Kejadian 2:7
Tulisan yang ditulis oleh Musa ini sebenarnya luar biasa sederhana, tetapi dalam. Kalau saudara-saudara membaca tulisan filsuf-filsuf, maka salah satu hal yang ingin diketahui oleh mereka, “Siapa manusia itu?” Dari mana asal-usulnya? Dan, apa komponen pembentuknya? Tetapi mereka terus berspekulasi dengan berbagai macam teori. Tetapi hanya Allah saja, Sang Pencipta itu yang bisa menyatakan dengan wahyu-Nya sesungguhnya kita itu siapa. Tulisan yang ditulis oleh Musa itu menyatakan kepada kita, asal-usul manusia. Dan bukan saja asal-usul manusia, Musa juga menyatakan bahwa manusia yang dicipta itu menjadi epitomi seluruh dunia. Dunia itu diciptakan oleh Allah, begitu indah, begitu mulia, begitu kompleks. Dan, kemudian setelah dunia diciptakan, manusia diciptakan pada ujung dari hari penciptaan. Dan, pada hari itu, ketika manusia diciptakan, manusia dalam Alkitab dikatakan sebagai mahkota dari seluruh ciptaan. Itu artinya menguasai seluruh ciptaan, tetapi bukan itu saja. Manusia itu adalah epitomi dari seluruh dunia ini. Epitomi itu apa? Epitomi adalah sesuatu hal seluruh dunia ini diringkas kekompleksannya di dalam satu manusia. Sekali lagi, seluruh kompleksitas dunia ini, maka diringkas di dalam hidup kita. Itulah sebabnya saudara akan menemukan sekarang, seluruh dokter dan seluruh ilmuwan menyadari satu hal. Di dalam diri kita sendiri, itu ada dunia yang terkandung di dalamnya.
Saudara-saudara, sekali lagi. Dunia itu dicipta begitu indah. Begitu harmonis. Begitu jelas pada tempatnya. Tetapi kemudian saudara-saudara, manusia dicipta paling terakhir. Ini bukan saja mahkota. Tetapi ini adalah epitomi daripada seluruhnya. Ringkasan seluruh dunia yang kompleks itu pada hidup kita. Sampai kapan pun manusia tidak mungkin bisa menyelidiki kedalaman dan keluasan dunia. Dan, sampai kapan pun juga, science dan kedokteran tidak bisa menyimpulkan kedalaman dan kompleksitas tubuh kita.
Kemarin saya baru saja periksa mata. Ada sesuatu di mata saya. Kemudian setelah itu diperiksa, mereka mengatakan untuk saya lihat. Wah! Alat untuk bisa memotret dalamnya mata saya luar biasa. Hanya mata saja itu dunia sendiri. Ginjal itu dunia sendiri. Jantung itu dunia sendiri. Semuanya menyatu, luar biasa harmonis. Oh, itu dunia di dalam dunia. Saudara-saudara, sama seperti seluruh galaksi itu digabungkan dan dikondens jadi satu, itu adalah tubuh manusia. Ini luar biasa sekali! Dan ini yang ditulis di dalam Alkitab. Ketika manusia itu diciptakan menjadi penghujung seluruh ciptaan yang ada di bumi. Itu bukan sembarangan, Tuhan itu mengatakan kepada kita.
Sekarang, mari kita kembali sedikit kepada Kejadian 1. Musa itu menuliskan bagaimana bumi itu kosong, bumi itu gelap, bumi itu tidak terbentuk. Dan, kemudian Roh Allah itu melayang-layang. Dan, kemudian nanti Allah itu berfirman dengan Firman-Nya: “Jadilah terang, maka terang itu jadi.” Saya sudah pernah mengatakan hal ini. Maka di dalam ciptaan, penciptaan. Maka tiga Pribadi ini bersatu. Desainnya itu adalah dari Allah Bapa. Dan, kemudian itu cetakannya itu adalah Allah Anak. Itu adalah Firman. Dan, kemudian tenaganya, apinya itu adalah dari Roh Kudus.
