Kej 2:7
Minggu yang lalu kita sudah sampai di dalam pembentukan tubuh. Dan saya sudah mengatakan satu kalimat yang penting. Seluruh dunia begitu detail, seluruh alam semesta, galaksi dan dunia bumi ini diciptakan untuk manusia itu ada. Tidak ada gunanya bintang, bulan, dan seluruh dari tata surya jikalau tidak ada manusia. Tidak ada gunanya gunung yang indah dan lautan yang biru tanpa manusia itu hadir. Tapi sekali lagi biarlah kita boleh perhatikan apa yang Alkitab itu nyatakan. Seluruh dunia diciptakan untuk menjadi tempat bagi tubuh manusia, dan tubuh manusia diciptakan hanya sebagai tempat permata yang paling indah yaitu jiwa. Tubuh ini sebagus apa pun adalah tempat permata saja. Kalau saudara-saudara mendapatkan tempat permata, engkau simpan tetapi permatanya hilang, untuk apa? Kalau saudara memiliki tempat permata, tetapi permatanya hancur, buat apa? Yang paling penting adalah permata itu sendiri, dan itu adalah jiwa kita. Dan demikianlah Kejadian pasal 1 dan 2 itu diciptakan menuju hal yang paling inti yaitu jiwa. Inilah kulminasi, titik tertinggi dari penciptaan. Jiwa manusia. Jiwamu dan jiwaku.
Nah Saudara-saudara, ketika Alkitab menyatakan Allah menciptakan jiwa, maka saudara lihat bahwa ini berbeda dengan seluruh ciptaan yang lain. Bahkan ketika Allah menciptakan seluruh galaksi, berbeda dengan penciptaan tubuh. Seluruhnya dengan Firman, seluruhnya dengan kalimat. Jadilah cakrawala! Maka cakrawala jadi. Jadilah matahari! Maka matahari itu jadi. Dan tidak pernah Allah mengatakan jadilah manusia, manusia jadi. Tidak pernah. Saudara-saudara, Dia menggunakan tangan-Nya sendiri, mengambil debu tanah dan kemudian membentuk tubuh kita. Engkau dan saya tidak diciptakan, itu adalah mass production. Engkau dan saya diciptakan dengan desain tertinggi dari Allah, dengan kemampuan yang terhebat dari Allah. Dengan design, dengan perhatian khusus, dengan tangan-Nya sendiri. Dan setelah Dia membentuk tubuh dari tanah liat, dari dust yang dari bawah, kemudian tiba-tiba Dia melakukan sesuatu yang mengejutkan. Dia kemudian meniup debu tanah itu, dan kemudian menjadikan ada sesuatu yang dimasukkan yaitu jiwa. Saudara perhatikan dua kata ini digabung dalam Alkitab, Allah meniupkan atau Allah bernafas, dan kemudian yang dinafaskan itu menjadi nafas yang hidup, jiwa yang hidup. Maka saudara-saudara akan menemukan satu prinsip yang tidak mungkin terpisahkan, yaitu hubungan yang kuat sekali antara nafas dan jiwa.
Saudara-saudara, hubungan yang kuat sekali antara nafas menghembuskan, dihembuskan, dengan jiwa atau roh. Saudara-saudara, di dalam Alkitab, kata jiwa dan roh itu interchangeable. Jadi Allah menghembuskan, menafaskan, dan kemudian nafas hidup itu artinya jiwa yang hidup atau roh yang hidup. Sekali lagi untuk memahami ayat-ayat ini, maka kita perlu menyadari hubungan erat antara roh atau jiwa dengan nafas. Di dalam seluruh bahasa yang penting yang dipakai dalam teologia uniknya maka jiwa dan nafas itu identik. Jadi seluruh kata-kata di dalam bahasa Latin, Yunani dan Ibrani, maka saudara akan menemukan roh dan jiwa, itu satu katanya, dan kemudian di tempat yang lain adalah nafas, udara, angin, itu adalah identik. Kalau saudara-saudara misalnya saja, bahasa Inggrisnya spirit itu adalah dari bahasa Latin spiritus. Spiritus itu dalam Latin artinya roh, tetapi juga adalah nafas, angin, udara. Itu sama. Kalau saudara-saudara melihat dalam bahasa Yunani, roh dan nafas itu memiliki satu kata yang sama, namanya pneuma. Kalau saudara-saudara mempelajari theology of the Holy Spirit berarti pneumatology. Tetapi kalau saudara-saudara bicara berkenaan dengan nafas atau udara atau angin, dalam bahasa Inggris itu ada kata namanya pneumatic. Pneumatic itu menuju kepada alat-alat apa pun yang dioperasikan dengan udara, misalnya bor pneumatic. Kalau saudara-saudara punya sakit, sakitnya apa? Oh itu hampir saja meninggal. Sakitnya apa? Pneumonia. Itu artinya adalah penyakit pada rongga pernafasan atau paru-paru. Itu ada urusannya dengan nafas. Unik ya. Saudara-saudara, kata-kata yang penting di dalam bahasa-bahasa yang pokok di seluruh dunia, ketika bicara berkenaan dengan angin dan udara itu adalah sama dengan spirit atau jiwa.
