Luk 12:13-21
Kita terus memikirkan apa yang Allah lihat, apa yang Allah katakan melalui Firman-Nya terhadap jiwa kita. Apa kepentingan mutlak? Kenapa kita harus tahu seperti apa jiwa? Apa signifikansinya dari khotbah ini? Apa signifikansi dari perkataan-perkataan Yesus terhadap jiwa? Apa kepentingan mutlak saya mengenal jiwa saya sendiri? Jikalau kita mengerti orang-orang terpandai di seluruh dunia, yang memiliki kemampuan menjadi filsuf, yang berusaha untuk mendapatkan jawaban terhadap segala apapun saja yang ada di muka bumi. Salah satu pertanyaan tertinggi mereka adalah siapa sesungguhnya manusia? Apa sesungguhnya jiwa? Kalau saudara-saudara menyelidiki seluruh filsuf-filsuf yang ada, maka saudara akan menemukan bahwa mereka memiliki teori-teori. Mereka memiliki catatan-catatan untuk mendefinisikan sesungguhnya apa itu jiwa, tetapi mereka gagal. Tetapi orang Kristen sesungguhnya orang yang berbahagia. Karena kita menemukan jawabannya ada dalam Alkitab. Siapa sesungguhnya manusia? Apa itu sesungguhnya jiwa? Dan segala elemen yang ada di dalamnya hanya bisa dinyatakan, didefinisikan, dibuka oleh Allah sendiri, pencipta jiwa kita. Apa kepentingan mutlak kita untuk meneliti jiwa?
Minggu yang lalu saya sudah mengatakan poin yang pertama, yang paling penting adalah untuk mendorong kita untuk mendekat dan merangkul Yesus Kristus dari seluruh pengetahuan yang ada di dunia, dari seluruh pengenalan yang ada di dunia. Semua pengetahuan dan pengenalan itu ada di bawah pengetahuan dan pengenalan akan Yesus Kristus. Pengenalan akan Yesus Kristus adalah yang paling mulia, paling tinggi, paling indah, paling membuat nikmat di dalam jiwa kita. Tetapi pengenalan akan Kristus tidak akan kita ketahui sebelum saudara dan saya mengenal jiwa kita seperti apa. Kalimat yang tajam dari Yohanes Pembaptis. Suatu hari dia berbicara di tengah-tengah Yerusalem, “Bertobatlah karena Kerajaan Allah sudah dekat!” Dia membukakan karya Allah, Kerajaan Allah. Dia membukakan isi hati Allah. Kerajaan Allah yang dinyatakan di dunia ini. Itu adalah pengenalan akan Allah. Tetapi, sebelum seseorang itu datang kepada Kerajaan Allah, dia harus bertobat. Itu artinya dia tahu posisi jiwanya, yaitu posisi di dalam kebahayaan yang luar biasa. Itu adalah perjalanan jiwa yang salah. Dia berjalan ke arah yang salah, maka Yohanes Pembaptis mengatakan, “Bertobat!, jiwaku kembali.”
