Ringkasan Khotbah

28 December 2025
Hidup Yang Bertumbuh
Pdt. Agus Marjanto, M.Th · Mat 1:18-25, Luk 1:26-38, Mat 11:28-30

Mat 1:18-25, Luk 1:26-38, Mat 11:28-30

Ini adalah hari-hari, detik-detik yang kita semua menyadari secara eksistensial. Ini yang membedakan antara kita dengan binatang yang paling pandai sekalipun. Manusia diciptakan oleh Allah dan diletakkan di dalam 2 wadah, yaitu waktu dan ruang. Dan setiap kali waktu itu berubah, khususnya di dalam akhir tahun seperti ini, kita merasakan ada sesuatu yang berbeda dari hari yang lain. Hari ini adalah hari yang tidak terelakkan. Waktu itu bersifat linier dan bukan circular. Suka atau tidak, manusia, kita semua, pada akhirnya didorong oleh waktu untuk sampai ke akhir dari waktu. Hari-hari seperti ini pasti ada harapan karena, “Oh, tahun yang baru.” Tetapi jikalau kita adalah anak Tuhan yang sejati dan hidup seturut dengan Firman Tuhan, hari-hari ini juga adalah hari di mana Roh Kudus membisikkan ke dalam jiwa kita untuk menyadari sesungguhnya siapa kita dan kita gentar menghadapinya.

Kita menyadari bahwa waktu, mau atau tidak mau, suka atau tidak suka, akan berakhir. Kita sekali lagi didorong oleh waktu untuk menuju kepada akhir hidup kita. Satu tahun demi satu tahun berakhir. Bulan demi bulan berakhir. Meskipun kita memiliki waktu jikalau Allah menganugerahkan, tetap kita menyadari sesungguhnya waktu kita sudah berkurang satu tahun lagi. Sampai satu titik di mana kemudian kita sudah kehabisan waktu, itu adalah titik eskatologi, itu adalah titik akhir, the end of time, dan di akhir itu maka kita menemukan, bertemu dengan Yesus yang akan menghakimi, menilai seluruh kehidupan kita. Saudara-saudara, ini adalah sesuatu yang tidak bisa dihindarkan, ini adalah suatu realita hidup yang kita suka atau tidak, harus telan. Dan ketika bertemu dengan Yesus Kristus, maka Dia akan meminta pertanggungjawaban untuk seluruh anugerah yang sudah diberikan kepada kita. Anugerah demi anugerah diberikan. Kelahiran baru diberikan. Penyertaan diberikan. Dan seluruh hal yang diperlukan untuk hidup dan bertumbuh itu diberikan. Dan Tuhan kemudian meminta kita berbuah di hadapan Dia. Hari ini adalah hari yang baik untuk kita mengevaluasi hidup kita. Dan satu kalimat untuk mengevaluasi yaitu: “Apakah aku bertumbuh rohani?” Karena pertumbuhan adalah tanda dari iman yang sejati.

