Ringkasan Khotbah

1 February 2026
Jiwa Manusia
Pdt. Agus Marjanto, M.Th · Matius 16:26

Matius 16:26

Ini adalah kisah yang nyata, dan Anda tidak akan terkejut karena begitu umum. Tetapi sebenarnya, ini adalah sesuatu yang paling tragis. Seorang pria muda, hidup normal, pekerjaan tetap, tubuh sehat, rajin olahraga, hidup sosial cukup ramai. Di media sosial ia tampak rapi, sering mengunggah foto sedang joging, nongkrong di kafe, atau makan-makan sehat. Orang tuanya bangga, teman-teman menganggap hidupnya beres, tubuhnya benar-benar dijaga. Bajunya bagus, makanannya cukup, tidur teratur, check up kesehatan rutin. Namun di dalam, pelan-pelan, jiwanya makin kosong. Ia tidak pernah benar-benar diajar berbicara jujur soal ketakutannya, rasa bersalah, atau kesepiannya. Setiap kali gelisah, ia mengobatinya dengan lembur, scrolling, hiburan, dan belanja. Di gereja, ia hadir, tetapi hanya tubuhnya yang datang. Begitu doa berakhir, ia kembali ke ritme yang lama, tidak ada waktu untuk duduk menyendiri dan bertanya, “Apa kabar jiwaku di hadapan Tuhan? Sebenarnya, aku sedang menuju ke mana?”

Suatu malam, setelah tekanan kerja memuncak, relasinya retak, ia menulis pesan singkat kepada temannya, “Lelah, rasanya hampa sekali.” Temannya kemudian menasihati, “Istirahat saja, besok juga baikkan. Jangan overthinking.” Lagi-lagi, tubuh disuruh tidur dan jiwa disuruh diam.” Beberapa hari kemudian, pria ini ditemukan meninggal karena bunuh diri, dan autopsi menemukan organ tubuhnya sehat, hampir semua orang berkata “Kami tidak menyangka, kelihatan dia baik-baik saja.” Iya, karena tubuhnya tidak kekurangan apa-apa, tetapi jiwanya sudah lama dibiarkan kelaparan, sendirian di dalam kegelapan.

Bukankah cerita seperti ini saudara dapatkan di mana-mana? Atau bukankah cerita seperti ini mungkin sebagian besar dari antara saudara-saudara mengalaminya. Ada satu pengabaian yang paling tragis di dunia ini. Bukan ladang yang dibengkalaikan. Bukan orang seperti di Biak tadi, yang kesehatan dan pendidikan diterlantarkan. Satu hal yang paling banyak diterlantarkan di seluruh dunia ini adalah jiwa. Manusia adalah mahkota ciptaan. Manusia itu ‘great’. Apa yang membuatnya ‘great’? Bukan uang. Bukan pakaian. Bukan mobil. Yang membuat engkau dan saya ‘great’ adalah jiwa! Celakanya adalah Allah yang kaya dan murah hati yang memberikan jiwa kita, jiwa yang paling agung, tetapi jiwa itu yang dibengkalaikan oleh kita.

Biarlah kita sekali lagi mengingat. Engkau bukan tubuh yang memiliki jiwa, tetapi kita jiwa yang memiliki tubuh. Kita adalah jiwa! Tetapi jiwa itu yang paling kita abaikan. Jiwa-jiwa itu telah jatuh ke dalam lubang kelupaan yang begitu dalam. Kita sering sekali lupa asal usulnya. Kita lupa naturnya. Kita lupa akan kekekalannya. Seorang filsuf mengatakan, “Seakan-akan jiwa itu terkubur di tubuh kita, bagaikan cacing-cacing bodoh yang bersembunyi di lubang, enggan keluar dan melihat sekeliling.” Jiwa kita begitu tertidur. Begitu kuatnya kekhawatiran dan kesenangan dunia ini mengikat semua orang, sehingga tidak ada yang bisa membangunkan jiwa kita, kecuali suatu hari, malapetaka datang kepada kita, atau utusan mengerikan dari maut mendekati kita. Baru kita tiba-tiba tersadar sedikit, tetapi kemudian kita tertidur lagi. Kita jarang sekali memikirkan jiwa kita. Sampai kemudian orang yang dekat, atau orang yang kita kenal meninggal. Kita terkaget. “Oh, bisa meninggal ya? Dia umur berapa meninggal? Kenapa umurnya dekat sama aku?” Itu membuat kita sedikit terbangun, dan kita pergi ke rumah duka, menguburkannya, kembali ke rumah, dan masuk ke ritme yang lama, dan kita melupakan nasib jiwa kita lagi. Jiwa itu kemudian menyelinap lagi di dalam tubuh kita. Kita mendandani seluruh tubuh kita, tapi jiwa kita tertidur. 

