sangat indah sekali, ketaatan dari seorang anak Tuhan harus dilandaskan oleh iman, dan iman yang kita miliki pasti menghasilkan ketaatan. Dalam Yohanes 14:15 Yesus berkata bahwa tanda dari orang yang mencintai Dia itu pasti melakukan segala perintah-Nya. Jadi saya mau tanya kepada kita semua di tempat ini, perintah dari Tuhan apakah yang sudah kita lakukan dan gumulkan pada saat ini? Salib Tuhan apakah yang sudah kita tanggung pada saat ini? Kalau kita tidak melakukan perintah Tuhan, kalau kita tidak rela menanggung salib dari Tuhan jangan katakan bahwa kita adalah orang yang beriman kepada Tuhan. Iman kepada Tuhan pasti menghasilkan ketaatan. Iman kepada Tuhan pasti harus ada harga yang kita bayar. Maka Abraham melakukan sesuatu yang luar biasa, dia bukan cuma beriman, tetapi dia menunjukkan iman yang sejati adalah iman yang akhirnya menghasilkan ketaatan tersebut.
Fase yang ke-3 adalah fase blessing. Dalam Kejadian 12:6-7 dikatakan bahwa Abraham berjalan melalui negeri itu sampai ke suatu tempat dekat Sikhem, yaitu pohon terbantin di More. Waktu itu orang Kanaan diam di negeri itu. Ketika itu TUHAN menampakkan diri kepada Abram dan berfirman, “Aku akan memberikan negeri ini kepada keturunanmu.” Maka didirikannya di situ mezbah bagi TUHAN yang telah menampakkan diri kepadanya.” Perhatikan blessing dari Tuhan, Tuhan nyatakan kepada Abram dengan memberikan negeri itu kepada Abram. Baru pertama kali Abram tahu bahwa itu adalah tanah yang Tuhan berikan. Tapi bagi saya Kejadian 12:7 menyatakan blessing Tuhan yang lebih besar lagi, tanah tersebut adalah blessing dari Tuhan. Tapi kalau saudara perhatikan, pertama kali Tuhan menampakkan diri kepada Abraham. Jadi itu adalah blessing yang lebih besar di mana Tuhan menampakkan diri kepada Abraham, kalau tadinya Tuhan hanya bicara kepada Abraham, sekarang Tuhan menampakan diri kepada Abraham. Kalau saudara perhatikan Kejadian 15:1 dikatakan Abraham mengalami ketakutan, saya tidak tahu ini Inggris terjemahan apa, ESV atau apa, tapi dalam bahasa Indonesia: “Janganlah takut, Abram, Akulah perisaimu; upahmu akan sangat besar.” Di sini dikatakan bahwa upah Abraham untuk mengikuti Tuhan akan besar sekali. Suatu pengertian bahwa kita mengikuti Tuhan, Abraham mengikuti Tuhan karena upah yang dijanjikan oleh Tuhan tersebut. Memang dalam bahasa aslinya, dalam bahasa Ibrani ayat ini sulit diterjemahkan, maka ada King James version kalau saya tidak salah ingat King James version menyatakan “Akulah upah besar tersebut”. Abraham mengikuti Tuhan karena upahnya adalah persekutuan dengan Tuhan. Jangan menjadi orang Kristen karena janji-janji berkat dari Tuhan. Jadilah anak Tuhan karena engkau bersekutu dengan Tuhan. Ketika kita datang pada hari Minggu ini untuk beribadah, saudara pikirkan satu hal yaitu bahwa kita datang bukan karena kita harus. Kita datang bukan karena kita dijanjikan sesuatu oleh Tuhan, kita datang karena suatu privilege untuk datang kepada Tuhan. Itu suatu kebolehan, kemungkinan bisa datang ke hadirat Tuhan. Kita datang karena kita mau bersekutu dengan Tuhan maka ini blessing yang sangat luar biasa besar. Abraham taat dan Tuhan akhirnya menampakkan diri kepada dia, tanpa ketaatan dari Abraham, Tuhan hanya berbicara kepada dia.
