Filipi 1:20-21
Beberapa minggu kita terus memikirkan berkenaan dengan jiwa manusia. Ini adalah satu eksposisi berkenaan dengan jiwa. Mengapa kita harus mengenal jiwa kita? Maka beberapa minggu ini kita sudah bicara mengenai poin yang pertama, kita mau mengenal jiwa karena ini dinyatakan oleh Alkitab, supaya kita boleh mendekat, kita berlari dan kita merangkul Kristus. Kalau saudara dan saya mengerti nilai jiwa kita, kalau saudara dan saya mengerti kebutuhan jiwa kita, kalau saudara dan saya tahu perjalanan jiwa kita, kalau saudara dan saya mengerti akhir jiwa kita, destiny dari jiwa kita, maka kita akan berlari, kita akan menuju dan cepat berjalan dan merangkul Kristus. Kenapa Kristus tidak mulia dalam hidup kita? Karena saudara dan saya tidak tahu nilai kebutuhan dan akhir dari jiwa kita. Begitu banyak manusia yang mempermainkan jiwanya, hidup kelihatannya sukses, tubuh kelihatannya terjaga, tetapi jiwanya menderita. Kita harus mengerti sesungguhnya kita ini siapa. Siapa jiwa kita sesungguhnya?
Sekarang, pada pagi hari ini, saya akan masuk ke dalam poin yang kedua. Apa gunanya kita mengerti jiwa kita? Mengapa Allah meminta kita untuk membaca Firman-Nya untuk mengerti jiwa kita? Maka seorang puritan bernama John Flavel mengatakan adalah untuk mempersiapkan kita berani menghadapi kematian. Saudara-saudara perhatikan baik-baik, kita harus mengantisipasi hal ini. Alkitab mengatakan kita punya satu musuh yang menanti di depan, dan itu adalah kematian. Itu adalah musuh yang pasti menanti kita dan kita mau tidak mau pasti akan menghadapinya sendirian. Saudara-saudara, ketika saya membaca tulisan John Flavel ini, saya tersentak sekali. Orang-orang Puritan adalah orang-orang yang luar biasa peka untuk hal-hal yang paling penting dalam hidup dan saya memikirkannya begitu benar. Musuh kita, kita memiliki musuh, dan itu akan menghadang di depan. Dan musuh yang terakhir itu adalah kematian. Alkitab mengatakan kematian itu adalah pertahanan terakhir dari kuasa kegelapan. Musuh terakhir ini adalah kemampuan dari dosa dengan seluruh kuasanya. Orang-orang Puritan mengajarkan hal-hal yang di dalam Alkitab atau tepatnya Alkitab mengajarkan kepada kita, untuk kita menyadari ada perang terakhir yang menanti ini pada kita semua, dan kematian itu bahkan Alkitab sendiri mengatakan adalah sesuatu yang besar, sesuatu yang menakutkan.
Kalau saudara-saudara membaca tulisan John Bunyan di dalam buku Pilgrim Progress, maka dia menggambarkan bagaimana kematian itu sering menggoyangkan, membuat iman orang-orang kudus Allah itu menjadi takut. Sekali lagi kita harus mengantisipasi hal ini, bahwa kematian itu, musuh yang terbesar itu, akan menghadang kita di akhir perjalanan kita, dan kita akan berperang untuk itu. Tetapi perang itu adalah perang sendirian, orang terdekat kita tidak bisa menemani kita dalam perang ini. Ini adalah sesuatu yang sifatnya eksistensial, kita harus mengantisipasi hal yang akan pasti terjadi dalam hidup kita. Dan dengan apa kita mengantisipasinya? Musuh itu terlalu licik. William Gurnall menyatakan setan itu pribadi yang luar biasa pengecut dan dia itu suka mengendap-endap untuk menunggu waktu yang tepat. Kalau dia tidak bisa mengalahkan kita ketika kita masih sehat, maka setan berusaha akan melukai kita tepat ketika kita sekarat dan menuju ke surga. Setan berusaha untuk memagut tumit kita sebelum kita sampai ke surga, membuat kesakitan yang besar dalam hidup kita. Sekali lagi saudara-saudara, setan adalah makhluk yang luar biasa pengecut dan kalau dia tidak bisa mengalahkan kita ketika kita sehat, dia akan menunggu waktunya ketika kita sudah menjadi tua dan menjadi tidak bisa lagi mengandalkan kekuatan tubuh kita, maka dia akan berusaha untuk melukai kita tepat pada waktu kita sekarat, memagut tumit kita sebelum kita pergi ke surga.
