Yoh 13:31-35
Sekali lagi, ini adalah kalimat-kalimat Yesus di dalam waktu-waktu terakhir sebelum Dia mati. Dia mengumpulkan murid-murid-Nya dan melakukan perjamuan terakhir. Setelah Dia melakukan perjamuan terakhir, Dia menyuruh, Dia meminta, Dia memperbolehkan Yudas untuk pergi. Kemudian Dia berbicara hanya kepada 11 murid-Nya saja, tidak ada Yudas. Yudas tidak berhak untuk mendengar seluruh kalimat ini. Yudas tidak mungkin bisa mengerti kalimat-kalimat ini. Yudas juga tidak memiliki pilihan dari Allah untuk menjalankan kalimat-kalimat ini. Setelah Yudas pergi maka Yesus bicara kepada 11 murid. Mengapa Yesus harus bicara kepada 11 murid? Karena sebentar lagi akan ada kegelapan yang besar. Karena kegelapan yang besar itu akan menghantam mereka semua. Yesus sendiri mengatakan, “Ini waktunya evil itu bergerak.”
Saudara-saudara, maka Yesus mengatakan, “Engkau saling mengasihi. Engkau harus saling mengasihi.” Karena ketika evil itu bergerak, ketika kita berada di dalam kejahatan, maka saudara akan tahu, paling mudah untuk kita berpisah, paling mudah untuk kita menyalahkan satu dengan yang lain. Kalau seluruhnya kita baik, kita sehat, kalau seluruhnya kita lancar, seluruhnya kita bergandeng tangan, tetapi begitu ada kesalahan, begitu ada goncangan, ada sesuatu yang terjadi dan itu merugikan, sangat mudah orang Kristen lalu mengatakan, “Keluar! Aku tidak mau lagi di sini. Engkau yang bersalah. Engkau jelas yang bersalah.” Saudara-saudara, lalu seluruhnya menjadi pecah. Saudara-saudara, itu ‘kan yang terjadi dalam hidup kita? Itu ‘kan yang terjadi di dalam gereja? Kita sangat mendukakan Allah karena kalimat ini. Kita tidak mengandalkan Roh Kudus Allah untuk memelihara kasih kita. Kita menghadapi semua anak-anak Allah yang beserta dengan kita dengan spirit seperti dunia, persis seperti orang belum lahir baru. Kalau cara kita menyelesaikan masalah seperti itu, tidak perlu Roh Kudus. Kalau cara kita menyelesaikan perselisihan seperti itu, tidak perlu Yesus mati di atas kayu salib. Tidak perlu sangkal diri. Tidak perlu memikul salib, saudara. Terus saja pegang kesalahan orang lain seumur hidup saudara. Dan engkau tahu, engkau tidak bisa mengerti apa itu doa Bapa Kami. Ampunilah kami sebagaimana kami mengampuni orang lain. Oh, gereja Kristen mengapa seperti ini? Bukankah Yesus mengatakan, “Kasihi, engkau harus mengasihi.” Dia tahu. Dia kepala gereja. Dia pemimpin dari seluruh rasul. Sebentar lagi kejahatan datang. Oh, semua murid-murid-Nya saling mengasihi, peluk-pelukan, “Ayo kita di dalam Kristus, kita ciptaan baru.” Yesus tahu, kalau engkau tidak mengerti hal ini, you pasti akan tercerai-berai. Semuanya baik. Tetapi ketika aku memberikan providence yang buruk, engkau akan saling menyalahkan, engkau akan saling pergi.