Kalau Saudara dan saya menyadari ada ketidakadanya pertumbuhan rohani, maka itu mengindikasikan 2 hal ini. Pertama adalah iman yang kita kira sebagai iman itu ternyata adalah iman yang mati. Itu artinya kita tidak sungguh-sungguh menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat kita. Kita hanya percaya secara kognitif, mengerti Dia secara kognitif. Mungkin sekali kita pergi ke gereja, mungkin sekali kita bisa berdebat teologia, mungkin sekali saudara dan saya menyetujui teologia yang baik, yaitu teologia Reformed, tetapi tidak ada pertumbuhan rohani, tidak ada transformasi hidup, tidak ada kuasa kelahiran kembali. Itu artinya kita tidak memiliki iman alkitabiah, kita tidak memliki iman dari Yesus yang mati dan bangkit, kita tidak mengerti, tidak mengenal, dan tidak menyatu dengan apa itu kematian dan kebangkitan-Nya. Kuasa itu kita tidak miliki. Itu adalah iman yang mati. Tetapi saudara-saudara, ada kemungkinan yang ke-2 kalau kita tidak bertumbuh, karena ternyata ada satu waktu di masa lampau yang kita tidak taat kepada Tuhan. Kita mungkin melupakan hal itu, kita menyembunyikan hal itu, tetapi sebenarnya adalah Tuhan menginginkan kita berespons di dalam ketaatan pada titik itu, tetapi sampai sekarang kita tidak mau taat. Kita mungkin melupakan pemberontakan itu atau mungkin ada satu dosa yang kita pegang sampai saat ini. Dan Tuhan sudah menunjuk dosa itu, menunjuk pada titik itu, untuk kita bergumul dan melepaskannya, tetapi kita tidak mau melepaskannya. Di saat seperti itu, kita pasti sangat terhambat pertumbuhan rohani. Kecuali kita kembali taat pada titik tersebut, kita akan stuck, kita akan secara rohani berhenti. Dan keadaan seperti ini mendukakan hati Allah. Saudara-saudara, orang yang tidak bertumbuh, yang stuck, yang berhenti bertumbuh rohani dalam waktu yang lama, sangat mendukakan hati Allah. Kalau saudara-saudara lihat anak kecil, bayi yang kecil digendong sama mamanya umur 8 bulan, dia tertawa, matanya berbinar-binar, kakinya menendang-nendang, maka saudara akan mengatakan, “Lucu ya anaknya.” Dia lucu karena 8 bulan. Tetapi kalau dia 8 tahun seperti itu, tetap digendong, tertawa, mata berbinar-binar, kakinya menendang-nendang, itu tidak lagi lucu, itu bikin nangis. Dan seperti itulah orang Kristen yang hidup sesungguhnya tetapi tidak bertumbuh. Sesungguhnya menurut takaran umurnya, dia sudah bisa menjadi pengajar, tetapi ternyata dia hanya makan makanan yang lunak, makan makanan bayi dan minum dari minuman seperti susu. Tidak bisa dilatih untuk kuat, untuk berperang. Orang Kristen tapi terus pikirannya adalah self-centered, sedikit-sedikit tersinggung ke kanan ke kiri. Seluruh hidupnya adalah persis sama seperti tidak pernah melihat Yesus mati dan berbagian dalam kebangkitan-Nya.

Sekali lagi, pada pagi hari ini ada satu pertanyaan yang kita harus pikirkan sama-sama: “Apakah kita bertumbuh?” Pertumbuhan itu memang anugerah Allah, demikian kata Alkitab. Itu artinya Allah yang menentukan kapan bertumbuh dan bertumbuh seperti apa. Tetapi Alkitab dengan jelas menyatakan pasti bertumbuh. Dan di dalam Alkitab, Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru, dua-duanya, maka Allah menyatakan menghendaki buah. Jadi jikalau pohon tidak ada buah, maka pohon itu dianggap oleh Allah bersalah, karena Allah sudah begitu setia menyediakan segala sesuatu yang diperlukan untuk pohon itu berbuah. Di dalam kitab Yesaya bahkan dikatakan, “Hai Israel, hai Yehuda, adililah antara Aku dan kebun anggur-Ku, apa yang kurang Aku lakukan kepada dia, kenapa mereka tidak bertumbuh, atau bertumbuh tetapi buahnya masam.” Pertumbuhan adalah anugerah, tetapi anugerah itu adalah anugerah yang direspons oleh kita.

Saudara-saudara, mari kita sekarang melihat bagian-bagian Alkitab bagaimana pertumbuhan itu terjadi terhadap diri seseorang. Kalau saudara-saudara memperhatikan Alkitab, kita akan menemukan begitu banyak kisah kehidupan. Di dalam kisah itu maka seseorang itu pertamanya dalam state orientasi, dan kemudian menjadi disorientasi, kemudian menjadi orientasi lagi. Atau orang yang dalam keadaan stable, lalu kemudian tidak stable, lalu kemudian stabil lagi. Keadaan yang biasa saja seperti saudara dan saya, tiba-tiba ada sesuatu yang tidak biasa, bisa kejatuhan dalam dosa, bisa itu adalah kecelakaan atau kehadiran Allah atau panggilan Allah, lalu kalau dia bisa menyelesaikannya dengan berespons dengan tepat, maka keadaan itu menjadi baik karena ada remedi di dalamnya.

