Mat 16: 15-18, 21-26
Pagi ini, kita akan bicara berkenaan dengan salib Kristus. Pagi ini kita akan bicara berkenaan dengan Yesus Kristus memberitahu kepada murid-murid-Nya bahwa Dia akan dibunuh, Dia akan disalib. Bukankah salib itu adalah sesuatu yang umum bagi kita? Bukankah salib itu adalah lambang gereja? Bukankah salib itu sesuatu yang kita pakai sebagai satu perhiasan? Bahkan jikalau kita memiliki teologia yang benar, bukankah kita berkali-kali bicara mengenai salib? Tetapi, saudara-saudara, biarlah kita menyadari. Di dalam kehidupan kerohanian yang terbaik sekalipun, tidak ada satu kebenaran yang paling disangkal selain daripada salib. Salib adalah isi hati Kristus. Dan, kita kadang-kadang melihatnya dengan bercucuran air mata. Sama seperti perempuan-perempuan Yerusalem yang ada di sebelah kanan dan kiri dan ketika mereka melihat Yesus memikul salib, mereka berurai air mata. Hati kita remuk melihat seseorang yang luar biasa baik dan penuh dengan cinta itu dipaku di atas kayu salib. Tetapi, pada intinya kita tetap tidak bisa menerima salib Tuhan. Kecuali anugerah yang besar. Kecuali belas kasihan yang besar. Kita bukan saja memahami, kita mengenal dan bukan itu saja, tetapi kita memeluk salib itu. Keselamatan bukan hadir, karena saudara dan saya melihat salib Kristus dan kemudian kita menangis. Alkitab mengatakan dengan jelas. Kalau engkau tidak menyangkal diri, memikul salib, mengikuti Aku. Itu artinya engkau mau menyelamatkan nyawamu. Barangsiapa menyelamatkan nyawa, maka dia akan kehilangan nyawa. Maka Yesus Kristus menjadikan satu salib yang ada yang dipaku, ditanggung oleh Dia, harus ada di dalam isi hati kita dan hidup kita, dan itulah keselamatan.
Pagi hari ini kita akan meneliti apa yang diucapkan oleh Yesus kepada Petrus khususnya. Sekali lagi, ini adalah pemberitahuan pertama yang begitu jelas dari 3 pemberitahuan yang ada. “Aku akan pergi ke Yerusalem dan menanggung banyak siksaan, dari tua-tua, dari pemimpin-pemimpin Yahudi dan juga orang-orang pengajar Taurat.” Itu seluruhnya nanti akan bergabung di dalam 72 Sanhedrin. Itulah yang menentukan hukum Yahudi. Yesus akan dipaku di atas kayu salib pada hari Jumat. Sekali lagi, ini adalah pemberitahuan yang begitu terbuka. Apakah Alkitab tidak menyatakan sebelumnya, bahwa Yesus membukakan berkenaan bahwa Dia akan mati di atas kayu salib? Sebelumnya tidak pernah sejelas ini. Saudara-saudara akan melihat di dalam beberapa bagian Alkitab di belakang. Maka saudara-saudara mengerti di muka, maka saudara akan melihat bahwa Yesus pernah mengucapkannya, tetapi implisit.