Perhatikan dua hal yang tidak mungkin bisa dipisahkan: mengenal Allah dan mengenal diri (mengenal jiwa dan mengenal Kristus). Sekali lagi seluruh pengetahuan yang tertinggi hanya pengetahuan tentang Kristus. Pengenalan yang tertinggi adalah pengenalan akan Kristus. Tetapi siapa Dia sesungguhnya? Betapa mulianya Dia. Betapa indahnya Dia. Betapa kita tergantung kepada Dia. Itu semua tidak akan diketahui sebelum Roh Kudus membukakan sesungguhnya jiwa kita seperti apa. Itulah kenapa ketika Agustinus ditanya: Apa yang engkau ingin tahu, Agustinus? Maka dia mengatakan, “Aku ingin tahu siapa Allah dan siapa diriku.” Ketika Calvin ditanya, “Apa yang kau ingin tahu?” Jawabannya tepat sama. Mengenal Allah dan mengenal diri. Kalau saudara-saudara melihat orang-orang yang dipakai Tuhan di dalam sejarah gereja, saudara akan terpesona luar biasa. Dari seluruh catatan Alkitab seperti ini, mereka bisa mereduksi sedemikian rupa ini bicara tentang apa. Alkitab adalah buku tentang Allah. Tetapi Alkitab juga adalah buku tentang manusia. Alkitab adalah buku tentang pribadi Allah, sifat Allah, dan rencana Allah. Alkitab juga berbicara berkenaan dengan jiwa, buku tentang jiwa kita. Sekali lagi, kenapa saya mesti mengenal jiwa saya? Apa kepentingan mutlaknya? Maka ketika seseorang mengenal sesungguhnya jiwanya itu apa, siapa, dan sedang berada dalam posisi apa, dia akan mendekat, dia akan berlari kepada Kristus dan dia akan memeluk Kristus. Kebutuhan akan Kristus tidak diketahui oleh manusia sampai Roh Kudus itu mengungkapkan jiwa kita. Mengungkapkan jiwa kita tentang apa, Pak? Di dalam introduction ini, ini masih introduction. Saya belum masuk ke dalam inti pengajaran Alkitab. Kalau saudara mengenal nilai jiwa, maka kita akan mengejar Kristus. Kalau kita mengerti kebutuhan jiwa, maka kita akan mengejar Kristus. Kalau kita mengerti perjalanan jiwa, maka kita akan mencari Kristus. Kalau kita mengerti kekekalan jiwa, maka kita akan berharap kepada Kristus.
Minggu yang lalu saya sudah bicara berkenaan nilai jiwa. Kedua, sekarang saya akan bicara kebutuhan jiwa. Apa itu sesungguhnya kebutuhan jiwa kita? Perhatikan baik-baik satu prinsip ini. Kalau saudara dan saya bicara mengenai kebutuhan, maka itu akan sesuai dengan hakekat, dengan naturnya. Saudara pikirkan, seseorang punya kebutuhan apa? Bukan keinginan ya. Kebutuhan. Maka itu akan sesuai dengan naturnya, dengan esensinya, dengan hakikatnya. Di dalam bahasa teologi, dalam bahasa filosofi itu disebut sebagai ontik. Ontologi adalah satu pengertian, satu doktrin untuk mengerti esensi sesuatunya. Misalnya saja, saudara melihat harimau jalan. Maka hakikat harimau itu adalah binatang buas. Dia adalah karnivora. Maka kebutuhannya pasti makan daging. Engkau tidak akan kasih dia sayur-mayur dan apel. Lalu kemudian saudara katakan pada dia, “Ini sehat buat engkau. Ini juga sehat buat saya.” Harimau tidak menyukai apel. Dia suka sama saudara. Kenapa? Saudara mau ajarin apa pun saja, Saudara mau kasih sayur capcai di depannya, dari 10 macam sayuran, harimau itu sama sekali tidak akan suka. Sama sekali tidak akan bisa. Kenapa? Karena itu bukan kebutuhannya. Kenapa kok bukan kebutuhannya, Pak? Karena dia itu ontiknya, hakikatnya, esensinya adalah binatang pemakan daging. Saudara tidak bisa mengubah itu. Apa hakikatnya? Maka akan keluar kebutuhannya apa? Kebutuhan yang sesungguhnya akan tergantung pada ontiknya, hakikatnya, esensinya.
