Ibrani 12:1-11,15
Perikop ini berbicara mengenai satu hal yang penting, satu hal yang besar, yaitu mengenai ketekunan. Ketekunan adalah suatu kesuksesan. Ketekunan adalah sesuatu yang menjadi isi hati Tuhan untuk kita jalani. Kita dipanggil untuk tekun mengikuti Kristus sampai akhir. Tetapi kita tahu bahwa ketekunan itu tidak mudah. Kita bisa pertama kali berkobar-kobar. Tetapi sepanjang hidup kita, tantangan, rintangan, dan segala hal yang mengecewakan datang, akhirnya membuat kita tidak bisa tuntas sampai akhir. Begitu banyak orang, ketika saya bertemu dengan orang tersebut. Apalagi orang-orang tersebut adalah orang-orang yang sudah tua atau senior. Dia begitu passion menceritakan bagaimana Allah memakai mereka pada waktu lalu. “Oh, dulu saya seperti ini.” Seluruh kesaksiannya sangat mengharukan saya. Tetapi kemudian Roh Kudus bicara dalam hati saya, kenapa dulu? Kenapa sekarang tidak? Kenapa dulu memiliki api? Kenapa dulu mengasihi Allah? Kenapa dulu sungguh-sungguh? Tetapi sekarang seluruhnya hilang? Isinya kepahitan demi kepahitan. Seperti seorang pelari yang kemudian diam dan menunggu hari kematian. Masakan iman kita seperti itu? Masakan hidup kita seperti itu? Masakan Dia yang memulai pekerjaan yang baik tidak bisa menyelesaikannya sampai akhir? Di mana ketekunan itu? Saudara-saudara, ini yang menjadi pergumulan kitab Ibrani. Ibrani 12 memberikan kepada kita satu titik kunci untuk kita terus bisa lari sampai akhir.
Beberapa minggu yang lalu saya sudah bicara kepada saudara-saudara, menurut Ibrani 12, kita bisa tekun. Perhatikan. Kita memiliki banyak saksi seperti awan mengelilingi kita. Mereka ada di dalam Ibrani 11. Dalam Ibrani 11, saudara akan menemukan berbagai macam orang dengan berbagai macam konteks hidup, dengan berbagai macam kesulitan-kesulitan dan celaan-celaan dunia yang terjadi. Tuhan mau kita menyadari bahwa kita berjuang bukan sendiri tetapi bersama dengan gereja Tuhan sepanjang masa. Ketika saudara dan saya kecewa, apapun saja masalahnya, apakah itu sakit, apakah itu ditipu oleh orang, apakah itu difitnah oleh orang, apakah itu ada kecelakaan terjadi dalam hidup kita, apakah itu di dalam pelayanan ataupun di dalam kehidupan? Lihatlah seluruh tokoh dalam Perjanjian Lama dan Baru. Saudara akan menemukan mereka punya masalah dalam konteks hidup masing-masing yang similar dengan kita. Bagaimana Tuhan menolong mereka, itu menjadi kunci Tuhan menolong kita di dalam konteks hidup yang mirip. Maka mengertilah Alkitab. Bacalah Alkitab. Maka Roh Kudus akan menolong kita melalui kebenaran-kebenaran ini. Saudara tidak cukup hanya berdoa saja. Saudara berdoa dan meminta anugerah Tuhan untuk membuka Alkitab. Prinsipnya apa dalam hidup kita, maka membuat kita bisa berjalan kembali. Saya sudah bicara berkenaan dengan apa yang Ibrani katakan, “Tekunlah! Lihat saksi-saksi itu.”
