Luk 22:20, Kej 15:1-21
Minggu yang lalu kita sudah memikirkan mengenai salib. Tetapi malam hari sebelum Yesus dipaku di atas kayu salib, maka Yesus mengumpulkan seluruh murid-murid-Nya dan Dia mengambil roti, memecahkannya dan mengambil cawan dan mengatakan: “Inilah darah-Ku, darah perjanjian yang baru.” Perhatikan Yesus menggabungkan 2 hal ini. Pertama adalah darah dan yang ke-2 adalah covenant. Karena Alkitab memang sebenarnya mengajar kepada kita, ketika bicara mengenai salib selalu Allah bicara di dalam konteks covenant. Satu kata yang penting ini; covenant. Sering sekali ketika kita membaca di dalam teks bahasa Indonesia, kata ini diterjemahkan secara salah. Karena di dalam bahasa Indonesia, covenant itu diterjemahkan sebagai janji atau perjanjian. Tetapi di tempat yang lain, kata di dalam bahasa Indonesia untuk menggambarkan covenant itu tidak ada sama sekali. Dalam Kejadian pasal 15, maka ketika kita bicara mengenai covenant, saudara akan masuk ribuan tahun sebelum salib itu ada. Tuhan sudah memunculkan kata ini dan konteksnya di dalam Kejadian pasal 15. Covenant bukan perjanjian. Dalam bahasa aslinya, covenant adalah suatu tata cara upacara pengambilan sumpah yang disebut sebagai berith. Jadi berith itu adalah suatu tata cara upacara untuk mengambil sumpah. Tetapi bukan sumpah yang kita mengerti sekarang. Berith adalah suatu sumpah yang diikat di dalam darah. Jadi covenant itu akan selalu melibatkan urusan hidup dan mati dari orang yang berjanji. Di dalam bahasa aslinya berith itu sendiri artinya suatu cengkraman atau suatu belenggu, suatu yang sifatnya kewajiban atau sesuatu yang dipaksa. Ini mau menyatakan bagaimana keseriusan Allah ketika Dia melakukan covenant. Bahwa Dia itu akan mengatakan, “Aku paksa diri-Ku.” Jadi ketika Dia menyatakan covenant kepada saudara dan saya dan Dia di dalam covenant-Nya melindungi engkau dan saya, itu artinya adalah bahwa Dia itu bersumpah melindungi saudara dan saya. Kata yang dipakai itu adalah berith. Itu artinya Aku mencengkeram, Aku berkewajiban kepadamu. Allah tentu tidak memiliki kewajiban apa pun saja kepada kita. Tetapi kalimat ini dipakai untuk diri-Nya untuk menggambarkan kepada seluruh umat-Nya, kepada saudara dan saya, betapa sungguh-sungguhnya, seriusnya Dia dan Dia setia dan tidak mungkin ingkar janji. Ini adalah satu kata yang besarnya luar biasa. Ini kata yang mengungkapkan isi hati Allah yang terdalam kepada saudara dan saya. Covenant bukan janji. Seluruh janji ada di dalam covenant.