Suatu hari, beberapa orang yang mau untuk mencerca Yesus itu tanya, “Kenapa murid-murid-Mu tidak berpuasa?” Lalu kemudian Yesus menjawabnya, “Karena Mempelai itu masih ada. Nanti ada waktunya Mempelai itu akan diambil dan mereka akan berduka, mereka akan berpuasa.” Kalimat ini mau menyatakan Yesus akan mati, tetapi sangat implisit. Tetapi di dalam kitab ini, di dalam bagian ini, di dalam event ini, Yesus mulai memunculkannya begitu eksplisit. Itulah sebabnya di dalam Injil Matius dikatakan, “Sejak saat itu Yesus mulai.” Mulai apa, saudara-saudara? Ada sesuatu yang dibuka baru. Sekarang saudara-saudara perhatikan, kapan ini terjadi? Adalah ketika setelah Petrus itu menyatakan, “You are Messiah, the Son of the Living God.” Oh, ini sesuatu paradoks yang luar biasa dalam. Dan, ini adalah sesuatu kesengajaan Yesus untuk mengajarkan kepada kita, apa arti The Messiah itu. Saudara-saudara, Yesus mengatakan, “Aku harus pergi ke Yerusalem untuk menanggung seluruh penderitaan ini dan mati di sana. Kata ‘harus’ ini bukan berarti Yesus terpaksa atau dipaksa. Kata ‘harus’ ini bukan berarti Yesus dengan spirit hero, maka kemudian Dia pergi ke Yerusalem mati. Tetapi, kata ‘must’ ini, kata ‘harus’ ini adalah suatu kata menyatakan kerelaan kehendak Yesus untuk sepenuhnya takluk kepada kehendak Bapa. “Aku akan pergi ke Yerusalem, dan Aku akan menanggung banyak penderitaan dari tua-tua, dari pemimpin-pemimpin agama, dari pengajar-pengajar Taurat. Lalu kemudian, Petrus yang mendengar itu cepat-cepat itu menarik Yesus ke samping. Dan, Alkitab mengatakan, Petrus itu kemudian menegur Yesus. “Tidak mungkin, Tuhan! Itu bukan dari Allah.”
Saudara-saudara, maka saudara perhatikan baik-baik kalimat yang ditulis. Kalimat yang ditulis di sini, Petrus itu menegur, menarik Yesus dan kemudian menegur. “Kiranya Allah menjauhkan itu, itu tidak mungkin terjadi padamu!” Kenapa Petrus menarik ke samping? Oh, ini orang baik, saudara. Dia tahu mungkin, Yesus pikirannya salah. Maka Yesus bicara kepada para murid-Nya semua dan Petrus lihat Yesus ini salah. Petrus tidak menegur Yesus di depan umum. Bagus yah? Sopan yah? Penghormatan, bukan? Ya, tentu. Dia tarik Yesus, bicara berdua. Oh, ini persis seperti yang Alkitab katakan, kan? Kalau ada saudaramu yang salah, jangan ngomomg panjang-panjang. Ngomongnya berdua saja. Tetapi, saudara-saudara, perhatikan kalimat selanjutnya. Yesus kemudian berbalik. Dia melihat mata Petrus dan kemudian bicara kepada seluruh murid secara terbuka. Semuanya bisa dengar dan membuat Petrus itu sangat mungkin malunya luar biasa. “Enyahlah iblis! Engkau suatu batu sandungan bagiku! Sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia.” Saudara akan bisa melihat betapa Yesus itu luar biasa keras. Bagaimana Petrus itu menghardik Yesus dan Yesus itu menghardik lebih keras. Bagaimana Petrus membuat pembicaraan ini hanya berdua, dan Yesus mengungkapkannya secara umum kesalahannya Petrus. Saudara-saudara, saya tidak tahu ketika Petrus itu membaca ayat ini di surga, dia malu terus-menerus. Sebelumnya dia diuji, senangnya luar biasa. Sekarang dia dipermalukan di depan umum. Apakah Yesus bermaksud mempermalukan di depan umum? Jawabannya adalah tidak. Tetapi ini adalah sesuatu yang penting! Bukan saja penting, sangat penting! Tidak pernah, murid melepaskan prinsip ini. Tidak pernah gereja sepanjang zaman meleset dari prinsip ini. Karena salib adalah isi hati Bapa. Salib adalah isi hati Kristus. Salib adalah isi hati Injil. Salib adalah isi hati mimbar! Tidak pernah ada kekristenan, tanpa salib. Tidak pernah ada Allah Bapa, tanpa salib. Tidak pernah ada Allah Anak, tanpa salib. Tidak pernah ada keselamatan, tanpa salib. Tidak pernah ada agama yang sejati, tanpa salib Kristus. Ini adalah inti dari isi hati Allah. Dan, Petrus itu mau mengesampingakannya. Yesus mengatakan, “Engkau menjadi batu sandungan bagi-Ku.” Kata Yunaninya itu namanya skandalon σκάνδαλον. Saudara-saudara, tahu kan scandal. Saudara-saudara, itu yang dipakai. Engkau skandal bagi Aku. Saudara-saudara, scandal atau skandal itu bicara mengenai batu yang diletakkan oleh seseorang di depan kaki kita. Jadi kalau saudara-saudara, ada batu yang diletakkan oleh seseorang di depan kita, entah batu itu adalah agak besar atau batu itu kecil sekali, apa yang saudara akan terjadi pada kita? Pertama, mungkin saudara akan tersandung atau terjatuh. Tetapi juga yang ke-2 adalah saudara akan mengubah arah saudara untuk menghindari batu itu. Saudara-saudara, maka arti katanya adalah engkau meletakkan ini dan kalau aku itu menyentuh ini maka aku akan terjatuh. Atau, karena engkau meletakkan ini, engkau mau aku itu menyimpang daripada jalan yang aku lakukan sebelumnya dan aku, engkau minta untuk aku menyimpang dari kehendak Bapa kepada-Ku. Oh, ini seluruh kalimat ini saudara gabung dengan kalimat sebelumnya yang terjadi, ini sesuatu paradoks-paradoks yang terjadi.
