Kolose 3:1-2
Kita masih meneruskan introduction: Mengapa kita harus mempelajari, menyelidiki jiwa. John Flavel sendiri menyatakan, tiga hal ini aku ingin ketahui. Yang pertama adalah Kristus, yang ke-2 adalah jiwaku, dan yang ke-3 adalah kekekalan. Ini adalah sesuatu yang diajar oleh Tuhan di dalam Firman. Tuhan memberikan kita Firman untuk mengenal Kristus, Tuhan memberikan kepada kita Firman untuk mengenal diri kita sendiri, dan Tuhan memberikan kepada kita Firman untuk mengerti jiwa kita di dalam kekekalan seperti apa.
Firman ini adalah Firman tentang Allah. Firman ini juga adalah Firman tentang kita, tentang hidup kita, tentang jiwa kita. Mengapa Tuhan meminta kita menyelidiki, men-study, memelihara, dan juga sungguh-sungguh mempelajari jiwa kita sendiri? Ada beberapa jawaban. Yang pertama adalah kalau seseorang mengerti apa yang terjadi di dalam jiwa, apa itu nilai jiwa, apa itu kebutuhan jiwa, hal itu akan menggerakkan kita untuk menuju dan merangkul Yesus Kristus. Hal yang ke-2, kalau kita bisa mempelajari, menyelidiki jiwa seturut dengan Alkitab, maka itu akan memperlengkapi kita untuk mengantisipasi musuh terbesar terakhir kita yang pasti kita hadapi, yaitu kematian. Dua hal ini sudah saya bicarakan beberapa minggu ini.
Sekarang saya akan masuk dalam poin ke-3 dan poin ke-4, kalau Tuhan pimpin. Mengapa kita harus menyelidiki dan mempelajari, mengeksposisi jiwa kita? Apa gunanya? Yaitu untuk membangkitkan gairah kasih sayang kerinduan akan hal-hal yang ada di Surga. Ketidaktahuan kita tentang keadaan jiwa kita di surga membuat kita tergila-gila pada dunia ini. Kabut tebal menyembunyikan kemuliaan keadaan jiwa kita. Dan kalau kita tidak mengambil waktu yang lama untuk merenungkan kekekalan, maka pikiran kita akan kembali ke posisi kosong. Dan kemudian hati kita akan terpikat dengan dunia ini. Tetapi, semakin kita sering merenungkan apa yang akan terjadi pada kita di dalam kekekalan, maka semakin kita akan merasakan keajaiban dan keajaiban di tengah-tengah hidup kita yang sementara ini. Semakin kita mengerti apa yang terjadi pada jiwa kita, di dalam kekekalan, di dalam Kristus Yesus, maka kita akan bertumbuh ke arah kepuasan jiwa, kebebasan, dan sukacita. Tapi sekali lagi, bahwa perenungan akan kekekalan itu hanya bisa kalau saudara dan saya merenungkan Alkitab melalui Roh-Nya yang Suci. Ayat tadi yang kita baca, menyatakan bahwa tetapkan hatimu atau tetapkan pikiranmu atau tetapkan afeksimu untuk mengejar, melihat, hal-hal yang ada di Surga. Ini tidak bisa dikerjakan oleh orang-orang dunia yang belum ada Yesus Kristus, belum mengenal Roh Kudus. Paulus menyatakan kalau engkau dibangkitkan, engkau sudah dibangkitkan bersama dengan Kristus, itu berarti adalah hanya untuk orang-orang Kristen yang sejati. Maka Paulus mengatakan tetapkan afeksimu, untuk hal-hal yang surgawi. Untuk hal-hal yang ada di surga. Untuk apa yang engkau itu akan kasihi nanti di Surga.