Saudara-saudara, sekarang kalau dalam bahasa Ibrani lebih unik lagi. Apa kata untuk roh atau nafas atau angin atau udara? Kata itu adalah “ruah”. Saudara bahkan tidak bisa mengucapkannya kalau saudara tidak menghembuskan nafas saudara. Itu bukan suatu kebetulan. Memang kalau saudara-saudara mempelajari kata-kata Ibrani, kapan-kapan kalau Tuhan kasih saya akan memunculkan kepada saudara-saudara, oh begitu banyak keindahan-keindahan yang tersembunyi di dalamnya. Ruah. Saudara-saudara, sekali lagi ini adalah menunjukkan berkenaan dengan kesamaan antara roh, jiwa, dengan udara, dengan angin, dengan nafas. Saudara boleh menafsirkan Kejadian 1:1. Mari kita lihat. Dan ini adalah tafsiran yang memang sah. Kejadian 1:1-2: “Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi. Bumi belum berbentuk dan kosong; gelap gulita menutupi samudra raya, dan Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air.” Saya sudah pernah mengatakan pada saudara-saudara, secara teologis bahwa ini adalah penciptaan oleh Allah Tritunggal. Design-nya adalah Allah Bapa dan kemudian cetakannya adalah Allah Anak, itu adalah Firman, kemudian kuasanya itu adalah dari Allah Roh Kudus. Panasnya itu adalah Allah Roh Kudus. Saya pernah memberikan pada saudara-saudara satu ilustrasi berkenaan dengan satu induk burung yang kemudian mengerami telur-telurnya dan kemudian telur itu menetas. Dan kemudian jadilah identitas-identitas yang ada di dalam seluruh ciptaan ini, ada langit, ada bumi, ada matahari, bintang, dan semuanya. Dan seperti itulah Musa menggambarkannya. Tetapi di tempat yang lain, tulisan ini juga berarti seperti ini: Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi. Bumi itu belum berbentuk dan kosong. Dan kegelapan di atas permukaan jurang terjadi. Dan saudara perhatikan, dan angin yang dahsyat atau roh yang dahsyat menerpa permukaan air. Nah, ini adalah satu kalimat yang tepat. Jadi mau bicara mengenai kekuatan Allah yang besar seperti angin yang menimpa lautan itu. Sekali lagi saudara-saudara, beberapa kalimat di atas tadi saya mau mengatakan bahwa antara nafas dan antara jiwa itu tidak bisa dipisahkan. Saudara-saudara, maka perhatikan hal-hal ini di bawah ini:
Yang pertama, adalah sangat mudah dipahami oleh pembaca kitab Kejadian bahwa manusia itu diciptakan secara khusus oleh Allah dengan menghembuskan sebagian nafas Allah sendiri ke dalam kita. Menjadi apa? Menjadi makhluk hidup. Saudara-saudara perhatikan kata makhluk hidup itu tidak serta-merta dimiliki oleh manusia. Saudara perhatikan Kejadian 1:20: Berfirmanlah Allah, “Hendaklah berkeriapan dalam air makhluk yang hidup dan hendaklah burung berterbangan di atas bumi melintasi cakrawala.” Ayat 21: “Allah menciptakan binatang-binatang laut yang besar dan segala jenis makhluk hidup yang bergerak berkeriapan di dalam air.” Nah saudara-saudara perhatikan, bicara mengenai makhluk hidup, itu tidak serta-merta adalah milik kita. Makhluk hidup juga untuk binatang, tetapi jelas berbeda kualitasnya. Karena makhluk hidup selain manusia, semua diciptakan langsung dengan Firman. Tetapi kita diciptakan dengan tangan Allah dan dengan nafas Allah sendiri. Itu artinya bahwa kita itu memiliki relasi yang khusus dengan Allah, tidak sama dengan seluruh ciptaan yang lain termasuk binatang. Inilah yang membedakan manusia dengan binatang.