Ya, kita akan pergi ke surga kalau kita adalah anak-anak Tuhan, tapi setan akan melukai kita dengan amat parah di tengah-tengah dunia ini. Puritan mengerti prinsip ini, maka kita harus mengantisipasi bagaimana kita berperang dengan setan pada akhirnya. Kita akan menghadapi secara sendiri seluruhnya kematian hidup kita. Saudara-saudara, itulah sebabnya kita harus mengerti cara kerja jiwa kita. Jiwa kita memiliki kemampuan dan salah satu kemampuan yang luar biasa besar adalah, saudara-saudara perhatikan baik-baik, jiwa kita mampu untuk melihat sesuatu yang tidak terlihat oleh mata, jiwa kita mampu merefleksikan apa yang terjadi di dalam kekekalan seturut dengan Firman. Itulah sebabnya Flavel mengatakan pakailah kemampuan yang diberikan oleh Allah di dalam jiwamu. Sekali lagi, kemampuan untuk berefleksi dengan Firman, untuk memandang apa yang Tuhan berikan kepada jiwa kita di dalam kekekalan. Kita akan kalah dan kita akan ketakutan yang begitu besar jika kita tidak bisa melihat apa yang Tuhan berikan pada jiwa kita di surga. Banyak orang tidak memakai kemampuan ini, banyak orang tidak memakai kemampuan yang Tuhan berikan kepada jiwa kita. Kemampuan jiwa kita tidak seperti kemampuan mata kita. Alkitab sendiri mengatakan Tuhan menanam kekekalan di dalam hati kita, demikian kata pengkhotbah, ada sesuatu di dalam jiwamu dan jiwaku yang memiliki kemampuan yang luar biasa besar. Pakai kemampuan itu untuk melawan kuasa kegelapan. Dan kemampuan jiwa salah satunya yaitu melalui Firman, maka engkau dan saya bisa memandang sesuatu yang tidak terlihat oleh mata. Melalui Firman, maka jiwa kita bisa melihat apa yang Tuhan berikan di dalam kekekalan untuk kita, dan itu yang membuat kita bisa mengatakan, “Bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan.”
Saudara-saudara, orang-orang Puritan adalah orang-orang yang terbuka sekali dengan seluruh kelemahannya ketika jiwanya diperhadapkan kepada Alkitab. Misalnya saja ketika saudara dan saya melihat Filipi 1:20-21 tadi dan saya kemudian membacanya, “Bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan.” Mari kita ucapkan sama-sama, “Bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan.” Amin, saudara-saudara? Amin. Puritan tanya, “Angkat tangan siapa yang bilang mati adalah keuntungan?” Ayo, siapa dari saudara-saudara yang benar-benar bicara, mati adalah keuntungan? Hanya beberapa orang. Saudara-saudara, banyak dari kita, mati adalah kerugian. Kebanyakan orang Kristen mengatakan mati adalah keuntungan, tapi sebenarnya dalam dirinya tidak mengharapkan itu. Maka orang Puritan mengatakan kalau kita adalah orang Kristen yang sejati, kenapa sangat sedikit sekali yang bisa mengatakan bahwa mati adalah keuntungan? Jadi semua yang bicara mati adalah keuntungan, tapi ketika ditanya siapa yang benar-benar yakin mati adalah keuntungan, cuma beberapa. Puritan sudah tahu ini, dia terbuka: “Iya ya, aku sih baca mati adalah keuntungan, tapi aku tidak ingin dapat keuntungan itu.”