Saudara-saudara, beberapa minggu ini saya pikir-pikir, gereja itu apa ya? Orang Kristen itu apa ya? Saya ini seperti apa ya? Apakah saya sungguh-sungguh orang yang diubah, sehingga ketika ada masalah yang sama dengan dunia itu, saya bisa berespon dengan tepat seturut dengan Firman karena ada Roh Kudus? Banyak dari keluarga-keluarga kalau dahulu pada waktu pernikahan, semuanya ya pasti lihat istri atau suaminya paling cantik, paling ganteng di seluruh dunia. Tetapi kemudian setelah 15-20 tahun melihat orang, kok kayak begini. Saudara bahkan masuk dalam pernikahan, satu hari lagi masuk untuk meneruskan pernikahan sulitnya luar biasa. Sudah tidak ada chemistry-nya yang sama, tidak cocok sama sekali, dua dunia yang berbeda. Lalu kita pasti memikirkan bagaimana caranya untuk berpisah tetapi tidak berani. Spirit seperti itu tidak pernah diselesaikan di hadapan Allah. Dibawa sekarang kepada lapis kedua yang lebih dekat. Lapis kedua yang lebih luar dari keluarga yaitu gereja. Begitu sudah bicara mengenai gereja, tidak ada salah doktrin loh, tidak ada. Kalau doktrinnya salah, saudara keluar, tidak ada dosa. Kalau ada penyelewengan uang, saudara keluar. Tetapi tidak ada semuanya. Isinya apa? Cuma satu. Tersinggung. Cuma itu. Kita mau hidup seperti apa? Saudara pengin seperti Tarzan di dunia yang tersendiri tidak ada siapa-siapa, itu tidak akan tersinggung saudara-saudara, mungkin monyet yang tersinggung sama kita. Saudara-saudara, kalau kegelapan itu masuk, kita selalu saling menyalahkan. Maka kalau itu terjadi, kita tidak mungkin menang terhadap kuasa kegelapan. Tidak usah bicara menjadi saksi Kristus, kita tidak mungkin menang terhadap dosa yang menguasai kita seumur hidup sampai kita mati. Sebelum kegelapan itu masuk, Yesus sudah mengatakan, “Saling mengasihi sebagaimana Aku mengasihi engkau.” Dia ulangi lagi, “Engkau harus saling mengasihi satu dengan yang lain.” Tetapi bukan saja itu untuk menangkal kegelapan, tetapi adalah untuk meneruskan pekerjaan Kristus karena sebentar lagi Kristus naik ke surga.
Seluruh pekerjaan keselamatan yang diberikan Allah Bapa kepada Kristus sudah digenapi, dan sekarang tugas itu harus disebarluaskan di tengah-tengah dunia sampai Kristus datang untuk yang kedua kali. Dan ini kemudian diberikan kepada siapa? Yesus sudah tidak di dunia. Ini diberikan kepada siapa? Kepada Roh Kudus yang akan memakai gereja yang bersatu. Saudara-saudara, gereja yang bersatu menerima tugas dari Kristus, bergerak dengan kesatuan kuasa Roh Kudus. Ini adalah isi hati Tuhan. Kalau kita tidak memiliki kasih, jangan pikir kita bisa mengerjakan suatu pengaruh kepada dunia yang besar. Perhatikan baik-baik! Satu terang dan kegelapan bertempur di dalam komunitas. Saudara-saudara, ini adalah prinsip. Saudara jangan pikir bahwa aku jadi orang Kristen baik-baik, menjaga kesucian, aku bisa menjadi garam dan terang. Tidak pernah bisa! Saudara-saudara, saudara terang dan garam dunia? Pernah masak? Pasti dong. Saudara pernah, satu baskom makanan apa pun yang saudara-saudara mau makan, sayur, lalu saudara ada garam. Saudara masukkan garamnya berapa? Satu butir garam. Bisa asin? Bisa dimakan? Tidak pernah. Saudara-saudara, kita memerlukan orang lain untuk menjalankan mandat Kristus. Saya memerlukan saudara, saudara memerlukan saya, saudara memerlukan saudara di samping saudara, saudara memerlukan suami istri saudara, untuk bisa dipakai oleh Tuhan. Orang Kristen yang menyendiri, engkau pikir bahwa engkau memiliki kerohanian yang baik, sama sekali tidak, engkau pasti tidak mungkin bisa mengerjakan pekerjaan Tuhan di dunia.
Beberapa jam lagi Yesus mati, beberapa hari lagi Yesus naik ke surga, dan seluruh tugas sekarang diberikan kepada murid-murid. Sebelum itu terjadi, Yesus mengatakan, “Aku memberikan perintah yang baru kepadamu.” Perintah. Aku memberikan perintah, “Ini kehendak-Ku. Kasihilah satu dengan yang lain.” Ini adalah sesuatu yang agung. Saya tahu ini sesuatu yang dalam dan sulit. Itulah sebabnya saudara-saudara, saya pernah sharing, saya sharing lagi, satu khotbah yang paling saya jarang sentuh itu adalah kasih. Saya sudah mendengarkan begitu banyak khotbah tentang kasih, tetapi saya melihat ada lubang-lubang yang tidak kelihatan. Tapi di tempat yang lain, apakah saya layak? Saya sama sekali tidak layak. Itulah sebabnya minggu yang lalu saya katakan saya tidak mau panjang lebar untuk bicara ini karena ini pun panjang lebar saya tidak mungkin bisa membahasnya. Tetapi bagaimana sekarang Firman ini diperhadapkan kepada saya, saya mesti memikirkannya, saya mesti men-digest-nya, saya mesti memikirkannya secara dalam, memeditasikannya, saya harus mengotbahkannya. Tetapi saya harus hati-hati sekali. Maka saya memutuskan di dalam hati saya, kecuali Tuhan memberikan sesuatu hal yang lain, saya hanya akan bicara beberapa hal saja untuk membuat saudara dan saya mengerti kasih itu dari seluruh impurity, hal-hal yang tidak benar menurut Alkitab itu dikeluarkan. Saudara-saudara, minimal itu bisa memberikan insight kepada jiwa kita. Terlalu dalam, terlalu luas, terlalu sulit untuk dijangkau, terlalu mudah untuk disalah mengerti.
