Ringkasan Khotbah

18 January 2026
Perintah Baru Untuk Saling Mengasihi (2)
Pdt. Agus Marjanto, M.Th · Yohanes 13:34-35

Yohanes 13:34-35

Kita masuk di dalam satu kalimat yang luar biasa besar. Sebenarnya ketika saya mau untuk melihat ayat ini dan masuk di dalamnya, saya ingin cepat-cepat keluar. Saya sendiri ingin secepatnya menyudahi khotbah ini. Karena ini terlalu besar, terlalu masif, terlalu luas, terlalu tinggi dan terlalu dalam. Oh, Rasul Paulus sendiri mengatakan, “Aku berdoa supaya engkau boleh mengerti dan mengalami betapa tinggi, betapa dalam, betapa lebar, betapa luasnya kasih Kristus.” Siapa yang bisa mengotbahkannya? Dan ketika kita mengotbahkannya, apakah kita mengalaminya? Oh ini sudah bertahun-tahun, puluhan tahun saya menggumulkan. Saya pernah mengatakan kepadamu jemaat, salah satu tema yang saya jarang sekali khotbahkan, bahkan sampai saat ini adalah bicara mengenai kasih, karena ini sangat menakutkan, karena Alkitab sendiri mengatakan Allah itu kasih. Berarti ketika saya mau untuk mendalami kasih ini, saya mesti mendalami pribadi Allah yang tidak mungkin bisa didalami. Ketika beberapa hari ini saya memikirkan, oh saya harus berkhotbah ini lagi, saya sadar sekali saya tidak mampu. Saya sangat-sangat tidak mengenal Dia dan tidak tahu kasih itu apa. Sekali lagi saya bicara ini bukan untuk mengundang simpati saudara, tapi ini kenyataan. Ini sesuatu beban yang besar, secara negatif, karena kami tidak terlalu mengenal kasih, tapi kami harus menyatakan apa itu kasih. Di dalam pikiran saya sendiri, saya berdoa tadi pagi, “Tuhan, mungkin cuma sampai saat ini, sampai detik ini saja, sampai hari ini saja, minggu depan mungkin saya tidak akan touch lagi, kecuali engkau menggerakkan dan sesuatu ada yang mendesak kepada saya lebih lagi.” 

Kasih adalah sesuatu yang besar luar biasa, God is love dan bukan itu saja, Yesus sendiri adalah produk, adalah hasil, adalah suatu proklamasi dari kasih Allah; “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Dia mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, sehingga setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” Ketika engkau dan saya melihat Yesus, ketika Dia berjalan, ketika Dia berkata-kata, ketika Dia menyembuhkan, ketika Dia me-rebuke, ketika Dia di atas kayu salib, ketika Dia ditampar, ketika Dia dimahkotai duri. Seluruh titik itu adalah cinta. Siapa yang bisa untuk mengotbahkannya? Siapa yang bisa begitu mendalaminya? Oh, kita bilang ini adalah yang baru, dan minggu lalu saya sudah kasih satu, 2, 3, tetapi sesungguhnya saya gemetar, karena ini begitu dalam, dan tidak bisa dimengerti secara tuntas. Pada pagi hari ini, saya hanya akan bicara berkenaan dengan lapisan permukaan. Dan lapisan permukaan ini, saya harap bisa untuk menghilangkan seluruh debu dan seluruh butiran pasir yang mengganggu, yang mencemari dari kata kasih itu. Saya harap dengan usaha saya yang sederhana ini, sama seperti seorang pelebur dari emas, di mana meleburkan emas, kemudian ada permukaan kotoran yang mengambang di atasnya, sedikit boleh menyisihkan kotoran itu. Karena saya sendiri melihat secara postulat yang paling dasar. Karena ini adalah sifat Allah yang esensi, God is love dan ini adalah identitas esensi kita. “Kalau engkau saling mengasihi, maka orang dunia tahu bahwa kau adalah murid-Ku;” Ini adalah identitas Allah, dan ini adalah identitas kita, maka postulat yang paling dasar adalah maka setan akan mengaburkan kata ini di tengah-tengah kita. Berapa banyak kita mengatakan cinta, cinta, kasih, kasih, yang dipikir itu biblical, tetapi sesungguhnya itu sama sekali tidak biblikal. Kasih sudah sampai ke dunia, dan kemudian dunia memutar balik kata kasih itu dan kemudian kita terima.