Saya ambil contoh, misalnya kalau saudara-saudara mengingat peristiwa anak yang terhilang, baik-baik dia, tetapi tiba-tiba dia memberontak kepada bapanya, “Berikan aku bagian hartaku.” Dan kemudian dia pergi jauh. Itu adalah hari-hari kejatuhannya. Akhirnya dia jatuh miskin dan menjadi peternak babi. Dia pergi ke tempat yang jauh, lebih jauh dari perbatasan Israel. Tapi kemudian Alkitab mengatakan bahwa tiba-tiba dia sadar akan dirinya, dan saudara-saudara perhatikan, ketika dia sadar akan dirinya, itu pasti pekerjaan Roh Kudus. Maka respons dia itu adalah remedinya. Maka dia kembali pulang dan kemudian bertemu dengan bapanya dan bapanya mengembalikan seluruh posisinya. Ada suatu keseimbangan, equilibrium, lalu kemudian ketidakseimbangan, dan kemudian keseimbangan lagi.

Misalnya saja hal yang lain adalah peristiwa Ayub. Semuanya baik-baik saja, lalu tiba-tiba ada kemalangan yang menimpa. Seluruh hartanya habis, seluruh anaknya mati. Dia bergumul terus dengan hidup di hadapan Allah. Dan saudara lihat kemudian Allah berbicara kepada dia. Dan bagaimana responsnya itu kemudian menjadi remedi. Dan Tuhan mengembalikan seluruh posisi sebelumnya.

Contoh yang lain lagi. Saudara-saudara, bacaan kita, Yusuf dan Maria, ini adalah pasangan yang sudah bertunangan baik-baik, mau nikah beberapa bulan atau beberapa tahun lagi. Seluruhnya stabil, tetapi kemudian tiba-tiba Allah berintervensi. Begitu Allah berintervensi, seluruhnya guncang. Ada salah paham satu dengan yang lain, ada kecurigaan satu dengan yang lain, ada kemarahan satu dengan yang lain. Tetapi kemudian saudara-saudara, sesuatu terjadi maka Yusuf kemudian diberi mimpi. Dan saudara-saudara lihat titik krusial itu, apa yang menjadi respons dari Yusuf itu, menjadikan sesuatu itu kembali stabil dan baik dan sejahtera di dalam tangan anugerah Tuhan.

Saudara bisa melihat seluruh peristiwa kurang lebih adalah seperti itu. Seperti Musa, Abraham, Daud, Yeremia, Yesaya. Saudara boleh melihat dari Perjanjian Lama sampai Perjanjian Baru. Saudara-saudara, ini adalah sesuatu yang penting untuk kita ketahui: apa titik krusial, apa voctal point ketika seseorang itu bisa bertumbuh. Sekali lagi kita sedang memikirkan apakah aku bertumbuh? Tetapi ketika bicara mengenai pertumbuhan, ada prinsip penting di titik ini.

Saudara-saudara, mari kita sekarang melihat lebih detail mengenai kisah Natal. Apa yang terjadi di dalamnya? Saudara-saudara, Natal adalah waktu di mana anugerah Allah yang besar yang tadinya tersembunyi dalam kekekalan, sekarang diberikan di dunia. Allah Tritunggal di dalam kekekalan telah membuat suatu covenant of redemption. Ini adalah rencana kekekalan antara Bapa dan Anak. Ini tidak terlihat oleh kita, ini adalah isi hatinya Allah. Dan sekarang isi hati Allah itu mau dinyatakan di muka bumi ini. Natal adalah hari di mana isi hati Allah yang tadinya tidak diketahui, yang tersembunyi itu, sekarang direalisasikan, dinyatakan di muka bumi.