Saudara-saudara, perhatikan apa yang John Flavel katakan, kita begitu melekat pada tubuh kita, kita harus siap untuk meninggalkannya ketika Tuhan memanggil kita pulang. Kita harus terlepas dari ketidakinginan perceraian dan pemisahan tubuh kita yang tercinta ini. Jika kita bersikeras terhadap hal ini, sebenarnya kita sedang merugikan diri kita sendiri dan sesungguhnya penolakan ini adalah penolakan yang tidak masuk akal dari orang-orang beriman. Kita seharusnya memiliki kepatuhan yang lebih pantas dan gembira terhadap hukum kematian yang Allah tetapkan kepada kita, kapan pun surat pengusiran akan diberikan kepada tubuh kita dari jiwa. Karena setelah terlepasnya tubuh ini, kita menemukan kehidupan yang diberkati. Oh saudara-saudara, saya membaca tulisan Puritan ini, orang ini luar biasa. Saudara-saudara, kita harus rela untuk tubuh ini terpisah dari jiwa ini. Kalau kita tidak rela dan bersikeras untuk terus menyatukannya, kita merugikan diri kita sendiri dan ini adalah sesuatu yang sebenarnya tidak masuk akal. Sekali lagi saudara-saudara, John Flavel dan orang-orang Puritan mengajarkan kepada kita apa yang dituju oleh Alkitab.
Salah satu kesukaan saya kepada orang-orang yang Tuhan pakai di masa lalu adalah ketika mereka bergumul dengan Firman, mereka tahu titik beratnya apa. Lain dengan begitu banyak hamba-hamba Tuhan masa kini di gereja yang luar biasa besar, ketika mereka berkhotbah, mereka bicara mengenai sesuatu yang sampingan. Ketika saya membaca tulisan dari orang Puritan, satu kalimat saja, “Kita harus mengantisipasi kematian yang pasti akan kita perangi di akhir hidup kita”, saya mulai sadar ini sesuatu yang tidak bisa saya hindarkan. Pada saat-saat seperti itu setan begitu licik akan membuat kita luar biasa takut. Saudara pernah merasa takut? Takut itu eksistensial. Takut yang paling sederhana adalah ketika saudara mimpi buruk. Sebelah kita teman atau sebelah kita istri, atau sebelah kita anak, begitu bangun ketakutan itu masih melanda, aneh sekali. Saudara-saudara, padahal ada orang di sebelah kita, tapi ketakutan itu ada pada kita, itulah yang disebut sebagai existential moment. Yang di sebelah tidak bisa ngapa-ngapain bagi kita. Itu semuanya perlawanan harus dari jiwa dan itulah sebabnya kita harus mengerti keunggulan jiwa yang diciptakan oleh Tuhan memiliki kemampuan apa.
Saudara-saudara, Alkitab mengatakan hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan. Saudara-saudara mengerti apa yang Tuhan berikan kepada jiwa, maka kita akan memiliki keberanian yang lebih bertumbuh untuk menghadapi kematian. Itu adalah seperti Adoniran Judson. Ketika Adoniran Judson sudah dalam keadaan sekarat, dia adalah misionaris yang pergi ke Birma dan kemudian 7 tahun dia melayani tidak ada satu hasil pun. Kemudian dia melayani di sana selama beberapa puluh tahun, tetapi sampai akhir hidupnya maka dia sangat kepanasan dan penuh dengan sakit di dalam dan kemudian dia terbaring sekarat. Maka kemudian Adoniran Judson dalam kesaksiannya ketika dia sekarat mengatakan, “Oh jiwaku, sekarang bersukacita untuk menghadapi hari akhir ini, seperti anak kecil pulang dari sekolah, pulang ke rumahnya untuk bertemu dengan mamanya, aku sekarang lari dengan cepat menuju mamaku.” Dia berlari dengan sukacita melewati gerbang maut itu menuju ke surga. Jikalau jiwa mau merenungkan Firman, dan jikalau jiwa bisa merefleksikan Firman kemudian menuju kepada kekekalan, dan mengenal tahu apa yang diberikan kepada kita setelah kematian itu, maka rupa kematian tidak begitu menakutkan bagi kita. Tetapi sebaliknya, jikalau kita tidak pernah memakai kemampuan jiwa kita untuk merefleksikan Firman, engkau menjadi orang Kristen tetapi engkau tidak memeditasikan Firman dan pernah melihat apa yang diberikan Allah dalam kekekalan, kita akan luar biasa takut menghadapi kematian.