Kalau saudara-saudara mau membentuk atau membuat sesuatu, maka sebelum benda ini ada, ada desainer. Dan, kemudian desainer itu mengaplikasikannya untuk menjadikan satu benda ini. Maka kemudian saudara mesti menggabungkan ke-2 hal ini. Yang pertama adalah cetakannya. Nah, saudara-saudara, cetakan benda ini beda dengan cetakan benda itu. Nah, saudara-saudara, setiap benda ada cetakannya sendiri. Itulah Firman. Itulah pribadi ke-2 dari Tritunggal. “Jadilah terang, maka terang itu jadi.” Jadilah cakrawala. Maka cakrawala itu jadi. Cetakan terang berbeda dengan cetakan cakrawala. Cetakan daripada cakrawala itu berbeda dengan cetakan daripada kuda. Dan, cetakan kuda itu berbeda dengan cetakan gajah. Maka seluruhnya ada cetakannya sendiri. Masing-masing memiliki spesifikasinya sendiri. Tetapi, hal yang ke-3 adalah kuasa Roh Kudus. Kalau saudara mau membuat sesuatu, saudara mesti ada cetakannya, ada panasnya. Dan, maka seperti itulah di dalam Kejadian pasal 1 itu Tritunggal itu bekerja. Dikatakan Roh Kudus itu melayang-layang. Di dalam bahasa aslinya, itu seperti burung yang mengerami telur-telurnya. Dan, kemudian setelah itu maka setiap telur itu pecah dan memunculkan individu-individu, anak yang berbeda. Saudara-saudara, sehingga dalam konteks ini, maka terciptalah semua benda dan semua makhluk di dalam bentuk masing-masing dan sifat yang khusus yang berbeda. Maka dari situlah semua dunia ini yang ada itu yang kita bisa lihat itu terjadi. Dengan cara dan urutan inilah, bangunan megah dunia dihasilkan dan didirikan. Tetapi pada saat itu, dunia itu masih seperti rumah yang indah dan lengkap tetapi kosong adanya. Dunia yang indah tetapi tidak ada penghuni, buat apa? Pada saat itu, Allah telah menggunakan hikmat dan kuasanya yang tidak terbatas untuk membuat dunia, dan mengukir namanya pada makhluk yang paling rendah sekalipun. Tetapi belum ada satu makhluk pun yang diciptakan di bumi ini yang dapat membaca nama itu dan memuji kebesaran pencipta yang maha kuasa. Allah sendiri mengatakan, Dia menganggap dunia itu tidak sempurna. Sampai ada makhluk yang diciptakan yang dapat merenungkan, memuji dan menyembah pencipta-Nya.
Nah, saudara-saudara perhatikan baik-baik kalimat di bawah ini. Untuk tujuan itulah, maka manusia, saudara dan saya dicipta. Sekarang, sekali lagi, apa tujuan hidup kita? Saudara-saudara, untuk menikmati Allah dan untuk memuliakan nama-Nya. Itu artinya apa? Saudara dan saya diberikan kemungkinan kapasitas jiwa yang harus dilakukan untuk merenungkan. Ketika saudara dan saya merenungkan apa yang ada di tengah-tengah dunia ini. Maka baru saudara dan saya bisa melihat kemuliaan-Nya, memuji dan menyembah Pencipta. Saudara-saudara, inilah tujuan manusia dicipta. Ketika manusia dicipta terakhir, maka matanya melihat seluruh ciptaan yang indah. Ketika manusia diciptakan terakhir, dia diberikan kuasa untuk bisa menaklukkan seluruh ciptaan Allah yang lain. Saudara-saudara, ini adalah pemberian dari Tuhan membuat manusia itu adalah the crown of creation. Ketika manusia bisa melihat seluruh ciptaan yang lain, manusia bukan saja diciptakan dengan kemampuan melihat. Tetapi dia diciptakan dengan jiwa yang bisa merenung. Dengan renungan itu, merenung apa yang dia lihat. Dia bisa menghubungkan hal-hal yang tidak terlihat dengan yang terlihat. Dan, inilah tujuan jiwa dicipta.
