Kejadian 2:7
Minggu yang lalu kita sudah membicarakan asal usul dari tubuh kita. Alkitab mengatakan tubuh diciptakan dari unsur yang sangat tidak berharga yaitu debu, dari bawah. Bukan saja dust, tetapi dust yang dari bawah, dari ground. Sesuatu yang rendah, sehingga kita seharusnya terus menerus ingat siapa kita. Bapa-bapa gereja, Agustinus dan Calvin menyatakan 2 hal yang ingin diketahui oleh dirinya; yaitu mengenal Allah dan mengenal diri. Biarlah kita boleh menyadari, kita harus mengenal diri sesungguhnya, kita itu siapa. Kita harus ingat bahwa kita diciptakan oleh Allah dengan jiwa dan memiliki tubuh. Tubuh itu diambil, diciptakan dari kerendahan, dari debu di bawah. Tetapi saudara perhatikan, kerendahan ini tidak sama dengan kejahatan karena Tuhan sendiri mengatakan seluruh yang diciptakan-Nya adalah sungguh amat baik. Sekali lagi itu tubuh itu diciptakan dari apa? Dari debu, dari sesuatu yang tidak berguna, dari sesuatu yang kita injak-injak sendiri, dari sesuatu yang kita tidak pernah perhatikan. Kalau saudara melihat berlian, saudara perhatikan.Kalau saudara melihat ada uang di tengah-tengah debu, saudara perhatikan uangnya, bukan debunya kan? Debu adalah sesuatu yang tidak berharga bagi kita, tetapi pada saat yang sama Alkitab mengatakan; tubuh yang diciptakan dari debu itu adalah karya tangan Allah sendiri. Kalimat yang dipakai di sini adalah kalimat yang bicara berkenaan dengan seseorang dengan tangannya memintal sesuatu, atau seseorang yang mengambil lumpur dan membentuk dengan tangannya sendiri. Itu artinya bahwa tubuh kita dibentuk oleh Allah secara pribadi. Kita bukan ciptaan massal, tetapi kita adalah ciptaan yang sungguh-sungguh mendapatkan design, mendapatkan perhatian, mendapatkan “waktu” dari Allah sendiri. Kemampuan Allah menciptakan sesuatu yang luar biasa hebat ini, dari sesuatu yang begitu rendah itu. Itu menyatakan sesuatu kemahiran, kehebatan Allah.
Sekali lagi, minggu yang lalu saya sudah mengatakan tubuh kita adalah epitomi dari seluruh jagat alam semesta, itu artinya tubuh kita adalah ringkasan sempurna dari kerumitan jagat semesta. Kalau kita memperhatikan seluruh alam semesta, maka saudara dan saya mengerti, bahwa para scientists pun terus berusaha untuk mendalami kehebatan dan ketertakjuban dari alam semesta. Alam semesta begitu kompleks dan tidak ada batasannya, sampai para scientists tidak mendapatkan limitnya, dan hal itu terjadi ketika para dokter dan scientists itu melihat tubuh kita. Ginjal kita itu adalah dunia sendiri. Mata kita itu adalah dunia sendiri. Paru-paru kita itu adalah dunia sendiri. Tubuh yang kita punya adalah epitomi dari seluruh jagat alam semesta. Sekali lagi, kerumitan seperti ini diciptakan dari debu. Itu adalah pencipta yang luar biasa brilliant. Dan sekali lagi saya mau menegaskan, minggu lalu saya sudah katakan, kalau seseorang itu membuat kue tart, saudara-saudara perhatikan prosesnya. Dia beli seluruh bahannya, dan ada proses pembuatan berjam-jam. Lalu dia mendandani kue tart itu menjadi sesuatu yang indah sampai detail. Maka perhatiannya ada disana, pikirannya ada di sana, designnya itu diletakkan di sana dan akhirnya menjadi satu bentuk yang sangat indah. Lihat pembuat kue tart ini, berapa banyak biaya