Saya coba untuk bicara secara sederhana 2 hal saja, Yesus mengatakan, “Aku memberikan perintah yang baru kepadamu, supaya kamu saling mengasihi, sama seperti Aku telah mengasihi kamu, demikianlah engkau harus saling mengasihi.” Maka perhatikan implikasi dan aplikasi terhadap kalimat ini. Pertama, ketika kita mau bicara mengenai kasih, maka standarnya adalah Kristus itu sendiri. Dan ketika kita bicara mengenai Kristus, maka kita bicara mengenai pribadi Kristus. Apa implikasinya? Maka ketika kata kasih kita munculkan, saudara dan saya tidak pernah boleh memisahkan dengan karakter Kristus yang lain. Berapa banyak dari kita, selalu jatuh di dalam masalah ini. Ketika kita bicara mengenai kasih: “Aku mengasihi engkau,” atau kita menuntut orang lain mengasihi, “Engkau seharusnya berlaku kasih,” atau mungkin engkau meminta gereja untuk lebih mengasihi, “Pak, apakah gereja ini lebih mengasihi?” Saya tanya kepadamu, apa yang ada di dalam pikiranmu? Kita sering memisahkan antara kasih ini dengan sifat Kristus yang lain. Dan itu adalah kasih dunia. Kristus itu kasih, itu benar. Tetapi Kristus juga adalah kebenaran, itu benar. Dan Kristus itu adil, itu benar. Dan Kristus itu suci, itu benar. Dan itu adalah Kristus. Maka kalau saudara berbicara mengenai kasih, saudara tidak bisa memisahkan dari pribadi Kristus dengan seluruh sifatnya. Ketika kita memisahkan kasih Kristus dengan seluruh sifat-Nya, itu adalah tanda dari orang munafik. Itu adalah tanda anak-anak kegelapan. Orang munafik adalah orang yang menginginkan sifat-sifat Kristus yang baik, yang berguna, bermanfaat bagi dia, dan memisahkan sifat-sifat yang menyerang dia. Ini adalah tanda anak kegelapan, tetapi tanda anak terang adalah the whole Christ ((Kristus secara keseluruhan), menerima, merangkul, mendekati keseluruhan Kristus.

Sama dengan pengkhotbah, saudara bisa melihat apakah itu hamba Tuhan yang asli atau palsu dengan melihat apakah dia mengotbahkan the whole council of God, sama seperti yang dituliskan di dalam Alkitab. Paulus mengatakan, “Aku mengotbahkan seluruh the council of God,” tetapi pengkhotbah yang palsu akan memilih-milih ayat yang disukai oleh dia dan jemaatnya, dan terus mengkhotbahkannya sampai mati, dan orang-orang seperti ini tidak akan mengenal Kristus di dalam Alkitab, tetapi mengenal Kristus yang diimajinasi oleh pengkhotbah palsu tersebut. Maka kalau saudara melihat di dalam Alkitab, Kristus yang adalah kasih itu, apa yang dilakukannya? Kristus yang kasih itu bisa bicara kepada Israel, dan membalik seluruh meja penukar uang di bait suci itu sambil mengatakan, “Engkau sudah membuat rumah Bapa-Ku, rumah doa sebagai tempat untuk berjual beli.” Kristus yang adalah cinta itu, memulai pelayanan-Nya dan mengakhiri pelayanan-Nya dengan kemarahan memuncak kepada gereja. Dia bukan datang mengelus-ngelus gereja, dia datang marah kepada gereja-Nya. Mari kita lihat hal yang lain, Kristus yang kasih itu mengatakan kepada penyesat, “Pergi engkau, hai pembuat kejahatan.” Dan dia berkata kepada orang-orang banyak, ketika dia berhadapan dengan anak kecil, “Siapa yang menyesatkan dia, maka lebih baik batu kilangan diikatkan di lehernya dan dia dimasukkan hidup-hidup, ditenggelamkan di bawah laut.” Kalau saya bertemu dengan pengkhotbah yang sesat, terus kemudian saya bilang, lebih baik batu kilangan diikatkan di lehernya dan dimasukkan hidup-hidup di laut. Lalu yang mendengar itu akan bilang apa? “Memang Pak Agus ini reformed yang sejati, sudah kaku, marah terus, sudah tidak ada hati yang luas. Engkau tidak mengerti apa itu kasih.” Lihat Alkitab! Guru palsu ketika diserang seperti ini, selalu bilang, “Kamu gak ada kasih.” Yang bilang Tuhan Yesus sendiri, jadi pada waktu Tuhan Yesus hidup, maka saudara akan bilang sama Dia, “You tidak tahu apa itu kasih.” 