Kalau saudara-saudara perhatikan di dalam Kejadian pasal 15, maka saudara akan menemukan 3 unsur atau elemen dari covenant Allah kepada Abraham. Yang pertama, covenant ini dibuat secara sepihak. Abraham tidak membuat covenant itu. Covenant ditetapkan oleh Allah sendiri. Allah yang menginisiasi.Allah yang inisiatif. Isi dari covenant, yaitu perjanjian itu juga Allah sendiri yang menyatakannya. Dia adalah pihak yang berkuasa. Ini menyatakan kedaulatan Allah. Kita ketika dealing dengan Allah itu tidak sejajar, tidak sama rata. Kalau saya membuat persetujuan dengan Kevin, maka ini adalah persetujuan yang sama tingkatannya. Tetapi sebenarnya di dalam perikop ini persis sama dengan seorang raja dan seorang bawahan atau seorang rakyat yang jelata. Raja itu mengikat covenant dengan dia, maka ini bukan covenant yang setara. Ini adalah covenant dari inisiatif raja, raja itu berdaulat. Raja yang membuat isi covenant, bukan rakyat jelata. Jadi siapa yang membuat isi covenant? Raja yang berdaulat. Wah, saudara mungkin akan pikir raja yang berdaulat itu seenak-enaknya. Saudara coba lihat isi covenant-Nya apa. Jadi, kalau saya membuat covenant dengan Kevin. Misalnya, saya mau jual rumah, lalu engkau mesti bayar rumah saya 3 juta. Kemudian setelah itu kamu akan bayar tanggal 15 Mei. Nah, saudara perhatikan isinya itu sejajar. Itu adalah take and give. Ini adalah suatu transaksi bisnis. Saya diuntungkan, dia diuntungkan. Win-win solution. Nanti kalau dia melanggar covenant atau saya melanggar covenant, urusannya sama hidup dan mati kita. Tetapi kalau raja sama bawahan, kalau rajanya itu berdaulat maka di mana-mana, raja di seluruh dunia maka isi perjanjiannya adalah engkau tidak boleh begini, engkau tidak boleh begitu, engkau tidak boleh melawan aku. Engkau kalau lakukan ini, engkau akan mati. Dia akan membuat covenant yang isinya untuk bisa membuat rakyat itu makin tertekan. Tetapi di dalam covenant Allah dengan Abraham, saudara perhatikan bahwa Allah memberikan janji untuk Abraham. Begitu besar sekali berkatnya. Ini adalah sesuatu kemurahan hati Allah yang berdaulat kepada umat-Nya. Dia adalah Allah yang mengasihi saudara dan saya. Dia memberikan covenant-nya kepada kita dengan begitu banyak janji-janji dan bukan ancaman-ancaman. Saudara-saudara perhatikan. Isi covenant itu adalah Allah yang berjanji kepada Abraham. Dan di dalam konteks ini maka Abraham itu diberi janji berkenaan dengan keturunan yang akan sebanyak bintang di langit dan pasir di laut. Dan ke-2 adalah tanah yang besar, tanah Kanaan itu akan menjadi milik keturunannya. Ini seluruhnya berkat-berkat besar dari Allah kepada Abraham.
Saya harus memberi notes di sini supaya saudara-saudara jangan salah. Allah tidak pernah memberkati satu orang pun di dalam Alkitab yang lepas dari kerajaan-Nya. Ada rencana kerajaan Allah di tengah-tengah dunia ini. Nanti ketika bicara berkenaan dengan keturunan, puncaknya adalah kepada Yesus Kristus dan kepada Israel rohani; saudara dan saya yang lahir baru. Nanti ketika bicara mengenai tanah, maka itu adalah bayang-bayang, dan perjanjian baru berbicara berkenaan dengan surga yang kita akan masuki. Jadi, saudara jangan punya pikiran bahwa Allah memberikan janji kepada kita, untuk saudara dan saya itu nikmati, foya-foya di bumi ini dengan daging saudara. Bukan itu. Perhatikan bahwa setiap berkat yang diberikan Allah kepada kita, pasti ada tanggung jawab di dalam kerajaan Allah yang harus dikerjakan. Bahwa covenant ini dibuat oleh Allah. Allah yang menulis isinya. Tanggung jawab Allah untuk memenuhi isinya. Lalu bagaimana dengan “tanggung jawab” Abraham? Maka Abraham diminta percaya.