Sekarang saya akan masuk di dalam poin yang ke-2. Di sini dikatakan, “Biarlah engkau berlomba di dalam perlombaan yang dinyatakan wajib bagi kita.” Di dalam bahasa Inggris begitu jelas, ‘larilah’ sedemikian rupa. Kadang di dalam Alkitab ada kata berjalanlah. Tetapi dalam case ini adalah larilah. Ini adalah bicara berkenaan dengan kesungguhan. Saudara sungguh-sungguh berjuanglah. Saya pernah bicara hal ini beberapa kali di sini. Saya sekarang ulangi lagi, salah satu hal yang saya dapatkan di dalam gerakan ini melalui Pendeta Stephen Tong adalah kalimat “niat berjuang”. Ini adalah kalimat yang sebenarnya ketika saya menjadi Kristen sampai saya menikah belum terlalu terlibat di dalam gerakan ini, itu adalah sesuatu yang saya sendiri tidak pernah pikirkan. Saya pergi ke gereja seperti saudara-saudara, pergi ke gereja, aktif kemudian saya pulang, selesai. Saya memberikan persembahan. Saya memberikan perpuluhan dan selesai. Tetapi berkali-kali Pendeta Stephen Tong mengatakan berjuang, berjuang, berjuang. Saya pikir sebagai orang Kristen ya, pokoknya saya melakukan seluruh tugas keagamaan saya dan saya tidak berdosa kepada Tuhan, selesai. Untuk mengerti kebenaran ini, saya perlu tahunan untuk men-digest-nya dan sampai akhirnya saya menyadari itu adalah sesuatu yang Alkitab berkali-kali katakan. Lebih mengecewakan adalah ‘niat perjuangan’, itu adalah salah satu prinsip rohani yang hilang dalam banyak gereja dan banyak keluarga Kristen. Saya bisa mengatakan dari Kejadian sampai Wahyu bagaimana seluruhnya harus berjuang dan itu benar. Saya menemukan begitu banyak kekristenan di Sydney, sama teologianya tetapi kehilangan niat perjuangan. Ini adalah salah satu prinsip rohani untuk menang yang hilang. Ini hilang terutama adalah di gereja-gereja Barat. Itulah sebabnya saudara akan menemukan di gereja-gereja Barat seluruhnya decline, kuantitas dan persentase kekristenan makin lama makin menyusut. Saudara akan menemukan bahwa bahkan teologianya sama-sama Reformed. Tapi kenapa menyusut? Karena tidak ada atau kehilangan niat perjuangan. Mungkin ada di beberapa hamba Tuhannya satu atau dua, tetapi di tengah-tengah mayoritas, seluruhnya hampir dikatakan hilang.
Mari kita melihat di dalam Perjanjian Lama. Umat di dalam Perjanjian Lama yang dikeluarkan Allah dari Mesir ke tanah perjanjian adalah umat yang berjalan di padang gurun. Itu adalah gambaran kita, gereja dalam Perjanjian Baru. Saudara bisa melihat bahwa umat Allah di dalam Perjanjian Lama yang dikeluarkan dari Mesir berjalan setiap hari di padang gurun tanpa proteksi militer, tanpa ada benteng di mana mereka bisa berdiam. Sewaktu-waktu mereka bisa diserang dan mereka harus selalu alert dengan tiang awan dan tiang api di depan. Bayangkan sekarang kalau kita ada di tengah-tengah mereka, apakah kita bisa enteng jiwanya? Setiap umat Allah pada waktu itu selalu memiliki alert di dalam hatinya. Umat Allah yang baik adalah memiliki alertness di dalam hati, tetapi jiwanya rest di dalam Tuhan. Umat Allah dalam Perjanjian Lama, mereka dilatih di dalam konteks untuk selalu waspada. Membuat mereka harus mau tidak mau hidup bersungguh-sungguh.