Saudara-saudara, perhatikan satu prinsip ini. Ketika surga, ketika Allah mau merealisasikan kehendaknya di bumi, maka perhatikan prinsipnya: Allah memakai manusia sebagai sarana. Sekali lagi, ketika surga mau merealisasikan kehendaknya di bumi, maka perhatikan prinsipnya: Allah memakai manusia sebagai sarana. Seorang bapak gereja, bernama Agustinus, pernah menyatakan satu prinsip yang sederhana ini, tetapi membuka banyak hal: “Tanpa Allah, manusia tidak bisa, tanpa manusia, Allah tidak akan.” Sekali lagi, tanpa Allah, manusia tidak bisa. Kita perlu Allah untuk mengerjakan segala hal di muka bumi ini. Kita bergantung kepada Dia untuk bekerja di tengah-tengah kita. Tanpa Allah, kita tidak bisa. Tetapi tanpa manusia, Allah tidak akan. Allah memiliki tujuan, Dia sudah menetapkannya di dalam kekekalan, dan tujuan itu pasti akan terlaksana. Tetapi supaya tujuan itu terlaksana, Allah memakai sarana. Allah yang menetapkan tujuan itu, Allah juga yang menetapkan sarana. Kita sering salah memikirkan Allah itu Mahakuasa. Ya, Allah itu Mahakuasa, Dia bahkan menciptakan langit dan bumi tanpa sarana apa pun saja, Dia berfirman. Tetapi kita lupa kalimat itu, Firman itu, artinya juga adalah sarana Dia menciptakan.

Saudara-saudara, Allah ketika mengerjakan sesuatu pasti pakai sarana. Dia menumbuhkan rohani kita juga memakai sarana. Dia menggunakan sarana gereja. Itulah sebabnya dalam gereja itu begitu banyak means of grace. Saudara tidak bisa mengatakan, “Oh, yang paling penting aku saat teduh sendiri saja. Aku akan bertumbuh sendiri saja.” Saudara-saudara lihat tanaman, seluruh dari tanaman itu tumbuh, ada sarana. Dan itu adalah sarana tanah yang dia itu berakar.

Sekali lagi, Allah menetapkan tujuan, Allah menetapkan sarana-sarana yang dipakainya. Di luar sarana itu, kita tidak bisa bertumbuh. Banyak orang dari agama lain mengatakan, “Aku langsung menyembah Allah dan aku langsung dibenarkan oleh Allah.” Kekristenan menyatakan tidak. Allah membenarkan kita melalui mediator yaitu Yesus Kristus. Itu sarananya. Kehendak Allah di bumi dinyatakan kepada kita memakai sarana. Sarana itu menjadi alat anugerah Allah disalurkan ke dunia.

Saudara-saudara, sekali lagi hari-hari ini kita terus memperingati berita Natal. Hari Natal adalah hari Allah merealisasikan kehendaknya di muka bumi. Yesus dikirimkan, Yesus diutus di dunia adalah anugerah Allah, lebih daripada seluruh anugerah. Tapi saudara perhatikan satu prinsip di sini. Sekali lagi ini adalah prinsip dari pertumbuhan rohani. Anugerah dari surga itu untuk disalurkan ke dunia, memakai sarana yaitu Yusuf dan Maria. Dan apa yang Allah mau tuntut dari Yusuf dan Maria untuk bisa menjadi sarana anugerah yaitu satu prinsip ini, lembut hatinya.

Saudara-saudara, ini adalah satu kalimat yang penting. Hati yang lembut. Kelembutan hati itu menyebabkan anugerah Allah sampai ke dunia. Kelembutan hati itu yang membuat kita terus dipakai oleh Allah. Kelembutan hati itu yang membuat kita terus boleh bertumbuh di dalam jalan bersama dengan Allah. Dua ayat yang kita baca mengenai Yusuf dan Maria, saudara melihat bagaimana rencana Allah yang besar bahkan melampaui understanding mereka, direspons dengan kelembutan hati.