Yang ke-2, covenant ini bersifat kekal dan tidak dapat dibatalkan dengan keadaan apa pun saja. Kekal itu artinya melintasi waktu. Tidak dapat dibatalkan dengan keadaan apa pun saja. Karena prinsip covenant adalah Aku bersumpah di dalam diri-Ku demi diri-Ku sendiri. Perhatikan,jaminan covenant ini kekal adalah diri Allah. Kalau saudara dan saya bersumpah, saudara bersumpah atas nama sesuatu yang lebih besar dari kita. Tetapi ketika Allah bersumpah kepada kita, Dia bersumpah atas diri-Nya sendiri. Maka sumpah itu akan bernilai kekal, karena diri Allah itu kekal. Dan Allah itu adalah Allah yang setia. Maka sumpah itu tidak mungkin bisa dibatalkan. Sekali lagi yang pertama sifat covenant itu adalah sepihak. Sifat ke-2 dari covenant itu adalah kekal dan tidak dapat dibatalkan. Dan ketika covenant ini diberitakan itu kekal berarti melintasi waktu. Mari kita melihat sekarang satu hal yang unik untuk menjelaskan hal ini. Kejadian 15:18, di dalam bahasa Inggrisnya karena bahasa Indonesia tidak ada tenses. Saudara-saudara perhatikan di dalam bahasa Inggrisnya, I give this land. Ini baru suatu janji dari Allah kepada Abraham, dan keturunannya belum ada. Maka sesungguhnya harusnya pakai kalimat future tense. Aku akan memberikan tanah ini kepada keturunanmu. Tetapi di sini tidak. Di sini pakai kalimat present tense. Itu artinya adalah di hadapan Allah ini sudah berlaku saat ini. Maka ini adalah sesuatu prinsip dari covenant-nya Allah yang melintasi waktu. Begitulah cara kerja Allah. Ketika Allah mengutus Anak-Nya mati bagi kita mengampuni dosa kita. Maka itu adalah covenant-Nya. Ketika covenant-Nya itu diberlakukan itu akan melintasi waktu hidup kita. Ketika Yesus mati dan kita menerima Kristus sebagai Tuhan dan Juru Selamat dan kematian-Nya diaplikasikan kepada kita. Dia akan mengampuni dosa-dosa kita yang sudah kita lakukan juga dosa-dosa kita yang akan kita lakukan. Oh, ini sesuatu hal yang luar biasa dahsyat pekerjaan Allah kepada kita. Pertama adalah satu pihak. Yang ke-2 adalah kekal dan tidak bisa dibatalkan.
Yang ke-3 adalah covenant itu diberikan kepada Abraham dan kepada semua keturunannya berdasarkan kasih karunia (anugerah).Karena sesungguhnya tidak ada satu manusia pun termasuk Abraham yang punya kelayakan menerima covenant ini. Ini begitu jelas, tetapi begitu banyak kita sangkali secara sadar atau tidak sadar. Ketika Allah itu dealing dengan seseorang, berintervensi dalam hidup saudara dan saya. Maka saudara perhatikan hal pertama selalu titiknya adalah kasih karunia, anugerah. Coba pikir baik-baik. Abraham itu adalah bapa orang beriman. Wah, kita akan terpesona. Wah, hebat ya. Kalau saudara bertemu misalnya bertemu George Whitfield atau Jonathan Edward itu dikatakan revivalist. Oh, luar biasa. Orang itu bukan saja sudah hebat. Orang yang dipakai Tuhan. Oh, orang ini Billy Graham, seorang penginjil yang diurapi, pergi ke seluruh dunia. Hebat bukan? Ah, saudara-saudara kemudian akan berusaha untuk cari bukunya, riwayat hidupnya, lalu lihat bagaimana hebatnya dia. Kita sering sekali melupakan bahwa itu seluruhnya adalah anugerah. Saya tanya, apa yang Abraham lakukan untuk dia bisa menjadi bapa orang beriman? Tidak ada. Dia lagi duduk-duduk, Alkitab mengatakan dia penyembah berhala. Tiba-tiba Allah itu datang memanggil dia keluar dari Ur-Kasdim. Aku akan menjadi Allahmu dan engkau menjadi umatku. Itu tiba-tiba saja. Tidak ada sebelumnya Abraham itu berdoa sama Yahweh. Gak ada. Berpuasa dan berusaha untuk