Maka saudara coba lihat Kitab Lukas yang tadi kita baca. Saudara akan menemukan sesuatu yang sangat-sangat lucu di sini. Jadi, di sini itu ada seseorang yang kaya. Kemudian dia punya tanah yang begitu banyak, kemudian dia kerja dan hasilnya dimasukkan ke dalam lumbung. Kemudian dia bekerja lagi. Dia dapat hasil yang banyak dan dimasukkan ke dalam lumbung. Setelah lumbungnya itu penuh, dia duduk santai. Dia kipas-kipas dan mengatakan kepada jiwanya, “Jiwaku, engkau memiliki banyak harta.” Saudara tidak sadar bahwa ini adalah kalimat yang bodoh. Jiwaku engkau memiliki banyak harta. Kenapa bodoh? Yesus kemudian mengatakan bahwa Allah melihat engkau sebagai bodoh. Dalam satu komentar yang saya baca, ini adalah kata bodoh. Ini adalah salah satu kata yang paling terkasar yang pernah ada. Saya ulangi lagi. Kalau dalam bahasa Indonesia itu goblok. Tapi sebenarnya bukan goblok. Kalau orang Surabaya yang mengatakan itu bilang begini, “Guooblok”. Kamu bodoh. Ini tidak bicara berkenaan dengan kekayaan itu adalah dosa. Tidak. Ini tidak sedang dibicarakan. Jadi, orang Kristen yang diajarkan oleh Alkitab menjadi orang miskin dan memiliki kemuliaan? Sama sekali tidak! Ini tidak bicara mengenai kaya dan miskin. Tetapi Yesus sedang bicara berkenaan dengan natur hakikat jiwamu yang spiritual. Maka, kalau itu spiritual, apa pun yang jasmani atau berjasad itu tidak mungkin mengisi kebutuhannya. Orang ini mengatakan, “Jiwa, engkau sudah punya banyak harta.” Tapi apa urusannya jiwa dengan harta. Itu sama dengan Pak Desmond datang ke tempat saya. Lalu Pak Desmond mengatakan, “Pak Agus, saya lapar.” Lalu saya mengatakan, “Oh, Pak Desmond, hirup udara! Jadi, Bapak hirup udaranya dimasukkan ke dalam. Dia pasti marah dengan saya. Saya sedang butuh makanan. Itu sistem pencernaan, Pak. Itu bukan sistem pernafasan. Itu 2 hal yang berbeda, Pak. Tidak ada hubungannya, Pak. Jadi, saya itu lapar. Saya perlunya makan. Saya tidak memerlukan udara!”
Tuhan itu sedang menyinggung kita semua. Dosa sudah membuat kita itu benar-benar bodoh. Jiwa kita itu rohani. Kalau rohani itu tidak mungkin bisa diisi dengan sesuatu yang berjasad, yang materi, yang bertubuh. Itulah sebabnya saudara tidak mungkin bisa mengisi kebutuhan jiwa dengan uang. Saudara tidak mungkin bisa mengisi kebutuhan jiwa saudara dengan membeli rumah yang banyak, yang mewah. Saudara tidak mungkin bisa mengisi jiwa saudara dengan main seks. Itulah sebabnya saudara bisa tahu begitu banyak cerita; orang sederhana saja gak punya banyak uang. Bahkan pergi dari pagi sampai malam itu kerja luar biasa keras. Tapi saudara bisa melihat orang itu damai, orang itu bahagia, orang itu sejahtera, orang itu bisa menikmati hidup. Sedangkan kita yang punya begitu banyak uang tidak bisa. Kenapa? Karena orang itu tahu untuk mengisi kebutuhan jiwa, sedangkan kita itu tidak. Alkitab sudah mengajarkannya. Ada seseorang yang luar biasa besar. Namanya Salomo. Apa yang kurang pada dia? Istrinya begitu banyak. Dia begitu kaya. Dia punya kedudukan. Dia dihormati. Tetapi apakah saudara mengingat kalimat yang muncul daripada mulutnya berkali-kali? Kata sia-sia. Sampai kalau saudara-saudara melihat pengkhotbah terakhir, maka Tuhan menyadarkan dia. Di tengah-tengah dia mengatakan segala sesuatu sia-sia, dia mengatakan: “Tetapi bekerja bagi Allah itu tidak sia-sia.”