yang diperlukan, waktu yang digunakan, usaha yang dilakukan, perhatian yang ada di sana. Seluruh hatinya dan perhatiannya diletakkan pada kue itu. Dan hal yang sama dilakukan oleh Allah untuk pembentukan kita. Seluruh perhatian-Nya, seluruh usaha-Nya, seluruh kreatifitas yang dimiliki-Nya, dan seluruh “biaya” yang dikerjakan-Nya untuk membuat tubuh ini. Saudara perhatikan, tubuh ini dibuat hanya untuk satu, untuk jiwa itu bisa ditempatkan. Sekarang saudara perhatikan seluruh rancangan. Dia menciptakan seluruh yang indah di seluruh jagat alam semesta; cakrawala, air, matahari, udara, lautan, seluruhnya yang indah diciptakan, untuk apa? Untuk tempat di mana tubuh itu bisa tinggal. Untui apa Dia menciptakan tubuh? Untuk yang paling berharga dari seluruh ciptaan itu tinggal berdiam, yaitu jiwa. Perhatikan sekali lagi, seluruh alam semesta diciptakan untuk tubuh bisa berjalan. Tetapi tubuh adalah satu kotak permata saja, dari jiwa yang paling berharga. Saudara bisa mereduksi seluruh alam semesta, sekarang yang paling berharga adalah jiwamu dan jiwaku. Oh betapa khususnya jiwa. Betapa pentingnya jiwa, itulah sebabnya kita terus akan memikirkan apa yang Alkitab katakan berkenaan dengan jiwa.
Saya dipanggil oleh Tuhan menjadi hamba Tuhan. Dan di dalam mimbar, di dalam anugerah Tuhan, saya tidak mau mengatakan urusan sepele. Hal yang penting, Alkitab mengatakan kita harus khotbahkan berkali-kali. Hal yang tidak penting, boleh dikhotbahkan tapi hanya sesekali saja. Saya tidak tahu kenapa banyak sekali gereja dan mimbar yang terus bicara berkenaan dengan uang, hal yang tidak penting, mengapa dibicarakan? Pengenalan akan Allah itu penting. Mengerti karya Allah itu penting. Salib itu penting. Jiwa itu penting. Kenapa sekarang kita terus memikirkan hal yang tidak penting? Hal yang tidak penting itu, Tuhan akan memberinya saudara, tetapi hal yang penting Dia mau untuk saudara dan saya menyelidikinya. Yang menjadi perhatian Allah itu menjadi perhatian kita. Kalau sekarang banyak sekali orang-orang disini diutus oleh orang tuanya, dan engkau sekarang itu kuliah. Dalam pikiran orang tuamu maka yang penting adalah kuliah. Apa jadinya kalau engkau sampai disini engkau memikirkan hal yang lain, tetapi kuliah menjadi tidak penting? Engkau memikirkan mengenai berpacaran: “Memangnya tidak boleh Pak?” Boleh, tetapi bagi orangtuamu yang paling penting itu adalah engkau berhasil di dalam pendidikan. Lalu engkau terus pergi berlibur ke mana-mana, karena menikmati Australia. “Lho Pak, gak boleh ya Pak?” Boleh, tetapi saudara-saudara, yang paling penting adalah bagaimana dengan kuliahmu. Engkau menonton film terus pergi ke bioskop: “Memangnya tidak boleh Pak?” Boleh, tetapi yang paling penting bagaimana dengan kuliahmu. Saya tidak katakan kuliah segala-galanya. Saya sedang memberikan satu ilustrasi apa yang penting bagi orangtuamu. Engkau dan saya diutus untuk hal itu, apa yang dilihat penting oleh Allah. Lalu yang lainnya bagaimana? Engkau dan saya boleh menikmati sebagai tambahan, asal bukan dosa. Jiwa itu penting, seluruh alam semesta diciptakan untuk tubuh ini berada. Dan tubuh itu dirangkai luar biasa rumit untuk satu hal; jiwa itu menetap. Maka biarlah kita boleh mendalami, mengerti dari jiwa.