menyukakan hati-Nya. Tidak ada. Seseorang dipilih oleh Allah itu seluruhnya anugerah. Setelah dipilih baru dia mengabdikan hidupnya untuk Allah. Kita jangan salah ya. Banyak orang berkata, “Aku sudah dipilih maka sekarang aku enak-enakkan hidupnya”. Tidak. Orang yang dipilih hidupnya akan diabdikan untuk Tuhan. Apa kelayakan Abraham dipanggil oleh Allah? Apa kelayakan Abraham diberikan covenant oleh Allah? Sama sekali tidak ada. Sama dengan orang Israel, dipilih untuk menjadi bangsa pilihan Allah, Musa dengan luar biasa tajam memperingatkan: “Allah memilih engkau bukan karena engkau besar, karena engkau pandai, bahkan engkau itu adalah bangsa paling kecil di antara seluruh bangsa.” Dengan cara yang sama, Allah datang kepada saudara dan saya. Kita tidak melakukan apapun saja untuk layak menerima janji-janji-Nya. Tetapi di dalam covenant, Dia memberikan kepada kita keselamatan, sukacita, pemeliharaan, perlindungan dan kekuatan untuk tekun sampai akhir di dalam kemuliaan. Seluruhnya adalah kasih karunia.
Hari itu, Tuhan sudah berjanji kepada Abraham bahwa dia akan memiliki keturunan. Lalu janji ke-2 datang, maka Allah itu memberikan janji bahwa; dia akan memiliki keturunan dan akan menguasai tanah perjanjian. Tetapi kemudian Abraham itu memikirkannya. Mungkin kita bisa mengatakan; dia ragu-ragu, tidak percaya, mungkin ada yang mengatakan dia hanya berpikir. Kita tidak tahu apa yang sebenarnya ada di dalam hatinya. Tetapi di dalam konteks ini, tiba-tiba Allah datang kepada dia, dan menyodorkan ritual berith. Sekali lagi ritual pengambilan sumpah. Kalau saudara-saudara melihat ada sumpah di pengadilan, di negara Barat atau di Indonesia sama. Jika saya disuruh bersumpah, maka karena agama saya adalah agama Kristen, maka saya memakai Alkitab. Kemudian saya meletakkan satu tangan di sini, kemudian tangan yang lain saya mengangkat sumpah, dan mengatakan, “Di dalam nama “siapa” saya melakukan, saya benar-benar menyatakan kebenaran.” Dan itulah ritual sumpah, tetapi ritual sumpah di Ancient Near East adalah berith, dan bagaimana ritual sumpah itu? Maka di dalam Kejadian 15, Allah mengatakan kepada Abraham, “Engkau ambil dari kambing, domba, lembu, dan juga burung. Engkau potong, kecuali burung tidak usah dipotong. Letakkan di sebelah kiri dan sebelah kananmu.” Abraham tahu sebenarnya ini adalah suatu protokol permulaan untuk diadakan ritual berith. Maka di situ dikatakan bahwa Abraham menunggu-nunggu, tetapi menunggu dan tidak ada kalimat dari Tuhan. Karena Dia tahu bahwa dia manusia, dan Allah Yahweh itu adalah Allah. Menurut tatanan berith, dari seluruh kerajaan Ancient Near East, raja akan memerintahkan bawahannya untuk mengatakan sumpah itu. Tetapi itu tidak didengar oleh Abraham, tidak ada kalimat apapun dari Allah. Di dalam tata cara berith, maka seseorang bawahan akan memberikan janjinya atau memberikan sumpahnya, sambil berjalan di tengah-tengah dari 2 potongan binatang tersebut. Misalnya dia adalah raja, dan saya adalah bawahannya. Karena saya berhutang kepada Kevin, maka saya berkata: “Kevin saya akan bayar 500 ribu nanti pada 1 Desember.” Maka yang saya lakukan ketika berith, kalau Kevin sampai tidak bisa lagi percaya dan dia katakana, “Lakukan berith.” Maka kami akan menyiapkan binatang-binatang dan dibelah 2, di sebelah kiri dan kanan. Saya yang berhutang, saya yang lebih bawah dari dia. Dan dia akan lihat saya, dan saya akan berjalan, “Saya akan membayar 500 ribu pada tanggal 1 Desember.” Itu artinya apa? Kalau