Di dalam sejarah teologia, ada dua gerakan yang kita harus hati-hati. Yang pertama adalah yang disebut sebagai Armenianism. Yang kedua adalah Antinomianism. Armenianism mengatakan bahwa keselamatan kita adalah 50% anugerah dan 50% respon kita. Jadi Armenianisme mengatakan, lihatlah Alkitab. Yohanes Pembaptis mengatakan, “Bertobatlah karena Kerajaan Allah sudah dekat.” Lalu ditanya, “Siapa yang mau bertobat?” Ada yang mau, ada yang tidak mau. Yang tidak mau, tidak diselamatkan. Yang mau, diselamatkan. Maka ditanya sekarang, kenapa kamu diselamatkan? Karena Allah memanggil, karena Allah beranugerah, dan saya berespon. Maka di situlah keselamatan. Reformed mengatakan tidak seperti itu. Reformed mengatakan keselamatan bukan 50% anugerah Allah dan 50% respon kita, tetapi keselamatan adalah 100% anugerah Allah. Reformed selalu memberitahu kepada kita sesuatu yang sifatnya hakikat, bukan sesuatu fenomena. Orang-orang Armenian mengatakan, “Loh, Pak, itu kan ada panggilan. Kemudian saya berespon.” Tetapi Reformed mengatakan, “Tidak, engkau bisa datang ke kebaktian detik itu, hari itu. Kenapa engkau tidak pergi ke pasar, tetapi pergi ke kebaktian, itu pun adalah pimpinan Tuhan melalui providensia-Nya.” Dan ketika hamba Tuhan berkhotbah, begitu mengena dalam hatimu, itu adalah anugerah Tuhan bagimu. Itulah sebabnya engkau bisa berespon karena ada irresistible grace, anugerah yang particular kepadamu yang engkau sendiri akhirnya menyerah. Sekarang, adalah pengajaran kedua yang salah, antinomian. Antinomian mengatakan, “Kalau saya sudah terima Yesus, saya tidak perlu mengerjakan apa-apa lagi, karena seluruhnya anugerah.” Saya tidak perlu lagi berjuang. Saya tidak perlu itu, itu bukan pekerjaan saya kalau saya terima Yesus. Jadi kalau Tuhan memberikan anugerah, kata anugerah itu sendiri artinya saya santai, saya tidak perlu bersungguh-sungguh, saya tidak perlu berjuang, saya tidak perlu berlari karena saya nanti akan disampaikan kepada titik terakhir dengan tekun adalah anugerah. Saya tidak perlu hidup suci. Saya tidak perlu sungguh-sungguh bangun pagi mencari wajah Allah, itu seluruhnya anugerah. Kalau Tuhan memberikan anugerah, saya pasti bisa melakukannya. Dua hal ini dan banyak orang-orang di gereja Reformed bahkan di Sydney ini. Kita salah menempatkan pengajaran ini. Armenian, kita mengatakan itu salah karena dia bicara berkenaan dengan jasa manusia di dalam konteks keselamatan. Antinomian itu salah karena mereka mengatakan, “Saya tidak perlu berusaha sungguh-sungguh.” Ada anugerah. Dan mereka mengatakan seperti ini di dalam konteks sanctification. Satu adalah konteks justification. Satu adalah konteks sanctification. Dua-duanya totally salah dalam Alkitab. Perhatikan baik-baik. Untuk keselamatan, justification, itu benar-benar 100% pekerjaan Allah, saudara dan saya tidak perlu berjuang apapun. Alkitab mengatakan kita adalah orang yang mati rohani. Kita tidak bisa melakukan apapun saja untuk membuat kita berespon kepada berita Injil. 100% anugerah, Dia akan menyelamatkan siapa yang Dia mau selamatkan. Tetapi ketika kita sudah menjadi orang Kristen yang sejati, di dalam proses pengudusan, maka Alkitab mengatakan, “Larilah, sungguh-sungguhlah!” Kalau engkau tidak lari, engkau tidak mungkin bisa bertekun. Di dalam proses sanctification, Alkitab mengatakan, “Carilah wajah-Ku setiap hari. Selidikilah hukum-hukum-Ku. Dan kalau engkau mencari dengan sepenuh hati seperti mencari emas, maka engkau akan menemukan Aku.” Saudara membuat diri saudara dengan konsep anugerah kemudian menjadi antinomian. Di situlah kecelakaan kerohanian kita. Kalau saudara tidak mengerti ini, saudara akan berpikir bahwa pengajaran mimbar ini atau pengajaran Reformed adalah seperti orang Farisi mesti sungguh-sungguh. Iya, harus sungguh-sungguh di dalam konteks pengudusan. Tetapi saudara-saudara, sungguh-sungguh harus ikut hukum, harus sungguh-sungguh karena dalam konteks pengudusan. Orang Farisi salah karena mereka mau mendapatkan keselamatan. Biarlah kita mengerti prinsip ini. Penulis Ibrani mengatakan rahasia untuk bertekun yaitu kesungguhan, larilah sedemikian rupa. Kesungguhan. Niat yang berjuang.