Yohanes, rasul Yohanes disebut sebagai rasul kasih. Rasul Paulus itu rasul iman. Rasul Yakobus itu rasul tindakan. Rasul Yohanes itu rasul kasih. Sebelumnya dia adalah anak guntur, Boanerges, dan dia menjadi rasul kasih. Kalau saudara melihat tulisan extra biblical yang sungguh-sungguh pernah terjadi dalam sejarah, suatu hari rasul Yohanes itu sedang berendam di kolam renang umum. Dia sedang berendam dan ngobrol dengan murid-muridnya, tiba-tiba ada satu orang pengajar sesat. Begitu orang itu masuk ke kolam itu, maka rasul Yohanes cepat-cepat keluar, dia tidak mau jadi satu. Kalau kita, “Mesti dirangkul pak, mesti didekati pak,” Saudara lebih rohani dari rasul Yohanes, lebih rohani dari Yesus. Itu adalah teknik setan untuk mengacau kita. Yesus yang kasih itu, kemudian Dia mengatakan: “Engkau orang ahli taurat dan orang Farisi, engkau seperti kuburan. Di luarnya putih, di dalamnya bangkai.” Saya tanya, hamba Tuhan kalau ngomong itu zaman sekarang, siapa yang bisa tahu, siapa yang bisa mengenali ini hamba Tuhan sejati? Dan kalaupun saudara mengetahui ini hamba Tuhan sejati, saudara berani atau tidak bicara ini? Kasih itu apa? Apa yang saudara pikir, dan apa yang saya pikir apakah sesuai dengan Alkitab?

Sekarang saya beri satu lagi, makin saya beri satu lagi, saya harap saudara makin goncang. Kamu ndak boleh ngomong di belakang orang, itu namanya tidak ada kasih. Itu tidak gentle. Mari lihat Matius 23:1-3. Nah ini jelekin orang lain kan saudara? Ini kan jelekin orang lain? Bukan di depan orang Farisi, di depan murid-muridnya sama orang-orang golongannya. “Tidak boleh ya?” atau “Oh Pak, sekarang saya tahu itu boleh.” Memang saudara-saudara sukanya begini. Berdasarkan ayat ini, saya boleh ngomongin orang di belakang orang lain. Saudara diajarkan apa saja, isinya tetap dosa. Saudara harus lihat, ini bukan soal do and don’t. Ini saudara boleh melihat, Dia memiliki tujuan apa, Dia memiliki motif apa, dan konteksnya seperti apa, kita tidak bicara sekarang, yang jelas ketika kesucian itu diperjuangkan, Kerajaan Allah itu diperluas bukan untuk mendeskreditkan atau mematikan karakter orang lain. Satu persatu tindakan yang tadi saya bicara itu kalau saudara perlu eksposisi-eksposisi untuk mengerti sebenarnya kasih itu seperti apa. Sekali lagi tujuan saya adalah untuk membuat saudara bisa menyisihkan sedikit partikel-partikel kesesatan, partikel-partikel yang jahat yang mencemari kasih Allah yang suci, yang kita itu mengerti dari Alkitab. Makin saya bicara, makin saya takut. Makin saya bicara, saya tahu ini bukan sesuatu yang mudah. Ini luar biasa sulit. Bukan karena Alkitab itu menyusah-nyusahkan kita, tetapi karena dunia itu sudah menempel erat dengan pengertian kasih kita. Ketika saudara dan saya bicara kasih, sering sekali kita itu melawan Allah. Begitu banyak anak muda, ketika bicara mengenai ‘aku mengasihi engkau’, itu artinya seks bebas. Kasih itu tidak mungkin bisa dilepaskan dari kesucian. Banyak orang itu menyatakan kasih, harusnya engkau mengasihi. Maksudnya adalah kasih saya surat izin / licence untuk berdosa. Sifat Allah ini, perlindungan bagi semua orang yang berdosa tapi tidak mau bertobat. Saya katakan kepadamu, jikalau engkau melakukan ini, engkau akan dihancurkan dalam kematian. Engkau memperkosa sifat Allah. Oh, Allah itu kasih, maka terimalah saya apa adanya. Saya tidak perlu bertobat. Tetap pada kejahatan saya. You harus terima saya karena engkau hamba Tuhan, karena engkau anak Tuhan. Engkau harus punya sifat seperti Allah. Allah itu menerima saya apa adanya. Saya tanya kepadamu dan jawab saya, “Benar atau tidak Allah menerima saya apa adanya? Benar atau tidak?” Ayo jawab! Benar atau tidak? Jawabannya adalah tidak. Sama sekali tidak. Saya manusia berdosa. Teologia tentang Allah menerima saya apa adanya, adalah saya tidak perlu untuk berbuat baik dulu, lalu saya mengatakan, “Tuhan, saya sudah berbuat baik, terima saya ya karena perbuatan baik saya!” Sehingga itu adalah jasa yang saya tawarkan kepada-Mu. Tuhan mengatakan, “Semua kebaikanmu itu seperti kain kotor di depan-Ku.” Kita tidak bisa menyogok Allah dengan perbuatan baik. Allah menerima kita apa adanya, itu artinya engkau dan saya tidak perlu, tidak bisa berbuat baik untuk mendapatkan jasa / reward dari Tuhan untuk menerima saya. Tetapi prinsipnya, maka kalau Dia tidak meminta saya untuk berubah dulu atau tidak meminta saya untuk berbuat baik supaya Dia menerima saya, maka ketika Allah menerima saya, Dia bisa merangkul saya orang berdosa, maka Kristus harus mati. Allah tidak bisa menerima kita apa adanya kalau Kristus tidak mati. Kristus harus di tengah-tengah saya dengan Allah, baru Allah menerima saya orang yang berdosa; ‘apa adanya’. Tetapi juga di dalam Alkitab dikatakan ketika kita sudah di dalam Kristus, maka saudara-saudara Roh Kudus akan membuat kita terus bertobat dalam segala sesuatu membuat kita disucikan. Kalau kita tidak mau bertobat, Allah tidak mungkin menerima kita.