Ada seseorang, beberapa puluh tahun yang lalu, dia menelepon saya. Dia mengatakan seperti ini, “Pak Agus, saya mau bicara. Saya tidak tahu apa yang ada. Saya punya keluarga yang baik. Pendapatan kami juga baik. Tidak ada sakit, tidak ada apa-apa. Tapi ada sesuatu di dalam hati saya yang kurang. Ada sesuatu saja.” Orang ini orang yang sudah menerima Tuhan. Tapi kemudian saya tahu apa yang kurang. Saya katakan kepada dia, “Kalau engkau adalah orang yang sudah dilahirkan kembali, maka kekosongan jiwamu bukan karena engkau tidak kenal Tuhan, tetapi kekosongan jiwamu adalah karena jiwamu itu berteriak. Karena jiwamu tahu dia harus melayani Tuhan dan engkau menghentikannya. Engkau tidak melayani Tuhan.” Orang itu kemudian bertobat dan sampai sekarang dia melayani Tuhan. Dia bukan hamba Tuhan, tapi dia melayani Tuhan. Giatnya luar biasa.
Jiwa punya kebutuhannya. Dan segala sesuatu yang jasmani tidak mungkin bisa memuaskan kebutuhannya. Jasmani saudara dipenuhi kebutuhannya oleh suatu barang. Tetapi jiwamu tidak mungkin bisa dipenuhi oleh barang. Apalagi jika jiwa itu sudah sebentar lagi mau meninggalkan tubuh. Ketika seseorang itu sebentar lagi sudah mau meninggal orang-orang Puritan mengatakan: “Berikan dia makanan lezat. Berikan dia uang. Berikan dia godaan seluruh dunia. Orang yang sekarat itu tidak akan bergeming sedikit pun.” Kemarin ketika kami datang pertama kali datang ke tempat Pak Danny dan saya bisa bicara, dia masih bisa tersenyum. Ketika kami datang, kemudian ada makanan yang sudah diberikan oleh nurse yang belum dimakan. “Pak Danny makan dulu. Nanti baru kita ngobrol.” “Gak, gak mau. Kenyang. Gakkepengin. Oke. Saya ngomong itu 2-3 kali. Pak Danny makan dulu. Enggak mau. Dia sama sekali tidak menyukai dan tidak ada selera apa pun. Beberapa hari kemudian, kesehatannya begitu merosot. Dan beberapa orang dari gereja ini datang kepada dia. Ada yang menyanyi bersama-sama untuk dia dan kemudian difoto. Dan ketika saya melihat fotonya. Oh, begitu luar biasa tambah kurus. Tapi yang jelas adalah tidak ada gairah di dalam wajahnya dan sesuatu yang meredup. Tetapi beberapa saat kemudian ada foto ketika anaknya yang dari Amerika datang dan kemudian menyodorkan cucunya. Kemudian Pak Danny itu sambil lihat, sambil mau dicium. Wah, itu mukanya berbeda dengan foto yang pertama. Saudara akan bisa melihat ada sesuatu yang muncul; ada gairah. Kenapa? Karena yang dicinta itu datang. Itulah kebutuhan dari jiwa itu. Bukan uang. Bukan makanan. Kita harus menjadi orang yang bijaksana. Apa itu kebutuhan jiwa? Jiwa adalah satu hal yang rohani yang Tuhan ciptakan, yang begitu dalam. Alkitab sudah memberitahu jiwa kita kebutuhannya apa. Jiwa, kebutuhan yang terdalamnya adalah bisa melihat kemuliaan Penciptanya. Ketika melihat Keluaran pasal 32-34, air mata saya terus turun. Musa itu tahu sekali di tengah-tengah keseluruhan hidupnya yang susah. Di tengah-tengah seluruh kekeringan yang ada pada jiwanya, dia minta kepada Tuhan satu hal: Show me Thy glory (Tunjukkan kemuliaan-Mu kepadaku). Begitu Tuhan memunculkannya, dia kuat berjalan sampai mati.