Hal yang kedua, saudara-saudara. Maka untuk bertekun kita memerlukan mata yang tertuju kepada Kristus. Saudara bisa melihat bahwa Ibrani mengatakan, “Lihat begitu banyak saksi, tetapi mata terfokus kepada satu.” Bukan kepada saksi-saksi itu, bukan kepada pemimpin-pemimpin rohani itu, tetapi kepada Kristus saja. Lihat Yesus Kristus. Saya tidak lagi akan mengeksposisi berkenaan dengan Archegos dan juga Perfector di dalam iman. Saya sudah menjelaskan pada saudara-saudara dan memberikan ilustrasi pada waktu hari perjuangan. Tetapi yang saya mau tekankan pada pagi hari ini adalah perhatikan bagaimana Kristus membawa iman itu kepada kesempurnaan. Saudara perhatikan ayat yang kedua. Di situ dikatakan “…, dan yang membawa iman kita itu kepada kesempurnaan, yang dengan mengabaikan kehinaan tekun memikul salib ganti sukacita yang disediakan bagi Dia.” Di sini dikatakan bahwa Kristus menyempurnakan iman dengan memikul salib. Ini adalah suatu kalimat kunci yang penting. Kristus menyempurnakan iman adalah dengan memikul salib. Mata kita harus terfokus kepada Kristus. Sekarang saya akan masuk dalam aplikasi. Minggu yang lalu Pendeta David Tong mengatakan hidup untuk Kristus adalah juga hidup seperti Kristus. Alkitab menggunakan kata hidup serupa dengan Kristus. Image of Christ terbentuk dalam hidup kita. Orang Kristen disebut pengikut Kristus. Kristus memberikan iman kepada kita, menyempurnakan iman kita di dalam pekerjaan-Nya pada waktu Dia disalib. Tetapi juga pada saat ini di dalam proses pengudusan, Dia menyempurnakan iman kita dengan salib yang diberikan Dia kepada kita.
Kita ada di dalam Kristus, dan di dalam Kristus, secara hakikat Kristus sudah menyempurnakan iman kita. Tetapi di dalam proses, Kristus sedang memproses iman kita menuju kepada kesempurnaan. Bagaimana Kristus memproses iman kita menuju kepada kesempurnaan? Yaitu dengan memberikan salib kepada kita. Nah, di sini masalahnya. Apakah kita rela untuk memikul salib? Kita tahu semua, kita jelas semua, ada banyak orang dan bahkan mungkin kita, tidak bertumbuh. Bagaimana ayat ini bisa terjadi? Bahkan Alkitab mengatakan bahwa Yesus sudah menyempurnakan iman, tetapi kenapa tidak bertumbuh? Kita tahu semua bahkan banyak orang-orang Kristen di dalam Kristus hidupnya makin lama bukan menyerupai Kristus tetapi menyerupai dunia. Apa yang sebenarnya terjadi? Bukankah Kristus menyempurnakan iman kita? Alkitab mengatakan secara hakikat Dia menyempurnakan, tetapi secara proses Dia membawa kita menuju kepada kesempurnaan. Itu tidak mungkin terjadi jikalau kita tidak mau rela taat dibentuk dengan memikul salib. Implikasinya adalah relakah kita memikul salib yang Tuhan sediakan bagi kita masing-masing? Banyak orang meletakkan salibnya. Dia menjadi orang Kristen. Orang-orang tahunya bahwa dia tetap melayani. Mungkin dia berkhotbah, dia ada di gereja. Salaman dengan dia, “Bagaimana keadaanmu?” Dia katakan “Baik.” Tetapi Tuhan di surga tahu engkau sudah meletakkan salibmu. Engkau tidak mau menyangkal diri memikul salib dan mengikuti Aku. Kemarin kami baru pulang daripada retreat pribadi. Tahun ini retreat pribadi saya, saya mengambil satu buku. Ada beberapa buku yang saya baca, salah satunya buku yang sudah lama sekali tersimpan di library saya, yaitu “Have We No Right?” dari Mabel Williamson, “Apakah Kita Tidak Punya Hak?” Itu adalah salah satu yang diambil dari satu bagian Alkitab. Paulus mengatakan, “Apakah kita tidak punya hak untuk makan dan minum dari hasil pelayanan kami?” “Apakah kami tidak punya hak untuk membawa istri kami dalam pelayanan seperti Petrus?” Dan di dalam buku itu maka saya terkesima dengan 2 kalimat ini. Dia mengatakan ada perbedaan besar antara makan kesulitan dan makan kehilangan. Ini adalah pepatah orang China. Ada perbedaan besar antara menelan kesulitan atau menelan kepahitan dan menelan atau makan kehilangan. Apa