Hal sederhana saja, minggu lalu saya belum munculkan. Saudara-saudara, di Alkitab dikatakan: Setelah Yudas pergi, baru Yesus mengatakan kepada 11 murid, “Kasihilah satu dengan yang lain.” Saya tanya, “Yesus meminta mereka mengasihi Yudas atau tidak? Ya atau tidak?” Jawabannya tidak. Yesus tidak meminta mereka mengasihi Yudas. Yesus meminta mereka mengasihi sesama anak Tuhan yang sejati. Sehingga kalau saudara mengatakan di dalam gereja kita seluruhnya harus mengasihi, saya tanya kepada saudara-saudara, “Saudara mengasihi itu, siapa yang saudara kasihi, itu adalah domba atau serigala berbulu domba?” Tidak semua itu harus dikasihi. Tapi kalau saya khotbah seperti ini dan kemudian saya titik sampai di sini, nanti saudara ketemu sama orang yang tidak suka, kemudian saudara bilang ini serigala berbulu domba, semuanya akan jadi lawan saudara. Susah bukan? Menakutkan bukan? Itulah sebabnya sulitnya luar biasa. Hal-hal seperti ini akan Tuhan ajarkan ketika kita makin bertumbuh mengenal Dia.
Saudara-saudara, kembali ke sini. Yesus mengatakan, “Aku memberikan perintah yang baru kepadamu.” Apanya yang baru? Tiga hal. Pertama, standarnya baru: “Seperti Aku mengasihi engkau.” Kedua, komunitasnya baru. Ini tidak pernah ada komunitas yang dibentuk oleh Allah sebelumnya selain dari gereja. Ini adalah komunitas yang Kristus sendiri mati di dalamnya dan kemudian Kristus meminta semua orang yang sudah ditebus-Nya memiliki kasih yang sama dengan Dia. Dalam hal ini kata agape muncul. Kita semua tahu di dalam bahasa Yunani ada empat kata yang dipakai untuk kata cinta. Kalau Indonesia semuanya cinta. Misalnya, saya bicara sama anak saya, “Papa sayang sama kamu, Papa cinta sama kamu.” Lalu kemudian kakak sama adik, “Aku cinta sama adik saya.” Nanti ada teman dekat, “Aku mengasihi dia.” Semuanya pakai kata cinta. Tetapi di dalam Yunani ada empat kata yang berbeda untuk cinta. Kalau saya mengasihi sahabat saya, maka kata yang dipakai adalah philia. Kalau saya mencintai istri atau anak saya, itu nama katanya adalah storge. Kalau saya bersama dengan istri saya melakukan suatu hubungan seksual yang yang murni, itu namanya adalah eros. Nah, ini adalah semua kata yang berbeda karena tujuannya itu berbeda.
Kata yang dipakai oleh Yesus di sini adalah agape. Ini pun suatu kata yang besar sekali. Tetapi saya coba untuk meringkaskannya. Dan saya suka dengan kalimat yang saya temukan ini. Agape itu apa? Agape adalah kepedulian yang terarah kepada orang lain yang diekspresikan dengan pengorbanan pribadi yang besar. Seperti Kristus Yesus yang inkarnasi dan disalib. Sekali lagi, agape itu apa? Yaitu suatu kepedulian yang terarah kepada orang lain, yang diekspresikan dengan pengorbanan pribadi yang besar yang seturut dengan Yesus Kristus yang inkarnasi dan disalib. Itulah sebabnya ketika kata ini muncul di tempat ini atau di seluruh tempat dalam Alkitab, ketika kasih itu muncul, ketika saudara dan saya mengatakan kasih, maka saudara-saudara tidak mungkin dilepaskan dari pengenalan Kristologi. Sekali lagi, jangan pernah bicara aku mengasihi engkau kalau saudara-saudara tidak memiliki Kristus. Jangan pernah mengatakan aku mengasihi engkau, kalau kita tidak bertumbuh mengenal Kristus. Jangan pernah mengatakan aku mengasihi engkau, kalau saudara dan saya tidak mengabdi dan taat kepada Kristus. Seluruh kata kasih, ketika itu keluar dari mulut kita tetapi tidak direlasikan dengan Kristus, itu adalah kasih dunia, itu adalah dari setan yang mengacaukan bahasa ini di dalam hidup kita.