Saudara-saudara, yang membedakan manusia dengan binatang itu bukan kecepatannya. Saudara dan saya kalah sama cheetah. Saudara, yang membedakan kita dengan binatang itu bukan dengan kekuatannya. Saudara ketemu sama gajah langsung ditumpuk begitu sudah mati. Saudara lihat seluruh kekuatan apa pun saja kita kalah. Pendeta Stephen Tong dulu pernah memberikan satu ilustrasi yang sangat bagus. Bahkan sama lalat sama nyamuk pun kita kalah. Saudara perhatikan kalau kita naik kapal terbang. Saudara lihat, pelan-pelan terus kemudian digas, terus kemudian tahan, terus kemudian pelan-pelan naik, pelan-pelan nanti sampai ke Indonesia. Saudara coba lihat nyamuk, lalat. Saudara sedang terbang, kemudian langsung mendarat. Saudara ciptakan pesawat apa yang bisa begini, bisa langsung mendarat. Tidak pernah akan ada, pasti hancur. Kita perlu naik dengan kecepatan perlahan-lahan menuju puncak dan kemudian turun perlahan-lahan. Turun cepat mati semua kita. Sama-sama makhluk hidup dan kita pasti kalah sama mereka. Tetapi apa yang membedakan kita dengan makhluk hidup yang lain? Relasi dengan Allah. Relasi dengan Allah. Itulah sebabnya saya katakan kepadamu dan khususnya kepada seluruh anak-anak muda, kalau engkau hidup tidak memiliki relasi dengan Allah, pasti hidupmu itu persis seperti binatang. Pasti itu, tidak mungkin tidak, karena itu adalah keunikan kita. Tetapi engkau buang, engkau tidak gunakan, engkau tidak pedulikan. Seluruhnya adalah urusan persis seperti binatang, punya teman, punya makanan, punya kerjaan apa-apa, punya seks, beranak cucu, selesai. Saudara, hal yang paling mendasar itu adalah kita memiliki relasi sama Tuhan, jangan pernah dibuang.
Sekarang hal yang kedua. Perhatikan ketika kita memiliki hubungan khusus dengan Allah, itu bukan karena bentukan personal saja, tetapi karena kita dicipta dengan adanya hembusan nafas-Nya. Saudara-saudara, roh kita itu diciptakan oleh Allah yang adalah Bapa segala roh. Sekali lagi, roh kita atau jiwa kita, diciptakan oleh Allah yang adalah Bapa segala roh.
Hal yang ketiga, roh atau jiwa yang ada pada kita bukan dari tanah, bukan dari materi, bukan produk kimiawi, bukan dari evolusi sesuatu dari rendah menuju kepada puncak yang tinggi. Saudara perhatikan sekali lagi, jiwa itu bukan sesuatu dari materi, jiwa bukan dari debu, tetapi jiwa dari hembusan nafas Allah.