Kapan kita menetapkan hati atau men-set afeksi untuk hal-hal di surga? Saat ini. Jika kita tidak melakukannya sekarang, maka kita akan berjalan dengan senses kita. Saudara tahu bahwa kita diberikan lima panca indera, dari kulit, penciuman, mata, telinga, dan dari lidah. Seluruh panca indera ini adalah alat bantu yang Tuhan berikan kepada kita untuk bisa mengetahui fenomena di depan kita. Saudara-saudara bisa membedakan benda ini dengan benda itu adalah dengan mata. Saudara bisa mengerti perbedaan suara dengan telinga. Ketika diuji, ada 2 cairan yang kelihatan sama, apa bedanya? Saudara mungkin pakai penciuman atau pakai indera perasa saudara. Maka seluruh senses ini diberikan Allah kepada kita agar kita berhubungan dengan dunia ini. Untuk mengobservasi dunia, untuk menganalisa dunia, untuk menyentuh dunia, untuk mendekati dunia, kita lupa bahwa kita diberikan kekekalan di dalam hati kita, dalam jiwa kita. Kita bukan diciptakan untuk dunia ini, tetapi kita diciptakan untuk dunia yang akan datang. Panca indera kita tidak mungkin bisa menduga itu. Iman saudara bisa, jiwa kita yang beriman itu bisa. Untuk menggapai sesuatu yang tidak kelihatan, tetapi iman muncul melalui pendengaran akan Firman. Itulah sebabnya sering sekali dikatakan orang Kristen yang tidak membaca Firman adalah orang Kristen yang imannya dangkal atau imannya akan kecil karena dia pasti menyimpulkan segala sesuatu berdasarkan pengamatan panca indera. Karena dia tidak bisa melihat sesuatu yang tidak kelihatan melalui mata iman mereka. Iman itu harus dari pendengaran akan Firman. Dia tidak mungkin bisa melihat apa yang Allah berikan di Surga, tidak akan ada lonjakan kegirangan di dalam hati mereka meskipun mereka menjadi orang Kristen puluhan tahun, menjadi pengurus gereja sekalipun, karena mereka berjalan dengan panca indera. Mereka bukan berjalan dengan iman seperti yang Alkitab katakan. Itulah sebabnya kenapa gereja diperlukan, yaitu karena gereja mendidik seseorang untuk berjalan di dalam iman. Untuk mengingatkan seseorang dan untuk mengerti Firman dengan tepat. Kita adalah orang-orang yang ditentukan untuk menjadi musafir berjalan di tengah-tengah dunia ini dan di tengah-tengah dunia sebagai musafir kita melihat segala sesuatunya dengan panca indra tetapi kita diberikan Firman sehingga iman kita bisa melihat sesuatu yang tidak terlihat di dunia ini.
Beberapa minggu yang lalu, di dalam welcoming day pemuda, kita berkhotbah mengenai Vanity Fair.Vanity Fair adalah kalimat yang ada dalam Alkitab, Salomo yang mengatakan vanity di atas vanity. Tetapi selain Alkitab maka ada satu tokoh Puritan namanya John Bunyan,Puritan abad 17 di England dan dia menuliskan satu buku yang berjudul Pilgrim’s Progress. Saya sarankan saudara-saudara semuanya membeli buku ini. Ada begitu banyak versi bahkan ada yang komik. Kalau saudara-saudara tidak mau membacanya minimal anak saudara membacanya. Itu akan membuat anak saudara lebih beriman daripada saudara. Ini adalah buku yang sejak kurang lebih hampir 50-100 tahun yang lalu masih menduduki buku ke-2 selain Alkitab yang paling banyak dibaca oleh umat manusia.
Kalau saudara-saudara melihat Pilgrim’s Progress, ini adalah orang yang luar biasa jenius. John Bunyan menuliskannya di mana? Di penjara. Kenapa dia menuliskannya? Karena dia bosan di penjara. Saya langsung pikir: waktu saya bosan, saya mikir yang tidak-tidak. John Bunyan dan orang-orang Puritan begitu mereka bosan, mereka ngelamunnya saja Alkitab. Memang Puritan adalah orang-orang yang luar biasa, saturated dengan Firman. Sehingga orang mengatakan kalau engkau tusuk Puritan, maka yang keluar bukan darah tetapi ayat Alkitab. Benar, mereka bukan saja tahu ayat itu di mana, tetapi dia menggabungkan keseluruhannya dan memunculkannya di dalam spiritualitas yang luar biasa sehat.