Saya paling suka dengan satu ilustrasi, dulu saya sudah pernah mengatakan, kalau saudara ada di rumah makan, ditanya, “Kamu pengin makan apa?” Lalu kemudian dia mengatakan, “I love crab.” Saya suka sekali, cinta sama kepiting. Artinya kepiting mesti mati buat kita. Tetapi ketika agape, kamu harus saling mengasihi, itu artinya aku mengasihi engkau, aku mau korban untuk engkau. Allah di surga menyatakan gaungnya “Hai umat manusia, Aku sangat mengasihi engkau, maka Aku kirimkan Anak-Ku yang Aku kasihi kepadamu.” Itu korban, sacrifice. Kristus juga mengatakan yang sama, “Aku mengasihi engkau”, maka salib itu terjadi. Kalau kita tidak hati-hati, setiap kali kita bilang, “Aku mengasihi engkau”, maka yang disalib itu adalah engkau. Aku yang akan matikan engkau. Aku yang mau mati bagi engkau. Maka saudara-saudara, kita biar hati-hati ketika bicara aku mengasihi, aku mengasihi. Sekali lagi, kepada semua pemuda-pemudi di sini, jangan cepat-cepat bicara cinta. Dan kalau ada perempuan yang dikasih tahu sama laki-laki, “Aku mencintai engkau”, maka saudara yang perempuan langsung tanya, “Maksudnya itu persis crab yang Pak Agus bilang ya?” Makin dikasihi makin kepala saudara putus. Saudara-saudara, kita terlalu berdosa dengan kalimat ini. Sekali lagi, ketika kalimat “kasih” ini muncul, maka saudara tidak mungkin bisa memisahkan dengan Kristus. Di dalam Alkitab dikatakan, “Kasihilah satu dengan yang lain sebagaimana aku mengasihi engkau.” Minggu yang lalu saya sudah katakan, yang pertama itu artinya kasih ini standarnya adalah Kristus, maka kasih ini tidak bisa dipisahkan dengan sifat Kristus yang lain. Saudara tidak mungkin bicara mengasihi kalau saudara tidak bicara mengenai kebenaran. Saudara tidak mungkin bicara mengasihi kalau saudara tidak bicara mengenai kesucian. Saudara tidak boleh bicara mengasihi kalau saudara tidak bicara berkenaan dengan suatu kebenaran dan juga keadilan. Kita bicara mengenai satu sifat Kristus yaitu kasih, saudara tidak boleh memisahkannya dengan sifat yang lain. Begitu saudara pisahkan, itu artinya kita adalah orang munafik. Kita harus menerima, kita harus embrace, kita harus memeluk the whole Christ.
Saudara-saudara, pagi ini, hal yang kedua, ketika kita bicara mengenai kasih, standarnya Kristus, maka jalannya adalah makin kita kenal Kristus, kita akan makin mengenal apa itu kasih yang sesungguhnya. Kalau kita bertumbuh mengenal Kristus, Dia akan membentuk kasih agape di dalam hidup kita. Kalau kita makin kenal Kristus, maka kita akan makin mengalami apa itu kasih ilahi. Makin kita bertumbuh, makin kita bisa memberi kasih itu. Sekali lagi, kasih itu parallel dengan pertumbuhan rohani, kasih itu paralel dengan ketaatan, kasih itu paralel dengan pengabdian. Saudara-saudara, ini crucial, ini penting sekali. Orang Kristen terlalu berani, terlalu kita dengan kalimat saja sudah begitu menyakiti hati Tuhan. Ada orang bicara sama saya, “Oh, saya tidak setuju.” Tidak apa-apa, orang tidak setuju itu tidak apa-apa, setiap orang bisa beda-beda. Tetapi kemudian dia menggunakan satu kalimat di belakang itu yang saya tahu langsung tidak jujur. Dia mengatakan, “Visi kita lain.” Hah, visi? Visi? Kalimat itu terlalu besar. Engkau berani sebagai seorang yang tidak terlalu punya pengalaman, pengalaman di dalam pelayanan, berani bilang visi yang berbeda. Saudara-saudara, banyak pendeta-pendeta palsu bilang, “Saya dapat visi dari Tuhan.” Oh, itu dosanya seberapa besar? Saudara perhatikan, jangan asal main-main bicara mengenai visi. Visi itu adalah satu isi hati Tuhan yang tersembunyi di dalam kekekalan, dan kemudian dibukakan kepada hamba Tuhan tertentu apa yang harus dijalankan masa kini. Berarti dia mengaku diri hamba Tuhan. Sekarang saya tanya engkau yang berani bicara visi, saya tanya, “Engkau punya hubungan sama Tuhan baik? Saat teduhmu itu lancar? Engkau sungguh-sungguh mengabdi hidupmu untuk kemuliaan Tuhan, ya atau tidak? Jawab!” Kita saja yang belajar untuk mengikuti Allah, mengejar Allah, tidak berani terlalu bicara mengenai visi. Kalau saudara-saudara mendengarkan dengan teliti apa yang saya katakan kepada saudara-saudara sepanjang 11-12 tahun saya di sini, setiap kali gereja ini saya minta untuk melangkah, saya mengatakan kalau saya tidak salah mengerti kehendak Tuhan, kelihatannya Tuhan suruh ke sana. Ketika kami harus keluar dari Indonesia dan pergi ke sini 12 tahun yang lalu, itu pun saya dalam hati, mungkin saya salah. Saudara-saudara jangan terlalu berani bicara mengenai visi.