Biarlah engkau dan saya mengerti ini adalah rahasia kehidupan jiwamu. Bukan uang, bukan kedudukan, bukan relasi dengan manusia, bukan maunya kita punya rumah. Tetapi bisa melihat kemuliaan Pencipta kita, engkau akan berkobar-kobar. Berkali-kali Alkitab mengatakan hal ini. Mari kita melihat Mazmur pasal 84:2-3. Ini bukan cuma catatan pemazmur. Ini dibukakan oleh Tuhan bagi kita. Kalau Roh Kudus itu menyadarkan kita, maka di dalam jiwa kita yang paling dalam, dia itu sedang berseru, “Aku ingin pergi ke pelataran-pelataran-Mu.” Hai manusia, biarlah kita boleh menyadari teriakan jiwamu yang terdalam. Saya harap kiranya Roh Kudus bekerja pada kita pagi ini, karena kalau tidak, maka cacing yang ada di bawah tanah tidak pernah keluar. Jiwa kita yang paling dalam terus berteriak: “Aku mau, mau kenal, mau mendekat, mau pergi ke Penciptaku.” Kalau saudara pernah lihat film ikan salmon, maka induk ikan salmon bertelur, kemudian telurnya pecah semua. Dan kemudian dari kecil, terus dia akan terus ikut arus, terus ikut dari satu sungai, sampai ke samudera. Terus pergi puluhan, kadang sampai ratusan, sampai ribuan kilometer. Anehnya, ketika dia sudah sampai batas waktunya, dia akan sebentar lagi mau bertelur, dan ketika sudah bertelur, dia akan mati. Maka dia itu dari samudera, kemudian dia berusaha berjuang untuk pergi ke tempat pertama kali dia lahir. Maka itu mesti melawan arus. Setengah mati terus jalan ratusan, ribuan kilometer. Melewati arus, terus sampai dia bisa ke sungai. Kadang-kadang sungainya ada di atas gunung. Itulah sebabnya saudara bisa lihat dari film-film salmon, salmonnya itu kan loncat saudara. Begitu loncat, ada beruang di sana, hap, mati. Atau dipancing, akhirnya sampai ke perut kita. Tapi dia akan berusaha terus, dan kadang dia loncat, kemudian kena tebing, dia jatuh lagi. Dia berusaha untuk loncat lagi, kena tebing lagi, jatuh lagi. Kadang dia mesti diam dalam beberapa waktu dan kekuatannya dipulihkan. Kemudian dia dari jauh loncat. Begitu dia loncat, dia bisa melampaui tebing itu. Begitu dia sampai, dia mesti melawan arus. Sulitnya luar biasa. Dia mengikuti dan melawan arus sungai itu. Dia punya satu indera yang luar biasa peka. Kemudian dia tahu di mana dia pertama kali keluar ke bumi ini. Sampai di tempat itu, dia menenangkan dirinya dan kemudian dia mengeluarkan seluruh telurnya dan dia mati di tempat dia lahir. Salmon saja tahu kembali, kenapa kita tidak tahu kembali? Salmon saja tahu tempat pelataran dia mau datang ke sana. Kenapa jiwa kita tidak pernah peka? Kalau manusia tahu sesungguhnya jiwa itu teriak apa, apa kebahagiaan tertinggi (delight) yang paling terpuncak dari jiwa, dia akan mencari Allah di dalam Kristus. Jiwa sesungguhnya hakikatnya apa? Esensi itu akan menentukan kebutuhannya.