Suatu hari wanita yang berzinah itu datang, dibawa oleh semua orang Farisi, ahli Taurat. Kemudian Yesus ditantang, “Ini harus diapakan? Menurut hukum Musa harus dilempar batu.” Lalu Yesus menunduk di tanah dan menulis sesuatu. Alkitab tidak katakan Dia menulis apa. Tetapi banyak penafsir mengatakan sangat mungkin Yesus menulis 10 perintah Allah. Jadi Dia menulis perintah Allah pertama, ke-2, ke-3. Dalam Alkitab dikatakan begitu orang-orang itu melihat, mereka meninggalkan satu persatu dari tempat itu, mulai dari yang tertua karena yang tertua paling banyak salahnya. Satu persatu ditulis, Yesus tidak sambil melihat mereka. Satu persatu ditulis orang-orang satu persatu pergi mulai dari tertua dan kemudian setelah selesai, Yesus melihat tidak ada satu pun orang. Kemudian Yesus bertanya kepada perempuan itu, “Ke mana mereka?” “Pergi semua Guru.” Perempuan ini sudah di bawah, sudah di tanah, sudah penuh dengan debu, ada air mata, ketakutan karena sebentar lagi dirajam. Perhatikan kalimat Yesus, “Aku pun tidak akan menghukum engkau. Pergilah. Tetapi jangan berbuat dosa lagi.” Dia tidak berkata, “Pergilah dengan damai sejahtera.” Enggak ada. Allah meminta kita suci. Allah mau menerima ketika kita itu jatuh, tetapi Dia tidak akan menerima kalau kita itu ngotot, tetap mau jatuh, maka harus bertobat. Dia tidak mau menerima anak-Nya apalagi orang-orang Kristen yang sejati terus-menerus berkanjang di dalam dosa. Banyak dari kita hidup dalam delusi. 

Allah itu mengasihi. Suatu hari saya masih ingat waktu anak saya pernah ngomong, waktu masih kecil saya, kalau enggak salah Timothy. Dia tanya begini, “Papa, Tuhan itu cinta? Allah itu kasih, kan?” Saya menjawab, “Iya.” Dia bertanya, “Allah kasih Papa.” Saya menjawab, “Iya.” Kemudian dia bertanya lagi, “Allah kasih aku.” Saya menjawab, “Iya.” Dia bertanya, “Allah itu kasih.” Saya menjawab, “Iya, Allah itu kasih. Allah itu maha kasih.” “Lalu Allah kasihi temanku gak?” “Iya”, jawab saya. “Siapa saja dikasihi”, saya bilang gitu. “Oh, gitu. Jadi Allah kasih kepada setan juga yah?” Saudara, ini konsepnya cinta. Allah mengasihi. Begitu, saudara sudah bicara kasih, saudara gak ada barrier-nya, gak ada batasannya. Siapapun saja harus dikasihi. Gak, jawabannya gak. Oh, Allah mengasihi maka engkau harus mengasihi orang sesat. Gak. Allah mengasihi, maka Allah mengasihi orang yang gak mau bertobat? Tidak. Allah mengasihi, maka Allah mengasihi setan? Tidak! Allah mengasihi maka Allah itu mengasihi kesesatan? Tidak! Jawabannya seluruhnya tidak. Kita harus bertobat banyak hal di dalam hal ini. Sekali lagi kalimat ini terus-menerus diumbar-umbar oleh semua pengkhotbah sesat dan juga diumbar-umbar oleh pendosa-pendosa yang tidak mau bertobat. Ketika saya mendengar, bukan sekali, 2 kali, begitu banyak, gampang sekali bilang, “Kita harus mengasihi.” Saya diam, saya tidak bicara, saya tidak menghakimi secara mulut. Saya menilai di dalam hati saya, “Apa yang engkau sudah lakukan sehingga engkau mengatakan harus mengasihi?” Banyak orang mengatakan kita mesti mengasihi orang berzinah itu. Karena dia sendiri sudah berzinah, menyimpan dosa zinah dalam hatinya. Ini penipuan. Allah yang suci mengasihi berzinah. Dia itu suci adanya. Kita mesti mengasihi orang LGBT. Kita tidak boleh mengutuk mereka. Tetapi itu dosa dan itu harus dikatakan dosa. Sama seperti, kita mengasihi orang yang mencuri, tetapi dia harus mengatakan aku mencuri, aku berdosa. Tidak bisa tidak.