saya tidak memenuhi sumpah saya, engkau berhak untuk memotong saya menjadi 2, persis seperti binatang itu. Darah saya halal. Dan Abraham menunggu perintah Allah ini untuk berjalan di antara 2 potongan ini. Dia tunggu-tunggu semalaman, tidak muncul kalimat itu, sampai esok harinya. Kemudian matahari mulai terbenam dan tempat itu sangat gelap. Kegelapan yang sangat menakutkan, sangat pekat. Tiba-tiba api yang adalah Tuhan itu sendiri, berjalan di tengah-tengah kedua potongan binatang ini, sambil Dia berteriak, “Kepada keturunanmulah kuberikan negeri ini mulai dari sungai Mesir sampai sungai Efrat yang besar itu.” Allah sendiri yang bersumpah. Allah mengatakan kepada Abraham dan kepada kita semua, “Aku pasti menepati janji-Ku. Aku bersumpah di dalam darah. Jikalau Aku menyangkal sumpah-Ku, jikalau Aku tidak setia kepadamu, engkau boleh memotong Aku seperti binatang ini.” Raja itu yang berjalan, bukan bawahannya. Itu setiap kali Tuhan janji, saudara ingat ini. Belajar percaya sama Dia. Dia menggenggam, Dia mengunci diri-Nya di dalam sumpah demi diri-Nya sendiri, di dalam darah. Jadi apa sesungguhnya darah yang dicurahkan di atas kayu salib? Darah yang dicurahkan di atas kayu salib mengandung 2 pengertian besar covenant ini. Sekali lagi, covenant jikalau itu dilanggar, maka pasti harus ada darah yang tercurah, harus ada yang disembelih. Maka darah Yesus Kristus di atas kayu salib terjadi karena ada covenant yang sudah dilanggar oleh engkau dan saya, keturunan dari Adam. Covenant of work, yang Allah berikan kepada kita, sudah kita langgar. Adam berdosa, kita berdosa, itulah sebabnya dikatakan upah dosa adalah maut, karena dosa adalah break of the covenant. Upah dosa adalah maut, seharusnya kita yang mati, tetapi sama seperti Kejadian 15 yang berjalan itu Allah sendiri. Allah mengutus Anak-Nya untuk berjalan di tengah-tengah dari potongan binatang itu. Karena engkau dan saya sudah break the covenant, maka harus ada yang disembelih, harus ada darah yang tercurah, dan di dalam cinta kasih-Nya kepada saudara dan saya, bukan darahmu, bukan darahku, tetapi darah Allah sendiri yang berjalan di tengah-tengah itu. Maka darah Kristus adalah suatu pembayaran karena ada covenant yang dilanggar.
Tetapi bukan hanya itu, hal yang ke-2, darah Kristus itu adalah suatu satu pengesahan dari covenant yang baru. Covenant yang baru itu baru saja dibuat. Perhatikan baik-baik, salib itu menjawab seluruh penghancuran covenant karena dosa kita, tetapi salib itu adalah peneguhan dari seluruh covenant yang Tuhan berikan di dalam covenant of grace. Maka sama seperti saudara-saudara masa kini, engkau punya akta perjanjian. Ketika kontrak itu ada, engkau menulis isi kontrak tersebut bukan? Lalu kemudian saudara isi, kemudian misalnya dia kontrak sesuatu sama saya, dia isi lalu saya bawa pulang? Tidak, itu tidak ada gunanya, karena ini bukan surat berharga. Bagaimana caranya untuk bisa berharga? Maka dia harus sendiri menulis kontrak tersebut, ada materai, dan kemudian ada tanda tangan. Begitu bukan? Perhatikan baik-baik, janji dari Bapa dituliskan di dalam Alkitab. Materainya adalah Roh Kudus, demikian kata Alkitab. Alkitab mengatakan Roh Kuduslah yang menjadi materai dari seluruh janji Allah sampai kepada kedatangan Tuhan. Tanda tangan-Nya adalah darah Kristus. Dengan demikian maka janji-janji ini diberikan kepada kita. Begitu kuat sehingga setiap janji Allah itu dikatakan: “Langit bumi berlalu, tetapi Firman-Ku tidak mungkin berlalu.”