Sekarang kata yang ke-2 adalah kasih. Orang bicara mengenai kasih tapi menuntut orang lain punya kasih, tapi dirinya sendiri tidak saat teduh bagaimana mungkin. Itu penipuan sunggguh-sungguh. Ketika bicara mengenai kasih, saudara dan saya tidak mungkin bisa pisahkan dari pengenalan yang bertumbuh kepada Kristus. Suatu hari saya memimpin satu kebaktian kurang lebih sekitar 700-800 orang, seluruhnya perwakilan dari seluruh cabang Indonesia. Dan ketika saya duduk, kemudian ada song leader yang menyanyi, dan sebelum saya khotbah, maka song leader itu menyanyikan lagu yang indah, dan nyanyiannya adalah Bapa aku mengasihi Engkau, Yesus aku mengasihi engkau, Roh Kudus aku mengasihi engkau. Saya duduk paling depan, 700-800 orang, ketika nyanyi song leader-nya angkat tangan. Tidak apa-apa, angkat tangan boleh, asal jangan angkat kaki pasti jatuh. Semua orang ada yang pegang tangan di hatinya, terus kemudian ada yang angkat tangan, begitu banyak yang menangis karena lagu itu indah. Saya cuma diam saja, saya tidak berani mengatakan aku mengasihi Engkau, saya bukan katakan saya tidak pernah mengatakan itu sama Tuhan, tapi saya sangat-sangat kecil bicara itu, menakutkan kata itu. Lalu saya kemudian diam, dan kemudian saya terpesona dengan suatu keadaan yang khusyuk dan indah itu. Saya tidak masalah dengan keadaan itu, banyak orang reformed masalah dengan keadaan itu, buat saya, saya tidak masalah. Tetapi mesti jujur, yang jadi masalah adalah kalau tidak jujur. Lalu kemudian song leader itu kasih kepada saya microphone-nya, dan kemudian setelah itu “Amin” dan kemudian duduk. Kemudian saya tanya, “Saudara-saudara, siapa yang dari saudara bersaat teduh setiap hari?” Palingan 5-10 orang. “Siapa yang dari saudara-saudara dalam 1 minggu bolong 2 atau 3?” Mungkin sekitar 50 orang. Kemudian saya tanya lagi, intinya sebagian besar tidak saat teduh. Wah sampai tahu keadaan seperti itu saya tidak bisa tahan, saya marahnya luar biasa. Saya bilang, “You semua penipu! Engkau mengatakan aku mengasihi Tuhan tetapi tidak baca Alkitab, itu dari mana definisinya?” Kita terlalu berani, menakutkan saudara-saudara. Itulah di dalam Alkitab Allah itu muak dengan ibadah kita. Ada orang pernah mengatakan, orang Kristen itu banyak nipu, dari hari Senin sampai hari Sabtu menipu orang, begitu Minggu menipu Tuhan. Saudara jangan pernah mengatakan aku mengasihi kepada siapa pun saja kalau kita tidak memiliki hubungan yang baik dengan Kristus dan mengenal dia bertumbuh. Seluruhnya itu kebohongan, itu seluruhnya perasaan dangkal. Saudara-saudara, sekarang dari perasaan dangkal ini saya akan membuktikan apa arti “kasih” itu sesungguhnya.