Banyak orang yang tidak lagi menggunakan kemampuan jiwa. Banyak orang yang cuma lihatnya itu yang aku bisa makan. Aku nonton reel TikTok. Segala sesuatu isinya cuma urusan diri, urusan yang kecil-kecil, yang remeh-remeh, yang tidak penting. Kita sudah sangat-sangat ketinggalan dengan apa yang Alkitab itu katakan. Kalau kita tidak masuk ke gereja, pikiran kita mengembara ke mana-mana. Kita dipenuhi dengan hal-hal yang di dunia ini bahkan yang dosa, yang kotor, yang hina. Itulah sebabnya jiwa kita selalu kecapaian. Karena jiwa kita dicipta dengan kemampuan merefleksikan sesuatu yang tidak terlihat. Saudara-saudara, kalau saudara-saudara melihat dunia ini, apakah engkau bisa melihat kenikmatannya dan melihat kemuliaan Sang Pencipta daripada dunia ini? Saudara-saudara, ini tentu setelah kejatuhan tidak mungkin dimiliki oleh kita, kecuali Roh Kudus melahirbarukan. Saudara-saudara, coba saudara bayangkan, istana raja-raja, dihiasi dan dibuat megah. Ketika saudara itu masuk ke dalam istana itu dan saudara menikmati keindahan dan kemegahannya, maka tentu, bukan untuk saudara dan saya menghormati dinding-dindingnya yang diukir indah itu. Ketika saudara masuk begitu indah, begitu mulia, saudara pasti akan ada satu pertanyaan dalam hati. Siapa pemilik ini? Siapa pencipta ini? Siapa yang membangun ini? Luar biasa, orang ini mulia. Saudara-saudara, seorang filsuf mengatakan demikian, “Dunia ini penuh dengan gemerlap dan kemegahan. Yang sengaja dibangun untuk memperlihatkan hikmat dan kuasa Penciptanya. Dan ini adalah untuk dinyatakan kepada satu makhluk, hanya satu makhluk saja yang bisa memikirkannya karena berakal dan itu adalah manusia. Saudara-saudara dan melalui itu, maka dia bisa menikmati Allah dan mempermuliakan nama-Nya.” Saudara-saudara, itulah tujuan manusia diciptakan pada hari terakhir.
Saudara-saudara, pakai ilustrasi yang lebih mudah. Ibu-ibu, ketika saudara mengandung, ketika bayi itu belum lahir, maka saudara siapkan kamar, pakaiannya, ranjangnya. Lalu, kemudian setelah semuanya itu ada, hari saudara-saudara melahirkan dan kemudian bawa bayi itu pulang. Maka seluruh ruangan itu untk bayi itu. Seluruh ruangan itu tidak ada gunanya tanpa bayi itu. Kalau saudara-saudara sudah siapkan semua, maka kalau tiba-tiba bayi itu sampai keguguran, maka kemudian saudara pulang dan saudara tahu seluruhnya empty. Gak ada gunanya seluruh persiapan itu. Jadi saudara, dunia itu diciptakan untuk saudara dan saya. Suadara dan saya boleh menikmati dunia ini. Tetapi menikmati dunia untuk apa? Menikmati dunia untuk saudara menikmati pemberian Allah, sehingga menikmati Allah dan mempermuliakan-Nya. Sekali lagi, melalui hal-hal yang kelihatan oleh mata, saudara dan saya diberikan jiwa untuk berefleksi untuk menghubungkan antara yang kelihatan dan tidak kelihatan. Dan, itu adalah jiwa kita. Di situlah, saudara-saudara memiliki satu kemungkinan untuk menikmati Allah dan mempermuliakan Dia.