Sesungguhnya, jiwa memiliki banyak sekali keunggulan-keunggulannya. Beberapa minggu ke depan, kita akan membahasnya. Tetapi pagi ini, saya akan membicarakan tentang 2 keunggulan jiwa. Yang pertama adalah jiwa mampu melihat kekekalan. Dan yang ke-2, jiwa mampu melihat diri kita sendiri.

Kemampuan yang pertama adalah kemampuan yang luar biasa tinggi. Jiwa kita mampu menangkap kesan-kesan dan visi tentang dunia yang akan datang. Tetapi celakanya, jiwa kita dicekik, ditindas dengan urusan-urusan dunia ini. Kenikmatan dunia ini, kesibukannya dan pergumulannya telah membuat jiwa kita tenggelam dan kita manusia, melupakan jiwa kita.

Di lain pihak, kekuatan yang ke-2 adalah kekuatan refleksi. Jiwa kita mampu menembus diri kita sendiri dan melihat apa yang sebenarnya terjadi. Ini merupakan kemampuan jiwa kita yang luar biasa, dan keunggulan ini sudah Tuhan berikan kepada kita. Tetapi pertanyaannya adalah berapa banyak dari antara kita yang pernah pakai keunggulan ini? Banyak dari kita memperlakukan jiwa kita seperti mata yang bisa melihat segala sesuatu, tetapi tidak bisa melihat dirinya sendiri.

Kemampuan refleksi. Kemampuan melihat tembus kepada diri sendiri. Ada orang-orang yang sudah hampir masuk di dalam akhir perjalanan hidup, dan waktu mereka terbuang sia-sia seperti membuang barang murahan yang tidak berguna. Waktu itu menjadi sesuatu barang yang tidak berguna, yang tidak tahu harus diapakan, kemudian mereka buang. Orang itu sudah hampir masuk di dalam akhir hidupnya, tapi begitu sangat menyedihkan, dia tidak pernah memakai satu jam penuh saja sepanjang hidupnya untuk hikmat, memperbincangkan jiwa mereka sendiri. Hati kita ketika melihat orang-orang seperti itu begitu sedih. Itu adalah orang-orang yang tertipu, ditipu oleh mimpi-mimpi, ditipu oleh kesibukan-kesibukan yang remeh, ditipu oleh pergumulan-pergumulan hidup yang tidak ada gunanya, kecuali mereka sebenarnya bisa menyelesaikannya karena melihat jiwanya. Oh, manusia begitu kasihan! Kita menyelidiki alam, kita menyelidiki tumbuhan, kita mempelajari bisnis ekonomi, bagaimana ekonomi dan dengan jeli, memeriksanya kira-kira ke mana arah ekonomi. Kita mempelajari, memperhatikan, meneliti segala sesuatunya, tetapi kita tidak pernah meneliti dan menyelidiki jiwa kita sendiri. Kita tahu banyak hal, tetapi kita tidak tahu siapa kita sesungguhnya dan kita tidak mengenal jiwa kita. Kita tahu nilai semuanya. Kita tahu nilai rumah yang naik terus. Kita tahu nilai mobil. Begitu mobil itu jalan, saudara lihat ini mobil mahal, ini mobil murah. Kita bisa mengerti makanan yang enak apa, yang mahal apa. Seluruh benda kita tahu harganya. Tapi, kita tidak pernah bisa mengerti harga jiwa, padahal itu paling tinggi daripada seluruhnya. Yesus mengatakan “Satu jiwa tidak terbandingkan dengan seluruh dunia.” Bukankah itu suatu tragic, tragedi yang begitu dalam.

Ada seseorang yang pergi ke luar negeri, dan dia bicara kepada hambanya, dia mempercayakan 2 hal. Pertama adalah anaknya, dan yang ke-2 adalah pakaian anaknya. Setelah tuan itu pergi, hamba itu setia luar biasa, dia sangat hati-hati kepada pakaiannya. Dia mencucinya, mengeringkannya, menyetrikanya, menyimpannya dengan aman dan bersih – tetapi anak itu dilupakannya, anak itu hilang. 