Yesus tanya, “Menurut engkau, siapakah Aku ini?” Maka Petrus, langsung di depan seluruh murid, “You are the Messiah, the Son of the living God.” Oh, berbahagialah engkau Petrus, karena itu bukan dari engkau, tetapi dari Tuhan, dari Allah. “Aku berkata kepada-Mu, sekarang engkau Petrus. Batu karang yang kokoh.” Oh, luar biasa. Tapi, batu karang itu sekarang jadi batu karang skandalon. Tadinya, pikirannya dari Allah, sekarang pikirannya dari manusia. Saudara-saudara, seluruhnya paradoks. Bukankah sering kali kita menang, tapi pada saat yang sama beberapa hari kemudian kita kalah? Seringkali kita mengucapkan kalimat-kalimat yang dari Tuhan yang benar-benar paralel dengan isi hatinya, pada saat di dalam beberapa waktu kemudian kita menyetujui apa yang setan itu pikirkan. Itulah manusia, itulah orang Kristen. Tetapi di tempat yang lain, kita melihat bagaimana nanti sampai akhirnya Tuhan itu memegang Petrus. Saudara-saudara akan melihat seorang pemimpin dari seluruh pemimpin gereja, soko guru yang paling tinggi itu tidak pernah, tidak terkecuali dari kesalahan. Engkau batu karang. Dalam beberapa menit, engkau skandalon. Engkau dapat pikiran dari Allah. Dalam beberapa menit, engkau pikirannya dari dunia. Sekali lagi, saudara-saudara, ini adalah perdebatan yang luar biasa sengit. Saudara-saudara dan ini adalah perdebatan berkenaan dengan taruhannya adalah isi hati Kristus yaitu salib. Keinginan terdalam dari Yesus sekarang mendapatkan pertentangan yang jelas di depan. Sekali lagi. Keinginan terdalam dari Yesus, sekarang mendapatkan pertentangan terjelas di depan. Saudara-saudara, kalimat Petrus itu menyakiti Yesus di dalam banyak aspek. Tapi hari ini saya akan berbicara mengenai dua saja.
Yang pertama, saudara-saudara. Kalimat ini bahwa engkau tidak akan terjadi, Allah tidak akan mengizinkan itu. Engkau tidak mungkin ada di salib. Maka kalimat ini adalah kalimat yang persis sama dengan cara berpikir setan. Kalau saudara-saudara nanti di rumah, saudara-saudara baca dari pencobaan Yesus 3 kali di padang gurun, saudara lihat pencobaan terakhir. Pencobaan ke-3 itu, setan mencobai Yesus seperti apa? Yesus dibawa ke bukit yang paling tinggi dan kemudian diperlihatkan seluruh kemasyuran dunia. Dan, setan mengatakan, “Semua ini aku berikan kepada-Mu, jikalau Engkau sekali saja menyembah aku.” Dan, kemudian Yesus itu menjawabnya, “Enyahlah engkau, setan!” Persis, seperti kalimat yang ada di sini. Kenapa kok bisa sama? Karena setan dan Petrus memiliki pikiran, cara berpikir yang sama.