Saya akan berikan satu keadaan lagi, dan mungkin setelah saya bicara ini banyak orang tidak suka sama saya. Ketika Allah bicara mengasihi maka semua itu menjadi harmonis. Ketika Allah mengatakan mengasihi, Dia sendiri berkorban, berdarah, hancur karena kasih itu. Tetapi berapa banyak kita menganggap diri kita, saya sedang bertindak mengasihi. Tetapi ternyata makin kita mengasihi, makin orang lain hancur. Makin kita mengasihi orang itu, yang kita katakan mengasihi, makin orang itu hancur. Kenapa saya bicara ini? Karena saya diingatkan akan satu peristiwa beberapa hari yang lalu. Tapi peristiwa ini bukan satu. Sebagai gembala kami sudah begitu banyak konseling. Ada puluhan, ratusan kasus seperti ini. Saya harus bicara kepada saudara bukan saja untuk engkau, tetapi juga untuk jiwa saya. Banyak orangtua yang katanya mengasihi anak, tetapi akhirnya anaknya itu hancur. Banyak orangtua terutama mama yang begitu dominan mengatakan cinta kepada anaknya dan anak laki-lakinya menjadi dysfunction. Saya katakan sebagai hamba Tuhan, sungguh-sungguh dengan hati yang takut kepada Tuhan bukan untuk menyinggung saudara. Tetapi kalau ini menyinggung, biarlah engkau tahu ini adalah sesuatu terang di dalam Alkitab. Begitu banyak rumah tangga anak kita kemudian goncang sampai hancur, sampai mereka (suami istri) itu berpisah karena anak laki-lakinya terus datang kepada mamanya, tidak mau dilepas oleh mamanya. Terus-menerus mamanya mengambil keputusan kepada anak laki-lakinya. Dari kecil disayang sedemikian rupa. Sayang dan akhirnya menjadi mendominasi. Sayang, akhirnya sayang yang self-centered. Allah kita itu lembut, Allah kita itu menguasai, tapi Dia tidak pernah memaksa. Saudara perhatikan ini. Kalau saya masih menjadi anak murid sekolah teologi, gak mungkin bisa mengatakan ini. Tetapi saya bisa mengatakan ini karena pengalaman puluhan, ratusan konseling, salah satu terbanyak itu adalah case ini. Kata cinta ini dengan self-centered sudah gak bisa dibedakan menjadi satu. Aduh, ini menyakitkan sekali. Ini adalah sesuatu kenyataan. Sama seperti anak muda. Aku cinta. Katanya dia cinta, terus kemudian seks bebas kemudian putus. Menyakitkan. Sekali lagi ketika kita menerima sifat kasih Kristus tetapi tidak mau bicara mengenai kesucian, kebenaran, penghakiman, juga tidak mau bicara berkenaan dengan korban cinta agape yang memberi; sesungguhnya kita tidak kenal Kristus. Sesungguhnya kita menggunakan kasih itu persis seperti yang dunia, setan dan dosa itu tawarkan kepada kita. Begitu banyak kesesatan di dalam kegelapan ini.

Saya belum bicara berkenaan dengan kasih itu apa. Saya hanya bicara mengenai kasih itu tidak harus seperti itu. Itu dalam Alkitab. Kiranya kasihan Tuhan menyertai kita. Mari kita berdoa.

GRII Sydney

GRII didirikan di atas dasar Pengakuan Iman Reformed Injili dengan tujuan menegakkan satu gereja yang berbasiskan teologi Reformed, dengan mimbar yang menyampaikan khotbah ekspositoris, read more