Apa yang Alkitab katakan ketika kita bicara mengenai kasih. Mari kita melihat sekarang satu deskripsi yang panjang lebar mengenai kasih, ada pada 1 Korintus 13. Mari kita melihat 1 Korintus 13, saya akan membacakan ayat yang pertama sampai ke-3 terlebih dahulu, dan saya akan mengelaborasi hal ini. “Sekalipun aku dapat berkata-kata dengan semua bahasa manusia dan bahasa malaikat, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama dengan gong yang bekumandang dan canang yang gemerincing. Sekalipun aku mempunyai karunia untuk bernubuat dan aku mengetahui segala rahasia dan memiliki seluruh pengetahuan; dan sekalipun aku memiliki iman yang sempurna untuk memindahkan gunung, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama sekali tidak berguna. Dan sekalipun aku membagi-bagikan segala sesuatu yang ada padaku, bahkan menyerahkan tubuhku untuk dibakar, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, sedikit pun tidak ada faedahnya bagiku.” Saudara perhatikan di dalam 3 ayat ini, saudara akan menemukan 4 hal yang sering menipu kita di dalam Gereja. Dan Paulus, saudara perhatikan cara Paulus, terus kemudian memunculkan hal-hal ini dan kemudian membandingkannya dengan kasih. Paulus tidak sama sekali terpikat dari 4 hal ini di dalam gereja Korintus. Tetapi 4 hal ini, itu yang sering sekali memikat kita orang Kristen. Empat hal ini apa?
Yang pertama adalah karunia. Saudara-saudara, di sini dikatakan karunia. “Kalau aku,” demikian kata Paulus, “Aku bisa berbicara dengan seluruh bahasa manusia dan bahasa malaikat.” Saudara-saudara, Paulus bicara ini, ini adalah sindiran yang keras, karena seluruh orang Korintus mengaku, “Saya punya kelebihan dari engkau, saya begitu dekat dengan Tuhan, saya berbahasa Roh, saya dekat dengan Tuhan.” Paulus kemudian tanya, “Buktinya apa?” “Saya punya karunia, karunia ini bahasa Roh.” Paulus kemudian mengatakan, “Hah, bahasa Roh? Saya kasih tahu sama kamu, saya punya seluruh kemampuan bahasa manusia. Punya kemampuan bahasa malaikat pun, kalau saya tidak punya agape love, nothing di dalam Kerajaan Allah.” Oh, engkau punya karunia akan jadi orang yang something, seseorang yang hebat di dalam gereja, tetapi nothing di dalam Kerajaan Allah. Tidak ada tanda-tanda keselamatan di dalam hidupmu. Orang bisa mengerti seluruh bahasa itu bagaimana saudara-saudara? Saya dahulu punya satu, bukan profesor saudara-saudara, cuma pengajar tapi dari Belanda, dia bisa 4 bahasa lain secara aktif, 3 secara pasif, seluruhnya 7 bahasa. Saya salaman sama dia gemetar saudara-saudara. Kalau dia jalan, bawa Alkitabnya bukan bahasa Inggris atau bahasa Indonesia, bukan juga Dutch, yang dibawa Novum Testamentum, itu adalah Greek asli. Dia ngomong begitu isinya semuanya Latin, Syriac semuanya. Wah ini orang pinter, kalau dia ada di dalam gereja, saudara-saudara pasti menghormati dia. Semua orang Korintus mengatakan aku dekat sama Tuhan, aku bisa bahasa Roh, Paulus katakan tidak ada gunanya. Kalau aku punya karunia untuk seluruh bahasa dunia dan bahasa malaikat pun aku tau, kalau aku tidak memiliki agape, perhatikan saudara-saudara ini yang Yesus katakan, “Kasihilah satu dengan yang lain, agape. You tidak ada bagian di dalam Kerajan Allah.” Paulus menyingkirkan karunia dan menaruhnya di bawah, tetapi agape di atas.
Sekarang yang ke-2 adalah dia mengatakan, “Kalau aku bernubuat sekalipun dan aku mengetahui segala rahasia, segala pengetahuan.” Saudara-saudara, itu apa? Itu prophetic, di dalam bahasa aslinya itu artinya khotbah. Saudara-saudara lihat, dari dulu sampai sekarang pengkhotbah itu memiliki tempat khusus di dalam gereja. Saudara boleh setuju boleh tidak setuju dengan khotbah itu, tetapi khotbah, mimbar, pengkhotbah itu punya karunia tertentu. Dan di dalam gereja, saudara mau dari Katolik yang paling lama, sampai saudara masuk ke Karismatik yang paling liar sekarang, saudara tidak bisa untuk katakan tidak, bahwa pengkhotbah itu memiliki satu status tersendiri. Nah saudara-saudara, ini adalah satu dari orang yang dipakai oleh Tuhan untuk menyambung lidah Allah. Dia harus belajar. Itulah sebabnya dia mengerti banyak hal, dan mengerti membelah Alkitab dan kemudian bicara kepada orang lain, mengajar orang lain. Tetapi Paulus katakan, “Kalau engkau tidak ada agapelove, engkau tidak ada hitungannya di depan mataku, tidak ada gunanya engkau di dalam Kerajaan Allah.” Saudara-saudara, ini bicara mengenai pelayanan. Paulus menyingkirkan pelayanan dengan seluruh jabatan dan kepentingannya di bawah agape love.