Sekarang saya akan jelaskan satu scene yang ada di Pilgrim’s Progress yang di ditulis oleh John Bunyan. Bahwa ada dua orang, yang satu namanya Christian dan satu lagi adalah Faithful, keluar dari padang belantara sedang berjalan menuju ke CelestialCity, kota surgawi. Tetapi mereka harus menjumpai pasar malam Vanity.John Bunyan mengatakan tidak ada satu orang pun yang mau pergi ke Celestial City yang tidak melewati Vanity Fair, harus lewat, tidak ada jalan lain. John Bunyan mau menyatakan engkau yang adalah anak Tuhan sekalipun, serohani apapun, engkau harus menghadapinya, engkau harus hidup di tengah-tengahnya. Di Vanity Fair, dijual barang-barang yang luar biasa glamour, indah, berkilau, sensual dan bukan saja dari satu orang tetapi ratusan toko, permainan kelap-kelip dari seluruh bangsa menyumbangkan barang-barangnya. John Bunyan menyatakan seluruh toko menjual tiga hal ini, yang pertama adalah keinginan daging, kedua adalah keinginan mata dan ketiga adalah keangkuhan hidup, selalu akan seperti itu. Itu akan membuat kita makin lama makin sombong. Ada seseorang yang mengatakan bahkan sekarang itu Facebook atau reel, cuma begitu saja, tetapi saudara akhirnya terpikat dan ingin untuk viewer saudara luar biasa banyak. Kalau saudara-saudara tidak mendapat viewer banyak atau saudara-saudara ditolak oleh seseorang, saudara-saudara kemudian menjadi sedih dan itu ada di dalam VanityFair. Christian dan Faithful kemudian berjalan masuk di dalamnya dan semua toko-toko menawarkan barang-barangnya, kemudian mereka menolak, “Ini bukan yang saya perlukan,” kemudian penjaga toko itu bertanya, “Apa yang kau perlukan?” Christian dan Faithful lalu mengatakan saya memerlukan kebenaran, Truth. Wah semuanya tertawa dan kemudian makin ditanya makin mereka menyadari bahwa di tengah-tengah Vanity Fair tidak ada barang yang mereka perlukan. Semua orang di Vanity Fair pedagang-pedagangnya menyadari bahwa ini adalah orang asing di tengah-tengah mereka. Apa yang terjadi? Maka pedagang-pedagang itu kemudian menangkap mereka dan menyiksanya, membunuh Faithful, kemudian Christian dipaksa masuk ke dalam penjara sampai suatu hari nanti Hopeful akan akan membebaskan dia dan mereka lari dari Vanity Fair tersebut. Di dalam tulisannya, John Bunyan menyatakan pentingnya gereja, komunitas, untuk saling menguatkan dan sama-sama untuk lari bersama. Engkau mau beli apa? Kebenaran, kebenaran itu untuk jiwa bukan untuk senses seluruh barang-barang yang dijual di toko-toko itu seluruhnya untuk senses. Dan di sini lagi kejeniusan John Bunyan. Pertanyaannya adalah seluruh penjualan toko-toko itu tujuannya apa? Satu, menawan afeksi. Membuat dunia menawan afeksi kita, dan kalau seluruh toko itu sudah bisa menawan afeksi musafir, maka pasti musafir tersebut akan melupakan perjalanannya menuju ke kota Surga. Itu poinnya, dan Salomo sudah sampai di situ, sudah mendapatkan semuanya, dia jatuh di dalam itu dan kemudian dia mengatakan “Sia-sia, kesiaan demi kesiaan.” Itulah sebabnya Paulus mengatakan “Set your affection untuk hal-hal yang Surgawi bukan dunia.” Pikirkan apa yang jiwamu dapatkan di Surga, jangan sungkan dengan apa yang ada di dunia karena Alkitab memberitahukan kepada kita kalau saudara dan saya menelitinya dan bisa melihat melalui Firman-Nya apa yang Tuhan berikan kepada kita untuk jiwa kita di Surga, maka akan ada sukacita bagi jiwa kita, ada kebebasan bagi jiwa kita, ada kepuasan jiwa kita ketika kita masih ada di dunia. Mengenal jiwa apa yang diberikan Allah di surga akan membuat kita merindukan Surga. Curhatan JonathanEdward menyatakan “Lord, stamp eternity in my eyeball.” Ungkapan ini adalah doa pribadi Jonathan Edward. Dia meminta pada waktu dia masih hidup sekarang ini, masih kuat, masih punya umur, seperti saudara dan saya masih punya uang. Di tengah-tengah Vanity Fair dunia ini, Tuhan menanamkan visi kekekalan sehingga dia tahu kalau berjalan arahnya ke mana, sehingga dia tidak kehilangan jiwanya.