Kalau begitu perhatikan sekarang yang keempat. Jiwa juga bukan partikel ilahi. Saudara-saudara, jiwa dari Allah tetapi bukan bagian dari Allah, dari Ilahi. Saudara perhatikan, sekali lagi. Kita adalah makhluk jasmani dan rohani. Sekali lagi. Kita adalah makhluk yang ada jasmani, materi, dan rohani, itu artinya immaterial, itu artinya bukan materi, tidak terlihat. Tetapi kita bukan ilahi. Kita bukan ilahi. Manusia selalu masalah di dalam area ini. Nanti dalam waktu ke depan saya akan jelaskan. Tetapi saya akan membawa saudara-saudara kepada satu peristiwa yang sungguh-sungguh terjadi. Kalau saudara-saudara mau membacanya itu ada dalam buku “Designed for Dignity” dari Richard Pratt. Di dalam bukunya, maka Richard Pratt itu memberi satu kejadian nyata yang dia lihat dari newspaper. Dan di dalam newspaper itu, di dalam satu gedung yang sama, di dalam satu waktu yang sama, tetapi berbeda tingkat dari gedung itu, terjadi dua hal yang luar biasa bertolak belakang. Satu level adalah seorang perempuan yang barusan saja menembakkan pistol ke arah kepalanya. Dan kemudian polisi menemukan dia menuliskan surat. Intinya adalah dia itu sudah meninggalkan suami dan anaknya dan menyeleweng. Dan kemudian sekarang ditinggalkan oleh orang yang bersama dia sekarang, pacar barunya. Dan dia baru sadar betapa dirinya itu hina. Maka dia kemudian mengatakan, kurang lebih seperti ini, “Kematianku tidak perlu untuk ditangisi. Aku itu adalah makhluk yang hina. Aku tidak lebih daripada seekor cacing.” Dan kemudian dia terus menuliskan dan menghina dirinya. Dan kemudian saudara-saudara, mayatnya ditemukan. Di tingkat yang lain pada gedung yang sama, dikatakan kurang lebih ada 5 sampai 10 orang sedang bergandengan tangan, dan mereka adalah sekte dari agama tertentu. Kemudian mereka itu menyanyikan chanting, menyanyikan suatu lagu dan mengatakan, “Aku adalah Tuhan. Aku adalah Tuhan. Aku adalah Tuhan.” Kenapa manusia bisa seperti ini? Kalau dia tidak melihat dirinya paling debu, dia mengatakan dirinya itu ilahi. Saudara, itu selalu terjadi kepada manusia. Kita harus menyadari kita itu jasmani dan rohani tapi bukan ilahi.
Hal yang ke-5 adalah Allah menghembuskan kita jiwa. Jiwa itu ciptaan langsung dari Allah. Jiwa itu satu substansi. Saudara perhatikan minggu depan kalau Tuhan kehendaki, saya akan jelaskan ini lebih. Substansi itu adalah substansi. Substansi itu adalah keberadaan paling dasar dari sesuatu. Kalau saudara-saudara memiliki misalnya saja sapu tangan ini, maka ini adalah biru, ini adalah ada putihnya. Maka putih dan biru itu bukan substansinya. Saudara bisa hilangkan biru dan putih di sini. Ketika bicara mengenai substansi, substansi itu apa Pak? Substansi itu substansi. Substansi itu adalah esensi, tidak ada lagi yang menempel pada dia. Itu paling bawah. Dan seluruhnya baru menempel kepada dia. Dengan kata lain, jiwa itu adalah the real I. Siapa kita? Aku adalah jiwaku. Jiwaku, the real I. Saudara-saudara, saya akan teruskan. Sekali lagi berkenaan dengan penciptaan jiwa, berkali-kali saya sudah mengatakan Alkitab menggunakan kata “nafas” dan “jiwa” ini dikaitkan. Agustinus memiliki kalimat yang penting, saudara perhatikan kalimat dari Agustinus ini: “Manusia diciptakan saat dia dinafaskan dan saat dia dinafaskan, dia diciptakan.” Sekali lagi, ”Manusia diciptakan saat dia dinafaskan. Dan saat manusia bernafas, dia diciptakan.” Saudara-saudara, kunci dari seluruh kalimat ini adalah nafaslah yang membawa jiwa atau jiwalah yang membawa nafas. Maka saudara-saudara akan menemukan satu kebenaran dalam hidup kita, tubuh dan jiwa itu disatukan dalam kesatuan intim yang misteri dengan satu penyatu yaitu nafas.
Dan sekarang saya masuk ke dalam sesuatu yang penting, saudara perhatikan baik-baik, minggu yang lalu kita sudah mengeksposisi berkenaan dengan tubuh, kita bicara mengenai dust. Sekarang kita bicara berkenaan dengan jiwa, kita bicara nafas dan sekarang masuk di dalam 2 hal ini digabungkan oleh Allah dijadikan satu. Nah, ini adalah persatuan yang penuh misteri. Saudara-saudara, persatuan antara tubuh dan jiwa kita itu luar biasa misteri. Ini persatuan tubuh dan jiwa, begitu intim, begitu rekat, begitu bersahabat, seperti kekasih yang berpelukan, saling mengasihi begitu manis, sangat lembut. Tapi uniknya itu, sedikit sekali kesamaan dari keduanya, tetapi begitu besar kasih sayang antara jiwa dan tubuh kita. Dan kalau ketika waktunya sudah tiba kita sekarat, kita semua berat sekali menghadapi pemisahan antara tubuh dan jiwa kita, kita tidak rela. Kita seperti kehilangan satu hal yang besar sekali dalam hidup kita. Saya masih ingat akan satu orang yang kami kasihi. Ketika dia sakit keras, kami sempat untuk membesuk dia. Tetapi ketika dia sudah saatnya meninggal, saya dan istri saya, kami ada di Sydney dan kemudian kami mendengar dia meninggal, tetapi satu orang itu mengatakan kepada saya, pada waktu dia itu sudah mau meninggal, dia adalah orang yang beriman, tetapi kemudian dia mengatakan, “Sebentar lagi, sebentar lagi, jangan cepat berpisah. Jangan sekarang, sebentar lagi.” Ikatan ini begitu kuat, ikatan ini begitu sangat intim. Padahal yang satu karakteristiknya adalah tanah, yang satu karakteristiknya adalah material, tetapi yang lain itu adalah sesuatu yang rohani, yang lain itu adalah dari nafas Allah. Bedanya luar biasa, tetapi kenapa menjadi satu seperti kita? Misteri yang besar.