Sekarang hal yang ke-3 adalah iman. Kalau engkau punya iman untuk memindahkan gunung sekalipun, maka ini adalah bicara mengenai mujizat. Yang pertama adalah karunia, yang ke-2 adalah pelayanan, yang ke-3 adalah mujizat. Kalau saudara ketemu orang yang bisa bikin mujizat, saudara akan terpesona. Jangankan bicara mengenai mujizat, saudara datang sama orang lalu, “Tolong, saya lagi susah, tolong doakan.” Dia doa, terus doanya terkabul, saudara akan terpesona, ini pasti anak Tuhan sejati. Apalagi kalau saudara-saudara punya karunia menyembuhkan. Saudara sakit, lalu dibawa ke satu hamba Tuhan, didoakan, langsung sembuh. Pak Tong tidak punya karunia kesembuhan, tapi Pak Tong pernah bicara dia punya karunia mendoakan orang mati langsung bisa mati. Jangan khawatir, saudara-saudara tidak akan didoakan. Dia sendiri yang bicara, dia berkali-kali ada orang yang sudah sakit dan kemudian tidak mati-mati. Dia bilang, “Katakan sama orang itu, Pak Tong nanti doakan.” Dia doakan, beberapa jam kemudian mati. Oh, ini kesaksian dia sendiri, dia sendiri berkali-kali bertemu case seperti itu. Jadi kalau saudara-saudara ada putus asa dalam hidup, saudara-saudara boleh telepon, saudara nanti akan dikatakan sama dia, tidak boleh putus asa, bukan gila, tapi lagi, maju terus.
Nah saudara-saudara, tiap orang punya karunianya masing-masing. Ada orang seperti George Muller. George Muller itu punya anak-anak panti asuhan sampai 10.000 bukan 1.000. Saya sampai baca lagi, ini 1.000 apa 10.000? Ini benar-benar 10.000. Saudara-saudara, dia itu sering sekali susah kasih makan. Kemudian suatu hari, kokinya sudah katakan dari semalam, “Besok kita tidak punya makanan, bagaimana?” Lalu dia doa semalaman, dan pagi-pagi dia mengumpulkan anak-anak itu. Piring dan gelas yang ada dan semuanya kosong, dan kemudian dia memimpin doa, “Ayo anak-anak, berterima kasih sama Tuhan.” Dan kemudian dia tutup mata, “Tuhan Yesus, terima kasih untuk makanan (padahal belum ada), untuk semua yang Engkau berikan. Engkau adalah Allah yang baik, kami mau menikmati makanan ini. Terima kasih Tuhan Yesus. Amin.” Tok tok. Dibuka. Dan kemudian ada orang tidak pernah datang sebelumnya tanya, “Ini panti asuhan George Muller?” “Ya benar, ada apa pak?” Kemudian dia katakan, “Ini bos saya mau kasih makanan roti buat anak-anak.” Lalu, “Oh ya, terima kasih.” George Muller sudah tahu, lalu dikasih seluruh anaknya, semuanya makan. Kalau saudara baca biografinya, ini berulang-ulang kali terjadi. Saya bicara ini saja, bersaksi ini saja, hatimu pasti tersentuh. Allah itu besar, Allah itu hidup. Itu kenyataan, tetapi Paulus katakan, “Punya iman memindahkan gunung, engkau punya kekuatan untuk melakukan mujizat, tetapi engkau tidak memiliki agape love, nothing.” Benar-benar nothing.