Tetapi sekali lagi, berapa banyak orang yang melakukan hal-hal yang tadi barusan saya bicara? Terus pikirannya ke bawah. Alkitab mengatakan, terus pikirannya adalah hal-hal duniawi. Terus pikirannya adalah hal-hal yang tidak senonoh. Sekali lagi, kalau jiwa tidak bisa melihat Allah maka vitalitasnya akan mati. Hanya jiwa yang melihat Allah yang memiliki kehidupan di dalam hidupnya. Saudara-saudara, itulah sebabnya saya sangat-sangat bersyukur ketika Alkitab mengatakan: “Musa itu capai, Musa itu penuh pergumulan, Musa bahkan kalau dipandang secara manusia itu penuh dengan kegagalan.” Tetapi kemudian di tengah-tengah seluruh beban yang mengikat dia, saudara-saudara, dia tidak mengatakan,” Tuhan, lepaskan aku dari bebanku. Tuhan, lepaskan aku dari pelayanan ini. Tuhan, aku mau mundur dari pelayanan ini, kasih sama aku 2 tahun.” Karena itu bukan jawaban daripada hati yang capai. Saudara-saudara, jawaban daripada hati yang capai adalah saudara-saudara, jiwa kita bisa melihat Allah. Jadi kalau saudara-saudara capai pelayanan, saudara-saudara jangan bilang,” Pak, berhenti dulu pelayanan ya.” “Sekarang kamu mau apa?” “Saya mau pergi ke cafe terus, setengah tahun cafe mungkin saya akan jadi pulih. Pak, saya sangat-sangat sudah lelah ini pelayanan, exhausted ini. Wah saya rasa kering.” “Lalu kemudian bagaimana?” “Oh, saya berhenti dulu dari semuanya.” Lalu kemudian dia ke rumah, saya kasih ijin. Berapa tahun? 2 tahun. Ya dia pulang ke rumah, dia pikir dia istirahat, dia scrolling. Saya kasih tau saudara-saudara, itu yang membuat saudara hancur, bukan pelayanan. Saudara menempatkan sesuatu yang salah dalam hidupmu. Saudara-saudara, tidak pernah ada pelayanan yang membuat kita habis. Saudara coba aja, scrolling terus, saudara-saudara. Saudara akan tau jiwamu makin lama makin kering. Itu adalah sesuatu kenyataan. Saudara-saudara, Musa tidak mengatakan, “Aku berhenti dulu.” Tetapi Musa mengatakan, “Show me Thy glory, aku memerlukan kekuatan lagi.” Dan orang yang jiwanya bisa melihat Allah, dia akan kuat untuk bertindak. Saudara-saudara, ini adalah satu rahasia rohani, saudara-saudara mengerti asal-usul kita, saudara mengerti kebutuhan kita.
Saudara-saudara, saya teruskan, setelah seluruh dicipta maka kemudian Tuhan manusia dicipta pada hari yang terakhir, seperti bayi itu di tengah-tengah seluruh ruangan yang sudah disiapkan. Itu ada di dalam Kejadian 1, sekarang Kejadian 2 bicara apa? Kejadian 2, maka Musa itu memberikan suatu zoom in khusus kepada penciptaan manusia. Maka di dalam Kejadian 2:7, saudara akan menemukan 2 hal ini yang diciptakan oleh Tuhan bergabung di dalam diri kita. Yang pertama adalah asal usul tubuh manusia, yang ke-2 adalah asal usul daripada jiwa kita. Saudara-saudara dikatakan di sini,” Tuhan Allah membentuk manusia dari debu tanah.” Saudara perhatikan bahasa Inggrisnya bagus, dari debu, dari tanah. Saudara-saudara, debu adalah materinya kita. Debu adalah sesuatu yang saudara tidak akan perhatikan di tengah-tengah dunia ini. Tidak ada apa-apanya, hina. Saudara perhatikan tubuh kita tidak dibuat dari materi surgawi atau materi langit, dari matahari, dari bintang. Juga tidak dari materi yang paling berharga di muka bumi ini, dari emas, perak. Tetapi dengan sengaja Allah menciptakan kita manusia itu dari debu tanah, yang diinjak-injak itu. Saudara-saudara, kalau saudara-saudara pernah pergi ke tempatnya kematian. Maka di tengah-tengah daripada acara kematian – saya tidak terlalu familiar dengan yang ada di Australia. Tetapi kalau saudara di negara kami di Indonesia, maka pada waktu sudah tutup peti dan sudah mau dimasukkan ke bawah, maka kemudian saya akan mengambil debu di tanah. Ya, seluruh pendeta akan melakukan itu, dan kemudian saya akan menaburkan di tempat petinya dan kemudian saya mengatakan, “Dari debu kembali ke debu.”