Fase yang terakhir adalah fase ujian. Perhatikan bahwa Abraham telah melakukan, mungkin kemenangan rohani, dia travel ke Tanah Kanaan. Tapi ayat ke-10 mengatakan setelah dia tiba di Kanaan ada famine, ada kelaparan. Kita mau diuji oleh Tuhan sebelum kita mendapatkan segala sesuatu, kalau kita masih murid kita mungkin mau mendapatkan ujian dari Tuhan. Tapi kalau kita sudah menjadi orang dewasa, punya keluarga, punya wealth, dan seterusnya kita mau tidak diuji oleh Tuhan? Pada saat ini Abraham sudah mendapatkan tanah tersebut dan dia diuji di tanah tersebut. Ini adalah suatu ujian, atau suatu konsep bagi anak Tuhan bahwa ujian Tuhan itu bisa menyusul berkat dari Tuhan. Saya pernah berpikir mengenai perikop ini, kenapa kok Tuhan tidak memberikan kelaparan sebelum Abraham datang ke Tanah Kanaan? Ternyata Tuhan memberikan kelaparan justru ketika Abraham sudah tiba di Tanah Kanaan tersebut. Perhatikan dalam perikop ayat 10-20. Kejadian 12 dibagi menjadi 2 perikop. Perikop yang pertama ayat yang ke 1-9, yang ke-2 ayat 10-20. Kalau saudara perhatikan dan pelajari, 2 perikop ini menceritakan hidup Abraham yang berbeda. Saya percaya Abraham waktu pergi ke Mesir dia sedang melakukan suatu dosa. Pada saat itu Abraham mungkin melihat Mesir itu menjanjikan atau memungkinkan bagaimana hidup dia bisa berlanjut. Tanpa dia sadar bahwa Tuhan yang membawa dia ke Tanah Kanaan itu juga bisa menopang kehidupan dia. Bertahun-tahun yang lalu di kota Boston saya mengunjungi satu rumah, dan saya lihat satu tulisan, saya sampai saat ini masih mengingat tulisan tersebut dan saya akan minta bagikan kepada anda dan harap anda dapat mengingat tulisan ini. Lalu tulisan ini mengatakan ‘The will of God will never leave you, where the grace of God cannot keep you.’ Abraham tidak mengerti mengenai hal ini, Tuhan yang memimpin dia ke Tanah Kanaan, seakan tidak bisa menopang dia di Tanah Kanaan. Waktu saya masih muda umur 12 tahun, saya mendapatkan panggilan Tuhan untuk menjadi hamba Tuhan. Saya masih ingat di KKR Pendeta Stephen Tong, saya maju sebagai seorang anak kecil yang masih 6 SD saya menangis di hadapan Tuhan. Anak 6 SD baru umur 12 tahun bisa berpikiran kalau saya menjadi hamba Tuhan, siapa yang bisa memelihara keluarga saya, anak saya, istri saya dan seterusnya? Seakan-akan saya waktu datang ke hadapan Tuhan saya menyatakan diri itu pengorbanan yang luar biasa. Tanpa kita sadar tidak ada pengorbanan dari anak Tuhan yang terlalu besar, lebih besar daripada pengorbanan Bapa memberikan anak-Nya kepada anak Tuhan. Tapi saya mau katakan satu hal, dalam hidup saya, Tuhan memelihara keluarga saya. Kalau saudara lihat anak saya yang pertama itu besar badannya seperti saya, tingginya seperti saya. Anak saya yang ke-3 bahkan lebih tinggi dari saya. Saya memikirkan bahwa akhirnya anak-anak saya tidak pernah kekurangan makanan. Waktu masih kecil, saya meragukan kekuatan, kedahsyatan Tuhan, ternyata dalam hidup saya, hidup pernikahan saya, hidup keluarga saya, saya membuktikan bahwa Tuhan yang memanggil adalah Tuhan yang memelihara. Ini tidak dilihat oleh Abraham pada saat ini. Kalau saudara perhatikan, hidup Abraham dalam perikop yang ke-2 berbeda dengan hidup Abraham dalam perikop yang pertama. Alkitab menuliskan ketika ‘turun’, memakai bahasa ‘turun’ ke Mesir. Bukan cuma datang ke Mesir, tapi ‘turun’ ke Mesir. Kalau masuk ke Kanaan itu biasa bicara naik ke Kanaan saudara. Saya percaya ini bukan masalah geografi, memang Kanaan di atas dari Mesir. Tetapi ini bicara mengenai kondisi spiritual. Ketika Abraham ‘turun’ ke bawah, penulis atau narrator di sini mengatakan bahwa ‘kondisi spiritual dia itu sedang menurun’. Jadi yang pertama mengatakan, bahwa Abraham itu sedang mengalami penurunan kondisi spiritual.
Hal yang ke-2 kalau saudara perhatikan dalam perikop yang pertama Abraham itu bergantung kepada Tuhan. Dalam perikop yang ke-2 Abraham bergantung kepada dirinya sendiri. Dia bergantung kepada caranya, kepada mungkin tipuannya dan seterusnya, dia bergantung kepada kekuatan dirinya sendiri. Tapi ada hal yang lain yang saudara bisa lihat ada perubahan besar dalam hidup dia, kalau saudara perhatikan dalam perikop yang pertama ada 7 janji dari Tuhan. Tuhan berjanji akan melakukan ini, Dia akan melakukan ini dan seterusnya. Tapi kalau dalam perikop yang ke-2 dalam bahasa Indonesianya itu ayatnya yang ke-12. Dalam bahasa Indonesia hanya keluar 2 kata ‘akan’, tapi harusnya ada 3 kata ‘akan’. “Apabila orang Mesir melihat engkau, mereka akan berkata itu isterinya. Jadi mereka akan membunuh aku dan akan membiarkan engkau hidup.” Abraham ganti dari beriman kepada Tuhan yang berjanji, lalu berganti kepada circumstances yang akhirnya akan merugikan dia. Dalam hidup, kita juga demikian, pada saat ini kita sedang bergantung kepada janji Tuhan atau kepada circumstances yang ada di sekitar kita. Saya harap di dalam jemaat GRII Sydney kita terus bergantung kepada Tuhan yang berjanji kepada kita.