perbedaannya? Dia mengatakan bahwa makan kesulitan seperti seorang misionaris yang pergi ke daerah-daerah terpencil yang susah. Dia harus menurunkan derajat keuangannya. Dia mesti pergi dari sini kemudian naik kapal dan berbulan-bulan sampai ke tempatnya. Dia pasti akan mengalami kesulitan demi kesulitan. Yang saya sangat surprise, buku itu mengatakan hal itu, tetapi sebenarnya tidak terlalu sulit. Karena itu adalah makan kesulitan. Tetapi yang paling sulit adalah makan kehilangan. Apa itu makan kehilangan? Yaitu hak-hak kita dilanggar. Dia menuliskan beberapa bab berkenaan dengan makan kehilangan: tidakkah kami punya hak untuk mendapatkan taraf kehidupan yang wajar? Tidakkah kami punya hak untuk privasi kami? Tidakkah kami punya hak untuk mengatur urusan-urusan pribadi sebagaimana yang saya kehendaki? Tidakkah kami punya hak untuk hidup bersama dengan orang-orang yang saya pilih? Sama seperti Kristus, tidakkah Dia punya hak untuk tinggal di istana raja? Bukankah Dia punya hak untuk melawan seluruh orang fasik yang salah paham dengan Dia? Tidakkah Dia punya hak untuk berdiri dalam kebenaran di hadapan seluruh orang yang mem-bully dan memfitnah Dia? Tidakkah Dia punya hak? Dan tidakkah anak-anak Tuhan memiliki hak? Di situ, salib. Begitu saudara dan saya memegang hak, sungguh-sungguh hak, bukan dibuat-buat, bukan hak orang lain saudara-saudara ambil, sungguh-sungguh hak. Begitu kita mempertahankan hak itu, maka kita meletakkan salib. Ini begitu dalam, sulit, tetapi Tuhan sekali lagi sudah memberikan jalan-Nya. Masihkah saudara-saudara ingat satu ilustrasi bahwa jenderal itu sudah di depan, sudah di atas dan kemudian sudah memberikan talinya dan kita mengikuti jejaknya. Setiap kali, apa pun saja yang terjadi dalam hidup kita, kita selalu berpikir tentang orang lain. Kita selalu berpikir tentang keadaan yang salah. Hal-hal yang tidak adil terjadi kepada kita. Itu terjadi kepada seluruh nabi-nabi juga. Secara logika, yang rasional benar, itu benar memang terjadi hal yang tidak adil terhadap saya. Ini adalah hak, saya harus memperjuangkan. Kalau bukan saya, siapa lagi? Saudara-saudara, sampai di titik itu, saudara ingat baik-baik: Allah yang akan memperjuangkan. Dan tugas kita adalah melepaskan hak dan memikul salib-Nya. Mata yang tertuju kepada Kristus yang dengan tekun memikul salib menuju kepada kesempurnaan. Buku itu ditulis oleh Mabel Williamson dan ada prakata Pendeta Stephen Tong. Saya pernah mendengar Pendeta Stephen Tong juga pernah mengotbahkannya sudah puluhan tahun yang lalu. Di dalam prakata itu kembali Pak Tong mengingatkan saya akan satu prinsip ini: di tengah-tengah dunia yang mempertahankan hak dan mau untuk memegang hak, maka ingatlah satu hal: engkau memiliki hak yang istimewa – yaitu – hak untuk melepaskan hak. Tanpa ini, penulis Ibrani mengatakan iman tidak mungkin tekun sampai akhir. Menakutkan, tetapi ini indah. Minta anugerah Roh Kudus untuk memampukan kita melepaskan hak.
Sekarang hal ke-3, terakhir. Yang pertama adalah bersungguh-sungguh berlomba. Yang ke-2 adalah memikul salib karena mata tertuju kepada Yesus. Hal yang ke-3 adalah rela dihajar oleh Tuhan. Rela didisiplin oleh Tuhan. Salah satu masalah dalam ketekunan adalah dosa di dalam diri. Ketekunan, coba bayangkan baik-baik. Kalau saudara-saudara lari, apa yang membuat kita tidak sampai kepada garis finish? Yaitu ada orang di sebelah lapangan kita melambai-lambai kemudian mereka merayu kita untuk keluar dari lomba itu. Itu adalah orang-orang yang jahat di dunia ini. Itu adalah Babilon yang merayu kita untuk iman kita bergeser. Tetapi Alkitab juga mengatakan, yang membuat kita tidak bisa bertekun adalah karena kita terus mengikuti dosa kita. Dunia akan membuat jalur kita bergeser, tetapi dosa akan membuat kita berhenti. Kita tidak lagi mau lari. Di situlah maka Tuhan menghajar kita. Alkitab