Tetapi pada pagi hari ini, mata saya tertuju kepada satu kata, yaitu debu. Hari ini kita akan lihat debu ini sesungguhnya bicara mengenai apa. Alkitab menjelaskan debu adalah salah satu gambaran yang paling menarik. Secara paling dasarnya sekali lagi, debu merupakan simbol dari sesuatu yang bernilai rendah. Debu itu asalnya adalah suatu kerendahan atau sesuatu yang sederhana. Maka kita perlu memeditasikan, kita perlu memikirkan, merefleksikan tentang unsur debu di dalam tubuh kita. Debu itu bicara tentang apa ketika Alkitab katakan debu.
Yang pertama, debu ketika muncul, maka itu sesuatu peringatan untuk tidak sombong dan melupakan Allah. Perhatikan kata debu ini kalau muncul dalam Alkitab. Tujuan Allah selalu menuliskan debu itu untuk membuat satu peringatan untuk kita semua tidak sombong dan melupakan Allah. Mari kita melihat Alkitab. Mari kita melihat 1 Raja-raja 16:2. ‘Aku akan menyapu bersih,’ apa yang disapu? Apakah saudara menyapu bola? Enggak kan? Yang saudara sapu apa? Debu. Jadi, ini adalah seseorang yang sudah mendapatkan anugerah Tuhan dari rakyat biasa, kemudian diangkat jadi raja. Tetapi dengan berkat-Nya, maka dia membawa banyak orang berdosa. Tuhan sudah tidak kuat lagi melihat. Tuhan marah kepada dia, dan kemudian Dia mengatakan: “Engkau telah kutinggikan dari debu, dan sekarang Aku akan merendahkan engkau, Aku akan membakar engkau menjadi debu, Aku akan menyapu engkau.” Sekali lagi kata debu itu bukan masalah sederhana dalam Alkitab. Kata debu itu menarik sekali dalam Alkitab. Kalau diangkat sama Tuhan, jangan sombong! Harus ingat kita itu debu, tidak layak untuk diangkat. Kalau engkau sekarang punya uang, kalau engkau sekarang punya kedudukan, kalau engkau adalah pemimpin-pemimpin direktur, CEO dari perusahaan, dan engkau berlaku sombong, Tuhan akan mengembalikan engkau kepada debu. Bertobat! Jangan pernah sombong! Tidak ada kelayakan engkau diangkat sedemikian tinggi. Semuanya itu cuma anugerah. “Baesa, engkau kutinggikan dari debu.” Kalimat ini muncul tiba-tiba lho. Tuhan mau mengingatkan: “You itu debu ya.” Dengan orang yang sudah sombong sampai tingkat tertentu, Tuhan langsung bilang, “You mesti ingat ya, you itu debu.” Kiranya Tuhan memelihara kita.
Hal yang ke-2. Sekali lagi debu adalah peringatan dari Tuhan untuk kita tidak sombong dan melupakan Dia. “Aku angkat engkau menjadi debu, sekarang Aku akan bakar engkau, dan kemudian Aku akan sapu debu ini.” Yang kedua, debu itu selalu dekat dengan perkabungan, selalu dekat dengan ratapan. Orang-orang Israel mengerti prinsip ini. Kita jarang, kita orang modern sudah jarang sekali mempunyai custom seperti ini. Orang Israel kalau sudah kehilangan orang yang paling dikasihi, dia akan memakai kain kabung, kemudian dia akan mengambil debu dan menaburkan di atas kepalanya. Debu mau mengingatkan kita, bahwa air mata adalah bagian integral dari hidup kita, apalagi manusia jatuh di dalam dosa, maka hidup kita dekat sekali dengan ratapan. Hidup kita itu dekat sekali dengan air mata. Kita bukan orang yang terus bisa berjalan gagah. Sewaktu-waktu kita dibuat tertunduk dan berlinang airmata. Ingat bahwa kita ini debu. Debu di dalam Alkitab menyatakan kekecilan manusia di dalam sengsara. Kalau saudara mendengar kitab Ayub maka pasti ada dalam pikiran saudara-saudara mengenai penderitaan. Tetapi apakah kita tahu bahwa dalam seluruh kitab Ayub, ada 22 kali Ayub bicara debu. Mari kita melihat bersama-sama Ayub 42:5-6. Debu. Kenapa Ayub mesti bilangdebu? Sekali lagi, di tengah-tengah seluruh kesengsaraannya, dia tahu dia nothing. Dia itu kecil. Dia itu hina. Dia itu debu.