Anugerah Allah hadir di tengah dunia melalui Allah mengutus Yesus Kristus. Dan ketika anugerah Allah itu hadir, ternyata membawa pergumulan yang besar bagi 2 orang manusia ini. Yusuf kemudian melihat Maria, “Loh ini kok berubah ya badannya.” Dia perhatikan mukanya mulai membesar, perutnya mulai membesar. Alkitab mengatakan Yusuf mendapati isterinya mengandung. Saudara-saudara, Maria didapati mengandung dari Roh Kudus. Tentu awal-awal Yusuf tidak tahu itu dari Roh Kudus. Apalagi juga dia pasti tidak tahu Roh Kudus itu siapa. Kalau cerita seperti ini adalah cerita yang indah bagi kita, sangat sentimental, tapi saudara coba bayangkan kalau itu terjadi pada keluarga kita. Ini adalah cerita yang sangat menyedihkan, menyakitkan hati Yusuf. Hatinya sangat sakit dan rasa dikhianati. Berminggu-minggu, bermalam-malam, dia pikir apa yang harus dikerjakan, apa yang harus direspons kepada istrinya, kepada calonnya yang dia cintai. Sedih, marah, geram, dan seluruh hal yang mendukakan dia itu terjadi. Dia terus nangis sendiri. Dan dia dengan kemarahan ingin menyeret istrinya ke pengadilan orang Yahudi. Dan jikalau itu terjadi, maka Maria akan dirajam sampai mati. Oh saudara-saudara, ini adalah sesuatu yang sangat menyita seluruh jiwa Yusuf. Dia diam, dia tidak bicara kepada sanak saudaranya, dia tidak bicara kepada teman-temannya, dia memikirkan sendiri. Karena dia, Alkitab mengatakan, adalah orang yang benar, orang yang tulus, maka dia tidak mau menyakiti istrinya. Orang yang sudah disakiti biasanya ingin menyakiti balik. Kalau dia tidak bisa menyakiti kembali, dia akan menyakiti orang lain. Tapi Yusuf orang yang baik. Dia memikirkan, “Sudah tidak apa-apa dia hamil sama orang lain, tetapi keputusanku adalah cerai. Keputusanku adalah aku tidak bisa terus dengan engkau.” Saudara lihat ini adalah suatu keputusan dari Yusuf.

Bagaimana dengan Maria? Tiba-tiba malaikat datang, bicara begitu panjang mengenai rencana Allah untuk melahirkan Yesus dengan kandungannya. Seluruh kalimatnya kalau dieksposisi, begitu mulia, begitu indah, begitu penting dan menjadi cerita yang sungguh-sungguh mengagumkan. Tetapi saya percaya Maria tidak bisa mengerti keseluruhan. Jangankan keseluruhan, sedikit saja sulit. Bagaimana hamil tanpa suami? Bagaimana itu dinaungi oleh Roh Kudus? Sekali lagi, Roh Kudus itu siapa? Bahkan dalam Perjanjian Lama hanya muncul beberapa kali saja.

Bagaimana menggabungkan antara kalimat pertama engkau dianugerahi dengan seluruh kejadian berikutnya? “Ini engkau adalah satu pribadi yang dianugerahi, anugerah Allah tiba kepadamu, Maria.” Tetapi kemudian semua ini terjadi, hamil tanpa tanpa pernikahan, tanpa hubungan suami istri. Kalau saudara-saudara tidak menemukan ayat-ayat ini di dalam Alkitab saudara, saudara menemukan di catatan yang lain, saya yakin saudara akan mengatakan ini bukan anugerah, ini musibah. Saudara perhatikan dua orang ini yang tadinya itu stabil menjadi satu, dan tiba-tiba Allah berintervensi di dalamnya, anugerah itu diberikan, dan kemudian mereka langsung terpecah. Yang tadinya stabil sekarang guncang dan mereka memiliki pikiran masing-masing. Yusuf sudah mengatakan cerai, dan Maria sudah menerima seluruh nasibnya ke depan tanpa Yusuf.