Saya akan bahas sedikit berkenaan dengan pencobaan Yesus di padang gurun. Setan mengatakan, “Lihat semuanya. Aku akan berikan kepada-Mu, kalau engkau sekali saja menyembah Aku.” Dan, Yesus mengatakan, “Enyahlah engkau, setan!” Saudara-saudara, kalau saudara tidak tahu inti daripada isi hati Yesus, maka saudara akan berpikir, “Ah, ini setan bodoh. Mana Yesus mata duitan sih? Mana mau.” Nah, kalau setan datang ke kita, kita mungkin mau. Jangankan satu kali, 2 kali juga boleh menyembah. Tetapi Yesus kita pikir, ah Dia kan gak mungkin mata duitan, pasti Dia gak mau, ini setan goblok. Saudara, tidak. Ini sesuatu temptation yang luar biasa menusuk hati Yesus. Oh, sakitnya di mana, Pak? Saudara-saudara, perhatikan. Seluruh kerinduan terbesar Yesus itu adalah Allah dipermuliakan. Bapa itu dipermuliakan, tetapi postulate surgawi adalah Bapa dipermuliakan, jika dan hanya jika, Anak dipermuliakan di antara seluruh bangsa. Yesus akan melakukan apa saja, jikalau Bapa itu dipermuliakan. Tetapi sekali lagi bahwa rule surgawi itu adalah Bapa dipermuliakan, jika dan hanya jika, Anak itu dipermuliakan. Sebelum saya menjelaskan lebih lanjut ke sini, saya akan membawa saudara-saudara untuk mengerti prinsip ini. Saya yakin sekali saudara tahu ayat ini, tetapi saudara tidak peka.
Mari kita melihat Filipi 2:10-11. Saudara perhatikan, kalimat terakhir ini gak perlu kan? Segala lidah mengaku Yesus Kristus Tuhan. Selesai? Tidak. Keadaan segala lidah mengaku Yesus Kristus adalah Tuhan, keadaan itu adalah prasyarat untuk Bapa dipermuliakan. Jadi, ketika setan itu mengatakan, “Seluruhnya aku berikan kepada-Mu”, sehingga saudara akan lihat bahwa seakan-akan dari pikiran desain setan itu persis dengan rencana Allah.
Ayat yang ke-2, saudara-saudara, Yohanes pasal 17:1. Ini adalah rule (postulate) surga. Kalau saudara-saudara di dalam hidup kita, kita menerima Kristus dan kita mau takluk kepada Kristus. Ujung akhirnya bukanlah Yesus Kristus, tetapi Bapa itu dipermuliakan. Sebaliknya, yang melawan Yesus adalah melawan Bapa. Yang menolak Kristus itu menolak Bapa. Sekali lagi, ini adalah sesuatu prinsip dan setan tahu prinsip ini. “Aku berikan semua kepada-Mu, Yesus.” Semuanya akan tunduk kepada-Mu. Tetapi apa yang membedakan pikiran setan dan pikiran Allah? Bedanya adalah di titik ini, salib. Allah, postulate surga itu adalah seluruh dunia akan takluk kepada Kristus dan Allah akan dipermuliakan melalui jalan salib, maka yang dihilangkan oleh setan itu adalah jalan salib. Apakah sekarang saudara bisa mengerti bahwa ini sama persis apa yang diinginkan oleh Petrus, menghilangkan jalan salib. Itulah sebabnya Yesus bicara kepada Petrus adalah persis sama dia menghardik setan di bukit itu. Dan, Yesus juga mengatakan kepada Petrus, “Engkau bukan memikirkan apa yang Bapa pikirkan. Engkau memikirkan daripada dunia ini.” Saudara-saudara, saya pikir-pikir ketika Yesus itu mengatakan, “Enyahlah engkau setan!” Itu artinya, “Pergi, engkau Petrus, pergi dari hadapan-Ku. Engkau bukan di hadapan-Ku. Engkau harus di belakang-Ku.” Dan ketika Yesus mengatakan demikian, “Enyahlah engkau, setan!” Maka saya pikir, “Oh, Petrus waktu itu sedang dirasuk sama setan yah?” Apakah tiba-tiba itu anak Tuhan bisa dirasuk terus kemudian dia ngomong sesuatu tentang hal yang dari setan? Saudara-saudara, jawabannya adalah belum tentu. Bahkan sangat mungkin tidak. Karena Yesus mengatakan di sini, bahwa engkau bukan memikirkan yang dari Allah. Engkau memikirkan yang dari manusia. Bukan memikirkan yang dari setan. Maka di sini, saudara bisa melihat satu kesamaan, bahwa dunia ini bukan sesuatu yang sifatnya netral. Dunia ini di dalamnya ada pemikiran setan yang mendominasi. Saudara-saudara, dan bagi dunia ini yang sudah didominasi dengan pikiran setan, tidak akan pernah menganggap salib itu kemuliaan. Tidak akan pernah menganggap ketaatan itu nilai tertinggi manusia. Salib dan ketaatan itu kekalahan. Salib itu adalah kutukan. Salib itu adalah malu yang besar. Salib itu adalah kebodohan.
