Ringkasan Khotbah

3 May 2026
Salib dan Hidup Baru
Pdt. Agus Marjanto, M.Th · Roma 6:10-11

Roma 6:10-11

Anak itu kemudian menyadari keadaannya. Dia sadar sekarang betapa dia sudah berdosa kepada Bapa dan Langit. “Betapa aku tidak layak untuk disebut sebagai anak. Tetapi aku tidak mungkin bisa pergi ke mana pun. Aku akan pergi kepada bapakku yang kaya. Aku akan minta dia untuk menjadikan aku pekerja upahan.” Upahan, bukan pekerja tetap. Kalau di Indonesia saudara punya pembantu rumah tangga, saudara boleh panggil, boleh tidak. Bukan lagi anak. Tapi, pembantu yang boleh aku panggil atau tidak. Dia tidak punya apa pun saja harapan lagi. Dia sudah membuang hak kesulungan. Dia kembali, dan ketika dia kembali, dia takut sekali. Dia sudah menetapkan identitasnya sebagai pekerja upahan karena dosaku sangat besar. Kemudian dia sampai di ujung rumahnya, dengan halaman yang besar itu, dengan seluruh pakaian yang luar biasa compang-camping, dengan seluruh muka yang penuh dengan debu, dengan jalan yang begitu menunduk dan lemas. Bapaknya di tempat kejauhan tahu bahwa anaknya itu kembali. Maka Alkitab di ayat 20 mengatakan ayahnya berlari. Kita tidak pernah tahu seberapa murah hati dan lembut hatinya Allah yang berdaulat Pencipta langit dan bumi. Alkitab mengatakan berkali-kali, rendah hatilah umat-Ku! Karena rendah hati akan menggerakkan hati-Nya. Saudara jalan satu langkah, Dia lari, lari untuk memberkati kita. Setelah anak itu bertemu dengan bapak itu, maka dia itu tertelungkup dan dia merangkul kaki papanya itu. Saudara perhatikan perkataan anak itu; sama seperti apa yang dia sudah pikirkan di ayat 21. Tetapi ayat 22, ketika anak ini mau mengucapkan seluruh kalimat yang sudah memang menjadi identitasnya, “Bapa aku sudah berdosa kepadamu, kepada sorga dan terhadap bapa, aku tidak layak lagi disebut anak bapa.” Dia belum selesai mengucapkannya, bapanya bahkan tidak peduli dengan kalimatnya. Dia memotong kalimat itu, “Jangan teruskan!, Seluruh pelayan layani dia! Anakku kembali.” Identitasnya bukan berdasar apa yang telah dia lakukan di masa lalu, tetapi berdasarkan kasih yang menerimanya kembali. Sore hari itu saya ada di perpustakaan di tempat saya kuliah, berapa puluh tahun yang lalu, dan saya membuka Alkitab saya sendirian di perpustakaan yang sepi itu. Saya membaca catatan Lukas 15 ini. Cerita yang biasa, saya sudah tahu. Ketika saya membacanya, maka air mata saya terus-menerus menetes. Ada sesuatu yang aneh. Saya sudah biasa membacanya, tapi kenapa saya sangat remuk hati? Kemudian saya menyadari dan saya mengatakan kepada Tuhan, “Tuhan ini bukan perumpamaan. Ini Engkau kan? Ini bukan perumpamaan. Ini Engkau dengan saya.” Ini bukan perumpamaan. Ini adalah engkau dan saya. Salib, cinta-Nya adalah identitasmu dan saya hari ini, kita sudah mati terhadap dosa. Kiranya saudara membuka kliping ini, peti ini dari Roma pasal yang ke-6. Mari kita berdoa.


Roma 6:1-2, 5-6,10-11
 
 

Yoh 19:25-27
GRII Sydney

GRII didirikan di atas dasar Pengakuan Iman Reformed Injili dengan tujuan menegakkan satu gereja yang berbasiskan teologi Reformed, dengan mimbar yang menyampaikan khotbah ekspositoris, read more