Poin ini saja coba saudara pikirkan. Berapa banyak dari kita yang terpikat afeksinya oleh hal-hal di dunia ini, saya tidak mengatakan lepaskan pekerjaanmu, atau saya juga tidak katakan bahwa kalau engkau dapat uang yang banyak engkau harus rasa bersalah. Tidak seperti itu. Tetapi poinnya adalah afeksi. Kalau engkau mendapatkan uang yang banyak, apakah afeksimu ada di sana? Kalau engkau bekerja dan engkau mendapatkan hal-hal yang kau inginkan dalam hidup ini dan itu berkat Tuhan, apakah afeksimu ada di sana atau kepada kekekalan? Apakah engkau dan saya mengambil keputusan dan menjalani hidup itu dengan senses saja atau berjalan dengan iman? Ada banyak sekali orang Kristen duniawi. Orang Kristen duniawi, orang yang mengaku Kristen tetapi sebenarnya kesukaannya adalah dunia. Kalau saudara perhatikan baik-baik sampai titik tertentu saudara harus meragukan keselamatan saudara. Karena di dalam Alkitab, sebenarnya tidak pernah ada orang Kristen duniawi. Orang Kristen yang duniawi berarti di dalam hatinya sendiri, memang dunia. Dia tidak mungkin terpikat untuk hal-hal yang surgawi. Dia tidak mungkin ada satu kerinduan dan kehausan untuk hal-hal yang surgawi. Dia tidak mungkin terlibat untuk hal-hal yang sifatnya adalah surgawi. Paling banter dia pergi ke gereja, lalu pulang.
Paulus mengatakan bagi anak Tuhan yang sejati, set your affection di surga. Itu artinya kalau saudara dan saya melakukan itu, melalui Firman-Nya, maka kerinduan, kasih sayang, hal-hal yang ada di surga, ada pada kita. Bukan kita ingin cepat mati, bukan itu. Set your affection bukan membuat orang yang susah, tidak bisa makan, “Cepat-cepat pergi ke surga.” Tidak. Orang Kristen bukan orang yang gagal di dunia ini, yang tidak ada satu orang pun yang mencintai dia. Tidak seperti itu. Ini adalah bagi semua dari kita yang bahkan menikmati berkat Tuhan di dunia ini. Perhatikan. Ini adalah salah satu perintah Tuhan. Ini perintah Tuhan, “Jadilah kudus sebab Aku kudus. Beritakan Injil sampai ke seluruh dunia. Saling mengasihilah engkau satu dengan yang lain.” Di ayat ini adalah, “Set your affection untuk hal-hal yang di surga.”
Sekarang hal yang ke-4, yang terakhir. Mengapa kita harus mempelajari, memikirkan, mengeksposisi jiwa? Untuk kita bisa memiliki satu kerinduan yang besar, bekerja bagi hal-hal kekal, ketika kita masih ada di dunia ini. Kerja untuk hal-hal yang kekal, ketika saudara dan saya ada di dunia ini! Jangan kerja untuk hal-hal yang untuk dunia atau sementara. Saya akan membawa saudara-saudara kepada dua ayat Alkitab. Yang pertama adalah Matius 6:19-22. Satu ayat Alkitab lagi, Lukas 16:1-9. Ayat ke-9 penting sekali, ayat ke-9 adalah inti seluruh perumpamaan ini. Perhatikan baik-baik, Yesus mengatakan apa? “Aku berkata kepadamu: Ikatlah persahabatan dengan mempergunakan Mamon yang tidak jujur, supaya jika Mamon itu tidak dapat menolong lagi, kamu diterima di dalam kemah abadi.”
Sekarang saya akan menjelaskan point ke-4 ini. Kenapa saudara dan saya harus menyelidiki apa itu jiwa, apa yang di perlukan, ke mana jiwa itu, kenapa kita harus menyelidiki jiwa? Saudara mempelajari seluruhnya, kalau engkau adalah pemimpin, CEO sebuah perusahaan, engkau mempelajari seluruh yang terjadi di dalam company-mu bahkan penjualanmu dan pengeluaranmu, seluruhnya engkau perhatikan. Orang-orang akademis menyelidiki satu bagian demi satu bagian yang ada di tengah-tengah dunia ini. Semua dipelajari. Ada yang studi politik, ada yang studi ekonomi, ada yang studi sosial, ada yang studi biologi, semua dipelajari, tetapi tidak pernah mempelajari jiwa. Padahal, Alkitab memberikan fondasi kepada kita untuk kita menguji jiwa. Untuk apa kita harus menguji dan studi jiwa? Yaitu untuk membuat kita memiliki satu gairah, satu semangat, mengerjakan hal-hal kekal di bumi ini, sewaktu tubuh masih di berikan. Kepada semua murit-Nya yang masih ada di bumi, maka Yesus mengatakan, “Jangan kumpulkan hartamu di bumi ini, karena itu akan habis, akan ditipu, akan dimakan rayap. Tetapi, kumpulkan hartamu di surga.”