Hal yang ketiga, perjalanan jiwa. Kita sangat aware; kita sangat peka akan perjalanan tubuh kita. Saudara dari rumah pergi ke sini. Saudara pergi dari Indonesia atau dari negara lain, negara Cina, ke Australia. Dan ketika kita itu pergi dari satu titik ke titik yang lain. Kita memprediksi, kita mengantisipasi perjalanan kita, kita pakai GPS sekarang. Kalau saudara-saudara ikut kami dari pelayanan di Biak. Ada satu pulau namanya Sowek, dari tempat kita pergi ke Sowek itu perlu perjalanan laut, kurang lebih 45 menit sampai 1 jam. Maka kita langsung, “Ah laut?” Maka saya langsung pada waktu itu pikir kita mesti semua pakai pelampung, kenapa? Karena kita mengantisipasi perjalanan tubuh kita, bukan? Kalau kita jalan, kemudian kita selalu akan awas di tengah-tengah di situ, ketika ada lubang, kita akan menghindar, supaya kita tidak jatuh bukan? Kalau kita jatuh, kita cacat seumur hidup, kita sangat care terhadap tubuh kita? Tetapi saya bertanya, apakah kita pernah memikirkan perjalanan jiwa kita? Atau perjalanan jiwa anak-anak kita? Kita tahu semua, begitu banyak anak yang bermasalah, ketika pada waktu kecil dititipkan di childcare yang tidak bertanggung jawab. Saya tidak mengatakan semua childcare seperti itu. Tetapi orang tua terlalu bodoh, dia pikir pakai uang, kasih anaknya ke childcare, dan dia bisa bekerja, dapat lebih daripada apa yang diperlukan, lalu dia pikir masalah sudah selesai. Saudara sedang membuat masalah di depan. Kenapa kalau urusan tubuh, kita benar-benar perhatikan perjalanannya, tetapi jiwa itu tidak pernah kita perhatikan. Jiwa kita itu sedang berjalan. Jiwa kita mengalami hal-hal yang pernah terjadi di masa lalu. Jiwa kita itu dalam perjalanannya memerlukan sesuatu. Kita juga perlu mengantisipasi apa yang dihadapi oleh jiwa kita. Ketika saya katakan jiwa itu berjalan, saudara jangan berpikir bahwa itu adalah akhir dari perjalanan surga dan neraka. Iya. Tetapi sepanjang perjalanan di dunia ini. Kalau orang pergi ke psikolog atau ke psikiater, mereka akan tanya, “Apa yang engkau sudah alami?” Dan itu bukan cuma satu peristiwa. Kemudian saudara bicara, dan dia akan puas? Tidak. Dia akan menggali sebenarnya perjalanan jiwa kita seperti apa, kenapa muncul symptoms seperti ini? Kalau saudara-saudara menjadi guru, saudara pasti sangat familiar dengan psikologi perkembangan, bukan? Psikologi perkembangan itu mempelajari karakteristik dan kebutuhan jiwa mulai dari 0-5, dari 6-12 tahun, terus seperti itu, satu per satu itu ada teorinya, itu ada studinya. Tetapi kita banyak sekali yang tidak memedulikan perjalanan jiwa kita. Saudara bertemu dengan orang pencemooh, jiwa kita akan mudah mencemooh.
Itu sudah di dalam Alkitab, sudah diantisipasi. Orang-orang jahat di sekitar kita akan membuat kita menjadi jahat. Dengan siapa kita bergaul, apa yang kita dengar, seluruhnya memengaruhi jiwa kita. Alkitab berbicara bahwa Allah siap sedia untuk selalu berjalan bersama dengan jiwa kita di dalam perjalanan hidupnya. Tetapi banyak dari kita keluar rumah bahkan tidak menyertakan Allah. Kita bertemu dengan bahaya terhadap jiwa kita, kita tidak alert. Kita meninggalkan Allah di tempat yang lain dan kita berjalan dengan perjalanan jiwa kita sendiri dan tidak bergantung kepada Allah. Saudara mungkin akan bilang perjalanan jiwa, apa hubungan dengan Allah? Mari kita lihat Mazmur 23:1-4. Ini perjalanan jiwa. Ini bukan Mazmur yang cuma pada waktu orang mau meninggal, lalu saudara membacakan. Ini adalah mazmur yang Tuhan nyatakan kepada kita. Dia membimbing jiwa kita setiap hari ke air yang tenang. Yesus sudah mengatakan ini kepada kita. Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap Firman yang keluar dari mulut Allah. Saudara pikir itu adalah suatu beban? Saudara pikir ini adalah sesuatu yang negatif? “Oh, Pak saat teduh pagi itu susah Pak. Bapak tidak tahu, saya begitu sangat capek, saya begitu sangat repot, sibuk.” Itulah sebabnya jiwa kita kering karena kita itu tidak berjalan bersama dengan Allah. Dia mengatakan, “Dia membimbing, berjalan-jalan bersama-sama dengan kita dan memberikan air yang sejuk. Air yang tenang yang menyegarkan jiwa. Banyak dari antara kita, entah saudara-saudara sibuk di pekerjaan, sibuk dalam rumah tangga atau sibuk di dalam pelayanan. Lalu saudara merasa kering dan merasa beban terlalu besar. Alkitab mengatakan bukan bebannya terlalu besar, tetapi karena jiwa kita tidak pernah minum di tengah-tengah perjalanan, sudah pasti kita akan terbeban secara negatif. Pasti kita kering. Pasti kita ingin melepas semuanya. Tetapi apakah itu orang-orang yang dipakai Tuhan sepanjang zaman seperti itu? Jawabannya tidak. Apakah mereka tidak memiliki beban yang besar? Pasti mereka memiliki beban yang besar. Apakah mereka tidak pernah kering? Pasti mereka pernah kering. Tetapi mereka tahu jawabannya bukan untuk mengundurkan diri. Jawabannya adalah mencari di mana air yang segar itu. Itu perjalanan jiwa setiap hari. Di dalam Kristus, itu adalah relasi, bukan agama. Engkau bisa menjadi orang Kristen. Engkau bisa lahir dalam keluarga atau bahkan di suku Kristen,tetapi engkau tidak memiliki hidup. Engkau tidak memiliki denyut jantung. Jiwamu seperti orang sakit kanker yang keringnya luar biasa. Sebaliknya, banyak orang yang sakit kanker, tetapi jiwanya itu kuat, selalu segar. Maka biarlah kita tahu perjalanan jiwa.
Terakhir keempat, ke mana ujung akhir dari jiwa? Nasib akhir jiwa itu ke mana? Pertama, ketahuilah nilai jiwa. Ke-2, ketahuilah kebutuhan jiwamu. Ke-3, biarlah kita mengetahui perjalanan jiwa kita. Ke-4, biarlah kita boleh melihat nasib akhir jiwa kita. Dan Alkitab dengan jelas menyatakan, kembali lagi Alkitab. Filsafat tidak bisa menjelaskan kepada kita. Orang-orang pandai tidak bisa menjelaskan kepada kita. Filosofi itu adalah orang-orang yang mencintai wisdom. Mereka adalah orang yang bertanya dan terus bertanya. Mereka bisa bertanya, tetapi mereka tidak dapat menemukan jawabannya, kecuali mereka kembali kepada Alkitab. Perhatikan baik-baik prinsip ini. Filosofi bertanya, teologi menjawab. Tapi celakanya orang Kristen, punya jawaban tapi tidak tahu pertanyaannya apa. Saya paling kesal ketemu sama stiker “Jesus is the answer”. Dia tahu tidak apa pertanyaannya? Kalau dia tahu pertanyaannya apa, Yesus memang jawaban. Tapi saudara tahu Yesus adalah jawaban. Saudara-saudara tidak tahu, ini pertanyaannya apa? Saudara hanya “Amin, amin, Yesus jawaban”, tapi apa yang ditanya sebenarnya? Kalau saudara tanya nilai jiwa, saudara akan tahu Yesus itu jawabannya. Kalau saudara tahu kebutuhan jiwa, pertanyaan kebutuhan jiwa, Yesus jawabannya. Saudara mempertanyakan perjalanan jiwa, Yesus jawabannya. Dan kalau saudara menanyakan nasib akhir dari jiwa, Yesus adalah jawabannya. Jiwa kita itu dicipta, tetapi akan kekal. Dan di dalam kekekalan itu hanya ada 2 