Hal yang ke-3. Ketika debu ini dimunculkan di dalam Alkitab, Allah mengajarkan kepada kita tentang ketergantungan kepada anugerah-Nya saja. Sebelum saya jelaskan dalam ayat Alkitab, maka saya akan jelaskan prinsipnya sekali lagi. Debu tidak selalu bicara mengenai sesuatu yang jahat, tetapi adalah bicara mengenai sesuatu yang hampir tidak berarti. Matthew Henry mengatakan: “Kita bukanlah terbuat dari debu emas, atau bubuk mutiara, atau debu berlian, tetapi sekali lagi, debu dari bawah. Maka di dalam menggambarkan manusia sebagai makhluk yang dari debu, maka Alkitab sedang mengajarkan, menekankan mengenai asal-usul manusia yang rendah, tetapi pada saat yang sama ini menunjukkan bahwa manusia boleh bercita-cita untuk kemuliaan, tetapi hanya di dalam anugerah Allah. Sekali lagi, meskipun saudara dan saya itu diciptakan dari bawah, Matthew Henry mengatakan: Engkau dan saya boleh bercita-cita untuk kemuliaan, untuk meraih kemuliaan itu, tetapi biarlah kita mengerti bahwa Tuhan mengatakan kita itu debu untuk menegaskan bahwa kemuliaan, kalau itu menjadi cita-cita kita hanya bisa didapat melalui kasih karunia Allah. Saya sangat-sangat tersentuh di dalam 2 ayat ini. Mari kita melihat Kejadian pasal 18:27. Di dalam Kejadian 18 kita tahu bahwa ini bicara mengenai doa syafaat Abraham untuk Sodom dan Gomora, karena ada Lot di sana dan Abraham itu berdoa meminta kalau ada 50 orang benar di sana 45, 40, 30, 20, 10 dan seterusnya. Tetapi perhatikan ketika dia itu memohon anugerah yang besar, pada saat yang sama, Abraham diberi pengertian sesungguhnya dia ini siapa. Saudara-saudara bisa melihat bahwa Abraham tidak datang dengan confident yang berdasarkan pada diri sendiri. Dia mengatakan, “Aku ini debu dan abu. Aku minta ampun. Aku minta ampun kepada-Mu Tuhan karena aku berkata sekali lagi.” Perhatikan ayat 27, aku ini memberanikan diri untuk minta lagi sama Tuhan, padahal aku ini debu dan abu. Perhatikan kapan Abraham itu mengatakan hal ini? Ketika dia berdoa syafaat. Apa urusan Sodom dan Gomora itu dengan dia? Kalau tadi saya minta saudara-saudara untuk berdoa untuk Iran. Mari kita berdoa untuk perang yang ada. Mari kita berdoa untuk banyak orang-orang yang menjadi korban di sana. Sering sekali kita pikir aku berdoa berarti aku ‘lebih hebat’ dari mereka dan nanti