Kalau saudara-saudara perhatikan di dalam Alkitab, saudara akan menemukan 4 misteri kesatuan. Yang pertama adalah kesatuan di dalam Tritunggal, satu Allah 3 pribadi. Tritungal itu satu Allah 3 pribadi. Saudara-saudara, ini misteri, ini sesuatu yang tidak bisa dimengerti, luar biasa sulit. Saudara-saudara, banyak dari orang-orang agama lain selalu menyerang, bagaimana mungkin Allahmu itu 3? Nah Saudara-saudara, saya belum jelaskan kepada mereka, makin saya jelaskan kepada mereka makin mereka mencemooh kita. Saya yakin sekali bahwa banyak dari kita pun tidak terlalu mengerti Tritunggal. Saya mengatakan begini bukan saya mengerti, saya mengerti adanya banyak ketidak mengertian. Jadi Allah Tritunggal saya jelaskan ya. Allah Tritunggal itu berapa Allah? Saya tanya. Satu, benar. Saya lagi uji, kalau 3, saya panggil satu-satu. Allah Tritunggal berapa Allah? Satu. Sekarang berapa pribadi? 3. Pribadinya siapa? Bapa, Anak, Roh Kudus. Satu Allah 3 pribadi. Jadi berapa pribadi? 3. Berapa Allah? Satu. Gampang kan? 1,3,1,3. Nah saudara saya tanya, satu Allah, 3 pribadi, Bapa, Anak, Roh Kudus. Allahnya ini satu Allah. Allah ini, yang satu ini, pribadi atau tidak? Saya bersyukur karena anugerah kita pergi ke Surga. Coba kalau karena IQ saudara-saudara, habis kita semua, semua kita ke neraka. Banyak orang Kristen salah memikirkan satu Allah itu adalah pengelompokan. Allah itu bukan pengelompokan.
Nah saya akan jelaskan. Saudara-saudara, saya punya 3 anak, itu tiga-tiganya pribadi. Satu, Timothy, kedua, Ivana, ketiga, Emily. Nah kenapa pribadi? Kalau saya panggil namanya mereka pasti muncul. Kalau mereka tidak muncul saya pergi ke tempat dia. Saudara-saudara, “Ivana!”, “Ya, Papa”, “Cuci piringnya”. “Timothy!”, “Ya, Papa”, “Tolong ambilkan ini”. “Emily ke sini, papa mau bicara.” Nah Saudara-saudara, ketika saya panggil Emily, Emily ada, panggil Ivana, Ivana ada, panggil Timothy, Timothy ada. Tiga pribadi, tiga-tiganya ini manusia, pengelompokannya itu manusia, oke? Tapi kalau saya panggilnya, “Manusia!” Tidak ada yang pergi ke tempat saya, saudara-saudara, karena manusia itu bukan pribadi, itu pengelompokan. Saudara mengerti maksudnya? Itu namanya kemanusiaan. Nah saudara-saudara, maka: “Manusia!”, tidak ada yang datang, saya mesti panggil namanya satu persatu baru saudara datang. Sekarang ketika saudara itu doa, “Tuhan Allah di Surga”, saya tanya, saudara pikir itu pengelompokkan atau pribadi? Pasti pribadi, jadi kalau begitu, pribadinya ada berapa? Allah, Bapa, Anak, Roh Kudus, jadi 4? Saudara lihat ya, susah sekali dijelaskan. Kalau saudara bilang, “Allah, kasihanilah aku”, itu bukan pengelompokan, itu saudara memanggil pribadi. Saudara jelaskan ini, makin jelaskan, orang yang di luar sana makin bilang kamu memang sesat semuanya. Tetapi Tritunggal itu kesatuan yang beyond understanding kita, itu misteri.