Di saat seperti itu, apa titik vokalnya, titik poinnya untuk terus maju di dalam Tuhan? Yaitu lembut hati. Yusuf kemudian mendapatkan mimpi. Meskipun dia tidak mungkin bisa mengerti keseluruhannya, tetapi dia menerimanya dengan kelembutan hati dan dia meneruskan perjalanannya bersama dengan Maria di dalam iman. Meskipun Maria tidak mengerti, dan pikirannya tidak memiliki masa depan, bahkan sampai sekarang, berapa banyak orang yang salah paham sama dia, tidak percaya bahwa dia bukan mengandung di luar nikah tetapi mengandung karena Roh Kudus? Dia harus menanggung semuanya ini dengan lembut hati, bahkan sampai saat ini di surga. Saudara perhatikan, ini adalah satu titik krusial penting sekali, kelembutan hati untuk pertumbuhan rohani.

Saudara-saudara, Daud itu stabil. Kemenangan demi kemenangan. Tiba-tiba dia terpeleset jatuh. Dia berzinah, dia membunuh, dia berbohong, dan kemudian Natan diutus oleh Tuhan untuk menegur dengan sangat tajam. Di saat seperti itu ada titik krusial bagi Daud. Dia bisa berhenti untuk tidak lagi dipakai oleh Tuhan, ditinggalkan oleh Tuhan, bahkan dimurkai oleh Tuhan atau kembali disayangi oleh Tuhan. Natan mengatakan, “Engkau orang itu.” Dan di saat seperti itu, apa yang menjadi respons dari Daud? Dia mengeraskan hati dengan hajaran itu atau dia mau menerima hajaran itu dengan lembut? Dan kemudian dia mau lembut, “Iya, aku orang itu.” Dan dia menuliskan Mazmur pasal 51. Kelembutan itu membuat hidupnya bahkan setelah kejatuhan tetap menjadi berkat bagi saudara dan saya.

Ayub sedihnya luar biasa. Ayub begitu hancur hatinya. Dia terus bertanya kepada Tuhan, “Mengapa aku diperlakukan seperti ini?” Sampai titik tertentu Allah menghardik dia dan dia menyadari dosanya. Dia kemudian berkabung. Dan kemudian di situlah kelembutan hati itu ada. Saudara bisa melihat pekerjaan Allah terlaksana kepada dan melalui Ayub. Saudara bisa melihat Musa lembut hati. Saudara bisa melihat Abraham lembut hati. Mereka berjalan, orang-orang yang saya sebutkan ini adalah berjalan dari satu kelembutan ke kelembutan yang lain, dari satu ketaatan kepada ketaatan yang lain. Lembut hati.

Kalau saudara-saudara melihat dari seluruh masalah di dalam kehidupan kita, begitu banyak masalah yang seharusnya bisa diselesaikan dengan satu titik ini, yaitu kelembutan hati. Masalah rumah tangga itu paling sering di dalam gereja. Kalau kita menjadi hamba Tuhan, begitu banyak orang yang sharing masalah rumah tangga, masalah relasi, suami, istri, anak, atau apa pun saja berkenaan dengan keluarga. Banyak ketidakcocokan di dalam suami istri, banyak pertengkaran, bahkan yang dulu saling mencintai pun sekarang cinta itu pudar dan menjadi kering. Dan karena memang itulah yang terjadi di dalam keluarga kita, termasuk keluarga saya yang adalah manusia yang berdosa.

Dan kita tahu semua bahwa kita itu seakan-akan didorong menuju kepada jurang perpisahan. Kita tidak mau mengatakan kalimat itu, perceraian, tetapi kita didorong untuk menuju ke sana. Kita tidak divorce adalah bukan karena kita masih mengasihi. Kita tidak divorce karena mungkin malu, mungkin nanti dipikir orang lain seperti apa, anak-anak masih kecil dan semuanya. Tapi saudara perhatikan baik-baik, masalahnya itu bukan karena begitu banyak masalah. Ya, memang masalah itu begitu banyak dan kadang sulit untuk terpecahkan, saya tidak mensimplifikasi masalah rumah tangga. Tetapi saudara-saudara, saudara bisa terus berjalan bersama dengan Allah, Saudara lihat titik krusialnya, yaitu karena ketidakadanya kelembutan hati. Sehingga Yesus pun mengatakan demikian, “Karena kekerasan hatimu, maka Musa itu mengizinkan surat cerai.” Saudara-saudara, kekerasan hati, bukan kelembutan, kekerasan hati membuat begitu banyak kehidupan kita itu tidak pernah selesai, terus unstable. Kelembutan hatilah yang membuat kita mencegah dosa-dosa yang besar. Kelembutan hati membuat keluarga itu bersatu. Tanpa kelembutan hati maka keluarga itu pecah meskipun saudara masih dalam satu rumah. Tanpa kelembutan hati, gereja sebesar sekuat apa pun doktrinnya akan pecah.