Setelah itu, Yesus mengatakan, tentang mata yang adalah pelita tubuh. Apa yang Yesus sebenarnya sedang ajarkan? Secara keseluruhan, garis besarnya adalah: Yesus sedang mengajarkan mengenai titik pusat perhatian matamu. Focal point dari hidupmu. Ketika kita masih di tubuh ini, apa yang menjadi focal point kita. Saat saya mempersiapkan renungan ini, saya ingat akan satu buku yang terkenal dan sebenarnya baik secara umum, Stephen Covey, First Things First, masih ingat buku itu? Sebenarnya orang Mormon yang tulis, dengan anugerah umum maka dia menuliskan, membuat kita mengerti apa itu prioritas hidup. Jadi Stephen Covey, First Things First, 1996, adalah buku tentang manajemen waktu dan kepemimpinan hidup. Di dalam buku itu, dia mengajarkan kita untuk menata hidup berdasarkan hal-hal yang benar-benar penting. Hal-hal yang benar-benar penting. Bukan hal-hal yang sering mendesak-desak kita. “Harus sekarang beli obat batuk, kemudian kita harus pergi. Nanti ada peristiwa ini, peristiwa ini.” Seluruh hidup kita sebenarnya habis dengan menjalankan hal-hal yang orang lain atau situasi mendesak-desak kita. Tapi hal yang paling penting dari jalan kita, malah tidak terselesaikan. Jadi Stephen Covey mengatakan arah hidup itu penting. Jika saudara-saudara ingin menuju ke Surabaya dari Jakarta. Teman saudara mengatakan pergi ke sana, pergi ke sini, dan akhirnya saudara tidak sampai ke Surabaya. Ini adalah buku tentang managemen waktu dan kepemimpinan hidup. Meskipun tentu ada banyak hal yang saya bisa kritik, tetapi ada hal-hal yang baik juga di situ. Dia katakan satu hal ini: “Masalah utamanya bukan manage your time tapi manage yourself.” Kita tidak memiliki satu keputusan mau menuju ke mana. Beberapa ribu tahun lalu, filsuf-filsuf Yunani sudah mengatakan demikian, “Seseorang yang tahu mana yang di depan, mana yang di belakang, mana yang besar, mana yang kecil, orang itu orang bijak.” Mana yang di depan, mana yang di belakang. Mana yang besar, mana yang kecil. Orang itu orang besar, orang bijak. Kita mesti belajar. Banyak hal yang besar saudara menjadikan kecil. Banyak hal yang kecil, dibesar-besarkan. Yang di depan sudah dijadikan di belakang, yang di belakang, saudara-saudara jadikan di depan. Maka hal yang penting di sini, sekali lagi, semua filsuf bisa memberikan teorinya, bisa memberikan pertanyaannya, tetapi pertanyaannya sesungguhnya adalah, kalau engkau mengatakan mana yang di depan, mana yang di belakang, mana yang besar, mana yang kecil; sekarang, tolong Socrates, Plato, Aristotle, tolong seluruh filsuf-filsuf yang ada, katakan kepadaku apa itu yang besar, dan apa itu yang harus di depan. Semua bisa mengatakan teori, tetapi Yesus Kristus mengatakan jawabannya. “Jangan kumpulkan hartamu di bumi. Tapi kumpulkan hartamu di surga.” Kalimat ini sudah langsung Yesus mengatakan “Itu yang di depan, yang penting!” Hal-hal yang di surga, di dalam kekekalan, itu yang paling besar, dan engkau harus mengusahakan, menggunakan segala sesuatu untuk hal itu. Dan Yesus mengulanginya dengan prinsip yang sama. Lukas 16 yang tadi kita baca, bicara tentang bendahara yang tidak jujur.