Saudara-saudara, luar biasa. Karunia diletakkan di bawah, pelayanan diletakkan di bawah, mujizat diletakkan di bawah, terakhir apa? Perbuatan baik. Kemauan untuk berkorban. Di sini dikatakan, “Jikalau aku membagi-bagikan segala sesuatu yang ada padaku, bahkan menyerahkan tubuhku untuk dibakar, tetapi jika aku tidak memiliki kasih, sedikit pun tidak ada faedahnya bagiku.” Saudara-saudara, loh ini kok bisa begini ya? Orang ini mati bagi imannya, masakan orang ini tidak masuk surga? Orang ini kerja keras buat Tuhan, masakan orang ini tidak diterima oleh Tuhan? Ayat-ayat ini menguji kita. Sekarang saudara bisa bayangkan, hal yang sama Tuhan katakan kepada kita. Orang pergi ke Biak 2 minggu saja itu begitu banyak korban. Dia mesti meninggalkan anaknya atau suaminya, dia mesti menabung berapa puluh juta untuk sampai ke sana. Dan kemudian dia pergi ke sana, dia tidur di tempat yang tidak ada AC, tempat yang tidak nyaman, sungguh makan yang seadanya, semuanya kering, tidak enak sama sekali. Tetapi Tuhan katakan, “You korban, engkau melakukan pelayanan dengan sekeras mungkin dan engkau korban (apalagi kalau hamba Tuhan serahkan seluruhnya dan hidup bagi Tuhan), tetapi engkau tidak punya agapelove, nothing. Tidak ada gunanya.” Saya pikir-pikir, kenapa bisa tidak ada gunanya, padahal saya sudah korban.
Saya tidak bicara banyak, tetapi saya memberikan satu hint. Saudara-saudara, Maslow itu tahu prinsip ini. Ia mengatakan setiap manusia memiliki 6-7 kebutuhan. Kebutuhan yang pertama itu kebutuhan makan minum, kebutuhan ke-2 nanti adalah kebutuhan keamanan dan dicintai. Dan kemudian akan terus naik, sampai atas kebutuhannya adalah self aktualisasi diri. Jadi aneh, kebutuhan kita terdalam yaitu puas kalau kita itu korban, puas kalau kita memberi. Saudara masak-masak, lalu kasih orang, orang itu makan, puas. Maslow mengatakan itu adalah self aktualisasi. Jadi ketika kita korban, itu bukan karena agape, bukan karena pengenalan akan Kristus, bukan karena aku mau taat kepada Kristus. Tetapi aku korban, dan begitu aku korban, aku merasa penuh diriku, itu namanya self aktualisasi. Itulah sebabnya Paulus katakan, “Engkau bagikan apa pun saja, sampai engkau membakar dirimu, korban bagi orang lain, tapi itu bukan keluar dari ketaatan dan pengabdian dan pengenalan akan Kristus, itu nothing. Nothing, semuanya nothing.” Ketika kita bicara mengenai kasih, saudara tidak mungkin bisa lepaskan dari Kristus, dari Kristologi. Tidak pernah ada tindakan kasih jikalau itu tidak ada pertumbuhan rohani. Itulah sebabnya berkali-kali dari mimbar ini saya katakan, mari minta doa untuk kita boleh bertumbuh, makin mengenal Allah, makin mengenal Dia, dengan sendirinya kita makin mengalami dan mengerti dan bisa membagi apa itu agapelove. Tidak ada jalan lain. Sebaliknya kalau kita tidak bertumbuh, jangan terlalu berani mengatakan aku mengasihi-Mu, jangan terlalu berani mengatakan kasih, visi, semuanya kebohongan.
Terakhir, di sini dikatakan kasih itu sabar, baik hati, dan seterusnya, tapi saudara perhatikan ayat yang ke-8. Mari kita membaca bersama-sama sebagai akhir khotbah ini: “Kasih tidak berkesudahan; nubuat akan berakhir; bahasa roh akan berhenti; pengetahuan akan lenyap.” Sekarang saya tanya, di sini dikatakan, “Love never ends.” Kasih tidak berkesudahan. Berarti ini artinya kekal. Kekal, terus menerus, continue. Apa atau siapa yang kekal? Yesus mengatakan, “Jikalau Roh Kudus itu ada di dalam hatimu, jikalau Firman-Ku ada dalam hatimu, maka dari hatimu mengalir aliran-aliran air hidup terus-menerus.” Yang kekal hanya satu, Allah Tritunggal, Bapa, Anak, Roh Kudus, Firman-Nya, tidak ada yang lain. Maka ketika bicara mengenai kasih, sekali lagi saudara-saudara, itu artinya kita mengenal Dia, hidup bagi Dia, belajar taat kepada Dia, dibentuk oleh Dia, diarahkan oleh Dia. Seluruh perjalanan kita, jikalau kita taat kepada Dia, maka di tengah-tengah itu, saudara dan saya belajar apa itu sesungguhnya kasih yang sejati. Kiranya Tuhan berikan anugerah kepada kita. Mari kita berdoa.
GRII Sydney
GRII didirikan di atas dasar Pengakuan Iman Reformed Injili dengan tujuan menegakkan satu gereja yang berbasiskan teologi Reformed, dengan mimbar yang menyampaikan khotbah ekspositoris, read more