Saudara, perhatikan baik-baik. Tubuh kita adalah pakaian jiwa kita. Tetapi ini yang kita terus rawat, kita pelihara berlebihan. Saya tidak sedang mengkritisi tentang hal itu, tetapi masalahnya adalah saudara dan saya tidak melakukannya dengan kualitas yang sama terhadap jiwa. Kita pelihara tubuh kita dengan usaha yang luar biasa, berusaha keras membeli rumah untuk kita bisa tenteram, mendapatkan uang untuk kita bisa nyaman. Kita memandikan tubuh kita merawatnya, mendandaninya, menghayatinya untuk tampan dan cantik. Kita berolahraga, kita minum vitamin, begitu sakit sedikit langsung pergi ke dokter untuk membereskannya. Semua itu kita lakukan untuk pakaian kita, tetapi anak itu terhilang. Saudara dan saya mengabaikan hal yang terpenting di dunia ini, yaitu jiwa!

Tanyakan kepada diri sendiri, ketika engkau dan saya bicara kepada suami atau istri atau kepada teman-temanmu, apa isi percakapan kita? Apakah kita sungguh-sungguh mempercakapkan bagaimana kita mengejar surga dan bagaimana kita takut kepada neraka karena itu yang akan dihadapi oleh jiwa? Tidak. 99.9% percakapan kita adalah urusan tubuh. 

Begitu tubuh tidak suka sedikit, langsung takutnya luar biasa. Tapi hari ini, detik ini, di tempat duduk kita, apakah engkau memiliki relasi yang benar dengan Tuhan? Engkau tidak memperdulikannya. Kita tidak pernah tanya “Tuhan, Engkau lihat apa dalam hidupku?” Padahal jiwa adalah yang paling berharga lebih daripada apa pun saja yang kita miliki di dunia ini. Lihatlah siasat setan. Intinya adalah dia akan berusaha membuat saudara dan saya melupakan jiwa kita, dia menyatakan perang atas jiwa kita supaya kita binasa untuk selamanya.

Saint Bernard, seorang hamba Tuhan abad pertengahan mengatakan, “Tidak ada pengetahuan yang lebih baik daripada pengetahuan yang olehnya kita mengenal jiwa kita sendiri. Tanggalkanlah perkara-perkara lain, selidikilah dirimu, jelajahilah dirimu, berhentilah di dalam dirimu, biarlah pikiranmu seakan-akan beredar mulai, dan berakhir di dalam dirimu. Janganlah membuat pikiranmu tegang dengan sia-sia, pada hal-hal lain, sambil engkau menyibukkan, mengabaikan dirimu sendiri.”

Saya akan akhiri dengan kalimat John Flavel, “Jiwa adalah karya ilahi yang paling ajaib dan menakjubkan. Itulah sebabnya tidak berkelebihan ketika Alkitab menyebutnya nafas Allah, keindahan manusia, keajaiban bagi malaikat, dan yang membuat iri hati iblis.” Yesus Kristus sendiri sudah menyatakannya kepada kita “Jiwamu, jiwa-Ku, jiwa kita lebih berharga dari seluruh dunia.”

Itulah, kalau Tuhan kehendaki, kita akan mengeksposisi satu-persatu, apa sesungguhnya jiwa kita. Kemampuannya, asal usulnya, naturnya dan segala sesuatu yang kita bisa kerjakan dan Tuhan berikan karunia di dalam jiwa. Jiwa itulah yang sekarang menggerakkan tangan saya. Jiwa sayalah yang menggerakkan mulut saya. Jiwa sayalah yang berinteraksi dengan sesama saya. Apa yang terjadi pada jiwa saya, menentukan apa yang akan terjadi di tengah-tengah dunia, sampai kepada kekekalan. Jangan mengabaikan, menelantarkan jiwa. Mari kita berdoa.

 

Mzm 16:8-11, Mat 16:26
GRII Sydney

GRII didirikan di atas dasar Pengakuan Iman Reformed Injili dengan tujuan menegakkan satu gereja yang berbasiskan teologi Reformed, dengan mimbar yang menyampaikan khotbah ekspositoris, read more