kemungkinan, satu adalah siksaan yang kekal, atau satu adalah kemuliaan yang kekal. Perhatikan hal ini. Jiwa itu sebelumnya tidak ada. Jiwa itu dicipta. Jadi dicipta dari tidak ada itu creatio ex nihilo. Tetapi setelah dicipta, jiwa tidak bisa binasa. Tidak seperti tubuh, tubuh itu bisa binasa, tapi jiwa tidak bisa binasa. Setelah dosa masuk, tubuh kita itu mengandung sel-sel yang berperang sendiri di dalamnya, satu dengan yang lain. Sehingga saudara bisa tahu bahwa tubuh ini bisa mati karena dua hal. Yang pertama adalah dari dalam, karena di dalamnya ada satu kegaduhan, satu peperangan yang membuat kita akhirnya mati karena penyakit di dalam. Tubuh itu tidak seperti jiwa. Tubuh bisa diselidiki, dan saudara akan tahu itu kalau saudara-saudara potong demi potong, bahwa tubuh itu ada bagian-bagiannya, ada sistem-sistem di dalam tubuh. Dan setiap sistem itu akan melahirkan dokter spesialis. Spesialis yang ini, tidak tahu spesialis yang itu ilmunya. Seluruh tubuh itu terdiri dari beberapa bagian yang kompleks. Tetapi jiwa itu adalah sesuatu yang sederhana. Jiwa itu cuma satu. Satu unsur yang sederhana dan saudara tidak bisa membagi-baginya. Sekali lagi, tubuh itu bisa mati karena di dalamnya satu dengan yang lain itu antar satu sistem, atau sistem yang lain, satu organ dengan organ yang lain saling menghantam satu dengan yang lain. Sehingga kita bisa mati karena ada musuh di dalam. Dan tubuh juga bisa mati karena bahaya dari luar. Orang menembak, kemudian kita kena dan kita mati. Tetapi jiwa tidak. Jiwa tidak diciptakan dengan memiliki kemampuan seluruh bagian-bagian yang saling berantem. Jiwa itu begitu sederhana, cuma satu. Tidak ada yang kompleks di dalamnya yang saling mematikan. Jiwa juga memiliki kekuatan, kuasa; tidak ada satu orang pun yang mematikan dari luar. Orang bisa membunuh tubuh, tetapi tidak mungkin membunuh jiwa. Karena kalau dia mau membunuh jiwa, dengan tembakan sekali lagi, jiwa tidak akan mempan dengan sesuatu yang material. Jiwa tidak bisa mati dari dalam, tidak seperti tubuh. Jiwa juga tidak mungkin dibunuh oleh seseorang dari luar, karena itu adalah suatu materi. Satu-satunya yang bisa membunuh jiwa adalah Allah. Tetapi Allah menetapkan, “Aku tidak akan membunuh jiwa.” Itulah sebabnya kita kekal. Perhatikan baik-baik, kita memiliki sesuatu yang paling mahal di antara seluruh dunia dan yang paling mahal itu kekal adanya. Kita memiliki sesuatu yang paling mahal dan kekal. Bukankah seharusnya kita serius untuk memikirkannya? Pertanyaannya adalah ke mana kekekalan kita? Ke mana kekekalannya? Di dalam Alkitab hanya ada 2 kemungkinan yaitu kegelapan bagi jiwa kita untuk selama-lamanya bagi orang-orang yang tidak bertobat di dalam Kristus. Atau yang ke-2, orang-orang yang bertobat di dalam Kristus, akan melihat kemuliaan dan nikmat senantiasa sampai selama-lamanya. 4 hal ini. Nilai jiwa. Yang ke-2, kebutuhan dari jiwa. Ke-3, perjalanan jiwa. Ke-4, akhir dari jiwa. Kalau engkau memikirkannya, kalau kita memikirkannya, kita sungguh-sungguh mendalaminya, memeditasinya. Engkau akan tahu, muncul satu pribadi, Kristus, jawaban atas seluruhnya. Kiranya Roh Kudus memberitahu dan bekerja di tengah kita. Mari kita berdoa.
GRII Sydney
GRII didirikan di atas dasar Pengakuan Iman Reformed Injili dengan tujuan menegakkan satu gereja yang berbasiskan teologi Reformed, dengan mimbar yang menyampaikan khotbah ekspositoris, read more