Sekarang kesatuan kedua yang misteri. Itu adalah kesatuan dwi natur Yesus di dalam satu pribadi. Satu pribadi, dua natur, Allah yang sejati dan manusia yang sejati. Ini sekali lagi tidak bisa, ini misteri yang besar, tidak bisa dijelaskan secara tuntas. Jadi ada berapa pribadi pak? Alkitab bersaksi ada berapa pribadi? Satu. Berapa natur? 2. Allah yang sejati dan manusia yang sejati di dalam satu pribadi yaitu Yesus Kristus. Satu pribadi, dua natur, bukan dua pribadi. Ada orang itu kepribadiannya 13, pecah pribadinya. Yesus itu pribadi-Nya cuma satu. Pada saat pribadi itu berjalan, saudara akan melihat Dia adalah Allah 100%, Dia adalah manusia 100%. Saudara-saudara nanti nanyanya begini, “Pak, waktu Tuhan Yesus itu berjalan di atas air, Dia lagi jadi Allah ya, manusianya ketinggalan ya? Pak, ketika Dia membangkitkan Lazarus, Dia itu pasti Allah kan, manusianya ketinggalan di rumah kan? Pada waktu Dia ditanya, kapan itu akhir zaman, itu hanya Bapa yang tahu, Dia manusia ini, Dia pasti bukan Ilahi.” Saudara-saudara, seluruh itu adalah salah. Ketika Dia itu berjalan di atas air, Dia adalah Allah dan manusia, satu pribadi, bukan pribadi yang lain. Saudara-saudara, pada waktu Dia itu ditanya dan Dia tidak tahu, maka Dia adalah Allah yang sejati dan manusia yang sejati. Bagaimana menjelaskan ini? Saudara-saudara, ini adalah sesuatu yang beyond dari understanding kita. Ini kesatuan misteri yang ke-2.
Saudara-saudara saya ulangi lagi, dulu saya sudah pernah berbicara ini, mungkin di STRIS. Apakah saudara tahu bahwa definisi yang terbaik dari Yesus Kristus adalah ini, saya akan bacakan secara utuh. “Yesus Kristus dikenal dalam 2 natur; manusia sepenuhnya dan Allah sepenuhnya, yang tidak tercampur, yang tidak berubah, yang tidak tertukar, yang tidak terpisahkan satu dengan yang lainnya. Perbedaan kedua natur tersebut sama sekali tidak tersingkirkan oleh kesatuan kedua natur tersebut. Tetapi sifat masing-masing natur tersebut tetap dipertahankan dan diam bersama-sama dalam satu pribadi, satu substansi, tidak saling terpisah dan terbagi menjadi dua pribadi.” Saudara-saudara, ini adalah dari ribuan tahun, ini adalah definisi yang terbaik mengenai Yesus Kristus.Nah, kalau Saudara perhatikan tadi saya membacakannya, Yesus Kristus di dalam dua natur “tidak, tidak, tidak”, seluruhnya bukan pakai kalimat aktif positif, seluruhnya pakai kalimat negasi. Itu artinya tidak ada satu manusia pun yang sampai sekarang bisa mendefinisikan. Saya ulangi sekali lagi, dulu saya sudah pernah mengatakan. Kalau saudara-saudara tanya, “Siapakah Stephanie? Siapakah Ibu Stephanie?” Maka kemudian saya dengan mudah mengatakan, “Dia adalah istri dari Pak Dino.” Saudara-saudara, itu jawaban yang tepat kan?Kalau saudara-saudara tanya, “Siapa Pak, Stephanie itu siapa?” Maka saya kemudian mengatakan, “Bukan istri Agus, bukan istri Widjaja, bukan istri Ali, bukan istri Albert.”Ini kan konyol kelihatannya. Tetapi ini artinya bahwa Yesus Kristus itu tidak mungkin bisa didefinisikan dengan seluruh kalimat kita. Bapak-bapak gereja dalam hal ini adalah Konsili Kalsedon, hanya memberikan batasan, maka itu adalah negasi. Nah Saudara-saudara, batasan itu seperti pagar, pokoknya jangan ke sana, jangan ke sana. Begitu kamu memikirkannya ke sana, itu sesat. Saudara-saudara, lalu kemudian seperti apa? Beyond understanding. Allah kita itu sungguh-sungguh dahsyat. Pikiran kita sulit untuk mengerti bahkan tidak memungkinkannya.