Dunia ini bisa menakutkan, dunia ini bisa seakan-akan lebih besar dari apa yang kita miliki. Jangan lupa bahwa mata-mata Israel, 12 orang yang dikirimkan. Dan 10 orang yang memberikan kabar bahwa mereka itu ternyata seperti jangkrik di hadapan orang-orang Kanaan. Jangan lupa bahwa bangsa Israel dibawa Saul, akhirnya melihat Goliat sangat besar sekali dan mereka ketakutan. Tapi anak Tuhan selalu melihat Tuhan lebih besar daripada circumstances yang dia hadapi pada saat itu. Akhirnya Kaleb dan Yosua melihat janji Tuhan. Daud melihat pimpinan Tuhan, bukan melihat betapa menakutkannya Goliat. Jadi ada perubahan hidup Abraham. Dia melihat sekarang kesulitannya akan datang dan apa yang akan dilakukan oleh orang dunia ini. Perhatikan perubahan lain yang terjadi di dalam perikop yang ke-2. Abraham dijanjikan untuk menjadi berkat bagi orang banyak yang lainnya. Di Mesir dia akhirnya mendatangkan kutuk bagi orang yang lainnya. Di mana pun Tuhan menempatkan kita, saya mau tanya apakah kita menjadi berkat atau kita menjadi kutuk bagi orang lain?
Bagian yang terakhir yang menjadi perubahan dari hidup Abraham, di perikop yang pertama Abraham mendirikan mezbah dan memanggil nama Tuhan. Dalam perikop yang ke-2 saudara tidak melihat ada mezbah, tidak melihat ada nama Tuhan di sana. Saya percaya ini adalah tanda dari hidup Abraham. Ketika dia sudah berdosa, dia tidak mungkin bisa beribadah kepada Tuhan. Ketika kita sebagai anak Tuhan semua berdosa, kita tidak mungkin bisa melakukan ibadah kepada Tuhan. Saya katakan tadi bahwa akhirnya fase yang ke-4 ujian itu disusul dengan pertobatan. Dalam Kejadian 13:1-4, bagi saya ini adalah fase repentance dari Abraham, dan Abraham akhirnya bertobat. Saudara perhatikan beberapa hal, Abram bukan hanya masuk kembali ke Tanah Kanaan. dia kembali ke mana? Di sana dikatakan dia kembali ke tempat di mana dia mendirikan mezbah. Repentance bukan cuma “U” turn,tapirepentance adalah “U” turn ditambah dengan kembali kepada persekutuan kepada Tuhan. Mungkin saja dalam hidup kita, kita salah jalan. Tapi Tuhan itu memberikan warning signs ke dalam hidup anak-anak Tuhan. Abraham menerima banyak warning signs, tapi yang membuat akhirnya anak Tuhan banyak melakukan kesalahan dia tidak mau, akhirnya “U” turn, dia terus berjalan, warning signs diberikan, dia terus berjalan. Dalam hidup anak Tuhan perlu terjadi “U” turn, “U” turn ini. Dan ketika kita akhirnya “U” turn mungkin ada harga yang harus kita bayar dan ada banyak hal yang harus kita lakukan. Tapi kita “U” turn, kembali kepada persekutuan dengan Tuhan. Di sini dikatakan dalam Kejadian 13:4 Abraham bukan cuma kembali di mana mezbahnya dia berada, dia kembali akhirnya memanggil nama Tuhan.
Di tanah perjanjian ketika Abraham melakukan “U” turn tersebut, testing dari Tuhan, kelaparan tersebut masih ada. Tapi Abraham belajar satu hal, dia tidak akan pernah meninggalkan tanah perjanjian lagi. Berbeda nanti dengan Lot, Lot yang akan mencari lembah Sungai Yordan yang sangat subur sekali. Abraham akan percaya kepada pimpinan Tuhan. Tuhan yang memanggil dia, masuk ke tempat kelaparan tersebut, Tuhan yang akan menopang dia di tengah-tengah kelaparan. Ini salah satu alasan saya percaya bahwa perginya dia ke Mesir adalah suatu hal yang tidak perlu terjadi. Karena waktu dia kembali ke tanah perjanjian, toh kelaparan masih ada di sana. Hidup orang Kristen, bukan hidup yang penuh dengan janji sukses, janji nikmat, dan seterusnya. Tapi hidup orang Kristen, anak Tuhan adalah hidup yang penuh dengan penyertaan Tuhan. Apa pun circumstances yang kita hadapi ada keberadaan dan penyertaan Tuhan. Itulah suatu penghiburan anak Tuhan. Itulah yang kami harapkan, hamba Tuhan, harapkan terjadi dalam hidup dari anak-anak Tuhan. Kiranya jemaat dari GRII Sydney menikmati penyertaan Tuhan apa pun kondisi hidupmu pada saat ini. Mari kita tundukan kepala dan kita berdoa.
GRII Sydney
GRII didirikan di atas dasar Pengakuan Iman Reformed Injili dengan tujuan menegakkan satu gereja yang berbasiskan teologi Reformed, dengan mimbar yang menyampaikan khotbah ekspositoris, read more