Kalau saudara tidak mengerti prinsipnya, lalu saudara mengatakan Yesus ajar bohong? Kita boleh tidak jujur? Orang yang berdosa membaca Firman yang suci, kalau tanpa bantuan Roh Kudus dan pertobatan, Firman ini akan melegalkan saudara berdosa. Perhatikan, ketika menafsirkan perumpamaan, saudara harus mengerti sebenarnya perumpamaan ini bicara apa. Kalau saudara-saudara masuk ke dalam detail-nya, saudara akan lost in details. Sebenarnya perumpamaan ini bicara mengenai apa? Bendahara ini sebentar lagi akan dipecat, kemudian dia berpikir bagaimana setelah dipecat, dia masih mempunyai kehidupan, tidak hancur di depan. Maka sebelum dipecat, dia bertindak cerdik. Dia panggil orang-orang yang hutang kepada tuannya, dipotong satu persatu hutangnya. Setelah itu, maka bendahara itu dipecat. Yesus memberikan kesimpulan. “Ikatlah persahabatan dengan mempergunakan Mamon yang tidak jujur, supaya jika Mamon itu tidak dapat menolong lagi, kamu diterima di dalam kemah abadi.” Ini adalah sesuatu yang unik, karena Yesus tiba-tiba memunculkan Mamon, uang, yang ada di dunia ini, dan sekarang dia gabungkan dengan urusan kekekalan. “Di dalam kemah abadi.” Perhatikan baik-baik, apa yang Yesus mau bicarakan? Dia mengajarkan satu prinsip. Gunakan hal-hal dunia yang sementara ini, ketika engkau masih punya tubuh, semua yang engkau miliki di dunia ini digunakan untuk kepentingan jiwamu di masa depan, di dalam kekekalan. Pergunakan seluruh yang engkau punya saat ini, dengan seluruh dari apa yang diberikan Allah kepadamu, engkau pakai untuk bisa mengukir sesuatu yang kekal di dalam kekekalan. Yesus mengajar kepada kita: mata terutama adalah tertuju kepada kekekalan. Tubuhmu yang sekarang ini, uangmu, relasimu, seluruh kesehatan kita, relasi-relasi yang didapat, kenyamanan dan akademis yang diberikan, seluruhnya adalah sementara. Pakai semua itu untuk kekekalan! Itu poinnya. Berlakulah cerdik untuk itu. Itu baru namanya investasi. Investasi Reformed bukan teologi success. Tapi menggunakan seluruh yang engkau punya untuk kekekalan. Untuk hal-hal yang akan terus ada di dalam kekekalan.
Apa yang akan terus ada di dalam kekekalan? Menaati Allah. Taat. Itu akan sampai kekekalan. Bekerja meluaskan kerajaan Allah, itu sampai kepada kekekalan. Mencari jiwa yang terhilang, jiwa akan sampai ke kekekalan. Mengasuh, memuridkan, mendidik jiwa-jiwa untuk melakukan kehendak Allah, itu sampai ke kekekalan. Kalau saudara dan saya punya uang, misalnya saya, saya ada uang. Lalu, saya pakai untuk pergi ke satu tempat, dan saya mengabarkan Injil, dan menjangkau jiwa. Saya menggunakan uang itu untuk kekekalan. Kalau saya memiliki satu keluarga, dan saya berdoa sebagai kepala keluarga, dan Tuhan pimpin sesuatu ke sana. Meskipun berat, saya bicara kepada istri dan anak saya, “Kita harus pergi ke sana, karena Tuhan menginginkan kita ke sana.” Kemudian kita melangkah, kami melangkah, maka itu adalah untuk kekekalan. Tidak mungkin Tuhan akan melupakan, Tuhan akan mengajarkan jiwa bagi saya, istri saya dan anak-anak saya, bahwa Tuhan hidup. Kalau guru sekolah minggu, engkau persiapan baik-baik, dan engkau pergi ke kelas sekolah minggu, engkau di berikan sepuluh jiwa yang kecil di tanganmu. Engkau mendoakan mereka, engkau berlutut untuk mereka, engkau mengabarkan Injil yang murni bagi mereka, engkau mengukir pengenalan Allah di dalam jiwa mereka, itu adalah invest untuk kekekalan. Pakai Mamon yang tidak jujur itu, sampai ketika Mamon itu tidak ada lagi. Jiwamu ada di dalam kemah abadi. Maka saudara tahu, mana yang di depan, mana yang di belakang. Maka sekarang, saudara tahu kenapa engkau dikasih umur, kesehatan, teman-teman, pekerjaan dan uang, untuk kamu investasikan bagi kekekalan. Itu kehendak Allah. Itu, adalah kenapa kita harus mengeksposisi jiwa.
Saya sudah menyatakan semuanya, kiranya Tuhan boleh pimpin kita. Minggu depan, kalau Tuhan kehendaki, kita minggu depan masuk di dalam apa itu sesungguhnya jiwa. Mari kita berdoa.
GRII Sydney
GRII didirikan di atas dasar Pengakuan Iman Reformed Injili dengan tujuan menegakkan satu gereja yang berbasiskan teologi Reformed, dengan mimbar yang menyampaikan khotbah ekspositoris, read more