Sekarang kesatuan yang ke-3 yang misteri itu adalah kesatuan antara Kristus dengan saudara dan saya. Ini namanya union with Christ. Dan teologia menyatakan mystical union with Christ. Ini melampaui seluruh realitas kesatuan yang ada. Union antara Kristus dengan kita itu pengikatnya adalah Roh Kudus. Itulah sebabnya, “Ini kenapa kok sulit, Pak?” Karena ini adalah suatu kenyataan di dalam hidup. Saya tanya, siapa yang paling dekat dengan kita? Pasti orang-orang yang kita kasihi, bukan? Mungkin anak kita, mungkin istri kita, mungkin suami kita. Tetapi Yesus mengatakan, “Barang siapa mengasihi bapaknya, ibunya, dan seluruhnya lebih daripada Aku, dia tidak layak menjadi murid-Ku.” Saudara-saudara, lalu kemudian kalau ini berarti cinta seperti apa? Kenapa bisa aku mengasihi istri begitu rekat, tetapi ini jauh lebih kurang daripada kerekatan kita dengan Kristus? Ini adalah sesuatu hal yang aneh sekali. Ini ikatan seperti apa? Sampai Paulus mengatakan, “Tidak ada yang bisa memisahkan Kristus itu mengasihi kita, apa pun saja termasuk kuasa kegelapan.” Saudara-saudara, ini suatu ikatan yang mistik. Suatu hari Saulus mengejar orang Kristen, mau menganiaya mereka. Tiba-tiba Yesus datang dan kemudian, “Mengapa engkau menganiaya Aku?” Saudara-saudara, Saulus pada waktu itu kaget, bingung, “Saya itu kejar orang Kristen ini, sekte yang baru kok, kenapa Engkau mengatakan bahwa aku itu menganiaya Engkau? Aku tidak pernah menganiaya Engkau.” Itu adalah union with Christ. Kristus begitu intim dengan kita. Ketika kita tanya, gambarkan Tuhan seperti apa, maka teolog-teolog Reformed mengatakan tidak bisa digambarkan, itu mystical, itu melampaui seluruh relasi yang ada. Pertama adalah union di dalam Tritunggal. Kedua adalah union di dalam hipostatical, itu adalah Kristus dwi-natur. Ketiga adalah union mystical antara Kristus dengan kita.
Maka misteri yang keempat dalam kehidupan adalah union di dalam hidup kita,antara tubuh dan jiwa yang disatukan. Dan sekarang saya akan akhiri. Kesatuan ini, antara tubuh dan jiwa diikat oleh Allah dengan nafas. Sepanjang nafas ini ada, jiwa kita tetap ada, bersatu dengan tubuh. Tetapi setelah nafas itu pergi, jiwa pun itu pergi. Segala hal-hal yang manis dan menyenangkan di dunia ini tidak dapat membujuk jiwa untuk tinggal satu menit lagi setelah nafas itu pergi. Dan inilah yang menjadi daripada Tuhan menyatukan kita. Agus itu diciptakan karena ada nafas yang dimasukkan. Dan Agus itu tetap bisa untuk menjadi satu ketika nafas itu ada. Dan ketika nafas itu ditarik lagi oleh Allah, maka tubuh dan jiwa itu akan terpisah. Saudara-saudara, saya akan akhiri dengan Ayub 34. Ayub 34:14-15, dan kita akan membaca bersama-sama. Ayub 34:14-15 : “Jikalau Ia menarik kembali Roh-Nya, dan mengembalikan nafas-Nya pada-Nya, maka binasalah bersama-sama segala yang hidup, dan kembalilah manusia kepada debu.” Nafaslah yang membuat kita menjadi satu. Dan itu Tuhan yang menyatukan dengan nafas. Dan ketika Dia mau melepaskan kesatuan ini, maka Dia menarik nafas itu. Dan itu adalah struktur dari kaitan ikatan tubuh dan jiwa. Mari kita berdoa.
GRII Sydney
GRII didirikan di atas dasar Pengakuan Iman Reformed Injili dengan tujuan menegakkan satu gereja yang berbasiskan teologi Reformed, dengan mimbar yang menyampaikan khotbah ekspositoris, read more