Dalam Kejadian 15, saudara bisa melihat bahwa seluruh upacara berith ini dilakukan di saat malam yang gelap pekat. Kenapa harus malam yang gelap pekat? Ada beberapa hal yang kita harus mengerti di sini. Pertama karena ini adalah pekerjaan Allah yang luar biasa besar, luar biasa spesial. Mazmur 97:2 misalnya; Pribadi Allah itu dilingkupi di dalam awan dan kegelapan. Jadi ini adalah saat Allah itu bertindak. Ini bukan sekedar urusal fenomena alam. Allah memang sengaja me-refill-kannya kepada saudara dan saya. Ini adalah pekerjaan pribadi-Nya, pekerjaan tangan-Nya sendiri, tetapi bukan itu saja. Hal yang ke-2, berith ini dibuat di dalam malam yang pekat dan menakutkan ini, karena ini adalah suatu bayang-bayang penghakiman dan penderitaan yang besar yang akan terjadi kepada anak-Nya yaitu Yesus Kristus. Kalau saudara-saudara dan saya mengingat dari peristiwa Kalvari, apa yang terjadi di sana? Yesus dipaku di atas kayu salib dan dikatakan bahwa mulai jam 12 siang sampai jam 3 sore maka kegelapan melingkupi daerah itu. Ini adalah sesuatu penderitaan. Ini adalah suatu penghakiman. Ini adalah suatu kesakitan yang luar biasa. Berith ketika dilakukan oleh Allah, Allah sendiri itu begitu sangat menderita. Tetapi hal yang ke-3 perhatikan. Kenapa ada di dalam kegelapan, berith ini terlaksana? Apa yang saudara akan lihat di dalam kegelapan? Tidak ada. Tidak akan ada distraction. Tidak ada sesuatu yang bisa mengalihkan pandangan saudara di dalam kegelapan. Kegelapan di atas kalvari, kegelapan ketika berith di dalam Kejadian 15, mau tidak mau membuat mata Abraham hanya melihat Kejadian ini saja. Apa artinya? Artinya di tengah-tengah seluruh kesibukan kita, di seluruh turbulensi, seluruh yang ada di dunia ini, Tuhan memanggil engkau dan saya untuk memfokuskan kepada anak-Nya yang mati di atas kayu salib. Setiap kali kita berada dalam turbulensi yang besar, di dalam keadaaan yang saudara sangat tidak mengerti kemana arah harus berjalan, maka Tuhan meminta kita, memanggil kita, “Lihat salib. Lihat berith. Lihat Aku punya sumpah kepadamu. Jangan lihat ke mana-mana. Lihat sumpah-Ku kepadamu. Lihat sumpah-Ku yang Aku buat di dalam darah Anak-Ku.” Kiranya salib Kristus bukan kita peringati minggu yang lalu saja, tetapi seluruh hidup kita. Salib menjadi fokus dari mata kita melihat, kiranya Tuhan makin dikasihi. Mari kita berdoa.
GRII Sydney
GRII didirikan di atas dasar Pengakuan Iman Reformed Injili dengan tujuan menegakkan satu gereja yang berbasiskan teologi Reformed, dengan mimbar yang menyampaikan khotbah ekspositoris, read more