Paulus menyatakan apa yang ada di dalam dunia ini. Salib adalah kebodohan bagi orang Yahudi dan batu sandungan bagi orang Yunani. Dan, itu yang ada dalam pikiran Petrus dan murid-murid-Nya. Sekali lagi, saudara-saudara perhatikan. Dunia ini tidak netral. Ketika engkau baca, ketika engkau mendengar, ketika engkau scrolling sesuatu, engkau dan saya harus sadar, dunia ini tidak netral. Lagu-lagu yang kita mainkan, yang kita itu dengar, itu tidak netral. Dan, seluruhnya itu dikatakan di dalam Alkitab, diterima oleh Petrus dan dinyatakan kepada Yesus menjadi batu sandungan. Saudara-saudara, itulah sebabnya kalau saudara-saudara mengerti pelayanan yang paling sulit itu bukan pengusiran setan, saudara-saudara. Tetapi adalah bicara berkenaan dengan bagaimana kita itu menghadapi orang lain dengan filosofi yang ada di dunia. Kalau saudara-saudara melihat pengajaran Yesus yang tentang penderitaan yang petama, dan ke-2 dan ke-3, saudara akan melihat betapa sulitnya Yesus bicara mengenai satu hal, obedience dan salib. Begitu sulitnya! Berkali-kali dan berkali-kali itu gagal dimengerti. Dan, saudara akan melihat betapa lucunya ini. Saudara-saudara. Saya akan membawa saudara-saudara untuk pemberitahuan ke-2 dan ke-3. Dan, saudara akan melihat bagaimana proses yang Yesus itu lakukan dan berkali-kali murid-murid itu begitu aneh sekali, sulit untuk menerima hal ini.
Jadi, pemberitahuan pertama begitu diberitahukan langsung Petrus itu kemudian langsung menyingkirkan Yesus. “Itu tidak mungkin terjadi!” Maka sekarang kita lihat apa yang terjadi sama murid-murid ketika pemberitahuan ke-2. Markus 9:30. Aku akan mati. Aku akan pergi ke Yerusalem. Aku akan menderita. Aku akan disalib. Terus kemudian, murid-murid-Nya, “Siapa dari kita yang terbesar?” Kalau kita jadi guru, di sini ada beberapa guru, saudara gak mati berdiri sudah bagus. Saudara jangan pikir bahwa salib itu kita kenal. Saya baca ini, hati saya tahu sekali. Tuhan, saya banyak… pasti, pasti, saya ndak kenal salib.
Saudara, sekarang pemberitahuan ke-3. Markus 10:32. Kalau kita jadi gurunya, kita akan DO ini. Drop out semua. Pergi, saya cari yang baru. Tiga kali bicara mengenai penderitaan-Nya. Tiga kali bukan cuma Petrus, seluruh murid-murid-Nya. Bukan itu saja, Yakobus dan Yohanes pun sama. Saudara-saudara, Petrus dikasih tahu, “Enyahlah, iblis!” Sama Yohanes, Yakobus, “Kamu tuh gak tahu apa yang kamu minta.” Dalam pikiran mereka, namanya Mesias. Namanya Kerajaan Allah, aku duduk sebagai raja. Maka, kalau Yesus duduk sebagai raja, aku juga akan memerintah. Mereka tidak mungkin bisa menggabungkan antara Mesias, Kerajaan Allah, pemerintahan dengan salib. Saudara-saudara, betapa sulitnya konsep ini. Saudara-saudara, saya tidak punya waktu yang panjang lagi untk mengeksposisi. Tapi, saya akan mengakhiri dengan beberapa prinsip ini.