mengatakan Dia memberikan disiplin kepada kita. Disiplin adalah tanda bahwa kita seorang anak, demikian kata Alkitab. Tuhan mau memberi tahu kepada kita bahwa perjuangan kita bukan saja melawan godaan dunia, tapi perjuangan kita juga adalah perjuangan untuk kita tidak tunduk kepada dosa di dalam diri. Kalau saudara dan saya adalah anak yang sejati, kita akan didisiplin oleh Tuhan. Saya mau saudara berpikir seperti ini karena ini adalah prinsip Alkitab. Apa pun saja yang terjadi dalam hidup kita, apa pun saja, kalau saudara dan saya adalah anak Tuhan yang sejati, maka itu sebenarnya adalah bentukan Allah kepada kita melalui konteks hidup kita. Kalau kita terkena sakit, kalau hati kita sakit, atau mungkin kita tiba-tiba dipecat oleh company kita atau apa pun saja. Biarlah mata kita tidak melihat orang lain terlebih dahulu. Kalau saudara-saudara melihat orang lain terlebih dahulu, kita kehilangan fokus. Kita kehilangan arti konteks hidup pembentukan Tuhan. Tetapi kalau saudara dan saya melihat diri sendiri dan tanya kepada Tuhan: apa yang Engkau mau bentuk dalam hidupku? Apa dosa yang Engkau mau hancurkan dalam hidupku? Sehingga aku boleh hidup makin kudus dan makin indah di hadapan-Mu? Saudara dan saya akan maju di dalam pengudusan. Masalahnya bukan orang lain. Sejahat apapun orang itu kepada kita, Alkitab dengan jelas menyatakan Allah kita berdaulat. Dia mendatangkan seluruhnya untuk kebaikan kita. Dia tidak mengatakan semuanya akan baik. Tidak. Tapi Dia mengatakan segala sesuatu adalah untuk kebaikanmu. Karena Aku sedang menghajar engkau. Aku sedang menguduskan engkau agar engkau boleh berbagian di dalam kekudusan. Disiplin tentu tidak menyenangkan hidup kita. Memang menyakitkan, tetapi memiliki tujuan. Kalau kita adalah orang tua dan kita mendisiplin anak, kita tahu untuk apa kita mendisiplin mereka. Meski anak-anak kita tidak selalu tahu mengapa mereka didisiplin. Tetapi kalau mereka mau rela taat, dengan bertumbuhnya waktu makin lama makin mereka akan bisa melihat pentingnya disiplin diberikan kepada mereka karena orang tua mengasihi mereka. Pelajaran-pelajaran berharga dalam kehidupan tidak dapat dipelajari selain melalui disiplin. Hal yang sama yang Tuhan berikan kepada kita.
Sekarang saudara bisa melihat rangkaian seluruh perikop ini. Ketika bicara mengenai ketekunan adalah bicara berkenaan lihat semua saksi. Ketika bicara mengenai ketekunan adalah bicara mengenai panggilan untuk bersungguh-sungguh. Ketika bicara mengenai ketekunan adalah panggilan untuk mata kita melihat kepada Kristus Yesus, rela untuk memikul salib, dan bicara mengenai ketekunan pada waktu kita diproses untuk ketekunan, ketika kita lari dalam ketekunan, pada saat yang sama maka dosa kita dihancurkan. Bukankah seluruh jalur ini begitu jelas?
Saya akan akhiri. Secara unik di dalam ayat 15 dikatakan: “Jagalah supaya jangan ada seorang pun kehilangan anugerah Allah.” Dalam bahasa Indonesia yang lama adalah “Jangan ada seorang pun menjauhkan diri dari kasih karunia Allah.” Dalam bahasa Indonesia LAI yang baru adalah “Jangan seorang pun kehilangan anugerah Allah.” Ketika kita tidak berlari. Ketika kita tidak rela memikul salib. Ketika kita tidak rela dibentuk oleh Tuhan. Alkitab mengatakan “Orang itu kehilangan anugerah Allah.”
Di tempat yang lain Petrus mengatakan, “Biarlah engkau bertumbuh dari satu anugerah menuju kepada anugerah yang lain.” Orang yang berhenti dan dikuasai oleh dosa, yang tidak mau bertobat, yang terus menerus memegang haknya, dia sedang berhenti di dalam pacuan lomba. Dia akan kehilangan anugerah. Kiranya satu dorongan dan satu warning ini kita boleh terima. Mari kita berdoa.
GRII Sydney
GRII didirikan di atas dasar Pengakuan Iman Reformed Injili dengan tujuan menegakkan satu gereja yang berbasiskan teologi Reformed, dengan mimbar yang menyampaikan khotbah ekspositoris, read more