Saudara-saudara, saya jelaskan ini sekali lagi. Poin ini tidak bicara berkenaan orang lain yang kita kasihi yang mati. Orang lain yang kita kasihi kalau dia mati sudah pasti kita sedih, kalau kita gembira itu aneh, pasti sedih. Tetapi kemudian jiwa melihat Firman dan kemudian merefleksikan kekekalan, kita punya pengharapan. Sekali lagi, saya tidak sedang bicara berkenaan dengan orang lain yang kita kasihi mati, tetapi poin ini bicara berkenaan dengan kalau kita sendiri yang mati, apakah kita takut atau tidak. Dan ini bukan ketakutan yang dibuat-buat, ini bukan ketakutan yang merupakan suatu gambaran mental yang kemudian kita tertipu. Ini adalah ketakutan yang real, kita menghadapi musuh, demikian kata Alkitab. Apakah kita takut dan takutnya itu seberapa degree-nya? Orang-orang Puritan dengan tepat menyatakan, dia terus melihat dan mempelajari orang-orang, jemaatnya yang satu per satu mati. Orang Puritan disebut sebagai physician of the soul, seorang dokter dari jiwa, mereka meneliti apa yang terjadi kepada jemaatnya ketika mereka mati. Dan John Bunyan menuliskan seperti ini: “Orang-orang itu, seakan-akan mau mati menuju ke surga, mereka itu harus melewati daripada lautan.” Mereka bukan swimming, mereka jalan, jalan dari satu sungai, tepatnya sungai yang yang dasarnya tidak kelihatan. Mereka bisa melihat ada orang yang melewati sungai itu, airnya itu cuma sampai di tempatnya kaki, tetapi ada orang yang melewati sungai itu, maka makin lama makin air sungai itu naik dan dia itu ketakutan luar biasa. Orang Puritan kemudian menyelidiki, apa yang membedakan ini? Sama-sama orang Kristen, sama-sama sudah terima Yesus Kristus, kenapa yang satu melihat kematian itu begitu tenang, mengapa yang satu lagi menghadapi kematian itu begitu takut.
Oh saudara-saudara, setan itu begitu licik. Kemarin istri saya mengingatkan saya, ada satu peristiwa ketika kami itu datang, kami mengunjungi seorang rekan pelayanan yang sakit cancer yang sudah terminal ill. Dia adalah seorang guru Sekolah Minggu yang sangat setia dan pada waktu hampir kematiannya maka seluruh tubuhnya itu tinggal kulit yang membalut tulang. Ketika kami datang ke sana, karena kami sudah ada di Sydney, maka ketika saya melihat guru Sekolah Minggu yang sangat baik ini, istri saya, sebelah saya langsung kemudian berteriak, “Oh dosa, dosa begitu jahatnya.” Orang yang begitu sehat, begitu gemuk, begitu sehat, begitu indah, lalu kemudian dibuat sangat-sangat kurus, berdiri pun sulit. Dan ketika saya datang ke sana, pertanyaan dari orang ini, pertanyaan pertama kepada saya adalah apakah saya diselamatkan? Apakah saya diselamatkan? Wah, itu masuk dalam hati saya, apakah saya diselamatkan? Setan sedang main di dalam pikiran dia. Dia harus sendiri. Dalam keadaan seperti itu apa penolongnya? Bagaimana caranya untuk menghadapi kelicikan setan?
Kembali kepada Firman. Itulah pentingnya gereja, pentingnya anak-anak Tuhan, bukan dengan satu hiburan yang kosong. Jiwanya dibawa kepada Firman untuk memandang surga dan apa yang Tuhan berikan kepada dia. Maka biarlah kita boleh mengerti ada kemampuan jiwa yang Tuhan berikan untuk kita boleh berespon kepada Firman. Pagi ini kita sampai di sini dan kita akan teruskan minggu depan. Mari kita berdoa.
GRII Sydney
GRII didirikan di atas dasar Pengakuan Iman Reformed Injili dengan tujuan menegakkan satu gereja yang berbasiskan teologi Reformed, dengan mimbar yang menyampaikan khotbah ekspositoris, read more