Saudara-saudara, perhatikan satu kalimat di bawah ini. Semua doktrin-doktrin alkitabiah yang benar itu dilaksanakan dengan kelembutan. Kelembutan hatilah yang membuat seseorang itu berbalik seperti anak yang terhilang itu. Kelembutan hatilah yang membuat anak itu kembali dan mendapatkan posisi seperti semula dari bapaknya. Kelembutan hati itu yang membuat Daud yang berzinah begitu dalam dosanya, kembali di tangan Allah dan berjalan bersama dengan Allah. Kelembutan hati Yusuf dan Maria itu yang membuat anugerah Allah yang besar itu terjadi, diturunkan melalui mereka ke kita. Kelembutan hati itulah yang membuat Natal itu terjadi dan salib itu terlaksana.

Yesus mengatakan: “Marilah datang kepadaku …” Ini adalah suatu undangan. Kelembutan hati adalah undangan. Allah tidak pernah akan memaksa engkau untuk harus lembut, itu adalah undangan: “Belajarlah dari pada-Ku karena Aku ini lembut hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan.” Yesus Kristus itu lembut hati-Nya. Tuhan Yesus tidak pernah meminta kita belajar bagaimana berjalan di atas air atau bagaimana membuat mujizat. Tidak. Tetapi Yesus meminta kita untuk belajar dari Dia untuk lembut hati. Dan Roh Kudus sering sekali bicara kepada kita di dalam Firman, di dalam hati kita, dengan lembut hati. Kalau kita menentang Dia di dalam hati kita, mengeraskan hati, Alkitab mengatakan kita mendukakan Dia.

Sekali lagi saudara-saudara, lihatlah satu prinsip dasar ini. Tanpa kelembutan hati kita tidak mungkin bertumbuh. Tanpa kelembutan hati kita tidak mungkin dipakai oleh Tuhan. Anugerah, ketika kalimat itu muncul, maka Alkitab mengatakan anugerah tidak mungkin terlepas dari salib. Dan ketika anugerah itu bergabung dengan salib, maka di sini respons kelembutan itu diminta.

Hari-hari ini kita akan melihat tahun akan berganti. Kembali lagi, biarlah satu pertanyaan ini saudara dan saya gumulkan. Apakah kita bertumbuh? Atau apakah kita berhenti di satu titik, kita stuck di satu titik? Apakah kita menyimpan dosa? Dan kalau itu terjadi, bukankah kita menyadari Allah sudah berkali-kali bicara kepada saudara di titik itu? Mengapa kita mengeraskan hati dan tidak mau mendengarkan suara-Nya? Lembutkan hati kita. Dengarkan seruan-Nya di titik itu. Akui dosa kita. Bergumul dan minta kuasa untuk lepas. Jangan mempertahankan dosa di hadapan kita. Lepaskan sebelum hari-hari di tahun ini berakhir.

Mungkin sebagian dari saudara, apakah engkau menyimpan dendam? Apakah ada kemarahan di dalam isi hatimu terdalam? Kebencian dengan orang atau seseorang yang lain? Oh, betapa kerasnya hatimu mempertahankan semua itu. Sudah berapa bulan, sudah berapa tahun itu engkau lakukan? Apa gunanya untukmu? Bukankah itu mengeringkan seluruh tulangmu? Bukankah itu menghambat pertumbuhan rohanimu dan engkau tidak bisa berjalan bersama Tuhan di dalam ibadah dengan satu hati nurani yang murni? Ampuni orang itu. Lembutkan hati kita. Minta Tuhan untuk meredakan seluruh kemarahan dan kebenciannya.