Petrus itu menyatakan, “You are the Messiah, the Son of the Living God.” Dan, ketika itu Yesus mengatakan, “Itu dari Bapa.” Tetapi, Petrus gak bisa mengatakan bahwa engkau akan disalib, padahal itu juga dari Bapa. Saudara-saudara, Yesus Kristus mau membereskan konsep Mesias ini. Jadi Petrus tahu atau tidak sih? Bukankah dia yang ngomong, “You are the Messiah, the Son of the Living God?” Berarti Petrus tahu bukan? Saudara-saudara, Petrus tahu di permukaannya. Yesus Kristus mau menyatakan ini artinya salib. Saudara-saudara, banyak dari antara kita tahu Allah itu secara permukaan, tetapi kita tidak tahu arti kata ini itu apa di baliknya? Kalau saudara tahu di permukaan kelihatannya sama seiman. Tetapi sesungguhnya yang di bawah itu menentukan siapa yang beriman sama-sama kita. Gereja yang mengabarkan Yesus adalah Tuhan, tetapi tidak pernah berbicara berkenaan dengan salib atau begitu jarang, gereja itu berjalan menuju kepada kesesatan. Engkau dan saya harus merangkul the whole Christ. Kristus yang adalah Tuhan, yang mati di atas kayu salib. Tetapi bukan itu saja, ketika Yesus sudah mengatakan berkenaan dengan peneguhannya akan dia harus ke salib, Dia mengatakan satu prinsip ini. Salib tidak berhenti pada-Ku. Salib itu harus kepadamu. Kalau engkau tidak mau menyangkal dirimu, dan memikul salibmu, engkau itu bukan murid-Ku. Ini bukan warga negara gereja tingkat pertama dan ada warga negara tingkat ke-2. Tidak. Yesus mengatakan, “Tanda sejati seorang yang diselamatkan, maka salib itu bukan saja milik Kristus, tetapi salib itu adalah milik kita.” Kalau kita tidak mau menyangkal diri, tidak mau memikul salib yang Tuhan berikan kepada kita, Alkitab mengatakan, “Itu artinya engkau mau menyelamatkan dirimu, maka, engkau akan kehilangan nyawamu.”
Saudara-saudara, sekarang lihat. Lapisan demi lapisan. Dan, lapisan ini akan menentukan keaslian dan kesejatian iman. Lapisan pertama adalah “You are the Messiah, the Son of the Living God.” Lapisan ke-2, Yesus mengatakan, “You are the Messiah, the Son of the Living God.” Itu artinya salib! Mesias yang menyelamatkan adalah Mesias yang di atas kayu salib. Dan kemudian, lapisan lagi yang ke-3 dan yang menerima Dia adalah yang mau menyalibkan dirinya.Di dalam lapisan yang pertama, maka itu langsung akan memisahkan antara dunia dan gereja yang terlihat. Dalam lapisan yang ke-2, itu akan memisahkan gereja yang sejati dan gereja yang palsu. Tetapi lapisan yang ke-3, akan memisahkan anak Tuhan yang sejati dan orang-orang yang mengaku Yesus itu Tuhan di dalam gereja. Saudara lihat, seluruhnya memisahkan dari setiap kita. Saya tanya kepada saudara-saudara. Apakah salib itu engkau dan saya rela untuk jalani? Menyangkal diri dan memikul salib. Salib itu artinya menerima apapun yang Tuhan itu berikan kepada kita dan kita itu rela menyerahkannya dan mempersembahkannya lagi kepada-Nya. Saudara-saudara, salib adalah mau hidup yang dipakai oleh Tuhan dan melupakan dan meninggalkan seluruh kehidupan yang kita itu cita-citakan. Saudara-saudara, kiranya Tuhan boleh menguji kita di dalam setiap lapisan ini. Kiranya Tuhan membentuk salibnya di dalam hati kita. Mari kita berdoa.
GRII Sydney
GRII didirikan di atas dasar Pengakuan Iman Reformed Injili dengan tujuan menegakkan satu gereja yang berbasiskan teologi Reformed, dengan mimbar yang menyampaikan khotbah ekspositoris, read more