Saudara-saudara secantik apapun kita, seganteng apapun kita, sehebat apapun kita, sesehat apapun kita, kita ini debu. Saudara-saudara, kenapa ya Tuhan menciptakan kita dari debu? Maka 2 hal ini, pertama untuk terus menerus memperingatkan kita untuk mencegah kita dari kesombongan. Sekali lagi, untuk mencegah kita dari kesombongan. Tidak ada gunanya saudara dan saya itu sombong, kita ini debu. Kita akan kembali ke tempat debu. Saudara-saudara, kalau dandan bilang, “Ini aku debu, aku debu.” Jadi jangan lama-lama itu saudara-saudara. Saudara-saudara Pendeta Stephen Tong mengatakan, “Salah satu pemborosan hidup manusia yang paling atas itu adalah alat make up.” Mahal sekali, dipakai lalu kemudian sorenya dihapus lagi. Saudara-saudara, bukannya tidak boleh make up ya, kita tidak radikal seperti itu. Nah saudara-saudara, kita mengerti kita ini debu, kita tidak lebih daripada itu, kita akan kembali ke debu. Debu adalah bicara mengenai sesuatu yang kotor, yang hina, dan debu dari ground.. dari bawah. Kenapa ya Tuhan membentuk kita dari debu, pertama adalah untuk membuat kita itu selalu ingat asal kita, engkau manusia jangan sombong.
Nah saudara-saudara, yang ke-2, kalau Tuhan bisa membuat manusia yang mulia ini dari bahan yang paling hina ini, itu artinya menyatakan kemahiran-Nya. Perhatikan, ini adalah spesialisasinya Tuhan, ini adalah expert-nya Tuhan. Kalau seseorang ditanya,” Expert-mu apa?” “Saya expert di kimia.” “Apa expert-mu?’ “Saya adalah seorang finance yang paling hebat.” Dan kemudian ketika kita tanya, “Apa expert-nya Tuhan?” Dia adalah satu Pribadi yang bisa mengubah sesuatu yang hina menjadi mulia. Yang celaka, yang sangat-sangat misery lalu menjadi satu pribadi yang luar biasa hebat dipakai oleh Tuhan. Ini terjadi di tempatnya creation dan ini juga terjadi di dalam redemption. Pada waktu creation kita dicipta dari debu menjadi satu mahluk yang mulia, dan di dalam redemption, kita dibentuk diciptakan ulang dari seorang yang paling berdosa menjadi orang kudusnya Allah. Ini adalah sesuatu yang indah, mulia dan elegan.