Tuhan itu akan mengabulkan doaku. Apalagi kalau misalnya saya berdoa untuk seseorang, kemudian jawaban itu ada. Kemudian saya merasa saya lebih rohani daripada orang itu. Abraham tidak. Abraham berdoa untuk Sodom dan Gomora. Tidak ada urusannya sama dia. Tetapi dia mengatakan, “Aku memberanikan diri padahal aku ini debu dan abu.” Ini teologi doa. Sebagus apa pun orang itu berdoa, setulus apa pun orang itu berdoa, sebesar apa pun iman orang itu berdoa, dia adalah bapa orang beriman. Anak Tuhan yang sejati akan memiliki satu preposisi paling dasar ini; Dia tidak layak untuk didengar karena kita itu abu. Kita itu debu dan abu. Kalau kita sendiri tidak mau untuk memperhatikan debu, kenapa Allah pencipta langit dan bumi yang kekal selama-lamanya harus memperhatikan debu seperti ini? Abraham terus berdoa: “50, Tuhan”, dengan air mata. “Kalau 45, Tuhan? Kalau 40, Tuhan? Kalau 30, Tuhan? Ampun, aku ini debu.” Oh, itu persis masuk istana raja, bertemu dengan raja yang ada di singgasana dan dia mengucapkan satu kalimat demi satu kalimat dengan gemetar. Ini adalah jiwa yang dibentuk oleh Roh Kudus. Jiwa anak-anak Allah. Anak Allah bukan jiwanya seperti ini: “Oh, Engkau sudah berjanji sama aku, aku claim janji-Mu. Engkau harus ingat aku itu anak Allah. Oh Tuhan, aku itu raja-raja kecil.” Gak, gak pernah. Pendoa-pendoa syafaat menyadari kita ini debu.
Ayat ke-2 yang menusuk hati saya: 1 Samuel 2:8. Kapan ini ada? Yaitu ketika Hana itu beroleh anak. Kemudian, di dalam puji-pujian Hana, yang doanya itu dijawab, saudara akan mengerti bagaimana sebelumnya dia itu menghadap Allah. Apa attitude heart-nya? Ia menegakkan orang lemah dari dalam debu, mengangkat orang miskin dari timbunan abu. Dia menyadari dia tidak layak diangkat. Dia tidak layak untuk dijadikan satu bintang yang cemerlang. Dan pembelaan Tuhan, jawaban doa dari Tuhan seperti mengangkat orang miskin dari debu dan diangkat ke atas. Ini sekali lagi bicara untuk menghargai anugerah yang diberikan kepada kita. Setiap anugerah yang diberikan Allah kepada engkau dan saya, kiranya Roh Kudus akan meremukkan hati kita sehingga kita boleh menikmati anugerah itu dengan pada saat yang sama kita menyadari aku tidak layak untuk menerimanya. Hai jemaat, biarlah kita ingat satu hal bahwa engkau dan saya adalah abu!