Oh, mungkin ada juga di antara engkau yang sudah dipanggil menjadi hamba Tuhan, tetapi Engkau mengeraskan hatimu. Engkau mengundur-ngundur waktunya. Hari ini, demi Kristus yang lahir di hari Natal, lembutkan hatimu, taat. Oh, mungkin ada keluarga yang terus-menerus bertengkar. Tidak ada cinta, tidak ada kasih, tidak ada lagi sinar dan kesegaran di dalam keluargamu. Hal-hal yang besar maupun kecil, engkau simpan dari kesalahan-kesalahan pasanganmu. Engkau bertengkar untuk hal besar sampai kecil. Engkau berada di tengah-tengah satu keluarga tetapi dua dunia tersendiri. Engkau tidak lagi bisa menghargai dan melihat keindahan dari pernikahanmu. Saudara-saudara, hari ini bertobat. Lembutkan hatimu, ampuni pasanganmu. Biarlah engkau menjadi satu bunga yang kemudian dikasih air yang fresh, yang mekar kembali. Biarkan anugerah Allah timpa ke dalam keluargamu, melalui kelembutan hatimu. Anugerah Allah tidak mungkin sampai ke dalam keluarga kita kecuali engkau menyambutnya dengan kelembutan hati. Jadilah kita semua sarana-sarana yang dipakai oleh Allah untuk mengalirkan anugerah-Nya sampai ke muka bumi. Dan kiranya gereja ini, saya berharap kiranya Tuhan mengabulkan hal ini, menjadi kumpulan orang-orang yang ditebus yang lembut hatinya. Zefanya 3:12 menyatakan: “Pada hari terakhir Allah akan memiliki satu kumpulan umat yang lembut hatinya, rendah hatinya.” Sesungguhnya siapakah gereja itu? Orang-orang yang yang dipilih, dikuduskan oleh Allah. Kepala gereja kita adalah Yesus Kristus yang lembut hati, kita anggotanya bukankah seharusnya memiliki kelembutan itu? Sekali lagi saudara-saudara, suka atau tidak suka, kita didorong untuk masuk ke dalam akhir-akhir hari-hari yang ada. Kita bukan bertambah satu hari, kita berkurang satu hari. Kita bukan bertambah 1 tahun, kita berkurang 1 tahun, dan titik akhirnya kita akan bertemu dengan Kristus yang akan menghakimi.

Alkitab mengatakan Allah Bapa di surga sudah menyerahkan penghakiman terakhir di tangan Kristus Yesus. Dan bagi gerejanya, bagi anak-anak-Nya, Dia akan bertanya kepada kita, “Buah apa yang sudah kita itu hasilkan? Apakah buah yang manis atau buah yang masam? Apakah ada buahnya? Apakah banyak ataukah itu sedikit? Apakah kita bertumbuh sesungguhnya?” Biarlah di akhir tahun ini kita bertobat. Dan minta Tuhan, kalau Tuhan berikan aku hari-hari ke depan, Tuhan berikan aku pertumbuhan rohani. Yohanes pasal 15 mengatakan, “Allah akan dipermuliakan jikalau kita berbuah banyak.” Kiranya hidup kita yang hanya satu kali adalah hidup yang mempermuliakan Allah. Itu artinya adalah hidup yang berbuah. Itu artinya adalah hidup yang tumbuh. Itu artinya adalah hidup yang menjaga ketulusan dan hati yang lembut di hadapan Allah dan sesama. Kiranya Tuhan memberikan pertumbuhan rohani kepada kita di depan. Mari kita berdoa.

 
GRII Sydney

GRII didirikan di atas dasar Pengakuan Iman Reformed Injili dengan tujuan menegakkan satu gereja yang berbasiskan teologi Reformed, dengan mimbar yang menyampaikan khotbah ekspositoris, read more