Saya teruskan sekarang. Manusia itu dibentuk dari debu tanah, nah sekarang kita bicara mengenai ‘dibentuk’. Di dalam bahasa aslinya namanya yatsar יָצַר. Yatsar itu artinya dibentuk dengan begitu cermat. Kata yang dipakai persis seperti seorang anak main play dough, yaitu ditekan, dimampatkan, dibentuk, dimodelkan, seperti seorang tukang periuk dengan tanah liatnya. Kata yatsar ini muncul di dalam kitab Kejadian, tetapi saudara-saudara, ada kata yang lain yang dipakai dalam Mazmur 139. Mari kita lihat Mazmur 139 maka ini dikatakan seperti dirajut. Mari kita melihat Mazmur 139:15-16. Mari kita membaca bersama-sama. Saudara-saudara Mazmur 139, menggunakan, Allah menciptakan kita itu seperti disulam, digambar, dihiasi indah dengan jarum. Suatu pekerjaan yang presisi, yang teliti, buatan tangan sendiri. Maka sekarang saya akan gabungkan dua kata ini, di dalam Kejadian 2 dan Mazmur 139. Saudara-saudara ketika Allah menciptakan tubuh kita saudara perhatikan, kita bukan mass production kita ini diciptakan satu per satu dengan tangan dan perhatian-Nya sendiri. Kita ini adalah masterpiece dari hasil desain-Nya sendiri. Maka jangan membenci hidup kita, jangan membenci diri kita. Allah sendiri take care dengan perhatian pribadi-Nya kepada kita. Saudara-saudara, kita bukan kodian-orang Jawa bilang. Mass production. Beli berapa? satu kodi, satu truk begitu, itulah sebabnya setiap manusia itu jiwanya berharga, setiap manusia hidupnya berharga. Tidak ada orang ditembak mati, ah biasa kayak gini sudah biasa tidak papa, ada banyak yang lain. Kalau Samantha itu mati, tidak ada lagi Samantha di seluruh dunia, kalau saya itu mati, tidak ada seperti saya di seluruh dunia, kalau saudara itu mati, tidak ada lagi saudara di seluruh dunia. Saudara dan saya adalah bentukan dari tangan Allah sendiri. Ya dari debu, ya dari hina, tetapi Dia itu mengambil yang hina membentuknya menjadi saudara dan saya. Maka saudara tahu, ketika ini terjadi kita sungguh-sungguh merupakan sesuatu hal yang Dia sendiri itu desain dengan Dia sendiri bayar harganya.
Saudara-saudara, ada beberapa orang yang di sini itu suka membuat kue. Nah berapa jam saudara-saudara membuat kue? atau saudara-saudara membuat makanan. Saudara-saudara, saudara membuat kue apalagi itu kue tart bisa berjam-jam. Kalau saya lihat Silvi bikin kue tart saya selalu tanya sama dia, “Semalam tidur jam berapa?” Nah saudara-saudara, orang buat kue tart ndak mungkin satu jam dua jam, begitu lama. Saudara-saudara sekarang coba bayangkan, orang itu buat kue tart lalu kemudian sampai di gereja lalu ada anak lari atau orang sengaja buang kue tart itu sehingga rusak, saya tanya, “Hatinya seperti apa?” Hati pembuatnya seperti apa? Hari ini, di dalam surga, Allah sangat sedih dengan seluruh perang yang ada. Menyakitkan itu di hadapan Allah! Sangat keji. Tapi itulah setan. Apa kerja setan? Membuat permusuhan, selalu. Selalu membuat pertentangan, membuat permusuhan. Anak Tuhan yang sejati adalah saudara harus peka Tuhan itu seperti apa melihat seluruh dunia. Allah menciptakan satu per satu dengan tangan-Nya, dengan seluruh yang Dia punya desain nya, dengan seluruh harga yang Dia punya. Untuk menciptakan tubuh manusia. Itulah sebabnya Tuhan mengatakan, “Dilarang untuk membunuh.” Bukan bicara moralitas, karena itu adalah melawan daripada natur penciptaannya sendiri. Saudara-saudara, saya akan teruskan Minggu depan untuk hal ini. Tetapi, kiranya Tuhan sendiri membukakan kepada kita satu prinsip di dalam hidup kita tubuh, biarlah itu saudara dan saya pergunakan baik-baik dan hormati baik-baik. Mari kita berdoa.
GRII Sydney
GRII didirikan di atas dasar Pengakuan Iman Reformed Injili dengan tujuan menegakkan satu gereja yang berbasiskan teologi Reformed, dengan mimbar yang menyampaikan khotbah ekspositoris, read more