Hal yang ke-4. Ketika Alkitab mengatakan tentang debu abu, itu adalah simbol untuk dihina, simbol kekalahan yang besar. Ini ayat yang terkenal: Kejadian pasal 3:14, ayat ini secara harfiah tidak berarti ular itu memakan debu. Debu dimakan oleh ular atau debu di mulut ular artinya gambaran kekalahan dan penghinaan besar. Sebelum kejatuhan, setan adalah makhluk yang cerdas dan sangat kuat. Dia adalah pemimpin seluruh malaikat. Tetapi di satu titik yang kita tidak tahu kapan dan bagaimana terjadinya, makhluk yang sangat cerdas ini memunculkan pikiran yang sangat tidak cerdas bahwa dia berpikir dia bisa hidup tanpa Tuhan. Dia berpikir dia bisa hidup tanpa menyembah Allah. Dia berpikir bahwa dia bisa hidup tanpa mengabdi kepada Allah. Berapa banyak orang di tengah-tengah dunia ini yang memiliki pikiran yang sebodoh itu? Juga orang-orang Kristen, berapa banyak dari engkau ketika engkau sudah mendapatkan posisi engkau berpikir sebodoh setan? “Yang menopang hidupku adalah uang. Yang menopang hidupku adalah karier.” Itu cara berpikir setan. Dia pertamanya menyembah. Pertamanya mendengar. Dia pertamanya mengabdi. Tetapi kemudian dalam posisinya dia berpikir sesuatu yang tidak cerdas. Padahal di dalam Alkitab dikatakan ular adalah salah satu binatang yang paling cerdik. Pribadi cerdas itu pada satu titik memunculkan pikiran yang sama sekali tidak cerdas, bahwa ia dapat hidup tanpa Tuhan dan bahwa dia akan seperti Tuhan. Tetapi kemudian seluruh pikiran itu adalah suatu kesalahan besar. Pemberontakan itu menjadi suatu kegagalan besar. Hasil akhirnya bukanlah dia mendapatkan dari pimpinan menggantikan Allah di surga; hasil akhirnya dia menjadi buronan di alam semesta ciptaan Allah ini. Dan dari penghakiman Allah pertama-tama kepada setan, kerubim ini, satu panglima malaikat ini, penghakiman pertamanya adalah dia harus merasakan debu di mulutnya sebelum pada akhirnya dia akan dibasmi di dalam kekekalan. Tetapi debu yang dirasakan oleh setan ini, dia berniat di dalam hatinya, “Aku tidak mau makan debu ini sendiri. Manusia ciptaan Allah ini harus bersama-sama dengan aku makan debu ini.” Dan dia terus menggoda kita. Menggoda Adam dan Hawa sampai akhirnya Adam dan Hawa mengikuti dia. Tubuh Adam dan Hawa memakan buah itu. Ini adalah bicara mengenai pemberontakan. Barang siapa dari kita pada hari ini tidak taat kepada Allah, saudara dan saya akan memakan debu. Alkitab mengatakan orang fasik ujungnya adalah penghinaan, orang benar maka ujungnya ada damai sejahtera dan penyertaan Tuhan. Manusia lalu mengambil buah itu mengikuti saran setan itu. Dan ketika dia makan, dia harus kembali ke debu. Seluruhnya debu. Dan tidak ada satu pun yang bisa mengangkat kita dari debu ini. Tuhan bicara kepada Adam. Mari kita melihat Kejadian 3:19. Bagaimana Adam yang sudah jatuh dalam dosa dikaitkan oleh Allah langsung dengan debu? Tuhan menciptakan manusia dari debu. Setelah itu, Dia tidak berbicara apa-apa lagi. Dia tidak bicara berkenaan dengan debu-debu. Tidak ada. Dia tidak menakut-takuti kita. Begitu manusia jatuh dalam dosa, kita diingatkan oleh Tuhan, “Kau debu.” Allah itu Allah yang Maha Kasih. Allah itu Allah yang baik. Tetapi ada waktu-waktunya Dia memperingatkan kita dan mengatakan, “Engkau debu.” Sampai suatu hari, Dia mengingat bahwa kita ini debu dan abu. Dan Dia mengirimkan Kristus Yesus yang nanti akan membangkitkan kita dari abu. Mari kita membaca ayat terakhir ini. Roma 8:11. Perhatikan bahwa hanya Roh Kudus, hanya Kristus melalui Roh-Nya yang bisa mengembalikan tubuh itu dari debu menjadi kemuliaan lagi. Kiranya Tuhan mengingatkan saudara dan saya betapa kita ini mulia, tetapi kita adalah debu. Kiranya Dia boleh dipermuliakan. Mari kita berdoa.
GRII Sydney
GRII didirikan di atas dasar Pengakuan Iman Reformed Injili dengan tujuan menegakkan satu gereja yang berbasiskan teologi Reformed, dengan mimbar yang menyampaikan khotbah ekspositoris, read more